THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 8
LOVED
.
.
.
"Kau takut
terbang?" Suara Pencari penuh ketidakpercayaan dan cenderung mengejek.
"Kau telah berkelana Melewati
ruang angkasa delapan kali, tapi takut naik pesawat ulang-alik ke Tucson,
Arizona?"
"Pertama, aku tidak
takut. Kedua, ketika berkelana Melintasi ruang angkasa, aku tidak begitu
menyadari di mana aku berada, karena tubuhku tersimpan di dalam bilik
hibernasi. Dan ketiga, inang ini akan menderita mabuk perjalanan di
pesawat."
Pencari memutar bola
matanya, memperlihatkan rasa jijik. "Kalau begitu, minum obat saja! Kau
mau apa seandainya Penyembuh Fords tidak dipindahkan ke Saint Mary's? Mau
bermobil ke Chicago?"
"Tidak. Tapi karena pilihan bermobil kini masuk akal, aku akan mengambilnya. Pasti menyenangkan Melihat dunia ini sedikit lebih banyak lagi. Padang gurun mungkin menakjubkan-"
"Tidak. Tapi karena pilihan bermobil kini masuk akal, aku akan mengambilnya. Pasti menyenangkan Melihat dunia ini sedikit lebih banyak lagi. Padang gurun mungkin menakjubkan-"
"Padang gurun sangat
membosankan."
"--dan aku tidak
terburu-buru. Aku punya banyak hal untuk dipikirkan, dan aku akan sangat
menghargai kesendirianku." Kupandang tajam Pencari ketika menegaskan kata
terakhir itu.
"Bagaimanapun, aku
tidak mengerti apa gunanya mengunjungi Penyembuh lamamu. Ada banyak Penyembuh
yang kompeten di sini."
"Aku merasa nyaman
dengan Penyembuh Fords. Dia berpengalaman dalam hal ini, dan aku ragu apakah
aku sudah memperoleh semua informasi yang kuperlukan." Kembali kupandang
Pencari dengan tajam.
"Kau tidak punya
waktu untuk tidak terburu-buru, Baekhyun. Aku mengenali tanda-tandanya."
"Maaf jika aku tidak
menganggap informasimu penting. Aku cukup mengenal perilaku manusia, sehingga
bisa mengenali tanda-tanda manipulasi."
Pencari menatapku berang.
Aku
sedang memenuhi mobil sewaanku dengan beberapa barang yang rencananya kubawa.
Pakaian cukup banyak untuk bekal bepergian selama seminggu tanpa mencuci,
demikian juga perlengkapan mandiku.
Walaupun
tidak banyak yang kubawa, lebih sedikit lagi barang yang kutinggalkan. Hanya
sedikit sekali barang pribadi yang telah kukumpulkan. Bagaimanapun, setelah
apartemen kecil itu kuhuni berbulan-bulan, dinding-dindingnya masih telanjang,
rak-raknya masih kosong. Mungkin aku tak pernah bermaksud bermukim di sini.
Pencari
berdiri di trotoar, di samping bagasiku yang terbuka, dan menghujaniku dengan
pertanyaan serta komentar sinis ketika aku berada dalam jarak pendengaran.
Setidaknya aku sangat yakin ia tak punya kesabaran untuk membuntutiku sepanjang
perjalanan. Ia akan naik pesawat ke Tucson, persis rencananya semula untuk
mempermalukanku.
Sangat
Melegakan. Kubayangkan seandainya Pencari bergabung bersamaku setiap kali aku
berhenti untuk makan, menungguku di luar kamar mandi pompa bensin, dan
menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan menyelidiknya ketika mobilku berhenti
di lampu merah. Aku bergidik membayangkannya.
Jika
tubuh baru berarti aku terbebas dari Pencari... well, pilihan itu cukup
menarik.
Aku
juga punya pilihan lain. Aku bisa meninggalkan dunia ini sebagai suatu
kegagalan, dan pindah ke planet kesepuluh. Aku bisa mencoba Melupakan seluruh
pengalaman ini. Bumi hanya akan menjadi kedipan singkat di dalam catatanku yang
tak bernoda.
Tapi
ke mana aku akan pergi? Sebuah planet yang pernah kutinggali? Singing World
adalah salah satu planet kesukaanku, tapi haruskah aku menyerahkan penglihatan
dan jadi buta? Planet of the Flowers sangat indah... Tapi bentuk kehidupan
berklorofil memiliki jangkauan emosi yang sangat kecil. Kelambanannya bakal tak
tertahankan, setelah aku mengalami irama cepat di tempat manusia ini.
Planet
baru? Memang ada penaklukan baru. Di sini, di Bumi, mereka menyebut inang-inang
baru itu sebagai lumba-lumba, karena tidak punya perbandingan yang lebih baik,
walaupun mahluk-mahluk itu lebih menyerupai capung daripada mamalia laut.
Spesies ini sangat maju dan jelas bisa bergerak. Tapi setelah hidup lama
sebagai See Weed, pikiran mengenai planet air lain terasa menjijikan bagiku.
Tidak,
begitu banyak yang belum kualami di planet ini. Tak ada satu tempat pun , di
jagad raya yang kukenal ini, yang memanggilku sekuat pekarangan hijau kecil
teduh di jalanan sepi ini, atau yang punya daya tarik langit padang gurun
kosong yang hanya pernah kulihat di dalam ingatan-ingatan Melanie.
Melanie
tidak memberikan opininya atas pilihan-pilihanku. Ia menjadi sangat diam sejak
aku memutuskan menemui Fords, Penyembuh pertamaku. Aku tak yakin apa arti
pemisahan diri ini.
Apakah
ia sedang berusaha tampak tidak terlalu mengancam, tidak terlalu membebani?
Apakah ia sedang menyiapkan diri untuk menyerang Pencari? Menyiapkan diri untuk
mati? Atau apakah ia sednag bersiap menyerangku? Mencoba mengambil alih?
Apa
pun rencananya, Melanie tetap menjaga jarak. Ia hanya menjadi sesuatu yang
samar-samar mengawasi di bagian belakang kepalaku.
Aku
masuk untuk terakhir kali, mencari sesuatu yang terlupakan. Apartemen itu
tampak kosong. Hanya perabot dasar yang ditinggalkan penyewa terakhir.
Piring-piring yang sama masih di dalam lemari, bantal-bantal di tempat tidur,
lampu di meja-meja. Seandainya aku tidak kembali, penyewa berikutnya hanya perlu
membersihkan sedikit barang.
Telepon
berdering ketika aku melangkah melewati pintu, dan aku berbalik untuk
mengangkatnya, tapi sudah terlambat. Aku sudah mengatur sistem penerima pesan
untuk menjawab pada dering pertama.
Aku
tahu apa yang akan didengar penelepon: penjelasan samar-samarku bahwa aku bakal
cuti sepanjang sisa semester, dan kelas-kelasku akan dibatalkan sampai
pengganti bisa ditemukan.
Tak
ada alasan yang kuberikan. Aku menengok jam di atas televisi. Hampir lewat
pukul delapan pagi. Aku yakin itu pasti telepon dari Curt, setelah menerima
e-mail yang agak lebih terperinci yang kukirim larut malam kemarin. Aku merasa
bersalah karena tidak menyelesaikan komitmenku terhadapnya, rasanya seakan aku
sudah menjadi peloncat.
Mungkin
langkah ini, kepergian ini, akan jadi awal keputusanku selanjutnya, dan juga
rasa malu terbesarku. Pilihan itu terasa tidak nyaman. Membuatku tak ingin
mengdengarkan apa pun yang dikatakan pesan itu, walaupun sebenarnya aku tak
perlu terburu-buru pergi.
Aku
memandang sekeliling apartemen kosong itu sekali lagi. Tak ada gunanya
meninggalkan sesuatu di belakangku. aku tidak menyukai ruangan-ruangan ini. Aku
punya perasaan aneh bahwa dunia ini--bukan hanya Melanie, melainkan seluruh
bulatan planet ini, tidak menginginkanku, tak peduli seberapa besar aku
menginginkan mereka.Tampaknya aku tak bisa menanamkan akarku di sini. Aku
tersenyum masam memikirkan akar. Perasaan itu hanya sugestif dan tak masuk
akal.
Aku
tak pernah punya inang yang memiliki kemampuan bersugesti. Itu sensasi menarik.
Seakan kau tahu sedang diawasi, tanpa bisa menemukan siapa yang sedang
mengawasi. Membuat bulu kuduk meremang.
Kututup
pintu rapat-rapat di belakangku, tanpa menyentuh kunci kunonya. Tak seorang pun
akan mengusik tempat ini sampai aku kembali, atau sampai tempat ini diserahkan
kepada orang lain.
Tanpa
memandang Pencari, aku masuk ke mobil. Aku belum banyak menyetir, begitu juga Melanie,
jadi ini sedikit menggelisahkanku. Tapi aku yakin akan segera terbiasa.
"Aku
akan menunggumu di Tucson," ujar Pencari. Ia membungkuk ke jendela
penumpang depan ketika aku menyalakan mesin.
"Aku
yakin itu," gumamku.
Aku
menemukan tombol-tombol pengontrol di panel pintu. Sambil mencoba
menyembunyikan senyuman, kutekan tombol untuk menaikkan kaca jendela dan
kusaksikan Pencari terlompat ke belakang.
"Mungkin...," katanya.
"Mungkin...," katanya.
Ia
meninggikan suara sampai nyaris berteriak, agar aku bisa mendengarnya di tengah
kebisingan mesin dan Melalui jendela tertutup. "Mungkin aku akan mencoba
caramu. Mungkin aku akan menemuimu di jalanan."
Ia
tersenyum sambil mengangkat bahu.
Pencari
hanya berkata begitu untuk membuatku jengkel. aku mencoba tidak membiarkan dia
tahu tindakannya berhasil. Kupusatkan mata pada jalanan di depanku, lalu
kujalankan mobil perlahan-lahan meninggalkan tepi jalan.
Cukup
mudah untuk mencari jalan bebas hambatan, lalu mengikuti rambu-rambu untuk
keluar dari San Diego. Segera saja tak ada lagi rambu-rambu yang harus diikuti,
tak ada lagi belokan-belokan keliru yang menyesatkan.
Dalam
delapan jam aku akan berada di Tucson. Tidak cukup lama. Mungkin aku akan
bermalam di kota kecil di tengah perjalanan. Seandainya aku bisa memastikan
bahwa Pencari berada di depan, menungguku dengan tidak sabar, bukannya
mengikutiku di belakang, berhenti akan jadi penundaan menyenangkan.
Kudapati diriku
terus-menerus menatap spion, mencari tanda-tanda pengejaran. Aku menyetir lebih
pelan daripada siapa pun, tak ingin tiba di tujuan, dan mobil-mobil lain Melewatiku
tanpa berhenti. Tak ada wajah yang kukenal ketika mereka terus Melesat.
Seharusnya aku tidak membiarkan ejekan Pencari menggangguku; jelas ia tidak memiliki
kesabaran untuk pergi ke mana pun dengan lambat. Tapi... aku terus
mewaspadainya.
Aku pernah ke barat, ke
lautan, ke utara dan ke selatan menyusuri garis pantai California yang cantik,
tapi aku sama sekali belum pernah ke timur. Peradaban dengan cepat tertinggal
di belakang, dan aku segera dikelilingi perbukitan kosong serta bebatuan yang
merupakan pertanda tanah tandus padang gurun sepi.
Rasanya sangat santai
berada jauh dari peradaban, dan ini menggangguku. Seharusnya aku tidak
menganggap kesendirian begitu menyenangkan. Pada dasarnya jiwa adalah mahluk
sosial. Kami hidup, bekerja, dan berkembang bersama-sama dalam keselarasan.
Kami semua sama: cinta damai, ramah, jujur. Mengapa perasaanku jadi lebih baik
jika berjauhan dengan bangsaku? Melanie-kah yang membuatku seperti ini?
Aku mencari-cari gadis
ini, dan menemukannya berada di tempat jauh, Melamun di bagian belakang
kepalaku.
Ini saat terbaik, sejak ia
mulai bicara.
Kilometer demi kilometer
berlalu dengan cepat. Batu-batuan kasar gelap dan dataran-dataran berdebu
berselimut semak-semak melayang pergi dengan keseragaman monoton. Kusadari aku
menyetir lebih cepat daripada yang kuinginkan.
Tak ada sesuatu pun yang
menyibukkan pikiranku di sini, jadi aku sulit berlambat-lambat. Sambil Melamun
aku bertanya-tanya mengapa padang gurun tampak begitu berwarna-warni dalam
ingatan-ingatan Melanie, serta jauh lebih menarik. Kubiarkan pikiranku Meluncur
bersama pikiran gadis ini, mencoba melihat apa yang begitu istimewa dari tempat
kosong ini.
Tapi Melanie memang bukan melihat
tanah mati luas yang mengelilingi kami ini. Ia memimpikan padang gurun lain,
yang berngarai dan berwarna merah. Tempat magis. Ia tidak mencoba
menyingkirkanku dari mimpinya. Tampaknya ia malah nyaris tak menyadari
keberadaanku. aku kembali mempertanyakan apa maksud gadis ini dengan menjauhkan
diri. Aku tidak merasakan adanya pikiran mengenai penyerangan. Lebih terasa
seperti persiapan untuk menghadapi saat terakhir.
Melanie sedang menghuni
tempat yang lebih bahagia di dalam ingatannya, seakan mengucapkan selamat
tinggal. Sebelumnya aku tak pernah diizinkan melihat tempat itu.
Ada kabin, tempat tinggal
hebat yang tersembunyi di ceruk batu pasir merah, sangat dekat dengan garis
aliran air. Tempat yang mustahil, jauh dari jalan setapak mana pun, dibangun di
lokasi yang tampaknya tak masuk akal. Tempat yang kasar, tanpa kenyamanan
teknologi modern apa pun. Melanie ingat dirinya tertawa ketika Melihat pompa
untuk menarik air dari dalam tanah.
"Lebih hebat daripada
pipa saluran air," ujar Jared. Gurat-gurat di antara kedua matanya semakin
dalam ketika sepasang alisnya bertaut. Tampaknya ia khawatir mendengar tawaku.
Apakah ia takut aku tidak menyukai tempat ini?
"Tak ada yang bisa
ditelusuri, tak ada bukti keberadaan kita di sini."
"Aku suka,"
kataku cepat. "Seperti di film-film kuno. Sempurna."
Senyum yang tak pernah
benar-benar meninggalkan wajah Jared--ia bahkan tersenyum dalam
tidurnya--semakin lebar. "Di film-film, bagian terburuknya tidak mereka
ceritakan kepadamu. Ayo, akan kutunjukkan kakusnya."
Aku mendengar tawa Jamie
menggema melalui ngarai sempit itu ketika ia berlari mendahului kami. Rambut
hitamnya memantul-mantul seirama gerak tubuhnya. Kini ia selalu melompat-lompat.
Jamie, anak laki-laki kurus berkulit gelap terbakar matahari itu. Belum
kusadari seberapa berat beban yang disandang bahu sempit itu. Bersama Jared, Jamie
selalu bersemangat. Ekspresi waswas di wajahnya sudah memudar, digantikan
cengiran. Kami sama-sama lebih tangguh daripada yang kuperkirakan.
"Siapa yang membangun
tempat ini?"
"Ayah dan
kakak-kakakku. Aku membantu, atau malah sedikit menghambat. Ayahku suka Melarikan
diri dari segala sesuatu. Dan dia tak terlalu memedulikan peraturan. Dia tak
pernah peduli untuk mencari tahu siapa pemilik sesungguhnya tanah ini, atau
mengajukan izin membangun, atau hal-hal merepotkan semacam itu." Jared
tertawa.
Ia menyentak-nyentakkan
kepalanya ke belakang. Matahari menari-nari di bagian pirang rambutnya.
"Resminya tempat ini
tidak ada. Nyaman bukan?" Sepertinya tak memikirkan tindakannya, Jared
mengulurkan tangan dan meraih tanganku.
Kulitku serasa terbakar di
tempat tanganku menyentuh tangannya. Terasa sangat menyenangkan, tapi memicu
rasa nyeri aneh di dadaku.
Jared selalu menyentuhku
seperti ini. Tampaknya ia selalu perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa aku aku
ada di sini. Apakah ia menyadari akibatnya bagiku? Menyadari tekanan ringan
telapak tangan hangatnya di telapak tanganku? Apakah denyut nadinya juga Melonjak
di dalam pembuluh-pembuluh darahnya? Ataukah ia hanya merasa senang karena tak
lagi sendirian?
Jared mengayun-ayunkan
lengan kami ketika kami berjalan di bawah sekelompok kecil pohon cottonwood
dengan warna hijau yang begitu hidup, dilatari warna merah, sehingga menipu
mataku dan membingungkan fokusku. Jared bahagia di sini, lebih bahagia daripada
di tempat-tempat lain. Aku juga merasa bahagia. Perasaan itu masih belum
kukenal.
Jared belum menciumku
sejak malam pertama itu, ketika aku menjerit mendapati bekas luka di lehernya.
Tidakkah ia ingin menciumku lagi? Haruskah aku menciumnya? Bagaimana kalau ia
tidak suka?
Ia menunduk memandangku
dan tersenyum. Gurat-gurat di sekitar matanya mengerut membentuk jaring-jaring
mungil. Aku ingin tahu apakah ia setampan yang kubayangkan, ataukah itu karena
ia satu-satunya orang yang tersisa di seluruh dunia, selain aku dan Jamie.
Tidak, kurasa tidak
seperti itu. Ia benar-benar tampan.
"Apa yang
kaupikirkan, Melanie?" tanyanya. "Tampaknya kau berkonsentrasi pada
sesuatu yang sangat penting," Ia tertawa.
Aku mengangkat bahu,
perutku serasa diaduk-aduk. "Tempat ini indah."
Jared memandang
berkeliling. "Ya. Tapi bukankah rumah memang selalu indah?"
"Rumah."
Pelan kuulangi kata itu.
"Rumah."
"Rumahmu juga, jika
kau mau."
"Aku mau."
Tampaknya seakan setiap kilometer yang kujalani selama tiga tahun terakhir ini
mengarah ke tempat ini. Aku tak pernah ingin meninggalkan tempat ini, walaupun
tahu kami harus melakukannya. Makanan tidak tumbuh di atas pohon. Setidaknya
tidak di padang gurun.
Jared meremas tanganku,
dan jantngku menonjok tulang-tulang rusuk. Kenikmatan ini sangat menyerupai
rasa sakit.
Muncul sensasi yang tidak
jelas ketika Melanie melompat maju, pikiran-pikirannya menari-nari di sepanjang
hari yang panas, hingga berjam-jam setelah matahari jatuh di balik
dinding-dinding ngarai merah. Aku ikut bersamanya, nyaris terhipnotis jalanan
tanpa akhir yang membentang di depanku. Semak-semak kurus melayang pergi dengan
keseragaman yang membekukan benak.
Aku mengintip ke dalam
satu-satunya kamar tidur mungil sempit. Kasur berukuran besar itu hanya
beberapa senti dari dinding batu kasar di kedua sisinya.
Melihat Jamie terlelap di
tempat tidur yang sesungguhnya, dengan kepala di atas bantal empuk, memberiku
perasaan gembira yang sangat dalam. Sepasang lengan dan kaki kurus Jamie
terbentang, hanya meninggalkan sedikit ruang untukku di tempat yang seharusnya
kutiduri.
Sesungguhnya ia jauh lebih
besar daripada yang kulihat di dalam kepalaku. Usianya hampir sepuluh--sebentar
lagi ia bukan kanak-kanak lagi. walaupun ia akan selalu menjadi anak kecil
bagiku.
Jamie bernapas teratur,
tidur nyenyak. Tak ada ketakutan di dalam mimpinya, setidaknya saat ini.
Kututup pintu
perlahan-lahan, lalu aku kembali ke sofa kecil tempat Jared menunggu.
"Terima kasih,"
bisikku, walaupun aku tahu, meneriakkan kata-kata itu takkan membangunkan Jamie
sekarang.
"Aku merasa tidak
enak. Sofa ini terlalu pendek untukmu. Mungkin sebaiknya kau tidur bersama Jamie."
Jared terbahak. "Melanie,
kau hanya beberapa senti lebih pendek dariku. Tidurlah dengan nyaman, sekali
ini. Lain kali, jika aku pergi keluar, akan kucuri dipan atau sesuatu
untukku."
Aku tidak menyukai
perkataan ini untuk banyak alasan. Apakah Jared akan segera pergi? Apakah ia
akan membawa kami bersamanya ketika ia pergi? Apakah ia menganggap pengaturan
ruangan ini sebagai sesuatu yang permanen?
Jared menjatuhkan
lengannya di bahuku dan menarikku ke sisinya. Aku beringsut mendekat, walaupun
rasa panas akibat menyentuh tubuhnya membuat jantungku kembali nyeri.
"Mengapa
cemberut?" tanyanya.
"Kapan kau akan...
kapan kita harus pergi lagi?"
Ia mengangkat bahu.
"Cukup banyak yang kita kumpulkan dalam perjalanan ke atas sini, sehingga
kita aman untuk beberapa bulan. Aku bisa melakukan beberapa penjarahan kecil,
jika kau ingin menetap di suatu tempat selama beberapa waktu. Aku yakin kau
lelah terus-menerus lari."
"Ya, memang,"
kataku mengiyakan. Aku menghela napas panjang untuk memberanikan diri.
"Tapi jika kau pergi, aku pergi."
Jared memelukku semakin
erat. "Kuakui, aku lebih suka seperti itu. Memikirkan terpisah
darimu..."
Ia tertawa pelan.
"Apakah kedengarannya sinting jika kukatakan aku lebih suka mati? Terlalu Melodramatis?"
"Tidak, aku tahu apa
maksudmu."
Agaknya Jared merasakan
hal yang sama seperti yang kurasakan. Akankah ia mengatakan hal-hal seperti ini
seandainya ia hanya menganggapku manusia lain, bukan sebagai lelaki yang telah
dimilikinya?
Kusadari ini pertama kali
ketika kami benar-benar sendirian semenjak malam pertemuan kami itu. Untuk
pertama kali ada pintu tertutup di antara Jamie yang terlelap dan kami berdua.
Begitu banyak malam telah kami lalui dengan tetap terjaga, bicara
berbisik-bisik, menceritakan semua kisah kami, cerita-cerita bahagia dan
cerita-cerita mengerikan, dan selalu dengan kepala Jamie terbuai di pangkuanku.
Pintu tertutup itu membuat napasku semakin memburu.
"Kurasa kau tidak
perlu dipan. Belum perlu."
Kurasakan mata Jared
menatapku bertanya-tanya, tapi aku tak sanggup membalas tatapannya. Kini aku
merasa malu. Terlambat. Kata-kata itu sudah terucap.
"Kita akan tinggal di
sini sampai makanan habis. Jangan khawatir. Aku pernah tidur di tempat-tempat
yang lebih buruk daripada sofa ini."
"Bukan itu
maksudku," kataku, tetap merunduk.
"Pakai tempat
tidurnya, Mel. Aku takkan berubah pikiran."
"Bukan itu juga
maksudku." Suaranya nyaris berbisik. "Maksudku, sofa itu cukup besar
untuk Jamie. Dan tidak bakal kekecilan untuk waktu lama. Aku bisa berbagi
tempat tidur dengan...mu."
Muncul keheningan. Aku
ingin mendongak, untuk membaca ekspresi di wajah Jared, tapi aku terlalu malu.
Bagaimana jika ia merasa jijik? Sanggupkah aku menghadapinya? Akankah ia
mengusirku?
Jari-jari Jared yang kasar
dan hangat mendongakkan daguku. Jantungku berdegup ketika mata kami
bertemu.
"Mel, aku..."
Kali ini tak ada senyum di wajahnya.
Aku mencoba berpaling,
tapi ia memegangi daguku sehingga aku tak bisa Meloloskan diri dari
pandangannya. Tidakkah ia merasakan api di antara tubuhnya dan tubuhku? Apakah
hanya aku yang merasakannya? Bagaimana mungkin hanya diriku? Rasanya seakan ada
matahari pipih yang terperangkap di antara kami--terimpit seperti sekuntum
bunga di antara lembaran-lembaran buku tebal, membakar kertanya. Apakah ia
merasakan sesuatu yang lain? Sesuatu yang buruk?
Setelah beberapa saat
kepala Jared berpaling; kini dialah yang mengalihkan pandangan, dengan masih
mencengkeram daguku. Suaranya pelan. "Kau tidak berutang budi padaku, Melanie.
Kau sama sekali tidak berutang budi kepadaku."
Sulit bagiku untuk menelan
ludah. "Aku tidak bilang... Maksudku, aku tidak merasakan itu sebagai
kewajiban. Dan seharusnya... kau juga tidak. Lupakan kata-kataku."
"Mustahil, Mel."
Jared menghela napas, dan
rasanya aku ingin menghilang. Menyerah--memberikan benakku kepada para
penyerang, jika itu yang diperlukan untuk menghapus kesalahan besar ini.
Menukar masa depan untuk menghapus dua menit terakhir masa lalu. Apa pun.
Jared menghela napas
panjang. Ia menyipitkan mata memandang lantai, dagu dan matanya tampak tegang.
"Mel, tidak harus
seperti itu. Hanya karena kita bersama-sama, hanya karena kita manusia terakhir di
Bumi..."
Ia berjuang mencari
kata-kata, sesuatu yang kupikir belum pernah kulihat dilakukannya. "Itu
tidak berarti kau harus Melakukan sesuatu yang tidak kauinginkan. Aku bukan
jenis lelaki yang akan mengharapkan... Kau tak perlu...”
Ia tampak begitu marah,
masih memberengut, sehingga kudapati diriku bicara, walaupun aku tahu itu
keliru, bahkan sebelum mulai mengucapkannya.
"Bukan itu
maksudku," gumamku. "Aku tidak bicara soal 'keharusan', dan kurasa
kau bukan 'jenis lelaki seperti itu.' Tidak. Tentu saja tidak. Itu
hanya--"
Itu hanya karena aku
mencintainya. Kukertakkan gigi agar aku tidak semakin mempermalukan diri
sendiri. Aku harus menggigit lidah saat ini juga, sebelum benda itu menimbulkan
kerusakan lain.
"Hanya...?"
tanya Jared.
Aku mencoba menggeleng,
tapi ia masih memegangi daguku erat-erat di antara jemarinya.
"Mel?"
Kusentakkan kepala, lalu
kugelengkan kuat-kuat.
Jared membungkuk lebih
dekat kepadaku, wajahnya tiba-tiba berubah. Ada konflik baru yang tak kupahami
dalam ekspresinya. Dan walaupun aku tidak begitu mengerti, tindakannya itu
menghapus perasaan ditolak yang memedihkan mataku.
"Maukah kau bicara
kepadaku? Kumohon?" gumamnya.
Aku bisa merasakan
napasnya di pipiku. Dan, setelah beberapa detik, barulah aku bisa memikirkan
sesuatu.
Mata Jared membuatku lupa
bahwa aku merasa malu, bahwa aku tak pernah ingin bicara dengannya lagi.
"Seandainya aku harus
memilih seseorang, siapa saja, untuk menemaniku terdampar di planet terpencil,
orang itu adalah kau," bisikku. Matahari di antara kami membakar semakin
panas. "Aku selalu ingin bersamamu. Dan bukan hanya... bukan hanya sebagai
teman bicara. Ketika kau menyentuhku..." Kuberanikan diri untuk membiarkan
jemariku menyapu lembut kulit hangat lengannya, dan kini rasanya seakan lidah -
lidah api mengalir dari ujung-ujung jari tanganku. Lengan Jared semakin erat memelukku.
Apakah ia merasakan apinya?
“Aku tidak ingin kau
menghentikannya." Aku ingin lebih jelas, tapi tak mampu menemukan
kata-kata.
Tak apa-apa. Pengakuan
sebanyak ini sudah cukup buruk. "Seandainya kau tidak merasakan hal yang
sama, aku mengerti. Mungkin tidak sama untukmu. Itu tidak apa-apa," ujarku
berbohong.
"Oh, Mel." Jared
mendesah di telingaku, dan menolehkan wajahku agar menatapnya.
Semakin banyak lidah api
di bibirnya, lebih ganas daripada sebelumnya, Melepuhkan. Aku tidak tahu apa
yang sedang kulakukan, tapi tampaknya itu tak penting. Sepasang tangan Jared
berada di rambutku, dan jantungku hampir terbakar. Aku tidak mampu bernapas.
Aku tidak ingin bernapas.
Tapi
bibirnya berpindah ke telingaku, dan ia menahan wajahku ketika aku mencoba
mencari bibir itu kembali.
“Suatu
mukjizat—lebih dari mukjizat—ketika aku menemukanmu, Melanie. Saat ini,
seandainya aku diberi pilihan antara memperoleh kembali dunia ini dan
memilikimu, aku tidak akan sanggup menyerahkanmu. Bahkan untuk menyelamatkan
lima miliar kehidupan.”
“Itu
keliru.”
“Sangat
keliru, tapi sangat jujur.”
“Jared.” Kuembuskan napas,
kucoba untuk menjangkau bibirnya lagi. Ia menarik diri, tampaknya seakan perlu
mengatakan sesuatu. Apa lagi yang haris dikatakannya?
“Tapi…”
“Tapi? Kenapa masih ada
tapi? Kemungkinan apa lagi yang mengikuti semua api ini dan dimulai dengan
tapi?”
“Tapi usiamu 18, Melanie.
Dan aku 26.”
“Apa hubungannya dengan
semua ini?”
Jared tidak menjawab.
Sepasang tangannya membelai kedua lenganku perlahan-lahan, melukisi mereka
dengan api.
“Kau bergurai.” Aku
bersandar untuk menyelidiki wajahnya. “Kau mengkhawatirkan peraturan ketika
kita sudah melewati kiamat?”
Ia menelan ludah
keras-keras sebelum bicara. “Sebagian besar peraturan dibuat untuk alasan
tertentu, Lu. Aku akan merasa seperti orang jahat. Seakan hendak mencuri
kesempatan. Kau masih sangat belia.”
"Tak seorang pun yang
masih belia. Siapa pun yang bertahan hidup selama ini, berarti dia sudah tua
bangka."
Sudut bibir Jared
membentuk senyuman. "Mungkin kau benar. Tapi kita tidak perlu terburu-buru
Melakukannya."
"Apa yang harus
ditunggu?" desakku.
Ia bimbang untuk waktu
lama, berpikir.
"Well, salah satunya
adalah... beberapa masalah praktis yang harus dipikirkan."
Aku
bertanya-tanya apakah Jared hanya ingin mengalihkan perhatian mencoba mengulur
waktu. Rasanya seperti itu. Aku menaikkan sebelah alis. Aku tak percaya
percakapan ini mengarah ke sana, seandainya ia benar-benar menginginkanku. Ini
tidak masuk akal.
"Kau
tahu," jelas Jared ragu. Di balik warna cokelat gelap keemasan kulitnya,
tampaknya ia tersipu-sipu.
"Ketika
memperlengkapi tempat ini, aku tidak terlalu merencanakan adanya... tamu.
Maksudku..." Sisa perkataannya muncul tergesa-gesa. "Alat kontrasepsi
benar-benar tak terpikirkan olehku."
Kurasakan
keningku berkerut. "Oh."
Senyum
itu menghilang dari wajah Jared, dan sejenak tampak kilat amarah yang tak
pernah kulihat di sana sebelumnya. Membuatnya tampak berbahaya, dengan cara
yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
"Ini
bukan jenis dunia yang kuinginkan bagi anakku."
Kuresapi
kata-kata Jared, dan aku ciut membayangkan bayi mungil tak berdosa, membuka
mata di tempat ini. Mengamati mata Jamie sudah cukup buruk, mengetahui apa yang
akan dibawa kehidupan ini untuknya, walaupun dalam situasi terbaik yang
memungkinkan.
Mendadak
Jared kembali berubah menjadi Jared. Kulit di sekeliling matanya mengerut.
"Lagi pula kita punya banyak waktu untuk... memikirkannya."
Kurasa
ia kembali mengulur waktu. "Sadarkah kau, betapa sedikit waktu yang sudah
kita jalani bersama-sama sejauh ini? baru empat minggu sejak kita
berjumpa."
Ini
membingungkanku. "Tak mungkin."
"Dua
puluh sembilan hari. Aku menghitungnya."
Aku
mengingat-ingat. Tak mungkin baru 29 hari sejak Jared mengubah hidup kami.
Tampaknya seakan waktuku dan Jamie bersama Jared sama lamanya dengan waktu yang
kami jalani sendirian berdua. Mungkin dua atau tiga tahun.
"Kita
punya waktu," ujar Jared lagi.
Kepanikan
mendadak, seperti firasat buruk, membuatku tak mampu bicara untuk waktu lama. Jared
mengamati perubahan wajahku dengan pandangan khawatir.
"Kau
tak bisa yakin soal itu." Rasa putus asa yang mereda ketika Jared
menemukanku, menderaku bagai lecutan cambuk.
"Kau
tidak mungkin tahu berapa banyak waktu yang akan kita miliki. Kau tidak tahu
apakah kita harus menghitung dalam hitungan bulan atau hari atau jam."
Jared
tertawa renyah, disentuhkannya bibirnya ke tempat kedua alisku bertaut tegang.
"Jangan khawatir, Mel. Mukjizat tidak bekerja seperti itu. Aku takkan
pernah kehilanganmu. Aku takkan pernah membiarkanmu pergi dariku."
Melanie
membawaku kembali ke masa kini—ke pita tipis berupa jalan raya berkelok-kelok Melewati
tanah tandus Arizona yang membara di bawah matahari garang tengah hari—walaupun
aku tak ingin kembali. Kutatap tempat kosong di depanku, dan kurasakan tempat
kosong di dalam tubuhku.
Pikiran
Melanie mendesah pelan di dalam kepalaku: Kau tidak pernah tahu berapa
banyak waktu yang akan kaumiliki.
Air
mata yang kukeluarkan adalah milik kami berdua.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar