THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 13
SENTENCED
.
.
.
"Apakah
mereka di sini?" Kami memuntahkan kata-kata itu, menyembur seperti air
dari paru-paru.
Setelah
air, hanya pertanyaan inilah yang penting. "Apakah mereka berhasil?"
Wajah
Uncle Jeb mustahil dibaca di dalam kegelapan. "Siapa?" tanyanya.
"Jamie,
Jared!" Bisikan kami membakar bagai teriakan. "Jared bersama Jamie.
Adik kami! Apakah mereka di sini? Apakah mereka datang? Apakah kau juga
menemukan mereka?"
Nyaris
tak ada Jeda.
"Tidak."
Jawaban Uncle Jeb tegas. Tak ada rasa iba di dalam suaranya, sama sekali tak
ada emosi.
"Tidak,"
bisik kami. Kami tidak menirukan Uncle Jeb, tapi memprotes mengapa kami
memperoleh hidup kami kembali. Apa gunanya? Kembali kami memejamkan mata dan
mendengarkan rasa sakit di tubuh kami. Kami membiarkan perasaan itu mengalahkan
rasa sakit di benak kami.
"Dengar," ujar Uncle Jeb setelah beberapa saat. "Aku, uh, aku harus mengurus sesuatu. Istirahatlah sejenak, dan aku akan datang menjemputmu."
"Dengar," ujar Uncle Jeb setelah beberapa saat. "Aku, uh, aku harus mengurus sesuatu. Istirahatlah sejenak, dan aku akan datang menjemputmu."
Kami
tidak memahami makna tersembunyi di dalam kata-katanya, hanya mendengar
suaranya. Mata kami tetap terpejam. Langkah Uncle Jeb bergemerisik pelan
menjauh. Kami tak tahu ke arah mana ia pergi. Lagi pula kami tak peduli.
Mereka
sudah lenyap. Tak ada cara untuk mencari mereka. Tak ada harapan. Jared dan
Jamie telah hilang. Mereka sangat ahli melakukan hal itu. Dan kami takkan
pernah berjumpa mereka lagi.
Air
dan udara malam yang lebih sejuk menyadarkan kami, dan itu sesuatu yang tidak
kami inginkan.
Kami
berguling, kembali membenamkan wajah di pasir. Kami sangat lelah, melampaui
batas kelelahan dan memasuki keadaan yang lebih serius serta menyakitkan. Kami
pasti bisa tidur. Yang harus kami lakukan hanya tidak berpikir. Kami sanggup
melakukannya.
Dan
kami melakukannya.
Ketika
kami terbangun, hari masih gelap walaupun fajar sudah mengancam di cakrawala
timur. Pegunungan didereti warna merah suram. Mulut kami seperti debu, dan
pertama-tama kami yakin kemunculan Uncle Jeb hanya mimpi. Tentu saja kami
bermimpi.
Kepala
kami lebih jernih pagi ini, dan dengan cepat kami mengamati bentuk aneh di
dekat pipi kanan--sesuatu yang bukan batu atau kaktus. Kami menyentuhnya,
terasa keras dan licin. Kami menyikutnya, dan muncul suara air yang
bergerak-gerak di dalamnya.
Uncle
Jeb benar-benar nyata, dan ia meninggalkan wadah air untuk kami.
Kami
duduk hati-hati, dan terkejut ketika tubuh kami tidak patah jadi dua seperti
ranting kering. Sebenarnya kami merasa lebih baik. Agaknya air itu sempat
bekerja melalui beberapa bagian tubuh kami. Rasa sakitnya berkurang. Dan untuk
pertama kali setelah sekian lama, kami kembali merasa lapar.
Jari-jari kami kaku dan kikuk ketika memutar tutup wadah air itu. Tidak begitu penuh, tapi cukup banyak air untuk mengembangkan dinding-dinding perut kami lagi. Agaknya perut kami telah menciut. Kami menghabiskan air itu, tak sudi lagi menjatah-jatah.
Jari-jari kami kaku dan kikuk ketika memutar tutup wadah air itu. Tidak begitu penuh, tapi cukup banyak air untuk mengembangkan dinding-dinding perut kami lagi. Agaknya perut kami telah menciut. Kami menghabiskan air itu, tak sudi lagi menjatah-jatah.
Kami
menjatuhkan wadah air logam itu ke pasir, menciptakan suara gedebuk pelan dalam
keheningan menjelang fajar. Kini kami terjaga sepenuhnya. Kami mendesah, karena
lebih menyukai ketidaksadaran, lalu membenamkan kepala ke dalam tangan.
Sekarang bagaimana?
"Mengapa kau memberinya air, Jeb?" desak sebuah suara marah, persis di belakang punggung kami.
Kami berputar dalam posisi berlutut. Pemandangan yang kami lihat merontokkan jantung dan memecah kesadaran kami.
"Mengapa kau memberinya air, Jeb?" desak sebuah suara marah, persis di belakang punggung kami.
Kami berputar dalam posisi berlutut. Pemandangan yang kami lihat merontokkan jantung dan memecah kesadaran kami.
Delapan
manusia berdiri membentuk setengah lingkaran, mengelilingi tempatku berlutut di
bawah pohon. Tak perlu dipertanyakan lagi, mereka manusia. Mereka semua. Aku
belum pernah melihat wajah-wajah yang nyengir membentuk ekspresi semacam
itu--belum pernah kulihat di wajah bangsaku. Bibir-bibir itu menyeringai penuh
kebencian, menyingkapkan gigi yang dikertakkan seperti hewan lliar. Alis-alis
itu mengerut rendah di atas mata yang terbakar kemarahan.
Enam
laki-laki dan dua perempuan. Beberapa di antaranya bertubuh sangat besar,
sebagian besar lebih besar dariku. Kurasakan wajahku memucat ketika menyadari
mengapa tangan mereka terangkat dengan ganjil. Mereka menggenggam erat-erat
sebuah benda di depan tubuh masing-masing. Mereka memegang senjata. Beberapa
memegang pisau--beberapa di antaranya pisau pendek seperti yang kusimpan di
dapur, beberapa lebih panjang, lalu ada pisau yang besar dan mengancam. Pisau
ini tidak berguna di dapur. Melanie memasok namanya untukku: parang.
Manusia
lainnya menggenggam batang panjang, sebagian logam, sebagian kayu. Pentungan.
Aku
mengenali Uncle Jeb di antara mereka. Kedua tangannya memegang santai benda
yang tak pernah kulihat dengan mata kepala sendiri, walaupun ada di dalam
ingatan-ingatan Melanie, sama seperti pisau besar tadi. Itu senapan.
Aku
melihat kengerian, tapi Melanie melihat semua ini dengan terpukau. Benaknya
takjub dengan jumlah mereka. Delapan manusia yang bertahan hidup. Ia mengira
Jeb sendirian atau dalam skenario terbaik, hanya ditemani dua manusia lainnya.
Hati Melanie diliputi kegembiraan, melihatku betapa banyak bangsanya yang masih
hidup.
Kau
tolol, ujarku. Lihat mereka. Amati mereka.
Aku
memaksa Melanie melihat mereka dari sudut pandangku: melihat bentuk-bentuk
mengancam di balik jins kotor dan kemeja katun tipis kecokelatan yang penuh
debu. Dulunya mungkin mereka manusia--dalam aarti yang ada di dalam pikiran
Melanie. Tapi saat ini mereka sudah berubah. Mereka barbar, monster. Mereka
mengancam kami, haus darah.
Tampak
hukuman mati dalam setiap pasang mata itu.
Melanie
melihat semua ini dan, walaupun bersungut-sungut, ia harus mengakui kebenaran
pendapatku. Saat ini manusia-manusia tercintanya berada dalam keadaan terburuk,
seperti berita-berita di koran yang kami temukan di gubuk terlantar itu. Kami
sedang memandang para pembunuh.
Seharusnya kami lebih bijak; seharusnya kami mati kemarin.
Seharusnya kami lebih bijak; seharusnya kami mati kemarin.
Mengapa
Uncle Jeb mempertahankan hidup kami untuk ini?
Aku
bergidik memikirkannya. Kutelusuri sejarah-sejarah kekejaman manusia. Aku tak
sanggup melihatnya. Mungkin seharusnya aku lebih berkonsentrasi. Aku tahu, ada
alasan mengapa manusia membiarkan musuh mereka tetap hidup selama beberapa
waktu. Mereka menginginkan beberapa hal dari benak atau tubuh musuh mereka...
Tentu
saja aku langsung memikirkan satu-satunya rahasia yang mereka inginkan dariku.
Rahasia yang tak akan, takkan pernah, kuceritakan kepada mereka. Tak peduli apa
yang mereka lakukan padaku. Aku harus membunuh diriku sendiri lebih dulu.
Tak
kubiarkan Melanie melihat rahasia yang kulindungi itu. Aku menggunakan
pertahanan-pertahanan Melanie sendiri untuk melawannya, dengan membangun
dinding di kepalaku. Dan aku bersembunyi di baliknya ketika memikirkan
informasi itu untuk pertama kali sejak penyisipan. Belum pernah ada alasan
untuk memikirkan rahasia itu sebelumnya.
Melanie,
yang berada di depan dinding, bahkan nyaris tidak merasa penasaran. Ia tidak
mencoba menembus dinding itu. Saat ini kekhawatirannya jauh lebih banyak, jika
dibandingkan dengan kenyataan ia bukan satu-satunya yang menyimpan informasi
rahasia.
Adakah
artinya jika aku melindungi rahasiaku darinya? Aku tidak sekuat Melanie; aku
yakin ia bisa menahan siksaan. Seberapa besar rasa sakit yang bisa kutahan,
sebelum aku menyerah pada semua keinginan mereka?
Perutku
bergolak. Bunuh diri adalah pilihan menjijikkan--dan lebih buruk lagi, itu juga
berarti pembunuhan. Melanie akan jadi bagian dari siksaan atau kematian itu.
Aku akan menunggu sampai benar-benar tak punya pilihan lain.
Tidak,
mereka tak bisa melakukannya. Uncle Jeb takkan pernah membiarkan mereka
melukaiku.
Uncle Jeb tidak tahu kau berada di sini, ujarku mengingatkan Melanie.
Uncle Jeb tidak tahu kau berada di sini, ujarku mengingatkan Melanie.
Katakan
padanya!
Aku
memusatkan perhatian pada wajah lelaki tua itu. Janggut putih tebalnya tidak
memungkinkanku melihat bentuk mulutnya, tapi tampaknya matanya tidak membara
seperti yang lain. Dari sudut mata aku bisa melihat beberapa lelaki mengalihkan
pandang dariku ke Uncle Jeb. Mereka menunggu jawaban atas pertanyaan yang
menyadarkanku akan kehadiran mereka. Uncle jeb menatapku, mengabaikan mereka.
Tak
bisa kukatakan kepadanya, Melanie. Ia takkan percaya. Dan jika mereka
menganggapku berbohong, mereka akan mengira aku adalah Pencari. Mereka pasti
cukup berpengalaman, sehingga hanya tahu Pencari-lah yang akan datang ke sini
berbekal kebohongan, berbekal cerita yang dirancang untuk memungkinkan penyusupan.
Melanie
langsung memahami kebenaran pikiranku. Bahkan kata Pencari saja membuatnya
mengerut ketakutan. Dan ia tahu orang-orang asing ini akan menunjukkan reaksi
yang sama.
Lagi pula tak ada gunanya. Aku adalah jiwa--itu cukup bagi mereka.
Lagi pula tak ada gunanya. Aku adalah jiwa--itu cukup bagi mereka.
Satu-satunya
manusia yang memegang parang--lelaki terbesar di sana, dengan rambut hitam,
kulit putih ganjil, dan mata biru cerah--mengeluarkan suara yang menunjukkan
rasa jijik dan meludah ke tanah. Ia melangkah maju, lalu perlahan-lahan
mengangkat pisau panjang itu.
Lebih
baik cepat daripada pelan-pelan. Lebih baik tangan brutal itu, dan bukan
tanganku yang membunuh kami. Lebih baik aku tidak mati sebagai mahluk kejam
yang bertanggung jawab atas darah Melanie sekaligus darahku sendiri.
"Tunggu,
Kyle." Kata-kata Jeb tidak terburu-buru, nyaris santai, tapi lelaki
bertubuh besar itu berhenti. Ia nyengir, lalu berbalik menghadap paman Melanie.
"Kenapa?
Katamu kau sudah memastikan. Dia salah satu dari mereka."
Aku
mengenali suara itu. Itu orang yang sama yang bertanya kepada Jeb mengapa ia
memberiku air.
"Well,
ya, itu pasti. Tapi ini agak rumit."
"Bagaimana
bisa?" Lelaki lain yang mengucapkkan pertanyaan itu. Ia berdiri di samping
Kyle yang bertubuh besar dan berambut gelap. Mereka sangat mirip, sehingga pasti
kakak-beradik.
"Dia
juga keponakanku."
"Tidak
lagi. Bukan lagi," ujar Kyle datar. Ia kembali meludah, dan sengaja maju
selangkah ke arahku dengan pisau teracung. Dari bahunya yang condong ke depan
bisa kulihat kata-kata takkan bisa lagi menghentikannya. Kupejamkan mata.
Terdengar
dua klik logam tajam, dan seseorang terkesiap. Mataku kembali terbuka.
"Kubilang
tunggu, Kyle." Suara Uncle Jeb masih santai, tapi kini senapan panjang
tergenggam erat di tangannya, moncongnya terarah ke punggung Kyle. Kyle terpaku
hanya beberapa langkah dariku, parangnya teracung tak bergerak di udara, di
atas bahunya.
"Jeb,"
ujar saudara laki-laki Kyle ketakutan, "apa maumu?"
"Menjauhlah
dari gadis itu, Kyle."
Kyle
berbalik memunggungi kami, berputar marah menghadap Jeb. "Itu bukan gadis,
Jeb!"
Jeb
mengangkat bahu; posisi senapannya masih tak berubah di kedua tangannya, masih
mengarah kepada Kyle.
"Ada
beberapa hal yang harus dibahas."
"Mungkin
si dokter bisa mempelajari sesuatu darinya," ujar suara parau perempuan.
Aku
ciut mendengar kata-katanya, mendengar ketakutan terburukku di dalamnya. Ketika
Jeb tadi menyebutku keponakannya dengan tolol aku membiarkan sepercik harapan
menyala--mungkin akan muncul rasa iba. Aku tolol jika mengira seperti itu,
bahkan untuk sedetik saja. Kematian adalah satu-satunya rasa iba yang bisa kuharapkan
dari mahluk-mahluk ini.
Kutatap
perempuan yang baru saja bicara itu, dan aku terkejut melihat ia sama tuanya
dengan Jeb, bahkan mungkin lebih tua. Rambutnya tidak berwarna putih, melainkan
abu-abu gelap. Karena itulah aku tidak memperhatikan usianya. Wajahnya penuh
keriput, dan semua terlipat membentuk garis-garis kemarahan. Tapi ada sesuatu
yang kukenal dari ekspresi wajah itu, di balik garis-garis amarahnya.
Melanie
menghubungkan wajah tua ini dengan wajah lain yang lebih halus di dalam
ingatannya.
"Aunt
Maggie? Kau di sini? Bagaimana bisa? Apakah Sharon--"
Itu
semua kata-kata Melanie, tapi mengalir keluar dari mulutku, dan aku tak sanggup
menghentikannya. Setelah begitu lama bersama-sama di padang gurun, ia jadi
semakin kuat atau aku semakin lemah. Atau mungkin karena aku sedang
berkonsentrasi untuk mengetahui dari mana pukulan kematian itu bakal datang.
Aku sedang bersiap-siap menghadapi pembunuh kami, tapi Melanie menghadapi reuni
keluarga.
Melanie
hanya sempat mengucapkan setengah teriakan terkejutnya. Perempuan yang jauh
lebih tua bernama Maggie menerjang dengan kecepatan yang mengingkari tubuh
rapuhnya. Ia tidak mengangkat tangannya yang memegang linggis hitam. Itu tangan
yang sedang kuawasi, jadi aku tidak melihat tangan satunya terayun untuk
menampar wajahku keras-keras.
Kepalaku
tersentak ke belakang, lalu ke depan. Ia menamparku lagi.
"Kau
tidak bisa menipu kami, parasit. Kami tahu cara kerjamu. Kami tahu betapa baik
kau bisa menirukan kami."
Kurasakan
darah keluar di pipi bagian dalam.
Jangan
berbuat seperti itu lagi, ujarku memarahi Melanie. Sudah kubilang apa yang akan
mereka pikirkan.
Melanie
kelewat terkejut untuk menjawab.
"Wah,
Maggie," Jeb memulai, nada suaranya menenangkan.
"Jangan
bilang 'Wah, Maggie' kepadaku. Dasar lelaki tua tolol! Parasit itu mungkin
memimpin satu legiun bangsanya menuju kemari." Aunt Maggie menjauh dariku,
matanya menilai sikap diamku seakan-akan aku ular yang bergelung. Ia berhenti
di samping saudara laki-lakinya.
"Aku
tidak melihat yang lain," tukas Jeb. "Hei" serunya, dan aku
terenyak. Aku bukan satu-satunya. Jeb melambaikan tangan kirinya di atas
kepala, senapan masih tergenggam di tangan kanan. "Di sini!"
"Diam,"
gerutu Maggie. Didorongnya dada Jeb. Walaupun aku sangat yakin dengan kekuatan
perempuan tua itu, Jeb tidak goyah.
"Dia
sendirian, Mag. Dia bisa dibilang sudah mati ketika aku menemukannya. Sekarang
keadaannya juga tidak begitu baik. Kaki seribu tidak akan mengorbankan
bangsanya dengan cara seperti ini. Mereka pasti akan datang menolong, jauh
lebih cepat daripadaku. Apa pun dia, dia sendirian."
Aku
melihat gambaran serangga panjang berkaki banyak di dalam kepalaku, tapi tak
bisa melihat hubungannya dengan perkataan Uncle Jeb.
Dia
sedang membicarakanmu, Melanie menerjemahkan. Diletakkannya gambaran serangga
jelek itu di samping ingatanku mengenai sesosok jiwa berwarna perak cemerlang.
Aku tidak melihat adanya kesamaan.
Aku heran dari mana Uncle Jeb tahu seperti apa bentukmu, renung Melanie. Pada awalnya ingatanku mengenai bentuk asli jiwa merupakan pengetahuan baru bagi Melanie.
Aku heran dari mana Uncle Jeb tahu seperti apa bentukmu, renung Melanie. Pada awalnya ingatanku mengenai bentuk asli jiwa merupakan pengetahuan baru bagi Melanie.
Aku
tak punya waktu untuk merenung bersama Melanie. Jeb menghampiriku, dan yang
lain mengikuti tepat di belakangnya. Tangan Kyle terangkat di dekat bahu Jeb,
siap menahan atau menyingkirkannya. Aku tak yakin.
Jeb
memindahkan senapan ke tangan kiri, lalu mengulurkan tangan kanannya kepadaku.
Aku mengawasinya dengan cemas, menunggu tangan itu memukulku.
"Ayo,"
desaknya lembut. "Seandainya bisa membawamu sejauh itu, aku akan membawamu
pulang semalam. Kau harus berjalan kaki agak jauh."
"Tidak!"
gerutu Kyle.
"Aku
akan membawanya pulang," kata Jeb, untuk pertama kali aku mendengar nada
yang agak keras di dalam suaranya. Di balik janggut itu rahangnya membentuk
garis tegas.
"Jeb!"
protes Maggie.
"Itu
rumahku, Mag. Akan kulakukan apa yang kuinginkan."
"Si
tua tolol!" bentak Maggie lagi.
Jeb
mengulurkan tangan, meraih tanganku yang terkepal di paha. Ia menarikku
berdiri. Bukan dengan kasar, tapi seakan terburu-buru. Tapi bukankah
memperpanjang hidupku untuk alasan-alasan yang ia miliki merupakan bentuk
kekejaman terparah?
Aku
bergoyang-goyang tidak stabil. Kakiku tidak terlalu bisa kurasakan. Yang ada
hanya perasaan seperti ditusuk-tusuk jarum keitka darah mengalir turun.
Terdengar
desis tidak setuju dari belakang Jeb. Dikeluarkan lebih dari satu mulut.
"Oke, siapapun kau," kata Jeb kepadaku, suaranya tetap ramah. "Ayo, pergi dari sini sebelum udara memanas."
"Oke, siapapun kau," kata Jeb kepadaku, suaranya tetap ramah. "Ayo, pergi dari sini sebelum udara memanas."
Lelaki
yang agaknya saudara laki-laki Kyle itu menyentuh lengan jeb.
"Kau
tidak boleh menunjukkan tempat tinggal kita, Jeb."
"Kurasa
itu tak masalah," ujar Maggie kasar. "Dia tidak akan punya peluang
untuk bercerita."
Jeb
mendesah. Dari leher ia menarik bandana yang tersembunyi di balik janggut.
"Ini konyol," gumamnya. Tapi ia menggulung kain kotor yang kaku oleh keringat kering itu menjadi penutup mata.
"Ini konyol," gumamnya. Tapi ia menggulung kain kotor yang kaku oleh keringat kering itu menjadi penutup mata.
Aku
tetap diam ketika Jeb mengikatkan kain itu menutupi mataku. Kuperangi rasa
panik yang semakin meningkat karena aku tak bisa melihat musuh-musuhku.
Aku
tak bisa melihat, tapi tahu Jeb meletakkan sebelah tangannya di punggungku dan
menuntunku; tak satu un dari mereka bisa bersikap begitu lembut.
Kami
mulai berjalan, kurasa menuju utara. Mula-mula tak seorang pun bicara--yang
terdengar hanya suara pasir tergilas di bawah banyak kaki. Tanahnya rata, tapi
aku terus-menerus tersandung kakiku sendiri yang mati rasa. Jeb bersikap sabar;
tangannya menuntunku nyaris bisa dikatakan sangat kesatria.
Kurasakan
terbitnya matahari ketika kami berjalan. Beberapa langkah kaki terdengar lebih
cepat daripada lainnya. Mereka bergerak di depan kami, sehingga sulit didengar.
Tampaknya seolah-olah hanya sebagian kecil yang tetap tinggal bersamaku dan
Jeb. Agaknya aku tidak kelihatan memerlukan banyak pengawal--tubuhku lemah
akibat kelaparan, dan aku terhuyung-huyung di setiap langkah; kepalaku pening
dan kosong.
"Kau
tidak berencana untuk bercerita kepadanya, bukan?" Itu suara Maggie;
beberapa puluh sentimeter di belakangku, dan kedengarannya seperti menuduh.
"Dia
berhak tahu," jawab Jeb. Nada keras kepala itu kembali terdengar di dalam
suaranya.
"Perbuatanmu
kejam, Jebediah."
"Hidup
memang kejam, Maggie."
Sulit
untuk memutuskan siapa yang lebih menakutkan di antara keduanya. Apakah Jeb,
yang tampak begitu ngotot ingin mempertahankan hidupku? Atau Maggie, yang
pertama kali menyarankan dokter, sebutan yang memenuhiku dengan ketakutan yang
bersifat naluriah dan memualkan? Tapi perempuan tua itu tampaknya lebih
mengkhawatirkan soal kekejaman daripada saudara laki-lakinya.
Selama beberapa jam kami kembali berjalan dalam keheningan. Ketika kakiku roboh, Jeb mendudukkanku di tanah dan mendekatkan tempat air ke bibirku, seperti yang dilakukannya malam itu.
Selama beberapa jam kami kembali berjalan dalam keheningan. Ketika kakiku roboh, Jeb mendudukkanku di tanah dan mendekatkan tempat air ke bibirku, seperti yang dilakukannya malam itu.
"Beritahu
jika kau sudah siap," ujar Jeb. Suaranya ramah, walaupun aku tahu itu
interpretasi keliru.
"Kenapa kau berbuat seperti ini, Jeb?" tanya seorang lelaki. Aku pernah mendengar suara itu sebelumnya; salah satu kakak-beradik itu. "Demi Doc? Seharusnya kau bisa bilang begitu kepada Kyle. Tak perlu menodong dengan senapan."
"Kenapa kau berbuat seperti ini, Jeb?" tanya seorang lelaki. Aku pernah mendengar suara itu sebelumnya; salah satu kakak-beradik itu. "Demi Doc? Seharusnya kau bisa bilang begitu kepada Kyle. Tak perlu menodong dengan senapan."
"Kyle
perlu lebih sering ditodong senapan," gumam Jeb.
"Katakan
kalau ini bukan masalah simpati," lanjut lelaki itu,
"Setelah
semua yang kausaksikan..."
"Setelah
semua yang kausaksikan, jika aku belum belajar soal belas kasih, diriku takkan
banyak berarti. Tapi tidak, ini bukan masalah simpati. Seandainya aku punya
cukup banyak simpati untuk mahluk malang ini, aku pasti sudah membiarkannya
mati."
Aku
menggigil dalam udara sepanas oven.
"Lalu
apa?" desak saudara laki-laki Kyle.
Hening
panjang, lalu Jeb menyentuh tanganku. Aku meraihnya. Aku perlu pertolongan
untuk kembali berdiri. Tangan Jeb yang satu menekan punggungku, dan aku mulai
berjalan lagi.
"Rasa penasaran," ujar Jeb pelan.
"Rasa penasaran," ujar Jeb pelan.
Tak
seorang pun menjawab.
Ketika
kami berjalan, aku merenungkan beberapa fakta yang sudah pasti. Satu, aku bukan
jiwa pertama yang mereka tangkap. Sudah ada serangkaian rutinitas di sini.
"Doc" pernah mencoba memperoleh jawaban dari jiwa-jiwa lain sebelum
aku.
Dua,
Doc belum berhasil. Seandainya ada jiwa yang batal bunuh diri dan menyerah di
bawah siksaan manusia, mereka takkan memerlukanku sekarang. Kematianku bakal
cepat dan menyenangkan.
Tapi anehnya aku tak bisa memaksa diri untuk mengharapkan kematian cepat, atau mencoba mewujudkannya. Mudah untuk bunuh diri, bahkan tanpa harus melakukannya sendiri. Yang harus kulakukan hanya menceritakan kebohongan--berpura-pura aku Pencari, mengatakan saat ini rekan-rekanku sedang mencariku, serta membuat da mengancam. Atau mengatakan yang sebenarnya--bahwa Melanie tetap hidup di dalam diriku, dan dialah yang membawaku kemari.
Tapi anehnya aku tak bisa memaksa diri untuk mengharapkan kematian cepat, atau mencoba mewujudkannya. Mudah untuk bunuh diri, bahkan tanpa harus melakukannya sendiri. Yang harus kulakukan hanya menceritakan kebohongan--berpura-pura aku Pencari, mengatakan saat ini rekan-rekanku sedang mencariku, serta membuat da mengancam. Atau mengatakan yang sebenarnya--bahwa Melanie tetap hidup di dalam diriku, dan dialah yang membawaku kemari.
Lalu
mereka akan melihat kebohongan lain, kebohongan yang sangat tidak
tertanggungkan--gagasan bahwa manusia bisa tetap hidup setelah penyisipan.
Gagasan ini begitu menggoda untuk dipercaya dari sudut pandang mereka, begitu
licik, sehingga mereka akan semakin yakin aku Pencari, melebihi perkataanku
sendiri. Mereka akan menganggap gagasan itu jebakan, menyingkirkanku dengan
cepat, lalu mencari tempat lain untuk bersembunyi, jauh dari sini.
Mungkin
kau benar, Melanie mengiyakan. Itulah yang akan kulakukan.
Tapi
aku belum merasa kesakitan, sehingga sulit bagiku untuk memilih bentuk bunuh
diri mana pun; naluriku untuk bertahan hidup membungkam mulutku. Ingatan
mengenai pertemuan terakhir dengan Penghibur-ku--saat yang begitu beradab,
sehingga tampaknya terjadi di planet lain--berkelebat di kepalaku. Saat itu
Melanie menantangku untuk menyingkirkan dirinya. Itu dorongan yang tampaknya
bersifat bunuh diri. Tapi ia hanya menggertak. Aku ingat diriku berpikir betapa
sulit merenungkan kematian dari kursi yang nyaman.
Semalam
aku dan Melanie menginginkan kematian, tapi saat itu kematian hanya beberapa
senti jauhnya. Kini setelah aku kembali berdiri di atas kakiku sendiri, rasanya
berbeda.
Aku
juga tidak ingin mati, bisik Melanie. Tapi mungkin kau keliru, mungkin bukan
itu alasan mereka mempertahankan hidup kita. Aku tidak mengerti mengapa
mereka... Ia tidak ingin membayangkan hal-hal yang mungkin akan mereka lakukan
kepada kami, dan aku yakin bayangan Melanie jauh lebih buruk daripada
bayanganku sendiri. Jawaban apa yang teramat sangat mereka inginkan darimu?
Pertanyaan
yang berani. Tapi aku memang belum merasa kesakitan...
Satu
jam lagi berlalu--matahari tepat di atas kepala, panasnya bagai mahkota api di
rambutku--ketika suara yang kudengar berubah. Langkah kaki menggerus pasir
nyaris tak bisa lagi kudengar, berubah menjadi gema-gema di depanku. Kaki Jeb
masih menggerus pasir seperti kakiku, tapi seseorang di depan kami telah
mencapai tempat lain.
"Sekarang
hati-hati," Jeb mengingatkan. "Awas, kepalamu."
Aku
bimbang, tak yakin apa yang harus kuawasi, atau bagaimana cara mengawasinya
dengan mata terpejam. Tangan Jeb meningggalkan punggungku dan menekan kepalaku,
menyuruhku menunduk. Aku membungkuk. Leherku kaku.
Jeb
menuntunku maju lagi, dan aku mendengar langkah-langkah kami menciptakan bunyi
menggema yang sama. Tanahnya tidak terkuak seperti pasir, tidak goyah seperti
batu. Melainkan padat dan datar di bawah kakiku.
Matahari
lenyap--aku tak bisa lagi merasakan cahayanya membakar kulit atau menghanguskan
rambutku.
Aku
maju selangkah lagi, dan udara baru menyentuh wajahku. Bukan angin sepoi-sepoi.
Ini udara diam-dan aku bergerak memasukinya. Angin padang gurun kering itu
lenyap. Udara tak bergerak dan lebih sejuk. Terasa sedikit kelembaban di
dalamnya, bau apak yang bisa kucium dan kurasakan.
Muncul
begitu banyak pertanyaan di benakku, juga di benak Melanie. ia ingin
menyuarakan pertanyaan-pertanyaannya, tapi aku diam saja. Kini tak satu pun
perkataannya ataupun perkataanku bisa membantu kami.
"Oke,
kau bisa menegakkan tubuh," ujar Jeb.
Aku
mengangkat kepala perlahan-lahan.
Bahkan
dengan penutup mata, bisa kukatakan tak ada cahaya. Benar-benar gelap di
sekeliling tepi bandana. Aku bisa mendengar yang lain di belakangku menyeret
kaki tidak sabar, menungguku bergerak maju.
"Lewat
sini," kata Jeb kembali menuntunku. Langkah kami menggema di dekat
kami--agaknya ruangan tempat kami berada cukup kecil. Aku mendapati diriku
otomatis menunduk.
Kami
maju beberapa langkah, lalu mengitari lengkungan tajam yang sepertinya
mengembalikan kami ke tempat kedatangan kami. Tanahnya mulai miring ke bawah.
Sudutnya semakin curam bersama setiap langkah, dan Jeb mengulurkan tangan
kasarnya agar aku tidak jatuh. Aku tak tahu berapa lama aku terselip dan
tergelincir melewati kegelapan. Perjalanan itu mungkin terasa lebih panjang
daripada sesungguhnya, karena setiap menit diperlambat oleh kengerianku.
Kami
kembali berbelok, lalu lantai mulai menanjak. Kakiku begitu mati rasa dan kaku
sehingga ketika jalurnya semakin curam, Jeb harus setengah menyeretku ke atas.
Semakin jauh kami berjalan, udara semakin apak dan lembap, tapi kegelapan tidak
berubah. Yang terdengar hanya langkah kami dan gema-gemanya yang dekat.
Jalur
itu berubah mendatar dan mulai berliku-liku seperti ular. Akhirnya. Akhirnya
cahaya muncul di sekeliling bagian atas dan bawah penutup mataku. Aku berharap
penutup itu bergeser, karena aku terlalu takut untuk membukanya sendiri.
Tampaknya takkan begitu menakutkan jika aku bisa melihat di mana aku berada dan
siapa yang bersamaku.
Bersamaan
dengan cahaya, terdengar suara. Suara itu aneh, gumaman percakapan pelan.
Kedengarannya
nyaris seperti suara air terjun.
Gumam
percakapan itu terdengar semakin keras ketika kami bergerak maju. Dan ketika
kami semakin dekat, semakin tak terdengar seperti air. Terlalu bervariasi,
nada-nada tinggi-rendah bercampur dan bergema. Seandainya tidak begitu sumbang
pasti kedengarannya seperti versi buruk musik konstan yang kudengar dan
kunyanyikan di Singing World. Kegelapan penutup matanya cocok dengan ingatan itu;
ingatan mengenai kebutaan.
Melanie
memahami keriuhan itu lebih dulu. Aku tak pernah mendengar suara semacam itu,
karena tak pernah bersama-sama manusia sebelumnya.
Itu
perselisihan, Melanie tersadar. Kedengarannya begitu banyak orang sedang
berselisih.
Ia tertarik dengan suara itu. Kalau begitu, apakah ada lebih banyak manusia lagi di sini? Bahkan jumlah delapan orang pun telah mengejutkan kami. Tempat apakah ini?
Ia tertarik dengan suara itu. Kalau begitu, apakah ada lebih banyak manusia lagi di sini? Bahkan jumlah delapan orang pun telah mengejutkan kami. Tempat apakah ini?
Tangan-tangan
menyentuh tengkukku, dan aku menjauhi mereka.
"Tenang,"
kata Jeb. Ditariknya penutup mata dari mataku.
Aku
mengerjap perlahan-lahan, dan bayang-bayang di sekelilingku berubah jadi
bentuk-bentuk yang bisa kupahami: dinding-dinding kasar dan tidak rata;
langit-langit penuh lubang; lantai usang berdebu. Kami di bawah tanah, di suatu
tempat, di dalam gua yang terbentuk alami. Tak mungkin kami berada sedalam itu.
Kurasa perjalanan kami ke atas lebih panjang daripada perjalanan kami ke bawah.
Dinding dan langit-langit batu itu berwarna cokelat keunguan gelap dan dipenuhi lubang dangkal seperti keju Swiss. Pinggiran lubang - lubang yang letaknya di sebelah bawah lebih tumpul, tapi lingkaran-lingkaran di atas kepalaku lebih tegas dan pinggirannya tampak tajam.
Dinding dan langit-langit batu itu berwarna cokelat keunguan gelap dan dipenuhi lubang dangkal seperti keju Swiss. Pinggiran lubang - lubang yang letaknya di sebelah bawah lebih tumpul, tapi lingkaran-lingkaran di atas kepalaku lebih tegas dan pinggirannya tampak tajam.
Cahaya
datang dari lubang bulat di depan kami. Bentuk lubang itu tidak seperti lubang
- lubang yang memenuhi gua, tapi lebih besar. Ini pintu masuk, ambang pintu ke
tempat yang lebih terang. Melanie bersemangat, terpukau oleh konsep ada lebih
banyak manusia. Aku menahan diri, mendadak khawatir kebutaan mungkin lebih baik
daripada penglihatan.
Jeb
mendesah. "Maaf," gumamnya, sangat pelan sehingga aku yakin hanya
diriku yang mendengarnya
Aku
mencoba menelan ludah, tapi tak bisa. Kepalaku mulai berputar, tapi itu mungkin
karena lapar. Ketika Jeb mendorongku melewati lubang besar itu, kedua tanganku
gemetar seperti dedaunan tertiup angin kencang.
Terowongan
itu berakhir di bilik yang sangat luas, sehingga pertama-tama aku tak bisa
memahami apa yang disaksikan mataku. Langit-langitnya terlalu terang dan
terlalu tinggi--seperti langit buatan. Kucoba melihat apa yang meneranginya,
tapi langit-langit itu mengirimkan tembok-tembok cahaya tajam yang menyakiti
mata.
Aku
berharap percakapan itu terdengar semakin keras, tapi mendadak sangat hening di
dalam ruang gua yang besar.
Lantainya
suram dibandingkan langit-langit cemerlang yang tinggi di atas sana. Perlu
sejenak bagi mataku untuk memahami semua bentuk itu.
Kerumunan.
Tak ada kata lain untuk itu. Kerumunan manusia yang berdiam diri tak bergerak,
semua menatapku garang, penuh kebencian, sama seperti yang kulihat fajar tadi.
Melanie
kelewat terpukau untuk melakukan sesuatu, kecuali menghitung. 10, 15, 20... 25,
26, 27...
Aku
tak peduli ada berapa banyak manusia. Aku berusaha mengatakan kepada Melanie
betapa tak berartinya hal itu. Tak perlu dua puluh orang untuk membunuhku.
Untuk membunuh kami. Aku mencoba membuat Melanie melihat betapa membahayakan
posisi kami, tapi saat itu ia tak bisa kuperingatkan lagi. ia terhanyut dalam
dunia manusia, yang tak pernah ia impikan keberadaannya di sini.
Seorang lelaki maju dari kerumunan, dan pertama-tama mataku tertuju pada kedua tangannya, mencari senjata. Kedua tangannya terkepal tapi tak ada benda-benda mengancam lainnya. Mataku, yang sedang menyesuaikan diri dengan cahaya menyilaukan itu melihat warna kulit lelaki itu yang terbakar matahari, lalu mengenalinya.
Seorang lelaki maju dari kerumunan, dan pertama-tama mataku tertuju pada kedua tangannya, mencari senjata. Kedua tangannya terkepal tapi tak ada benda-benda mengancam lainnya. Mataku, yang sedang menyesuaikan diri dengan cahaya menyilaukan itu melihat warna kulit lelaki itu yang terbakar matahari, lalu mengenalinya.
Tercekik
harapan mendadak yang membuatku pening, aku mengangkat mata memandang wajahnya.
.
.
.
TO
BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar