STARLIGHT
SONGFIC
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun,
Park Chanyeol
Genre: Romance, Angst,
Fantasy
Rated: T
Disclaimer: Chanyeol
milik Baekhyun dan begitu juga sebaliknya. FF ini terinspirasi dari lagu Taeyeon yang baru ft Dean yang
berjudul sama dengan judul ff ini. Sebagian dari kalian biasa menyebutnya
songfic. Ide itu muncul pas aku liat MVnya dan langsung berencana buat ff yang
ada di pemikiranku. Mungkin juga ditambah MV taeyeon yang ‘Why’ soalnya memang
nyambung kan? Tetapi lagunya tetap mengambil yang ft Dean. Jadi, kalo absurd
abaikan saja ya? Wkwk. Dan, yah! Ini adalah ff terabsurd yang pernah kubuat. Ff
ini tetep milikku.
Summary: Dia datang dengan membawa
pelangi yang selalu melekat pada dirinya. Kemudian pergi dariku
bagai setitik butiran debu yang rapuh. Setidaknya, jangan datang hanya untuk menyebarkan
luka.
A/N: TOLONG
DIBACA PELAN-PELAN. JANGAN TERBURU-BURU^^
HAPPY
READING~~
.
.
.
STARLIGHT
PROLOG
.
.
.
“You
are my starlight, shine on my heart
When I’m with you, it feels like I’m dreaming all day
You are my starlight, I get so happy
Your love is like a gift”
When I’m with you, it feels like I’m dreaming all day
You are my starlight, I get so happy
Your love is like a gift”
.
.
.
Semua bayang-bayang itu
bagaikan alunan lullaby yang merambat melalui bunga tidurku. Bahkan sampai ke
akar-akarnya.
Bayang-bayang yang selalu
datang merasuki mimpiku sejak hari-hari tanpa dirinya.
Mimpi beratku selama satu
minggu yang penuh dengan khayalan semata. Bayang-bayang semu yang bahkan aku
sendiri tidak mengerti akan kebenaran tersebut. Seakan-akan yang telah kulalui
akhir-akhir ini hanyalah angin lalu.
Dia datang dengan membawa
pelangi yang selalu melekat pada dirinya. Dia mempengaruhiku dengan sangat buruk.
Seolah-olah dia telah menuangkan minuman yang sangat keras ke dalam gelas yang
sudah kuminum. Dan, aku menjadi mabuk. Begitu mencapai titik candu terhadap
dirinya.
Kemudian ia pergi dariku
bagai setitik butiran debu yang rapuh. Memang terasa seperti ada ribuan peluru
tak kasat mata yang berusaha membunuhku perlahan-lahan. Tetapi ia membawa
setiap serpihan kecil partikel-partikel di tubuhnya yang kebas bahkan
serpihannya tidak terasa bila mengenai inchi tubuhku.
Dan, hal seperti ini yang
membuatku terus menyalahkan takdir yang seakan-akan mempermainkanku.
Jika ia datang hanya untuk
menebarkan luka, lalu mengapa kami dipertemukan? Setidaknya lebih baik ia tidak
datang dikehidupanku jika hanya untuk menyebarkan racun berbisa miliknya secara
perlahan kedalam relung hatiku. Dia bisa saja memasukkannya tanpa membuatku
kesakitan karena mengira dia tidak akan berbuat sedemikian buruk, tetapi racun
itu tentu akan menyebar seiring masih mengalunnya setiap detik jarum jam.
Lalu yang terjadi kemarin
itu apa? Benarkah dia benar-benar nyata?
.
.
.
STARLIGHT
PART 1 OF 2
.
.
.
“I
was used to being alone, my days were gray
But I remember the day you lightly came to me, knocking on my door
You shined on me like a light
Woke me up from darkness
Opened the closed door of my heart”
But I remember the day you lightly came to me, knocking on my door
You shined on me like a light
Woke me up from darkness
Opened the closed door of my heart”
.
.
.
Aku duduk di atas batu
besar yang terletak di paling ujung tebing kemudian berbaring terlentang untuk
melihat keatas. Malam itu cerah, bulan penuh berada pada tempatnya. Langit
malam tampak mengeluarkan berjuta-juta kerlipan bintang-bintang yang
menciptakan keindahan yang alami.
Aku lupa bagaimana rasanya
hal itu mempengaruhiku. Melihat bintang itu memancarkan sinarnya untuk seluruh
umat yang ada di bumi, aku jadi mengenang hal yang tidak pernah kurasakan lagi
disini. Bagaimana hal itu membuatku marah dan bertanya-tanya. Hal yang tidak
pernah terpikirkan terjadi begitu saja.
Dibawah sana hamparan
padang pasir yang kosong tertata rapih dan membuat mataku merasa bosan.
Ditengah-tengah antara padang pasir terlintas jalan lurus yang mengarah pada
pusat kota.
Mobilku kutaruh tidak jauh
dari tempat aku merenungkan setiap apa yang telah kulakukan di bumi.
Ya, aku masih disini.
Masih mencari apa yang mestinya kutemukan. ‘Dia’ bilang aku harus mencarinya.
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi dia berkata bahwa aku bisa saja
mendapatkan jawabannya jika aku sudah menemukannya. Itu benar-benar membuatku
merasa tidak sabar.
Ditanganku ada semacam
tabung yang diluarnya berisi nomor dan huruf yang sejajar. Tampak seperti kode
yang harus kupecahkan untuk bisa melihat apa isi tabungnya. Setiap hari aku
menebak-nebak berapa nomor yang sekiranya berhubungan denganku atau berhubungan
dengan semuanya yang telah kulalui selama ini. Tetapi semunya sia-sia. Mungkin
aku bisa membukanya jika sudah menemukan orang itu.
Jika di galaksi sana aku
adalah seorang supernova, maka disini
aku bukanlah apa-apa. Aku bagaikan Nebula
yang salah tempat. Nebula bisa
dikatakan awan diantara bintang dan itu hanya terdiri dari gas dan debu. Itulah
sebutanku di tempat ini. Tidak berarti.
Hari-hariku yang kelabu
memudahkanku untuk berpikir lebih dalam. Aku bisa saja memikirkan masa depan
atau memikirkan apa yang harus kulakukan esok hari saat mataku terbuka sesudah
tertidur panjang. Kadang-kadang aku membayangkan bagaimana keadaan galaksi di
luar sana. Keadaan saat aku tidak lagi berada pada bagian dari mereka.
Bagaimana status kekuasaanku jika aku kembali? Hal-hal yang tidak penting itu
selalu melintas dibenakku. Mengapa mereka tega sekali melakukan hal ini
kepadaku? Hal-hal yang mustahil di bumi tentu saja bisa terjadi di luar sana.
Aku merindukan bagaimana hamparan langit disana yang begitu memanjakan mata
siapapun yang melihatnya. Setiap hari aku memandang bumi dan penasaran apa yang
hidup di dalamnya. Sekarang, saat aku sudah berada disini aku hanya ingin
kembali pada tempatku. Pada saudara-saudaraku yang begitu memujaku. Sekarang
semua itu hanyalah angan-angan. Tetapi aku menikmati kesendirianku.
Kesendirianku ini menyebabkan
aku bisa saja bersikap sangat konyol. Tidak peduli apa yang akan mereka katakan
padaku.
Aku menjadi pemuda yang
begitu urakan dalam segala kebebasan yang bisa kuraih. Melupakan apa tujuanku
yang harus kuperbuat.
Saat itu aku bersama
beberapa teman yang kebetulan kenalanku sedang berhenti pada penjualan hot dog
di pinggir jalan dan selepas makan kami bercanda denganmenyemprotkan saos dan
mustard yang dua-duanya kini ada di tanganku. Aku tertawa keras karena merasa
terhibur.
Mereka begitu menghindariku
sehingga aku mengejar mereka. Ketika mereka ingin mengejar balik aku berjalan
mundur dengan tergesa-gesa dan tidak melihat bahwa ada orang yang juga berjalan
dibelakangku.
Aku tidak memperhatikannya
yang tidak terpengaruh karena aku sudah menabrak bahunya. Perkataan maaf bahkan
tidak melintas dipikiranku. Dan aku berbalik untuk pergi dari hadapannya.
Aku berhenti berlari saat
sudah bersembunyi dari mereka yang ingin menyemprotkan saos dan mustard
kepadaku. Mengatur napasku. Suatu keajaiban karena sedari tadi hal keduanya
tidak mengenai bajuku. Aku sangat lincah saat menghindar. Ketika suatu kejadian
yang membuatku familiar terhadapku membuatku berpikir. Mungkinkah lelaki tadi?.....
Aku memutuskan untuk
berlari mengejar lelaki itu. Dirinya belum jauh dan saat aku sudah berada dekat
dengannya aku menghalangi jalannya.
Kami berpandangan. Dan aku
memalingkan mataku untuk melihat penampilannya. Ia seorang lelaki yang
tingginya melebihi tinggi badanku. Mungkin tinggiku hanya mencapai pada bahunya
atau lehernya. Ia mengenakan earphone saat berjalan tadi dan ia melepasnya
ketika melihatku. Lelaki itu memakai celana jins dan kaos putih dipadukan dengan
kemeja biru dongker polos yang dibiarkan terbuka. Rambutnya hitam legam dan
membiarkan dahinya terlihat. Saat aku memicingkan mataku kearah jarinya,
disitulah cicin familiar yang mengganguku tampak dan melingkar manis di jari
telunjuknya. Cincin itu adalah salah satu serpihan batu krystal saat langit
terbelah beberapa ratus milyar tahun yang lalu. Dan itu hanya ada beberapa di
dunia ini. Miliknya adalah warna hijau. Cocok dengan perawakan matanya yang
menawan.
Aku menyentuh kalungku
yang sama dengan batu krystal miliknya, hanya saja milikku adalah biru. Ciri
sang supernova di galaksi. Aku
menebak bahwa miliknya adalah galaksi spiral yang terdapat di rasi bintang Pises yang tentu
saja kedudukannya beberapa di bawahku. Dan hal itu akan terus melekat pada
dirinya.
Saat itu dimulailah
hari-hari déjà vu yang selalu
kurasakan saat bersamanya.
.
.
.
“Reflected
in my eyes is your squinted eyes
You’re smiling behind that awkward face
You’re so lovable, I couldn’t hold back
I discovered you like a miracle, you always make me smile
You are my starlight”
You’re smiling behind that awkward face
You’re so lovable, I couldn’t hold back
I discovered you like a miracle, you always make me smile
You are my starlight”
.
.
.
Namanya Chanyeol.
Sesosok lelaki jangkung
itu mengingatkanku akan ‘dia’. Dan benar-benar refleksi tentangnya dikejauhan
sana.
Chanyeol adalah lelaki
yang begitu tampan. Garis rahangnya tegas dan hidungnya mancung. Chanyeol
memiliki mata yang lebar melambangkan dirinya yang kreatif serta menarik dan
tatapan matanya yang mengarah padaku meninggalkan kesan misterius di dalam
kehidupannya. Dari semua yang tampak pada bagian kepalanya, telinganya yang
mencuat terlihat menonjol dibandingkan bagian-bagian di wajahnya. Chanyeol
memiliki segudang hal-hal yang membuatnya begitu menarik dengan caranya
sendiri.
Kami sedang duduk di
antara tembok yang menjorok kedalam sehingga memungkinkah tempat seukuran
pinggang yang dapat diduduki di pinggir jalan siang hari ini. Aku sedang
memakan burger serta coffe yang tadi kami beli bersama. Disebelahku Chanyeol
membiarkan coffe yang dibelinya berubah menjadi dingin. Chanyeol tidak
menyentuhnya dari tadi karena dirinya sibuk menggenggam kertas. Aku yang tadi
hanya sibuk makan kini mendekat kearahnya dan menengok kertas yang sedang ia
coret-coret.
“Apa ini, Chanyeol?”
Dia melirikku melalui
matanya. Tetapi tidak menjawabnya dan mengalihkannya lagi kearah kertas. Aku
melihat itu berupa angka dan huruf serta ada garis garis sejajar. Biasa
digunakan untuk membuat lagu. Aku tidak begitu yakin apa namanya karena memang
tidak tahu. Ditelinganya ada earphone berwarna putih yang terpasang.
Chanyeol menunjuk seperti
symbol di sebelah kiri diantara garis-garis yang terbentuk. “Ini namanya kunci
G..” Kemudian ia menunjuk garis-garis itu. “Yang ini namanya garis paranada.”
“Bagaimana membacanya?”
“Setiap naik 1 yang
memotong garis atau kemudian di antara garis, nada akan bertambah tinggi 1.
Begitu juga seterusnya. Dan dimulai dengan nada C disini.” Dia menunjuk not
balok yang berada paling bawah garis. Ditengah bulatan yang dihitamkan dibuat
garis lurus vertikal.
Aku manggut-manggut. Baru
mengetahui hal seperti ini. Karena memang aku payah dalam hal ini. Aku melihat
Chanyeol melepas earphone yang dikenakannya. “Coba kau dengar ini. Ini adalah
salah satu lagu yang sudah kubuat. Hiraukan saja suaraku, memang tidak bagus
tetapi aku sudah berusaha.”
Dia menarik sudut di kedua
bibirnya. Tersenyum. Memperlihatkan giginya yang rapih. Aku melihat lesung
pipinya terbentuk di sebelah kiri.
Kemudian aku mengambil
earphone dari tangannya dan memasangnya ditelingaku. Suara petikan gitar
terdengar kemudian disusul suara seseorang yang begitu rendah. Mungkinkah ini
suara Chanyeol? Sesaat aku terkejut mendengarnya. Lagu ini… Aku pernah
mendengarnya. Dimana?
Selanjutnya bayang-bayang
hitam putih muncul dibenakku. Not-not balok yang begitu familiar juga
kertas-kertas bergaris yang berserakan. Lagi-lagi aku merasa déjà vu.
Chanyeol pasti merasa
rendah diri karena suaranya yang begitu rendah itu membuatku yang mendengarnya
merasa ia seperti berbisik padaku dan itu menyebabkan ketukan ketukan dihatiku
muncul.
“Apa judulnya?”
“Sing for you.”
Kemudian karena teringat
sesuatu aku merogoh sesuatu di kantong celanaku. Benda berwarna pink yang di
atasnya tertulis:
M74:
MISS ME?
.
.
.
“Meaningless,
everyday things
Are now like new as if I’ve seen the world for the first time
I’m surprised every day
You’ve changed me
You drew a new me onto my empty face”
Are now like new as if I’ve seen the world for the first time
I’m surprised every day
You’ve changed me
You drew a new me onto my empty face”
.
.
.
Kami berlarian disepanjang
jalan itu. Aku meraih tangan Chanyeol yang ikut berlari karena aku menariknya.
Waktu seakan slow motion dan aku lupa kapan aku pernah merasa sebahagia ini.
Rasanya kalau aku berkuasa untuk membuat waktu berhenti dan mengatur waktu
sedemikian rupa aku pasti akan melakukannya.
Kami tiba ditempat
skatepark. Tempat dimana kami melihat banyak anak-anak remaja bermain
skaterboard. Aku menarik Chanyeol ke toko yang banyak berjejer di pinggirnya.
Kami membeli papan skateboard satu.
“Apakah kau bisa
memainkannya?”
“Tentu saja.”
“Tetapi aku tidak bisa…”
Suaraku melirih dan aku menyesal untuk tidak mempelajari olahraga ini. Kami
jadi tidak bisa bermain bersama.
“Hey….Tenang saja,
Baekhyun. Aku akan mengajarimu. Kita bermain ditempat yang datar saja. Ayo!”
Sedetik sebelumnya aku
yang terlalu bersemangat mengajak Chanyeol bermain skateboard dan sedih ketika
ingat aku tidak bisa memainkannya kemudian keadaan berbalik kini Chanyeol yang
sekarang berteriak menyemangatiku yang tadi sempat lesu.
Kemudian aku mengubah mimik
wajahku. “Benarkah?”
Chanyeol mengangguk. Dia
meraih tanganku untuk mengikutinya. Ada aliran listrik yang tak biasa saat
kulit kami bersentuhan. Dan aku tidak mau menebak apa arti semua ini.
“Seharusnya kau memakai
aksesoris orang yang akan bermain skateboard. Lihat mereka.” Aku mengikuti arah
telunjuk Chanyeol yang mengarah pada sekumpulan remaja yang sedang bergilir
melakukan kebolehannya. Aku memandang Chanyeol bingung.
“Mereka memakai helm,
sepatu, pelindung siku tangan dan kaki.” Aku melirik mereka lagi. Dan
membenarkan ucapan Chanyeol. Kemudian aku melirik penampilanku sendiri.
“Setidaknya aku memakai
sneakers.”
Chanyeol dengan wajah
gemas mencuil ujung hidungku. “Kau yakin tidak apa-apa?”
Aku mengangguk. “Ya,
lagipula ada kau yang menjagaku.” Aku mengedipkan sebelah mataku. Chanyeol
menatapku. “Aku yakin kau tidak akan membuatku terjatuh.” Kali ini aku serius.
“Kenapa kau menatapku
seperti itu?” Aku bingung mengapa dia hanya mengamatiku dalam diam dan begitu
lama.
“Seperti apa?”
Aku mengerjapkan mataku.
“Seperti…umm..”
Seperti
ingin menciumku!
Kemudian tiba-tiba aku
tertawa tanpa sebab. Chanyeol tentu saja bingung.
Itu hanya alasanku untuk
tidak mengatakan yang sebenarnya padanya. Itu akan membuatku malu karena
terlalu berani mengungkapkan hal itu. Lalu tanpa menghiraukannya aku merebut
papan skateboard yang berada dipelukannya dan berlari menjauhinya.
Aku berlari tertawa senang
sembari menengok kebelakang sesekali. Chanyeol ikut tertawa dan
berteriak-teriak.
“Baekhyun! Berhenti
disana!!”
Aku terus berlari dengan
papan skateboard yang kupeluk rapat-rapat. Aku tidak mengubah arah yang menuju
ke gang sempit yang didindingnya banyak gambar-gambar gravity yang menarik.
Tetapi aku tidak sempat memperhatikan karena berusaha terus berlari.
Aku tahu kaki-kaki panjang
Chanyeol dapat mengejar lariku dengan kaki pendek yang kumiliki. Aku melupakan
fakta itu sehingga Chanyeol bisa dengan mudah mendapatkanku. Dia tiba-tiba saja
ia memelukku dari belakang, menyebabkan papan skateboard terjatuh begitu saja.
Chanyeol tidak begitu mempermasalahkan hal itu dan ia mengangkatku sehingga
membuatku terkejut.
“Kyaaaaaaa!”
Hal itu membuat kakiku
tidak lagi menapak pada tanah. Aku melayang dan Chanyeol memutar kami berdua
sebanyak dua putaran. Teriakan kami berdua bersahut-sahutan. Kami merasakan
angin bertebaran disekeliling kami. Tidak peduli bahwa debu bisa saja masuk
kedalam mulut kami yang terbuka karena tertawa begitu lebar.
Karena berputar dengan
cepat Chanyeol kehilangan keseimbangannya dan seketika kami oleng.
“Kyaaaaaaa!”
Dia tidak sengaja
menginjak papan skateboard yang tadi tergeletak jatuh, membuat kami terpeleset
begitu keras. Chanyeol memelukku dengan erat. Sehingga Chanyeol jatuh
kebelakang lebih dahulu. Aku terjatuh bersamanya. Aku refleks menutup mataku
karena merasa akan kesakitan.
“Aww!” Chanyeol meringis.
Dia masih memelukku dan aku tidak sadar posisi kami begitu intim dengan aku
yang berada diatasnya. Tubuh kami berdua menempel.
Aku membuka mataku dengan
takut. Satu tangannya memegang belakang kepalanya agar tidak menyentuh aspal
dan dia mengangkat kepalanya kedepan membuat kepala kami sangat dekat.
Aku masih terpaku
melihatnya yang masih meringis. Merasa bersalah karena aku menindih dirinya.
Aku lumayan berat dan tidak bisa membayangkan apa yang dirasa Chanyeol
sekarang. Kemudian aku melihat dia akhirnya menyadari kedekatan kami.
Ia mengerjapkan matanya
berulang-ulang. Hal kulakukan sesaat yang lalu. Kami berdua berpandangan.
Kemudian Chanyeol bangun
dengan posisi duduk membuatku berada dipangkuannya. Mungkin dia tidak nyaman
dengan posisi tadi. Chanyeol menahan punggungku saat aku ingin beranjak dari
pangkuanku membuatku lagi-lagi terkejut dan refleks melingkarkan tanganku
dilehernya. Dia menahannya lagi ketika aku ingin melepaskan tanganku.
“Cha..Chanyeol?” Dan aku
akhirnya pasrah melingkari lehernya dan duduk dipangkuannya.
Dengan posisi seperti ini
kami masih bisa menjaga jarak kami. Tetapi karena aku melingkari lehernya
membuat kepalaku lebih dekat kearahnya. Kemudian dia menatapku lagi. Aku
mengikuti permainannya.
Matanya mencerminkan
banyak sekali pikiran-pikiran yang berada dikepalanya.
“Kenapa kau menatapku
seperti itu?” Pertanyaan itu keluar. Lagi.
“Seperti apa?”
Kali ini aku ingin
menjawabnya dengan benar. “Seperti kau ingin menci—“
Tiba-tiba kepalanya
menunduk dan dia mengecup bibirku dengan cepat dan kembali pada tempatnya lagi.
Aku membulatkan mataku. Pikiran Chanyeol akan menciumku benar-benar diluar
dugaan.
Lagipula aku tidak ingin
perasaan yang tabu ini berlanjut. Seharusnya aku tidak mengikuti permainannya.
Itu akan membuatku merasa sakit pada akhirnya.
“Chanyeol, mengapa kau
menci—“
Lagi. Chanyeol menundukkan
kepalanya lagi dan meraih bibirku. Mataku semakin membulat. Melihat mata
Chanyeol yang tertutup tepat didepan mataku. Kemudian beberapa detik setelah ia
terdiam, Chanyeol melumat bibirku tidak hanya sekali. Perlahan-lahan aku
menutup mataku. Dan membalas lumatannya. Dia menyentuh tengkukku untuk
memperdalam ciumannya. Dan seperti otomatis bergerak, aku memeluk lehernya
dengan erat sehingga tidak ada lagi jarak diantara kami.
Rasanya waktu berjalan
dengan amat lambat. Lagi-lagi aku merasa déjà
vu. Lagi-lagi aku pernah merasakan perasaan hangat yang melingkupiku.
Chanyeol begitu mirip dengan ‘dia’.
Tetapi rasa yang
melingkupi hatiku tentu tidak sama dengan ‘dia’. Ini begitu berbeda dan hanya
kurasakan ketika aku bersama Chanyeol. Perasaan yang membuat perutku disengat
ribuat kupu-kupu. Perasaan yang membuat diriku seakan melayang. Jantungku
berdetak sangat keras. Seakan itu akan lepas dari tempatnya.
Kedua tangan Chanyeol
berada di rahangku. Dan dia masih saja melumat bibirku. Kemudian saat aku
membuka mulutku dia memasukkan lidahnya. Kami bertarung lidah. Dan semakin
bernafsu. Aku hanya mengikuti naluriku untuk berciuman dengannya. Kemudian dia
menyentuh leherku. Membuatku berjengit. Aku merasa kulitku begitu sensitif saat
dia menyentuhnya. Aku kemudian melepaskan ciumannya dan memeluknya. Pipiku
merona hebat. Seluruh tubuhku terasa panas. Hal ini akan berlanjut ke tahap
selanjutnya bila aku tidak menghentikannya.
“Oh, Baek. Kau begitu
manis seperti anak anjing.” Kemudian Chanyeol bergetar dan terkekeh.
Aku hanya bergumam di
lehernya dan mengelus melalui kepalaku. “Don’t do that, Baek. Aku akan
memakanmu jika kau melakukannya lagi.”
Tubuhku menegang.
Kemudian Chanyeol
melepaskan pelukannya. Aku ketahuan. Pipiku pasti merona hebat. Dia berdiri dan
kemudian berlari dan menjauh dengan tertawa terbahak-bahak.
Aku memandang punggungnya
dan beralih menatap tanganku.
“Darah?”
.
.
.
“Even
on rainy days, you clear up my heart
The moment I saw you, I’m only filled with you
Just looking at you makes joy spread on my lips
You’re the only one who can make me smile like this”
The moment I saw you, I’m only filled with you
Just looking at you makes joy spread on my lips
You’re the only one who can make me smile like this”
.
.
.
“Apakah kau merasa
pusing?”
Kami berada pada sofa
hitam di apartemen Chanyeol. Aku berdiri dibelakangnya untuk membersihkan darah
pada kepalanya. Saat terjatuh kami tidak menyadari bahwa kepala Chanyeol
berdarah karena terkena aspal yang kasar. Dan bodohnya dia tak menyadari bahwa
dirinya terluka.
“Ya.”
Aku murung. “Maafkan aku,
Chanyeol. Aku tidak tahu bahwa kepalamu terluka.” Aku berkata setelah selesai
membersihkan noda darahnya dan mengoleskan sedikit alkohol.
Dia memutar kepalanya menengadah
ke atas menghadap kearah mataku. “Hey, it’s okay, Baekhyun. Itu bukan
kesalahanmu. Mengapa kau bersedih?”
Ya. Mengapa aku begitu
sedih? Dia bisa saja melukai dirinya sendiri dan aku tidak berusaha
mencegahnya.
“Kau terluka, Chanyeol.”
Chanyeol meraih tanganku.
“Hey, aku baik-baik saja. Tidakkah kau lihat aku berada didepanmu?”
“Ya.” Aku berbisik.
“Maka semuanya akan
baik-baik saja.” Aku mengangguk dan tersenyum.
Kemudian dia mengambil
kertas yang selalu dibawanya dan memasang earphone ditelinganya.
Aku melihat ada ayunan
yang terpasang pada jarak yang tidak jauh dari sofa. Bagaimana dia bisa membuat
alat seperti ini? Ayunan itu sederhana. Dan aku dengan hati-hati menaikinya.
Ayunan itu terbilang rendah untuk ukuran seorang Chanyeol. Aku dengan mudah
menaikinya. Jika Chanyeol yang menaikinya itu akan tidak cocok karena kakinya
terlalu panjang.
Dengan perlahan aku
mendorong kakiku ke lantai dengan berlawanan arah. Dan ayunan itu berayun
dengan mulus. Semakin lama semakin kencang dan itu membuatku senang. Selama ini
aku hanya melihatnya saja dan belum pernah mencobanya. Kini aku menaikinya.
Cukup lama tubuhku berayun
dan bermain-main dengan ayunan itu, bahkan sampai memutar kdua sisi talinya.
Sesekali Chanyeol melirikku setelah berkutat dengan kertasnya lagi.
Ketika aku mulai lelah
bermain dengan ayunan aku memperhatikan sekelilingnya. Apartemen itu terasa
hangat untuk ukuran lelaki seperti Chanyeol. Dimana-mana aku melihat warna
putih dan hitam.
Aku menghampiri Chanyeol.
Tengkurap disamping tubuhnya yang duduk dengan melipat kedua kakinya keatas
sofa. Aku menumpu daguku dengan tanganku. Mengamatinya. Dia terlihat serius
sekali. Bahkan mengacuhkanku. Hal itu membuatku mendengus dan tak sadar
memanyunkan bibirku. Hal biasa saat aku sedang kesal.
Pikiran konyol melintas
dipikiranku mencoba untuk mengerjainya. Aku dengan cepat menarik kertas
Chanyeol dan berlari memutari sofa. Chanyeol mengejarku dan aku dengan mudah
menghindarinya. Tetapi kemudian dia mengambil kertas yang kupegang. Aku
mengerucutkan bibirku kesal. Dia lagi-lagi mengacuhkanku!
Kemudian mataku melirik
alat yang berdiri dan didepannya terdapat bangku. Aku mendekati alat tersebut
dan menekan kotak-kotak putih yang ditengahnya terdapat warna hitam panjang dan
tiba-tiba saja terdengar suara. Dan hal itu membuatku merasa tertarik. Aku
semakin menekan-nekan kotak yang ada didekat tanganku. Bunyinya terus-menerus
keluar. Aku terkekeh.
“Mau mendengarkanku
bermain piano?” Chanyeol muncul tiba-tiba dibelakangku. Aku memandang Chanyeol
dengan bingung. Dia membimbingku untuk duduk dibangku.
“Perhatikan baik-baik.”
Kemudian aku melihat kedua
jari-jari Chanyeol menari diatas alat itu. Piano. Jari-jarinya terlatih dan
mengalun dengan indah. Memanjakan siapa saja yang melihatnya.
Lalu lagi-lagi bayangan
hitam putih terlintas dibenakku menunjukkan galaxy spiral, gran spiral,
kemudian alunan-alunan lembut yang terdengar disekitarnya. Aku seakan mendalami
kejadian-kejadian itu. Lagu-lagu yang indah dan terdengar familiar.
Ketika sampai detik
terakhir Chanyeol memainkan pianonya. Aku merenungi apa hubungan dari semuanya?
Aku hampir melupakan nomor
dan huruf pada kode-kode sialan itu. Dan masih belum menemukan jawabannya
hingga sekarang.
“Aku menyukainya. Adakah
judul dari lagu yang baru saja kau mainkan?”
Chanyeol mengangguk. “My
answer.”
Aku menekan-nekan
tuts(Chanyeol memberitahu ketika aku menanyakan namanya) piano dengan acak.
Kemudian terkekeh pelan.
“Bolehkah aku bertanya?”
“Tentu saja.”
Haruskah aku bertanya?
“Berapa tanggal lahirmu?”
“November tanggal 27.”
“Nomor favoritmu?”
“61.”
“Angka keberuntunganmu?”
4
“Empat.”
Aku tersenyum. Empat.
Tentu saja. Itu juga angka keberuntunganku.
Kini,
aku sudah bisa memecahkan kodenya.
.
.
.
“You
are my starlight
My emotion, you feel me?
Look at me, shining like a star
I realize every day
You are my starlight”
My emotion, you feel me?
Look at me, shining like a star
I realize every day
You are my starlight”
.
.
.
Chanyeol yang selalu ada
didekatku belakangan ini membuatku lupa pada kenyataan bahwa aku harus pergi.
Waktuku hampir habis. Fakta itu membuat salah satu relung di hatiku merasa
sesak.
Seharusnya dari awal aku menjaga
jarak darinya. Tidak mengikuti permainannya. Dan tidak menuruti kata-kata
hatiku yang bertindak seenaknya. Walaupun aku tidak bisa kembali menjadi supernova. Aku akan tetap
meninggalkannya. Takdir membuat kami harus berpisah.
Sekali
menjadi Nebula. Selamanya akan tetap menjadi Nebula.
Aku mungkin begitu bodoh.
Tidak mendengarkan peringatan ‘dia’ yang terus berbicara padaku. Dan aku
seolah-olah tuli. Kini, saat semuanya terjadi. Aku menyesali perbuatanku.
Seharusnya aku menjaga
jarak sebelum sesuatu di dalam hatiku semakin membuncah terhadap dirinya.
Tetapi hal itu lebih baik.
Aku lebih baik meninggalkannya sebelum tiba waktunya Chanyeol akan
dikembalikan. Hal itu mungkin saja terjadi. Kalaupun itu tidak terjadi, mungkin
pula aku akan kembali pada dirinya. Tetapi jika hal itu benar-benar terjadi,
aku…. Aku mungkin tak sanggup.
Lagi-lagi fakta itu
membuatku meringis kesakitan. Sesak di dadaku semakin menjadi-jadi. Oksigen di
paru-paruku menipis. Membuatku semakin sukar bernapas.
Kami berhadapan dengan sunset di sore hari. Berdiri di tepi
pantai yang sejuk. Aku tidak akan lagi memegang tangannya. Itu akan membuatku
sulit melepaskannya.
Kenyataan bahwa aku akan
melupakan hari-hari yang berarti bagiku terhadap Chanyeol membuatku tak sanggup
untuk menahan air mataku. Seumur-umur aku tidak pernah menangis. Selama aku
berada di bumi. Tak ada yang bisa membuatku menangis dan merasakan hal yang
begitu menyakitkan. Aku yang meninggalkannya tetapi mengapa aku yang merasakan
ini pula?
Tidakkah ‘dia’ mengerti
disana? Tidakkah dia mengerti perasaanku saat ini?
Chanyeol memandangku. Aku
tahu itu. Tetapi aku tidak mau menatapnya. Aku hanya tidak sanggup menatapnya.
Jika saja aku melihat wajahnya, itu akan membuatku hancur.
“Baek.”
TIDAK!
Jangan memanggilku.
Kumohon.
“Apakah kau baik-baik
saja?”
TIDAK. Aku tidak baik-baik
saja. Aku kalut, Chanyeol.
“Chanyeol. Kupikir aku
harus pergi.”
“Kau sudah mau pulang?”
Aku menggeleng, membuat
air mata itu semakin banyak berjatuhan. “Aku harus pergi. Dari kehidupanmu.”
TIDAK. Aku tidak mau
pergi. Aku masih ingin tetap disampingmu.
Kata-kata yang seharusnya
kuucapkan menyangkut ditenggorokanku. Aku sudah lama ingin mengatakannya.
Tetapi tak pernah tersampaikan. Saat yang lalu hingga kini. Akankan itu
tersampaikan pula padanya? Dapatkah itu terdengar olehnya?
Sakit didadaku tidak mau
menghilang dan hatiku sakit memikirkan bagaimana Chanyeol tanpaku. Akankah dia
baik-baik saja?
Tidak. Tidak. Dia akan
baik-baik saja.
Lalu bagaimana dengan
diriku?
Akankah semuanya terbayar?
Aku melepaskan kalungku.
Aku meraih tangannya untuk memberikan kalung milikku. Satu-satunya yang harus
kuberikan padanya. Kemudian aku mendongak dan menatap matanya begitu pula
wajahnya. Dan seketika pertahananku runtuh begitu saja. Aku menangis dengan
keras. Menangis dengan sekencang-kencangnya. Menyalahkan takdir yang begitu
konyol. Menyalahkan permainan yang begitu salah dimataku. Tangisanku begitu
pilu dan aku tak menahannya sama sekali. Lebih baik aku mengeluarkannya dengan
bebas.
Haruskah aku menyalahkan
takdir kami?
Haruskah aku menyalahkan
‘dia’?
Siapa yang akan disalahkan
jika sudah seperti ini?
Aku
mencintaimu, Chanyeol. Begitu mencintaimu.
Lagi-lagi kata-kata itu
tidak tersampaikan dengan benar pada Chanyeol. Satu-satunya orang yang melalui
perantarnyaa aku dapat menyampaikan perasaanku terhadapnya.
Dan akhirnya aku
menyalahkan diriku sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan yang dia berikan
padaku. Kesempatan yang hanya terjadi satu kali.
Kemudian aku berlari
dengan kencang menjauhinya masih dengan menangis kencang. Dan berjanji tidak
akan menengok kebelakang. Ke arahnya.
.
.
.
“You
are my starlight, I can’t hide it
When we’re together, it feels like my heart is dancing
You are my starlight, I’m so thankful
Your love is like a dream”
When we’re together, it feels like my heart is dancing
You are my starlight, I’m so thankful
Your love is like a dream”
.
.
.
Suasana yang begitu sepi menghampiriku.
Seakan-akan menemani kesedihanku. Aku berhenti ketika merasa sudah lama
berlari. Penampilanku mungkin tidak karuan. Mataku bengkak dan memerah.
Tenggorokanku sakit. Dan yang lebih sakit daripada apapun adalah perasaanku.
Sesak itu masih menyertai diriku.
Ketika aku teringat tabung
yang berisi kode dikantungku, aku mengambilnya. Dan langsung memecahkan
kodenya. Kata dan nomor didepannya adalah sesuatu yang terus melekat pada diri
Chanyeol. Bintang Spiral yang terdapat pada rasi bintang Pises.
Kemudian nomor selanjutnya
adalah hubungan lagu-lagu yang aku dengar dari dirinya dan lagu tersebut begitu
familiar ditelingaku. Dan hal itu disambung dengan nomor keberuntungannya.
Serta tanggal lahirnya. Semua begitu berhubungan dengan ‘dia’. Semua nomor-nomor
yang sekali lagi meyakinkan diriku bahwa ‘dia’ benar-benar terlibat. ‘dia’ yang
tak lain adalah diri Chanyeol. Dan hal itu memang mengarah pada Chanyeol. Semua
terasa sama. Mengapa aku tidak menyadarinya dari awal?
Kata pertama adalah
M74
Yang melambangkan diri
Chanyeol. Dan sama seperti benda berwarna pink yang selalu aku bawa
kemana-mana. Hal itu tetap melekat di benda tersebut.
Kemudian nomor
dibelakangnya mengikuti.
2427
M74
2427
Cahaya terang berkedip dan
setelahnya tabung itu terbuka. Menandakan bahwa kode yang ku pecakan benar.
Masih dengan hati yang
begitu sesak. Aku berhati-hati membuka tabung ditanganku. Kemudian menarik
kertas yang berada di dalamnya.
Perlahan-lahan aku membuka
dan membacanya isi kertas tersebut.
MISS
ME?
Kemudian aku tidak tahu
bahwa aku menangis dengan lebih keras.
Dan aku kembali pada
kesendirianku tanpa Chanyeol.
Suasana sunset yang indah seakan membutakan
mataku untuk terus menatap hal itu.
.
.
.
TO
BE CONTINUED
WE
WILL GOING TO BE PART 2 LATER
“CHANYEOL’S
SIDE”
.
.
.
Masih banyak typo ya? Oh ya,
ada yang bisa tebak kodenya bagaimana? Muehehe.
TWOSHOT karya aku ini
sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk cerita-cerita
Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
Silahkan mampir^^
AmandaHanifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar