UNKNOWLEDGEABLE LOVE
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun, Park
Chanyeol
Support Cast: Oh Sehun, Wu
Yifan (Kris), Xi Luhan, Yixing, Kim Junmyeon (Suho) and other cast~~
Genre: Crime, Romance, Drama,
Hurt/Comfort
Rated: T
Disclaimer: Para tokoh milik
kita semuaaaa hehe. Untuk cerita asli dari pikiran aku sendiri.
Summary: Baekhyun membantu
penyelidikan kasus kepolisian. Rasa penasarannya yang begitu besar terhdap
kasus kakaknya dan mencoba menyelidikinya. Baekhyun tak tahu kalau itu semua
menuntunnya kepada Chanyeol.
HAPPY READING^^
.
.
.
UNKNOWLEDGEABLE LOVE
CHAPTER 2
.
.
.
“Bagaimana
itu bisa terjadi, Baekhyun? Tak biasanya kau akan kewalahan seperti ini. Apakah
dugaanku salah? Bahwa Oh Sehun hanya bergerak sendiri?” Luhan sedang duduk di
meja tugasnya bersebrangan dengan Baekhyun yang ada didepannya. Dengan rahang
yang keras dan suara mengintimidasinya.
Baekhyun
mendesah. “Aku tak tahu, eonni. Aku
lihat sendiri bahwa dia memasuki apartemen yang kami periksa terakhir. Aku
yakin sekali. Tapi seperti dugaanku bahwa ia kabur lewat balkon yang dibiarkan
terbuka pada salah satu kamar,” Baekhyun sedikit mengerutkan keningnya, “Dan
aku juga tak yakin kalau pemilik apartemen terlibat.” Suaranya sedikit bimbang.
“Bagaimana
kau tahu kalau pemilik apartemen sama sekali tak terlibat?” Kali ini Kris yang
meja tugasnya bersebelahan dengan Luhan ikut menimpali dari kursi malas
miliknya. Kedua jari telunjuk dengan ujungnya yang menyatu. Kursinya dapat
diputar sehingga ia kini menyerong ke arah Baekhyun.
“Itu
karena memang pemilik apartemen sedang sakit.” Kali ini Baekhyun menggerlingkan
mata hijaunya kearah Paman Ahn yang berdiri bersender pada dinding. Kedua tangannya
terlipat didepan dada.
“Sudahlah,
itu sudah terjadi. Tak ada yang harus dipermasalahkan.” Seperti biasa, Paman
Ahn berusaha menenangkan ketiganya. Tapi dari nada tegasnya semua yakin bahwa
ia mencoba membela Baekhyun.
“Sakit?”
Kris mengernyit.
Tak
ada seorangpun yang mendengar penuturan Paman Ahn.
“Ya,
oppa. Dia memang membuka pintu agak
lama. Tapi saat aku membuka pintu memang penampilannya berantakan, seperti baru
bangun tidur. Wajahnya juga pucat.” Baekhyun mencoba meyakinkan lagi. “Awalnya
dia memang keberatan karena kedatangan kami menganggu tidurnya. Tapi akhirnya
ia mengalah dan malah tertidur di sofa miliknya. Bahkan ia membiarkan kami
menjelajahi seisi apartemennya.”
Baekhyun
benar bukan? Yang saat itu Baekyun lihat adalah mata abu-abu yang sayu serta
wajah seperti menahan sakit. Tangannya terus memegang kepalanya. Bibirnya pun
pucat. Sesekali meringis dikarenakan kepalanya yang berdenyut.
Memang
tak menutup kemungkinan bahwa ia ada sangkut pautnya dengan Oh Sehun tapi
mengingat kembali kondisi pemilik apartemen kemarin ia yakin pemuda itu tak
tahu kalau Sehun masuk kedalam apartemen miliknya. Balkon yang dibiarkan
terbuka lebar. Rasanya tak mungkin jika pemilik itu membiarkan Sehun kabur dari
balkon kamarnya ia pasti akan menutupnya kembali untuk sebuah alibi. Tapi
memang Baekhyun tak bisa bertanya karena pemilik apartemen tersebut sudah
tertidur di sofanya.
“Baik..
Baik.. Aku mengaku salah!” Luhan sedikit tersinggung. Tapi mau bagaimanapun ia
memang tak ada di tempat kejadian.
Paman
Ahn tersenyum lega. Ia berdiri tegak dan kembali ke mejanya yang jauh dari meja
Kris dan Luhan.
Luhan
ingin beranjak dari duduknya. Kris kembali memutar kursinya kearah depan
mejanya.
“Umm....
Tapi....” Baekhyun bergumam tak yakin dan berpikir hal yang akan ia sampaikan.
Kris
hanya menolehkan kepalanya. Luhan kembali duduk dikursinya menunggu ucapan
Baekhyun.
“Aku
tak tahu ini penting atau tidak. Tapi ada yang aneh dengan apartemen yang
kemarin kami periksa.” Luhan mengisyaratkan mimik wajahnya seakan berkata
‘cepat katakan sekarang!’
“Apartemennya
memang berpenghuni, namun hampir di setiap ruangannya berdebu. Dan dibeberapa
ruangan yang tertutup sangat pengap ketika kami membuka pintunya. Seperti sudah
tak ditempati selama beberapa tahun. Aku tak tahu pasti. Itu hal yang membuatku
bingung.”
Kris
menjentikkan jarinya. “Nah! Itu adalah point
pentingnya Baekhyun! Kau harus kembali kesana siang ini.”
Luhan
hanya mengangguk setuju.
Dan
tak ada yang selalu bersemangat selain Baekhyun untuk segera mengetahui
kebingungannya sejak kemarin.
.
.
.
.
BRAK!
Sebuah
tangan kokoh mendarat pada satu meja kayu yang tegak di depannya menyebabkan
urat-uratnya terlihat.
“Bagaimana
wajahmu bisa terlihat para aparat kepolisian itu Oh Sehun?! Kau tahu itu akan
memperlambat pergerakan kita!” Pemuda berambut hitam pekat dengan iris mata
kecoklatan yang sedang menahan amarahnya pada pemuda berambut perunggu dan albino
didepannya.
“Aku
juga tidak tahu kalau gadis itu salah satu anggota kepolisian, dude!” Sehun tak mau disalahkan. “Yang
aku pikirkan saat itu adalah bahwa gadis itu masih ingusan....”
“Ingusan
kau bilang?” Ia tertawa mengejek, kedua tangannya disimpan di kedua saku
celananya. “Lucu sekali kau Sehun....” Ia tertawa keras.
Sehun
mengerutkan keningnya kebingungan.
Pemuda
itu menghentikkan tawanya. “Ayolah! Jangan bermain-main denganku!” Ia
menggebrakan lagi meja yang ada didepannya.
Sehun
tak bisa menahan gejolak kekesalannya pada orang yang berada di depannya.
“Siapa
yang bermain-main denganmu! Aku serius!” Sehun menaikkan suaranya. “Coba kau
bayangkan gadis 19 tahun dengan wajah imut, iris mata biru terang, hidung
mancung, bibir ranum merah muda. Aku yakin..... Jangan menyelaku aku belum
selesai dengan ucapanku, bung.”
Pemuda
didepannya kini ingin menyela namun Sehun yang mengerti tanda-tandanya langsung
menghentikan itu.
“Aku
serius kali ini. Aku yakin jika kau melihatnya aku tak yakin gadis itu akan
lolos darimu karena kau akan langsung berpikiran mesum.”
“Apaan-apaan
kau ini Oh Sehun! Tak ada hubungannya dimakan siapa makan siapa.”
Keduanya
tak ada yang mau mengalah. Suara mereka berdengung di sepanjang ruangan yang
kosong seperti tak diurus. Tapi jika kita melihatnya baik-baik itu memang
dibiarkan seperti demikian rupa. Katanya agar memiliki kesan keren diantara
mereka yang bersangkutan. Bilang saja jika mereka tak mau bersusah payah untuk
menata kembali ruangan yang dipakai.
“Tentu
saja ada! Lagipula aku dari apartemen Park si brengsek itu... sedangkan gadis
itu dengan sebuah kebe....”
“Tunggu....”
Oh
Sehun diam seketika.
“Kau
bilang Siapa? Park? Park Chanyeol?”
Sehun
dengan wajahnya yang kebingungan hanya menganggukkan kepalanya.
“Dia
sudah dibebaskan?!” Ada nada histeris dari pemuda didepannya.
“Ya,
kemarin. Baru saja.”
Pemuda
didepan Oh Sehun hanya diam. Tetapi menyeringai.
.
.
.
.
Baekhyun
melepas mantelnya. Menjatuhkan dirinya disofa depan televisi. Baekhyun menghela
napas kasar. Ia kembali ke apartemen miliknya sendiri, apartemen yang diberikan
oleh Paman Ahn. Baekhyun sebenarnya tidak mau jika ia menyusahkan Pamannya itu.
Hanya saja Paman Ahn memang keras kepala.
Saat
itu dia mengatakan kepada Paman Ahn bahwa dia sudah besar dan memilih hidup
sendiri agar ia mandiri. Ia memastikan tabungan hasil jerih payahnya untuk
membeli apartemen sudah cukup. Namun, Paman Ahn sepenuhnya menyuruh Baekhyun
untuk menyimpan saja tabungannya untuk keperluan Baekhyun yang lain. Jadilah ia
disini. Hidup sendiri.
Setelah
2 tahun menempati apartemennya sendiri, ia jengah karena ia butuh teman. Maka,
ia mengajak salah satu teman kuliahnya, Do Kyungsoo untuk ikut menempati
apartemen. Kyungsoo adalah teman setia Baekhyun jadi ia langsung setuju.
Sepertinya
temannya itu belum kembali dari bekerja paruh waktunya selama musim dingin.
Kyungsoo sangat menyukai memasak. Maka dua bulan yang lalu ia melamar kerja di
sebuah restoran khas China untuk menjadi salah satu koki. Karena memang
memiliki bakat memasak makanan China Kyungsoo diterima.
Baekhyun
menyalakan televisi didepannya. Ia melihat Lee Kwangsoo, salah satu aktor
pemain variety show Running Man yang sedang melakukan aksi konyolnya itu
terpampang jelas dilayar. Biasanya, ia akan selalu fokus dan tertawa
terbahak-bahak jika ada Kwangsoo si jerapah favoritnya.
Tetapi
lihatlah sekarang..... Ia hanya diam dan sedikit menerawang. Suara ditelevisi
yang berisik samar-samar hilang dari pendengarannya. Kelopak matanya terbuka
namun hanya menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.
Tadi,
ia baru saja mengunjungi pemilik apartemen yang ia periksa kemarin.
Chanyeol. Namaku Park
Chanyeol.
Suara
berat itu dihasilkan dari pemuda yang wajahnya dingin dengan rahang yang keras.
Tak ada lagi Chanyeol yang kemarin tertidur dengan damainya. Chanyeol yang
memegang kepalanya sembari meringis kesakitan serta bibir yang pucat.
Seakan-akan hilang terbawa arus angin.
Tadi,
ia sama sekali tak mengerti mengapa sosok pemuda itu berubah menjadi sosok yang
jauh dari gambaran sejak ia bertemu dengannya pertama kali. Pemuda berambut
coklat dengan iris mata abu-abu yang seolah-olah mengintimidasinya. Ada
beberapa rambut berantakan di bawah dan di atas bibirnya, seperti tak pernah
bercukur. Hal itu tentu membuat Baekhyun bingung dalam perubahan sikap Chanyeol.
Nama
itu yang telah dicarinya sejak 6 tahun lalu.
Alasan
Baekhyun langsung pulang ke apartemennya adalah untuk menghindar dari
pertanyaan-pertanyaan yang tak hentinya dari Kris maupun Luhan.
Biasanya
ia akan dengan sendirinya memceritakan kasus-kasus yang ia tangani. Tapi untuk
sekarang, ia tak bisa berpikir jernih untuk menceritakannya.
Kalau kau ingin menanyakan
perihal Oh Sehun. Aku memang mengenalnya.
Chanyeol
terkekeh geli saat itu. Tapi tetap menjaga aura dingin disekelilingnya.
Bagaimana mungkin aku lupa
dengan musuhku sendiri? Bagaimana kalau kita bekerjasama saja Baekhyun? Kita
sama-sama membencinya, bukan?
Tak
ada kesopanan dari nada bicaranya. Terkesan kaku dan......gelisah? Itu
terdengar jelas dari suara yang seolah-olah telah dipersiapkan. Kegelisahan
memang terlihat diantara nada dingin yang ia berikan. Baekhyun mendesah. Ia
benar-benar tak tahu apa maksud dari semua ini.
Apa
yang telah direncakan oleh Chanyeol, sekarang? Apakah ia telah merencanakan
sesuatu untuk dekat dengannya?
Ia
tahu bahwa hal ini akan membahayakan dirinya sendiri jika ia akan ikut
permainan yang akan diciptakan oleh Chanyeol. Tapi ini adalah satu-satunya
kesempatan untuk mencari tahu.
Baekhyun
tak tahu ini bencana atau anugrah baginya.
“Eonni.......” Lirih Baekhyun sambil
mengadahkan kepalanya keatas, menyatukan kedua tangannya dan menempelkannya di
kening sembari memejamkan matanya.
.
.
.
.
Chanyeol
melangkah pelan mencari nama nisan yang selalu menghantui pikirannya. Ia tak
pernah punya waktu untuk sekedar berkunjung.
Ditangannya
terdapat bunga lily putih yang memiliki makna kesucian dan kesederhanaan. Sama
seperti sesosok gadisnya.
Chanyeol
berjongkok. Meletakkan bunga lily putihnya diatas gundukan didepannya.
Chanyeol
tersenyum. “Umin-ah...... Aku disini.” Ia terkekeh pelan sembari mengelus
permukaan tanah didepannya.
Didalamnya
terdapat jiwa raga gadisnya. Chanyeol tak bisa memungkiri bahwa masih terdapat
penyesalan yang paling terdalam di relung hatinya. Ada perasaan bersalah datang
bertubi-tubi menusuk tepat pada jantungnya.
Tidak!
Ia tidak boleh menangis dan terlihat lemah!
“Bagaimana
kabarmu?” Ia tersenyum miris. “Maafkan aku.........” Terdapat jeda pada setiap
kata-katanya. “Aku baru datang sekarang.”
Chanyeol
memetik salah satu bunga Lily. “Setelah 6 tahun.....” Ia mencabut salah satu
kelopak bunga yang berada di tangannya dan membuangnya. “Aku merindukanmu....”
Sangat!
Sangat merindukannya. Ia merindukan semua yang ada pada gadisnya. Merindukan
iris mata bercahaya yang selalu memandangnya. Merindukan senyumannya.
Merindukan kedua pipinya yang gembul.
Kemudian
mencabut kelopak bunga yang lain dan membuangnya.
“Umin-ah.....”
Mencabut
kelopak bunga lagi dan membuangnya.
“Apakah
kau sudah memaafkanku?”
Mencabut
lagi kelopak bunga dan membuangnya kembali.
“Jangan
membenciku.......”
Mencabut
kelopak bunga terakhir.
“Umin-ah....
Aku mencintaimu.........”
Jika kau masih menghirup
napasmu pada udara yang sama denganku, akankah kau akan melihatku? Apakah
mungkin?
Chanyeol tersenyum miris.
Ia
berdiri, berbalik serta meninggalkan makam dengan perlahan. Dan menerbangkan
kelopak bunga terakhir.
.
.
.
.
Suasana
kantin sangat ramai, bisa didefinisikan sebagai suasana pasar dipagi hari.
Baekhyun duduk pada salah kursi di meja paling ujung di dekat kaca. Ia tak
sendiri melainkan bersama couple campus yang duduk tepat didepannya. Jongin dan
Kyungsoo.
Biasanya
Baekhyun akan protes jika ia akan dijadikan obat nyamuk dengan pasangan yang
ada didepannya. Tapi tidak untuk kali ini. Baekhyun bahkan tak menganggap kalau
mereka ada.
“Baek!
Ada apa denganmu hari ini?!” Kyungsoo menyadarkan Baekhyun dari khayalan tak
jelasnya.
“Iya,
kau lebih menjadi sebagai orang pendiam dan penurut sekarang. Ada apa? Apakah
ada penjahat yang ingin mengincarmu? Apakah ia akan membunuhmu?” Jongin
terkekeh pelan serta mengejek.
Baekhyun
membulatkan matanya dan tergagap. Kyungsoo menyikut perut Jongin dengan keras.
Membuat Jongin mengaduh kesakitan.
“Apaan
kau Jongin, itu tidak lucu!” Kyungsoo mendengus.
Baekhyun
gugup. Ia yakin bahwa Kyungsoo tak melihatnya terkejut tadi. Baekhyun memang
tak menceritakan perihal setiap ia membantu kepolisian menyelesaikan kasus.
Setiap ia akan mengunjungi kantor kepolisian, Jongin atau Kyungsoo akan tahu
bahwa ia mengunjungi Paman Ahn. Ia tak akan mau menceritakan hal yang sebenarnya
terjadi padanya.
Perlu
diketahui bahwa Baekhyun tidak mempercayai satu orangpun selain kakaknya dan
Paman Ahn.
Percayalah
bahwa yang ia lakukan untuk tidak memberitahu mereka adalah untuk melindungi
mereka. kalau ia menceritakan semuanya, otomatis Jongin dan Kyungsoo akan
terlibat. Dan, sebagai satu-satu temen terdekat mereka Baekhyun tak mau
membahayakan keduanya.
Baekhyun
mendesah. “Aku sedang pusing karena banyak tugas.”
Ya,
tugas untuk memikirkan apa yang selanjutnya ia lakukan dengan Chanyeol...
Jongin
dan Kyungsoo saling berpandangan dan bermuka bingung. Yang mereka tahu Baekhyun
tak pernah tidak bersemangat seperti ini untuk menyelesaikan hal-hal yang ia
sukai. Walaupun itu tugas yang berat sekalipun.
Kyungsoo
terlihat kesal. “Ayolah Baekhyun... Apanya yang salah? Kau tak pernah seperti
ini jika sudah membahas kuliah hukummu itu. Untuk seorang Byun Baekhyun bagian
mana yang dipersulitkan?”
Jongin
menimpali, sedikit tersenyum geli. “Ternyata seorang Nyonya Byun memiliki titik
jenuh juga eoh? Aku tak sabar menanti kelanjutannya! Huh, aku tak menyangka
kemampuanmu hanya segini.” Ia menghubungkan kedua jari telunjuk dan jempolnya
hingga hampir menyatu tapi tak menempel.
Baekhyun
memutar bolanya malas. Beginilah Jongin dengan segala kekonyolannya. Ia bahkan
tak bisa di ajak serius sedikit pun.
“Aku
hanya manusia biasa. Tak ada manusia yang sempurna didunia ini. Apa yang kalian
harapkan dariku?” Baekhyun menjawab dengan marah.
“Sangat
membosankan. Kau serius sekali.....” Jongin bergumam. Kyungsoo menyikut perut
Jongin untuk yang kesekian kalinya. Jongin menyumpah serapah gadis dengan mata
bulat disampingnya ini.
Jangan
heran. Jongin itu seksi. Dengan kulit tan berambut blonde serta bibir tebal.
Sifatnya sangat kekanakan dan tidak bisa serius. Ia akan bertingkah konyol
setiap detiknya.
Kyungsoo
tak berbeda jauh. Ia adalah gadis cerewet yang pernah Baekhyun temui. Baekhyun
yang sedikit diam dan pelit berbicara itu senang sekali mendengar suara
Kyungsoo setiap ia berbicara panjang lebar. Itu akan menyenangkan bagi Baekhyun
sendiri. Kyungsoo tak ambil pusing karena ia memang suka jika ada yang
mendengarkan ia berbicara. Itu sudah lebih dari cukup.
Baekhyun
dikampus dengan Baekhyun di kantor kepolisian adalah hal yang benar-benar
bertolak belakang. Baekhyun yang cerewet untuk terus mendesak orang, menanyakan
sesuatu yang membuatnya penasaran. Serta Baekhyun yang dikenal karena keramahan
dan senyum manisnya. Itu adalah sifat Baekhyun di kepolisian.
Sedangkan
Baekhyun di kampus adalah sesosok Baekhyun yang menjadi pendiam dan dingin. Itu
karena ia sebagai salah satu peraturan bagi Baekhyun di kantor kepolisian untuk
tidak menyebarkan fakta maupun gosip kasus yang berada di dalam kepolisian
karena hal itu adalah rahasia besar milik kepolisian.
Maka
dari itu, untuk menghindarkan sesuatu yang tidak ingin ia kacaukan adalah untuk
memilih menjadi gadis pendiam. Berbeda hal nya jika ia akan membahas jurusan di
kampusnya. Sebagai mahasiswi jurusan hukum ia merasa harus berbangga diri.
Yang
menarik dari Kyungsoo adalah rambutnya yang berwarna merah. Menambah kesan imut
di mukanya. Yang menjadi point plusnya lagi yaitu bibir berbentuk hati.
“Baek..
Apakah ada masalah? Kau bisa menceritakan pada kami.”
Aku
tersenyum. Ya, aku bisa menceritakan padamu Kyung, tapi tidak dengan Jongin.
“Aku
tidak apa-apa Kyungsoo.”
.
.
.
.
Baekhyun
dengan tergesa memasuki tempat rehabilitasi. Ia berjalan dalam lorong panjang.
Menemukan sebuah ruangan di ujung lorong. Didepan pintu ruangan terdapat kursi
panjang. Disanalah berdiri pemuda berambut pirang.
“Suho,
oppa!” Baekhyun menghampiri Suho
dengan napas tak beraturan karena ia baru saja berlari.
“Baek!
Yixing.........”
Suho
panik. Ia baru pulang kerja saat petugas rehabilitasi menelepon bahwa Yixing
mengamuk. Ia tak sempat bertanya karena terlalu panik dan ketakutan. Ia
langsung menghubungi Baekhyun untuk datang juga. Karena, hanya Baekhyun yang
bisa masuk kedalam ruangan. Yixing hanya mengenal Baekhyun.
Suho
terkadang merasa miris karena kekasihnya sendiri tak mengenalinya. Dua-duanya
tersakiti. Yixing yang tersakiti jiwanya. Serta ia yang tersakiti hatinya.
Pertama saat ia mencoba meyakinkan Yixing bahwa ia adalah kekasihnya ada Yixing
yang mengamuk tak karuan. Tak hanya dirinya, orang tua, kerabat dekat juga tak
mampu dikenali Yixing. Hingga ia mencari keberadaan Baekhyun.
Baekhyun,
dengan iris mata biru terangnya. Awalnya, Yixing memang tak mengenalinya. Tapi
ketika Yixing melihat mata Baekhyun. Ia mulai melunak. Tak ada cara lain bagi
Suho untuk merelakan hatinya dan meminta bantuan Baekhyun untuk menjaga Yixing
dan memantaunya dari Baekhyun.
“Ada
apa dengan Yixing Eonni, oppa?!” Baekhyun berteriak gelisah.
Suho
juga tak mengerti dan kalang kabut. “Aku tak tahu. Sebaiknya kau langsung masuk
ke ruangan.”
Baekhyun
mengangguk dan menghela napasnya. Ia harus tenang menghadapi Yixing Eonni. Ia
membuka pintu dan berjalan masuk.
Yang
Baekhyun lihat pertama kali ia masuk adalah Yixing yang terus menerus memukul
dinding dengan tangan kanannya. Tangan kirinya sudah tak karuan dan berdarah.
Disebelahnya terdapat petugas yang menenangkan Yixing tapi Yixing tak
menghiraukannya.
Baekhyun
langsung menghambur ke arah Yixing. Memegang kedua lengannya dan mencoba
bertahan dari Yixing yang berontak.
“Ssshhh
Eonni... Ini aku, Baekhyun.” Baekhyun tersenyum lembut. Memegang kedua sisi
wajah Yixing dan mencari manik mata Yixing. Yixing membalasnya dengan melihat
kedua bola mata Baekhyun.
Seketika
Yixing melemah dan tak lagi berontak. Baekhyun membawa Yixing kedalam
pelukannya. Ia mengisyaratkan kepada petugas yang hanya berdiri diam untuk
keluar meninggalkan mereka.
Baekhyun
menuntun Yixing agar terduduk di sisi ranjang.
“Baekhyun!
Park Chanyeol....Park Chanyeol.....” Yixing bergerak gelisah di didalam pelukan
Baekhyun.
Park
Chanyeol?!
“Ada
apa? Ada apa dengan Park Chanyeol, Eonni?” Baekhyun menjauhkan Yixing dan
memegang bahu Yixing. Membuat Yixing harus menatap Baekhyun.
Yixing
memejamkan matanya dan menggeleng. Raut wajahnya tetap gelisah sembari
menyebutkan satu nama dengan begitu takut. “Park Chanyeol...Park Chanyeol....”
Ada
apa dengan Yixing Eonni? Darimana dia tahu Park Chanyeol?! Apa yang sudah
dilakukan Park Chanyeol terhadap Eonninya?!
Baekhyun
bertanya apa yang dilakukan Chanyeol terhadap Yixing. Tetapi Yixing tetap
menyebut nama Chanyeol sampai ia lelah dan terlelap. Tak ada yang bisa Baekhyun
lakukan selain menenangkannya. Dan akan mencari tahu ada apa dengan Chanyeol
dan Yixing.
.
.
.
.
Chanyeol
baru saja dari supermarket sekitar gedung apartemennya. Ia berjalan pelan di
sepanjang lorong.
Keningnya
berkerut ketika menemukan gadis berambut cokelat dengan mantel tebal
membelakanginya dengan tangan yang akan menekan bel. Belum sempat hal itu
terjadi, Chanyeol menepuk bahunya pelan.
Gadis
itu tersentak dan berbalik. Matanya membulat. Pipi dan hidungnya sudah berubah
merah karena dingin.
“Oh,
Baekhyun? Masuklah dulu... Diluar sangat dingin.”
Baekhyun
menurut dan ikut masuk kedalam. Suasana canggung masih tercipta di antara
mereka.
“Berikan
mantelmu,” Chanyeol menerima mantel Baekhyun dan menggantungkan mantel tersebut
disebelah mantel miliknya.
Chanyeol
menyuruh Baekhyun duduk di sofanya.
“Teh
hangat atau coklat hangat?”
Pandangan
mereka bertemu. “Cokelat hangat, please...” Baekhyun tersenyum kikuk.
Chanyeol
mengangguk dan menuju dapur.
Baekhyun
merutuki dirinya yang tak bisa menahan diri dari kegugupannya. Itu dikarenakan
karena mata tajam keabu-abuan milik Chanyeol yang terus mendesak
mengintimidasinya. Seharusnya ia bisa bersikap tenang seperti menghadapi kasus
lainnya.
Selain
itu juga ia memang benar-benar kedinginan karena berusaha menimbang-nimbang
pemikirannya untuk bertemu Chanyeol. Hal itu membutuhkan waktu yang sedikit
lama. Dan ia hampir membeku. Pabo!
Selang
beberapa menit Chanyeol kembali. Menyodorkan cokelat hangat kepada Baekhyun.
Baekhyun
menerimanya. Kehangatan langsung menjalar pada kedua tangannya. Ia tersenyum
lega tanpa sadar bahwa Chanyeol memperhatikannya sedari tadi. Chanyeol
tersenyum geli. Ia berdehem mencoba mengalihkan pada suasana canggung yang tak
diinginkannya.
Baekhyun
menyeruput sedikit cokelat hangat miliknya dan tetap memegangnya tanpa
menaruhnya dimeja. Ia menatap Chanyeol yang masih setia menatapnya,
mengumpulkan semua keberanian dan kesanggupannya.
“Well,
Chanyeol. Mari kita bekerja sama.”
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Karya
aku ini sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk
cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
atau
Silahkan
mampir^^
AmandaHanifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar