Hai:)
Ketemu lagi sama saya disini. Kali ini ada Cerpen baru:) Silahkan dibaca yaaa. Semoga suka. Happy reading guys.....
ENJOY:)!
Cast~
Bisma Karisma as Bisma.
Rachel Ray as Rachel.
Dicky Muhammad Prasetya as Dicky.
Muhammad Reza Anugrah as Reza.
Ilham Fauzi as Ilham.
Astreilla Pink as Pink.
Astreilla Pink as Pink.
Bisma Karisma P.O.V
Kemungkinan
besar, hal terindah dalam hidup ini adalah ketika aku mengetahui bahwa
orang yang aku cintai mencintaiku juga. Aku tahu aku salah, seharusnya
rasa ini tak pernah ada. Seharusnya aku bisa menahan rasa yang hadir
dalam hatiku.
Walau siapapun orangnya, aku tak akan
pernah bisa memilikinya jika bukan pilihan orang tuaku. Karena dalam
keluargaku, siapapun harus mau dengan siapa yang mereka pilih nanti yang
terbaik untukku.
Aku memang telah berusaha menentang
mereka, tapi percuma, semua kata-kata yang aku keluarkan untuk mereka
tak pernah mereka terima. Jadi, aku hanya menurut.
Padahal, aku tahu rasa yang timbul didalam hatiku hanya akan membuatku
sakit. Hidup ini sia-sia kalau tanpa dia disisiku. Seperti biasa, aku
selalu terpesona dengan permainan pianonya. Matanya yang berwarna
cokelat cerah seakan menghipnotis ku jika ia memandang tepat kearah
mataku. Seakan ada kekuatan didalam sana. Senyumannya pun tak kalah
cerah. Senyumnya adalah semangatku.
Seseorang menepuk
pelan bahuku. “Hei Bis! Kulihat, latihan kita kali ini tidak berjalan
dengan lancar. Ada apa denganmu?”
Aku tersadar dalam
semua khayalanku. Menoleh dan mendapati Ilham yang diam menunggu
jawabanku. Seperti biasa, aku sedang berlatih dalam grup dance ku. Yah,
aku suka dance. Aku suka musik. Aku suka semua yang berbau seni.
Aku tersenyum tipis. “Ah, tidak apa-apa, aku hanya lapar. Bagaimana kalau kita makan saja?”
“Boleh, bagaimana dengan kalian?” Ilham bertanya pada Dicky dan Reza.
Keduanya hanya mengangguk. Kami melangkah keluar ruang dance dan menuju
restoran.
Kami menuju restoran yang biasa kami tempati.
Kami menggunakan 2 mobil, aku bersama Dicky sedangkan Ilham bersama
Reza. Sesampainya disana, kami disambut baik oleh pelayan-pelayan yang
ada karena kami memang sudah menjadi langganan. Ya, persaudaraan memang
menyenangkan. Aku suka suasana seperti ini. Tak ada rasa canggung
sedikit pun. Semuanya sama, tak ada yang membeda-bedakan.
Kami segera memesan makanan. Setelah itu kami berbicara apa saja
sembari menunggu makanan yang dipesan. Tapi, semenjak Dicky menerima
pesan dari handphonenya, dia kelihatan gelisah. Tak cuma Dicky, Reza dan
Ilham pun sama gelisahnya. Ada apa sebenarnya?
“Ada apa? Kenapa gelisah seperti itu?”
Ilham, Reza dan Dicky saling berpandangan. Kulihat, mereka semakin
gelisah. “Hei, ada apa? Menyembunyikan sesuatu?” Aku dengan suara tidak
sabar bertanya pada mereka.
“Hem…. Begini Bis, kita baru
dapet pesan singkat dari Rachel tadi, dia…..” Reza belum menyelesaikan
perkataannya, tapi aku langsung bertanya lebih lanjut ketika mendengar
nama itu.
“Rachel? Ada apa dengan Rachel? Dia kenapa
Zaaa?” Seketika itu aku tidak tenang, khawatir jika hal-hal yang tidak
diinginkan terjadi pada dirinya.
“Dia…. Bakalan pindah
kuliah di luar negeri. Tepatnya di Rusia. 1 jam lagi dia akan take off.”
Dicky berkata dengan ragu, perlahan-lahan matanya tak melihat kearah
mataku dan mengalihkannya ke lain arah.
“Apa? 1 jam
lagi? Kalian gila? Sedangkan perjalanan dari sini ke bandara lebih dari 1
jam itupun kalau tidak macet! Aku pergi!”
Akupun
segera melangkah kaki menuju parkiran dan langsung mengendarai cepat
mobil yang ku bawa. Pikiranku hanya satu. Tunggu aku Rachel! Tunggu aku!
Dicky Prasetya P.O.V
“Dia…. Akan pindah kuliah di luar negeri. Tepatnya di Rusia. 1 jam lagi
dia akan take off.” Aku berkata dengan ragu, perlahan-lahan mataku tak
melihat kearah mata Bisma dan mengalihkannya ke lain arah. Jika
bersalah, aku memang tidak dapat melihat mata lawan bicaraku. Karena itu
membuatku seakan merasa bersalah.
Sebenarnya bukan
salahku, tapi Rachel yang telat memberi tahu pada kami semua. Kulihat
Bisma yang tidak sabar untuk berbicara.
“Apa? 1 jam
lagi? Kalian gila? Sedangkan perjalanan dari sini ke bandara lebih dari 1
jam itupun kalau tidak macet! Aku pergi!”
“Bis! Bisma! Tunggu!” Reza menatap Bisma yang pergi. Dengan cepat Bisma pergi tanpa mempedulikan aku, Reza dan Ilham.
Anak itu memang sangat keras kepala! Dia tidak segan-segan berbuat
apapun semaunya. Apalagi masalah cinta seperti ini.
Aku memang tidak pernah merasakan apa itu yang dinamakan cinta. Aku
belum pernah. Tak seperti kebanyakan orang. Tapi aku bisa merasakan
perasaan sahabat-sahabat ku jika mereka punya masalah tentang itu. Jadi
aku cukup merasakannya dari orang-orang terdekatku.
“Kita juga ke bandara! Cepat! Tidak ada waktu lagi!” Ilham berdiri
mendahului aku dan Reza. Tanpa berpikir panjang kami langsung menyusul
Bisma yang mungkin sudah jauh. Reza mengendarai dengan cepat dan terasa enjoy. Dia memang sudah terbiasa jika suasana seperti ini terjadi.
“Kak, Lebih cepat lagi! Kita harus sampai sana secepatnya!” Reza dan Ilham memang kakak-adik dan mereka beda 1 tahun.
Ilham yang duduk di belakang sendiri bersuara dengan gelisah. Ya, kami semua sedang seperti itu. Gelisah!
Reza
mempercepat laju mobilnya. Tapi lagi-lagi sial mengikuti kami! Kami
terkena macet beberapa menit ini! Itu membuat kami semakin gelisah.
Bagaimana dengan Bisma? Sudah sampai kah?
--------------------------------------------
Rachel Ray P.O.V
Tak
lama lagi aku akan take off. Apakah ia datang? Seharusnya aku tak
bersikap seperti ini padanya. Ya, seharusnya aku tak jatuh dihatinya.
Seharusnya aku tak membuat ia jatuh cinta padaku. Aku tahu betapa
sakitnya dan kecewanya dia saat aku tak membalas perasaannya.
Sebenarnya aku berbohong, aku berbohong pada perasaanku sendiri.
Mungkin rasanya lebih sakit dari perasaan Bisma terhadapku. Aku yang
salah, bukan Bisma. Ahh, ini karena Bisma yang lebih dulu mengajakku
berkenalan saat itu.
Kami berdua bertemu di stasiun kereta, barang
ku mungkin tak akan pernah ada sekarang jika tak ada Bisma yang
menolongku. Aku mengucapkan banyak terimakasih padanya. Senyumnya yang
membuatku tak rela melepaskan pandanganku dari wajahnya.
Tadinya aku akan pergi dari Jakarta ke Surabaya, tapi karena peristiwa
pencurian itu aku tak jadi pergi. Tak bisa membayangkan bagaimana
jahatnya dunia di luar sana, aku tak mau kejadian pencurian itu
terulang. Aku harus lebih waspada lagi.
Sampai
akhirnya aku bertemu lagi dengannya untuk yang kedua kali. Rasanya bukan
sebuah kebetulan, tapi menandakan sebuah rindu pada seseorang. Ya,
harus aku akui kalau aku merindukan senyumnya yang selalu tersungging di
wajahnya.
Dari itu aku semakin dekat dengannya,
sampai pada akhirnya kami sama-sama punya perasaan yang sama. Tapi aku
tetap tidak bisa, aku tidak tahu apa alasannya. Setiap aku merasakan
sesuatu yang berbeda dalam dirinya, aku berusaha menepisnya jauh-jauh.
Aku merasakan takut yang luar biasa saat perasaan itu mulai ada. Tepatnya, aku belum siap untuk melanjutkan.
Sudah
tidak ada waktu lagi, mungkin Bisma tak akan datang. Aku bangkit dalam
dudukku dan menarik koperku. Tepat didepan pintu masuk aku menengok lagi
ke belakang, berharap Bisma datang dan jatuh di pelukanku.
Ingin rasanya aku memeluknya untuk saat ini. Ingin rasanya aku melihat
senyuman nya yang selalu memberiku kekuatan. Tapi yang kuharapkan tak
kunjung datang.
Jangan tunggu aku untuk selalu
bersamamu Bis, mungkin bukan aku orang yang selalu bersama kamu. Jangan
tunggu aku Bis! Karena aku tahu itu hanya membuatmu sakit. Aku akan
kembali! Aku janji aku pasti akan kembali ke Indonesia! Kapanpun itu.
Aku akan berusaha kembali kesini. Aku kembali berjalan masuk.
-------------------------------------------
Author P.O.V
Bisma berlari di sepanjang jalan bandara. Tak dia hiraukan orang-orang
yang tidak sengaja di tabraknya. Yang tidak ia tahu kini terminalnya.
Ahh, dia benci jika hal ini terjadi padanya! Membuatnya merasakan takut
yang amat tinggi. Bisma takut jika suatu saat Rachel tidak kembali ke
Indonesia dan akan menetap di Rusia sana.
“Rachel
tunggu aku! Tunggu aku Rachel!!” Kata-kata itu yang sekarang ada di
fikiran Bisma saat ini. Terus terucap berulang kali.
Bisma terus berlari, berharap Rachel belum take off. Mataya terus mencari sesorang yang dikenalinya.
Dicky, Reza dan Ilham berlari masuk dan berusaha mencari Bisma.
“Terminalnya dimana?” Reza berteriak didalam larinya.
“Setahu aku di 2F. Apakah Bisma tahu?” Dicky, Reza, dan Ilham
memberhentikan larinya. Nafasnya berhembus tak beraturan.
“Dia tidak tahu. Sms dia Ky!” Dicky mengeluarkan handphone nya dan
mengirim pesan singkat ke Bisma. “Ayo kita kesana!”
Handphone Bisma bergetar, dia merogoh saku celana kiri nya kemudian
membuka sms yang masuk. Matanya membaca deretan huruf di handphone nya.
Senyum terlihat diwajahnya. Tanpa berfikir panjang dia langsung berlari
menuju terminal dimana Rachel take off. Sudah tidak ada waktu lagi!
Hampir sampai. Oh god! Semua sudah masuk ke dalam pesawatnya, tak akan bisa lagi!
“Pak, aku mau bertemu dengan teman saya pak. Ijinkan saya untuk
menemuinya, pak!” Bisma berkata dengan nafas tidak beraturan.
“Maaf, tapi pesawatnya akan segera berangkat. Tidak bisa lagi, kamu
terlambat!” bapak satpam itu berlalu begitu saja dari hadapan Bisma.
Cairan bening yang mengumpul di sudut matanya kini perlahan jatuh. Dia
bertekuk lutut. Matanya mengamati pesawat yang akan membawa Rachel ke
luar sana. Pesawat itu perlahan jalan dan lepas landas, mata Bisma masih
saja mengamati pesawatnya sampai pesawat itu tidak terlihat lagi.
“Kumohon kau kembali Rachel! Kembali lah suatu saat nanti!” Bisma
berkata sendu dalam tangisnya. Ia menunduk dalam-dalam.
Bisma, Dicky, dan Ilham saling berpandangan. Menatap kasian sahabatnya
itu. Dicky memegang bahu Bisma. Bisma masih saja menunduk. Seharusnya
Bisma tidak merasakan ini. Seharusnya dia bisa melupakan ini untuk
selamanya! Menganggap semua tidak terjadi dan mulai dari awal lagi.
---------------------------------------
1 Tahun Kemudian~
Rachel Ray P.O.V
Aku kembali! Aku kembali lagi ke Indonesia. Kurasa, aku hanya beberapa
bulan disini dan akan kembali lagi ke Rusia. Kuliahku belum selesai
masih ada yang diselesaikan lagi.
Bisma…. Bagaimana
dia sekarang? Apa dia sudah melupakanku begitu saja? Jujur, aku rindu
padanya. Selalu rindu pada senyumnya itu. Apa dia berusaha melupakan
semuanya? Aku seperti tidak memiliki jiwaku jika tak ada dia
disampingku. Dia seperti tulang rusukku. Menyempurnakanku.
Apa aku akan menemuinya lagi? Aku sendiri yang bilang pada diriku bahwa dia tidak boleh menungguku.
Aku berjalan sembari menarik koperku. Melangkah menuju kedepan bandara, mencari taksi.
Taksi melaju kearah apartemen ku yang lama. Keadaannya masih seperti 1 tahun yang lalu. Tak ada yang berbeda.
Aku lapar. Lebih baik aku ke restoran terdekat saja. Aku berjalan keluar lagi. Menuju restoran.
Aku memasuki restoran itu. Menatap bingung orang-orang yang begitu
ramai di depan. Keadaan sudah mulai sangat ramai. Tapi aku tidak
menghiraukannya, magh ku sudah sangat sakit. Ini sudah jam 4 sore dan
aku belum makan siang. Selalu saja telat makan. Aku memanggil pelayan
dan memesan makanan.
“Itu aja pesanannya mbak? Ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Sudah mbak itu saja. Oh iya mbak, di depan ada apaan ya? Kenapa sangat ramai sekali?”
Pelayan itu menoleh sebentar ke depan, orang-orang masih saja ramai dan
berteriak-teriak. “Oh, itu ada artis boyband. Namanya SMASH, mereka
lagi lauching album.”
Aku mengangguk mengiyakan.
Kemudian pelayan itu berlalu untuk mengambil pesananku. SMASH? SMASH?
Hem, nama yang sangat aneh.
Setelah selesai makan, aku
ingin langsung pulang. Tapi, diluar sangatlah ramai dan aku tidak tahu
bagaiman caraku untuk keluar dari sini. Salah satu pelayan berlalu di
hadapanku.
“hem, maaf mbak. Aku mau keluar dari restoran ini, tapi di luar sangat ramai. Bagaimana aku bisa keluar?”
“Mbak lewat pintu belakang aja mbak, mari ikut saya.”
Aku pun mengikuti pelayan itu, sampai pada pintu belakang. Ini lumayan
ramai tapi masih bisa untukku keluar dari sini.
Brukk. Aku menabrak seseorang yang kini jatuh di depanku. Aku langsung membantunya bangun.
“Sorry, Aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa kan?”
Perempuan itu mendongakkan kepalanya, dan betapa terkejutnya aku saatku
tahu siapa perempuan yang ada dihadapanku ini.
“Astag Pink! Kau kah itu?” Ucapku masih dengan wajah shockku. Yah, dia Pink! Teman SMP-ku dulu!
“Rachel? Astaga! Bagaimana kabarmu?”
Pink memelukku sesaat. “Seperti yang kau lihat. Aku baik. Bagaimana kuliahmu Pink?”
“Ahh, pembicaraanmu selalu saja tak jauh dari itu. Aku melanjutkan study ku ke Bandung, tidak jauh. Kau bagaimana?”
“Ahaha, aku ke Rusia, hari ini baru saja sampai.”
“Jauh sekali.”
Aku dan Pink terkekeh pelan. Pink menatap ku bingung. “Apakah kau smashblast? Sedang apa kau disini?”
“Smashblast? Apa itu? Aku baru saja mengisi perutku.” Aku membalas
tatapan bingungnya sambil tersenyum tipis kearahnya.
“Kau tidak tahu SMASH? Ahh, iya.. Aku lupa kau di Rusia.” Pink tertawa
lagi. Dia Nampak bahagia hari ini. Senyumnya selalu tersungging di
bibirnya. Eh, mengapa kata-kata itu mengingatkanku pada Bisma? Ahh
sudahlah mungkin aku dan Bisma tidak akan bertemu lagi.
“Aku harus pergi Pink, sampai jumpa nanti.” Pink mengangguk dan tersenyum. “Hati-hati Hel!”
Aku tersenyum pada Pink dan pergi setelah ia meminta PIN BB, twitter,
nomor handphone atau apapun milikku ku agar dia tidak susah
menghubungiku.
Aku melanjutkan langkahku untuk kembali
ke apartementku. Tapi lagi-lagi aku menabrak seseorang. Kali ini aku
yang terjatuh dan dia mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima uluran
tangannya dan berdiri. Betapa terkejutnya aku saat tahu siapa yang di
depanku ini.
Seorang laki-laki yang memakai kemeja
putih lengan pendek dan terdapat garis hitam miring dibaju itu. Aku
melihat pakaian orang-orang yang berada di belakang cowok itu pun tak
jauh berbeda dengan pakaian yang dia pakai. Kompak. Itu yang aku lihat.
Kini, yang ada dihadapanku yaitu Bisma! BISMA! Aku rindu padamu Bis!
Tapi kenapa kamu seakan diam dan tidak pernah mengenalku? Apa kau sudah
melupakanku? Secepat ini?
Jujur, hatiku sakit jika ia
benar-benar melupakanku dari hidupnya. Seakan menutup semua kenangan
bersamaku. Seakan fikirannya telah kotor dengan diriku. Apa yang harus
kulakukan?
Ahh! Sudahlah Rachel Ray! Kamu sendiri yang
mengucapkan kata-kata ‘jangan tunggu aku!’ kepada Bisma di Bandara saat
itu. Sekarang semuanya benar terjadi, toh? Mau bagaimana lagi?
“Rachel? Kamu benar Rachel? Astaga! Kapan kau kembali dari Rusia?”
Orang itu, Dicky! Dicky mengajakku ke tempat seperti backstage. Mengapa
ia mengajakku ketempat ini? Bukankah ini hanya backstage seorang artis
yang ingin perform di panggung?
“Dicky… Iya aku Rachel. Hari ini aku baru kembali. Bagaimana kabarmu?”
Wajahku dibuat secerah mungkin agar dia tidak membaca raut wajahku yang
kecewa atas perlakuan Bisma. Aku tersenyum tipis.
“Aww! Kepala gue!! AArrghhhh!!”
Aku menoleh ke sumber suara itu. Kudapati Bisma yang kini bertekuk
lutut dengan kedua tangan memegangi kepalanya. Sesaat itu juga dia
pingsan.
Still Rachel Ray P.O.V
“Jadi
dia benar-benar melupakanku?” Ku pandangi ketiga orang yang
menceritakan semuanya tentang Bisma saat aku pergi. Dia datang waktu
itu! Tapi dia telat saat aku masuk ke dalam pesawat.
Ilham, Reza, dan Dicky berkata, perlakuan Bisma selalu aneh disaat aku
tidak disisinya. Dia melupakanku! Aku harus rela kenyataan pahit ini!
Kulihat mata Bisma yang perlahan-lahan membuka. Dia membuka matanya dan
mendapati ku didepannya. Dia masih saja menatapku jika aku tidak
mengalihkan pandangannya saat itu.
“Rachel!!!!!”
Tanpa kuduga, Bisma langsung menarikku kedalam pelukannya. Apa dia
ingat aku? Apa dia hanya berbohong pada Ilham, Reza dan Dicky bahwa ia
melupakanku? Dia memelukmu Rachel! Dan itu artinya dia ingat padamu!
Bolehkah aku menghentikan waktu saat ini juga? Aku nyaman didekapannya.
Jangan biarkan aku dan Bisma berpisah Tuhan! Aku sayang padanya. Dan
kenyataan pahit, bahwa aku mencintainya……………
“Hel! Aku
kangen kamu Hel! Aku kangen kamu! Maafin aku yang berusaha untuk
melupakanmu. Tapi aku tidak bisa, kamu selalu saja hadir di dalam
fikiranku. Aku tidak mau kehilangan orang yang sayang untuk yang kedua
kalinya!”
Tubuhku perlahan menegang mendengar
kata-kata Bisma yang baru saja di lontarkannya. Tenggorokanku tercekat,
tak bisa mengeluarkan satu kata sekalipun.
Kami saling
mencintai, tapi kenapa keadaan yang selalu saja menghalangi kami untuk
bersatu? Bolehkah aku memilikinya walaupun hanya sesaat? Aku
menginginkannya! Walaupun aku tahu pada akhirnya aku akan berpisah
dengannya. Karena aku akan selamanya di Rusia.
Bisma melepaskan pelukannya. “Hel, aku mencintaimu Hel! Maukah kamu menjadi pacarku?”
Tanpaku sadari, kepalaku mengangguk dan tersenyum. Mata Bisma berbinar,
aku tahu ia bahagia saat aku menerimanya. Aku pun sama Bis!
Bisma Karisma P.O.V
Tahukah kamu? Aku baru saja mendapatkan hal yang terindah dalam
hidupku. Aku mendapatkannya! Ia mencintaiku juga. Terimakasih Tuhan..
Kau memberi dia untukku.
Walaupun aku tersiksa saat
dia meninggalkanku, saat ia tidak ada disisiku. Rasanya, hidupku percuma
jika tidak ada dia disisiku.
Cinta memang berlebihan,
tapi itulah yang kurasakan saat ini. Pernahkah kamu merasakan apa yang
saat ini aku rasakan?
“Jadi kamu Boyband SMASH itu?
Aku salut padamu Bis, tidak sia-sia kamu latihan dance terus menerus
bersama Reza, Ilham dan Dicky. Kamu berhasil!”
Rachel
bertanya padaku ketika aku baru saja menyelesaikan konser lauching album
pertama SMASH. Aku hanya mengangguk karena aku sangat lelah.
Rachel tersenyum padaku, tangannya mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia
mengeluarkan tissue dan mengelapkannya di seluruh wajahku. Aku tersenyum
padanya.
“Terimakasih Rachel.”
“Beristirahatlah Bis, kau sangat lelah.” Ia mengelus pelan rambutku dan mengecup keningku sesaat.
Sangat nyaman! Itulah yang kurasakan ketika dia memperlakukanku seperti
itu. Penuh kasih. Aku tersenyum lagi kepadanya sebelum aku bersender ke
bahunya.
Author P.O.V
Sudah sampai 4 bulan Rachel dan Bisma memiliki hubungan khusus. Mereka
sangat bahagia. Penuh kasih sayang dan tidak pernah mengeluh jika mereka
mempunyai masalah. Mereka menjaga hubungannya, tak ada yang mau
mengecewakan satu sama lain.
Dan, sudah 4 bulan juga Rachel tinggal di Indonesia. Itu artinya, dia harus kembali lagi ke Rusia.
Rachel harus membicarakan soal ini terhadap Bisma, hatinya sudah siap
jika ia sakit. Ia tahu resikonya jika dia menerima Bisma saat itu.
“Bis, aku mau bicara.”
“Ada apa Hel?”
“Aku akan kembali ke Rusia besok.”
Rachel menunduk, tak berani menatap mata Bisma. Bisma terkejut mendengar semua itu dari bibir Rachel.
“Mengapa kau baru bilang sekarang? Kalau begitu aku akan ikut denganmu!
Aku akan membereskan barang-barangku sekarang! Aku……”
Belum sempat Bisma meneruskan bicaranya, Rachel memotongnya dan menatap tajam mata Bisma.
“Jangan
Bis! Tidak perlu! Kamu sangat sibuk dengan karier-mu bukan? Seharusnya
kamu bersyukur karena kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Sekarang kamu sudah mendapatkannya dan itu tidak boleh dilepas begitu
saja! Seharusnya kamu bisa lebih dari itu! Aku yakin kamu pasti bisa,
karena kamu pantang menyerah.”
“Aku tidak sibuk Hel! Kamu tahu sendiri kan aku selalu punya waktu untuk kamu? Tapi, kamu akan kembali bukan?”
Rachel menunduk lagi untuk menyembunyikan wajah kecewanya. Kepalanya
perlahan menggeleng. Dalam menunduk, Rachel tahu bahwa Bisma sangat
kaget dan kecewa.
“Kalau begitu kita bisa berhubungan
baik selama kamu di Rusia dan aku di Indonesia. Kita bisa mentionan,
atau kita bisa skype-an selama kamu disana.”
Rachel
tersenyum. “Aku bisa melakukan itu semua, tapi hubungan kita cukup
sampai disini Bis. Aku akan menghubungi mu saat sampai disana sebagai
teman.”
“Maksud kamu hubungan kita selesai? Tapi kenapa Hel? Kamu sudah tidak sayang sama aku?”
“Bukan seperti itu Bisma, aku hanya ingin kita tidak sama-sama egois.
Kalau aku masih mempertahankan hubungan kita, itu sama saja kalau kita
berdua itu egois! Kita sudah tidak bisa lagi, Bis. Kamu harus mencari
orang lain untuk menjaga kamu. Tapi orang itu bukan aku.”
Bisma sangat terpukul dengan perkataan Rachel. Ia tidak menyangka jika
ia kehilangan lagi. Sakit. Itu yang ia rasakan saat ini.
Bisma tersenyum tipis. “Aku dan teman-temanku akan mengantarkanmu kebandara besok!”
-------------------------
Bisma Karisma P.O.V
“Cukup sampai disini kalian mengantarkanku.” Rachel tersenyum, aku memberikan koper Rachel yang kuseret tadi.
“Makasih Bis.”
Aku tersenyum juga. Kalian tahu? Sesek yang kurasakan di dada ini menjalar kemana-mana didalam tubuhku.
Aku tidak bisa membayangkan hidupku jika dia tidak disisiku selamanya. Apa aku akan bertemu kembali dengannya?
Kulihat Rachel berpamitan pada kami satu persatu. Dimulai dari Reza,
Ilham, Morgan, Rafael, Rangga, Dicky, dan yang terakhir aku.
Aku menatap matanya tajam. Kulihat butiran air mata terkumpul di sudut
matanya, perlahan mulai jatuh dan membasahi pipinya.
Mataku berkaca-kaca. Kedua tanganku bergerak untuk memegang wajahnya,
dan aku menghapus air matanya dengan menggunakan ibu jariku dari
pipinya.
Berhentikan waktu Tuhan! Aku tak sanggup jika
aku berpisah dengannya sekarang. Aku tak tahu aku akan jadi apa nanti
jika dia tak ada di kehidupan nyataku. Akankah aku sanggup melewati itu?
Rasanya, aku ingin mengajaknya berlari dan bersembunyi agar dia tidak
pergi. Dadaku sesak, air mata perlahan dari kedua mataku.
Rachel memelukku dengan erat, akupun membalasnya. Mengelus pelan
rambutnya. Akupun memeluknya sangat erat. Kudengar isakan tangis yang
dari diri Rachel.
“Bis, aku menyayangimu. Aku
mencintaimu. Tapi, aku sadar kalau aku tak pantas untukmu. Seharusnya
aku tidak boleh memiliki perasaan ini padamu. Karena aku tahu kamu dan
aku akan sakit jika memiliki perasaan seperti ini. Kamu boleh menganggap
aku egois, tapi kamu tidak boleh membenciku Bis. Tidak boleh
membenciku! Karena aku akan sangat sakit jika kamu seperti itu.”
Aku melapaskan pelukannya dan memegangi kedua bahunya. Mataku menatap kearah matanya yang kini sembab.
“Hel! Aku selalu bilang sama kamu aku menyayangimu dan aku mencintaimu.
Apa itu kurang cukup? Kamu pantas untukku Hel! Kita saling mencintai
bukan? Tapi aku tidak tahu sebab apa yang menyebabkan kita tidak bisa
bersatu. Dan perlu kamu ketahui aku tidak menganggapmu egois dan aku
sama sekali tidak membencimu.”
Isakan tangis terdengar
tambah keras dari Rachel. “Kamu tidak boleh nangis Rachel.” Aku
menghapus lagi air mata yang terus turun dari matanya.
Reza menepuk bahuku pelan. Aku menoleh kearahnya dan menghapus pelan
airmataku ini. Kau ini laki-laki lemah Bis! Jangan cengeng!
Reza mengambil tanganku dan tangan Rachel dan dia menaruh tanganku dibawah tangan Rachel.
“Mungkin aku bisa sedikit menambahkan. Kalian saling mencintai bukan?
Tapi mengapa kalian sama-sama tidak sanggup untuk meneruskannya? Aku
tahu perasaanmu Hel! Tapi kamu sama saja berbohong sama perasaanmu
sendiri dan kamu membuat sakit hatimu sendiri. Aku juga tahu perasaanmu
Bis! Jadi apa yang menghalangi kalian untuk bisa bersama lagi?
“Benar, apa yang dikatakan Reza, Bis! Seharusnya kau melakukan
sesuatu!” Dicky menambahkan dan ikut menyatukan tanganya diantara
tanganku dan tangan Rachel.
“Aku yang tidak bisa!” Rachel berkata sambil menunduk.
“Rachel?”
Dia mengangkat kepalanya perlahan. “Aku tidak bisa melanjutkan hubungan
kita Bis! Jangan tanyakan aku mengapa, ini sudah keputusan terakhirku.
Maafkan aku Bis, ini yang terbaik untukmu dan juga yang terbaik
untukku.”
“Berjanjilah kau akan selalu menghubungiku disana. Kau tidak boleh melupakanku.”
Rachel tersenyum, kemudian masuk untuk periksa tiket. Dia berjalan dan
tanpa menengok lagi kebelakang. Aku dan teman-teman masih saja
mengamatinya “Aku akan selalu merindukanmu Hel!” Satu tetes air mata
jatuh lagi dari pelupuk mataku dan langsung aku hapus cepat-cepat.
“Jangan lemah Bis! Harus kuat! Kamu harus terbiasa tidak ada dia dikehidupanmu!”
Gimana cerpennya? Makasih yang sudah baca cerpen nya. Semoga suka ya:)
By: Amanda Hanifah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar