PENGEMBANGAN
KREATIVITAS
DAN
KEBERBAKATAN
DOSEN
: MAHARGYANTARI PURWANI DEWI
DISUSUN
OLEH :
AMANDA
HANIFAH NUR H (10515610)
DYAH
AYU LANTYASARI HP (12515083)
WELLA
RIZKI IRAWAN (17515114)
KELAS
: 3PA12
UNIVERSITAS
GUNADARMA
FAKULTAS
PSIKOLOGI
JURUSAN
PRIKOLOGI
2017/2018
TEORI –
TEORI MENGENAI KREATIVITAS
A. Teori Pendorong Kreativitas
Kreativitas agar dapat terwujud diperlukan dorongan
dari individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi
ekstrinsik).
Teori mengenai kreativitas meliputi:
1. Motivasi
Intrinsik dari Kreativitas
Setiap
individu memiliki kecenderungan atau dorongan untuk dapat mewujudkan potensi
dan bakat yang dimilikinya, mewujudkan dirinya, dorongan berkembang menjadi
lebih matang, dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitasnya yang
sering dikenal dengan mengaktualisasikan dirinya secara nyata.
Motivasi
intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang
melakukan tindakan atau perilaku tidak berasal dari motif-motif atau
dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri. Motivasi intrinsik merupakan
motif-motif yang menjadi aktif atau cara berfungsinya tidak perlu dirangsang
dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan
sesuatu. Motivasi Intrinsik juga dikatakan sebagai motivasi internal untuk
melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri) dan membutuhkan
kondisi yang tepat untuk diekspresikan.
Kreativitas
setiap individu, dalam organisasi sebagai ilustrasi, ditentukan oleh tiga
komponen yaitu keahlian, keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi.
Keterampilan berpikir kreatif menentukan seberapa fleksibel dan imajinatif
orang-orang dalam organisasi saat menghadapi masalah. Niat dari dalam diri
untuk memecahkan masalah yang ada, biasanya justru membawa pada solusi-solusi
yang lebih kreatif. Ketimbang misalnya bila motivasi memecahkan masalah itu
muncul atau ada karena ingin memperoleh imbalan finansial. Komponen motivasi
ini disebut motivasi intrinsik. Ini merupakan salah satu motivasi yang dapat
dengan cepat dipengaruhi keberadaannya oleh kondisi lingkungan kerja.
Berbeda dari
motivasi ekstrinsik, motivasi intrinsik berkaitan dengan keinginan dan minat
dari dalam diri untuk melakukan sesuatu (internal
desire) yang mulia. Orang akan lebih kreatif bila ia merasa termotivasi,
utamanya oleh karena minat, kepuasan, dan tantangan dari pekerjaan itu sendiri.
Jadi, termotivasi bukan karena tekanan-tekanan eksternal, seperti uang atau
kendali ketat sang atasan.
Mumford dan
Gastafson (dalam Ng Aik Kwang, 2001:4) seorang yang kreatif terbuka untuk
menerima pengalaman hidup, memiliki minat dalam hidup dan tertarik untuk
mendalami ide-ide yang kompleks, sehingga dapat mengembangkan dan menggunakan
model mental yang kompleks untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata. Walaupun
kerja kreatif telah dijadikan pertimbangan, namun model mental yang kompleks
belum mencukupi. Karena Kreativitas sebagai ide yang abstrak dan tidak dapat
diukur (untested) harus diterjemahkan
menjadi tindakan yang konkret. Kreativitas dengan menggunakan teknik penilaian
secara konsensus (consensual assesment
technique) (Ng Aik Kwang, 2011:5).
Ambile
menyatakan suatu produk atau respon disebut kreatif apabila beberapa penelitian
yang sesuai secara bebas menyetujui bahwa itu disebut kreatif. Peneliti yang
sesuai dalam kompetensi melukis, arsitek dalam kompetensi desain dan penulis (writers) dalam kompotensi mengarang.
Dengan menggunakan teknik penilaian konsensus terhadap kreativitas seperti
tersebut di atas, Ambile dan teman-teman telah melakukan berbagai studi empiris
yang menekankan motivasi intrinsik, yang menyenangi apa yang sedang ia lakukan,
dengan tingkah laku kreatif. Peran penting dari motivasi instrinsik digambarkan
oleh Amabile (dalam Ng Aik Kwang, 2001:6) dalam model komponen Kreativitas yang
terdiri dari tiga komponen penting:
a. Keterampilan dalam ranah yang
relevan (domain-relevant skill) yang
mengacu pada pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang berkaitan dengan
ranah khusus dimana seorang yang kreatif tertarik.
b. Keterampilan yang relevan dengan kreativitas
(creativity-relevant skill) yang
mengacu pada kemampuan kognisi, seperti kemampuan berpikiran divergent, sebaik
seperti ciri-ciri kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman,
kecondongan (penchant) mengambil
resiko, toleransi yang besar terhadap kebermaknaan ganda (ambiquitas).
c. Motivasi intrinsik yang mengacu pada
keinginan untuk melakukan suatu tugas yang masih dipertanyakan. Tanpa adanya
motivasi instrinsik ini, ia akan mengahadapi kesulitan-kesulitan untuk tetap
pada jalurnya atau pendapatnya, terutama dengan banyaknya hambatan yang ia
hadapi, misalnya hadiah eksternal yang mempengaruhi untuk meninggalkan idenya.
Ketiga pendekatan yang telah
diuraikan di atas masih memerlukan adanya aspek kunci, karena Kreativitas tidak
akan ada terjadi dalam keadaan sosial yang hampa (vacum). Sebaliknya justru terdapat hubungan yang erat antara
seseorang yang kreatif dengan dunia sosialnya, dimana ia dapat menbentuk
aktivitas kreatifnya.
2. Kondisi Eksternal Yang Mendorong Perilaku Kreatif
Kreativitas
dapat berkembang dalam suasana non-otoriter, yang memungkinkan individu untuk
berpikir dan menyatakan diri secara bebas, dan di mana sumber dari pertimbangan
evaluatif adalah internal (Rogers, dalam Vernon, 1982).
Carl Rogers
(dalam Vernon, 1982) menegaskan bahwa satu persyaratan utama bagi
berkembangannya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan. Kebebasan
untuk berpikir, menyatakan pikiran, mencipta, yang dapat kita ringkaskan pada
moyangnya segala rupa kebebasan yang menjadi hak asasi manusia, yakni adanya
kebebasan melakukan pilihan (freedom of
choice).
Kreativitas
memang tidak dapat dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh, individu
memerlukan kondisi yang memupuk dan memungkinkan untuk mengembangkan sendiri
potensinya.
Bagaimana
cara menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri
individu (internal) untuk mengembangkan kreativitasnya?
Menurut
pengalaman Rogers dalam psikoterapi, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan
psikologis memungkinkan timbulnya kreatifitas yang konstruktif.
a. Keamanan Psikologis
· Menerima individu sebagaimana adanya
dengan segala kelebihan dan keterbatasannya (memberi kepercayaan, yang dapat
memberi efek menghayati suasana keamanan).
· Mengusahakan suasana yang ada
didalamnya evaluasi eksternal tidak ada (atau sekurang-kurangnya tidak bersifat
atau punya mempunyai efek mengancam).
· Memberikan pengertian secara empatis
(dapat ikut menghayati) perasaan, pemikiran, tindakan serta dapat melihat sudut
pandang, dan tetap menerimanya, memberi rasa aman.
Dalam suasana ini “real self”
dimungkinkan timbul, untuk diekspresikan dalam bentuk hubungannya dengan
lingkungannya.
b. Kebebasan Psikologis
Jika setiap
orang memiliki kesempatan untuk bebas mengeksperiskan secara simbolis
pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya, permissiveness
ini memberikan pada seseorang kebebasan dalam berpikir atau merasakan sesuai
dengan apa yang ada dalam dirinya. Mengekspresikan tindakan konkret
perasaan-perasaannya (misalnya dengan memukul) tidak selalu dimungkinkan,
karena hidup dalam masyarakat selalu ada batas-batasnya, tetapi eksperesi
secara simbolis hendaknya dimungkinkan. Kadang anak kreatif tidak kooperatif,
egosentris, terlalu asertif, kurang sopan, acuh tak acuh terhadap aturan, keras
kepala, emosional, menarik diri dan menolak dominasi atau otoritas guru. Berani
dalam pendirian, ingin tau, mandiri dalam berfikir dan mempertimbangkan,
bersibuk diri terus dengan pekerjaanya, inisiatif, ulet, tidak bersedia
menerima pendapat otoritas begitu saja.
Menurut
Simpson (dalam Utami Munandar 1999:28) dorongan internal merupakan: “the intiative that one manifest by his power
to break away from the usual sequence pf thought”. Insitiatif yang
dimanisfestasikan dengan dorongan untuk keluar dari seluruh pemikiran biasa.
Mengenai dorongan dari lingkungan, ada lingkungan yang tidak menghargai imajinasi
atau fantasi dan menekankan kreativitas dan inovasi, kreativitas juga tidak
akan berkembang dalam budaya yang terlalu menekan konformitas dan tradisi yang
kurang terbuka terhadap perubahan atau perkembangan baru (Utami Munandar
1999:28-29).
DAFTAR
PUSTAKA
Muhandar, Utami.
1999. Creativity and Education.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ng, Aik Kwang.
2001. Why Asians are Less Creative Than
Westerners. Illustrated:
Prentice Hall.
Rogers, C. 1982. Towards a Theory of Creativity. Dalam
P.E Vernon (Ed.), Creativity. Middlesex: Penguin Books.
