Laman

Minggu, 03 Juli 2016

NOVEL: THE HOST BAB 2



THE HOST
A STORY AND NOVEL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 2
OVERHEAD
.
.
.
Suara-suara itu lembut dan dekat. Dan walaupun aku baru saja merasakan kehadiran mereka, tampaknya suara-suara itu bergumam di tengah percakapan.
"Aku khawatir ini terlalu berat baginya," kata salah satu. Suara itu lembut, namun dalam.
Suara laki-laki. "Terlalu berat bagi siapapun. Penuh kekerasan!" Nadanya, memperlihatkan rasa muak.
"Dia hanya menjerit satu kali," kata suara lain yang lebih tinggi dan melengking. Suara laki-laki lainny.. Suara itu menunjukkan sedikit rasa senang, seakan baru memenangkan argumen.
"Aku tahu," lelaki itu mengakui. "Dia sangat kuat. Yang lain mengalami jauh lebih banyak trauma, walaupun penyebabnya lebih sedikit."
"Aku yakin dia akan baik-baik saja, persis yang kubilang."
"Mungkin kau melenceng dari Panggilan-mu." Ada nada tajam dalam suara lelaki itu. Ingatanku menyebutnya sindiran.
"Mungkin kau ditakdirkan untuk menjadi Penyembuh, seperti aku."
Pencari itu mengeluarkan suara senang. Tertawa. "Aku meragukannya. Kami, para Pencari, lebih menyukai jenis diagnosis berbeda."
Tubuhku memahami kata ini, sebutan ini: Pencari. Kata itu mengirimkan getar ketakutan ke sekujur tulang belakangku. Reaksi yang tersisa. Tentu saja aku tak punya alasan untuk takut terhadap para Pencari.
"Terkadang aku bertanya-tanya apakah pengaruh kemanusiaan bisa menyentuh mereka yang berprofesi sepertimu," ujar lelaki itu. Suaranya masih masam karena jengkel. "Kekerasan adalah bagian dari pilihan hidupmu. Masih banyakkah temperamen asli tubuhmu yang tersisa,  sehingga kau menikmati kengeriannya?"
Aku terkejut atas tuduhan lelaki itu, terkejut mendengar nada suaranya. Percakapan ini nyaris menyerupai... argumen. sesuatu yang dikenal inangku, tapi belum pernah kualami.

Pencari ini bersikap defensif. "Kami tidak memilih kekerasan. Kami menghadapinya, jika perlu. Dan kalian semua beruntung karena sebagian kita cukup kuat untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Kedamaian kalian bakal hancur tanpa pekerjaan kami."
"Itu dulu. Kurasa pekerjaanmu akan segera jadi sejarah."
"Kesalahan pernyataan itu sedang berbaring di sana, di tempat tidur."
"Seorang gadis manusia, sendirian dan tidak bersenjata! Ya, cukup mengancam kedamaian kita."
Pencari itu mengembuskan napas keras-keras. Mendesah.
"Tapi dari mana asalnya? Bagaimana dia bisa muncul di tengah Chicago, kota yang sudah lama beradab, ratusan kilometer dari jejak kegiatan pemberontakan apa pun? Apakah dia bertahan hidup sendirian?"
Tampaknya Pencari itu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tadi tanpa mengharapkan jawaban, seakan ia sudah sering menyuarkan semua pertanyaan itu.
"Itu masalahmu, bukan masalahku," ujar lelaki itu. "Tugasku adalah membantu jiwa ini menyesuaikan diri dengan inang barunya, tanpa mengalami rasa sakit atau trauma yang tidak perlu. Dan kau ada di sini untuk mengganggu tugasku."
Walaupun masih pelan - pelan memulihkan kesadaran, menyesuaikan diri dengan dunia indra-indra baru ini, sekarang aku sadar akulah yang jadi subjek percakapan itu. Akulah jiwa yang sedang mereka bicarakan. Ini konotasi baru bagi kata jiwa, kata yang dulunya memiliki banyak arti lain bagi inangku. Kami menggunakan nama yang berbeda di setiap planet. Jiwa. Kurasa itu penggambaran yang tepat. Kekuatan tak terlihat yang menuntun tubuh.
"Jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku sama pentingnya dengan semua tanggung jawabmu terhadap jiwa itu."
"Itu bisa diperdebatkan."
Terdengar suara gerakan, dan mendadak perkataan Pencari itu berubah jadi bisikan. "Kapan responnya kembali? Mestinya pengaruh obat bius itu sudah hampir hilang."
"Saat dia sudah siap. Biarkan saja. Dia berhak menangani situasinya, dengan cara yang paling nyaman untuknya.
Bayangkan keterkejutan yang bakal dialaminya ketika terbangun--di dalam tubuh inang pemberontak yang cedera sampai nyaris mati ketika berusaha meloloskan diri!
Seharusnya siapa pun tak perlu mengalami trauma semacam ini di saat-saat damai!" Suara lelaki itu meninggi seiring emosinya.
"Dia kuat." Nada suara Pencari itu kini meyakinkan. "Lihat betapa baiknya dia menangani ingatan pertama. Ingatan terburuk. Apa pun yang dia harapkan, dia berhasil menangani ingatan pertama itu."
"Kenapa dia harus menghadapinya?" gumam lelaki itu, tapi sepertinya ia tidak mengharapkan jawaban.
Pencari itu toh menjawab juga. "Kalau kita ingin memperoleh informasi yang kita perlukan-"
"Perlu adalah perkataanmu. Aku akan memilih istilah ingin."
"Maka seseorang harus menghadapi ketidaknyamanan itu," Pencari itu melanjutkan, seakan-akan si lelaki tidak menyela perkataannya.
"Dan kurasa, dari segala yang kuketahui tentang jiwa yang satu ini, dia akan menerima tantangan itu, seandainya ada cara untuk bertanya kepadanya. Nama apa yang kauberikan kepadanya tadi?"
Lelaki itu terdiam untuk waktu lama. Pencari itu menanti.
"Wanderer--Pengelana," jawab lelaki itu enggan, pada akhirnya.
"Cocok," ujar Pencari itu.
"Aku sama sekali tak punya statistik resmi, tapi agaknya dia termasuk salah satu dari sedikit sekali jiwa--jika bukan satu-satunya--yang telah berkelana sejauh ini. Ya. Wanderer akan cocok untuknya, sampai dia memilih sendiri nama barunya."
Lelaki itu diam saja.
"Tentu saja dia bisa memakai nama inangnya... Kami tidak menemukan kecocokan dalam catatan sidik jari atau pemindaian retina. Aku tidak bisa mengatakan kepadamu siapa namanya."
"Dia takkan menggunakan nama manusia," gumam lelaki itu.
Jawaban si Pencari menenangkan. "Setiap individu menemukan kenyamanan dengan caranya sendiri."
"Dibandingkan sebagian besar individu, Wanderer ini akan memerlukan lebih banyak kenyamanan. Berkat gaya Pencarian-mu."
Terdengar suara-suara tajam--langkah terputus-putus di atas lantai keras. Ketika kembali berbicara, suara Pencari itu terdengar dari seberang ruangan tempat lelaki itu berada.
"Kau pasti bereaksi buruk terhadap hari - hari awal pendudukan planet ini," ujarnya.
"Mungkin kau yang bereaksi buruk terhadap perdamaian."
Pencari itu tertawa, tapi suaranya palsu--tak terdengar nada gembira yang sejati. Tampaknya benakku sangat ahli menyimpulkan arti sesungguhnya, berdasarkan nada dan tinggi-rendah suara.
"Kau tidak punya persepsi yang jernih mengenai Panggilan-ku. Berjam-jam membungkuk di atas arsip dan peta. Sebagian besar pekerjaan administrasi.  Jarang terjadi konflik atau kekerasan seperti yang tampaknya kaubayangkan."
"Sepuluh hari lalu kau dilengkapi senjata pembunuh, ketika mengejar tubuh ini."
"Kuyakinkan kau, itu perkecualian, bukan peraturan. Jangan lupa, senjata - senjata yang bagimu menjijikan itu akan terarah pada bangsa kita seandainya kami, para Pencari, tidak cukup waspada. Manusia membunuh kita dengan senang hati kapan pun mereka mampu melakukannya. Jiwa yang kehidupannya pernah disentuh kekerasan akan menganggap kami pahlawan."
"Kau bicara seakan perang sedang berkecamuk."
"Memang, bagi umat manusia yang masih tersisa."
Perkataan ini terdengar lantang di telingaku. Tubuhku bereaksi terhadapnya; kurasakan napasku memburu, kudengar jantungku memompa lebih kencang daripada biasa.
Di samping tempat tidur tempatku berbaring, sebuah mesin mencatat peningkatan-peningkatan itu dengan suara teredam. Penyembuh dan Pencari terlalu asyik dengan perselisihan mereka sehingga tidak memperhatikan.
"Tapi mereka pun seharusnya menyadari mereka telah lama kalah perang. Berapa banyak mereka kalah dalam jumlah? Sejuta berbanding satu? Kurasa kau tahu perbandingan tepatnya."
"Kemungkinan menang memang cukup tinggi di pihak kami," dengan enggan Pencari itu mengakui.
Penyembuh tampak puas, dan membiarkan perselisihan berakhir dengan informasi tadi. Sejenak suasana hening.
Kugunakan saat kosong ini untuk mengevaluasi situasiku, yang sebagian besar sudah jelas.
.
.
.
.
Aku berada di fasilitas Penyembuhan, sedang memulihkan diri dari insersi(perubahan) yang luar biasa traumatis.
Aku yakin sebelum diberikan kepadaku, tubuh yang menampungku telah sembuh sepenuhnya. Inang yang rusak bakal dibuang.
Kurenungkan perselisihan pendapat antara Penyembuh dan Pencari. Menurut informasi yang kuperoleh sebelum memutuskan datang kemari, pendapat Penyembuh-lah yang benar.

Permusuhan dengan beberapa kelompok manusia yang tersisa sudah berakhir. Planet yang disebut Bumi tenang dan damai sebagaimana terlihat dari luar angkasa, hijau dan biru mengundang, diselubungi asap putihnya yang tak berbahaya. Sepertinya halnya kebiasaan hidup jiwa, kini keselarasan ada di mana-mana.

Pertikaian verbal antara Penyembuh dan Pencari bukanlah hal biasa. Cukup agresif bagi bangsa kami. Membuatku bertanya-tanya, mungkinkah itu benar, desas-desus yang berupa bisikan bergelombang bagai ombak melalui pikiran-pikiran...

Perhatianku teralihkan, mencoba mengingat nama spesies yang menjadi inang terakhirku dulu. Kami punya nama. Aku tahu itu. Tapi karena tak lagi berhubungan dengan inang itu, aku tak bisa mengingatnya. Kami menggunakan bahasa yang jauh lebih sederhana daripada bahasa ini.

Bahasa bisu pikiran yang menghubungkan kami semua dalam satu kesatuan pikiran. Itu kenyamanan yang penting, karena tubuh kami tertanam selamanya di dalam tanah hitam basah.

Aku bisa menggambarkan spesies itu dalam bahasa manusiaku yang baru. Kami hidup di dasar lautan luas yang menutupi seluruh permukaan dunia kami; dunia yang mempunyai nama, tapi juga telah lenyap.

Kami masing - masing memiliki seratus tangan, dan di setiap tangan ada seribu mata, sehingga--dengan pikiran kami yang terhubung--tak satu pun pemandangan di perairan luas itu terlewatkan.

Suara tak diperlukan, jadi mustahil untuk mendengarnya. Kami mencicipi air dan, dengan penglihatan kami, air itu menceritakan semua yang perlu kami ketahui.

Kami mencicipi matahari-matahari yang sangat jauh di atas permukaan air, dan mengubah rasa mereka menjadi makanan yang kami butuhkan.

Aku bisa menggambarkan diri kami, tapi tak bisa mengingat nama kami. Aku mendesah karena pengetahuan yang hilang itu, lalu merenungkan kembali pembicaraan yang telah kucuri dengar.

Sebagai patokan, jiwa tak mengucapkan apa pun kecuali kebenaran.

Tentu saja para Pencari memiliki persyaratan - persyaratan untuk memenuhi Panggilan mereka, tapi di antara para jiwa tak pernah ada alasan untuk berbohong.

Dengan bahasa pikiran spesies terakhirku dulu, akan mustahil untuk berbohong, bahkan seandainya kami menginginkannya. Namun karena tubuh kami tertanam, kami bercerita kepada diri sendiri untuk meringankan kebosanan.

Bercerita adalah talenta yang paling dihargai, karena bermanfaat bagi semua orang.

Terkadang fakta bercampur dengan fiksi sedemikian rupa sehingga, walaupun tak ada kebohongan yang diceritakan, sulit untuk mengingat apa yang sungguh - sungguh benar.

Ketika memikirkan planet baru itu--Bumi yang begitu kering, begitu beragam, serta dipenuhi penduduk keji dan perusak sehingga nyaris tak terbayangkan--kengerian kami terkadang dikalahkan kegembiraan kami.

Cerita - cerita berputar sangat cepat mengelilingi subjek baru yang menggetarkan itu. Perang-perang itu--perang! Bangsa kami harus berperang!--pertama-tama dilaporkan dengan akurat, lalu ditambah-tambahi dan dikarang-karang.

Ketika cerita - cerita itu bertentangan dengan informasi resmi yang kucari, tentu saja aku memercayai laporan-laporan pertama itu.

Tapi kudengar bisik-bisik seperti ini: tentang inang-inang manusia yang begitu kuat sehingga para jiwa terpaksa meninggalkan mereka. Inang-inang dengan benak yang tak bisa ditundukkan sepenuhnya. Jiwa-jiwa yang mengambil kepribadian raga, bukan sebaliknya.

Cerita-cerita. Desas-desus liar. Kegilaan. Tapi itu tampaknya nyaris seperti tuduhan Penyembuh...

Kubuang pikiran itu. Kecaman yang dilontarkan Penyembuh kemungkinan besar berarti ketidaksukaan yang dirasakan sebagian besar dari kami terhadap Panggilan Pencari.

Siapa yang bersedia memilih kehidupan penuh konflik dan pengejaran? Siapa yang akan tertarik dengan pekerjaan menelusuri jejak inang-inang yang melawan dan menangkapi mereka?

Siapa yang sanggup menghadapi kekejaman spesies ini, manusia - manusia keji yang membunuh dengan begitu mudah, dengan begitu tak berperasaan? Di sini, di planet ini, para Pencari bisa dikatakan telah menjadi... militan--otak baruku memasok istilah untuk konsep yang tak kukenal ini.

Sebagian besar jiwa percaya bahwa hanya jiwa yang paling tidak beradab, yang paling tidak berevolusi, yang lebih rendah di antara kami, yang akan tertarik menjadi Pencari.

Meski begitu para Pencari memperoleh status baru di Bumi. Tak pernah sebelumnya peristiwa pendudukan begitu kacau. Tak pernah sebelumnya kehidupan begitu banyak jiwa dikorbankan. Para

Pencari bertindak sebagai tameng perkasa, dan jiwa - jiwa di dunia ini berutang tiga hal kepada mereka: atas keamanan yang diupayakan para Pencari dalam kekacauan itu, atas risiko kematian final yang dihadapi para Pencari dengan sukarela setiap hari, dan atas tubuh - tubuh baru yang terus disediakan para Pencari.

Kini, setelah bahaya bisa dibilang sudah berlalu, tampaknya rasa terima kasih itu memudar. Dan, setidaknya untuk Pencari yang satu ini, perubahan itu tidaklah menyenangkan.

Mudah membayangkan pertanyaan-pertanyaan apa yang akan diajukan Pencari kepadaku.

Walaupun Penyembuh mencoba mengulur waktu agar aku bisa menyesuaikan diri dengan tubuh baruku, aku tahu aku akan berbuat sebaik mungkin untuk membantu Pencari. Menjadi warna negara yang baik penting bagi setiap jiwa. Jadi aku menarik napas panjang untuk menyiapkan diri.

Monitor mencatat gerakan itu.

Aku tahu aku sedikit mengulur waktu. Aku benci mengakuinya, tapi aku takut. Demi memperoleh informasi yang diperlukan Pencari, aku harus menjelajahi ingatan - ingatan keji yang telah membuatku menjerit ketakutan.

Lebih dari itu, aku takut terhadap suara yang kudengar begitu lantang di dalam kepalaku. Tapi kini gadis ini diam, dan memang sudah sepatutnya. Ia juga hanya sebuah ingatan. Seharusnya aku tidak merasa takut.

Bagaimanapun, sekarang namaku Wanderer. Dan aku layak mendapatkan nama itu.

Dengan satu tarikan napas panjang lagi, aku menyusup ke dalam ingatan-ingatan yang menakutkanku itu, dan langsung menghadapi semuanya dengan gigi dikertakkan. Aku bisa melompati bagian akhirnya--kini ingatan itu tak lagi menguasaiku.

Dengan memutar cepat ingatan itu, aku kembali berlari melewati kegelapan, mengernyit, mencoba tidak merasakan apa-apa. Ingatan itu berlalu dengan cepat.

Setelah menembus penghalang tadi, tidak sulit bagiku untuk melayang melewati hal - hal dan tempat - tempat yang lebih tidak menakutkan, untuk mencari informasi yang kuinginkan.

Aku melihat bagaimana gadis ini datang ke kota dingin ini, malam - malam dengan mengendarai mobil curian yang ia pilih karena penampilannya yang tidak mencolok. Ia menyusuri jalan - jalan Chicago dalam kegelapan, menggigil di balik mantel.

Gadis ini sedang melakukan pencariannya sendiri. Ada orang lain seperti dia di sini, atau begitulan harapannya. Seseorang yang khusus. Seorang teman... bukan, kerabat. Bukan saudara kandung... seorang sepupu. Kata-kata itu muncul semakin lambat dan semakin lambat, dan mulanya aku tidak mengerti mengapa.

Apakah ingatan ini terlupakan? Hilang dalam trauma yang nyaris mematikan? Apakah aku masih lamban akibat ketidaksadaranku? Aku berjuang untuk berpikir jernih. Sensasi ini terasa asing.

Apakah tubuhku masih terbius? Aku merasa cukup waspada, tapi benakku berjuang sia - sia dalam memperoleh jawaban - jawaban yang kuinginkan. Aku mencoba jalur pencarian lain, berharap memperoleh respons-respons lebih jelas. Apa tujuan gadis ini?

Ia hendak mencari ...--aku menemukan nama itu--dan mereka hendak...

Aku menabrak dinding. Kekosongan. Tidak ada apa-apa. Kucoba mengitari dinding itu, tapi aku tak bisa menemukan tepian kekosongan itu. Seakan informasi yang kucari telah dihapus.

Seakan otak ini telah rusak. Kemarahan menguasaiku, panas dan liar. Aku terperangah, terkejut atas reaksi yang tidak diharapkan itu.

Aku pernah mendengar ketidakstabilan emosi tubuh manusia, tapi ini berada di luar kemampuanku untuk mengantisipasi. Dalam delapan masa kehidupan penuhku, tak pernah emosi menyentuhku dengan kekuatan sedemikian rupa. Kurasakan darah berdenyut - denyut di leherku, berdentam-dentam di belakang telinga.

Kedua tanganku mengepal erat. Mesin-mesin di sampingku melaporkan percepatan detak jantungku. Muncul reaksi di dalam ruangan; ketukan tajam sepatu Pencari yang menghampiriku, berbaur dengan suara langkah terseret yang lebih pelan, yang agaknya suara sepatu Penyembuh.

"Selamat datang di Bumi, Wanderer," kata suara Pencari itu.

.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar