Artikel ini merupakan tanggapan untuk Maman S. Mahayana dalam memaknai
mudik. Menyimak tulisan Maman S. Mahayana (Dosen FIB UI, kandidat doktor di
Universitas Kebangsaan Malaysia) yang disampaikan pada International Conference
of Law and Culture in South East Asia, diselenggarakan Fakultas Hukum
Universitas Indonesia dan Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea,
Depok, FHUI, 13 Juli 2011 dengan judul "Mudik di Indonesia dan Korea"
yang dimuat website http://www.lenteratimur.com
dan tulisan lainnya yang hampir serupa dengan judul "Akar Sosiologis Mudik
Lebaran" yang lebih awal dimuat website http://megapolitan.kompas.com pada tanggal
8 September 2010, terdapat penafsiran makna menyudutkan bahwa mudik lebih
banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Benarkah demikian adanya ?
Maman S. Mahayana dengan gamblang menjelaskan bahwa kata mudik itu lebih
dekat pada pengertian pergi ke udik, juga dapat ditelusuri dari kata bentukan
dari kata dasar udik: memudik yang bermakna berlayar mudik (ke hulu), dan
memudikkan yang bermakna menjalankan perahu kearah hulu. Mengingat udik berada
di daerah atau wilayah hulu yang jauh di pegunungan atau pedalaman, maka kata
udik mengacu pada suatu daerah atau wilayah yang berada di kawasan pedalaman,
pedusunan, pedesaan atau perkampungan. Sampai di sini, sesungguhnya kata udik
masih berkonotasi netral. Ketika seseorang dikatakan sebagai orang udik, artinya
orang itu berasal dari daerah hulu atau daerah pedalaman. Pernyataan orang udik
sama sekali tidak berkonotasi negatif.
Menurut Maman S. Mahayana, dalam perkembangannya, ketika bermunculan
wilayah perkotaan, dan kota dianggap sebagai pusat kemajuan, makna kata udik
yang semula netral bergeser menjadi berkonotasi negatif, yakni sebagai wilayah
yang belum tersentuh oleh kemajuan. Wilayah-wilayah itu berada di daerah
pedalaman, pedusunan, pedesaan atau perkampungan yang dianggap masih
terbelakang. Maka, konsep udik dalam pengertian sebagai wilayah pedalaman,
pedusunan, pedesaan atau perkampungan berseberangan maknanya dengan konsep kota
dan perkotaan. Jadilah hubungan kota—desa atau kota—udik, sebagai hubungan yang
maknanya berkaitan dengan kemajuan dan keterbelakangan. Inilah awal mula makna
kata udik memperoleh nuansa negatif sebagai wilayah terbelakang yang belum
tersentuh kemajuan.
Sampai tahun 1970-an, kata mudik belum dimaknai sebagai pulang ke
kampung halaman. Bahkan, mudik tidak ada kaitannya dengan hari raya Iedul Fitri
atau Lebaran. Ketika itu, mudik dan lebaran adalah dua peristiwa yang tidak ada
hubungannya. Setidak-tidaknya, jika kita dapat mencermati sejumlah karya sastra
yang bercerita tentang lebaran atau yang secara eksplisit menggunakan judul:
lebaran, maka kita akan sia-sia saja mencari kata mudik di sana. Jadi, sampai
tahun 1970-an itu, lebaran tidak ada hubungannya dengan mudik atau sebaliknya.
Lebaran dan mudik adalah dua peristiwa yang ketika itu tidak ada perkaitannya.
Pertanyaannya kini: kapan mulanya mudik mengalami penyempitan makna menjadi
pulang ke kampung halaman yang lalu berkaitan dengan lebaran?
Fenomena mudik yang lalu dikaitkan dengan lebaran, terjadi pada awal
pertengahan dasawarsa 1970-an ketika Jakarta tampil sebagai kota besar
satu-satunya di Indonesia yang mengalami kemajuan luar biasa. Jakarta di bawah
kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin (1966—1977) berhasil disulap menjadi kota
metropolitan. Tanpa disadari, sistem pemerintahan sentralistik yang diterapkan
penguasa Orde Baru memperoleh legitimasi sosiologis ketika ibukota negara
melesat dengan berbagai kemajuannya dibandingkan kota-kota lain di Tanah Air.
Jakarta seketika menjadi pusat orientasi sosial, budaya, politik, dan
pemerintahan. Bagi penduduk kota-kota lain, dan terutama orang-orang udik,
Jakarta menjelma sebagai kota impian. Dengan begitu, Jakarta menjadi tempat
penampungan orang-orang udik yang di kampung tak beruntung dan di Jakarta
seolah-olah akan kaya. Boleh jadi, lebih dari 80 % para urbanis ini datang ke
Jakarta hanya untuk mencari pekerjaan. Dari jumlah itu, lebih setengahnya
adalah masyarakat tidak terdidik atau setengah terdidik. Jadi, secara
sosiologis, mereka adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah yang secara
kultural satu kakinya berada di kampung halaman dan satu kakinya lagi enggan
berada di Jakarta.
Dengan kesadaran itu, bagi mereka yang belum dapat menetap dan hidup
mapan di Jakarta, secara psikologis, tidak hanya merasa perlu mendapatkan
legitimasi sosial atas keberadaannya di Jakarta, tetapi juga sekaligus ingin
menunjukkan kehadirannya, keberadaannya, eksistensinya. Di Jakarta, eksistensi
mereka tenggelam, sementara legitimasi sosial atas keberadaan mereka juga tak
kunjung datang. Itulah sebabnya, kehadiran mereka di kampung halaman akan dapat
memenuhi harapan itu. Lebaran adalah momentum yang tepat untuk itu. Sebab, pada
hari lebaran ada dimensi keagamaan; ada legitimasi seolah-olah lebaran adalah
waktu yang tepat untuk berziarah. Pergi ke kampung halaman adalah kamuflase
dari semangat memperoleh legitimasi sosial dan menunjukkan eksistensinya.
Itulah awal mula pulang kampung atau mudik menjadi tradisi yang seolah-olah
mempunyai akar budaya.
Jadi, sesungguhnya tradisi mudik (Jakarta ke udik) lebih disebabkan oleh
problem sosial, dan sama sekali tidak didasarkan oleh akar budaya. Lebaran
adalah momentumnya. Tengoklah, sebagian besar para pemudik itu adalah kelompok
masyarakat menengah ke bawah yang ingin menunjukkan kepada masyarakat udiknya,
seolah-olah di Jakarta mereka telah mencapai sukses.
Begitulah, mudik pada hari Lebaran di Indonesia sesungguhnya tidak punya
akar tradisi budaya, melainkan lebih disebabkan oleh problem sosial akibat
sistem pemerintahan yang sentralistik dengan Jakarta sebagai pusat
segala-galanya. Mengingat para pemudik sebagian besar adalah mereka yang belum
dapat tinggal dan hidup mapan di Jakarta, maka mudik lebaran menjadi momentum
penting bagi mereka untuk melegitimasi keberadaannya di ibukota sebagai
seolah-olah telah mencapai sukses, baik secara materi maupun sosial. Terlepas
dari latar belakang munculnya fenomena mudik itu, masalah yang ditimbulkannya
dari tahun ke tahun –menjelang dan sesudah lebaran—selalu sama: antrean panjang
karcis kereta api; harga sembako naik, harga tiket bus, kereta api, kapal laut,
pesawat terbang, sampai ke ongkos angkot, bajaj, dan ojek, melonjak seketika;
pesta para calo; kemacetan terjadi di mana-mana, dan jatuh korban kecelakaan
lalu lintas. Lalu, selepas libur panjang lebaran itu, kantor-kantor pemerintah
kosong lantaran para pegawainya menambah jatah libur, orang udik membawa lagi
orang udik yang lain, dan masyarakat desa memelihara mimpi mereka untuk dapat
menikmati gaya hidup kota. Mudik lebaran pada akhirnya lebih banyak mudaratnya
daripada manfaatnya. Pemerintah atas nama pelayanan masyarakat justru
seperti sengaja memanjakan kemudaratan itu.
PENDAPAT MAMAN TENTANG MUDIK DI KOREA
Mudik di Korea berkaitan dengan tradisi budaya yang sejak ribuan tahun lalu dilakukan secara turun-temurun dalam setiap hari raya.Mudik bukan sekadar pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga, melainkan ada dimensi kultural yang sudah melekat menjadi sistem nilai masyarakatnya. Tidak ada sanksi sosial bagi seseorang yang tidak melakukan mudik. Tidak pula dianggap berdosa dan kelak akan masuk neraka. Tetapi, ada nilai sakral, ada orientasi yang jelas berkaitan dengan kehidupan di dunia, ada usaha menjaga harmoni dalam menjaga kebahagiaan segenap anggota keluarga.
Maka, mudik menjadi sebuah keniscayaan agar hidup punya orientasi, lebih optimistik, meningkatkan keakraban dalam hubungan keluarga, dan diharapkan di masa mendatang keberuntungan, karier, dan apa pun yang dilakukan bisa menjadi lebih baik lagi dibandingkan dengan masa sebelumnya. Dengan begitu, mudik bukan lantaran problem sosial, melainkan semacam tuntutan tradisi kultural yang melatarbelakangi dan yang melatardepaninya. Jadi, mudik merupakan tindak pulang kampung lantaran di sana menunggu ritual yang diyakini bakal menjanjikan kehidupan lebih baik.
Mudik di Korea berkaitan dengan tradisi budaya yang sejak ribuan tahun lalu dilakukan secara turun-temurun dalam setiap hari raya.Mudik bukan sekadar pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga, melainkan ada dimensi kultural yang sudah melekat menjadi sistem nilai masyarakatnya. Tidak ada sanksi sosial bagi seseorang yang tidak melakukan mudik. Tidak pula dianggap berdosa dan kelak akan masuk neraka. Tetapi, ada nilai sakral, ada orientasi yang jelas berkaitan dengan kehidupan di dunia, ada usaha menjaga harmoni dalam menjaga kebahagiaan segenap anggota keluarga.
Maka, mudik menjadi sebuah keniscayaan agar hidup punya orientasi, lebih optimistik, meningkatkan keakraban dalam hubungan keluarga, dan diharapkan di masa mendatang keberuntungan, karier, dan apa pun yang dilakukan bisa menjadi lebih baik lagi dibandingkan dengan masa sebelumnya. Dengan begitu, mudik bukan lantaran problem sosial, melainkan semacam tuntutan tradisi kultural yang melatarbelakangi dan yang melatardepaninya. Jadi, mudik merupakan tindak pulang kampung lantaran di sana menunggu ritual yang diyakini bakal menjanjikan kehidupan lebih baik.
Mudik bagi masyarakat Korea, seperti telah disebutkan, berkaitan dengan
hari raya penting. Ada tiga hari raya penting, yaitu dua peringatan tahun baru:
(1) tahun baru Masehi yang dikenal dengan istilah Shinjeong, dan (2) tahun baru
lunar (Imlek) yang dikenal dengan istilah Solnal atau Gujeong , serta hari raya
Chuseok. Meski begitu, yang terpenting dari hari raya itu adalah Tahun Baru
Imlek dan hari raya Chuseok. Pada kedua hari raya itu, penduduk Korea
akanberkumpul dengan seluruh keluarga di rumah nenek dan kakek. Mereka
bersenang-senang di sana dan mengadakan upacara untuk nenek moyang, berziarah
ke makam para leluhur sambil menyajikan makanan yang disukai para leluhur itu
sewaktu mereka masih hidup.
Bagi warga Korea, tahun baru Imlek mempunyai makna sangat khusus yang
wajib diperingati setiap tahun. Bagaimanapun, sukses dalam menjalani kehidupan
ini hanya mungkin dilakukan jika orang mempunyai kesadaran untuk selalu
memperbaharui diri. Maka, pada tahun baru Imlek itulah momentumnya untuk
menyiapkan cara bekerja, berfikir, dan bertindak kearah yang lebih baik. Perlu
ada keinginan dan harapan. Di samping itu, perlu juga selalu membina hubungan
baik dengan keluarga, sanak famili dan handai tolan. Bersamaan dengan itu,
segenap anggota keluarga tidak pula melupakan rasa syukur dan terima kasih
kepada para leluhur. Di sana pelaksanaan upacara penghormatan pada arwah
leluhur merupakan bagian penting dalam hari raya Imlek.
Tahun baru Imlek sebagai hari Solnal, konon sudah menjadi tradisi yang
turun-temurun sebagai warisan kerajaan Silla sejak ribuan tahun yang lalu.
Istilah Solnal berasal dari kata kerja sol-da atau nat-sol-da yang berarti
tidak terkenal atau tidak akrab. Kata itu secara tidak langsung menunjukkan
sikap hati-hati nenek moyang bangsa Korea dengan datangnya tahun baru. Untuk
sesuatu yang asing dan baru, nenek moyang bangsa Korea selalu berhati-hati
menyikapinya. Jadi hari raya Solnal atau tahun baru Imlek adalah waktu yang
tepat untuk merenung, introspeksi, mengevaluasi kehidupan masa lalu, menyucikan
diri, dan sekaligus menatap masa depan dengan penuh kepercayaan diri.
Begitulah pada hari raya Chuseok dan Imlek, segenap anggota keluarga
berkumpul dan bersama-sama melaksanakan upacara penghormatan kepada para
leluhur dan roh nenek moyang. Mereka juga melakukan se bae atau memberi hormat
kepada yang lebih tua dan leluhur mereka dan dengan tulus menyampaikan salam
hormat kepada kakek—nenek, orang tua, mertua, dan handai tolan sambil menikmati
berbagai macam hidangan, mengobrol, tertawa, membangun kebersamaan dan
kehangatan sesama anggota keluarga, menciptakan kebahagiaan bersama. Itulah
tujuan berkumpul di tanah leluhur, di kampung halaman. Jika berbagai ritual itu
sudah dilaksanakan, ada harapan menatap masa depan lebih optimis, lahir
sugesti, dan keyakinan untuk melanjutkan kehidupan menjadi lebih baik lagi.
Dengan begitu, segala aktivitas di kampung halaman itu, seolah-olah sebagai
jaminan spiritual, bahwa nenek moyang dan para leluhur akan mengawal jalan
menempuh masa depan lebih cerah menunju kehidupan yang berbahagia.
Dengan kesadaran itu, mudik sebenarnya hanya proses untuk sampai ke
kampung halaman. Justru di dalam proses perjalanan mudik itulah timbul berbagai
masalah. Seperti juga di Indonesia, masalah transportasi kerap menjadi problem
serius. Di Seoul saja, dengan jumlah kendaraan mencapai lebih dari satu juta,
kemacetan di jalan raya tidak dapat dihindarkan. Di samping itu, pada hari raya
itu banyak juga warga masyarakat Korea yang pergi berwisata ke daerah-daerah
seperti ke Gangneung dan Donghae di provinsi Gangwon di pesisir timur untuk
menyaksikan terbitnya matahari pertama di tahun baru.
sebagian besar generasi muda Korea sekarang cenderung memilih
berpikir praktis dalam perkara mudik. Demikian juga banyak orang tua yang mulai
menyadari bahwa mudik adalah perjalanan yang merepotkan. Maka, meskipun jalan
bebas hambatan dari Seoul ke luar kota makin lancar, waktu tempuh makin cepat,
dan pilihan naik bus patas atau naik kereta api sama nyamannya, tidak sedikit
keluarga yang memilih menghabiskan liburan Imlek atau Chuseok, di Seoul atau
pergi ke tempat-tempat wisata, atau bahkan berlibur ke luar negeri. Kini, mudik
bagi masyarakat Seoul selama waktu libur Tahun Baru menjadi sekadar pilihan.
Masih ada pilihan lain dengan tetap mempertahankan semangat berkumpul dengan
segenap anggota keluarga, yaitu pergi ke tempat-tempat wisata di seluruh
pelosok Seoul atau ke Pulau Jeju atau berlibur ke luar negeri. Konon, sekarang
ini jumlah keluarga yang memilih ke luar negeri selama liburan hari raya,
semakin meningkat. Maka kepadatan di Bandara Internasional Incheon[20] dan
Gimpo,[21] bahkan juga di pelabuhan Busan, dari tahun ke tahun terus meningkat
dan dipadati mereka yang akan berlibur di tempat-tempat wisata atau
menghabiskan waktu di luar negeri bersama keluarga.
Pertanyaannya kini: bagaimana perkara mudik mengalami pergeseran seperti
itu, padahal di sana ada pesan spiritual tidak hanya sekadar berkumpul dengan
segenap anggota keluarga untuk menjalin harmoni, tetapi juga semangat berterima
kasih dan penghormatan pada leluhur dan nenek-moyang? Apakah dengan begitu,
tradisi ziarah membersihkan kuburan para leluhur dan memberi sesajen dan
persembahan kepada roh nenek moyang kini mulai diabaikan?Bukankah pengabaian
itu bertentangan dengan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun selama
ribuan tahun?Apakah penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada para leluhur,
kepada orang tua atau orang yang lebih tua, sudah mulai diabaikan pula oleh
masyarakat Korea generasi sekarang?
Demikianlah, mudik di Indonesia dan Korea, meskipun substansinya sama,
yaitu pulang kampung atau pergi ke kampung halaman, latar belakang tradisi
budaya yang menyertainya berbeda. Di Indonesia, mudik yang dikaitkan dengan
lebaran sesungguhnya lebih disebabkan oleh problem sosial akibat ketimpangan
penghidupan desa—kota sebagai dampak sistem pemerintahan yang sentralistik
dengan menempatkan Jakarta sebagai pusat segala-galanya. Itulah awalnya mudik
dikaitkan dengan Lebaran. Padahal, Lebaran hanya sekadar momentum untuk pulang
kampung bagi pekerja migran, mereka yang belum dapat hidup mapan, orang-orang
udik yang tidak atau belum terdidik, dan perantau setengah hati yang satu
kakinya berada di kampung, dan satu kakinya yang lain enggan berada di Jakarta.
Sementara itu, mudik bagi warga Seoul memang punya akar budaya yang sudah
menjadi tradisi turun-temurun ribuan tahun lamanya. Oleh karena itu, mudik
ditempatkan sebagai momentum penting dalam menatap masa depan dalam menjalani
kehidupan ini.
Tulisan Maman S Mahayana selengkapnya, dapat dibaca melalui link berikut : http://www.lenteratimur.com/mudik-di-indonesia-dan-korea/
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/02/0253314/Akar.Sosiologis.Mudik.Lebaran
Tulisan Maman S Mahayana selengkapnya, dapat dibaca melalui link berikut : http://www.lenteratimur.com/mudik-di-indonesia-dan-korea/
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/02/0253314/Akar.Sosiologis.Mudik.Lebaran
TANGGAPAN TERHADAP TULISAN MAMAN S. MAHAYANA
Sebenarnya perbedaan subtansi mudik sebagai sebuah tradisi di Indonesia dan Korea tentu tidak dapat diukur serta merta. Istilah mudik di Indonesia meski dari penjelasan Maman muncul bukan dari akar budaya lama karena baru dasawarsa 1970-an dapat diamati dan dikenali dengan nyata (dari karya satra/tulisan-tulisan), namun dari segi akar budayanya sebenarnya tradisi mudik tetap sudah ada jauh sebelumnya. Bukankah bangsa kita terkenal dengan budaya dan satra lisan dibanding satra tulis karena adanya keterbatasan-keterbasan.
Menurut Syukri Rahmatullah dalam tulisannya di www.okezone.com tanggal
26 September 2008, yang berjudul "Lebaran dan Tradisi Mudik", dengan
mengutip Umar Kayam (2002), mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial
masyarakat petani jawa. Keberadaannya jauh sebelum Kerajaan Majapahit. Awalnya
kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan
disertai doa bersama kepada dewa-dewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar
para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang
ditinggalkan tidak diselimuti masalah.
Namun, masuknya pengaruh Islam ke Tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis, karena dianggap perbuatan syirik. Meski begitu, peluang kembali ke kampung halaman setahun sekali ini muncul lewat momen Idul Fitri.
Namun, masuknya pengaruh Islam ke Tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis, karena dianggap perbuatan syirik. Meski begitu, peluang kembali ke kampung halaman setahun sekali ini muncul lewat momen Idul Fitri.
Islam sebagai agama besar di Indonesia tidak mengenalkan tradisi
"mudik" dalam ajarannya. Meskipun demikian, ajaran untuk berbakti
kepada orang tua mendapatkan penekanan dan sangat mendalam maknanya. Dengan
demikian dalam konteks "teologis" setelah menjalankan puasa 1 bulan
penuh selama Ramadhan, dan tiba waktunya merayakan Idul Fitri, kelengkapan
pemaknaannya meluas menjadi menemukan kembali hakikat yang "Fitri"
dengan kembali ke kampung asal tanah kelahirannya untuk mengukuhkan
mental/psikologis bertemu dengan orang tua, keluarga, sanak saudara, untuk
meminta maaf, meminta restu dan berbagi kebahagiaan di kampung halaman. Tradisi
"sungkem/sungkeman" dalam masyarakat Jawa mendapat bentuk
perpaduannya dengan momen Idul Fitri. "Tradisi sungkeman" atau
"saling berkunjung untuk bersalaman bermaaf-maafan" dalam tradisi
Jawa mendapatkan tempatnya untuk dilaksanakan setelah shalat Idul Fitri usai.
Ali Rif'an dalam tulisannya berjudul " Mudik dan Pesan
Teologis" yang dimuat diweb http://www.metrosiantar.com,
dengan mengutip Clifford Geertz dalam bukunya, The Intepretation of Cultures
(1973), menyebutkan bahwa kehidupan sosial manusia tidak bisa keluar dari
jaringan nilai dan makna yang mereka rajut sendiri. Dengan kata lain, mudik
juga dipahami sebagai medium untuk membangun kembali jaringan solidaritas dan
soliditas manusia terhadap alam dan lingkungan sosial mereka dulu dilahirkan.
Melalui mudik, mereka sedang merajut asa yang dulu pernah ada pada
setiap diri manusia. Mereka akan mengenang kembali masa-masa di mana saat awal
mengeja kehidupan, mengenal alam sekitar, mengenali diri dan sesama, sekaligus
mengenang wajah orang-orang yang dulu pernah memberi kasih sayang. Tak pelak,
jika mudik juga disebut sebagai momen untuk mengejawantah puncak kerinduan bagi
masyarakat perantauan setelah setahun menapaki jelujur kota yang hampir tanpa
koma.
Karenanya, mudik juga menjadi panggung dramaturgi yang terkadang
diliputi misteri-misteri yang sulit terpahami. Dalam istilah Umar Kayam (1993),
mudik itu kegiatan solidaritas untuk mengukuhkan kembali nilai-nilai budaya dan
sosial tanpa membedakan latar agama, politik, sosial, ekonomi, dan budaya.
Esensi mudik, selain sebagai ritus untuk menyembuhkan dahaga kerinduan kepada
sanak saudara, juga merupakan momentum mengingat kembali ke akar sosial dan
budaya. Mudik berpotensi menyemai dan mengaktualisasikan tradisi-tradisi masa
lampau yang pernah hidup di tiap-tiap desa.
Dari aspek "spiritual" yang tercermin dalam "pesan
teologis Mudik" dapat diperjelas bahwa sebenarnya momentum mudik
membangkitkan semangat rindu kampung halaman secara massal. Tidak hanya dalam
konteks kaum urban yang kembali ke udik karena kaki satunya masih dikampung
halaman. Mereka yang mudik bukan hanya kelas menengah bawah atau yang tidak
terdidik/setengah terdidik. Para pemudik di negeri ini memiliki kesadaran penuh
atas semua yang dilakukan, dan seberapa besar resiko yang harus ditanggung
dalam menjalani mudik selama lebaran.
Gaya hidup kota yang cenderung tidak mengenal secara akrab dan dekat
satu sama lain, serta kurangnya komunikasi secara langsung karena lebih cenderung
dipacu dalam rutinitas kerja. Kondisi ini bagi para perantau telah memuncakkan
keinginan untuk mengalami kembali suasana kekeluargaan yang hangat dan akrab
dengan keluarga dan orang-orang terdekat yang benar-benar dikenalnya, dan
jawaban atas pemenuhan kebutuhan tersebut hanya dapat diperoleh dikampung
halamannya saat Libur Lebaran karena mereka akan menyatu dan berkumpul bersama.
Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Individu Abraham Maslow (dalam Schultz,
1991), manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak
lahir. Kebutuhan ini tersusun dalam tingkatan-tingkatan dari yang terendah
sampai tertinggi. Kebutuhan paling rendah dan paling kuat harus dipuaskan
terlebih dahulu sebelum muncul kebutuhan tingkat selanjutnya. Kebutuhan paling
tinggi dalam hirarki kebutuhan individu Abraham Maslow adalah Aktualisasi Diri.
Jadi prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan empat kebutuhan
yang berada dalam tingkat yang lebih rendah: 1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis,
2. kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman 3. kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan
cinta 4. kebutuhan-kebutuhan penghargaan. Kebutuhan-kebutuhan ini harus
sekurang-kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini, sebelum timbul
kebutuhan akan aktualisasi diri.
Dari sudut pandang teori kebutuhan setidaknya nampak jelas bahwa mudik
merupakan kebutuhan bukan hanya bagi orang tidak terdidik/setengah terdidik
yang bekerja di kota untuk kembali ke udik. Kebutuhan mudik meskipun rangkaian
menuju kelengkapan pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri setelah mereka
"mampu" memenuhi kebutuhan fisiologis, dan rasa aman. Kebutuhan akan
memiliki dan cinta serta penghargaan dapat secara penuh dipahami oleh
lingkungan asal yang berada di kampung halaman. Keluarga dan lingkungan di tempat
asal nya mampu memberikan rasa memiliki dan cinta serta penghargaan yang
diharap-harapkan setiap manusia. Jadi tidak sekedar dikiaskan menjadi
"kaki yang satu masih tertinggal di kampung halamannya".
Anggapan pemerintah melakukan pembiaran terhadap "tradisi
mudik" sebagaimana ditulis Maman perlu dikritisi, karena mudik memang
tidak dapat dilarang. Itu sebuah kebutuhan tidak hanya untuk perantau
"musiman" namun mereka yang berhasil hidup sukses dan bermukim di
kota juga kebanyakan memiliki sanak saudara di desa, entah itu Pejabat,
Direktur, bahkan ilmuwan sekalipun. Mudik juga bukan berarti sekedar pulangnya
para perantau dari Jakarta ke udik, tetapi di manapun mereka merantau untuk
pulang / berkumpul keluarga di kampung halaman, sehingga terjadi persilangan
"jalur mudik" yang Barat ke Timur atau ke Selatan, dan sebaliknya,
yang Utara ke Selatan atau sebaliknya, dan seterusnya.
Basis kehidupan kota pada dasarnya tetap berakar dari
desa-desa/kampung-kampung. Kota adalah wajah tatanan bangunan dan infrastruktur
yang denyut nati dan pergerakan pertumbuhannya butuh tranformasi sosial ekonomi
dan budaya dari desa dan kampung sebagai tempat riil mereka hidup
bermasyarakat.
Meskipun mayoritas pemudik menurut Maman terbesar dari golongan menengan
ke bawah, tidak berarti "mudik" dikonotasikan sebagai budayanya orang
kecil semata. Nilai dan makna mudik tidak sekedar menghambur-hamburkan uang
semata, menghabiskan bahan bakar, sehingga jika mencermatinya hanya
sebatas sudut pandang akan bermakna sempit, sehingga stigma "mudik"
banyak mudarat daripada manfaatnya seakan memperoleh tempat pembenarannya.
Merekayasa hipnosis massal pada tradisi mudik bukanlah hal mudah. Bahkan
jika "mudik" bukanlah menjadi suatu kebutuhan yang disadari tentu
siapapun orangnya belum tentu akan bersedia disuruh mudik, sekalipun
disuruh dan dibiayai. Mudik menjadi suatu kenikmatan psikologis dan mental
ditengah "penderitaan antrean, penuh sesak, berjejal-jejal dan
lainnya". Jika momentumnya bukan karena Ramadhan dan Idul Fitri, tentu
"mudik biasa" hanya mengandung dosis kecil menciptakan sebuah
kenikmatan "ritual mudik". Dan hanya pemudik sejati yang dapat
merasakan mengapa mudik menimbulkan pemuasaan kebutuhan batin, meski secara
fisik melelahkan. Bukankah makna pemenuhan "rasa puas" dan
"kebutuhan aktualisasi" taksiran besarnya standar biaya meraih
kepuasan menjadi hal yang sangat subyektif ?.
Pemerintah telah berusaha menunjukkan komitmennya dalam memberikan
fasilitas dan kenyamanan para pemudik agar "tradisi mudik berjalan lancar,
aman dan nyaman". Langkah Pemerintah dalam peningkatan infrastruktur
layanan transportasi masal, peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur
jalan, jembatan, penerangan jalan dan pos kesehatan, rest area dan sebagainya
telah diupayakan mendukung kelancaran mudik lebaran. Tentu saja
masih banyak yang perlu dibenahi agar tradisi mudik ini semakin aman, nyaman
dan lancar. Yang tidak kalah penting adalah menghimbau agar pemudik dapat turut
bertanggungjawab mensukseskan tradisi mudiknya secara aman melalui persiapan
fisik dan mental memadai serta disiplin dalam perjalanan mudik agar resiko
kerawanan keamanan atau kecelakaan dapat ditekan sekecil mungkin.
Aspek positip mudik bagi pemenuhan kebutuhan tetap dikedepankan dengan
tidak lupa mengurangi dampak negatif yang mengiringinya. Dengan demikian
"mudik yang berkualitas" tidak membawa mudarat dapat diwujudkan tanpa
perlu menyudutkan.
Adakah kemungkinan bahwa budaya "mudik" ini akan punah seiring
berjalannya waktu? Jawabannya "mungkin saja iya" hanya jika pemuasan
kebutuhan para "pemudik" sudah tidak lagi dapat ditemukan di kampung
halamannya. Namun demikian dapat diperkirakan bahwa kebutuhan "mudik
Lebaran" pada rangkaian proses menuju aktualisasi diri bagi mahluk sosial
yang bernama "manusia Indonesia" akan selalu mencari jalannya sendiri
sesuai adat dan tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun.
Selain tetap dikiritisi, perlu ada keyakinan dalam mengikuti "irama
mudik" agar hipnotis massal yang bernama "mudik lebaran" tidak
terlalu banyak berhitung-hitung atau merenungkan mengapa mudik terjadi dan
mengapa perlu terjadi. Apakah demikian seharusnya ? (EIP)
Sumber bacaan:
http://www.lenteratimur.com/mudik-di-indonesia-dan-korea/
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/02/0253314/Akar.Sosiologis.Mudik.Lebaran
http://www.metrosiantar.com/OPINI/Mudik_dan_Pesan_Teologis
http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/02/0253314/Akar.Sosiologis.Mudik.Lebaran
http://www.metrosiantar.com/OPINI/Mudik_dan_Pesan_Teologis
Sumber: http://www.pekalongankab.go.id/fasilitas-web/artikel/sosial-budaya/1219-penafsiran-mudik-lebaran-dalam-aspek-sosial-budaya-bangsa-indonesia-.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar