Laman

Jumat, 25 Januari 2013

Love Triangle *CERPEN*


Ada cerpen baru nih. Sebenernya udah lama, tapi baru aku post sekarang:D Enjoy!



            Siang ini, Rachel pergi berbelanja di sebuah swalayan kecil di Giant. Tepatnya di depan perumahan Pondok Indah Cilegon. Tak lupa di temani oleh sahabatnya, Antania yang biasa di panggil Nia. Teriknya matahari cukup membuat Rachel memaklumi cuaca yang memang sudah sering terjadi di kota Cilegon.
            Ya, Cilegon memang panas. Akhir-akhir ini walaupun sedang mengalami musim hujan, cuaca tetap pula panas tak karuan. Hari ini hari ke tiga dimulainya liburan. Wow! Lumayanlah, dari pada setiap hari Rachel sekolah tiada berhentinya dari mulai pukul 7 pagi dan baru keluar sekolah tepat pada matahari terbenam. Bagaimana Rachel tidak bertengkar terus dengan bundanya karena bundanya tersebut beranggapan Rachel tidak peduli lagi dengan keluarganya karena sibuknya pekerjaan-pekerjaan sekolah. Dan itu cukup membuat Rachel Stres.
            “Rachel, banyak sekali kue yang kau beli. Memangnya kau fikir kita mau kemana besok?”
            “Sudahlah Ni, kali ini saja kau menuruti permintaanku. Percaya padaku, ini tidak akan cukup untuk persediaan kita.”
            “Tidak cukup? Itu terlalu banyak buatku Rachel.”
            “Tenang Nia, percaya padaku. Kalau pun kalian tidak sanggup menghabiskannya, aku yang akan menghabiskan semuanya.”
            Nia bergumam tak jelas. “Dasar kau! Aku simpan apa yang kau bicarakan itu.” Rachel hanya mengangguk dengan percaya diri.
            Setelah berdebat sebentar, mereka menuju kasir untuk membayar. Mereka keluar dengan barang bawaan banyak. Plastik-plastik yang tidak terhitung jumlahnya, membuat mereka kewalahan membawanya. Dan, isi semua plastik itu adalah makanan.
            Dengan susah payah mereka membawa dan memasukkan semua plastik itu ke dalam mobil. Hei, jangan salah. Mereka memang baru kelas 1 SMA. Tapi Nia sudah cukup terampil untuk mengemudi mobilnya dengan baik.
            “Ah, Rachel. Kau cukup membuatku susah.” Nia mengendarai mobil dengan santai. Menuju perumahan Palm Hills Estate. Sebenarnya, rumah Nia di Pondok Cilegon Indah. Tapi karena rumah Rachel yang jauh letaknya membuat Nila rela mengantar sahabatnya itu.
            “Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab Rachel memamerkan deretan giginya yang rata. Sampai-sampai teman sekolahnya mempermasalahkan gigi Rachel yang rata. Mungkin memang sudah aslinya begitu. Karena Rachel merespon dengan menunjukkan wajah tak minat.
            Keesokan harinya mereka bersiap-siap untuk menuju sebuah hotel di Anyer. Mereka belum tahu seperti apa wujud hotel yang akan mereka tempati untuk menyambut tahun baru 2013 nanti.
            Suasana pagi kota Cilegon sudah di penuhi oleh ribuan kendaraan yang berlalu-lalang. Membuat udara lebih banyak berpolusi walaupun hari masih pagi. Matahari belum muncul untuk menyambut ramai nya kota Cilegon.
            “Ah, sial! Pagi-pagi begini sudah terkena macet.” Ryan bergumam tak jelas di mobilnya. Ia bersama Fandy dan Nia. Sekarang giliran menjemput Raina yang rumahnya di Kavling. Karena mereka naik mobil, maka dari itu melewati jalan raya. Dan saat ini, mereka terjebak macet.
            Handphone Nia berbunyi, “Halo? Iya Hel? Kita terjebak macet nih, kita lagi di jalan. Arah mau ke rumah Raina. Iyadeh, kamu tunggu aja ya. Tidak lama kok.” Nia menutup handphone nya.
            “Kenapa? Rachel ya?” Tanya Fandy yang sedari tadi sibuk dengan permainan ps nya. Mobil Ryan memang serbaguna. Banyak sekali mainan di dalam mobil, jadi walau bagaimana pun mereka tetap tidak akan bosan di dalam mobil.
            “Sudah tahu Rachel, kenapa bertanya lagi, Fan?”
            “Siapa tahu orang lain. Yang bernama Rachel kan bukan hanya dia saja.”
            “Aah, Fandy. Jujurlah padaku jika kau menyukainya...”
            Fandy diam. “Tidak, aku tidak menyukainya. Sudahlah.”
            Ryan dan Nia terkekeh pelan mengetahui perubahan mimik muka pada wajah Fandy. Bagaimana mereka tidak curiga kalau Fandy dan Rachel tidak mempunyai hubungan khusus. Karena yang ada di wallapaper Fandy adalah foto Rachel. Begitu juga sebaliknya. ‘Ah, kami hanya menjalankan perjanjian yang sudah kami sepakati’ begitu alasan mereka saat kami semua bertanya. Perjanjian yang telah disepakati? Fandy dan Rachel tidak mau memberitahu lebih lanjut.
            Tepat di perempatan sesudah Ramayana, Ryan membelokkan mobilnya ke kiri. Menuju rumah Raina, untung saja tidak macet lagi. Matahari sudah menyapa indahnya pagi di Kota cilegon.
            “Ah, kalian datang juga.”
            “Maaf, tadi macet.” Ryan terkekeh. Raina membalasnya dengan senyuman. Kemudian naik ke mobil Ryan. Selanjutnya mereka menjemput Denita di daerah Panggung Rawi. Karena takut mengulur waktu, Denita menunggu nya di depan Masjid Agung Cilegon.
            “Hai...” Sapa Denita saat masuk ke dalam mobil. Semua pada menyahut dengan heboh. “Jemput siapa lagi?” Tanya Denita.
            “Kita jemput Advin, setelah itu.. You know lah. Jemput Rachel dan Dicky, Ta. Nia sayang, tolong sms Advin, Rachel dan Dicky ya. Suruh Advin ke depan Krakatau Junction aja, dan suruh Rachel dan Dicky ke Bunderan, supaya tak mengulur waktu.”
            “Baiklah...” Perlu kalian ketahui, bahwa Nia dan Ryan sudah berhubungan khusus belum lama ini. Jadi, romantis-romantisnya masih keluar.
            Tepat jam 9 kurang 6 menit, setelah mereka sudah lengkap. Kecuali Aziz yang rumahnya memang di Anyer, jadi mereka mengambil kepercayaan pada Aziz untuk menentukan hotel yang akan mereka tempati.
            “Duh, macet lagi. Liburan sih yah, pantes saja.”
            Apa yang kalian fikirkan jika mendengar Kota Anyer? Ya, Pantai! Pantai nan indah yang sejuk. Kalau sedang galau ataupun sedih, ke pantai lah satu-satu nya cara lebih elite. Walaupun perjalanan yang di tempuh lumayan jauh ataupun macet. Tapi kalaupun kita ingin, bagaimanapun caranya pasti akan dilakukan.
            “Kau dimana, Ziz? Oh ya, tunggu disitu ya sayang.” Denita menutup handphone.
            “Baru kali ini aku mendengar Denita mengucapkan kata ‘sayang’ ke Aziz. Rasanya sangat aneh. Haha.” Sahut Raina yang duduk di jok paling belakang bersama Rachel dan Dicky.
            “Iya, aku pun sama. Oh iya Ta, Aziz menunggu dimana nanti?” Sambung Rachel bertanya pada Denita.
            “Di depan nanti ada pertigaan. Kita minggir sebentar ya pak supir!” Yang lain terkekeh mendengar Denita memanggil Ryan dengan sebutan ‘pak supir’. Ryan hanya mengangguk ikutan terkekeh.
            Tepat di pertigaan, Aziz berdiri menunggu dengan wajah murung. Memang seperti itu kali ya wajahnya. Aziz kaget karena tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depannya.
            “Ngelamun terus ih, sampai-sampai kamu gatau bahwa kita datang.” Yang lain ketawa terbahak.
            “Yaelah, kalian kan tahu kalau mukaku memang seperti ini wujudnya. Hahaha.” Jawab Aziz saat sudah duduk manis di mobil.
            “Haha, bisa saja kau ini. Jadi, kita mau ke hotel mana?” Tanya Ryan tetap fokus pada kendalinya.
            “Kemaren aku sudah bertanya pada ibu, hotel yang bagus disini yaitu Hotel Mambruk Anyer. Bagaimana? Kita mau coba disitu? Letaknya tidak terlalu jauh kok. Kalau macetnya tidak parah, 15 menitan pun kita sudah sampai.”
            “Kita coba dulu aja disitu. Kalaupun memang tidak sesuai hati, kita bisa meneruskan perjalanannya.” Ucap Ryan membuat kami mengangguk.
            Ternyata memang tidak lama hanya di tempuh 10 menit kita sampai di Hotel Mambruk Anyer. Kami segera turun untuk melihat-lihat apakah cocok untuk kita tempati 5 hari ini. Luar hotel tampak menggambarkan kesan mewah. Dan memang benar, ketika kami masuk nuansa Hotel ini berwarna coklat, hal lain yang tergambar di sini yaitu ‘tua’. Tembok yang warnanya mulai memudar. Tapi tertutup oleh ruangan yang di atur se rapi mungkin.
            Ryan tampak sedang menawar menurunkan harga. Untuk hal itu, memang sudah Ryan yang mengurus. Karena untuk soal begitu memang Ryan ahlinya. Petugas Hotel terlihat mengangguk dan menyalamkan Ryan.
            “Bagaimana, Ryan?” Tanya Advin begitu sang petugas Hotel pergi.
            “Aku berhasil, harganya sangat miring sekali. Haha.”
            “Wah, kau memang jago sekali, Ryan. Hebat-hebat aku suka.” Sahut Nia heboh.
            “Memang nya selama ini kau pacaran denganku kau tidak suka aku ya? Waaah.” Jawab Ryan curiga.
            Nia menggeleng cepat. Kami hanya tertawa menyaksikan mereka berdua. Memang selalu seperti itu.
            Akhirnya, kami memesan Villa yang terdiri dari dua kamar. Cukuplah, untuk mereka ber-sembilan orang. Karena 1 kamar terdiri dari 2 tempat tidur.
            Besoknya, sekitar jam 5 an mereka menuju pantai. Udara yang ada sangat sejuk sehingga membuat Rachel tak minat bermain air karena perut yang dia alami sedang bermasalah. Anyer petang ini terik. Dia hanya mengamati teman-teman nya yang tersenyum bahagia bermain air, menjatuhkan satu sama lain. Dia tak minat sama sekali. Rachel hanya duduk di Gazebo.
            “Rachel, sedang apa kau disini? Ayo, ikutlah kami bermain.” Dengan basah kuyup Dicky menghampiri Rachel. Dia mengulurkan tangannya. Rachel hanya menggeleng.
            “Ayolah, kau kenapa?”
            “Aku baik baik saja, Dicky.” Jawab Rachel tersenyum sebentar setelah itu menunjukkan wajah kesalnya. Dicky kembali ke dasar pantai.
            “DOR! Sendirian saja. Kenapa kau tidak ikut yang lain kesana?”
            Rachel menahan geram. “Heuh, Fandy. Jantungku hampir mau loncat tahu tidak! Bisakah kau muncul kehadapanku dengan lembut?” Rachel tak menjawab pertanyaan Fandy.
            “Maaf, Rachel. Aku hanya bercanda.” Ucap Fandy kesal. Rachel hanya mengangguk. “Sedang apa kau disini? Mengapa tak ikut teman-teman yang lain ke dasar pantai? Ayo ikut kesana!” Tanpa menunggu Rachel menjawab pertanyaannya, Fandy menarik tangan Rachel. Tapi Rachel menahannya.
            “Aku tidak mau.”
            “Mengapa?”
            Rachel tetap menahan dan melepas genggaman tangan Fandy. “Kalau begitu, ijinkan aku menemanimu.” Fandy kembali duduk di sebelah Rachel.
            “Sebentar lagi kita akan lihat sunset.” Fandy masih berbicara tak mau diam.
            “Aku tahu, Fandy.”
            Hati Fandy tak karuan saat mendekati Rachel. Tak seperti biasanya seperti ini. Maka, Fandy menutupi kegugupannya dengan terus banyak berbicara.
            Rachel senang Fandy bisa menemaninya. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengatakan perasaanya yang ia alami sekarang. Jantungnya berdegup keras. Tapi ia yakin Fandy tidak akan mendengarnya.
            Tak lama mereka duduk. Nia datang. “Kalian tidak ikutan kesana?”
            “Dia tidak mau.” Tunjuk Fandy ke Rachel.
            “Kalau begitu, kau saja yang kesana. Ikut aku!”
            “Ah, tidak. Aku ingin menemani Rachel disini. Biarkan kami berdua disini, Nia.”
            “Ayolah, Fan! Ikutlah bersamaku.” Nia menarik tangan Fandy yang membuat Fandy mau tidak mau berdiri dan ikut bersama Nia.
            Sial! Padahal sedikit lagi Rachel bisa melihat sunset bersama orang yang baru dikenalnya 6 bulan tapi sudah tersimpan dalam di hatinya. Tapi hanya harapan kosong yang ada. Ah Nia, mengapa kamu yang mengajaknya? Apakah kamu tidak mengerti perasaanku saat ini? Begitu ucap Rachel dalam hati. Mengapa harus Nia yang menghancurkan harapannya. Sahabatnya. Ia masih memandangi Fandy dari jauh.
            Sampai sekarang, ia tidak bisa mengerti. Mengapa harus orang itu yang mengisi hatinya. Yang ia tahu dari laki-laki itu adalah rese, cuek, caper, dan dia selalu asik dengan dirinya sendiri.
            Matahari sudah kembali ke asalnya. Menciptakan biru nya langit yang semakin gelap. Menunggu hadirnya bulan yang selalu hadir di setiap malam.
            “Saatnya makan!!!!” Ucap mereka heboh. Karena cacing-cacing di perut mereka sudah minta jatah. Satu bundar meja makan sudah siap sebelum mereka duduki.
            “Advin santai dong makannya. Aku tahu kau lapar, tapi tidak harus seperti itu kan?” Pinta Rachel ketika baru ada Advin dan dirinya di meja makan.
            “Sstttt. Rachel, temanilah aku untuk malam ini saja. Agar aku tak kesepian.”
            “Maksudmu? Mengikuti engkau dengan makan seperti itu? Tidak! Jangan berharap.”
            “Tenang, Vin. Aku datang menemanimuuuu!” Ucap Dicky ikutan berteriak dan menempati duduk di sebelahku.
            Teman-teman yang lain menempati tempat duduk masing-masing. Dan Fandy tepat di sebelah kiri Rachel yang memang masih kosong. Dengan senang nya Nia duduk di sebelah Fandy di lain sisi.
            Tepat pada saat Ryan meminta ijin ke kamar mandi. Nia basa-basi ke Fandy dengan kata-kata gombal yang membuat telinganya panas. Oh, God.. Cobaan apa lagi ini. Ketika Ryan sudah kembali, Nia tetap tebar pesona. Yang  ia heran adalah Ryan cuek dengan apa yang terjadi pada Fandy dan Nia. Dan untuk yang kesekian kalinya ia di kacangin oleh teman-temannya. Fandy dengan Nia. Denita dengan Aziz. Ryan dengan Raina, Advin dan Dicky. 
Rachel berdiri. Ia tidak tahan dengan permainan semua orang yang ada disini. Semua diam. Ia tidak mengerti sebenarnya ada apa dengan semua ini.
“Yan, ikut aku!” Rachel menarik tangan Ryan menahan emosi nya. Semua emosi yang ada ia coba untuk tidak di keluarkan.
Tepat di sebuah tepi kolam renang. Nafas Rachel tidak beraturan.
“Ada apa, Rachel?”
“Kau masih bertanya kenapa, hah? Memang nya suasana di meja makan tadi tidak menjawab pertanyaanmu itu? Ryan, plis.. Sebenarnya ada apa disini? Kau tidak tahu apa yang terjadi pada Nia dan Fandy? Dan mengapa kalian sibuk dengan urusan kalian masing-masing? Kalian lupa bahwa ada aku disini? AKU DISINI! Dan kalian tidak menganggap adanya aku!”
“Nia dan Fandy? Memangnya kenapa dengan mereka berdua? Mereka hanya bercanda saja kok. Dan asal kau tahu Rachel, Aku tidak seperti yang kamu bicarakan tadi. Kami semua menganggap adanya kau.”
“Bercanda? Apakah kau fikir di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin? Bagaimana jika semua itu benar? Kau tidak takut Nia berpaling darimu? Apa kau tidak takut bahwa Nia....”
Ryan menyimpan telunjuknya di bibir Rachel. “Aku tidak takut sama sekali jika Nia berpaling dariku. Karena yang aku takutkan adalah kamu yang seperti ini...”
Tepat saat itu, teman-teman yang lain keluar karena penasaran ada apa pada diri Rachel.
“Ryan? Kau!” Ryan dan Rachel menoleh pada teman-teman semua.
“Ada apa ini, Ryan?” Tanya Fandy bingung.
“Kenapa, Fan? Kau cemburu? Nia, apa kau benar-benar menyukaiku? Sampai-sampai aku di lupakan saat kau sedang bersama seseorang yang kau cintai lebih dari pada kau menyukaiku.” Ucap Ryan berbicara sinis.
“Ya, kalau kau mau waktu yang tepat. Inilah waktu yang tetap untuk kau tahu bahwa aku tidak suka denganmu. Aku lebih suka Fandy daripada kau. Jadi, sampai disini perjalanan kita. Bye Ryan.” Nia bergelayut di lengan Fandy.
Ryan mendecak sinis ke arah Nia. Fandy menepis tangan Nia. Nia bingung.
“Maaf, Ni. Mungkin kalau aku memilihmu, yang ada bukan bahagia. Tapi penyesalan. Aku lebih memilih Rachel.”
Ryan menatap Fandy. “Tidak! Rachel yang akan bersamaku.” Ryan merangkul Rachel. Rachel tatap diam, ia menunduk dari tadi.
“KENAPA HARUS RACHEL? Kenapa harus Rachel yang merebut semua orang dariku? Hel, kita bersahabat. Apa kamu rela melihatku sendirian? Aku benci kamu, Rachel!”
Rachel melepas rangkulan Ryan. Ia maju perlahan, “Seharusnya yang bilang seperti itu aku! Kamu selalu mematikan harapanku, Ni. Aku yang lebih dulu menyukai Reza. Tapi apa? Kamu yang sama Reza saat itu. Ryan mulai mengubah perasaanku terhadap Reza dan dia berhasil mematikan perasaan itu, aku mulai menyukai nya juga. Tapi selalu kamu yang jadian sama orang yang aku suka. Kamu dan Ryan sama-sama merusak perasaan yang ada. Sekarang? Aku terhadap Fandy. Apa kamu mau mematikan perasaan ini lagi ke aku? Seberapa kalinya kamu mematikan harapan itu, Ni? Kamu sahabatku. Aku yakin kamu tahu siapa aja orang yang aku suka, dan setiap kamu tahu kamu mencoba mengambilnya dariku. Aku lelah dengan permainanmu, Ni. Aku capek. Aku mau ini semua selesai. Cukup aku saja yang terkena perangkap kamu, Ni. Aku mohon jangan lakukan ini pada orang lain selain aku. Karena rasanyanya sakit, Ni.... Sakit... Kamu tidak akan tahu rasanya jadi aku. Dan aku lebih sakit hati lagi sekarang kalau Fandy tetap memilih kamu, Ni.” Air mata Rachel deras mengalir.
“Ni, sahabat macam apa seperti itu? Hel, maaf ya karena aku menjadi sahabat kau yang tidak bisa memberimu apa-apa.”
Antania hanya bisa menunduk. “Rachel..... I know how you feel, dear. And it was very painful” Denita memeluk Rachel. Raina pun ikut memeluk Rachel.
“Hel, apapun yang kamu rasakan. Aku minta maaf. Aku minta maaf, Hel. Maaf.” Rachel mengangguk. Nia berlari ikut memeluk Rachel.
Rachel melepaskan pelukan teman-temannya. Ia berlari menuju pantai. Teman-teman yang lain mengejarnya. Takut kalau Rachel bertindak nekat.
“Sudah terlalu lama aku memendam perasaan ini, Ni. Rasanya lebih sesek dari yang kamu bayangkan.” Rachel berlari lagi ke tepi pantai. Sampai air menyentuh kakinya.
“Dulu, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melepas ini. Aku lebih memilih menutup perasaanku tanpa ada satu orang yang tahu.....selain Dicky. Dicky baik, dia selalu ada disaat aku butuh kalian semua di samping aku. Tapi cuma dia yang selalu ada! Cuma dia.....” Rachel semakin ke tengah. Ia berhenti saat air mulai membatasi dadanya. Hanya Nia, Dicky, Fandy, dan Ryan yang mengikuti Rachel. Sisanya hanya menunggu di tepi dengan kegelisahan.
Dicky mendekati Rachel. “Hel, dengarkan aku. Kau mau apa? Ngapain kamu ketengah? Ini sudah malam, Hel. Terlalu bahaya.”
Rachel dengan refleks memeluk Dicky dengan erat. “Ayo kita ke pinggir.” Dengan tetap posisi berpelukan mereka ke pinggir. Perlahan-lahan membawa Rachel.
“Aku tahu bagaimana caranya agar semua yang masih tersisa dan masih tertinggal dalam perasaanmu hilang. Kamu cukup berteriak Rachel. Keluarkan emosi mu sekarang! Tunggu apa lagi! Teriaklah! Itu akan mengurangi beban yang ada pada diri kamu.” Dicky berbisik di telinga Rachel dengan yakin.
Fandy yang melihat itu cemburu, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Rachel melepas pelukan Dicky. Ia berteriak. Sekencang-kencangnya. Sampai air mata keluar lagi. Menetes deras.
“Maafin aku, Hel. Aku yang sudah membuatmu kacau seperti ini. Aku minta maaf Rachel.” Nia kembali memeluk Rachel. Rachel tersenyum.
BUKK. Dengan tergesa-gesa Fandy memukul pipi Dicky. “Fandy! Apa yang kamu lakukan?” Rachel membangunkan Dicky yang tadi terjatuh.
“Omong kosong, kamu bilang kamu yang pertama kali mendukungku bersama dia. Tapi kenapa kamu juga yang mengambil dia dariku, Dicky?”
“Fan!” Rachel dengan sigap memeluk Fandy. Ia menggeleng. “Dia hanya sahabatku, Fan. Tak lebih. Jangan berfikiran seperti itu.”
“Tapi kalau kamu membuat Rachel kacau seperti ini lagi. Aku tak akan diam, Fan.”
“Jadi, Rachel sama Fandy? Kita pesta!” Seru Aziz.
“Kok semakin malam semakin ramai sih?” Tanya Nia.
“Kalian lupa ya? Beberapa menit lagi kan tahun baru.” Jawab Advin.
Ryan sudah mulai merelakan Rachel, ia tahu ia telat sekarang. Ia yakin menunggu Rachel. Hingga pada waktunya. Ia tersenyum.
“Aku senang sekarang...” Bisik Rachel pada Fandy. “Kalau bukan situasi yang seperti tadi, mungkin sampai sekarang aku hanya pengagum rahasiamu.”
“Ssstt. Aku tak akan berani memukul Dicky kalau kau tak memeluknya.”
“Ayo kita itung mundur!” Ajak Raina.
“5..............4............3...........2..........1. SELAMAT TAHUN BARU!” Teriak kami semua. Tepat jam 00:00. Mereka berpelukan satu sama lain, melupakan kejadian pahit. Dan mengingat kejadian yang indah.
Fandy mengeratkan genggaman tangannya pada Rachel. Mereka punya harapan sendiri. Mereka punya harapan dan do’a masing-masing dan itu akan tersimpan terus pada relung hati mereka dalam-dalam. Kenangan ini, kenangan di pantai Hotel Mabruk Anyer, Indonesia. Yang tidak akan mereka lupakan. Terkadang, kita tidak sadar bahwa di sekitar kita ada seseorang yang diam-diam membuat hidup kita berarti. Dan, terkadang kita diam-diam menganggumi seseorang yang berarti. Berbicaralah! Agar kita tahu perasaan masing-masing dan tidak ada lagi yang disembunyikan.



                                                                     Minggu, 6 Januari 2013

                                                                  Amanda Hanifah Nur Hilizza

There Will Be Times


Assalamualaikum teman-teman!!
            Apa kabar nih semuanya?:D Maaf ya, sudah lama ga nge post. Maklum, aku sibuk banget dan ga sempet buat nulis lagi. SHS ga aku lanjut ya, aku juga ga ngerti apa ceritanya, jadi mending ga aku lanjut. Aku ada cerpen baru nih. Ada yang mau? Cerpen ini cerpen yang yang aku kirim untuk lomba menulis. Apa salahnya aku share. Tapi sebelum itu, aku share puisi. Enjoy ya kawan!;)




There Will Be Times

Dahulu kita dekat. Dahulu kita sama. Mempunyai tujuan yang sama. Menikmati hidup bersama-sama. Kadang kita bercanda gurau. Tertawa bahagia. Selalu ceria. Itu suasana sebelum masalah datang. Sebelum ia marah padaku. Sebelum ia mengetahui siapa sebenarnya diri ini. Sebelum ia tahu semuanya.  Sebelum perasaan itu tumbuh. Datang lebih cepat dari yang kukira. Kini semua itu hanya angan-angan. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Melayang-layang tanpa tahu keberadaannya.

Hanya jujur. Jujur itu susah, benar-benar membutuhkan hati yang mantap. Siap memberitahunya. Apa ia fikir aku bercanda? Tidak. Apa ia fikir aku bodoh? Apa ia fikir aku perempuan yang murahan? Tidak. Ya, memang aku yang salah. Seharusnya aku tak bertingkah seperti itu. Berperilaku yang kini membuatnya marah. Ia tak menganggap lagi adanya diriku. Dia tak menggubris ku. Padahal aku hanya ingin mengutarakan perasaanku. Aku hanya memberitahunya, agar ia tahu. Bukan berarti aku meminta jawabnya. Tidak. Sama sekali tidak.

Lalu apa yang harus aku lakukan? Dia sama sekali tidak mau berbicara denganku. Dia tak membalas pesan ku. Dia tak mengangkat telefonku. Maafku sudah ku sampaikan padanya, namun tetap seperti itu. Padahal setiap hari kami bertemu. Sering kali tatapan kami juga bertemu. Tapi aku tak mengerti apa maksud dari tatapan itu. Sangat sulit untuk di artikan. Dia aneh.

Mengapa laki-laki itu selalu bersikap seperti ini? Selalu bersikap yang tidak nyaman bagiku. Selalu. Tak ada kah cara lain untuk menyikapi itu? Apa yang ada di fikiran mereka hanya itu? Apa ini cara orang berusia 15 tahun memecahkan masalahnya? Dia tak beda jauh dengan anak kecil yang menyebalkan. Bagaimana aku harus menyikapinya? Apa yang harus kulakukan?

Sekarang, kamu tidak punya hati. Hati kamu sudah menjadi batu. Aku seperti berbicara pada patung yang selamanya diam. Aku seperti mencintai benda yang tak mungkin dicintai. Apa aku salah memilih lagi? Tak adakah orang yang benar-benar aku cari. Entahlah. Adakah waktu? Sampai kapan? Sampai kapan kami terus seperti ini? Jujur, aku tidak tahan. Harus apa? Memutar waktu? Andaikan bisa. Andai. Aku percaya pasti ada waktu. Akan ada waktu.


 
                                                                  Sabtu, 26 Januari 2012

                                                              Amanda Hanifah Nur Hilizza