Laman

Selasa, 17 September 2013

Best Friend? (Cerpen Sesi Alfa dan Doni)



Hello!! Ketemu lagi ya sama aku muehehe. Sebenernya yang pengen aku post hari ini bukan cerpen cuma bahan cerita untuk mading di sekolah kemarin, tapi karena biar lebih tau ceritanya, aku post sekarang yah haha.
Sebelum itu aku mau ngejelasin siapa itu Alfa dan Doni, sebenarnya nama Alfa dan Doni plesetan dari kedua teman kami yang bernama Alfi dan Dani. Karena mereka sangat dekat, maka dari itu mereka menginspirasi aku untuk buat cerita mereka. Awalnya mereka gak terima karena aku bikin cerita mereka yang lebih mendekati homo. Ya memang sih, karena hubungan pertemanan mereka yang sangat dekat, jatuhnya mereka malah sweet banget. Kita yang liat kan jadi geli sendiri wkwk.
    Sebenernya ini juga bukan ide aku tapi ide temanku yang bernama Savira atau biasa di panggil Veru, dia juga salah satu teman hobiku sih karena dia juga suka sastra sepertiku. Dan dia yang paling senang melihat kemanisan Alfi dan Dani. Aneh ya dia haha. Dan dia juga yang ngusulin nama plesetan menjadi Alfa dan Doni. Mulai dari sini, mungkin kami bakalan terus membuat Sesi Alfa dan Doni ini hahaha.

S E S I  A L F A  D A N  D O N I

Bel istirahat mulai berbunyi di seluruh penjuru sekolah. Di kantin tampak siswa-siswi mulai berdatangan untuk mengisi perut mereka masing-masing. Salah satu dari beberapa siswa itu adalah Alfa dan Doni. Dengan langkah kecil mereka bersama-sama menuju kantin. Wajah mereka penuh canda dan tertawa terpingkal-pingkal saking semangatnya. Tampak seperti dua sahabat yang sangat gembira. Tak ada yang mampu menyaingi persahabatan mereka.
“Pa, bentar lagi kan masa osis kita selesai, terus diganti dengan pengurus osis yang baru. Lo mau ketua osis kita dijabat sama cowok yang tampangnya culun banget?” Doni langsung ngerocos saat mereka duduk di tempat yang kosong.
“Don, lo udah berapa tahun sih temenan sama gue? Nama gue pake Fa bukan pa. emangnya lo kira gue bapa-bapa apa? Dasar, ganti-ganti nama orang aja. Ya gue gamau lah, mending gue yang jadi ketuanya daripada gue nyerahin jabatan yang penting banget itu ke cowok yang culunnya minta digebukin,” Alfa hampir berteriak, semua seisi kantin hampir menoleh kearah mereka.
Ya suka-suka gue lah, kan gue yang manggil ini. Emangnya kalau lo yang jadi ketuanya lo bisa apaan? Mau di apakan rakyat-rakyat lo kalau lo yang jadi ketua? Mau di jadiin babu?”
“Ya enggaklah, kalau gue yang jadi ketuanya gue jamin deh sekolah ini bakalan tentram. Emangnya lo ga minat sama yang begituan?”
“Ogah! Ngapain capek-capek ikut begituan, mending gue tidur dirumah. Lah emangnya lo gak malu tahun kemaren lo kan kalah sama si Fahri, emangnya sekarang mau nyalonin lagi?”
“Alah diem aja deh lo! Bilang aja lo ga berani ngelawan gue, yakan?” Bukannya memakan pesanan yang sudah datang, mereka malah berdebat lantaran keduanya saling meledek satu sama lain. Beberapa menit mereka makan, terdengar sirine dari penjuru sekolah.
“Pengumuman-pengumuman! Bagi peserta didik yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua osis, harap menghubungi pembina osis. Pendaftaran paling lambat lusa nanti. Terimakasih,” Terdengar Pak Dasri memecahkan semua penjuru sekolah.
“Wah, gue pasti daftar dong, man! Lo daftar gak?” Tanya Alfa dengan mulut masih sibuk mengunyah. Doni hanya menggeleng dan memasang tampang ga minat sama sekali sama hal-hal yang rumit seperti itu.
              “Itu berarti gue menang dari lo, dong."
Doni yang mendengar hal itu diam seketika, tidak jadi menyuap makanan yang tinggal setengah. Sudah 2 tahun mereka hampir berteman dan sudah 2 tahun juga mereka saling berlomba-lomba untuk meraih yang lebih unggul. Setelah lama berpikir, Doni bertekad bahwa dia akan mencalonkan dirinya sebagai ketua osis. Tentu saja ingin mengalahkan temannya sendiri, Alfa. Ia tak akan rela jabatan yang sangat penting itu jatuh di tangan sahabatnya sendiri. Ia akan ikut berpartisipasi.
“Oh jadi lo boong sama gue ya, Don? Katanya lo ga minat sama hal-hal yang berbau beginian. Lo mau nikung gue? Atau lo mau ngalahin gue?”
“Iya! Emangnya kenapa kalau gue mau ngalahin lo? Gaboleh? Lagian percuma kalau lo jadi ketos cuma modal tampang doang, toh aslinya kemampuan lo jauh lebih parah dibawah gue.”
Mata Alfa membulat, kaget akan kata-kata Doni yang tidak seperti biasanya. “Oh ya?! Liat siapa yang nanti bakalan jadi yang utama. Dan gue bakalan buktiin sama lo kalau gue gak cuma modal tampang doang. Gue bakalan buktiin kalau gue punya kemampuan untuk jadi ketos. Ngerti?!”
Sampai hari ini sudah ada 4 orang peserta didik yang mencalonkan dirinya sebagai ketua osis. Pertama adalah Caca, anak kelas 10 yang masih ingusan dan mungkin masih gak paham sama hal-hal yang berbau organisasi, apalagi jadi ketua osis. Kedua adalah si Wendi,  anak kelas 11 yang kemaren diomongin sama Alfa dan Doni. Dan selanjutnya tentu saja Alfa dan Doni.
Persahabatan antara Doni dan Alfa sempat renggang gara-gara perkataan Doni yang pedas itu terhadap Alfa. Alfa gak terima dia dibilang cuma modal tampang dan gak punya kemampuan sama sekali. Apalagi yang bilang semua itu adalah temannya sendiri!
Debat kandidat sudah dilakukan kemarin, dan hari inilah penentuannya. “Don, mending lo nyerah aja deh sama gue. Sok-sok an pengen jadi ketos, toh yang bakalan jadi ketos udah pasti gue kok!”
Doni tersenyum sinis, “Oh ya?! Jangan terlalu berharap, Alfa. Gue harap lo ga bakalan nyesel sama kata-kata lo itu ya. Siap-siap kalah dari gue, man!”
Penghitungan suara di habisi sampai ludes. Alfa sekaligus Doni sama-sama berpandangan, kaget bahwa yang terpilih menjadi ketua osis adalah Doni. Ya, walaupun sudah tahu bahwa Doni menang dari Alfa, dia gak akan bisa menjadi ketua osis. Entah apa sebabnya. Doni menutupi rasa gelisahnya, ia tetap tersenyum sinis pada Alfa. Alfa seakan tak percaya bahwa kali ini ia kalah pada Doni. Karena biasanya Alfa lah yang lebih unggul.
“Oke, kita tahu bahwa yang menjadi ketua osis periode 2014-2015 adalah........ Doni!!” Mpk mulai mengambil alih lagi. Seluruh orang yang berada disitu bertepuk tangan. Kecuali Alfa dan Doni.
“Tunggu!!” Teriak salah satu peserta didik. Dan orang itu adalah Doni. Doni seakan bingung, mengapa mulutnya berteriak seperti itu tanpa sadar.
Doni merebut mik dari Mpk yang tadi berbicara, “Maaf, tapi saya gak bisa jadi ketua osis. Saya mundur.” Doni masih bingung, Alfa bingung, semua yang ada disitu bingung.
              Alfa merebut mik dari Doni, “Maaf, saya juga mundur,” semua orang semakin bingung. “Ayok Don! Kita pergi dari sini!” Alfa menarik lengan Doni secepat kilat. Dia menuju kelas.

Mereka tahu bahwa persahabatan merekalah yang terpenting, bukan jabatan yang memang pada dasarnya cukup populer. Tapi jika tak ada sahabat di samping kita, semua bakalan percuma. Karena mereka berdua mundur, dari ke-dua calon ketua osis, suara yang paling banyak adalah Wendi, tentu saja Wendi yang menjadi ketua osis.

                                    By : Amanda Hanifah NH dibantu oleh Savira Mujahidah;)