Laman

Sabtu, 02 Juli 2016

PENAFSIRAN MUDIK LEBARAN



Artikel ini merupakan tanggapan untuk Maman S. Mahayana dalam memaknai mudik. Menyimak tulisan Maman S. Mahayana (Dosen FIB UI, kandidat doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia) yang disampaikan pada International Conference of Law and Culture in South East Asia, diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea, Depok, FHUI, 13 Juli 2011 dengan judul "Mudik di Indonesia dan Korea" yang dimuat website http://www.lenteratimur.com dan tulisan lainnya yang hampir serupa dengan judul "Akar Sosiologis Mudik Lebaran" yang lebih awal dimuat website http://megapolitan.kompas.com pada tanggal 8 September 2010, terdapat penafsiran makna menyudutkan bahwa mudik lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Benarkah demikian adanya ?
Maman S. Mahayana dengan gamblang menjelaskan bahwa kata mudik itu lebih dekat pada pengertian pergi ke udik, juga dapat ditelusuri dari kata bentukan dari kata dasar udik: memudik yang bermakna berlayar mudik (ke hulu), dan memudikkan yang bermakna menjalankan perahu kearah hulu. Mengingat udik berada di daerah atau wilayah hulu yang jauh di pegunungan atau pedalaman, maka kata udik mengacu pada suatu daerah atau wilayah yang berada di kawasan pedalaman, pedusunan, pedesaan atau perkampungan. Sampai di sini, sesungguhnya kata udik masih berkonotasi netral. Ketika seseorang dikatakan sebagai orang udik, artinya orang itu berasal dari daerah hulu atau daerah pedalaman. Pernyataan orang udik sama sekali tidak berkonotasi negatif.
Menurut Maman S. Mahayana, dalam perkembangannya, ketika bermunculan wilayah perkotaan, dan kota dianggap sebagai pusat kemajuan, makna kata udik yang semula netral bergeser menjadi berkonotasi negatif, yakni sebagai wilayah yang belum tersentuh oleh kemajuan. Wilayah-wilayah itu berada di daerah pedalaman, pedusunan, pedesaan atau perkampungan yang dianggap masih terbelakang. Maka, konsep udik dalam pengertian sebagai wilayah pedalaman, pedusunan, pedesaan atau perkampungan berseberangan maknanya dengan konsep kota dan perkotaan. Jadilah hubungan kota—desa atau kota—udik, sebagai hubungan yang maknanya berkaitan dengan kemajuan dan keterbelakangan. Inilah awal mula makna kata udik memperoleh nuansa negatif sebagai wilayah terbelakang yang belum tersentuh kemajuan.
Sampai tahun 1970-an, kata mudik belum dimaknai sebagai pulang ke kampung halaman. Bahkan, mudik tidak ada kaitannya dengan hari raya Iedul Fitri atau Lebaran. Ketika itu, mudik dan lebaran adalah dua peristiwa yang tidak ada hubungannya. Setidak-tidaknya, jika kita dapat mencermati sejumlah karya sastra yang bercerita tentang lebaran atau yang secara eksplisit menggunakan judul: lebaran, maka kita akan sia-sia saja mencari kata mudik di sana. Jadi, sampai tahun 1970-an itu, lebaran tidak ada hubungannya dengan mudik atau sebaliknya. Lebaran dan mudik adalah dua peristiwa yang ketika itu tidak ada perkaitannya. Pertanyaannya kini: kapan mulanya mudik mengalami penyempitan makna menjadi pulang ke kampung halaman yang lalu berkaitan dengan lebaran?
Fenomena mudik yang lalu dikaitkan dengan lebaran, terjadi pada awal pertengahan dasawarsa 1970-an ketika Jakarta tampil sebagai kota besar satu-satunya di Indonesia yang mengalami kemajuan luar biasa. Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin (1966—1977) berhasil disulap menjadi kota metropolitan. Tanpa disadari, sistem pemerintahan sentralistik yang diterapkan penguasa Orde Baru memperoleh legitimasi sosiologis ketika ibukota negara melesat dengan berbagai kemajuannya dibandingkan kota-kota lain di Tanah Air. Jakarta seketika menjadi pusat orientasi sosial, budaya, politik, dan pemerintahan. Bagi penduduk kota-kota lain, dan terutama orang-orang udik, Jakarta menjelma sebagai kota impian. Dengan begitu, Jakarta menjadi tempat penampungan orang-orang udik yang di kampung tak beruntung dan di Jakarta seolah-olah akan kaya. Boleh jadi, lebih dari 80 % para urbanis ini datang ke Jakarta hanya untuk mencari pekerjaan. Dari jumlah itu, lebih setengahnya adalah masyarakat tidak terdidik atau setengah terdidik. Jadi, secara sosiologis, mereka adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah yang secara kultural satu kakinya berada di kampung halaman dan satu kakinya lagi enggan berada di Jakarta.
Dengan kesadaran itu, bagi mereka yang belum dapat menetap dan hidup mapan di Jakarta, secara psikologis, tidak hanya merasa perlu mendapatkan legitimasi sosial atas keberadaannya di Jakarta, tetapi juga sekaligus ingin menunjukkan kehadirannya, keberadaannya, eksistensinya. Di Jakarta, eksistensi mereka tenggelam, sementara legitimasi sosial atas keberadaan mereka juga tak kunjung datang. Itulah sebabnya, kehadiran mereka di kampung halaman akan dapat memenuhi harapan itu. Lebaran adalah momentum yang tepat untuk itu. Sebab, pada hari lebaran ada dimensi keagamaan; ada legitimasi seolah-olah lebaran adalah waktu yang tepat untuk berziarah. Pergi ke kampung halaman adalah kamuflase dari semangat memperoleh legitimasi sosial dan menunjukkan eksistensinya. Itulah awal mula pulang kampung atau mudik menjadi tradisi yang seolah-olah mempunyai akar budaya.
Jadi, sesungguhnya tradisi mudik (Jakarta ke udik) lebih disebabkan oleh problem sosial, dan sama sekali tidak didasarkan oleh akar budaya. Lebaran adalah momentumnya. Tengoklah, sebagian besar para pemudik itu adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah yang ingin menunjukkan kepada masyarakat udiknya, seolah-olah di Jakarta mereka telah mencapai sukses.
Begitulah, mudik pada hari Lebaran di Indonesia sesungguhnya tidak punya akar tradisi budaya, melainkan lebih disebabkan oleh problem sosial akibat sistem pemerintahan yang sentralistik dengan Jakarta sebagai pusat segala-galanya. Mengingat para pemudik sebagian besar adalah mereka yang belum dapat tinggal dan hidup mapan di Jakarta, maka mudik lebaran menjadi momentum penting bagi mereka untuk melegitimasi keberadaannya di ibukota sebagai seolah-olah telah mencapai sukses, baik secara materi maupun sosial. Terlepas dari latar belakang munculnya fenomena mudik itu, masalah yang ditimbulkannya dari tahun ke tahun –menjelang dan sesudah lebaran—selalu sama: antrean panjang karcis kereta api; harga sembako naik, harga tiket bus, kereta api, kapal laut, pesawat terbang, sampai ke ongkos angkot, bajaj, dan ojek, melonjak seketika; pesta para calo; kemacetan terjadi di mana-mana, dan jatuh korban kecelakaan lalu lintas. Lalu, selepas libur panjang lebaran itu, kantor-kantor pemerintah kosong lantaran para pegawainya menambah jatah libur, orang udik membawa lagi orang udik yang lain, dan masyarakat desa memelihara mimpi mereka untuk dapat menikmati gaya hidup kota. Mudik lebaran pada akhirnya lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Pemerintah atas nama pelayanan masyarakat  justru seperti sengaja memanjakan kemudaratan itu.

PENDAPAT MAMAN TENTANG MUDIK DI KOREA
Mudik di Korea berkaitan dengan tradisi budaya yang sejak ribuan tahun lalu dilakukan secara turun-temurun dalam setiap hari raya.Mudik bukan sekadar pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga, melainkan ada dimensi kultural yang sudah melekat menjadi sistem nilai masyarakatnya. Tidak ada sanksi sosial bagi seseorang yang tidak melakukan mudik. Tidak pula dianggap berdosa dan kelak akan masuk neraka. Tetapi, ada nilai sakral, ada orientasi yang jelas berkaitan dengan kehidupan di dunia, ada usaha menjaga harmoni dalam menjaga kebahagiaan segenap anggota keluarga.
Maka, mudik menjadi sebuah keniscayaan agar hidup punya orientasi, lebih optimistik, meningkatkan keakraban dalam hubungan keluarga, dan diharapkan di masa mendatang keberuntungan, karier, dan apa pun yang dilakukan bisa menjadi lebih baik lagi dibandingkan dengan masa sebelumnya. Dengan begitu, mudik bukan lantaran problem sosial, melainkan semacam tuntutan tradisi kultural yang melatarbelakangi dan yang melatardepaninya. Jadi, mudik merupakan tindak pulang kampung lantaran di sana menunggu ritual yang diyakini bakal menjanjikan kehidupan lebih baik.
Mudik bagi masyarakat Korea, seperti telah disebutkan, berkaitan dengan hari raya penting. Ada tiga hari raya penting, yaitu dua peringatan tahun baru: (1) tahun baru Masehi yang dikenal dengan istilah Shinjeong, dan (2) tahun baru lunar (Imlek) yang dikenal dengan istilah Solnal atau Gujeong , serta hari raya Chuseok. Meski begitu, yang terpenting dari hari raya itu adalah Tahun Baru Imlek dan hari raya Chuseok. Pada kedua hari raya itu, penduduk Korea akanberkumpul dengan seluruh keluarga di rumah nenek dan kakek. Mereka bersenang-senang di sana dan mengadakan upacara untuk nenek moyang, berziarah ke makam para leluhur sambil menyajikan makanan yang disukai para leluhur itu sewaktu mereka masih hidup.
Bagi warga Korea, tahun baru Imlek mempunyai makna sangat khusus yang wajib diperingati setiap tahun. Bagaimanapun, sukses dalam menjalani kehidupan ini hanya mungkin dilakukan jika orang mempunyai kesadaran untuk selalu memperbaharui diri. Maka, pada tahun baru Imlek itulah momentumnya untuk menyiapkan cara bekerja, berfikir, dan bertindak kearah yang lebih baik. Perlu ada keinginan dan harapan. Di samping itu, perlu juga selalu membina hubungan baik dengan keluarga, sanak famili dan handai tolan. Bersamaan dengan itu, segenap anggota keluarga tidak pula melupakan rasa syukur dan terima kasih kepada para leluhur. Di sana pelaksanaan upacara penghormatan pada arwah leluhur merupakan bagian penting dalam hari raya Imlek.
Tahun baru Imlek sebagai hari Solnal, konon sudah menjadi tradisi yang turun-temurun sebagai warisan kerajaan Silla sejak ribuan tahun yang lalu. Istilah Solnal berasal dari kata kerja sol-da atau nat-sol-da yang berarti tidak terkenal atau tidak akrab. Kata itu secara tidak langsung menunjukkan sikap hati-hati nenek moyang bangsa Korea dengan datangnya tahun baru. Untuk sesuatu yang asing dan baru, nenek moyang bangsa Korea selalu berhati-hati menyikapinya. Jadi hari raya Solnal atau tahun baru Imlek adalah waktu yang tepat untuk merenung, introspeksi, mengevaluasi kehidupan masa lalu, menyucikan diri, dan sekaligus menatap masa depan dengan penuh kepercayaan diri.
Begitulah pada hari raya Chuseok dan Imlek, segenap anggota keluarga berkumpul dan bersama-sama melaksanakan upacara penghormatan kepada para leluhur dan roh nenek moyang. Mereka juga melakukan se bae atau memberi hormat kepada yang lebih tua dan leluhur mereka dan dengan tulus menyampaikan salam hormat kepada kakek—nenek, orang tua, mertua, dan handai tolan sambil menikmati berbagai macam hidangan, mengobrol, tertawa, membangun kebersamaan dan kehangatan sesama anggota keluarga, menciptakan kebahagiaan bersama. Itulah tujuan berkumpul di tanah leluhur, di kampung halaman. Jika berbagai ritual itu sudah dilaksanakan, ada harapan menatap masa depan lebih optimis, lahir sugesti, dan keyakinan untuk melanjutkan kehidupan menjadi lebih baik lagi. Dengan begitu, segala aktivitas di kampung halaman itu, seolah-olah sebagai jaminan spiritual, bahwa nenek moyang dan para leluhur akan mengawal jalan menempuh masa depan lebih cerah menunju kehidupan yang berbahagia.
Dengan kesadaran itu, mudik sebenarnya hanya proses untuk sampai ke kampung halaman. Justru di dalam proses perjalanan mudik itulah timbul berbagai masalah. Seperti juga di Indonesia, masalah transportasi kerap menjadi problem serius. Di Seoul saja, dengan jumlah kendaraan mencapai lebih dari satu juta, kemacetan di jalan raya tidak dapat dihindarkan. Di samping itu, pada hari raya itu banyak juga warga masyarakat Korea yang pergi berwisata ke daerah-daerah seperti ke Gangneung dan Donghae di provinsi Gangwon di pesisir timur untuk menyaksikan terbitnya matahari pertama di tahun baru.
sebagian besar generasi muda Korea sekarang cenderung  memilih berpikir praktis dalam perkara mudik. Demikian juga banyak orang tua yang mulai menyadari bahwa mudik adalah perjalanan yang merepotkan. Maka, meskipun jalan bebas hambatan dari Seoul ke luar kota makin lancar, waktu tempuh makin cepat, dan pilihan naik bus patas atau naik kereta api sama nyamannya, tidak sedikit keluarga yang memilih menghabiskan liburan Imlek atau Chuseok, di Seoul atau pergi ke tempat-tempat wisata, atau bahkan berlibur ke luar negeri. Kini, mudik bagi masyarakat Seoul selama waktu libur Tahun Baru menjadi sekadar pilihan. Masih ada pilihan lain dengan tetap mempertahankan semangat berkumpul dengan segenap anggota keluarga, yaitu pergi ke tempat-tempat wisata di seluruh pelosok Seoul atau ke Pulau Jeju atau berlibur ke luar negeri. Konon, sekarang ini jumlah keluarga yang memilih ke luar negeri selama liburan hari raya, semakin meningkat. Maka kepadatan di Bandara Internasional Incheon[20] dan Gimpo,[21] bahkan juga di pelabuhan Busan, dari tahun ke tahun terus meningkat dan dipadati mereka yang akan berlibur di tempat-tempat wisata atau menghabiskan waktu di luar negeri bersama keluarga.
Pertanyaannya kini: bagaimana perkara mudik mengalami pergeseran seperti itu, padahal di sana ada pesan spiritual tidak hanya sekadar berkumpul dengan segenap anggota keluarga untuk menjalin harmoni, tetapi juga semangat berterima kasih dan penghormatan pada leluhur dan nenek-moyang? Apakah dengan begitu, tradisi ziarah membersihkan kuburan para leluhur dan memberi sesajen dan persembahan kepada roh nenek moyang kini mulai diabaikan?Bukankah pengabaian itu bertentangan dengan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun selama ribuan tahun?Apakah penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada para leluhur, kepada orang tua atau orang yang lebih tua, sudah mulai diabaikan pula oleh masyarakat Korea generasi sekarang?
Demikianlah, mudik di Indonesia dan Korea, meskipun substansinya sama, yaitu pulang kampung atau pergi ke kampung halaman, latar belakang tradisi budaya yang menyertainya berbeda. Di Indonesia, mudik yang dikaitkan dengan lebaran sesungguhnya lebih disebabkan oleh problem sosial akibat ketimpangan penghidupan desa—kota sebagai dampak sistem pemerintahan yang sentralistik dengan menempatkan Jakarta sebagai pusat segala-galanya. Itulah awalnya mudik dikaitkan dengan Lebaran. Padahal, Lebaran hanya sekadar momentum untuk pulang kampung bagi pekerja migran, mereka yang belum dapat hidup mapan, orang-orang udik yang tidak atau belum terdidik, dan perantau setengah hati yang satu kakinya berada di kampung, dan satu kakinya yang lain enggan berada di Jakarta. Sementara itu, mudik bagi warga Seoul memang punya akar budaya yang sudah menjadi tradisi turun-temurun ribuan tahun lamanya. Oleh karena itu, mudik ditempatkan sebagai momentum penting dalam menatap masa depan dalam menjalani kehidupan ini.

Tulisan Maman S Mahayana selengkapnya, dapat dibaca melalui link berikut : http://www.lenteratimur.com/mudik-di-indonesia-dan-korea/
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/02/0253314/Akar.Sosiologis.Mudik.Lebaran

TANGGAPAN TERHADAP TULISAN MAMAN S. MAHAYANA
Sebenarnya perbedaan subtansi mudik sebagai sebuah tradisi di Indonesia dan Korea tentu tidak dapat diukur serta merta. Istilah mudik di Indonesia meski dari penjelasan Maman muncul bukan dari akar budaya lama karena baru dasawarsa 1970-an dapat diamati dan dikenali dengan nyata (dari karya satra/tulisan-tulisan), namun dari segi akar budayanya sebenarnya tradisi mudik tetap sudah ada jauh sebelumnya. Bukankah bangsa kita terkenal dengan budaya dan satra lisan dibanding satra tulis karena adanya keterbatasan-keterbasan.
Menurut Syukri Rahmatullah dalam tulisannya di www.okezone.com tanggal 26 September 2008, yang berjudul "Lebaran dan Tradisi Mudik", dengan mengutip Umar Kayam (2002), mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani jawa. Keberadaannya jauh sebelum Kerajaan Majapahit. Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan disertai doa bersama kepada dewa-dewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tidak diselimuti masalah.
Namun, masuknya pengaruh Islam ke Tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis, karena dianggap perbuatan syirik. Meski begitu, peluang kembali ke kampung halaman setahun sekali ini muncul lewat momen Idul Fitri.
Islam sebagai agama besar di Indonesia tidak mengenalkan tradisi "mudik" dalam ajarannya. Meskipun demikian, ajaran untuk berbakti kepada orang tua mendapatkan penekanan dan sangat mendalam maknanya. Dengan demikian dalam konteks "teologis" setelah menjalankan puasa 1 bulan penuh selama Ramadhan, dan tiba waktunya merayakan Idul Fitri, kelengkapan pemaknaannya meluas menjadi menemukan kembali hakikat yang "Fitri" dengan kembali ke kampung asal tanah kelahirannya untuk mengukuhkan mental/psikologis bertemu dengan orang tua, keluarga, sanak saudara, untuk meminta maaf, meminta restu dan berbagi kebahagiaan di kampung halaman. Tradisi "sungkem/sungkeman" dalam masyarakat Jawa mendapat bentuk perpaduannya dengan momen Idul Fitri. "Tradisi sungkeman" atau "saling berkunjung untuk bersalaman bermaaf-maafan" dalam tradisi Jawa mendapatkan tempatnya untuk dilaksanakan setelah shalat Idul Fitri usai.
Ali Rif'an dalam tulisannya berjudul " Mudik dan Pesan Teologis" yang dimuat diweb http://www.metrosiantar.com, dengan mengutip Clifford Geertz dalam bukunya, The Intepretation of Cultures (1973), menyebutkan bahwa kehidupan sosial manusia tidak bisa keluar dari jaringan nilai dan makna yang mereka rajut sendiri. Dengan kata lain, mudik juga dipahami sebagai medium untuk membangun kembali jaringan solidaritas dan soliditas manusia terhadap alam dan lingkungan sosial mereka dulu dilahirkan.
Melalui mudik, mereka sedang merajut asa yang dulu pernah ada pada setiap diri manusia. Mereka akan mengenang kembali masa-masa di mana saat awal mengeja kehidupan, mengenal alam sekitar, mengenali diri dan sesama, sekaligus mengenang wajah orang-orang yang dulu pernah memberi kasih sayang. Tak pelak, jika mudik juga disebut sebagai momen untuk mengejawantah puncak kerinduan bagi masyarakat perantauan setelah setahun menapaki jelujur kota yang hampir tanpa koma.
Karenanya, mudik juga menjadi panggung dramaturgi yang terkadang diliputi misteri-misteri yang sulit terpahami. Dalam istilah Umar Kayam (1993), mudik itu kegiatan solidaritas untuk mengukuhkan kembali nilai-nilai budaya dan sosial tanpa membedakan latar agama, politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Esensi mudik, selain sebagai ritus untuk menyembuhkan dahaga kerinduan kepada sanak saudara, juga merupakan momentum mengingat kembali ke akar sosial dan budaya. Mudik berpotensi menyemai dan mengaktualisasikan tradisi-tradisi masa lampau yang pernah hidup di tiap-tiap desa.
Dari aspek "spiritual" yang tercermin dalam "pesan teologis Mudik" dapat diperjelas bahwa sebenarnya momentum mudik membangkitkan semangat rindu kampung halaman secara massal. Tidak hanya dalam konteks kaum urban yang kembali ke udik karena kaki satunya masih dikampung halaman. Mereka yang mudik bukan hanya kelas menengah bawah atau yang tidak terdidik/setengah terdidik. Para pemudik di negeri ini memiliki kesadaran penuh atas semua yang dilakukan, dan seberapa besar resiko yang harus ditanggung dalam menjalani mudik selama lebaran.
Gaya hidup kota yang cenderung tidak mengenal secara akrab dan dekat satu sama lain, serta kurangnya komunikasi secara langsung karena lebih cenderung dipacu dalam rutinitas kerja. Kondisi ini bagi para perantau telah memuncakkan keinginan untuk mengalami kembali suasana kekeluargaan yang hangat dan akrab dengan keluarga dan orang-orang terdekat yang benar-benar dikenalnya, dan jawaban atas pemenuhan kebutuhan tersebut hanya dapat diperoleh dikampung halamannya saat Libur Lebaran karena mereka akan menyatu dan berkumpul bersama.
Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Individu Abraham Maslow (dalam Schultz, 1991), manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Kebutuhan ini tersusun dalam tingkatan-tingkatan dari yang terendah sampai tertinggi. Kebutuhan paling rendah dan paling kuat harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum muncul kebutuhan tingkat selanjutnya. Kebutuhan paling tinggi dalam hirarki kebutuhan individu Abraham Maslow adalah Aktualisasi Diri. Jadi prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah: 1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis, 2. kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman 3. kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta 4. kebutuhan-kebutuhan penghargaan. Kebutuhan-kebutuhan ini harus sekurang-kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini, sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.
Dari sudut pandang teori kebutuhan setidaknya nampak jelas bahwa mudik merupakan kebutuhan bukan hanya bagi orang tidak terdidik/setengah terdidik yang bekerja di kota untuk kembali ke udik. Kebutuhan mudik meskipun rangkaian menuju kelengkapan pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri setelah mereka "mampu" memenuhi kebutuhan fisiologis, dan rasa aman. Kebutuhan akan memiliki dan cinta serta penghargaan dapat secara penuh dipahami oleh lingkungan asal yang berada di kampung halaman. Keluarga dan lingkungan di tempat asal nya mampu memberikan rasa memiliki dan cinta serta penghargaan yang diharap-harapkan setiap manusia. Jadi tidak sekedar dikiaskan menjadi "kaki yang satu masih tertinggal di kampung halamannya".
Anggapan pemerintah melakukan pembiaran terhadap "tradisi mudik" sebagaimana ditulis Maman perlu dikritisi, karena mudik memang tidak dapat dilarang. Itu sebuah kebutuhan tidak hanya untuk perantau "musiman" namun mereka yang berhasil hidup sukses dan bermukim di kota juga kebanyakan memiliki sanak saudara di desa, entah itu Pejabat, Direktur, bahkan ilmuwan sekalipun. Mudik juga bukan berarti sekedar pulangnya para perantau dari Jakarta ke udik, tetapi di manapun mereka merantau untuk pulang / berkumpul keluarga di kampung halaman, sehingga terjadi persilangan "jalur mudik" yang Barat ke Timur atau ke Selatan, dan sebaliknya, yang Utara ke Selatan atau sebaliknya, dan seterusnya.
Basis kehidupan kota pada dasarnya tetap berakar dari desa-desa/kampung-kampung. Kota adalah wajah tatanan bangunan dan infrastruktur yang denyut nati dan pergerakan pertumbuhannya butuh tranformasi sosial ekonomi dan budaya dari desa dan kampung sebagai tempat riil mereka hidup bermasyarakat.
Meskipun mayoritas pemudik menurut Maman terbesar dari golongan menengan ke bawah, tidak berarti "mudik" dikonotasikan sebagai budayanya orang kecil semata. Nilai dan makna mudik tidak sekedar menghambur-hamburkan uang semata, menghabiskan bahan bakar, sehingga  jika mencermatinya hanya sebatas sudut pandang akan bermakna sempit, sehingga stigma "mudik" banyak mudarat daripada manfaatnya seakan memperoleh tempat pembenarannya.
Merekayasa hipnosis massal pada tradisi mudik bukanlah hal mudah. Bahkan jika "mudik" bukanlah menjadi suatu kebutuhan yang disadari tentu siapapun orangnya  belum tentu akan bersedia disuruh mudik, sekalipun disuruh dan dibiayai. Mudik menjadi suatu kenikmatan psikologis dan mental ditengah "penderitaan antrean, penuh sesak, berjejal-jejal dan lainnya". Jika momentumnya bukan karena Ramadhan dan Idul Fitri, tentu "mudik biasa" hanya mengandung dosis kecil menciptakan sebuah kenikmatan "ritual mudik". Dan hanya pemudik sejati yang dapat merasakan mengapa mudik menimbulkan pemuasaan kebutuhan batin, meski secara fisik melelahkan. Bukankah makna pemenuhan "rasa puas" dan "kebutuhan aktualisasi" taksiran besarnya standar biaya meraih kepuasan menjadi hal yang sangat subyektif ?.
Pemerintah telah berusaha menunjukkan komitmennya dalam memberikan fasilitas dan kenyamanan para pemudik agar "tradisi mudik berjalan lancar, aman dan nyaman". Langkah Pemerintah dalam peningkatan infrastruktur layanan transportasi masal, peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur jalan, jembatan, penerangan jalan dan pos kesehatan, rest area dan sebagainya telah diupayakan mendukung kelancaran  mudik lebaran.  Tentu saja masih banyak yang perlu dibenahi agar tradisi mudik ini semakin aman, nyaman dan lancar. Yang tidak kalah penting adalah menghimbau agar pemudik dapat turut bertanggungjawab mensukseskan tradisi mudiknya secara aman melalui persiapan fisik dan mental memadai serta disiplin dalam perjalanan mudik agar resiko kerawanan keamanan atau kecelakaan dapat ditekan sekecil mungkin.
Aspek positip mudik bagi pemenuhan kebutuhan tetap dikedepankan dengan tidak lupa mengurangi dampak negatif yang mengiringinya. Dengan demikian "mudik yang berkualitas" tidak membawa mudarat dapat diwujudkan tanpa perlu menyudutkan. 
Adakah kemungkinan bahwa budaya "mudik" ini akan punah seiring berjalannya waktu? Jawabannya "mungkin saja iya" hanya jika pemuasan kebutuhan para "pemudik" sudah tidak lagi dapat ditemukan di kampung halamannya. Namun demikian dapat diperkirakan bahwa kebutuhan "mudik Lebaran" pada rangkaian proses menuju aktualisasi diri bagi mahluk sosial yang bernama "manusia Indonesia" akan selalu mencari jalannya sendiri sesuai adat dan tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun.
Selain tetap dikiritisi, perlu ada keyakinan dalam mengikuti "irama mudik" agar hipnotis massal yang bernama "mudik lebaran" tidak terlalu banyak berhitung-hitung atau merenungkan mengapa mudik terjadi dan mengapa perlu terjadi. Apakah demikian seharusnya ? (EIP)


Sumber bacaan:

Sumber: http://www.pekalongankab.go.id/fasilitas-web/artikel/sosial-budaya/1219-penafsiran-mudik-lebaran-dalam-aspek-sosial-budaya-bangsa-indonesia-.html
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar