THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 12
FAILED
.
.
.
"Tak
mungkin! Kau keliru! Salah total! Itu tidak mungkin!" Kutatap kejauhan.
Aku dipenuhi rasa tak percaya yang segera berubah menjadi rasa ngeri.
Kemarin
pagi aku sudah menyantap Twinkies hancur terakhir untuk sarapan. Kemarin siang
aku menemukan puncak kembar itu dan berbelok ke timur lagi. Melanie telah
memberiku formasi terakhir yang harus kutemukan. Kabar itu membuatku nyaris
histeris karena kegirangan.
Semalam
aku menghabiskan air terakhir. Itu hari keempat.
Pagi
ini terasa seperti ingatan kabur mengenai matahari yang membutakan dan harapan
yang membuncah. Waktu hampir habis, dan aku mengamati garis langit untuk
mencari petunjuk terakhir dengan perasaan panik yang semakin besar. Aku tak
bisa melihat tempat mana pun yang cocok.
Garis
mendatar panjang puncak rata, diapit puncak - puncak tumpul di kiri-kanannya
seperti dua pengawal. Hal semacam itu akan makan tempat, dan pegunungan di
timur dan utara dipenuhi puncak bergerigi. Aku tak bisa melihat di mana puncak
datar itu bersembunyi di antara puncak - puncak bergerigi tersebut.
Menjelang
siang--dalam pandanganku matahari masih berada di timur--aku berhenti untuk
beristirahat. Aku merasa sangat lemah, dan itu membuatku takut. Setiap otot
tubuhku mulai nyeri, tapi bukan akibat semua perjalanan kaki ini. Aku bisa
membedakan rasa nyeri akibat kelelahan, juga rasa nyeri akibat tidur di tanah,
tapi berbeda dengan rasa nyeri baru ini. Tubuhku mengering dan rasa nyeri ini
adalah karena otot-ototku memprotes siksaan itu. Aku tahu aku takkan bisa
berjalan lebih jauh lagi.
Aku
berbalik memunggungi timur, agar matahari menyingkir sejenak dari wajahku.
Dan saat itulah aku melihatnya. Garis mendatar panjang puncak rata, yang tak mungkin keliru dengan adanya dua puncak yang mengapitnya. It dia, sangat jauh di barat, sehingga tampak berkilau di atas fatamorgana. Mengapung, melayang - layang di atas padang gurun seperti awan gelap. Setiap langkah yang kuambil telah menuntunku ke arah keliru. Petunjuk terakhir jauh sekali di barat, lebih jauh daripada seluruh perjalanan yang telah kami tempuh.
Dan saat itulah aku melihatnya. Garis mendatar panjang puncak rata, yang tak mungkin keliru dengan adanya dua puncak yang mengapitnya. It dia, sangat jauh di barat, sehingga tampak berkilau di atas fatamorgana. Mengapung, melayang - layang di atas padang gurun seperti awan gelap. Setiap langkah yang kuambil telah menuntunku ke arah keliru. Petunjuk terakhir jauh sekali di barat, lebih jauh daripada seluruh perjalanan yang telah kami tempuh.
"Mustahil,"
bisikku lagi.
Melanie
membeku di kepalaku, tidak berpikir, kosong, mencoba mati-matian menolak
pemahaman baru ini. Aku menunggunya, mataku menyusuri bentuk-bentuk yang tak
diragukan lagi sangat kukenal itu, hingga beban mendadak kepasrahan dan
kesedihan Melanie membuatku jatuh berlutut. Kepasrahan bisu Melanie menggema di
kepalaku, menambahkan satu lapisan lagi di atas rasa nyeri itu. Napasku
terengah-engah--tangisan tanpa suara, tanpa air mata. Matahari merayapi
punggungku; panasnya menembus jauh ke dalam gelapnya rambutku.
Ketika
aku berhasil memulihkan ketenangan, bayangan tubuhku hanya berupa lingkaran
kecil di tanah. Dengan susah payah aku kembali berdiri. Batu-batu kecil tajam
tertanam di kulit kakiku.
Aku tak mau repot-repot membersihkannya. Kutatap puncak rata melayang itu, yang mengejekku dari barat untuk waktu yang panas dan lama.
Aku tak mau repot-repot membersihkannya. Kutatap puncak rata melayang itu, yang mengejekku dari barat untuk waktu yang panas dan lama.
Dan
akhirnya, tanpa benar-benar yakin mengapa aku melakukannya, aku mulai melangkah
maju. Yang kuketahui hanya ini: akulah yang bergerak, bukan orang lain. Melanie
begitu kecil di dalam otakku, berubah menjadi kapsul nyeri mungil yang
membungkus erat dirinya sendiri. Takkan ada pertolongan darinya.
Langkah
kakiku berbunyi keresek, keresek lambat melintasi tanah berkerikil.
"Ternyata
dia hanya orang gila tua penipu," gumamku kepada diri sendiri. Getaran
aneh mengguncang dadaku, dan suara batuk parau mengoyak tenggorokanku. Aliran
batuk parau itu terus berlanjut. Ketika kurasakan mataku pedih karena air mata
yang tak kunjung muncul, barulah kusadari aku tertawa.
"Tak
pernah... tak pernah... ada apa-apa di luar sini!" Aku terengah-engah di
antara serangan histeria. Aku terhuyung-huyung maju seakan mabuk, jejak-jejak
kakiku memanjang tak teratur di belakangku.
Tidak.
Melanie melepaskan diri dari kesedihan, untuk mempertahankan keyakinan yang
masih dipegangnya. Aku yang keliru, atau semacam itu. Salahku.
Kini
aku menertawakan Melanie. Suara itu terisap angin yang membakar.
Tunggu,
tunggu, ujarnya. Ia mencoba menarik perhatianku dari kekonyolan semua ini. Kau
tidak mengira... maksudku, kaupikir mereka juga mencobanya?
Ketakutan
Melanie yang tak terduga menghentikan tawaku. Aku menelan udara panas, dadaku
berdenyut-denyut akibat serangan mengerikan histeriaku. Ketika aku sudah bisa
bernapas lagi, semua jejak humor menyedihkan itu lenyap. Secara naluriah mataku
menyapu kekosongan padang gurun, mencari semacam bukti bahwa aku bukanlah orang
pertama yang menyia-nyiakan hidup seperti ini. Dataran itu teramat sangat luas,
tapi aku tak bisa menghentikan pencarian panikku. Aku mencari... mayat-mayat.
Tidak,
tentu saja tidak. Melanie sudah menghibur dirinya sendiri. jared terlalu
pintar. Ia takkan kemari tanpa persiapan, tidak seperti yang kita lakukan. Ia
takkan menjerumuskan Jamie ke dalam bahaya.
Aku
yakin kau benar, kataku. Aku juga ingin memiliki keyakinan sebesar itu. Aku
yakin tak seorang pun di seluruh jagad raya ini bisa bertindak setolol ini.
Lagi pula Jared mungkin tak pernah datang untuk menengok tempat ini. Ia mungkin
tak pernah menemukan jawabannya. Kalau saja kau juga tak pernah menemukan
jawabannya.
Kakiku
terus bergerar. Nyaris tak kusadari tindakan itu. Sedikit sekali artinya
dibandingkan jarak yang membentang di depan. Dan kalaupun kami secara ajaib
diangkut ke bagian dasar puncak rata itu, lalu apa? Aku benar-benar yakin tak
ada apa - apa di sana. Tak seorang pun menunggu di puncak rata itu untuk
menyelamatkan kami.
"Kita
akan mati," ujarku. Aku terkejut, karena tak ada ketakutan dalam suara
parauku. Ini cuma kenyataan, persis kenyataan-kenyataan lainnya. Mataharinya
panas. Padang gurunnya kering. Kami bakal mati.
Ya.
Melanie juga tenang. Kematian ini lebih mudah diterima daripada kenyataan bahwa
usaha - usaha kami telah dituntun kegilaan.
"Kematian
tidak mengganggumu?"
Melanie
berpikir sejenak sebelum menjawab.
Setidaknya
aku mati saat mencoba. Dan aku menang. Aku tak pernah membocorkan keberadaan
mereka. Aku tidak pernah menyakiti mereka. Aku berjuang sekeras mungkin untuk
menemukan mereka. Aku mencoba memenuhi janjiku... Aku mati untuk mereka.
Aku
menghitung sembilan belas langkah sebelum bisa menjawab. Sembilan belas bunyi
gemersik lamban yang sia-sia melintasi pasir.
"Lalu,
untuk apa aku mati?" aku bertanya-tanya, dan perasaan menusuk itu kembali
memasuki saluran air mata keringku. "Kurasa karena aku tersesat, bukan?
Itukan sebabnya?"
Aku
menghitung 34 bunyi gemersik sebelum Melanie menemukan jawaban atas
pertanyaanku.
Tidak,
ujarnya. Tidak terasa seperti itu bagiku. Kurasa... Well, kurasa... mungkin kau
mati untuk menjadi manusia. Nyaris tampak senyuman di dalam pikiran Melanie
ketika mendengar makna ganda konyol frasa itu. Setelah semua planet dan inang
yang kau tinggalkan, akhirnya kau menemukan tempat lain dan tubuh untuk mati.
Kurasa kau telah menemukan rumahmu, Wanderer.
Sepuluh
bunyi gemerisik.
Aku
tak punya energi untuk kembali membuka mulut. Kalau begitu, sayang sekali aku
tak bisa tinggal di sini lebih lama.
Aku
meragukan jawaban Melanie. Mungkin ia sedang mencoba membuatku merasa lebih
baik. Sebagai imbalan karena aku telah menyeretnya kemari untuk mati. Ia
menang; ia tak pernah menghilang.
Langkah-langkahku mulai goyah. Otot-ototku berteriak memohon ampun, seakan aku punya cara untuk menghibur mereka. Kupikir aku akan berhenti tepat di sini, tapi Melanie, seperti biasa, lebih gigih daripadaku.
Langkah-langkahku mulai goyah. Otot-ototku berteriak memohon ampun, seakan aku punya cara untuk menghibur mereka. Kupikir aku akan berhenti tepat di sini, tapi Melanie, seperti biasa, lebih gigih daripadaku.
Kini
aku bisa merasakan gadis ini, dan bukan hanya di dalam kepalaku, melainkan juga
di dalam semua tungkaiku. Langkahku memanjang; jalanku semakin lurus. Dengan
tekad baja Melanie menyeret bangkai tubuhku yang sudah setengah mati menuju
tujuan yang mustahil.
Perjuangan
sia-sia ini memunculkan kegembiraan tak terduga. Sama seperti aku bisa
merasakan dirinya, Melanie juga bisa merasakan tubuhku. Tubuh kami, sekarang.
Kelemahanku
menyerahkan kendali kepadanya. Ia senang punya kebebasan untuk menggerakkan
sepasang lengan dan kaki kami ke depan, tak peduli betapa sia-sia gerakan itu.
Ia hanya senang karena bisa kembali melakukannya. Bahkan sakitnya kematian
pelan yang kami alami mulai meredup jika dibandingkan kebebasan itu.
Menurutmu
ada apa di luar sana? tanya Melanie ketika kami berjalan menuju kematian. Apa yang
kaulihat setelah kita mati?
Tak
ada, Kata itu hampa, tegas, dan yakin. Ada alasan mengapa kami menyebutnya
kematian terakhir.
Jiwa
tidak mempercayai kehidupan setelah kematian?
Kami
punya begitu banyak kehidupan. Lebih dari itu akan... terasa berlebihan. Kami
mengalami kematian kecil setiap kali meninggalkan inang. Kami hidup kembali
dalam inang lain. Ketika aku mati di sini, itu adalah kematian terakhir.
Muncul
keheningan yang panjang ketika kaki kami bergerak semakin lambat.
Bagaimana
denganmu? tanyaku akhirnya. Masihkah kau memercayai sesuatu yang lebih, bahkan
setelah semua ini? Pikiranku menggali ingatan-ingatan Melanie mengenai akhir
dunia manusia.
Kelihatannya beberapa hal tak bisa mati.
Kelihatannya beberapa hal tak bisa mati.
Di
benak kami wajah mereka tampak jelas dan dekat. Cinta yang kami rasakan untuk
Jared dan Jamie memang terasa sangat permanen. Saat itu aku bertanya-tanya,
apakah kematian cukup kuat untuk melarutkan sesuatu yang begitu penting dan
tajam. Mungkin cinta ini akan terus hidup bersama Melanie, di suatu tempat
negeri dongeng dengan gerbang mutiara. Bukan bersamaku.
Akan
melegakan jika terbebas dari rasa cinta itu? Aku tak yakin. Rasanya seakan-akan
cinta itu telah menjadi bagian diriku sekarang.
Kami
hanya mampu bertahan beberapa jam. Bahkan kekuatan benak Melanie yang luar
biasa tak bisa meminta lebih pada tubuh lemah kami. Kami nyaris tak bisa
melihat. Sepertinya kami tak bisa menemukan oksigen di udara kering yang kami
hidup dan embuskan kembali. Rasa nyeri membawa erangan-erangan parau keluar
dari bibir kami.
Kau
tak pernah mengalami hal seburuk ini. Dengan lemah kugoda Melanie, ketika kami
terhuyung-huyung ke pohon sekering tongkat yang berdiri beberapa puluh
sentimeter lebih tinggi dari pada semak rendah. Kami ingin mencapai alur - alur
tipis keteduhan itu sebelum terjatuh.
Tidak,
Melanie mengiyakan. Tak pernah seburuk ini.
Kami
mencapai tujuan. Pohon mati itu menciptakan bayang-bayang berbentuk sarang
laba-laba di atas kami, dan sepasang kaki kami berhenti bergerak. Kami duduk,
tak pernah menginginkan matahari di wajah kami lagi. Kepala kami menoleh
sendiri, mencari udara yang membakar. Kami menatap debu yang melayang beberapa
senti dari lubang hidung, dan mendengarkan engahan napas kami.
Setelah
beberapa saat, singkat atau lama kami tak tahu, kami memejamkan mata. Kelopak
kami merah dan terang di dalam, Kami tak bisa merasakan jaring-jaring lemah
keteduhan; mungkin bayang-bayang itu tak lagi menyentuh kami.
Berapa
lama? tanyaku kepada Melanie.
Aku
tak tahu. Aku belum pernah mati.
Satu
jam? Lebih?
Tebakanmu
sama bagusnya dengan tebakanku.
Di
mana coyote itu, ketika kau benar-benar memerlukannya?
Mungkin
kita beruntung... lolos dari mahluk buas bercakar atau semacam itu... Pikiran Melanie
berhenti dengan kacau.
Itu
percakapan terakhir kami. Terlalu berat untuk berkonsentrasi membentuk
kata-kata. Lebih banyak kesakitan daripada yang semula kami kira. Semua otot di
tubuh kami memberontak, mengerut dan mengejang ketika melawan kematian.
Kami
tidak melawan. Kami hanyut dan menunggu. Tanpa pola tertentu, pikiran-pikiran
kami keluar-masuk ingatan-ingatan. Ketika masih tersadar, kami menyenandungkan
lagu ninabobo di dalam kepala. Itu lagu yang biasa kami senandungkan untuk
menghibur Jamie ketika tanah terlalu keras, atau udara terlalu dingin, atau
ketakutannya terlalu besar sehingga ia tak bisa tidur. Kami merasakan kepala
Jamie menekan cekungan persis di bawah bahu kami, lalu merasakan bentuk
punggungnya di bawah lengan kami. Lalu tampaknya seakan kepala kami-lah yang
terbuai di atas bahu yang lebih bidang, dan lagu ninabobo lain menghibur kami.
Kelopak
mata kami berubah hitam, tapi bukan karena kematian. Malam telah datang, dan
ini membuat kami sedih. Tanpa panasnya hari, kami mungkin akan bertahan hidup
lebih lama.
Gelap
dan hening di dalam ruang tanpa waktu. Lalu terdengar suara.
Suara
itu nyaris tidak membangunkan kami. Kami ragu, apakah itu hanya khayalan.
Bagaimanapun itu mungkin coyote. Apakah kami menginginkannya? Kami tak tahu.
Kami kehilangan serangkaian pikiran dan melupakan suara itu.
Sesuatu
mengguncang-guncang kami, menarik sepasang lengan kami yang mati rasa, menyeret
kami. Kami tak bisa membentuk kata-kata, untuk berharap agar kematian terjadi
dengan cepat sekarang. Tapi itulah harapan kami. Kami menunggu gigitan. Tapi
seretan itu berubah jadi dorongan, dan kami merasakan wajah kami berguling
menghadap langit.
Cairan
itu tertuang ke wajah kami--basah, sejuk, dan mustahil. Cairan itu menetes ke
mata kami, membasuh pasir dari sana. Mata kami bergerak-gerak,
mengerjap-ngerjap terkena tetesan.
Kami
tidak memedulikan pasir di mata. Dagu kami terangkat, mencari-cari dengan putus
asa. Mulut kami membuka dan menutup dengan kelemahan membabi buta dan
menyedihkan, seperti burung yang baru saja menetas.
Kami
mengira mendengar desah napas.
Lalu
air mengalir ke dalam mulut dan kami meneguknya, lalu tersedak-sedak. Airnya
menghilang ketika kami tersedak, dan sepasang tangan lemah kami menggapai-gapai
mencarinya. Sesuatu yang berat dan datar menghantam punggung. Sampai kami bisa
bernapas kembali. Sepasang tangan kami terus menjangkau udara, mencari air itu.
Kali
ini kami benar-benar mendengar helaan napas.
Sesuatu
ditekankan ke bibir kami yang pecah-pecah, lalu air kembali mengalir. Kami
menenggaknya dengan rakus, kali ini berhati-hati agar tidak menarik napas. Bukannya
kami peduli apakah akan tersedak, tapi kami tak ingin air itu diambil lagi.
Kami
minum sampai perut kami kembung dan sakit. Airnya menetes, lalu berhenti. Kami
berteriak parau memprotes. Pinggiran botol lain ditekankan ke bibir, dan kami
meneguk kalap sampai airnya habis juga.
Perut
kami bakal meledak jika minum lagi, tapi kami mengerjap dan mencoba memusatkan
pandangan, untuk melihat apakah kami bisa menemukan lebih banyak air. Terlalu
gelap; kami tak bisa melihat satu bintang pun. Lalu kami kembali
mengerjap-ngerjapkan mata, menyadari kegelapan itu jauh lebih dekat daripada
langit. Sesosok tubuh menjulang di dekat kami, lebih kelam daripada malam.
Terdengar suara samar kain bergesek dan pasir berpindah di bawah tumit. Sosok itu mencondongkan tubuh ke belakang, lalu kami mendengar bunyi robekan tajam--suara ritsleting yang memekakkan di dalam keheningan malam yang telak.
Terdengar suara samar kain bergesek dan pasir berpindah di bawah tumit. Sosok itu mencondongkan tubuh ke belakang, lalu kami mendengar bunyi robekan tajam--suara ritsleting yang memekakkan di dalam keheningan malam yang telak.
Cahaya
mengiris mata kami bagai pisau. Kami mengerang kesakitan, tangan kami melayang
ke atas untuk menutupi mata kami yang terpejam. Bahkan di balik kelopak mata
sekalipun, cahaya itu terlalu terang. Cahayanya menghilang, dan kami merasakan
desah napas berikutnya menimpa wajah kami.
Dengan hati-hati kami membuka mata, lebih buta daripada sebelumnya. Siapa pun yang sedang memandang kami, ia duduk sangat diam dan tidak mengatakan apa-apa. Kami mulai merasakan ketegangan, tapi perasaan itu begitu jauh, berada di luar diri kami. Sulit untuk memedulikan hal lain, kecuali air di dalam perut dan di mana kami bisa menemukan lebih banyak air lagi. Kami mencoba berkonsentrasi, untuk melihat siapa penyelamat kami.
Dengan hati-hati kami membuka mata, lebih buta daripada sebelumnya. Siapa pun yang sedang memandang kami, ia duduk sangat diam dan tidak mengatakan apa-apa. Kami mulai merasakan ketegangan, tapi perasaan itu begitu jauh, berada di luar diri kami. Sulit untuk memedulikan hal lain, kecuali air di dalam perut dan di mana kami bisa menemukan lebih banyak air lagi. Kami mencoba berkonsentrasi, untuk melihat siapa penyelamat kami.
Hal
pertama yang kami ketahui, setelah bermenit-menit mengerjap-ngerjap dan
menyipitkan mata, adalah warna putih tebal yang jatuh dari wajah gelap itu.
Jutaan serpihan pucat di malam hari. Ketika kami memahami serpihan putih itu
sebagai jenggot--seperti Sinterklas, pikir kami kacau--bagian-bagian lain wajah
itu melengkapi ingatan kami. Semua pas: hidung besar dengan ujung terbelah,
tulang pipi lebar, alis putih tebal, mata cekung di kulit keriput. Walaupun
hanya bisa melihat wajahnya sedikit-sedikit, kami tahu bagaimana cahaya akan
memaparkannya.
"Uncle
Jeb." Terkejut kami berteriak parau, "Kau menemukan kami."
Uncle
Jeb, yang berjongkok di sebelah kami, bergerak-gerak di atas tumitnya ketika
kami mengucapkan namanya.
"Well,"
katanya, suara seraknya mendatangkan kembali ratusan kenangan. "Well, ini
sangat dilematis."
.
.
.
TO
BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar