THE
HOST
.
.
.
THE HOST
BAB 1
REMEMBERED
.
.
.
Aku
tahu semua akan dimulai dengan bagian akhir, dan bagian akhir akan tampak bagai
kematian bagi mata ini. Aku sudah diingatkan.
Bukan
mata ini. Mataku. Milikku. Ini adalah aku sekarang.
Bahasa
yang kugunakan aneh namun masuk akal. Terputus - putus, terkotak - kotak, buta,
dan linear. Sangat timpang dibandingkan banyak bahasa yang pernah kugunakan,
tapi masih bisa mengalir dan berekspresi. Terkadang indah. Ini bahasaku
sekarang. Bahasa asliku.
Dengan
insting paling sejati bangsaku, aku mengikatkan diri kuat - kuat ke dalam pusat
pikiran tubuh itu, membelitkan diriku telak - telak ke dalam setiap napas dan
refleksnya, sampai tubuh itu tak lagi jadi entitas terpisah. Itu aku.
Bukan
tubuh itu, melainkan tubuhku.
Aku
merasakan hilangnya pengaruh obat bius, digantikan kejernihan. Kukuatkan diri
menghadapi serangan ingatan pertama, yang sesungguhnya adalah ingatan
terakhir--yaitu saat - saat terakhir yang dialami tubuh ini, ingatan tentang
akhir hayat. Aku sudah diingatkan mengenai apa yang akan terjadi sekarang.
Semua emosi manusia ini bakal lebih kuat, lebih hidup daripada perasaan spesies
manapun yang pernah kualami. Aku mencoba menyiapkan diri.
Ingatan
itu muncul. Dan, sebagaimana aku telah diingatkan, itu adalah sesuatu yang tak
pernah bisa siap dihadapi.
Ingatan
itu menyayat dengan warna tajam dan suara berdenging. Kulit Pemuda ini dingin,
rasa nyeri mencengkeram tungkai - tungkainya, membakar. Rasa di mulutnya sangat
mirip besi. Lalu muncul indra baru, indra kelima yang belum pernah kumiliki,
yang mengambil partikel-partikel dari udara dan mengubah mereka menjadi banyak
pesan, kenikmatan, serta peringatan aneh dalam benak Pemuda ini--aroma - aroma
Semua aroma itu mengganggu dan membingungkan bagiku, tapi tidak bagi ingatan Pemuda
ini. Ingatan itu tak punya waktu bagi aroma - aroma baru ini. Ingatan itu hanya
dipenuhi rasa takut.
Ketakutan
mengunci Pemuda ini dalam jepitannya, mendorong sekaligus menghalangi tungkai -
tungkai kikuk tak berdaya itu. Untuk kabur, lari--hanya itu yang bisa ia
lakukan.
Aku gagal.
Ingatan
yang bukan milikku ini sangat mengerikan kekuatan dan kejernihannya, hingga
menerobos kendaliku dan mengaburkan pemisahan, yaitu pengetahuan bahwa ini
hanya ingatan, dan bukan diriku. aku terisap ke dalam neraka yang merupakan
menit terakhir hidup Pemuda ini. Aku adalah dia, dan kami sedang berlari.
Gelap
sekali. Aku tak bisa melihat. Aku tak bisa melihat lantai. Aku tak bisa melihat
tanganku terulur di hadapanku. Aku berlari tanpa melihat dan mencoba mendengar
para pengejar yang keberadaannya kurasakan di belakangku. Tapi denyut itu
begitu keras di belakang telingaku, mengalahkan segala hal lain.
Dingin,
seharusnya tak jadi masalah sekarang, tapi rasanya menyakitkan. Aku sangat
kedinginan.
Udara di hidung Pemuda ini tak nyaman. Busuk. Baunya busuk. Selama sedetik ketidaknyamanan itu menarikku, membebaskanku dari ingatan ini. Tapi hanya sedetik, lalu aku kembali terseret masuk, dan mataku dipenuhi air mata kengerian.
Udara di hidung Pemuda ini tak nyaman. Busuk. Baunya busuk. Selama sedetik ketidaknyamanan itu menarikku, membebaskanku dari ingatan ini. Tapi hanya sedetik, lalu aku kembali terseret masuk, dan mataku dipenuhi air mata kengerian.
.
.
.
.
Aku
tersesat, kami tersesat. Sudah berakhir.
Kini
mereka tepat dibelakangku, jelas dan dekat. Begitu banyak langkah kaki! Aku
sendirian. Aku gagal.
Para
pencari memanggil. Suara mereka memilin perutku. Aku bakal muntah.
“Tidak
apa-apa, tidak apa-apa,” salah satu dari mereka berbohong, mencoba
menenangkanku, mencoba memperlambatku. Suaranya disela usaha untuk bernapas.
“Hati-hati!”
yang lain berteriak mengingatkan.
“Jangan
celakai dirimu sendiri,” pinta salah satu dari mereka. Suaranya dalam, penuh
kekhawatiran. Kekhawatiran!
Panas
menyerbu urat - urat nadiku, dan kebencian yang luar biasa nyaris
mencekikku.
Aku belum pernah merasakan emosi semacam ini di dalam seluruh masa kehidupanku. Selama sedetik perasaan muak menarikku menjauhi ingatan itu. Raungan melengking menembus telinga dan berdenyut di kepalaku. Suaranya menggores jalan napasku. Tenggorokanku sedikit nyeri.
Aku belum pernah merasakan emosi semacam ini di dalam seluruh masa kehidupanku. Selama sedetik perasaan muak menarikku menjauhi ingatan itu. Raungan melengking menembus telinga dan berdenyut di kepalaku. Suaranya menggores jalan napasku. Tenggorokanku sedikit nyeri.
Menjerit,
tubuhku menjelaskan. Kau sedang menjerit.
Aku
terpaku syok, dan suara itu mendadak diam.
Ini
bukan ingatan.
Tubuhku--Pemuda
ini sedang berpikir! Sedang berbicara kepadaku!
Tapi
ingatan itu lebih kuat, pada saat itu, sehingga mengalahkan rasa
takjubku.
"Jangan!"
teriak mereka. "Ada bahaya di depan!"
Bahaya ada di belakang! Aku balas
berteriak dalam hati. Tapi aku melihat apa yang mereka maksud. Seberkas cahaya
lemah, entah dari mana asalnya, menerangi ujung lorong. Jalan buntu yang
kutakuti dan sekaligus kuharapkan itu ternyata bukan dinding rata atau pintu
terkunci, melainkan lubang hitam.
Terowongan lift. Terlantar, kosong, dan
terlarang, seperti bangunan ini. Dulunya tempat persembunyian, kini kuburan.
Perasaan lega membanjiriku ketika aku
berlari ke depan. Ada jalan. Tak ada jalan untuk tetap hidup, tapi mungkin ada
jalan untuk menang.
Tidak, tidak, tidak! Segenap pikiran
ini milikku, dan aku berjuang menarik diri dari Pemuda ini, tapi kami menyatu.
Dan kami lari menuju tubir kematian.
"Jangan!" Teriakan - teriakan
itu semakin putus asa.
Rasanya aku ingin tertawa ketika
mengetahui diriku cukup cepat. aku membayangkan tangan mereka mencengkeram
hanya beberapa senti di belakangku. Tapi aku secepat yang kuinginkan.
Aku bahkan tidak berhenti di ujung
lantai. Lubang itu menyambutku di tengah langkah.
Kekosongan menelanku. Kakikku menggapai
- gapai, sia - sia. Tanganku mencengkeram udara, mencakar - cakar, mencari
sesuatu yang solid. Embusan dingin melesat melewatiku bagai tornado.
Aku
mendengar suara gedebuk, sebelum merasakannya... Angin lenyap...
Lalu
rasa sakit di mana - mana... Rasa sakit adalah segalanya.
Hentikan.
Kurang
tinggi, bisikku pada diri sendiri di antara rasa sakit.
Kapan
rasa sakitnya berakhir? Kapan...?
Kegelapan
menelan penderitaan itu, dan aku dipenuhi rasa syukur karena ingatan itu telah
sampai pada kesimpulan terakhir ini. Kegelapan merampas segalanya, dan
aku bebas. Aku menghela napas untuk menenangkan diri, seperti kebiasaan tubuh
ini. Tubuhku.
Tapi warnanya bergegas kembali, ingatan itu muncul dan menguasaiku lagi.
Tidak! Aku panik, takut terhadap rasa dingin, rasa sakit, dan ketakutan itu sendiri.
Tapi ini bukan ingatan yang sama. Ini ingatan dalam ingatan. Ini ingatan terakhir--bagai tarikan napas terakhir--tapi entah mengapa, lebih kuat daripada ingatan pertama.
Tapi warnanya bergegas kembali, ingatan itu muncul dan menguasaiku lagi.
Tidak! Aku panik, takut terhadap rasa dingin, rasa sakit, dan ketakutan itu sendiri.
Tapi ini bukan ingatan yang sama. Ini ingatan dalam ingatan. Ini ingatan terakhir--bagai tarikan napas terakhir--tapi entah mengapa, lebih kuat daripada ingatan pertama.
Kegelapan
merampas segalanya kecuali ini: sebentuk wajah.
Wajah
ini asing bagiku, seperti halnya sulur - sulur ular tak berwajah yang merupakan
tubuh inang terakhirku akan terasa asing bagi tubuh baru ini. Aku pernah
melihat wajah seperti itu dalam gambar - gambar yang diberikan kepadaku sebagai
persiapan untuk memasuki dunia ini. Sulit membedakan wajah - wajah itu, untuk
melihat sedikit variasi dalam warna dan bentuk yang merupakan satu - satunya
perbedaan mereka.
Mereka
memiliki begitu banyak kesamaan. Hidung dipusatkan di tengah, mata di atas dan
mulut di bawah, telinga di samping. Sekumpulan indra, kecuali indra peraba,
dipusatkan di satu tempat. Kulit menutupi tulang - tulang, rambut tumbuh di
puncak kepala dan membentuk garis - garis berbulu aneh di atas mata. Beberapa
punya lebih banyak bulu di bawah rahang, dan mereka selalu berjenis kelamin
laki - laki. Warna kulit berkisar antara cokelat, krem pucat, sampai gelap,
nyaris hitam. Selain itu, bagaimana cara membedakan wajah yang satu dengan
lainnya?
Wajah
ini pasti kukenali di antara jutaan wajah lainnya.
Wajah
ini berbentuk persegi tegas, bentuk tulang - tulangnya kuat di balik kulit.
Warna kulitnya cokelat muda keemasan. Warna rambutnya hanya sedikit lebih gelap
daripada warna kulitnya, tapi ada helai - helai rambut kuning muda yang
mencerahkannya. Rambut itu hanya menutupi kepala serta membentuk garis - garis
berbulu aneh di atas mata. Iris yang melingkar di dalam bola mata putihnya
lebih gelap daripada warna rambutnya, tapi--seperti rambutnya--berbintik -
bintik terang. Ada gurat-gurat kecil di sekeliling mata, dan ingatan Pemuda ini
memberitahuku gurat-gurat itu terbentuk akibat tersenyum dan menyipitkan mata
di terik matahari.
Aku
sama sekali tak tahu apa yang disebut tampan di antara orang - orang asing ini,
namun aku tahu wajah ini tampan. Aku ingin terus memandanginya. Ketika ini
kusadari, wajah itu langsung menghilang.
Milikku,
ujar pikiran mahluk asing yang seharusnya tidak lagi eksis itu.
Sekali lagi aku terpaku, terpana. Seharusnya tak ada siapa-siapa di sini, kecuali diriku. Namun pikiran ini begitu kuat dan penuh kesadaran!
Sekali lagi aku terpaku, terpana. Seharusnya tak ada siapa-siapa di sini, kecuali diriku. Namun pikiran ini begitu kuat dan penuh kesadaran!
Mustahil.
Bagaimana mungkin Pemuda ini masih di sini? Ini aku sekarang.
“Milikku”,
bentakku kepadanya. Kekuatan dan otoritas yang hanya milikku mengalir melalui
kata itu. Semua milikku.
Lalu
mengapa aku meladeni perkataannya? aku bertanya-tanya saat suara-suara mengusik
pikiranku.
.
.
TO BE
CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar