Laman

Minggu, 08 Juli 2012

DREAMING *CERPEN*

‘Aku melihat impian ku yang jauh, dan aku berdiri hampa. Aku tidak punya apa-apa lagi yang tersisa. Aku berpikir untuk menyerah. Aku ragu, tapi jauh di dalam hatiku ada daya yang tak terbendung, seolah menyeretku ke depan. Aku melangkah maju dengan hati-hati. Hatiku penuh dengan ketakutan. Tapi, kegembiraanku seolah merangkulku dari jauh. Aku terkejut dan gemetar. Tapi, aku tetap melangkah maju.’

-------------

“Masing-masing dari kita pasti punya bakat masing-masing bukan? Dan bakat itu yang menjadikan motivasiku untuk bergerak maju. Aku suka sekali melukis, dan aku mempunyai mimpi yang kuat, seolah mimpi itu selalu berjalan berdampingan denganku. Cuku jelas adanya.”
Cukup jelas kata-kata itu terngiang di telingaku. Seorang perempuan yang baru kukenal beberapa hari yang lalu. Baru satu kali aku dan dia bertemu, tapi kata-katanya cukup membuatku membuka hatiku lebar-lebar. Cukup memotivasiku. Larra, begitu ia mengenalkannya padaku.
Dulu, aku tidak punya impian. Aku berfikir itu hanyalah omong kosong. Aku tidak mau menghabiskan waktuku hanya untuk bermimpi yang tak jelas bagaimana kedepannya. Aku juga tidak butuh berkhayal, yang aku lakukan adalah apa yang harus aku lakukan.
Tapi, setelah aku bertemu dengan Larra. Perempuan yang menurutku tak bisa di banggakan sama sekali begitu melihat penampilannya. Dia hanya penjual gorengan keliling dari komplek ke komplek, termasuk juga rumahku. Dia hanya lulus SMP dan tidak melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Tapi, hatiku begitu menyesali fikiranku ketika aku tahu dia tak seperti penampilannya. Hatinya sangat tulus, dia sangat mengerti arti sebuah kehidupan. Bahkan, pendidikan keluargaku yang dibilang jauh daripada keluarga Larra tidak bisa membandinginya. Bahkan, kakakku – Reza yang otaknya sangat jenius sekalipun kalah pada Larra. Padahal dia hanya seorang perempuan, dan aku seorang lelaki. Seharusnya aku lebih unggul.
Larra, orang pertama yang membuatku menyadari begitu pentingnya bermimpi. Sampai saat ini, aku pun baru menyadari bakat terpendamku. Aku suka seni. Bernyanyi, menari, bahkan aku juga suka jika suatu saat nanti aku menjadi seorang fotografer. Ini untuk pertama kalinya aku mulai bermimpi dan berkhayal.
Aku yang bersekolah pada SMA elite di-ibukota Indonesia ini, bahkan merasa malu pada diriku sendiri karena aku telat. Aku telat menyadari ini. Hal yang amat sangat penting, tapi aku malah menganggapnya hal yang sangat remeh dan tak berguna.
Saat aku berpikir jika ini akan berakhir tidak seperti yang aku inginkan, sebuah rasa takut terus-menerus datang. Dan aku membayangkan peristiwa itu, aku terbangun dan kuhancurkan akhir ketakukan pada diriku. Takut untuk jatuh. Seperti bayi burung yang tidak bisa terbang. Bisakah aku melakukan itu?
“Kalau kamu ragu, kesempatan terbesar akan hilang!” Kakak kelasku pernah menegaskan begitu. Rafael yang kini sudah sangat sukses. Dan dia sangat bangga dengan apa yang dia impikan kini ia genggam erat dan tidak mau dilepas lagi. Aku iri padanya. Mungkin, kak Rafael juga bisa kujadikan motivasiku.
“Ilham, coba dengar baik-baik perkataanku. Kamu punya cita-cita kan? Apa cita-cita kamu?” Kak Rafael bertanya ketika ia tahu bahwa mimik mukaku tak meyakinkan. Ragu.         
“Ya, aku punya cita-cita kak. Aku mau jadi fotografer. Ataupun aku juga bisa menjadi seorang penyanyi.”
“Apapun itu cita-cita kamu. Kamu harus niat, dan membekukan niat itu didalam hati kamu. Di dalam fikiran kamu. Kunci baik-baik apapun cita-cita yang kamu inginkan.” Rafael memberhentikan perkataannya. Dia meminum jus yang ada didepannya. Setelah selesai, bola matanya bergerak santai menatap kearah mataku. Dia seolah berkata ‘dengarkan baik-baik perkataanku’.
“Kamu harus punya mimpi yang tinggi, dan ketika kamu lelah tutup mata kamu. Kamu jaga baik-baik imajinasi mimpi kamu itu. Dan ketika kamu bangun, kamu bisa terbang tinggi. Kamu bisa pergi ke langit itu dan membuka sayapnya. Terbang lebih tinggi dan melebihi yang lain.”
Aku mencerna baik-baik perkataan kak Rafael. Hatiku seakan bergetar. Mencoba menghitung seberapa jauh aku telat menyadarinya. Kak Rafael adalah motivasiku saat ini. Perkataannya membuka lebih lebar hatiku daripada perkataan Larra kemarin.
Aku punya mimpi, bahkan jika aku dibuang atau dicabik-cabik. Jauh di dalam hatiku. Aku punya mimpi yang sama berharganya seperti permata.
“Bagimana Ham? Apakah kamu memiliki impianmu sekarang? Apa cita-citamu?” Kulihat Larra memasuki perkarangan rumahku menawarkan gorengan dan bertanya padaku. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Fotografer.” Jawabku singkat. Larra tersenyum lagi sambil membungkus gorengan mana saja yang tadi aku tunjuk. Tangannya sudah cukup lincah melayani seorang pembeli. Aku hanya mengamatinya seperti itu.
“Semuanya 7 ribu.” Ujarnya sambil memberi plastik putih berisi gorengan itu. Aku merogoh saku kanan bajuku dan memberinya 10 ribu.
“Ambillah kembaliannya!” Tegasku, dan aku cepat berdiri. Masuk kedalam rumahku.
Tapi Larra menahan tanganku. Dia menatapku lekat-lekat. “Jangan seperti itu, ini!” Dia memberiku kembalian uang 3 ribu rupiahnya. Tapi aku mendorong lagi tangannya.
“Tak apa. Ambillah!”
Bola matanya seakan tak minat. Dan perlahan dia menarik tangannya. “Terimakasih.” Larra mengucapkan terimakasih sambil menunduk. Dan kulihat dia juga tersenyum ragu.
Setiap kali aku melihatnya, setiap kali dia tersenyum untukku. Sedikit demi sedikit perasaan ku untuknya tumbuh. Ketika aku berpikir tentangnya sekarang,
ketika aku mengambarnya, jantung ku berdetak aneh. Aku tidak tahu bagaimana untuk menghentikan. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi.
Tak tahu kapan dia menjadi orang yang paling penting dalam hidupku. Begitu cepat mengambil hatiku. Sehari-hari, karena cintaku tumbuh untuknya. Untuk sepanjang hari. Aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
Aku selalu berlatih menjadi seorang fotografer yang professional. Atupun menjadi seorang penyanyi. Itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi, aku belum menyerah. Aku akan percaya pada apapun sekarang. Tak menganggap remeh lagi impian itu.
Sampai pada akhirnya aku tahu bahwa perjuanganku ini tidak menganggap apa-apa. Karena setelah lulus SMA, aku mencoba ke beberapa bidang yang cocok dengan bakatku. Tapi, aku tidak terpilih. Tak tahu dimana salahnya. Aku sudah sangat yakin saat itu, karena semua orang bilang hasil foto ku sangat bagus. Kufikir aku akan terpilih. Tapi semuanya jauh dari yang aku fikirkan. Dengan bagaimana cara lagi aku mencoba bidang yang sesuai dengan bakatku?
Kuharap aku bisa melihat kebahagiaanku suatu hari nanti. Suatu hari setelah kegelapan ini selesai. Ketika aku merasa bahwa aku mulai bosan melihat diriku lelah, aku ingin memberikan semua impian ku, aku sudah menyimpan dengan keras ataupun hati-hati. Sangat memakan waktu aku merasa bahwa aku kurang dalam banyak hal, lebih daripada yang aku miliki. Aku kehilangan kekuatan di kakiku dan jatuh.
Hampir setiap hari aku menghibur diri sendiri "Kedepannya akan baik-baik saja". Tapi itu membuatku takut sedikit demi sedikit. Kukatakan pada diriku sendiri untuk percaya pada diri sendiri. Sekarang, aku tidak tahu bagaimana lagi aku bisa bertahan. Tapi tunggu! Aku yakin di - yang akan datang. Meskipun malam panjang.
Aku merasakan mimpiku terlalu jauh, seakan aku tidak bisa menggapai mimpi itu dari dekatku. Dan kini aku terjatuh. Tapi aku bangkit lagi ketika Larra dan kak Rafael menyemangatiku. Aku sudah cukup bersungguh-sungguh dan bersabar. Mengetahui dan memperbaiki mimpi itu secara perlahan.
“Perjalanan kamu masih panjang, dan kamu masih punya banyak waktu. Untuk bersinar. Jangan takut untuk masa depan ditanganmu. Kamu tidak boleh berhenti. Berjalan dan percayalah sekarang.” Suatu hari aku mendengar kata-kata itu dari seorang laki-laki yang menurutku sangat bijak. Aku mencoba untuk dekat dengannya. Dan kini aku mengetahui namanya, Bisma.
Kak Bisma menceritakan banyak hal tentang dirinya, dia bilang dulu dia sama sepertiku, seorang yang tidak punya impian. Bahkan dulu dia bersikeras tidak mau belajar. Kisahnya sama persis dengan kisah yang aku alami. Bedanya hanya satu, ia bisa terbang tinggi sedangkan aku malah terperosok jatuh.
Kak Bisma bilang, aku harus mempunyai keberanian yang kuat yang akan berdiri saat aku terjatuh. Keberanian itu akan berdiri dan melompat sekali lagi. Kak Bisma bilang, aku harus percaya sekali lagi. Percaya pada kepercayaanku. Bertaruh segalanya. Dan aku akan segera pergi melompat jikalau ada dinding yang lebih tinggi dariku.
Setiap kali jika ada orang-orang yang menjadi panutanku berkata dengan bijak, aku selalu menyimpan kata-kata itu didalam hatiku. Agar aku bisa menikmati indahnya perjalanan menuju mimpiku. Menikmati lelahnya kegelapan menuju indahnya keterangan.
Ada sebuah lagu di dalam jiwaku. Ini salah satu yang aku coba untuk lagi dan lagi. Aku terjaga dalam dingin yang tak terbatas. Tapi seakan bernyanyi untuk diriku berulang-ulang.
Sudah berbulan-bulan aku tidak bertatap muka dengan Larra, orang yang pertama membuatku tersadar. Dimana dia sekarang? Sudahkah dia bertemu dengan mimpinya yang nyata?
Sudah lama juga aku berlatih, terus menerus tanpa henti. Jika ada sebuah keajaiban, datanglah kepadaku keajaiban itu. Agar aku termasuk kedalam orang-orang yang beruntung mengenggam mimpinya.
Beberapa orang tetap hidup didalam mimpi, beberapa orang memberikan hidup di dalam mimpi. Untuk memenuhi impian orang lain, yang menanggungnya. Setiap malam menari ditempat impian, menjerit di kerumunan. Suara hati dan mataku kembali ke kenyataan yang gelap. Dan kecemasan setiap hari.
Latihan dan latihan lagi, tetapi hanya usap air mata darah, keringat dan air mata telah mempelajari nilai kehidupan.
Cinta, harapan, dan mimpi. Untuk membangkitkanku. Sekarang aku siap lagi, cahaya kamera bertindak sekarang. Kita semua adalah petualang. Hari ini dan besok. Kegagalan tak apa-apa untuk berbohong. Buang penuh keyakinan. Tetapi, bisa berbuat lebih baik. Sejujurnya aku takut, bisa terbang ataupun bisa mencapainya. Kuncinya satu, percaya pada diri sendiri dan sungguh-sungguh memohon.
Keinginan itu tercapai. Saat ada seseorang yang tidak sengaja melihat hasil karyaku dan dia memintaku untuk datang ke tempat kerjanya. Aku menurutinya. Dan seperti yang dijanjikannya aku datang ke tempat kerjanya.
Kakiku berhenti melangkah ketika mengetahui sebuah gedung yang berada di depanku. Kuperhatikan baik-baik alamatnya. Alamatnya benar, tidak salah suatu apapun. Aku melangkah ragu. Kudapati seseorang yang menungguku di kantornya.
Dan, lagi-lagi mulutku menganga mendengar penuturannya. Dia bernama Morgan. Dia bilang dia memerlukan seorang fotografer untuk  kebutuhan pribadinya. Aku terkesiap, dia sudah sangat sukses bagaikan atasan yang memerintah bawahannya. Padahal, umurnya hanya berbeda lebih tua dari umurku.
Dia juga bilang bahwa dia akan memintaku menemaninya keluar negeri karena dia ada job disana. Dan aku akan mengabadikannya dengan hasil foto yang aku jepret. Selama disana tak berhenti-berhentinya dia memuji hasil karyaku. Dia iri padaku katanya. Padahal, aku yang seharusnya iri padanya.
Dan aku tahu lebih lanjut seorang Morgan saat banyak orang yang mengenalinya dan banyak orang yang minta foto bersama dengannya. Dia seorang Penyanyi di luar negeri ini. Bagaimana aku bisa tidak tahu? Pantas saja jika dia berpose seperti seorang model yang sudah berpengalaman dan profesional. Tapi mengapa jika di Indonesia jarang yang mengenalnya? Bahkan menurutku wajahnya asli Indonesia.
“Sebenarnya, aku tidak suka pekerjaan ini. Terlalu lelah melewatinya. Bahkan, tak jarang aku tidak tidur hanya untuk pekerjaan ini. Tapi aku harus menerimanya. Aku tahu banyak orang yang mau menjadi artis dan dikenali banyak orang. Tapi itu karena mereka tidak tahu rasanya jadi aku.” Morgan menceritakan sedikit pekerjaannya saat aku dan dia sedang berjalan di tepi danau untuk pemotretannya.
Morgan terkekeh dan memandang kosong ke langit. Dia seakan sedang berpikir. “Ham, bukankah kamu ingin menjadi penyanyi juga? Coba kamu bernyanyi didepanku.” Wajahnya berpaling kepadaku dengan cepat dan matanya hanya fokus menatap kearahku.
Aku tersenyum, kemudian menyanyikan sedikit lagu yang biasa aku nyanyikan saat latihan. Aku menyanyikan lagu Afgan-Bawalah Cintaku. Dan matanya sedikit tak percaya ketika aku selesai menyanyikannya.
“Kau adalah seorang bintang Ham! Kau seakan bersinar diwaktu kau bernyanyi!” Morgan berkata dengan semangat. Aku terlonjak senang mendengar komentarnya padaku.
“Bagaimana jika kau debut denganku? Kita berdua. Sekaligus kau menjadi penyanyi, kau masih tetap menjadi fotografer - ku.”
“Jangan bergurau! Aku tidak suka bergurau di suasana serius seperti ini.” Aku terkekeh pelan.
“Aku serius, Ilham…”
Aku menatap kosong ke matanya. “Serius kak?” Dan Morgan hanya mengangguk sambil tersenyum. Untuk yang kesekian kalinya hatiku terlonjak senang.
Sampai saat ini, Morgan aku jadikan sebagai kakak senior ku. Walaupun kami sudah menjadi seperti kakak beradik yang selalu bersama kemana pun. Ya, aku dan Morgan menjadi penyanyi. Bahkan kakak ku Reza yang sekarang menjadi seorang rapper jarang sekali kutemui.
Tahukah kamu? Inilah yang aku tunggu-tunggu! Menjadi seorang bintang. Mimpiku terkabul sekaligus. Menjadi seorang penyanyi bersama kakak senior ku Morgan sekaligus menjadi fotografer Morgan setiap dia ada pemotretan. Impianku menjadi kenyataan!
Selesai perform malam ini di daerah luar Jakarta, aku dan Morgan berencana untuk makan malam. Kami mengendarai mobil untuk mencari restoran terdekat. Karena aku sudah sangat lapar, kami setuju akan makan di café-café kalau ada.
Beberapa menit, terlihat café yang tak jauh dari mobil dan tanpa berfikir panjang Morgan langsung menepikan mobilnya ke pinggir. Aku menyamar dengan memakai jaket dan kacamata. Begitu juga dengan Morgan. Karena kami tahu jika ada satu orang pun yang mengenali kami, itu akan sangat berbahaya.
Kami memilih kursi paling pojok agar tak banyak tatapan-tatapan nakal dari seorang paparazzi. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang memukul bahu ku pelan. Aku takut kalau dia tahu siapa aku. Aku menoleh perlahan.
“Ilham kan?” Tanyanya mengamati mukaku lekat-lekat. Aku melirik ke Morgan sekilas. Seolah Morgan bertanya ‘siapa dia?’ dan aku juga seolah berkata ‘nanti akan aku jelaskan’. Aku langsung menyuruhnya duduk agar tidak banyak perhatian orang.
Aku tersenyum. “Larra? Bagaimana kabarmu?”
“Ahh, sudah kau duga kalau kau adalah Ilham. Yeah, seperti yang kau lihat sendiri aku baik-baik saja.”
Aku mengamati penampilannya yang sekarang sudah jauh berbeda dengan penampilannya dulu.
“Bagaimana dengan impianmu waktu itu Ra? Sudahkah kau genggam erat di tanganmu?”
Larra tersenyum. Ini yang aku selalu rindukan. Senyumannya. “Bahkan sangat erat dan tak ingin ku lepaskan, Ham!”
“Benarkah? Kau hebat! Oh iya, terimakasih untuk kata-katamu yang selalu membuatku tidak menyerah. Larra, kenalin dia Morgan. Morgan, dia Larra teman ku dulu.”
Mereka berjabat tangan dan melontarkan nama masing-masing. “Tidak perlu kau perkenalkan pun aku sudah kenal kok.” Larra tersenyum lagi. Aku dan Morgan terkekeh pelan.
Sejak saat itu, aku melewati hidup dari pengalamanku sendiri. Tidak mau terlambat lagi menyadari sesuatu apapun yang aku anggap remeh. Semakin hari, aku semakin menyukai pekerjaanku. Berkat Morgan, aku mempunyai pekerjaan dua sekaligus. Terimakasih, karena tuhan telah memberiku kesempatan, mengatur waktu ku untuk bertemu dengan Morgan.
Aku bermimpi tinggi. Ketika itu susah ku raih. Aku menutup mata dan aku membayangkan peristiwa itu. Aku terbangun, kuhancurkan akhir ketakutan untuk jatuh. Seperti bayi burung yang tidak bisa terbang.
Satu persatu perjalananku berjalan. Bertaruh segalanya. Dan aku akan pergi melompat jikalau ada sebuah dinding yang lebih tinggi. Dan ketika aku takut lagi, ketika aku lelah. Aku menutup mata. Aku menjaga imajinasi itu. Dan ketika aku terbangun. Imajinasi itu menjadi nyata. Aku bisa terbang tinggi. Aku bisa pergi ke langit itu. Membuka sayapku. Terbang tinggi melebihi yang lain. Dan aku percaya itu.

Minggu, 8 Juli 2012
Cilegon, Indonesia



By: Amanda Hanifah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar