THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 10
TURNED
.
.
.
Bell
listrik itu berdering, mengumumkan kedatangan pengunjung lain ke toko sederhana
itu.
Aku
terkejut, merasa bersalah, dan menyembunyikan kepala ke balik rak yang sedang
kami amati. Jangan bertingkah seperti kriminal, saran Melanie.
Aku
tidak bertingkah, jawabku singkat.
Telapak
tanganku terasa dingin dibalik lapisan tipis keringat, walaupun ruangan kecil
itu cukup panas. Jendela lebar memasukkan terlalu banyak cahaya matahari,
sehingga tak sanggup diimbangi penyejuk udara yang bersuara keras dan
terengah-engah itu.
Yang
mana? Desakku.
Yang
lebih besar, jawab Melanie.
Dari
dua pilihan, aku meraih kemasan yang lebih besar. Tas kanvas yang nampaknya
bisa memuat lebih banyak barang daripada yang mampu kubawa. Lalu aku berjalan
ke pojok, ke rak air minum kemasan.
Kita
bisa membawa tiga galon, Melanie memutuskan. Jadi kita punya waktu tiga hari
untuk mencari mereka.
Aku
menghela napas panjang, mencoba mengatakan kepada diri sendiri bahwa aku tidak
menyetujui hal ini. Aku hanya berusaha memperoleh lebih banyak koordinat dari Melanie.
Itu saja. Setelah mendapatkan seluruh ceritanya aku akan mencari seseorang
mungkin Pencari lain yang lebih tidak memuakkan dari pada Pencari yang
ditugaskan untukku dan memberikan informasinya.
Aku
hanya ingin bertindak cermat, janjiku kepada diri sendiri. Usaha canggungku untuk
membohongi diri sendiri begitu menyedihkan, sehingga Melanie tidak
menggubrisnya. Ia sama sekali tidak khawatir. Agaknya sudah terlambat bagiku
seperti telah diingatkan Pencari.
Mungkin
seharusnya aku naik pesawat ulang-alik.
Terlambat?
Yang benar saja! Melanie menggerutu. Aku tidak bisa membuatmu melakukan apa pun
yang tidak kauinginkan. Aku bahkan tak bisa mengangkat tangan!
Pikiran
Melanie adalah ungkapan perasaan frustasinya.
Aku
menunduk memandangi tanganku yang berada di atas paha, dan tidak meraih kemasan
air seperti yang ingin sekali dilakukan Melanie. Bisa kurasakan ketidaksabaran
gadis ini, keinginan kuatnya untuk bergerak. Kembali berlari, seakan
keberadaanku tak lebih dari sekedar gangguan singkat, periode kesia-siaan yang
kini sudah berlalu.
Melanie
mendengus di dalam benakku, lalu kembali serius.
Ayo,
desaknya. Ayo, cepat! Sebentar lagi gelap.
Sambil
mendesah kutarik botol-botol air yang disatukan dalam kemasan terbesar dari
rak. Benda itu nyaris menghantam lantai, sebelum aku berhasil menangkapnya di
pinggir rak yang lebih rendah. Rasanya seakan kedua lenganku terbetot setengah
jalan dari persendian.
"Yang
benar saja!" teriakku keras-keras.
Diam!
"Maaf?"
tanya lelaki pendek bungkuk, pelanggan lain, dari ujung lorong.
"Uh--tidak
apa-apa," gumamku, tanpa membalas pandangannya. "Ini lebih berat
daripada perkiraanku."
"Perlu
bantuan?" tawarnya.
"Tidak,
tidak," jawabku cepat-cepat. "Aku akan mengambil yang lebih kecil
saja."
Lelaki
itu berbalik, mengamati berbagai keripik kentang.
Tidak,
jangan, Melanie meyakinkanku.
Aku
pernah membawa yang lebih berat. Kau melembekkan kita, Wanderer,
imbuhnya kesal.
Maaf,
jawabku tanpa sadar.
Kenyataan
bahwa gadis ini memanggil namaku untuk pertama kalinya membuatku bingung.
Angkat
dengan kedua kakimu.
Aku
berjuang mengangkat kemasan botol-botol air minum itu, seraya bertanya-tanya
seberapa jauh aku diharapkan membawanya. Setidaknya aku berhasil mengangkatnya
ke kasir depan. dengan lega kupindahkan benda itu ke meja. Kuletakkan tas
kanvas di atasnya, lalu kutambahkan sekotak granola batangan, sekotak donat,
dan sekantong keripik dari rak terdekat.
Di
padang gurun air jauh lebih penting daripada makanan, dan kita hanya bisa
membawa—
Aku
lapar, selaku. Dan semua ini ringan.
Terserah.
Itu kan punggungmu, Melanie menggerutu. Lalu ia
memerintahkanku, Ambil peta.
Kuletakkan
peta yang ia inginkan--peta topografis daerah it--di meja bersama semua barang
lain.
Peta
itu hanya untuk melengkapi sandiwara kami.
Kasirnya,
lelaki ramah berambut putih, memindai kode bar barang-barangku.
"Mau
mendaki?" tanyanya ramah.
"Gunungnya
sangat indah."
"Pangkal
jalan setapaknya berada persis di atas situ--" ujarnya, mulai menunjuk.
"Akan
kucari," janjiku cepat-cepat. Kuambil beban berat yang tidak seimbang itu
dari meja kasir.
"Turunlah
sebelum gelap, Sayang. Kau tak ingin tersesat, bukan?"
"Pasti."
Melanie berprasangka buruk terhadap lelaki tua baik hati itu.
Melanie berprasangka buruk terhadap lelaki tua baik hati itu.
Dia
bersikap ramah. Ia benar-benar mengkhawatirkan keselamatanku,
ujarku mengingatkan.
Kalian
semua sangat menakutkan, tukas Melanie masam. Tak pernahkah
kau diberitahu untuk tidak bicara dengan orang asing?
Kurasakan
sentakan tajam rasa bersalah ketika menjawab. Tidak ada orang asing di
antara bangsaku.
Aku
tidak terbiasa tidak membayar barang-barang yang kubeli, katanya,
mengubah pokok pembicaraan. Apa gunanya barang-barang itu dipindai?
Untuk
inventaris tentu saja. Haruskah ia mengingat semua barang yang kita ambil,
ketika ia perlu memesan barang lagi? Lagi pula, apa gunanya uang jika semua
orang benar-benar jujur? Aku terdiam, kembali merasakan
perasaan bersalah yang begitu kuat, sampai berubah menjadi rasa nyeri yang
nyata. Semua orang, kecuali diriku tentu saja.
Melanie
menghindar dari perasaan-perasaanku. Ia mengkhawatirkan kedalaman
perasaan-perasaan itu, khawatir aku berubah pikiran. Ia malah memusatkan
perhatian pada keinginan menggebunya untuk pergi dari sini, untuk bergerak
menuju tujuannya. Kegelisahannya menembus tubuhku, dan aku berjalan lebih
cepat.
Kubawa
tumpukan barang itu ke mobil, lalu kuletakkan di tanah di samping pintu
penumpang.
"Biar kubantu."
"Biar kubantu."
Aku
mendongak, dan melihat lelaki pelanggan lain dari toko itu. Dengan membawa
kantong plastik, ia berdiri di sampingku.
"Ah...
terima kasih," ujarku akhirnya. Denyut nadiku berdentam-dentam di balik
telinga.
Kami menunggu. Melanie tegang, seakan hendak lari, ketika lelaki itu mengangkat barang-barang kami ke mobil.
Kami menunggu. Melanie tegang, seakan hendak lari, ketika lelaki itu mengangkat barang-barang kami ke mobil.
Tak
ada yang perlu ditakuti. Dia juga bersikap baik.
Melanie
terus mengawasi lelaki itu dengan penuh curiga.
"Terima
kasih," ujarku sekali lagi, ketika lelaki itu menutup pintu.
"Sama-sama."
Lelaki
itu berjalan menuju kendaraannya sendiri, tanpa menengok lagi kepada kami. Aku
duduk dan meraih kantong keripik kentang.
Lihat
peta, kata Melanie. Tunggu sampai dia lenyap dari
pandangan.
Tak
seorang pun mengawasi kita, janjiku kepadanya. Tapi
sambil mendesah kubuka lipatan peta dan makan dengan satu tangan. Mungkin
mengetahui sedikit ke mana tujuan kita adalah ide bagus.
Ke mana tujuan kita? tanyaku kepada Melanie.
Ke mana tujuan kita? tanyaku kepada Melanie.
Kita
sudah menemukan titik awalnya, jadi sekarang bagaimana?
Lihat
sekeliling, perintahnya. Jika kita tidak bisa
melihatnya dari sini, kita akan mencoba sisi selatan puncak.
Melihat
apa?
Melanie
meletakkan gambaran yang diingatnya ke hadapanku: garis zigzag kasar, empat
garis turun-naik tajam, tapi anehnya ujung kelimanya tumpul, seakan patah. Kini
aku bisa melihatnya, seperti yang seharusnya bisa kulihat, empat puncak gunung
runcing berbatu-batu, dengan puncak kelima yang tampak patah...
Kutelurusi garis langit,
dari timur ke barat melintasi cakrawala sebelah utara. Begitu mudah, sampai
rasanya keliru, seakan aku baru menciptakan gambaran itu setelah melihat siluet
gunung yang menciptakan garis timur laut cakrawala itu.
Itu dia. Melanie
nyaris menyanyi dalam kegembiraannya.
Ayo pergi!
Ia ingin aku keluar dari mobil, berdiri, bergerak.
Aku menggeleng, kembali
membungkuk melihat peta. Pematang gunung tampak sangat jauh, sehingga tak bisa
kutebak berapa kilometer jaraknya dari tempat kami berada. Tak mungkin aku
berjalan keluar dari tempat parkir ini dan memasuki padang gurun kosong, kecuali
aku tak punya pilihan lain.
Ayo kita pikirkan secara
rasional, saranku, seraya menelusurkan jari di sepanjang pita
tipis di peta, ke jalan tak bernama yang menghubungkan jalan raya beberapa
kilometer di timur, lalu secara umum berlanjut ke pematang itu.
Tentu,
dengan puas Melanie mengiyakan. Semakin cepat semakin baik.
Dengan mudah kami
menemukan jalanan tak beraspal itu. Jalanan itu hanya berupa hamparan kasar
pucat tanah datar melewati semak-semak yang tersebar, dan nyaris tak cukup
untuk dilewati satu kendaraan. Aku punya perasaan bahwa, di bagian tertentu,
jalanan yang tak pernah digunakan itu akan dipenuhi tanaman; di suatu tempat lebih
dipenuhi tanaman penting, dan bukan tanaman padang gurun yang perlu puluhan
tahun untuk memulihkan diri setelah terinjak-injak. Rantai berkarat membentang
melintasi jalan masuk.
Salah satu ujung rantai
disekrupkan pada tiang kayu, dan ujung satunya diikat longgar mengelilingi
tiang lain. Aku bergerak cepat, melepaskan rantai itu dan menumpuknya di bawah
tiang pertama, lalu bergegas kembali ke mobil yang mesinnya masih menyala,
berharap tak seorang pun lewat dan berhenti untuk menawarkan bantuan. Jalan
raya tetap kosong ketika aku menyetir ke jalana tanah itu, lalu bergegas
kembali untuk membentangkan kembali rantainya.
Kami merasa tenang ketika jalanan aspal lenyap di belakang. Aku senang karena tampaknya tak ada yang harus kubohongi, entah dengan kata-kata atau diamku. Ketika sedang sendirian, aku tidak terlalu merasa seperti pengkhianatan.
Kami merasa tenang ketika jalanan aspal lenyap di belakang. Aku senang karena tampaknya tak ada yang harus kubohongi, entah dengan kata-kata atau diamku. Ketika sedang sendirian, aku tidak terlalu merasa seperti pengkhianatan.
Melanie benar-benar merasa
seperti di rumah sendiri di sini, di tengah negeri antah-berantah. Ia mengenal
semua tanaman berduri di sekeliling kami. Ia menggumamkan nama-namanya dan
menyambut mereka seperti teman lama.
Creosote, ocotillo,
cholla, pir berduri, mesquite...
Jauh dari jalan raya, jauh
dari perangkap-perangkap peradaban padang gurun itu tampaknya memberikan hidup
baru bagi Melanie. Walaupun menghargai laju mobil yang berguncang-guncang
itu--kendaraan kami tidak memiliki karakteristik yang sesuai untuk perjalanan
off-road ini, dan peredam kejutnya juga mengingatkan hal ini kepadaku dengan
setiap lubang di tanah--Melanie ingin sekali berdiri di atas kaki sendiri, lalu
lari melintasi padang gurun membara yang aman ini.
Mungkin kami harus
berjalan kaki, dan itu terlalu cepat menurut seleraku. Tapi ketika saat itu
tiba, aku ragu apakah Melanie akan merasa puas. Bila kurasakan keingingannya
yang nyata di balik permukaan. Kebebasan. Menggerakan tubuh dengan irama
langkah panjang yang dikenalnya, hanya dengan berbekal kemauan sebagai
petunjuk. Sejenak kubiarkan diriku melihat penjara berupa kehidupan tanpa tubuh
itu. Terangkut di dalam tapi tak mampu memengaruhi bentuk di sekitarmu. Terperangkap.
Tidak memiliki pilihan.
Aku bergidik, dan kembali
memusatkan perhatian pada jalanan kasar itu. Aku mencoba menyingkir dari
gabungan rasa iba dan ngeri. Tak ada inang lain yang pernah membuatku merasa
begitu bersalah karena keberadaanku. Tentu saja tak ada inang lain yang
bertahan hidup untuk mengeluhkan situasinya.
Matahari mendekati
ujung-ujung perbukitan sebelah utara ketika kami pertama kali bertengkar.
Bayang-bayang panjang menciptakan pola-pola aneh melintasi jalanan,
menyulitkanku untuk menghindari batu-batuan dan lubang-lubang.
Itu dia!
Melanie merasa bangga ketika
kami melihat formasi lain agak jauh di timur: gelombang lembut batu, disela
tonjolan mendadak yang membentuk jari kurus ke langit.
Melanie ingin langsung berbelok ke semak-semak, tanpa peduli apa yang akan terjadi pada mobilnya.
Mungkin seharusnya kita terus berjalan sampai petunjuk pertama, ujarku. Jalanan tanah kecil itu berlanjut dengan membelok ke arah yang kira-kira tepat, dan aku takut meninggalkannya.
Melanie ingin langsung berbelok ke semak-semak, tanpa peduli apa yang akan terjadi pada mobilnya.
Mungkin seharusnya kita terus berjalan sampai petunjuk pertama, ujarku. Jalanan tanah kecil itu berlanjut dengan membelok ke arah yang kira-kira tepat, dan aku takut meninggalkannya.
Bagaimana lagi aku bisa
menemukan jalan kembali menuju peradaban? Tidakkah aku akan kembali?
Kubayangkan Pencari, tepat
pada saat ini, ketika matahari menyentuh garis zigzag gelap cakrawala barat.
Apa yang dipikirkannya ketika aku tidak tiba di Tucson? Luapan kegembiraan
membuatku tertawa keras-keras. Melanie juga menikmati gambaran Pencari dalam
kegusaran dan kejengkelan. Perlu beberapa lama bagi perempuan itu untuk kembali
ke San Diego, untuk mengetahui apakah semua ini adalah siasat untuk
menyingkirkannya? Lalu langkah-langkah apa yang akan diambilnya ketika aku tak
ada di sana? Ketika aku tak ada di mana-mana?
Aku hanya tak bisa
membayangkan dengan jelas di mana aku akan berada saat itu.
Lihat, sungai kering.
Cukup lebar untuk dilewati mobil--ayo kita telusuri,
desak Melanie.
Aku tak yakin apakah kita sudah
harus pergi ke arah itu.
Sebentar lagi gelap dan
kita harus berhenti. Kau membuang-buang waktu,
teriak Melanie diam-diam dalam frustasinya.
Atau menghemat waktu,
seandainya aku benar. Lagi pula, aku yang punya waktu, bukan?
Melanie tidak menjawab
dengan kata-kata. Tampaknya ia menggeliat di dalam benakku, kembali menuju
sungai yang mudah dicapai itu.
Aku yang melakukannya,
jadi aku akan melakukannya dengan caraku.
Sebagai jawaban Melanie
menggerutu tanpa kata.
Mengapa tidak kautunjukkan
semua garisnya, saranku. Agar kita bisa tahu apakah ada
yang terlihat sebelum malam tiba.
Tidak, bentaknya.
Aku akan melakukan bagian itu dengan caraku.
Kau kekanak-kanakan.
Sekali lagi Melanie
menolak menjawab. Kulanjutkan perjalanan ke arah empat puncak runcing itu, dan
ia merengut.
Ketika matahari menghilang
di balik perbukitan, malam menyapu cepat seluruh pemandangan. Selama semenit
padang gurun berwarna jingga matahari terbenam, lalu semuanya hitam. Aku
memperlambat mobil, tanganku meraba-raba dasbor, mencari tombol lampu depan.
Apa kau sudah gila?
desis Melanie. Tak tahukah kau betapa jelasnya lampu depan terlihat di luar
sini? Bakal ada yang melihat kita.
Lalu apa yang harus kita
lakukan sekarang?
Berharap sandaran tempat
duduk itu bisa ditidurkan.
Kubiarkan mesin menyala
ketika mencoba memikirkan pilihan-pilihan lain, selain tidur di mobil,
dikelilingi kekosongan hitam malam padang gurun. Melanie menanti dengan sabar,
tahu aku takkan menemukan satu pun pilihan lain.
Kau tahu, ini gila,
ujarku. Aku memarkir mobil, memutar kunci, lalu mengeluarkan
benda itu dari lubangnya.
Benar-benar gila. Tak
mungkin ada orang di luar sini. Kita tidak akan menemukan apa-apa. Dan kita
akan tersesat jauh. Aku punya perasaan abstrak mengenai bahaya
fisik yang ada dalam rencana kita: berjalan-jalan di udara panas tanpa rencana
cadangan, tanpa jalan kembali. Aku tahu Melanie jauh lebih memahami bahaya itu,
tapi ia merahasiakan detai-detailnya dariku.
Ia tidak menjawab
tuduhan-tuduhanku. Tak satu pun masalah - masalah ini mengganggunya. Aku bisa
melihat ia lebih suka berjalan-jalan sendiri di padang gurun seumur hidup,
daripada kembali pada kehidupan yang kujalani sebelumnya. Tanpa ancaman dari
Pencari sekalipun, ia lebih suka seperti ini.
Kutidurkan sandaran kursi
sejauh mungkin. Tak bisa cukup jauh untuk mendatangkan kenyamanan. Aku ragu
apakah bisa tidur, tapi banyak hal yang tak boleh kupikirkan, sehingga benakku
kosong dan menjemukan. Melanie juga diam.
Kupejamkan mata, dan hanya
menemukan sedikit perbedaan antara kelopak mataku dengan malam tak berbulan
itu. Lalu ketidaksadaran menghanyutkanku dengan kemudahan tak terduga.
.
.
.
TO
BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar