Laman

Sabtu, 26 Oktober 2013

Bad Prize! (Cerpen)

Ilustrasi by: Savira Mujahidah

“Uhh, nyebelin banget! Kayaknya hari ini hari sial gue deh,” umpat Devi ketika tiba dirumahnya. Ia menjatuhkan sepatunya dengan asal setelah itu melempar ransel birunya.
          Di mulai semenjak ia berangkat ke sekolah dengan ban motor yang bocor membuat dirinya telat masuk sekolah. Ia dihukum oleh kepala sekolah dengan mengangkat kaki sambil hormat di lapangan dekat tiang bendera bersama murid lain yang juga datang terlambat. Jam istirahat di kantin baju nya yang putih bersih menjadi kotor karena ada salah satu adik kelas yang tidak sengaja menumpahkan air teh ke bajunya, ia sangat marah saat itu walaupun adik kelasnya sudah minta maaf berulang kali. Ditambah dengan PR yang lupa ia kerjakan saat pelajaran Kimia membuat ia harus keluar kelas dan tidak boleh mengikuti pelajaran kimia saat itu juga. Kemudian di akhiri oleh mobil angkot yang menabrak motor belakangnya sehingga motornya sedikit lecet, Devi mencaci-maki sopir angkot tersebut. Haft! Memang hari yang menyebalkan.
          Devi memainkan handphone nya, dari tadi ia menunggu kabar Rico yang tak kunjung hadir dalam layar handphone nya. Di sekolah tadi, ia tidak menemukan sesosok Rico. Karena hari sial nya, ia tak bisa memikirkan Rico.
          Jarinya menari di atas keypad handphone, mendengar tanda telpon tunggu di seberang. Namun tak ada jawaban.
          Devi kesal, melempar handphonenya ke kasur. Mungkin Manda bisa mendengarkan keluh kesahnya hari ini. Devi mengambil handphone nya kembali, meghubungi Manda. Tapi ia lupa, ini masih jam empat sore. Manda pasti belum pulang dari sekolahnya. Ia mematikan panggilannya. Melempar lagi handphonenya. Karena lelah dengan pikirannya sendiri, Devi terlelap. Sampai besok pagi ia terbangun.
          “Pagi!!!! Selamat ulang tahun kakak! Mana kado buat aku nya?” Baru saja Devi membuka matanya. Dan ia belum pulih untuk bangun. Adiknya menyodorkan kue ulang tahun dengan lilin yang masih menyala. Devi kembali terlelap.
          “Devi! Bangunnnn!” Kali ini suara Kakaknya.
          “Dev, Bangun! Nanti kamu kesiangan loh,” mamanya ikut menjewer telinganya, agar ia bangun.
          Tapi memang dasar Devi yang tak kunjung bangun. Satu menit Devi tertidur dengan tenang. Tak ada suara di sekelilingnya. Dua menit....... tiga menit............ empat menit........
          Byurrrrrr. Suara air di tumpahkan ke wajah Devi mengagetkan Devi dari tidur panjangnya. Ia langsung terduduk karena kaget. Kakak dan adiknya tertawa puas, tanda mereka menang.
          “Ih! Kak Putra, Gemma! Kalian tuh emang paling nyebelin banget sih!!!!”
          “Yee, kok marah sih neng? Lagian elu sendiri yang susah dibangunin. Yaudah nih, make a wish dulu. Abis itu mandi.” Kak Putra menyodorkan kue ulang tahun ke depan muka Devi. Dengan lilin bernomor enam belas tahun.
          Devi make a wish terlebih dahulu setelah itu meniup lilinnya. Beginilah kak Putra dan adik Devi bernama Gemma. Mereka kadang memang selalu meledek dan tidak pernah akur terhadapnya. Namun hal itu yang membuat mereka semakin memahami satu sama lain.
Yey! Desember. Pagi ini Devi berangkat ke sekolah terlihat lebih senang dari kemarin. Padahal kemarin hari sialnya. Mudah-mudahan saja hari ini tak seperti hari kemarin. Devi mencari Rico yang tak kelihatan batang hidungnya dari kemarin. Padahal sosok Rico lah yang ia harap pertama mengucapkan selamat ulang tahun padanya hari ini. Sesosok yang sangat berarti baginya.
          Tadi pagi sebelum ia berangkat ke sekolah, ada kiriman kotak panjang buat dirinya. Devi tak sempat membukanya, ia hanya meminta mamanya menaruh di kamarnya. Ia akan membukanya nanti.
          Seharian sudah ia lelah mencari Rico, sore ini ia akan pulang ke rumah. Tak ada lagi siapa-siapa di sekolah, selain dirinya dan beberapa petugas sekolah. Ia pulang dengan perasaan sedih. Rico tak datang ke sekolah hari ini.
          “Mungkin aku harus ke rumahnya? Ya, aku akan mencoba kerumahnya,” pikirnya sambil mengendarai motornya. Motornya melaju cepat ke arah rumah Rico.
          “Permisi tante, Rico nya ada?” Sapa Devi ketika berada di depan rumah Rico.
          “Rico nya ga ada tuh, belum pulang. Ini siapanya ya? Ada perlu apa?” tanya ibu-ibu yang membukakan pintu rumah Rico. Sepertinya mamanya Rico.
          “Saya mau minjem catatan fisika tante, kebetulan saya dua hari ini tidak masuk karena sakit,” bohong Devi sambil tersenyum. Ia terpaksa berbohong karena tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya maksud kedatangan ia ke rumah Rico. Berbohong demi kebaikan tak apa kan?
          “Oh gitu, maaf ya nak, Rico nya belum datang. Mungkin nanti malam Rico datangnya.”
          “Hm... gitu ya tante, yaudah deh saya pulang ya tante, makasih banyak.” Pamit Devi dengan wajah yang kecewa.
          Ia sampai rumah dengan perasaan tak karuan. Ia berjalan ke kamarnya dengan lesu. Apa Rico selingkuh? Atau Rico sudah tak ingat lagi ulang tahun nya? Apa Rico sudah tak sayang lagi padanya? Apa Rico lupa? Apa Rico sudah bosan? Arrghhh! Ia benci.
          “Awas aja kalau lo ketemu sama gue! Gue bakal mukulin elo sekenceng-kencengnya!!! Rico sialan! Rico playboy!”
          Handphone Devi bunyi. Dari Manda, ia mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ia juga bertanya apakah ia sudah putus dengan Rico?  Tiga hari yang lalu Manda tak sengaja melihat Rico bersama seorang perempuan di Ramayana. Tapi ia tak kenal siapa, ia hanya tahu perempuan yang bersama Rico memakai baju seragam sekolah yang sama dengan Rico. Itu artinya perempuan itu satu sekolah dengannya.
          “Gak! Gue gak boleh ngebiarin Rico selingkuh! Dia udah pernah janji sama gue, dia selalu ada buat gue, dia selalu ngertiin gue!” Teriak nya lagi di kamar. Ia harap keluarganya tak mendengarnya.
          Tapi memang dasar cowok playboy. Dia hanya bisa berbicara gombal seenaknya, tanpa harus memikirkan perasaannya. Tanpa harus merasa bersalah. Entah kenapa ia muak dengan Rico setelah itu.
          Devi sangat kesal! Tak percaya Rico akan selingkuh dengan temannya sendiri! Handphonenya jatuh di dekat kiriman bingkisan kardus besar tadi pagi. Tak ada ucapan apapun di sepanjang kardusnya. Hanya ada tulisan untuk Devi. Devi semakin penasaran. Ia membukanya perlahan-lahan.
          Tangannya bergerak membuka perlahan. Sebuah boneka berwarna ungu, boneka kesukaannya. Ia senang bukan main. Tapi boneka itu tak sendirian. Ada sesuatu yang melingkari bonekanya. Setelah ia membuka semuanya, betapa ia kaget bahwa Rico yang ada di kardus ini, dengan memeluk bonekanya. Ia sedang tertidur, tertidur pulas. Badannya mengerut mengikuti bentuk kardus yang tak luas itu.
          Devi terharu, ia tersenyum bahagia. Devi menyentuh tubuh Rico. Dingin. Rico pucat sekali. Betapa kagetnya dia ketika ia tahu bahwa nafas Rico tak berhembus lagi. Betapa ia kaget, betapa ia tak karuan. Ia tak akan berpikir bahwa Rico ada di dalam kardus ini. Betapa Rico mementingkan bingkisan ini daripada sekolahnya? Berapa lama ia bertahan di kardus ini? Bagaimana ia bertahan nafas pada kardus yang tak ada udara sama sekali?
          Devi menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal dengan apa yang ia pikirkan. Ia menyesal dengan perasaannya. Rico bukannya tak ingat dengan hari ulang tahunnya. Ia ingat semuanya, bahkan ia memberi nya hadiah padanya yang menurutnya Devi akan bahagia.
          “Elo bodoh Ric, elo bodoh! Kenapa elo make cara ini? Kenapa elo membahayakan diri lo sendiri? Ric! Elo gak pernah mau mikir Ric! Gak gini caranya Ric! Ric, bangun Ric bangun! Gue gamau di hari ulang tahun gue lo malah ga ada Ric! Lo bodoh Ric lo bodoh! Memangnya dengan cara yang seperti ini gue bakalan suka? Rico!!!!!!!!”
          Devi menangis sejadi-jadinya, ia sangat menyesal. Ia sungguh sangat menyesalinya. Mengapa ia tak langsung membukanya ketika bingkisan itu sampai tadi pagi sebelum ia berangkat sekolah? Bahkan ia sempat berpikiran yang tidak-tidak terdapat Rico. Ia bahkan sempat menjelek-jelekkan Rico. Devi tahu, Rico tak akan pernah membayangkan bahwa hari ini lah terakhir kali ia melihatnya. Terakhir kali ia membahagiakan Devi. Terakhir kali ia melihat Devi.
          “Maafin gue Ric! Gue bener-bener gatau lo ada disitu! Ric, gue nyesel. Ini kado terindah sekaligus kado terburuk yang pernah gue terima dalam hidup gue, Ric. Gue rela, gue Ikhlas.....”
          Ternyata memang orang itu adalah teman Devi, kemarin ia disuruh Rico membantu mencari hadiah yang tepat buat Devi. Devi terharu.


By: Amanda Hanifah NH
Thanks To: Devi Nury A & Savira Mujahidah

Twitter: @AmandaHanifah


Selasa, 17 September 2013

Best Friend? (Cerpen Sesi Alfa dan Doni)



Hello!! Ketemu lagi ya sama aku muehehe. Sebenernya yang pengen aku post hari ini bukan cerpen cuma bahan cerita untuk mading di sekolah kemarin, tapi karena biar lebih tau ceritanya, aku post sekarang yah haha.
Sebelum itu aku mau ngejelasin siapa itu Alfa dan Doni, sebenarnya nama Alfa dan Doni plesetan dari kedua teman kami yang bernama Alfi dan Dani. Karena mereka sangat dekat, maka dari itu mereka menginspirasi aku untuk buat cerita mereka. Awalnya mereka gak terima karena aku bikin cerita mereka yang lebih mendekati homo. Ya memang sih, karena hubungan pertemanan mereka yang sangat dekat, jatuhnya mereka malah sweet banget. Kita yang liat kan jadi geli sendiri wkwk.
    Sebenernya ini juga bukan ide aku tapi ide temanku yang bernama Savira atau biasa di panggil Veru, dia juga salah satu teman hobiku sih karena dia juga suka sastra sepertiku. Dan dia yang paling senang melihat kemanisan Alfi dan Dani. Aneh ya dia haha. Dan dia juga yang ngusulin nama plesetan menjadi Alfa dan Doni. Mulai dari sini, mungkin kami bakalan terus membuat Sesi Alfa dan Doni ini hahaha.

S E S I  A L F A  D A N  D O N I

Bel istirahat mulai berbunyi di seluruh penjuru sekolah. Di kantin tampak siswa-siswi mulai berdatangan untuk mengisi perut mereka masing-masing. Salah satu dari beberapa siswa itu adalah Alfa dan Doni. Dengan langkah kecil mereka bersama-sama menuju kantin. Wajah mereka penuh canda dan tertawa terpingkal-pingkal saking semangatnya. Tampak seperti dua sahabat yang sangat gembira. Tak ada yang mampu menyaingi persahabatan mereka.
“Pa, bentar lagi kan masa osis kita selesai, terus diganti dengan pengurus osis yang baru. Lo mau ketua osis kita dijabat sama cowok yang tampangnya culun banget?” Doni langsung ngerocos saat mereka duduk di tempat yang kosong.
“Don, lo udah berapa tahun sih temenan sama gue? Nama gue pake Fa bukan pa. emangnya lo kira gue bapa-bapa apa? Dasar, ganti-ganti nama orang aja. Ya gue gamau lah, mending gue yang jadi ketuanya daripada gue nyerahin jabatan yang penting banget itu ke cowok yang culunnya minta digebukin,” Alfa hampir berteriak, semua seisi kantin hampir menoleh kearah mereka.
Ya suka-suka gue lah, kan gue yang manggil ini. Emangnya kalau lo yang jadi ketuanya lo bisa apaan? Mau di apakan rakyat-rakyat lo kalau lo yang jadi ketua? Mau di jadiin babu?”
“Ya enggaklah, kalau gue yang jadi ketuanya gue jamin deh sekolah ini bakalan tentram. Emangnya lo ga minat sama yang begituan?”
“Ogah! Ngapain capek-capek ikut begituan, mending gue tidur dirumah. Lah emangnya lo gak malu tahun kemaren lo kan kalah sama si Fahri, emangnya sekarang mau nyalonin lagi?”
“Alah diem aja deh lo! Bilang aja lo ga berani ngelawan gue, yakan?” Bukannya memakan pesanan yang sudah datang, mereka malah berdebat lantaran keduanya saling meledek satu sama lain. Beberapa menit mereka makan, terdengar sirine dari penjuru sekolah.
“Pengumuman-pengumuman! Bagi peserta didik yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua osis, harap menghubungi pembina osis. Pendaftaran paling lambat lusa nanti. Terimakasih,” Terdengar Pak Dasri memecahkan semua penjuru sekolah.
“Wah, gue pasti daftar dong, man! Lo daftar gak?” Tanya Alfa dengan mulut masih sibuk mengunyah. Doni hanya menggeleng dan memasang tampang ga minat sama sekali sama hal-hal yang rumit seperti itu.
              “Itu berarti gue menang dari lo, dong."
Doni yang mendengar hal itu diam seketika, tidak jadi menyuap makanan yang tinggal setengah. Sudah 2 tahun mereka hampir berteman dan sudah 2 tahun juga mereka saling berlomba-lomba untuk meraih yang lebih unggul. Setelah lama berpikir, Doni bertekad bahwa dia akan mencalonkan dirinya sebagai ketua osis. Tentu saja ingin mengalahkan temannya sendiri, Alfa. Ia tak akan rela jabatan yang sangat penting itu jatuh di tangan sahabatnya sendiri. Ia akan ikut berpartisipasi.
“Oh jadi lo boong sama gue ya, Don? Katanya lo ga minat sama hal-hal yang berbau beginian. Lo mau nikung gue? Atau lo mau ngalahin gue?”
“Iya! Emangnya kenapa kalau gue mau ngalahin lo? Gaboleh? Lagian percuma kalau lo jadi ketos cuma modal tampang doang, toh aslinya kemampuan lo jauh lebih parah dibawah gue.”
Mata Alfa membulat, kaget akan kata-kata Doni yang tidak seperti biasanya. “Oh ya?! Liat siapa yang nanti bakalan jadi yang utama. Dan gue bakalan buktiin sama lo kalau gue gak cuma modal tampang doang. Gue bakalan buktiin kalau gue punya kemampuan untuk jadi ketos. Ngerti?!”
Sampai hari ini sudah ada 4 orang peserta didik yang mencalonkan dirinya sebagai ketua osis. Pertama adalah Caca, anak kelas 10 yang masih ingusan dan mungkin masih gak paham sama hal-hal yang berbau organisasi, apalagi jadi ketua osis. Kedua adalah si Wendi,  anak kelas 11 yang kemaren diomongin sama Alfa dan Doni. Dan selanjutnya tentu saja Alfa dan Doni.
Persahabatan antara Doni dan Alfa sempat renggang gara-gara perkataan Doni yang pedas itu terhadap Alfa. Alfa gak terima dia dibilang cuma modal tampang dan gak punya kemampuan sama sekali. Apalagi yang bilang semua itu adalah temannya sendiri!
Debat kandidat sudah dilakukan kemarin, dan hari inilah penentuannya. “Don, mending lo nyerah aja deh sama gue. Sok-sok an pengen jadi ketos, toh yang bakalan jadi ketos udah pasti gue kok!”
Doni tersenyum sinis, “Oh ya?! Jangan terlalu berharap, Alfa. Gue harap lo ga bakalan nyesel sama kata-kata lo itu ya. Siap-siap kalah dari gue, man!”
Penghitungan suara di habisi sampai ludes. Alfa sekaligus Doni sama-sama berpandangan, kaget bahwa yang terpilih menjadi ketua osis adalah Doni. Ya, walaupun sudah tahu bahwa Doni menang dari Alfa, dia gak akan bisa menjadi ketua osis. Entah apa sebabnya. Doni menutupi rasa gelisahnya, ia tetap tersenyum sinis pada Alfa. Alfa seakan tak percaya bahwa kali ini ia kalah pada Doni. Karena biasanya Alfa lah yang lebih unggul.
“Oke, kita tahu bahwa yang menjadi ketua osis periode 2014-2015 adalah........ Doni!!” Mpk mulai mengambil alih lagi. Seluruh orang yang berada disitu bertepuk tangan. Kecuali Alfa dan Doni.
“Tunggu!!” Teriak salah satu peserta didik. Dan orang itu adalah Doni. Doni seakan bingung, mengapa mulutnya berteriak seperti itu tanpa sadar.
Doni merebut mik dari Mpk yang tadi berbicara, “Maaf, tapi saya gak bisa jadi ketua osis. Saya mundur.” Doni masih bingung, Alfa bingung, semua yang ada disitu bingung.
              Alfa merebut mik dari Doni, “Maaf, saya juga mundur,” semua orang semakin bingung. “Ayok Don! Kita pergi dari sini!” Alfa menarik lengan Doni secepat kilat. Dia menuju kelas.

Mereka tahu bahwa persahabatan merekalah yang terpenting, bukan jabatan yang memang pada dasarnya cukup populer. Tapi jika tak ada sahabat di samping kita, semua bakalan percuma. Karena mereka berdua mundur, dari ke-dua calon ketua osis, suara yang paling banyak adalah Wendi, tentu saja Wendi yang menjadi ketua osis.

                                    By : Amanda Hanifah NH dibantu oleh Savira Mujahidah;)


Senin, 17 Juni 2013

Melodi Pencarian

    Hellloooo guys! Rasanya udah bertahun-tahunaku ga nulis disini. Blog aku udah ga keurus aja soalnya ga ada yang ngurus hehe. Maaf yaa baru ngepost cerita lagi, tapi yang ini cerpen=) yukk langsung baca aja:

     Gerimis masih turun. Pagi ini tak secerah suasana hati Ventza. Ventza melangkah memasuki gerbang sekolahnya. Hari ini adalah hari pertama ia menjadi murid SMA. Ia berjalan sambil sesekali menghindari genangan air yang masih tersisa.
     "Ventza Brilianty! Rajin sekali kau pagi ini. Masih banyak teman-teman kita yang belum datang tepat pada waktunya," Ventza tersenyum. Rara selalu begitu, menyapa ramah orang-orang yang ada disekitarnya. Rara selalu tersenyum pada orang yang bertatap muka dengannya. Dia salah satu orang yang sekelompok dengan Ventza saat masa orientasi sekolah. Tapi sayang, mereka tidak sekelas.
     "Lalu kau sendiri? Ayolah, Rara Arviany. Jangan selalu merendahkan diri seperti itu. Kau tahu dirimu lebih baik dariku. Okey?" Ventza melirik sekilas pada Rara setelah berjalan ke kelas untuk menyimpan tas di meja. Keadaan kelas itu masih sepi. Sudah jam berapa ini?
      Jam istirahat heboh karena kedatangan murid baru. Murid baru itu adalah laki-laki yang katanya bernama Evan. Evan memiliki wajah yang bersih, berkulit putih dan yang paling menarik darinya adalah matanya yang berwarna hitam pekat. Kemungkinan dia akan masuk ke dalam kelas Ventza.
      Ventza tak terlalu ambil pusing dengan keadaan teman-temannya yang membicarakan Evan. Dasar mata keranjang! Umpat Ventza dalam hati ketika melihat teman-temannya berdecak kagum melihat Evan berjalan di depan mereka. Keadaan ini yang membuatnya semakin bosan.
       Malam itu Ventza diajak ayahnya untuk membeli perlengkapan sekolah yang belum lengkap di Ramayana. Masih ada beberapa yang belum sempat dibeli. Diantaranya kaos kaki, pulpen, pensil, penghapus dan stabilo.
      Ventza dan ayahnya berjalan keluar sesudah selesai membeli peralatan sekolahnya. Tiba-tiba ayahnya melihat di depan sana banyak orang-orang berkerumunan.
       "Maaf bu, disana ada apa ya ramai-ramai begitu?" Ayahnya bertanya pada ibu-ibu yang keluar dari kebisingan.
       "Oh itu, ada anak yang sedang memainkan gitarnya dengan sangat unik. Selain memainkan gitar dengan cara dipetik ia memainkan gitar dengan cara dipukul. Tak heran karena orang-orang tertarik melihatnya. Aku juga senang melihatnya," Ibu itu menjelaskan dengan antusias, sama hal nya dengan orang yang baru saja bertemu artis. Ibu itu langsung pergi ketika ayah mengucapkan terimakasih.
         "Ayo kita lihat kesana, Ven!"
         Ventza mengikuti langkah ayahnya. "Permisi bu, permisi pak," ia mencoba untuk melihat di posisi paling depan. Langkahnya terhenti ketika Ventza berhasil menempati posisi paling depan dan melihat siapa orang yang memainkannya. Evan. Ya, Edmund Dy Evan.
         Ventza masih terdiam kaku melihat Evan. Matanya secara bergantian melihat Evan dan kotak bekas berisi uang. Orang-orang berebut memasukkan uangnya di kotak itu. Apa yang dilakukan Evan?
        "Ventza, ayo kita pulang. Sudah jam 10 lewat. Besok kau kan sekolah," suara ayahnya membuyarkan lamunan Ventza.
         "I..Iyaa, yah."
         Pagi ini Ventza bangun kesiangan. Ia terburu-buru sampai rok nya tak sempat di setrika. Buku-buku ia masukkan asal tanpa melihat jadwal pelajaran untuk hari ini. Ini gara-gara ia pulang terlalu larut.
        Sampai disekolah ia sedikit berlari. Untung saja, guru yang piket hari itu belum menunggu di depan gerbang, jadi ia di perbolehkan masuk. Di perjalan menuju kesini Ventza memberanikan diri untuk membawa motor dengan kecepatan kencang. Ternyata, memang tidak sia-sia.
        Tak ada Rara yang menyapa, karena ia sudah pasti berada di kelasnya. Bel sudah berbunyi dari tadi. Ia tahu itu.
        Ventza membuka pintu kelasnya perlahan. Sudah ada guru disana. "Maaf pak, saya terlambat," ucap Ventza pelan sambil tersenyum.
        "Kenapa terlambat?" tanpa disangka-sangka pak Rendra siap untuk marah. Ventza malah tidak diperbolehkan memasuki kelas. Ventza dihukum. Ia berdiri di lapangan di depan tiang bendera. Tangannya di tempelkan di atas alis mata. Nasib.
       Tak lama, ia melihat Evan lebih terlambat dari pada Ventza. Evan senasib dengannya. Jadilah mereka berdua berdiri di depan tiang bendera.
       Beberapa lama mereka hanya terdiam. Karena mereka memang belum terlalu kenal. Tapi mereka tahu nama masing-masing. Evan terlambat pasti karena peristiwa tadi malam.
      "Aku melihatmu semalam," Ventza memberanikan diri mengawali pembicaraan itu. Rasa penasarannya melebihi gengsinya.
        Evan membulatkan matanya kaget. Ia sudah tahu arah pembicaraan gadis yang baru pertama kali berbicara dengannya. "A....Apa yang kau lihat?"
        "Jangan keras-keras! Pak Rendra bisa menambahkan hukuman kita. Aku melihatmu memainkan gitarmu tadi malam."
       "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," Evan menjawab setenang mungkin. Membiarkan sikap khawatirnya hadir. Membuat tubuhnya tiba-tiba menegang.
       "Tidak perlu berpura-pura terhadapku. Apa yang kau lakukan disana?"
       Evan membuka mulutnya. Tapi tak jadi karena ada guru yang mengawasi mereka. "Tidak ada yang ku lakukan," Jawab Evan ketika guru itu sudah tak terlihat.
       "Jujur saja padaku, Edmund Dy Evan. Aku tak akan memberitahukan ini pada siapa-siapa."
       Gadis itu akan meluncurkan pertanyaan yang sama berulang kali. Gadis yang cerewet. Evan menghembuskan nafas berat. "Sebenarnya, apa yang kau pikirkan tentang itu, Ventza? Namamu Ventza kan?"
      Ventza menoleh pada Evan, menatap bingung sekaligus mengangguk. "Apa yang kupikirkan? Tentu saja ada alasan dibalik semua yang kau lakukan. Aku benar kan?"
      Evan tertawa tanpa suara. Karena takut suaranya terdengar pada pak Rendra. Tapi wajahnya berubah menjadi biasa. "Ya, kau benar."
      "Cepat katakan, Evan! Kau membuatku semakin penasaran." Ventza sedikit berteriak. Membuat pak Rendra keluar kelas.
       "Apa yang kalian bicarakan? Apakah kalian mau menambah hukumannya?" Mata Pak Rendra melotot, seakan siap-siap untuk keluar.
       Mereka berdua hampir terlonjak kaget. "Tidak!" Ventza dan Evan menjawab bersamaan. Mereka bertatap-tatapan. Seakan sama-sama berkata ‘Mengapa kau mengikutiku?"
       "Baiklah, aku akan menambah waktu kalian berdiri disini sampai jam istirahat selesai berbunyi."
       "Apaaa?!"
      "Tidak ada protes!" Pak Rendra memasuki kelasnya lagi. Meninggalkan dua anak yang mengomel tak jelas.
       "Gorilla itu ingin membuatku mati! Aku belum sarapan pagi ini," Ventza mendecak kesal.
       "Gorilla apa maksudmu? Pak Rendra? Bagaimanapun sikapnya dia tetap gurumu, mengerti?"
      "Aku keceplosan. Ya, aku tahu. Sampai dimana tadi kita?" Ventza tersenyum sambil tetap mengambil posisi tegak dengan tangan diatas alisnya. Hormat pada bendera merah putih. Ventza baru pertama kali berbicara pada laki-laki ini. Tapi ia sudah merasa sangat dekat. Ia terlalu penasaran. Ia tidak suka dibuat penasaran.
      Evan menghembuskan lagi nafasnya dengan berat. Ia memejamkan matanya sebentar. Berpikir apakah ia akan menceritakan pada gadis yang bahkan baru dikenalnya? Tapi dari mata gadis itu, Evan percaya....Amat sangat percaya pada Ventza. "Baiklah. Aku akan menceritakannya padamu," ia memutuskan sejenak. "Mungkin dengan cara bermain musik, aku bisa menemukan ibuku."
     "Menemukan ibumu?" Ventza mulai tertarik dan siap mendengarkan.
     "Ya, menemukan ibuku. Dari kecil aku tidak tahu siapa ibuku. Aku tidak tahu dimana aku dilahirkan. Aku tidak tahu tempat tanggal lahirku. Seperti kebanyakan orang, aku sudah pasti anak haram. Maka dari itu mereka membuangku."
      "Evan.... Maaf, aku tidak tahu." Gadis itu menatapnya simpati. Evan terkekeh sekaligus sedih menceritakannya pada gadis itu. Entah apa yang membuatnya menceritakan semuanya.
      "Tidak apa-apa, Ven. Kau mau aku melanjutkan? Aku sudah terlanjur mengatakannya padamu."
      "Baiklah, lanjutkan saja."
     "Tapi dari kecil tubuhku tak pernah menolak bunyi yang keluar dari alam. Suara basket yang memantul, suara gesekan daun, suara dentingan mainan anak bayi, perpaduan bunyi itu bahkan pernah kujadikan melodi. Bahkan tanpa aku yang membuat melodinya, ia akan datang padaku dengan tersendiri. Aku yakin mereka juga menyukai musik, sama hal nya seperti aku menyukai musik. Karena ini semua ada dengan sendirinya."
    "Bermain gitar dengan cara dipukul. Bagaimana kau memulainya? Lalu selama ini kau tinggal dimana?
     "Waktu itu aku mengikuti seorang pengamen karena nomor telepon yang polisi berikan untuk menemui orang tuaku hilang. Awalnya dia kesal karena aku mengikutinya. Tapi akhirnya, dia mengijinkanku. Dia bernama Leo. Aku memasuki rumah yang lebih mirip gudang karena isinya memang berantakan. Waktu aku datang, keadaannya sangat kacau. Dia mengenalkanku pada pemimpin mereka. Pemimpin itu seorang bapak yang sudah berumur sekitar empat puluh dua tahun. Bapak itu meremehkanku karena aku tak memiliki kemampuan," Evan berhenti sejenak. Ventza melihatnya, ia tahu Evan mengingat kembali kejadian yang ia lewati. Tapi Evan mencoba untuk tegar.
      "Pagi itu, ketika semua orang belum bangun. Aku memainkan gitar milik Leo. Tentu saja dengan cara seperti yang kau lihat malam itu. Aku tak tahu darimana itu semua berasal. Aku memainkan gitar Leo dengan tanganku sendiri. Kemampuanku muncul saat itu. Semua orang berkerumunan mengelilingiku. Leo hampir marah karena ada orang yang menyentuh barangnya. Tapi bapak itu membiarkannya. Saat itu mereka mengangkatku bagian dari mereka."
     Ventza seakan menahan nafasnya kemudian menghembuskannya panjang. "Evan....Sesulit inikah?"
       "Aku bersekolah disini juga karena kemauan bapak itu," jawab Evan seakan tahu apa yang ingin Ventza tanyakan lagi.
       Selama beberapa lama mereka terdiam. Bingung apa yang ingin mereka bicarakan. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin Evan cukup menceritakannya sampai situ.
       "Ventza....."
       Evan menatap Ventza. Ventza menoleh. "Hem?" Ventza hanya bergumam tak jelas. Perlahan Evan meraih tangan Ventza. "Bantu aku menemukan orang tuaku." Evan mencari mata Ventza. Matanya berbicara pada mata Ventza.
       Siang ini Jakarta panas. Evan sibuk berlatih di studio sewaannya. Tentu saja ia bersama Ventza. Ya, Ventza bersedia membantu Evan. Rara sempat heran melihat Ventza yang belakangan ini dekat sekali dengan Evan. Bahkan teman-temannya beranggapan bahwa mereka memiliki hubungan lebih dari sekadar teman.
      Ventza mempunyai ide bagus terhadap apa yang harus mereka lakukan. Mereka akan membuat konser untuk Evan. Agar orang tuanya bisa melihat dan menemukan mereka. Itu artinya, Ventza harus mencari sponsor yang banyak untuk konser Evan. Ada salah satu sponsor yang melihat cara permainan Evan. Selain Evan sendiri yang bermain, Evan akan menjadi komposernya. Ia akan menjadi pemandu musiknya. Ini juga khusus lagu yang diciptakan Evan sendiri. Hebat bukan?
       "Kau tahu? Bapak itu yang selalu mendampingiku untuk bermain musik. Ia selalu kagum dengan permainanku. Tapi dia hanya memanfaatkanku, dengan begitu dia bisa mendapatkan banyak uang. Dia tak mau aku kembali lagi pada orang tuaku, Ventza. Lalu aku kabur bersamamu. Aku menghindarinya." Gadis itu terdiam. Tak tahu harus berkata apa.
       "Ventza, Bernyayilah bersamaku dipanggung. Aku tahu kau sangat senang menyanyi."
      "Benarkah? Apakah waktunya akan cukup? Konsermu akan berlangsung esok lusa," Ventza merendahkan diri.
      "Ventza Brilianty, jangan sungkan seperti itu. Aku akan membuatmu merasa nyaman di panggung. Kita akan satu panggung."
       "Ba..Baiklah. Evan, Terimakasih...." mata Ventza berkaca-kaca. Ia sangat senang. Bernyanyi dipanggung adalah impiannya. Ini adalah kesempatannya.
        "Aku yang seharusnya berterimakasih padamu. Ventza, Terimakasih untuk semuanya. Kau sudah membantuku sejauh ini," Evan tersenyum.
       Hari yang semua orang tunggu-tunggu. Konser yang sederhana ini akan berlangsung selama 1 setengah jam.
       Konser dimulai sekitar pukul 4 sore di Jakarta Square. Diawali dengan Evan yang memainkannya sendiri. Kemudian Ventza dan Evan yang bernyanyi bersama. Dari sedikit orang yang tertarik menjadi banyak orang yang tertarik. Sampai pada akhirnya penampilan yang terakhir. Evan yang menjadi komposernya kali ini. Melodi itu mengalun dengan indah. Menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Ventza menatap Evan tanpa berkedip. Harus ia akui Evan membuatnya semakin suka pada musik. "Kau sedang terbang, Evan!" Ventza menangis terharu.
        Di dunia ini ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan yang pertama adalah kebahagiaan yang dulu pernah ia raih, kebahagiaan yang dulu pernah ia rasakan. Kebahagiaan yang kedua adalah kebahagiaan saat ini.
        Diantara ratusan orang yang menonton langsung konser Evan. Ada dua orang yang menatap bangga pada Evan. Dua orang yang selama ini mencari lewat melodi-melodi yang mereka ciptakan. Ternyata ayah Evan adalah seorang musisi yang sudah pensiun. Sedangkan ibunya adalah seorang penyanyi yang terkenal sebelum ia melahirkan Evan dan sebelum sebuah melodi memisahkan mereka.
       Mereka menangis terharu. Mereka tersenyum bangga.
Selesaai=D
Makasih yaa udah mampir cuma untuk bacaa cerpen aku, sering-sering mampirrr. Daaah=)




Jumat, 25 Januari 2013

Love Triangle *CERPEN*


Ada cerpen baru nih. Sebenernya udah lama, tapi baru aku post sekarang:D Enjoy!



            Siang ini, Rachel pergi berbelanja di sebuah swalayan kecil di Giant. Tepatnya di depan perumahan Pondok Indah Cilegon. Tak lupa di temani oleh sahabatnya, Antania yang biasa di panggil Nia. Teriknya matahari cukup membuat Rachel memaklumi cuaca yang memang sudah sering terjadi di kota Cilegon.
            Ya, Cilegon memang panas. Akhir-akhir ini walaupun sedang mengalami musim hujan, cuaca tetap pula panas tak karuan. Hari ini hari ke tiga dimulainya liburan. Wow! Lumayanlah, dari pada setiap hari Rachel sekolah tiada berhentinya dari mulai pukul 7 pagi dan baru keluar sekolah tepat pada matahari terbenam. Bagaimana Rachel tidak bertengkar terus dengan bundanya karena bundanya tersebut beranggapan Rachel tidak peduli lagi dengan keluarganya karena sibuknya pekerjaan-pekerjaan sekolah. Dan itu cukup membuat Rachel Stres.
            “Rachel, banyak sekali kue yang kau beli. Memangnya kau fikir kita mau kemana besok?”
            “Sudahlah Ni, kali ini saja kau menuruti permintaanku. Percaya padaku, ini tidak akan cukup untuk persediaan kita.”
            “Tidak cukup? Itu terlalu banyak buatku Rachel.”
            “Tenang Nia, percaya padaku. Kalau pun kalian tidak sanggup menghabiskannya, aku yang akan menghabiskan semuanya.”
            Nia bergumam tak jelas. “Dasar kau! Aku simpan apa yang kau bicarakan itu.” Rachel hanya mengangguk dengan percaya diri.
            Setelah berdebat sebentar, mereka menuju kasir untuk membayar. Mereka keluar dengan barang bawaan banyak. Plastik-plastik yang tidak terhitung jumlahnya, membuat mereka kewalahan membawanya. Dan, isi semua plastik itu adalah makanan.
            Dengan susah payah mereka membawa dan memasukkan semua plastik itu ke dalam mobil. Hei, jangan salah. Mereka memang baru kelas 1 SMA. Tapi Nia sudah cukup terampil untuk mengemudi mobilnya dengan baik.
            “Ah, Rachel. Kau cukup membuatku susah.” Nia mengendarai mobil dengan santai. Menuju perumahan Palm Hills Estate. Sebenarnya, rumah Nia di Pondok Cilegon Indah. Tapi karena rumah Rachel yang jauh letaknya membuat Nila rela mengantar sahabatnya itu.
            “Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab Rachel memamerkan deretan giginya yang rata. Sampai-sampai teman sekolahnya mempermasalahkan gigi Rachel yang rata. Mungkin memang sudah aslinya begitu. Karena Rachel merespon dengan menunjukkan wajah tak minat.
            Keesokan harinya mereka bersiap-siap untuk menuju sebuah hotel di Anyer. Mereka belum tahu seperti apa wujud hotel yang akan mereka tempati untuk menyambut tahun baru 2013 nanti.
            Suasana pagi kota Cilegon sudah di penuhi oleh ribuan kendaraan yang berlalu-lalang. Membuat udara lebih banyak berpolusi walaupun hari masih pagi. Matahari belum muncul untuk menyambut ramai nya kota Cilegon.
            “Ah, sial! Pagi-pagi begini sudah terkena macet.” Ryan bergumam tak jelas di mobilnya. Ia bersama Fandy dan Nia. Sekarang giliran menjemput Raina yang rumahnya di Kavling. Karena mereka naik mobil, maka dari itu melewati jalan raya. Dan saat ini, mereka terjebak macet.
            Handphone Nia berbunyi, “Halo? Iya Hel? Kita terjebak macet nih, kita lagi di jalan. Arah mau ke rumah Raina. Iyadeh, kamu tunggu aja ya. Tidak lama kok.” Nia menutup handphone nya.
            “Kenapa? Rachel ya?” Tanya Fandy yang sedari tadi sibuk dengan permainan ps nya. Mobil Ryan memang serbaguna. Banyak sekali mainan di dalam mobil, jadi walau bagaimana pun mereka tetap tidak akan bosan di dalam mobil.
            “Sudah tahu Rachel, kenapa bertanya lagi, Fan?”
            “Siapa tahu orang lain. Yang bernama Rachel kan bukan hanya dia saja.”
            “Aah, Fandy. Jujurlah padaku jika kau menyukainya...”
            Fandy diam. “Tidak, aku tidak menyukainya. Sudahlah.”
            Ryan dan Nia terkekeh pelan mengetahui perubahan mimik muka pada wajah Fandy. Bagaimana mereka tidak curiga kalau Fandy dan Rachel tidak mempunyai hubungan khusus. Karena yang ada di wallapaper Fandy adalah foto Rachel. Begitu juga sebaliknya. ‘Ah, kami hanya menjalankan perjanjian yang sudah kami sepakati’ begitu alasan mereka saat kami semua bertanya. Perjanjian yang telah disepakati? Fandy dan Rachel tidak mau memberitahu lebih lanjut.
            Tepat di perempatan sesudah Ramayana, Ryan membelokkan mobilnya ke kiri. Menuju rumah Raina, untung saja tidak macet lagi. Matahari sudah menyapa indahnya pagi di Kota cilegon.
            “Ah, kalian datang juga.”
            “Maaf, tadi macet.” Ryan terkekeh. Raina membalasnya dengan senyuman. Kemudian naik ke mobil Ryan. Selanjutnya mereka menjemput Denita di daerah Panggung Rawi. Karena takut mengulur waktu, Denita menunggu nya di depan Masjid Agung Cilegon.
            “Hai...” Sapa Denita saat masuk ke dalam mobil. Semua pada menyahut dengan heboh. “Jemput siapa lagi?” Tanya Denita.
            “Kita jemput Advin, setelah itu.. You know lah. Jemput Rachel dan Dicky, Ta. Nia sayang, tolong sms Advin, Rachel dan Dicky ya. Suruh Advin ke depan Krakatau Junction aja, dan suruh Rachel dan Dicky ke Bunderan, supaya tak mengulur waktu.”
            “Baiklah...” Perlu kalian ketahui, bahwa Nia dan Ryan sudah berhubungan khusus belum lama ini. Jadi, romantis-romantisnya masih keluar.
            Tepat jam 9 kurang 6 menit, setelah mereka sudah lengkap. Kecuali Aziz yang rumahnya memang di Anyer, jadi mereka mengambil kepercayaan pada Aziz untuk menentukan hotel yang akan mereka tempati.
            “Duh, macet lagi. Liburan sih yah, pantes saja.”
            Apa yang kalian fikirkan jika mendengar Kota Anyer? Ya, Pantai! Pantai nan indah yang sejuk. Kalau sedang galau ataupun sedih, ke pantai lah satu-satu nya cara lebih elite. Walaupun perjalanan yang di tempuh lumayan jauh ataupun macet. Tapi kalaupun kita ingin, bagaimanapun caranya pasti akan dilakukan.
            “Kau dimana, Ziz? Oh ya, tunggu disitu ya sayang.” Denita menutup handphone.
            “Baru kali ini aku mendengar Denita mengucapkan kata ‘sayang’ ke Aziz. Rasanya sangat aneh. Haha.” Sahut Raina yang duduk di jok paling belakang bersama Rachel dan Dicky.
            “Iya, aku pun sama. Oh iya Ta, Aziz menunggu dimana nanti?” Sambung Rachel bertanya pada Denita.
            “Di depan nanti ada pertigaan. Kita minggir sebentar ya pak supir!” Yang lain terkekeh mendengar Denita memanggil Ryan dengan sebutan ‘pak supir’. Ryan hanya mengangguk ikutan terkekeh.
            Tepat di pertigaan, Aziz berdiri menunggu dengan wajah murung. Memang seperti itu kali ya wajahnya. Aziz kaget karena tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depannya.
            “Ngelamun terus ih, sampai-sampai kamu gatau bahwa kita datang.” Yang lain ketawa terbahak.
            “Yaelah, kalian kan tahu kalau mukaku memang seperti ini wujudnya. Hahaha.” Jawab Aziz saat sudah duduk manis di mobil.
            “Haha, bisa saja kau ini. Jadi, kita mau ke hotel mana?” Tanya Ryan tetap fokus pada kendalinya.
            “Kemaren aku sudah bertanya pada ibu, hotel yang bagus disini yaitu Hotel Mambruk Anyer. Bagaimana? Kita mau coba disitu? Letaknya tidak terlalu jauh kok. Kalau macetnya tidak parah, 15 menitan pun kita sudah sampai.”
            “Kita coba dulu aja disitu. Kalaupun memang tidak sesuai hati, kita bisa meneruskan perjalanannya.” Ucap Ryan membuat kami mengangguk.
            Ternyata memang tidak lama hanya di tempuh 10 menit kita sampai di Hotel Mambruk Anyer. Kami segera turun untuk melihat-lihat apakah cocok untuk kita tempati 5 hari ini. Luar hotel tampak menggambarkan kesan mewah. Dan memang benar, ketika kami masuk nuansa Hotel ini berwarna coklat, hal lain yang tergambar di sini yaitu ‘tua’. Tembok yang warnanya mulai memudar. Tapi tertutup oleh ruangan yang di atur se rapi mungkin.
            Ryan tampak sedang menawar menurunkan harga. Untuk hal itu, memang sudah Ryan yang mengurus. Karena untuk soal begitu memang Ryan ahlinya. Petugas Hotel terlihat mengangguk dan menyalamkan Ryan.
            “Bagaimana, Ryan?” Tanya Advin begitu sang petugas Hotel pergi.
            “Aku berhasil, harganya sangat miring sekali. Haha.”
            “Wah, kau memang jago sekali, Ryan. Hebat-hebat aku suka.” Sahut Nia heboh.
            “Memang nya selama ini kau pacaran denganku kau tidak suka aku ya? Waaah.” Jawab Ryan curiga.
            Nia menggeleng cepat. Kami hanya tertawa menyaksikan mereka berdua. Memang selalu seperti itu.
            Akhirnya, kami memesan Villa yang terdiri dari dua kamar. Cukuplah, untuk mereka ber-sembilan orang. Karena 1 kamar terdiri dari 2 tempat tidur.
            Besoknya, sekitar jam 5 an mereka menuju pantai. Udara yang ada sangat sejuk sehingga membuat Rachel tak minat bermain air karena perut yang dia alami sedang bermasalah. Anyer petang ini terik. Dia hanya mengamati teman-teman nya yang tersenyum bahagia bermain air, menjatuhkan satu sama lain. Dia tak minat sama sekali. Rachel hanya duduk di Gazebo.
            “Rachel, sedang apa kau disini? Ayo, ikutlah kami bermain.” Dengan basah kuyup Dicky menghampiri Rachel. Dia mengulurkan tangannya. Rachel hanya menggeleng.
            “Ayolah, kau kenapa?”
            “Aku baik baik saja, Dicky.” Jawab Rachel tersenyum sebentar setelah itu menunjukkan wajah kesalnya. Dicky kembali ke dasar pantai.
            “DOR! Sendirian saja. Kenapa kau tidak ikut yang lain kesana?”
            Rachel menahan geram. “Heuh, Fandy. Jantungku hampir mau loncat tahu tidak! Bisakah kau muncul kehadapanku dengan lembut?” Rachel tak menjawab pertanyaan Fandy.
            “Maaf, Rachel. Aku hanya bercanda.” Ucap Fandy kesal. Rachel hanya mengangguk. “Sedang apa kau disini? Mengapa tak ikut teman-teman yang lain ke dasar pantai? Ayo ikut kesana!” Tanpa menunggu Rachel menjawab pertanyaannya, Fandy menarik tangan Rachel. Tapi Rachel menahannya.
            “Aku tidak mau.”
            “Mengapa?”
            Rachel tetap menahan dan melepas genggaman tangan Fandy. “Kalau begitu, ijinkan aku menemanimu.” Fandy kembali duduk di sebelah Rachel.
            “Sebentar lagi kita akan lihat sunset.” Fandy masih berbicara tak mau diam.
            “Aku tahu, Fandy.”
            Hati Fandy tak karuan saat mendekati Rachel. Tak seperti biasanya seperti ini. Maka, Fandy menutupi kegugupannya dengan terus banyak berbicara.
            Rachel senang Fandy bisa menemaninya. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengatakan perasaanya yang ia alami sekarang. Jantungnya berdegup keras. Tapi ia yakin Fandy tidak akan mendengarnya.
            Tak lama mereka duduk. Nia datang. “Kalian tidak ikutan kesana?”
            “Dia tidak mau.” Tunjuk Fandy ke Rachel.
            “Kalau begitu, kau saja yang kesana. Ikut aku!”
            “Ah, tidak. Aku ingin menemani Rachel disini. Biarkan kami berdua disini, Nia.”
            “Ayolah, Fan! Ikutlah bersamaku.” Nia menarik tangan Fandy yang membuat Fandy mau tidak mau berdiri dan ikut bersama Nia.
            Sial! Padahal sedikit lagi Rachel bisa melihat sunset bersama orang yang baru dikenalnya 6 bulan tapi sudah tersimpan dalam di hatinya. Tapi hanya harapan kosong yang ada. Ah Nia, mengapa kamu yang mengajaknya? Apakah kamu tidak mengerti perasaanku saat ini? Begitu ucap Rachel dalam hati. Mengapa harus Nia yang menghancurkan harapannya. Sahabatnya. Ia masih memandangi Fandy dari jauh.
            Sampai sekarang, ia tidak bisa mengerti. Mengapa harus orang itu yang mengisi hatinya. Yang ia tahu dari laki-laki itu adalah rese, cuek, caper, dan dia selalu asik dengan dirinya sendiri.
            Matahari sudah kembali ke asalnya. Menciptakan biru nya langit yang semakin gelap. Menunggu hadirnya bulan yang selalu hadir di setiap malam.
            “Saatnya makan!!!!” Ucap mereka heboh. Karena cacing-cacing di perut mereka sudah minta jatah. Satu bundar meja makan sudah siap sebelum mereka duduki.
            “Advin santai dong makannya. Aku tahu kau lapar, tapi tidak harus seperti itu kan?” Pinta Rachel ketika baru ada Advin dan dirinya di meja makan.
            “Sstttt. Rachel, temanilah aku untuk malam ini saja. Agar aku tak kesepian.”
            “Maksudmu? Mengikuti engkau dengan makan seperti itu? Tidak! Jangan berharap.”
            “Tenang, Vin. Aku datang menemanimuuuu!” Ucap Dicky ikutan berteriak dan menempati duduk di sebelahku.
            Teman-teman yang lain menempati tempat duduk masing-masing. Dan Fandy tepat di sebelah kiri Rachel yang memang masih kosong. Dengan senang nya Nia duduk di sebelah Fandy di lain sisi.
            Tepat pada saat Ryan meminta ijin ke kamar mandi. Nia basa-basi ke Fandy dengan kata-kata gombal yang membuat telinganya panas. Oh, God.. Cobaan apa lagi ini. Ketika Ryan sudah kembali, Nia tetap tebar pesona. Yang  ia heran adalah Ryan cuek dengan apa yang terjadi pada Fandy dan Nia. Dan untuk yang kesekian kalinya ia di kacangin oleh teman-temannya. Fandy dengan Nia. Denita dengan Aziz. Ryan dengan Raina, Advin dan Dicky. 
Rachel berdiri. Ia tidak tahan dengan permainan semua orang yang ada disini. Semua diam. Ia tidak mengerti sebenarnya ada apa dengan semua ini.
“Yan, ikut aku!” Rachel menarik tangan Ryan menahan emosi nya. Semua emosi yang ada ia coba untuk tidak di keluarkan.
Tepat di sebuah tepi kolam renang. Nafas Rachel tidak beraturan.
“Ada apa, Rachel?”
“Kau masih bertanya kenapa, hah? Memang nya suasana di meja makan tadi tidak menjawab pertanyaanmu itu? Ryan, plis.. Sebenarnya ada apa disini? Kau tidak tahu apa yang terjadi pada Nia dan Fandy? Dan mengapa kalian sibuk dengan urusan kalian masing-masing? Kalian lupa bahwa ada aku disini? AKU DISINI! Dan kalian tidak menganggap adanya aku!”
“Nia dan Fandy? Memangnya kenapa dengan mereka berdua? Mereka hanya bercanda saja kok. Dan asal kau tahu Rachel, Aku tidak seperti yang kamu bicarakan tadi. Kami semua menganggap adanya kau.”
“Bercanda? Apakah kau fikir di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin? Bagaimana jika semua itu benar? Kau tidak takut Nia berpaling darimu? Apa kau tidak takut bahwa Nia....”
Ryan menyimpan telunjuknya di bibir Rachel. “Aku tidak takut sama sekali jika Nia berpaling dariku. Karena yang aku takutkan adalah kamu yang seperti ini...”
Tepat saat itu, teman-teman yang lain keluar karena penasaran ada apa pada diri Rachel.
“Ryan? Kau!” Ryan dan Rachel menoleh pada teman-teman semua.
“Ada apa ini, Ryan?” Tanya Fandy bingung.
“Kenapa, Fan? Kau cemburu? Nia, apa kau benar-benar menyukaiku? Sampai-sampai aku di lupakan saat kau sedang bersama seseorang yang kau cintai lebih dari pada kau menyukaiku.” Ucap Ryan berbicara sinis.
“Ya, kalau kau mau waktu yang tepat. Inilah waktu yang tetap untuk kau tahu bahwa aku tidak suka denganmu. Aku lebih suka Fandy daripada kau. Jadi, sampai disini perjalanan kita. Bye Ryan.” Nia bergelayut di lengan Fandy.
Ryan mendecak sinis ke arah Nia. Fandy menepis tangan Nia. Nia bingung.
“Maaf, Ni. Mungkin kalau aku memilihmu, yang ada bukan bahagia. Tapi penyesalan. Aku lebih memilih Rachel.”
Ryan menatap Fandy. “Tidak! Rachel yang akan bersamaku.” Ryan merangkul Rachel. Rachel tatap diam, ia menunduk dari tadi.
“KENAPA HARUS RACHEL? Kenapa harus Rachel yang merebut semua orang dariku? Hel, kita bersahabat. Apa kamu rela melihatku sendirian? Aku benci kamu, Rachel!”
Rachel melepas rangkulan Ryan. Ia maju perlahan, “Seharusnya yang bilang seperti itu aku! Kamu selalu mematikan harapanku, Ni. Aku yang lebih dulu menyukai Reza. Tapi apa? Kamu yang sama Reza saat itu. Ryan mulai mengubah perasaanku terhadap Reza dan dia berhasil mematikan perasaan itu, aku mulai menyukai nya juga. Tapi selalu kamu yang jadian sama orang yang aku suka. Kamu dan Ryan sama-sama merusak perasaan yang ada. Sekarang? Aku terhadap Fandy. Apa kamu mau mematikan perasaan ini lagi ke aku? Seberapa kalinya kamu mematikan harapan itu, Ni? Kamu sahabatku. Aku yakin kamu tahu siapa aja orang yang aku suka, dan setiap kamu tahu kamu mencoba mengambilnya dariku. Aku lelah dengan permainanmu, Ni. Aku capek. Aku mau ini semua selesai. Cukup aku saja yang terkena perangkap kamu, Ni. Aku mohon jangan lakukan ini pada orang lain selain aku. Karena rasanyanya sakit, Ni.... Sakit... Kamu tidak akan tahu rasanya jadi aku. Dan aku lebih sakit hati lagi sekarang kalau Fandy tetap memilih kamu, Ni.” Air mata Rachel deras mengalir.
“Ni, sahabat macam apa seperti itu? Hel, maaf ya karena aku menjadi sahabat kau yang tidak bisa memberimu apa-apa.”
Antania hanya bisa menunduk. “Rachel..... I know how you feel, dear. And it was very painful” Denita memeluk Rachel. Raina pun ikut memeluk Rachel.
“Hel, apapun yang kamu rasakan. Aku minta maaf. Aku minta maaf, Hel. Maaf.” Rachel mengangguk. Nia berlari ikut memeluk Rachel.
Rachel melepaskan pelukan teman-temannya. Ia berlari menuju pantai. Teman-teman yang lain mengejarnya. Takut kalau Rachel bertindak nekat.
“Sudah terlalu lama aku memendam perasaan ini, Ni. Rasanya lebih sesek dari yang kamu bayangkan.” Rachel berlari lagi ke tepi pantai. Sampai air menyentuh kakinya.
“Dulu, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melepas ini. Aku lebih memilih menutup perasaanku tanpa ada satu orang yang tahu.....selain Dicky. Dicky baik, dia selalu ada disaat aku butuh kalian semua di samping aku. Tapi cuma dia yang selalu ada! Cuma dia.....” Rachel semakin ke tengah. Ia berhenti saat air mulai membatasi dadanya. Hanya Nia, Dicky, Fandy, dan Ryan yang mengikuti Rachel. Sisanya hanya menunggu di tepi dengan kegelisahan.
Dicky mendekati Rachel. “Hel, dengarkan aku. Kau mau apa? Ngapain kamu ketengah? Ini sudah malam, Hel. Terlalu bahaya.”
Rachel dengan refleks memeluk Dicky dengan erat. “Ayo kita ke pinggir.” Dengan tetap posisi berpelukan mereka ke pinggir. Perlahan-lahan membawa Rachel.
“Aku tahu bagaimana caranya agar semua yang masih tersisa dan masih tertinggal dalam perasaanmu hilang. Kamu cukup berteriak Rachel. Keluarkan emosi mu sekarang! Tunggu apa lagi! Teriaklah! Itu akan mengurangi beban yang ada pada diri kamu.” Dicky berbisik di telinga Rachel dengan yakin.
Fandy yang melihat itu cemburu, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Rachel melepas pelukan Dicky. Ia berteriak. Sekencang-kencangnya. Sampai air mata keluar lagi. Menetes deras.
“Maafin aku, Hel. Aku yang sudah membuatmu kacau seperti ini. Aku minta maaf Rachel.” Nia kembali memeluk Rachel. Rachel tersenyum.
BUKK. Dengan tergesa-gesa Fandy memukul pipi Dicky. “Fandy! Apa yang kamu lakukan?” Rachel membangunkan Dicky yang tadi terjatuh.
“Omong kosong, kamu bilang kamu yang pertama kali mendukungku bersama dia. Tapi kenapa kamu juga yang mengambil dia dariku, Dicky?”
“Fan!” Rachel dengan sigap memeluk Fandy. Ia menggeleng. “Dia hanya sahabatku, Fan. Tak lebih. Jangan berfikiran seperti itu.”
“Tapi kalau kamu membuat Rachel kacau seperti ini lagi. Aku tak akan diam, Fan.”
“Jadi, Rachel sama Fandy? Kita pesta!” Seru Aziz.
“Kok semakin malam semakin ramai sih?” Tanya Nia.
“Kalian lupa ya? Beberapa menit lagi kan tahun baru.” Jawab Advin.
Ryan sudah mulai merelakan Rachel, ia tahu ia telat sekarang. Ia yakin menunggu Rachel. Hingga pada waktunya. Ia tersenyum.
“Aku senang sekarang...” Bisik Rachel pada Fandy. “Kalau bukan situasi yang seperti tadi, mungkin sampai sekarang aku hanya pengagum rahasiamu.”
“Ssstt. Aku tak akan berani memukul Dicky kalau kau tak memeluknya.”
“Ayo kita itung mundur!” Ajak Raina.
“5..............4............3...........2..........1. SELAMAT TAHUN BARU!” Teriak kami semua. Tepat jam 00:00. Mereka berpelukan satu sama lain, melupakan kejadian pahit. Dan mengingat kejadian yang indah.
Fandy mengeratkan genggaman tangannya pada Rachel. Mereka punya harapan sendiri. Mereka punya harapan dan do’a masing-masing dan itu akan tersimpan terus pada relung hati mereka dalam-dalam. Kenangan ini, kenangan di pantai Hotel Mabruk Anyer, Indonesia. Yang tidak akan mereka lupakan. Terkadang, kita tidak sadar bahwa di sekitar kita ada seseorang yang diam-diam membuat hidup kita berarti. Dan, terkadang kita diam-diam menganggumi seseorang yang berarti. Berbicaralah! Agar kita tahu perasaan masing-masing dan tidak ada lagi yang disembunyikan.



                                                                     Minggu, 6 Januari 2013

                                                                  Amanda Hanifah Nur Hilizza