THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 7
CONFRONTED
.
.
.
"Ya,
Faces Sunward?" tanyaku.
Aku
bersyukur atas tangan teracung yang menyela kuliahku. Tidak seperti biasa, aku
merasa kurang nyaman berada di balik mimbar.
Kekuatan
terbesarku, satu-satunya kualifikasiku yang sesungguhnya--tubuh inangku hanya
memiliki sedikit pendidikan formal, karena telah menjadi buron sejak awal
remaja--adalah pengalaman pribadi yang biasanya menjadi dasar kuliahku. Ini
kuliah sejarah awal dunia pertamaku semester ini, yang bahan-bahannya tidak
bisa kutarik dari ingatan apa pun. Aku yakin para mahasiswaku menyadari
perbedaannya.
"Maaf menyela, tapi..." Lelaki berambut putih itu terdiam sejenak, berjuang menyuarakan pertanyaannya.
"Maaf menyela, tapi..." Lelaki berambut putih itu terdiam sejenak, berjuang menyuarakan pertanyaannya.
"Saya
ragu apakah saya mengerti. Apakah Fire-tasters--Pengecap Api--benar-bener...
mencerna asap dari para Walking Flowers--Bunga Berjalan--yang terbakar? Seperti
makanan?" Ia mencoba menekan kengerian dalam nada suaranya. Tak
sepantasnya sesosok jiwa menghakimi jiwa yang lain.
Tapi
aku tidak terkejut mendengar reaksi keras Faces Sunward atas nasib bentuk
kehidupan lain yang serupa di dunia lain, mengingat latar belakangnya di Planet
of the Flowers.
Beberapa
jiwa membenamkan diri dalam urusan-urusan dunia mana pun yang mereka huni, dan
mengabaikan sisa jagad raya. Dan itu selalu menakjubkan bagiku. Tapi mungkin
saja Faces Sunward berada dalam keadaan hibernasi ketika Fire World menjadi
tenar.
"Ya,
mereka menerima nutrisi-nutrisi penting dari asap ini. Disitulah letak dilema
fundamental dan kontroversi Fire World--serta alasan mengapa planet itu belum
ditutup, walaupun sudah cukup banyak waktu untuk menghuninya secara penuh. Juga
ada masalah tingginya persentase relokasi.
"Ketika Fire World ditemukan, pertama-tama diperkirakan bahwa spesies yang dominan, Fire-Tasters, adalah satu-satunya bentuk kehidupan cerdas yang ada di sana. Fire-Tasters tidak menganggap Walking Flowers setara dengan mereka--sebuah prasangka kultural--sehingga perlu beberapa saat, bahkan setelah gelombang pendudukan pertama, sebelum para jiwa menyadari mereka membunuh mahluk cerdas.
"Ketika Fire World ditemukan, pertama-tama diperkirakan bahwa spesies yang dominan, Fire-Tasters, adalah satu-satunya bentuk kehidupan cerdas yang ada di sana. Fire-Tasters tidak menganggap Walking Flowers setara dengan mereka--sebuah prasangka kultural--sehingga perlu beberapa saat, bahkan setelah gelombang pendudukan pertama, sebelum para jiwa menyadari mereka membunuh mahluk cerdas.
Sejak
itu para ilmuwan Fire world memusatkan usaha mereka untuk menemukan pengganti
makanan Fire-Tasters. Laba-laba diangkut ke sana untuk membantu, tapi
planet-planet itu terpisah ratusan tahun cahaya jauhnya. Jika rintangan ini
sudah teratasi, dan aku yakin itu takkan lama lagi, ada harapan bahwa Walking Flowers
juga bisa diasimilasi.
Sementara
itu, sebagian besar kebrutalan telah dihilangkan dari sana. Bagian pembakaran
hidup-hidup tentu saja, juga aspek-aspek lainnya."
"Bagaimana
mereka bisa...," Faces Sunward terdiam, tak mampu menyelesaikan kalimat.
Suara
lain Melengkapi pikiran Faces Sunward. "Tampaknya itu ekosistem yang
sangat kejam. Mengapa planet itu tidak ditinggalkan?"
"Tentu
saja itu telah diperdebatkan, Robert. Tapi kita takkan meninggalkan planet
begitu saja. Banyak jiwa sudah menghuni Fire World. Mereka tidak akan dicerabut
Melawan kehendak mereka." Aku mengalihkan pandang, kembali pada
catatan-catatanku, mencoba mengakhiri diskusi sampingan ini.
"Tapi
itu biadab!"
Secara
fisik Robert lebih muda daripada sebagian besar mahasiswa lain--sesungguhnya
lebih mendekati usiaku dibandingkan dengan yang lain.
Dan
ia benar-benar kanak-kanak dalam arti sesungguhnya. Bumi adalah dunia
pertamanya--dalam kasus ini, sesungguhnya sang Ibu juga penghuni Bumi, sebelum
ia menyerahkan diri.
Dan
tampaknya Robert tak punya perpektif sebanyak jiwa-jiwa lebih tua yang telah
banyak berkelana. Aku ingin tahu bagaimana rasanya dilahirkan dalam sensasi dan
emosi Meluap-luap inang-inang ini, tanpa dibekali pengetahuan terdahulu sebagai
penyeimbang.
Akan
sulit menemukan objektivitas. Aku mencoba mengingat-ingat hal ini, dan bersikap
ekstra sabar ketika menjawab pertanyaannya.
“Setiap
dunia adalah pengalaman unik, kecuali pernah tinggal di dunia itu, mustahil
untuk benar-benar memahami—“
“Tapi
Anda tak pernah tinggal di Fire World,” Robert menyelaku. “Mestinya Anda
merasakan hal yang sama… Kecuali Anda punya alasan lain untuk meloncati planet
itu? Anda pernah berada di hampir semua tempat lainnya.”
“Memilih
planet merupakan keputusan yang sangat personal dan pribadi, Robert, seperti
yang mungkin akan kau alami suatu hari nanti.” Nadaku benar-benar tanda.
Mengapa tidak kau katakan kepada
mereka? Kau memang menganggap itu…biadab—dan kejam, dan keliru. Dan ini cukup
ironis, jika kau bertanya kepadaku—walaupun itu takkah pernah kau lakukan. Apa
masalahnya? Apakah kau malu karena menyetujui Robert?
Karena ia lebih manusia daripada yang
lainnya?
Melanie,
setelah menemukan suaranya, menjadi sangat menjengkelkan. Bagaimana mungkin aku
berkonsentrasi pada pekerjaanku, jika opini-opini terdengar di dalam kepalaku
sepanjang waktu?
Si
pencari, berpakaian serba hitam seperti biasa, mencondongkan tubuh ke depan.
Untuk pertama kali ia tertarik dengan subjek diskusi kelas.
Aku
melawan dorongan untuk memberengut kepadanya. Aku tak ingin Robert—yang sudah
tampak malu—salah paham dengan mengira ekspresiku ditujukan kepadanya.
Melanie
menggerutu. Ia berharap aku tidak melawan dorongan itu. Mendapati Pencari
membuntuti setiap langkah kami telah mendidik Melanie. Ia tadinya mengira tak
bisa membenci sesuatu atau seseorang melebihi kebenciannya terhadapku.
“Waktu
kita hampir habis,” aku mengumumkan lega.
“Dengan
kuberitahukan kita akan kedatangan pembicara tamu Selasa depan. Dia bisa
mengimbangi kekurangan pengetahuanku mengenai topik ini. Flame Tender--Penjinak
Api, yang baru saja datang ke planet ini, akan berada di sini untuk memberi
penjelasan yang lebih pribadi mengenai pendudukan Fire World. Aku tahu kalian
akan memperlakukan Flame Tender dengan baik sebagaimana kalian memperlakukanku,
dan menghargai inangnya yang masih sangat muda. Terima kasih atas waktu
kalian."
Kelas bubar dengan lambat, banyak mahasiswa menyisihkan sedikit waktu untuk mengobrol sambil mmembereskan barang-barang.
Perkataan
Kathy mengenai persahabatan melintas di kepalaku, tapi aku tidak merasa ingin
bergabung dengan salah satu dari mereka. Mereka orang asing.
Itukah
yang kurasakan? Ataukah itu perasaan Melanie? Sulit dikatakan. Mungkin pada
dasarnya aku antisosial. Kurasa sejarah pribadiku mendukung teori itu. Aku tak
pernah membentuk ikatan yang cukup kuat, sehingga mempertahankan keberadaanku
di planet mana pun selama lebih dari satu kehidupan.
Kuamati
Robert dan Faces Sunward yang tetap berada di pintu kelas, terlibat diskusi
yang tampaknya serius. Aku bisa menebak subjeknya.
"Cerita-cerita
mengenai Fire World menghebohkan."
Aku
memulai dengan ringan.
Pencari
berdiri di dekat sikuku. Wanita itu biasanya mengumumkan kedatangannya dengan
ketukan cepat sepatu bersol kerasnya.
Kini aku menunduk, dan elihat kali ini ia mengenakan sepatu karet--hitam tentu saja. Ia semakin mungil tanpa beberapa senti tambahannya itu.
"Bukan subjek favoritku," ujarku datar. "Aku lebih suka menceritakan pengalaman langsung."
"Muncul
reaksi--reaksi keras dari kelas."
"Ya."
Pencari memandangku penuh harap, seakan menunggu lebih banyak lagi. Aku membereskan catatan-catatanku dan berbalik untuk Meletakkan semuanya ke dalam tas.
Pencari memandangku penuh harap, seakan menunggu lebih banyak lagi. Aku membereskan catatan-catatanku dan berbalik untuk Meletakkan semuanya ke dalam tas.
"Kelihatannya
kau juga bereaksi."
Hati-hati
kuletakkan kertas-kertasku ke dalam tas, tanpa berbalik.
"Aku
ingin tahu mengapa kau tidak menjawab pertanyaan itu."
Muncul
keheningan ketika ia menunggu jawaban. Aku tidak menjawab.
"Jadi...
mengapa kau tidak menjawab pertanyaan itu?"
Aku
berbalik, tanpa menutupi ketidaksabaran di wajahku. "Karena itu tidak
berhubungan dengan pelajarannya, karena Robert perlu belajar bersikap sopan,
dan karena itu bukan urusan orang lain."
Kusampirkan tas di bahu, lalu berjalan ke pintu. Pencari tetap di sampingku, bergegas mengimbangi kakiku yang lebih panjang. Kami berjalan menyusuri lorong dalam keheningan. Di luar, di tempat matahari tengah hari menyinari partikel-partikel debu di dalam udara asin, barulah ia kembali bicara.
Kusampirkan tas di bahu, lalu berjalan ke pintu. Pencari tetap di sampingku, bergegas mengimbangi kakiku yang lebih panjang. Kami berjalan menyusuri lorong dalam keheningan. Di luar, di tempat matahari tengah hari menyinari partikel-partikel debu di dalam udara asin, barulah ia kembali bicara.
"Menurutmu
kau akan menetap, Wanderer? Di planet ini, mungkin? Tampaknya kau punya
ketertarikan terhadap... perasaan mereka. "
Aku
tersinggung dengan penghinaan tersembunyi dalam nada suaranya. Aku bahkan tak
yakin bagaimana ia menghinaku, tapi jelas ia melakukannya. Melanie
bergerak-gerak kesal.
"Apa
sih maksudmu?"
"Katakan,
Wanderer. Apakah kau mengasihani mereka?"
"Siapa?"
tanyaku datar. "Walking Flowers?"
"Bukan,
manusia.”
Aku berhenti berjalan, dan Pencari langsung berhenti di sampingku. Kami hanya beberapa blok dari apartemenku, dan aku telah bergegas dengan harapan bisa lolos darinya, walaupun kemungkinan besar ia akan mengundang dirinya sendiri masuk. Tapi pertanyaannya mengejutkanku.
"Manusia?"
"Ya.
Apakah kau mengasihani mereka?"
"Apakah
kau tidak?"
"Tidak.
Mereka bangsa yang cukup brutal. Mereka beruntung bisa bertahan hidup selama
ini."
"Tidak
semua manusia buruk."
"Itu
kecenderungan genetik. Kebrutalan adalah bagian tak terpisahkan spesies mereka.
Tapi tampaknya kau mengasihani mereka."
"Bukankah
mereka kehilangan banyak?" Aku menunjuk sekeliling.
Kami
berdiri di tempat yang menyerupai taman, dilatari dua bangunan asrama yang
berselimut tanaman merambat. Warna hijau tua tanaman itu sangat sedap
dipandang, terutama dilatari warna merah pudar batu bata tua. Udaranya lembut
menyenangkan, dan bau laut memberi sedikit rasa asin pada aroma semanis madu
bunga-bungaan di semak-semak. Angin sepoi-sepoi membelai kulit telanjangku.
"Di
dalam kehidupan-kehidupan lain, kau tidak bisa merasakan segalanya begitu
hidup. Tidakkah kau mengasihani siapa pun yang kehilangan semua ini?" Raut
wajah Pencari tetap datar, tidak berubah. Aku mencoba membuatnya mengerti,
membuatnya merenungkan sudut pandang lain.
"Kau
pernah tinggal di dunia mana saja?"
Ia
bimbang, lalu menegakkan bahu. "Tak pernah. Aku hanya pernah tinggal di
Bumi."
Itu
mengejutkanku. Ia sama kanak-kanaknya dengan Robert. "Hanya satu planet?
Dan kau memilih menjadi Pencari dalam kehidupan pertamamu?"
Ia
mengangguk, dagunya terangkat.
"Wah.
Wah, itu urusanmu." Aku mulai berjalan lagi. Jika aku menghormati
privasinya, mungkin ia akan Melakukan hal yang sama terhadapku.
"Aku
bicara dengan Penghibur-mu."
Dan
mungkin tidak,
pikir Melanie masam.
"Apa?"
Aku terkesiap.
"Kurasa
kau punya lebih banyak masalah, selain kesulitan mengakses informasi yang
kuperlukan. Sudahkah kaupertimbangkan untuk mencoba inang lain yang lebih
patuh? Penghibur menyarankan itu, bukan?"
"Kathy
tidak akan bercerita apa-apa kepadamu!"
Wajah
Pencari tampak bangga. "Dia tak perlu menjawab. Aku sangat pintar membaca
ekspresi manusia. Aku bisa tahu kapan pertanyaan-pertanyaanku mengenai
sasaran."
"Kau
lancang sekali! Hubungan antara jiwa dengan Penghiburnya--"
"Sakral.
Ya aku tahu teorinya. Tapi sarana investigasi yang bisa diterima tampaknya
tidak berhasil untuk kasusmu. Aku harus lebih kreatif."
"Kaupikir
aku menyembunyikan sesuatu darimu?" desakku.
Aku
terlalu marah, sehingga tidak mengontrol nada kebencian dalam suaraku.
"Kaupikir aku mengungkapkannya kepada Penghibur-ku?"
Kemarahan tidak mengusik Pencari. Mungkin, mengingat kepribadiannya yang aneh, ia terbiasa dengan reaksi-reaksi semacam itu.
"Tidak.
Kurasa kau menceritakan apa yang kauketahui kepadaku... Tapi kurasa kau tidak
berusaha sekeras mungkin. Aku pernah Melihatnya. Kau semakin bersimpati
terhadap inangmu. Kau membiarkan ingatan-ingatannya secara tidak sadar
mengarahkan keinginan - keinginanmu sendiri. Mungkin saat ini sudah terlambat.
Kurasa akan lebih nyaman bagimu jika pindah, dan mungkin jiwa lain akan lebih beruntung
menghadapi inang itu."
"Hah!" teriakku. "Melanie akan menyantapnya hidup-hidup!"
Raut
wajah si Pencari langsung membeku.
Ia
sama sekali tidak tahu, tak peduli apa yang menurutnya ia pahami dari Kathy. Ia
mengira pengaruh Melanie berasal dari ingatan-ingatan, dan itu terjadi di luar
kesadaran.
"Menurutku sangat menarik, karena kau bicara seakan-akan inang itu masih ada sekarang."
Aku mengabaikan perkataannya, mencoba berpura-pura tidak salah bicara. "Jika kau mengira jiwa lain akan lebih beruntung dalam membongkar rahasia-rahasianya, kau keliru."
"Hanya
ada satu cara untuk tahu."
"Kau
sudah punya calon?" tanyaku. Suaraku kaku karena kebencian.
Ia
nyengir. "Aku sudah mendapat izin untuk mencobanya. Tak akan makan waktu
lama. Mereka akan menyimpankan inangku yang sekarang ini untukku."
Aku harus menghela napas dalam-dalam. Aku gemetaran, dan Melanie begitu penuh kebencian sehingga tak mampu berkata-kata. Gagasan Pencari berada di dalam tubuhku, walaupun aku tahu aku takkan berada di sana, begitu menjijikkan sampai aku merasakan kembalinya rasa mual yang kualami minggu lalu.
"Sangat disayangkan bagi investigasimu, karena aku bukan peloncat."
Mata Pencari menyipit. "Well, itu jelas membuat tugas ini berlarut-larut. Sejarah tak pernah menarik bagiku, tapi tampaknya sekarang aku mendaftar untuk seluruh mata kuliah."
"Kau baru saja bilang mungkin sudah terlambat untuk memperoleh lebih banyak lagi dari ingatan-ingatannya," ujarku mengingatkan, seraya berjuang menjaga ketenangan suaraku. "Mengapa kau tidak pulang saja ke tempat asalmu?"
Ia mengangkat bahu dan tersenyum kaku. "Aku yakin sudah terlambat... untuk informasi yang diberikan secara sukarela. Tapi kalaupun kau tidak mau bekerja sama, tetap saja gadis itu akan menuntunku kepada mereka."
"Menuntunmu?"
"Setelah
dia mengambil seluruh kendali. Dan kau tidak lebih baik daripada si lemah itu,
yang dulunya bernama Racing Song dan kini Kevin. Kau ingat? Yang menyerang
Penyembuh?"
Aku menatap Pencari, dengan mata Melotot, lubang hidung mengembang.
"Ya,
mungkin ini hanya masalah waktu. Penghibur-mu tidak mengungkapkan statistiknya
kepadamu, bukan? Well, kalaupun dia Melakukannya, dia takkan punya informasi
terakhir yang bisa kami peroleh. Tingkat kesuksesan jangka panjang untuk
situasi-situasi seperti kasusmu--yaitu setelah inang manusia mulai Melawan--adalah
di bawah dua puluh persen.
Tahukan
kau itu sangat buruk? Inang-inang itu mengubah informasi yang mereka berikan
kepada para penghuni potensial. Takkan ada lagi inang dewasa yang ditawarkan.
Risikonya terlalu besar. Kami telah kehilangan banyak jiwa. Tak lama lagi gadis
itu akan bicara denganmu, bicara Melalui dirimu, mengendalikan
keputusan-keputusanmu."
Aku belum bergerak satu senti pun atau mengendurkan satu otot pun. Pencari mencondongkan tubuh, berjingkat untuk mendekatkan wajahnya ke wajahku. Nada suaranya berubah rendah dan lembut, dalam usahanya untuk meyakinkanku.
"Itukah yang kau inginkan, Wanderer? Kalah? Menghilang, terhapus kesadaran lain? Menjadi tak lebih baik daripada tubuh inang?"
Aku tak mampu bernapas.
"Hanya akan semakin parah. Kau tidak akan menjadi dirimu lagi. Dia akan mengalahkanmu, dan kau akan menghilang. Mungkin seseorang akan ikut campur... Mungkin mereka akan memindahkanmu, seperti yang mereka lakukan terhadap Kevin. Dan kau akan menjadi anak kecil bernama Melanie, yang lebih suka mengutak-atik mobil daripada menggubah musik. Atau apa pun pekerjaan gadis itu."
"Tingkat kesuksesannya di bawah dua puluh persen?" bisikku.
Pencari
mengangguk, mencoba menyembunyikan senyuman.
"Kau
akan kehilangan dirimu sendiri, Wanderer. Semua dunia yang pernah kausaksikan,
semua pengalaman yang pernah kau alami--semua sia-sia. Kulihat di dalam arsipmu
bahwa kau berpotensi menjadi Ibu. Jika kau menyerahkan diri untuk menjadi Ibu,
setidaknya tidak semuanya bakal sia-sia. Mengapa menyia-nyiakan diri? Sudahkah
kaupertimbangkan untuk menjadi Ibu?"
Kusentakkan tubuhku menjauhinya. Wajahku memerah.
Kusentakkan tubuhku menjauhinya. Wajahku memerah.
"Maaf,
" gumam Pencari.
Wajahnya
berubah gelap. "Itu tidak sopan. Lupakan perkataanku."
"Aku pulang. Jangan membuntuti."
"Aku
harus, Wanderer. Ini pekerjaanku."
"Mengapa
kau begitu peduli terhadap beberapa gelintir manusia yang tersisa? Mengapa?
Bagaimana lagi caramu menilai pekerjaanmu? Kita sudah menang! Sudah saatnya
bagimu untuk membaur ke dalam masyarakat dan Melakukan hal yang
produktif."
Pertanyaan-pertanyaanku, tuduhan-tuduhan tersiratku, tidak mengganggu Pencari.
"Di mana pun dunia mereka menyentuh dunia kita, di situlah terdapat kematian." Pencari mengucapkan kata-kata itu dengan tenang, dan sejenak aku Melihat orang yang berbeda di wajahnya. Dengan terkejut kusadari ia sangat meyakini tindakannya.
Sebagian
diriku tadinya menyangka ia memilih pekerjaan sebagai Pencari hanya karena
diam-diam ia menyukai kekerasan.
"Kalau
Jared atau Jamie-mu menghilangkan satu jiwa saja, itu sudah terlalu banyak.
Sampai kedamaian total tercipta di planet ini, pekerjaanku bisa dibenarkan.
Selama masih ada Jared-Jared yang bertahan hidup, aku diperlukan untuk Melindungi
bangsa kita. Selama masih ada Melanie-Melanie yang memperbudak jiwa...
Aku berbalik memunggungi Pencari, lalu berjalan menuju apartemen dengan langkah-langkah panjang yang akan memaksanya berlari jika ingin mengimbangiku.
"Jangan kehilangan dirimu sendiri, Wanderer!" teriaknya sambil mengejarku. "Waktu berjalan cepat bagimu!" Ia diam sejenak, lalu berteriak lebih keras lagi. "Harap beritahu, kapan aku harus memanggilmu Wanderer!"
Suara Pencari berangsur lenyap ketika jarak di antara kami bertambah lebar. Aku tahu ia akan membuntutiku dengan kecepatannya sendiri. Dalam seminggu terakhir yang tidak nyaman ini--melihat wajah Pencari di belakang setiap kelas, mendengar langkah kakinya di belakangku di trotoar setiap hari--tak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang bakal terjadi. Ia akan menyengsarakan hidupku.
Rasanya seakan Melanie sedang melonjak-lonjak hebat di dinding bagian dalam tengkorak kepalaku.
Ayo, kita lakukan sesuatu agar Pencari dipecat. Laporkan kepada mereka yang berkedudukan lebih tinggi darinya bahwa ia melakukan sesuatu yang tidak bisa diterima. Menyerang kita. Nanti tinggal kata-kata kita melawan kata-katanya...
Itu
dunia manusia,
ujarku mengingatkan gadis itu. Dan aku nyaris merasa sedih, karena tak punya
akses terhadap pilihan semacam itu.
Tak
ada yang berkedudukan lebih tinggi, dalam pengertian seperti itu. Semua bekerja
bersama-sama dengan kedudukan setara. Ada yang bertugas menerima laporan untuk
menjaga keteraturan informasi, dan ada para dewan yang membuat keputusan
mengenai informasi tadi, tapi mereka tidak akan memindahkan Pencari dari tugas
yang diinginkan Pencari sendiri. Kau tahu, cara kerjanya seperti--"
Siapa peduli bagaimana cara kerjanya, jika hal itu tidak membantu kita? Aku tahu--ayo, kita bunuh dia!
Gambaran mengerikan sepasang tanganku mencekik
leher Pencari memenuhi kepalaku.
Tindakan semacam itulah yang menjadi alasan mengapa bangsaku sebaiknya dibiarkan menangani tempat ini.
Jangan
sombong. Kau akan sama menikmatinya sepertiku.
Gambaran
itu kembali, wajah Pencari berubah biru dalam khayalan kami, tapi kali ini
diiringi gelombang kegembiraan yang dahsyat.
Itu
kau, bukan aku.
Ucapanku benar; gambaran itu memualkanku.
Tapi
ucapanku itu juga sangat mendekati kekeliruan--karena aku akan sangat senang
seandainya tak pernah berjumpa Pencari lagi.
Apa
yang harus kita lakukan sekarang? Aku tidak akan menyerah. Kau tidak akan
menyerah. Dan Pencari keparat itu pasti tidak akan menyerah!
Aku
tidak menjawab pertanyaan Melanie. Aku tidak siap menjawabnya.
Muncul keheningan sejenak di kepalaku. Itu menyenangkan. Aku berharap keheningan itu bisa bertahan. Tapi hanya ada satu cara untuk membeli kedamaianku. Bersediakah aku mebayar harganya? Masihkah aku punya pilihan?
Perlahan-lahan Melanie berubah tenang. Pikirannya menerawang ketika aku melewati pintu depan, dan untuk pertama kali kukunci pintu dengan memutar kunci--benda kuno manusia yang tidak berguna di dunia damai.
Aku tidak pernah memikirkan bagaimana cara kalian meneruskan spesies kalian. Aku tidak tahu kalau seperti itu.
Kami
Melakukannya dengan sangat serius, seperti yang bisa kau bayangkan. Terima
kasih atas perhatiannya.
Melanie
tidak terganggu oleh kentalnya ironi dalam pikiran itu.
Ia masih merenungkan pengetahuan baru ini ketika aku menyalakan komputer dan mulai mencari pesawat ulang-alik. Sejenak kemudian barulah ia menyadari apa yang sedang kulakukan.
Kita mau ke mana?
Pikiran itu diwarnai sedikit kepanikan.
Aku merasakan kesadaran Melanie mulai menggeledah kepalaku, dengan sentuhan
seperti sapuan lembut bulu-bulu, mencari sesuatu yang mungkin kurahasiakan
darinya.
Kuputuskan untuk memberitahunya. Aku mau pergi ke Chicago.
Kepanikan itu membesar. Mengapa?
Aku akan menemui Penyembuh. Aku tidak mempercayai Pencari. Aku ingin bicara dengan Penyembuh sebelum membuat keputusan.
Hening sejenak, sebelum Melanie kembali bicara.
Keputusan untuk membunuhku?
Ya,
benar.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar