THE
HOST
A STORY AND NOVEL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 2
OVERHEAD
.
.
.
Suara-suara
itu lembut dan dekat. Dan walaupun aku baru saja merasakan kehadiran mereka,
tampaknya suara-suara itu bergumam di tengah percakapan.
"Aku
khawatir ini terlalu berat baginya," kata salah satu. Suara itu lembut,
namun dalam.
Suara
laki-laki. "Terlalu berat bagi siapapun. Penuh kekerasan!" Nadanya,
memperlihatkan rasa muak.
"Dia
hanya menjerit satu kali," kata suara lain yang lebih tinggi dan
melengking. Suara laki-laki lainny.. Suara itu menunjukkan sedikit rasa senang,
seakan baru memenangkan argumen.
"Aku
tahu," lelaki itu mengakui. "Dia sangat kuat. Yang lain mengalami
jauh lebih banyak trauma, walaupun penyebabnya lebih sedikit."
"Aku
yakin dia akan baik-baik saja, persis yang kubilang."
"Mungkin
kau melenceng dari Panggilan-mu." Ada nada tajam dalam suara lelaki itu.
Ingatanku menyebutnya sindiran.
"Mungkin
kau ditakdirkan untuk menjadi Penyembuh, seperti aku."
Pencari
itu mengeluarkan suara senang. Tertawa. "Aku meragukannya. Kami, para
Pencari, lebih menyukai jenis diagnosis berbeda."
Tubuhku
memahami kata ini, sebutan ini: Pencari. Kata itu mengirimkan getar ketakutan
ke sekujur tulang belakangku. Reaksi yang tersisa. Tentu saja aku tak punya
alasan untuk takut terhadap para Pencari.
"Terkadang
aku bertanya-tanya apakah pengaruh kemanusiaan bisa menyentuh mereka yang
berprofesi sepertimu," ujar lelaki itu. Suaranya masih masam karena
jengkel. "Kekerasan adalah bagian dari pilihan hidupmu. Masih banyakkah
temperamen asli tubuhmu yang tersisa, sehingga kau menikmati
kengeriannya?"
Aku
terkejut atas tuduhan lelaki itu, terkejut mendengar nada suaranya. Percakapan
ini nyaris menyerupai... argumen. sesuatu yang dikenal inangku, tapi belum
pernah kualami.
Pencari ini bersikap defensif. "Kami tidak memilih kekerasan. Kami menghadapinya, jika perlu. Dan kalian semua beruntung karena sebagian kita cukup kuat untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Kedamaian kalian bakal hancur tanpa pekerjaan kami."
Pencari ini bersikap defensif. "Kami tidak memilih kekerasan. Kami menghadapinya, jika perlu. Dan kalian semua beruntung karena sebagian kita cukup kuat untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Kedamaian kalian bakal hancur tanpa pekerjaan kami."
"Itu
dulu. Kurasa pekerjaanmu akan segera jadi sejarah."
"Kesalahan
pernyataan itu sedang berbaring di sana, di tempat tidur."
"Seorang
gadis manusia, sendirian
dan tidak bersenjata! Ya, cukup mengancam kedamaian kita."
Pencari
itu mengembuskan napas keras-keras. Mendesah.
"Tapi
dari mana asalnya? Bagaimana dia bisa muncul di tengah Chicago, kota yang sudah
lama beradab, ratusan kilometer dari jejak kegiatan pemberontakan apa pun?
Apakah dia bertahan hidup sendirian?"
Tampaknya
Pencari itu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tadi tanpa mengharapkan jawaban,
seakan ia sudah sering menyuarkan semua pertanyaan itu.
"Itu
masalahmu, bukan masalahku," ujar lelaki itu. "Tugasku adalah
membantu jiwa ini menyesuaikan diri dengan inang barunya, tanpa mengalami rasa
sakit atau trauma yang tidak perlu. Dan kau ada di sini untuk mengganggu
tugasku."
Walaupun
masih pelan - pelan memulihkan kesadaran, menyesuaikan diri dengan dunia
indra-indra baru ini, sekarang aku sadar akulah yang jadi subjek percakapan
itu. Akulah jiwa yang sedang mereka bicarakan. Ini konotasi baru bagi kata
jiwa, kata yang dulunya memiliki banyak arti lain bagi inangku. Kami
menggunakan nama yang berbeda di setiap planet. Jiwa. Kurasa itu penggambaran
yang tepat. Kekuatan tak terlihat yang menuntun tubuh.
"Jawaban
atas pertanyaan-pertanyaanku sama pentingnya dengan semua tanggung jawabmu
terhadap jiwa itu."
"Itu
bisa diperdebatkan."
Terdengar
suara gerakan, dan mendadak perkataan Pencari itu berubah jadi bisikan.
"Kapan responnya kembali? Mestinya pengaruh obat bius itu sudah hampir
hilang."
"Saat
dia sudah siap. Biarkan saja. Dia berhak menangani situasinya, dengan cara yang
paling nyaman untuknya.
Bayangkan
keterkejutan yang bakal dialaminya ketika terbangun--di dalam tubuh inang
pemberontak yang cedera sampai nyaris mati ketika berusaha meloloskan diri!
Seharusnya
siapa pun tak perlu mengalami trauma semacam ini di saat-saat damai!"
Suara lelaki itu meninggi seiring emosinya.
"Dia
kuat." Nada suara Pencari itu kini meyakinkan. "Lihat betapa baiknya
dia menangani ingatan pertama. Ingatan terburuk. Apa pun yang dia harapkan, dia
berhasil menangani ingatan pertama itu."
"Kenapa
dia harus menghadapinya?" gumam lelaki itu, tapi sepertinya ia tidak
mengharapkan jawaban.
Pencari
itu toh menjawab juga. "Kalau kita ingin memperoleh informasi yang kita
perlukan-"
"Perlu
adalah perkataanmu. Aku akan memilih istilah ingin."
"Maka
seseorang harus menghadapi ketidaknyamanan itu," Pencari itu melanjutkan,
seakan-akan si lelaki tidak menyela perkataannya.
"Dan
kurasa, dari segala yang kuketahui tentang jiwa yang satu ini, dia akan
menerima tantangan itu, seandainya ada cara untuk bertanya kepadanya. Nama apa
yang kauberikan kepadanya tadi?"
Lelaki
itu terdiam untuk waktu lama. Pencari itu menanti.
"Wanderer--Pengelana,"
jawab lelaki itu enggan, pada akhirnya.
"Cocok,"
ujar Pencari itu.
"Aku
sama sekali tak punya statistik resmi, tapi agaknya dia termasuk salah satu
dari sedikit sekali jiwa--jika bukan satu-satunya--yang telah berkelana sejauh
ini. Ya. Wanderer akan cocok untuknya, sampai dia memilih sendiri nama
barunya."
Lelaki
itu diam saja.
"Tentu
saja dia bisa memakai nama inangnya... Kami tidak menemukan kecocokan dalam
catatan sidik jari atau pemindaian retina. Aku tidak bisa mengatakan kepadamu
siapa namanya."
"Dia
takkan menggunakan nama manusia," gumam lelaki itu.
Jawaban
si Pencari menenangkan. "Setiap individu menemukan kenyamanan dengan
caranya sendiri."
"Dibandingkan
sebagian besar individu, Wanderer ini akan memerlukan lebih banyak kenyamanan.
Berkat gaya Pencarian-mu."
Terdengar
suara-suara tajam--langkah terputus-putus di atas lantai keras. Ketika kembali
berbicara, suara Pencari itu terdengar dari seberang ruangan tempat lelaki itu
berada.
"Kau
pasti bereaksi buruk terhadap hari - hari awal pendudukan planet ini,"
ujarnya.
"Mungkin kau yang bereaksi buruk terhadap perdamaian."
"Mungkin kau yang bereaksi buruk terhadap perdamaian."
Pencari
itu tertawa, tapi suaranya palsu--tak terdengar nada gembira yang sejati.
Tampaknya benakku sangat ahli menyimpulkan arti sesungguhnya, berdasarkan nada dan
tinggi-rendah suara.
"Kau
tidak punya persepsi yang jernih mengenai Panggilan-ku. Berjam-jam membungkuk
di atas arsip dan peta. Sebagian besar pekerjaan administrasi. Jarang
terjadi konflik atau kekerasan seperti yang tampaknya kaubayangkan."
"Sepuluh
hari lalu kau dilengkapi senjata pembunuh, ketika mengejar tubuh ini."
"Kuyakinkan
kau, itu perkecualian, bukan peraturan. Jangan lupa, senjata - senjata yang
bagimu menjijikan itu akan terarah pada bangsa kita seandainya kami, para
Pencari, tidak cukup waspada. Manusia membunuh kita dengan senang hati kapan
pun mereka mampu melakukannya. Jiwa yang kehidupannya pernah disentuh kekerasan
akan menganggap kami pahlawan."
"Kau
bicara seakan perang sedang berkecamuk."
"Memang,
bagi umat manusia yang masih tersisa."
Perkataan
ini terdengar lantang di telingaku. Tubuhku bereaksi terhadapnya; kurasakan
napasku memburu, kudengar jantungku memompa lebih kencang daripada biasa.
Di
samping tempat tidur tempatku berbaring, sebuah mesin mencatat
peningkatan-peningkatan itu dengan suara teredam. Penyembuh dan Pencari terlalu
asyik dengan perselisihan mereka sehingga tidak memperhatikan.
"Tapi
mereka pun seharusnya menyadari mereka telah lama kalah perang. Berapa banyak
mereka kalah dalam jumlah? Sejuta berbanding satu? Kurasa kau tahu perbandingan
tepatnya."
"Kemungkinan
menang memang cukup tinggi di pihak kami," dengan enggan Pencari itu
mengakui.
Penyembuh
tampak puas, dan membiarkan perselisihan berakhir dengan informasi tadi. Sejenak
suasana hening.
Kugunakan
saat kosong ini untuk mengevaluasi situasiku, yang sebagian besar sudah jelas.
.
.
.
.
Aku
berada di fasilitas Penyembuhan, sedang memulihkan diri dari insersi(perubahan)
yang luar biasa traumatis.
Aku
yakin sebelum diberikan kepadaku, tubuh yang menampungku telah sembuh
sepenuhnya. Inang yang rusak bakal dibuang.
Kurenungkan perselisihan pendapat
antara Penyembuh dan Pencari. Menurut informasi yang kuperoleh sebelum
memutuskan datang kemari, pendapat Penyembuh-lah yang benar.
Permusuhan dengan beberapa kelompok
manusia yang tersisa sudah berakhir. Planet yang disebut Bumi tenang dan damai
sebagaimana terlihat dari luar angkasa, hijau dan biru mengundang, diselubungi
asap putihnya yang tak berbahaya. Sepertinya halnya kebiasaan hidup jiwa, kini
keselarasan ada di mana-mana.
Pertikaian verbal antara Penyembuh dan
Pencari bukanlah hal biasa. Cukup agresif bagi bangsa kami. Membuatku
bertanya-tanya, mungkinkah itu benar, desas-desus yang berupa bisikan
bergelombang bagai ombak melalui pikiran-pikiran...
Perhatianku teralihkan, mencoba
mengingat nama spesies yang menjadi inang terakhirku dulu. Kami punya nama. Aku
tahu itu. Tapi karena tak lagi berhubungan dengan inang itu, aku tak bisa
mengingatnya. Kami menggunakan bahasa yang jauh lebih sederhana daripada bahasa
ini.
Bahasa bisu pikiran yang menghubungkan
kami semua dalam satu kesatuan pikiran. Itu kenyamanan yang penting, karena
tubuh kami tertanam selamanya di dalam tanah hitam basah.
Aku bisa menggambarkan spesies itu
dalam bahasa manusiaku yang baru. Kami hidup di dasar lautan luas yang menutupi
seluruh permukaan dunia kami; dunia yang mempunyai nama, tapi juga telah
lenyap.
Kami masing - masing memiliki seratus
tangan, dan di setiap tangan ada seribu mata, sehingga--dengan pikiran kami
yang terhubung--tak satu pun pemandangan di perairan luas itu terlewatkan.
Suara tak diperlukan, jadi mustahil
untuk mendengarnya. Kami mencicipi air dan, dengan penglihatan kami, air itu
menceritakan semua yang perlu kami ketahui.
Kami mencicipi matahari-matahari yang
sangat jauh di atas permukaan air, dan mengubah rasa mereka menjadi makanan
yang kami butuhkan.
Aku bisa menggambarkan diri kami, tapi
tak bisa mengingat nama kami. Aku mendesah karena pengetahuan yang hilang itu,
lalu merenungkan kembali pembicaraan yang telah kucuri dengar.
Sebagai patokan, jiwa tak mengucapkan
apa pun kecuali kebenaran.
Tentu saja para Pencari memiliki
persyaratan - persyaratan untuk memenuhi Panggilan mereka, tapi di antara para
jiwa tak pernah ada alasan untuk berbohong.
Dengan bahasa pikiran spesies
terakhirku dulu, akan mustahil untuk berbohong, bahkan seandainya kami
menginginkannya. Namun karena tubuh kami tertanam, kami bercerita kepada diri
sendiri untuk meringankan kebosanan.
Bercerita adalah talenta yang paling
dihargai, karena bermanfaat bagi semua orang.
Terkadang fakta bercampur dengan fiksi
sedemikian rupa sehingga, walaupun tak ada kebohongan yang diceritakan, sulit
untuk mengingat apa yang sungguh - sungguh benar.
Ketika memikirkan planet baru itu--Bumi
yang begitu kering, begitu beragam, serta dipenuhi penduduk keji dan perusak
sehingga nyaris tak terbayangkan--kengerian kami terkadang dikalahkan
kegembiraan kami.
Cerita - cerita berputar sangat cepat
mengelilingi subjek baru yang menggetarkan itu. Perang-perang itu--perang!
Bangsa kami harus berperang!--pertama-tama dilaporkan dengan akurat, lalu
ditambah-tambahi dan dikarang-karang.
Ketika cerita - cerita itu bertentangan
dengan informasi resmi yang kucari, tentu saja aku memercayai laporan-laporan
pertama itu.
Tapi kudengar bisik-bisik seperti ini:
tentang inang-inang manusia yang begitu kuat sehingga para jiwa terpaksa
meninggalkan mereka. Inang-inang dengan benak yang tak bisa ditundukkan
sepenuhnya. Jiwa-jiwa yang mengambil kepribadian raga, bukan sebaliknya.
Cerita-cerita. Desas-desus liar.
Kegilaan. Tapi itu tampaknya nyaris seperti tuduhan Penyembuh...
Kubuang pikiran itu. Kecaman yang
dilontarkan Penyembuh kemungkinan besar berarti ketidaksukaan yang dirasakan
sebagian besar dari kami terhadap Panggilan Pencari.
Siapa yang bersedia memilih kehidupan
penuh konflik dan pengejaran? Siapa yang akan tertarik dengan pekerjaan
menelusuri jejak inang-inang yang melawan dan menangkapi mereka?
Siapa yang sanggup menghadapi kekejaman
spesies ini, manusia - manusia keji yang membunuh dengan begitu mudah, dengan
begitu tak berperasaan? Di sini, di planet ini, para Pencari bisa dikatakan
telah menjadi... militan--otak baruku memasok istilah untuk konsep yang tak
kukenal ini.
Sebagian besar jiwa percaya bahwa hanya
jiwa yang paling tidak beradab, yang paling tidak berevolusi, yang lebih rendah
di antara kami, yang akan tertarik menjadi Pencari.
Meski begitu para Pencari memperoleh
status baru di Bumi. Tak pernah sebelumnya peristiwa pendudukan begitu kacau.
Tak pernah sebelumnya kehidupan begitu banyak jiwa dikorbankan. Para
Pencari bertindak sebagai tameng
perkasa, dan jiwa - jiwa di dunia ini berutang tiga hal kepada mereka: atas
keamanan yang diupayakan para Pencari dalam kekacauan itu, atas risiko kematian
final yang dihadapi para Pencari dengan sukarela setiap hari, dan atas tubuh -
tubuh baru yang terus disediakan para Pencari.
Kini, setelah bahaya bisa dibilang
sudah berlalu, tampaknya rasa terima kasih itu memudar. Dan, setidaknya untuk
Pencari yang satu ini, perubahan itu tidaklah menyenangkan.
Mudah membayangkan
pertanyaan-pertanyaan apa yang akan diajukan Pencari kepadaku.
Walaupun Penyembuh mencoba mengulur
waktu agar aku bisa menyesuaikan diri dengan tubuh baruku, aku tahu aku akan
berbuat sebaik mungkin untuk membantu Pencari. Menjadi warna negara yang baik
penting bagi setiap jiwa. Jadi aku menarik napas panjang untuk menyiapkan diri.
Monitor mencatat gerakan itu.
Aku tahu aku sedikit mengulur waktu.
Aku benci mengakuinya, tapi aku takut. Demi memperoleh informasi yang
diperlukan Pencari, aku harus menjelajahi ingatan - ingatan keji yang telah
membuatku menjerit ketakutan.
Lebih dari itu, aku takut terhadap
suara yang kudengar begitu lantang di dalam kepalaku. Tapi kini gadis ini diam,
dan memang sudah sepatutnya. Ia juga hanya sebuah ingatan. Seharusnya aku tidak
merasa takut.
Bagaimanapun, sekarang namaku Wanderer.
Dan aku layak mendapatkan nama itu.
Dengan satu tarikan napas panjang lagi,
aku menyusup ke dalam ingatan-ingatan yang menakutkanku itu, dan langsung
menghadapi semuanya dengan gigi dikertakkan. Aku bisa melompati bagian
akhirnya--kini ingatan itu tak lagi menguasaiku.
Dengan memutar cepat ingatan itu, aku
kembali berlari melewati kegelapan, mengernyit, mencoba tidak merasakan
apa-apa. Ingatan itu berlalu dengan cepat.
Setelah menembus penghalang tadi, tidak
sulit bagiku untuk melayang melewati hal - hal dan tempat - tempat yang lebih
tidak menakutkan, untuk mencari informasi yang kuinginkan.
Aku melihat bagaimana gadis ini datang ke kota
dingin ini, malam - malam dengan mengendarai mobil curian yang ia pilih karena
penampilannya yang tidak mencolok. Ia menyusuri jalan - jalan Chicago dalam
kegelapan, menggigil di balik mantel.
Gadis
ini sedang melakukan pencariannya sendiri. Ada orang lain seperti dia di sini,
atau begitulan harapannya. Seseorang yang khusus. Seorang teman... bukan,
kerabat. Bukan saudara kandung... seorang sepupu. Kata-kata itu muncul semakin
lambat dan semakin lambat, dan mulanya aku tidak mengerti mengapa.
Apakah ingatan ini terlupakan? Hilang
dalam trauma yang nyaris mematikan? Apakah aku masih lamban akibat
ketidaksadaranku? Aku berjuang untuk berpikir jernih. Sensasi ini terasa asing.
Apakah tubuhku masih terbius? Aku
merasa cukup waspada, tapi benakku berjuang sia - sia dalam memperoleh jawaban
- jawaban yang kuinginkan. Aku mencoba jalur pencarian lain, berharap
memperoleh respons-respons lebih jelas. Apa tujuan gadis ini?
Ia hendak mencari ...--aku menemukan
nama itu--dan mereka hendak...
Aku menabrak dinding. Kekosongan. Tidak
ada apa-apa. Kucoba mengitari dinding itu, tapi aku tak bisa menemukan tepian
kekosongan itu. Seakan informasi yang kucari telah dihapus.
Seakan otak ini telah rusak. Kemarahan
menguasaiku, panas dan liar. Aku terperangah, terkejut atas reaksi yang tidak
diharapkan itu.
Aku pernah mendengar ketidakstabilan
emosi tubuh manusia, tapi ini berada di luar kemampuanku untuk mengantisipasi.
Dalam delapan masa kehidupan penuhku, tak pernah emosi menyentuhku dengan
kekuatan sedemikian rupa. Kurasakan darah berdenyut - denyut di leherku,
berdentam-dentam di belakang telinga.
Kedua tanganku mengepal erat.
Mesin-mesin di sampingku melaporkan percepatan detak jantungku. Muncul reaksi
di dalam ruangan; ketukan tajam sepatu Pencari yang menghampiriku, berbaur
dengan suara langkah terseret yang lebih pelan, yang agaknya suara sepatu
Penyembuh.
"Selamat datang di Bumi, Wanderer,"
kata suara Pencari itu.
.
.
.
TO BE
CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar