Ada cerpen baru nih. Sebenernya udah lama, tapi baru aku post sekarang:D Enjoy!
Siang
ini, Rachel pergi berbelanja di sebuah swalayan kecil di Giant. Tepatnya di
depan perumahan Pondok Indah Cilegon. Tak lupa di temani oleh sahabatnya,
Antania yang biasa di panggil Nia. Teriknya matahari cukup membuat Rachel
memaklumi cuaca yang memang sudah sering terjadi di kota Cilegon.
Ya,
Cilegon memang panas. Akhir-akhir ini walaupun sedang mengalami musim hujan,
cuaca tetap pula panas tak karuan. Hari ini hari ke tiga dimulainya liburan.
Wow! Lumayanlah, dari pada setiap hari Rachel sekolah tiada berhentinya dari
mulai pukul 7 pagi dan baru keluar sekolah tepat pada matahari terbenam.
Bagaimana Rachel tidak bertengkar terus dengan bundanya karena bundanya
tersebut beranggapan Rachel tidak peduli lagi dengan keluarganya karena
sibuknya pekerjaan-pekerjaan sekolah. Dan itu cukup membuat Rachel Stres.
“Rachel,
banyak sekali kue yang kau beli. Memangnya kau fikir kita mau kemana besok?”
“Sudahlah
Ni, kali ini saja kau menuruti permintaanku. Percaya padaku, ini tidak akan
cukup untuk persediaan kita.”
“Tidak
cukup? Itu terlalu banyak buatku Rachel.”
“Tenang
Nia, percaya padaku. Kalau pun kalian tidak sanggup menghabiskannya, aku yang
akan menghabiskan semuanya.”
Nia
bergumam tak jelas. “Dasar kau! Aku simpan apa yang kau bicarakan itu.” Rachel
hanya mengangguk dengan percaya diri.
Setelah
berdebat sebentar, mereka menuju kasir untuk membayar. Mereka keluar dengan
barang bawaan banyak. Plastik-plastik yang tidak terhitung jumlahnya, membuat
mereka kewalahan membawanya. Dan, isi semua plastik itu adalah makanan.
Dengan
susah payah mereka membawa dan memasukkan semua plastik itu ke dalam mobil.
Hei, jangan salah. Mereka memang baru kelas 1 SMA. Tapi Nia sudah cukup
terampil untuk mengemudi mobilnya dengan baik.
“Ah,
Rachel. Kau cukup membuatku susah.” Nia mengendarai mobil dengan santai. Menuju
perumahan Palm Hills Estate. Sebenarnya, rumah Nia di Pondok Cilegon Indah.
Tapi karena rumah Rachel yang jauh letaknya membuat Nila rela mengantar
sahabatnya itu.
“Maaf,
aku tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab Rachel memamerkan deretan giginya
yang rata. Sampai-sampai teman sekolahnya mempermasalahkan gigi Rachel yang
rata. Mungkin memang sudah aslinya begitu. Karena Rachel merespon dengan
menunjukkan wajah tak minat.
Keesokan
harinya mereka bersiap-siap untuk menuju sebuah hotel di Anyer. Mereka belum
tahu seperti apa wujud hotel yang akan mereka tempati untuk menyambut tahun
baru 2013 nanti.
Suasana
pagi kota Cilegon sudah di penuhi oleh ribuan kendaraan yang berlalu-lalang.
Membuat udara lebih banyak berpolusi walaupun hari masih pagi. Matahari belum
muncul untuk menyambut ramai nya kota Cilegon.
“Ah,
sial! Pagi-pagi begini sudah terkena macet.” Ryan bergumam tak jelas di
mobilnya. Ia bersama Fandy dan Nia. Sekarang giliran menjemput Raina yang
rumahnya di Kavling. Karena mereka naik mobil, maka dari itu melewati jalan
raya. Dan saat ini, mereka terjebak macet.
Handphone
Nia berbunyi, “Halo? Iya Hel? Kita terjebak macet nih, kita lagi di jalan. Arah
mau ke rumah Raina. Iyadeh, kamu tunggu aja ya. Tidak lama kok.” Nia menutup
handphone nya.
“Kenapa?
Rachel ya?” Tanya Fandy yang sedari tadi sibuk dengan permainan ps nya. Mobil
Ryan memang serbaguna. Banyak sekali mainan di dalam mobil, jadi walau
bagaimana pun mereka tetap tidak akan bosan di dalam mobil.
“Sudah
tahu Rachel, kenapa bertanya lagi, Fan?”
“Siapa
tahu orang lain. Yang bernama Rachel kan bukan hanya dia saja.”
“Aah,
Fandy. Jujurlah padaku jika kau menyukainya...”
Fandy
diam. “Tidak, aku tidak menyukainya. Sudahlah.”
Ryan
dan Nia terkekeh pelan mengetahui perubahan mimik muka pada wajah Fandy.
Bagaimana mereka tidak curiga kalau Fandy dan Rachel tidak mempunyai hubungan
khusus. Karena yang ada di wallapaper Fandy adalah foto Rachel. Begitu juga
sebaliknya. ‘Ah, kami hanya menjalankan perjanjian yang sudah kami sepakati’
begitu alasan mereka saat kami semua bertanya. Perjanjian yang telah
disepakati? Fandy dan Rachel tidak mau memberitahu lebih lanjut.
Tepat
di perempatan sesudah Ramayana, Ryan membelokkan mobilnya ke kiri. Menuju rumah
Raina, untung saja tidak macet lagi. Matahari sudah menyapa indahnya pagi di
Kota cilegon.
“Ah,
kalian datang juga.”
“Maaf,
tadi macet.” Ryan terkekeh. Raina membalasnya dengan senyuman. Kemudian naik ke
mobil Ryan. Selanjutnya mereka menjemput Denita di daerah Panggung Rawi. Karena
takut mengulur waktu, Denita menunggu nya di depan Masjid Agung Cilegon.
“Hai...”
Sapa Denita saat masuk ke dalam mobil. Semua pada menyahut dengan heboh.
“Jemput siapa lagi?” Tanya Denita.
“Kita
jemput Advin, setelah itu.. You know lah. Jemput Rachel dan Dicky, Ta. Nia
sayang, tolong sms Advin, Rachel dan Dicky ya. Suruh Advin ke depan Krakatau
Junction aja, dan suruh Rachel dan Dicky ke Bunderan, supaya tak mengulur
waktu.”
“Baiklah...”
Perlu kalian ketahui, bahwa Nia dan Ryan sudah berhubungan khusus belum lama
ini. Jadi, romantis-romantisnya masih keluar.
Tepat
jam 9 kurang 6 menit, setelah mereka sudah lengkap. Kecuali Aziz yang rumahnya
memang di Anyer, jadi mereka mengambil kepercayaan pada Aziz untuk menentukan
hotel yang akan mereka tempati.
“Duh,
macet lagi. Liburan sih yah, pantes saja.”
Apa
yang kalian fikirkan jika mendengar Kota Anyer? Ya, Pantai! Pantai nan indah
yang sejuk. Kalau sedang galau ataupun sedih, ke pantai lah satu-satu nya cara
lebih elite. Walaupun perjalanan yang di tempuh lumayan jauh ataupun macet.
Tapi kalaupun kita ingin, bagaimanapun caranya pasti akan dilakukan.
“Kau
dimana, Ziz? Oh ya, tunggu disitu ya sayang.” Denita menutup handphone.
“Baru
kali ini aku mendengar Denita mengucapkan kata ‘sayang’ ke Aziz. Rasanya sangat
aneh. Haha.” Sahut Raina yang duduk di jok paling belakang bersama Rachel dan
Dicky.
“Iya,
aku pun sama. Oh iya Ta, Aziz menunggu dimana nanti?” Sambung Rachel bertanya
pada Denita.
“Di
depan nanti ada pertigaan. Kita minggir sebentar ya pak supir!” Yang lain
terkekeh mendengar Denita memanggil Ryan dengan sebutan ‘pak supir’. Ryan hanya
mengangguk ikutan terkekeh.
Tepat
di pertigaan, Aziz berdiri menunggu dengan wajah murung. Memang seperti itu
kali ya wajahnya. Aziz kaget karena tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di
depannya.
“Ngelamun
terus ih, sampai-sampai kamu gatau bahwa kita datang.” Yang lain ketawa
terbahak.
“Yaelah,
kalian kan tahu kalau mukaku memang seperti ini wujudnya. Hahaha.” Jawab Aziz
saat sudah duduk manis di mobil.
“Haha,
bisa saja kau ini. Jadi, kita mau ke hotel mana?” Tanya Ryan tetap fokus pada
kendalinya.
“Kemaren
aku sudah bertanya pada ibu, hotel yang bagus disini yaitu Hotel Mambruk Anyer.
Bagaimana? Kita mau coba disitu? Letaknya tidak terlalu jauh kok. Kalau
macetnya tidak parah, 15 menitan pun kita sudah sampai.”
“Kita
coba dulu aja disitu. Kalaupun memang tidak sesuai hati, kita bisa meneruskan
perjalanannya.” Ucap Ryan membuat kami mengangguk.
Ternyata
memang tidak lama hanya di tempuh 10 menit kita sampai di Hotel Mambruk Anyer.
Kami segera turun untuk melihat-lihat apakah cocok untuk kita tempati 5 hari
ini. Luar hotel tampak menggambarkan kesan mewah. Dan memang benar, ketika kami
masuk nuansa Hotel ini berwarna coklat, hal lain yang tergambar di sini yaitu
‘tua’. Tembok yang warnanya mulai memudar. Tapi tertutup oleh ruangan yang di
atur se rapi mungkin.
Ryan
tampak sedang menawar menurunkan harga. Untuk hal itu, memang sudah Ryan yang
mengurus. Karena untuk soal begitu memang Ryan ahlinya. Petugas Hotel terlihat
mengangguk dan menyalamkan Ryan.
“Bagaimana,
Ryan?” Tanya Advin begitu sang petugas Hotel pergi.
“Aku
berhasil, harganya sangat miring sekali. Haha.”
“Wah,
kau memang jago sekali, Ryan. Hebat-hebat aku suka.” Sahut Nia heboh.
“Memang
nya selama ini kau pacaran denganku kau tidak suka aku ya? Waaah.” Jawab Ryan
curiga.
Nia
menggeleng cepat. Kami hanya tertawa menyaksikan mereka berdua. Memang selalu
seperti itu.
Akhirnya,
kami memesan Villa yang terdiri dari dua kamar. Cukuplah, untuk mereka
ber-sembilan orang. Karena 1 kamar terdiri dari 2 tempat tidur.
Besoknya,
sekitar jam 5 an mereka menuju pantai. Udara yang ada sangat sejuk sehingga
membuat Rachel tak minat bermain air karena perut yang dia alami sedang
bermasalah. Anyer petang ini terik. Dia hanya mengamati teman-teman nya yang
tersenyum bahagia bermain air, menjatuhkan satu sama lain. Dia tak minat sama
sekali. Rachel hanya duduk di Gazebo.
“Rachel,
sedang apa kau disini? Ayo, ikutlah kami bermain.” Dengan basah kuyup Dicky
menghampiri Rachel. Dia mengulurkan tangannya. Rachel hanya menggeleng.
“Ayolah,
kau kenapa?”
“Aku
baik baik saja, Dicky.” Jawab Rachel tersenyum sebentar setelah itu menunjukkan
wajah kesalnya. Dicky kembali ke dasar pantai.
“DOR!
Sendirian saja. Kenapa kau tidak ikut yang lain kesana?”
Rachel
menahan geram. “Heuh, Fandy. Jantungku hampir mau loncat tahu tidak! Bisakah
kau muncul kehadapanku dengan lembut?” Rachel tak menjawab pertanyaan Fandy.
“Maaf,
Rachel. Aku hanya bercanda.” Ucap Fandy kesal. Rachel hanya mengangguk. “Sedang
apa kau disini? Mengapa tak ikut teman-teman yang lain ke dasar pantai? Ayo
ikut kesana!” Tanpa menunggu Rachel menjawab pertanyaannya, Fandy menarik
tangan Rachel. Tapi Rachel menahannya.
“Aku
tidak mau.”
“Mengapa?”
Rachel
tetap menahan dan melepas genggaman tangan Fandy. “Kalau begitu, ijinkan aku
menemanimu.” Fandy kembali duduk di sebelah Rachel.
“Sebentar
lagi kita akan lihat sunset.” Fandy masih berbicara tak mau diam.
“Aku
tahu, Fandy.”
Hati
Fandy tak karuan saat mendekati Rachel. Tak seperti biasanya seperti ini. Maka,
Fandy menutupi kegugupannya dengan terus banyak berbicara.
Rachel
senang Fandy bisa menemaninya. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengatakan
perasaanya yang ia alami sekarang. Jantungnya berdegup keras. Tapi ia yakin
Fandy tidak akan mendengarnya.
Tak
lama mereka duduk. Nia datang. “Kalian tidak ikutan kesana?”
“Dia
tidak mau.” Tunjuk Fandy ke Rachel.
“Kalau
begitu, kau saja yang kesana. Ikut aku!”
“Ah,
tidak. Aku ingin menemani Rachel disini. Biarkan kami berdua disini, Nia.”
“Ayolah,
Fan! Ikutlah bersamaku.” Nia menarik tangan Fandy yang membuat Fandy mau tidak
mau berdiri dan ikut bersama Nia.
Sial!
Padahal sedikit lagi Rachel bisa melihat sunset bersama orang yang baru
dikenalnya 6 bulan tapi sudah tersimpan dalam di hatinya. Tapi hanya harapan
kosong yang ada. Ah Nia, mengapa kamu yang mengajaknya? Apakah kamu tidak
mengerti perasaanku saat ini? Begitu ucap Rachel dalam hati. Mengapa harus Nia
yang menghancurkan harapannya. Sahabatnya. Ia masih memandangi Fandy dari jauh.
Sampai
sekarang, ia tidak bisa mengerti. Mengapa harus orang itu yang mengisi hatinya.
Yang ia tahu dari laki-laki itu adalah rese, cuek, caper, dan dia selalu asik
dengan dirinya sendiri.
Matahari
sudah kembali ke asalnya. Menciptakan biru nya langit yang semakin gelap.
Menunggu hadirnya bulan yang selalu hadir di setiap malam.
“Saatnya
makan!!!!” Ucap mereka heboh. Karena cacing-cacing di perut mereka sudah minta
jatah. Satu bundar meja makan sudah siap sebelum mereka duduki.
“Advin
santai dong makannya. Aku tahu kau lapar, tapi tidak harus seperti itu kan?”
Pinta Rachel ketika baru ada Advin dan dirinya di meja makan.
“Sstttt.
Rachel, temanilah aku untuk malam ini saja. Agar aku tak kesepian.”
“Maksudmu?
Mengikuti engkau dengan makan seperti itu? Tidak! Jangan berharap.”
“Tenang,
Vin. Aku datang menemanimuuuu!” Ucap Dicky ikutan berteriak dan menempati duduk
di sebelahku.
Teman-teman
yang lain menempati tempat duduk masing-masing. Dan Fandy tepat di sebelah kiri
Rachel yang memang masih kosong. Dengan senang nya Nia duduk di sebelah Fandy
di lain sisi.
Tepat
pada saat Ryan meminta ijin ke kamar mandi. Nia basa-basi ke Fandy dengan kata-kata
gombal yang membuat telinganya panas. Oh, God.. Cobaan apa lagi ini. Ketika
Ryan sudah kembali, Nia tetap tebar pesona. Yang ia heran adalah Ryan cuek dengan apa yang
terjadi pada Fandy dan Nia. Dan untuk yang kesekian kalinya ia di kacangin oleh
teman-temannya. Fandy dengan Nia. Denita dengan Aziz. Ryan dengan Raina, Advin
dan Dicky.
Rachel berdiri.
Ia tidak tahan dengan permainan semua orang yang ada disini. Semua diam. Ia
tidak mengerti sebenarnya ada apa dengan semua ini.
“Yan, ikut aku!”
Rachel menarik tangan Ryan menahan emosi nya. Semua emosi yang ada ia coba
untuk tidak di keluarkan.
Tepat di sebuah
tepi kolam renang. Nafas Rachel tidak beraturan.
“Ada apa,
Rachel?”
“Kau masih bertanya
kenapa, hah? Memang nya suasana di meja makan tadi tidak menjawab pertanyaanmu
itu? Ryan, plis.. Sebenarnya ada apa disini? Kau tidak tahu apa yang terjadi
pada Nia dan Fandy? Dan mengapa kalian sibuk dengan urusan kalian
masing-masing? Kalian lupa bahwa ada aku disini? AKU DISINI! Dan kalian tidak
menganggap adanya aku!”
“Nia dan Fandy?
Memangnya kenapa dengan mereka berdua? Mereka hanya bercanda saja kok. Dan asal
kau tahu Rachel, Aku tidak seperti yang kamu bicarakan tadi. Kami semua
menganggap adanya kau.”
“Bercanda?
Apakah kau fikir di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin? Bagaimana jika
semua itu benar? Kau tidak takut Nia berpaling darimu? Apa kau tidak takut
bahwa Nia....”
Ryan menyimpan
telunjuknya di bibir Rachel. “Aku tidak takut sama sekali jika Nia berpaling
dariku. Karena yang aku takutkan adalah kamu yang seperti ini...”
Tepat saat itu,
teman-teman yang lain keluar karena penasaran ada apa pada diri Rachel.
“Ryan? Kau!”
Ryan dan Rachel menoleh pada teman-teman semua.
“Ada apa ini, Ryan?”
Tanya Fandy bingung.
“Kenapa, Fan?
Kau cemburu? Nia, apa kau benar-benar menyukaiku? Sampai-sampai aku di lupakan
saat kau sedang bersama seseorang yang kau cintai lebih dari pada kau
menyukaiku.” Ucap Ryan berbicara sinis.
“Ya, kalau kau
mau waktu yang tepat. Inilah waktu yang tetap untuk kau tahu bahwa aku tidak
suka denganmu. Aku lebih suka Fandy daripada kau. Jadi, sampai disini
perjalanan kita. Bye Ryan.” Nia bergelayut di lengan Fandy.
Ryan mendecak
sinis ke arah Nia. Fandy menepis tangan Nia. Nia bingung.
“Maaf, Ni.
Mungkin kalau aku memilihmu, yang ada bukan bahagia. Tapi penyesalan. Aku lebih
memilih Rachel.”
Ryan menatap
Fandy. “Tidak! Rachel yang akan bersamaku.” Ryan merangkul Rachel. Rachel tatap
diam, ia menunduk dari tadi.
“KENAPA HARUS RACHEL?
Kenapa harus Rachel yang merebut semua orang dariku? Hel, kita bersahabat. Apa
kamu rela melihatku sendirian? Aku benci kamu, Rachel!”
Rachel melepas
rangkulan Ryan. Ia maju perlahan, “Seharusnya yang bilang seperti itu aku! Kamu
selalu mematikan harapanku, Ni. Aku yang lebih dulu menyukai Reza. Tapi apa?
Kamu yang sama Reza saat itu. Ryan mulai mengubah perasaanku terhadap Reza dan
dia berhasil mematikan perasaan itu, aku mulai menyukai nya juga. Tapi selalu
kamu yang jadian sama orang yang aku suka. Kamu dan Ryan sama-sama merusak
perasaan yang ada. Sekarang? Aku terhadap Fandy. Apa kamu mau mematikan
perasaan ini lagi ke aku? Seberapa kalinya kamu mematikan harapan itu, Ni? Kamu
sahabatku. Aku yakin kamu tahu siapa aja orang yang aku suka, dan setiap kamu
tahu kamu mencoba mengambilnya dariku. Aku lelah dengan permainanmu, Ni. Aku
capek. Aku mau ini semua selesai. Cukup aku saja yang terkena perangkap kamu,
Ni. Aku mohon jangan lakukan ini pada orang lain selain aku. Karena rasanyanya
sakit, Ni.... Sakit... Kamu tidak akan tahu rasanya jadi aku. Dan aku lebih
sakit hati lagi sekarang kalau Fandy tetap memilih kamu, Ni.” Air mata Rachel
deras mengalir.
“Ni, sahabat
macam apa seperti itu? Hel, maaf ya karena aku menjadi sahabat kau yang tidak
bisa memberimu apa-apa.”
Antania hanya
bisa menunduk. “Rachel..... I know how you feel, dear. And it was very painful”
Denita memeluk Rachel. Raina pun ikut memeluk Rachel.
“Hel, apapun
yang kamu rasakan. Aku minta maaf. Aku minta maaf, Hel. Maaf.” Rachel mengangguk.
Nia berlari ikut memeluk Rachel.
Rachel
melepaskan pelukan teman-temannya. Ia berlari menuju pantai. Teman-teman yang
lain mengejarnya. Takut kalau Rachel bertindak nekat.
“Sudah terlalu
lama aku memendam perasaan ini, Ni. Rasanya lebih sesek dari yang kamu
bayangkan.” Rachel berlari lagi ke tepi pantai. Sampai air menyentuh kakinya.
“Dulu, aku tidak
tahu bagaimana caranya untuk melepas ini. Aku lebih memilih menutup perasaanku
tanpa ada satu orang yang tahu.....selain Dicky. Dicky baik, dia selalu ada
disaat aku butuh kalian semua di samping aku. Tapi cuma dia yang selalu ada!
Cuma dia.....” Rachel semakin ke tengah. Ia berhenti saat air mulai membatasi
dadanya. Hanya Nia, Dicky, Fandy, dan Ryan yang mengikuti Rachel. Sisanya hanya
menunggu di tepi dengan kegelisahan.
Dicky mendekati
Rachel. “Hel, dengarkan aku. Kau mau apa? Ngapain kamu ketengah? Ini sudah
malam, Hel. Terlalu bahaya.”
Rachel dengan
refleks memeluk Dicky dengan erat. “Ayo kita ke pinggir.” Dengan tetap posisi
berpelukan mereka ke pinggir. Perlahan-lahan membawa Rachel.
“Aku tahu
bagaimana caranya agar semua yang masih tersisa dan masih tertinggal dalam
perasaanmu hilang. Kamu cukup berteriak Rachel. Keluarkan emosi mu sekarang!
Tunggu apa lagi! Teriaklah! Itu akan mengurangi beban yang ada pada diri kamu.”
Dicky berbisik di telinga Rachel dengan yakin.
Fandy yang
melihat itu cemburu, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Rachel melepas pelukan
Dicky. Ia berteriak. Sekencang-kencangnya. Sampai air mata keluar lagi. Menetes
deras.
“Maafin aku,
Hel. Aku yang sudah membuatmu kacau seperti ini. Aku minta maaf Rachel.” Nia
kembali memeluk Rachel. Rachel tersenyum.
BUKK. Dengan
tergesa-gesa Fandy memukul pipi Dicky. “Fandy! Apa yang kamu lakukan?” Rachel
membangunkan Dicky yang tadi terjatuh.
“Omong kosong,
kamu bilang kamu yang pertama kali mendukungku bersama dia. Tapi kenapa kamu
juga yang mengambil dia dariku, Dicky?”
“Fan!” Rachel
dengan sigap memeluk Fandy. Ia menggeleng. “Dia hanya sahabatku, Fan. Tak
lebih. Jangan berfikiran seperti itu.”
“Tapi kalau kamu
membuat Rachel kacau seperti ini lagi. Aku tak akan diam, Fan.”
“Jadi, Rachel
sama Fandy? Kita pesta!” Seru Aziz.
“Kok semakin
malam semakin ramai sih?” Tanya Nia.
“Kalian lupa ya?
Beberapa menit lagi kan tahun baru.” Jawab Advin.
Ryan sudah mulai
merelakan Rachel, ia tahu ia telat sekarang. Ia yakin menunggu Rachel. Hingga
pada waktunya. Ia tersenyum.
“Aku senang
sekarang...” Bisik Rachel pada Fandy. “Kalau bukan situasi yang seperti tadi,
mungkin sampai sekarang aku hanya pengagum rahasiamu.”
“Ssstt. Aku tak
akan berani memukul Dicky kalau kau tak memeluknya.”
“Ayo kita itung
mundur!” Ajak Raina.
“5..............4............3...........2..........1.
SELAMAT TAHUN BARU!” Teriak kami semua. Tepat jam 00:00. Mereka berpelukan satu
sama lain, melupakan kejadian pahit. Dan mengingat kejadian yang indah.
Fandy
mengeratkan genggaman tangannya pada Rachel. Mereka punya harapan sendiri.
Mereka punya harapan dan do’a masing-masing dan itu akan tersimpan terus pada
relung hati mereka dalam-dalam. Kenangan ini, kenangan di pantai Hotel Mabruk
Anyer, Indonesia. Yang tidak akan mereka lupakan. Terkadang, kita tidak sadar
bahwa di sekitar kita ada seseorang yang diam-diam membuat hidup kita berarti.
Dan, terkadang kita diam-diam menganggumi seseorang yang berarti. Berbicaralah!
Agar kita tahu perasaan masing-masing dan tidak ada lagi yang disembunyikan.
Minggu, 6 Januari 2013
Amanda Hanifah Nur Hilizza
Minggu, 6 Januari 2013
Amanda Hanifah Nur Hilizza