THE
HOST
A STORY AND NOVEL BY STEPHENIE MEYER
.
.
THE HOST
BAB 4
DREAMED
.
.
.
Terlalu gelap untuk menjadi sepanas
ini, atau mungkin terlalu panas untuk menjadi segelap ini. Salah satunya
keliru.
Aku berjongkok dalam kegelapan di balik
perlindungan lemah semak-semak creosote pendek, dan berkeringat hingga
menghabiskan semua air yang tersisa di tubuhku. Lima belas menit sudah berlalu
semenjak mobil itu meninggalkan garasi. Tak satu pun lampu dinyalakan.
Pintu beranda belakang terbuka dua
senti, membiarkan pendingin udara melakukan tugasnya. Bisa kubayangkan rasa
udara lembap sejuk yang berembus lewat kawat kasa. Aku berharap bisa
merasakannya di sini.
Perutku keroncongan, dan kutegangkan
otot-otot perutku untuk meredam suaranya. Suasana sangat hening sehingga suara
teredam itu terdengar.
Aku sangat kelaparan.
Ada kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Perut lapar lain bersembunyi dengan aman jauh di dalam kegelapan, menunggu
sendirian di gua kasar yang merupakan rumah sementara kami. Tempat yang sesak,
dengan batu vulkanik bertonjolan.
Apa yang akan dilakukannya seandainya
aku tidak kembali? Semua tekanan menjadi ibu tanpa disertai pengetahuan atau
pengalaman. Aku merasa sangat tak berdaya. Jamie kelaparan.
Tak ada rumah lain di dekat rumah ini.
Aku sudah mengamatinya sejak matahari masih panas memutih di langit, dan kurasa
juga tidak ada anjing.
Kukendurkan posisi jongkokku. Kedua
pahaku berteriak memprotes, tapi aku tetap membungkuk, berusaha lebih rendah
daripada semak-semak. Jalan menuju sungai berupa pasir halus, jalan setapak
pucat dalam cahaya bintang. Tak ada suara mobil di jalanan.
Aku tahu apa yang akan mereka sadari
saat kembali. Monster-monster itu tampak seperti pasangan suami-istri baik hati
di awal lima puMelanie. Mereka akan tahu persis siapa diriku, dan pencarian
akan langsung dimulai.
Aku harus pergi jauh. Aku benar-benar
berharap mereka sedang pergi mencari hiburan malam di kota. Kurasa ini hari
Jumat. Mereka mempertahankan kebiasaan-kebiasaan kami dengan begitu sempurna,
sehingga sulit melihat perbedaan apa pun. Itulah sebabnya mereka menang.
Pagar di sekeliling pekarangan hanya
sepinggang. Aku melompatinya dengan mudah, tanpa suara. Tapi pekarangannya
berkerikil, dan aku harus berjalan perlahan-lahan agar bobot tubuhku tidak
menggeser kerikil - kerikil itu. Aku berhasil sampai ke lempeng ubin beranda
belakang.
Tirai-tirainya terbuka. Cahaya bintang
cukup bagiku untuk melihat tidak ada gerakan di dalam semua ruangan. Syukurlah
pasangan ini memilih gaya sederhana, sehingga menyulitkan orang untuk
bersembunyi. tentu saja itu juga berarti tak ada tempat bersembunyi bagiku.
Tapi seandainya aku perlu bersembunyi, semua sudah terlambat.
Pertama-tama aku membuka pintu kasa,
lalu pintu kaca. Keduanya bergeser tanpa suara. Kuletakkan kedua kakiku dengan
hati-hati di ubin, tapi ini hanya karena kebiasaan. Tak seorang pun menungguku
di sini.
Udara sejuk terasa seperti surga.
Dapur ada di kiri. Aku bisa melihat
kilau meja - meja granitnya.
Kutarik tas kanvas dari bahu, dan
memulai dengan kulkas. Sejenak aku merasa cemas ketika lampu kulkas menyala
saat pintu terbuka, tapi aku menemukan tombol lampu itu dan menekannya dengan
jempol kaki. Mataku buta. Aku tak punya waktu untuk membiarkan mataku
menyesuaikan diri. Aku meraba-raba.
Susu, irisan keju, makanan sisa dalam
mangkuk plastik. Kuharap itu nasi dan ayam. Tadi kuamati lelaki itu memasak
hidangan ini untuk makan malam. Kami akan menyantapnya malam ini.
Jus, sekantong apel. Wortel mini. Semua
ini akan tetap segar sampai pagi.
Aku bergegas menuju lemari dapur. Aku
perlu makanan yang bisa tahan lebih lama.
Penglihatanku lebih baik ketika aku
mengumpulkan sebanyak mungkin makanan yang bisa kubawa. Mmm, biskuit chocolate
chip. Ingin sekali kubuka kantong itu sekarang juga, tapi aku mengertakkan gigi
dan mengabaikan pilinan perut kosongku.
Dengan cepat tasku jadi berat. Ini
hanya akan bertahan seminggu walaupun kami berhemat. Dan aku tidak merasa ingin
berhemat; aku ingin makan dengan rakus. Kupenuhi semua saku dengan granola
batangan.
Satu lagi. Aku bergegas menuju tempat
cuci piring dan mengisi kembali wadah airku. Lalu kuletakkan kepalaku di bawah
aliran, dan minum langsung dari situ. Airnya menciptakan suara-suara aneh
ketika menimpa perut kosongku.
Kini tugasku selesai, aku mulai panik.
Aku ingin keluar dari sini. Peradaban sangat berbahaya.
Aku mencermati lantai dalam perjalanan
keluar, khawatir bakal tersandung tas beratku. Itulah sebabnya aku tidak
melihat sesosok bayangan hitam di beranda belakang, sampai tanganku berada di
pintu.
Aku mendengar gumaman sumpah serapahnya
bersamaan dengan keluarnya jerit ketakutan tolol dari mulutku. Aku berbalik
untuk lari ke pintu muka, berharap pintu tidak terkunci, atau setidaknya tidak
sulit dibuka.
Aku bahkan belum sempat melangkah dua
kali ketika sepasang tangan liat kasar mencengkeram bahuku dan memutarku
kembali menghadap tubuh itu. Tangan itu terlalu besar, terlalu kuat, tak
mungkin tangan perempuan. Suara berat itu membuktikan aku benar.
"Satu suara lagi, dan kau akan
mati," ancamnya kasar. Aku terkejut ketika merasakan pinggiran tipis tajam
disorongkan ke kulit di bawah rahangku.
Aku tidak mengerti. Seharusnya aku
tidak diberi pilihan. Siapa monster ini? Aku tak pernah mendengar monster
melanggar peraturan. Aku menjawab dengan satu-satunya jawaban yang bisa
kuberikan.
"Lakukan." Aku meludah lewat
sela-sela gigi. "Lakukan saja. aku tak mau jadi parasit menjijikan!"
Aku menunggu pisau itu, dan jantungku
terasa nyeri. Setiap denyutnya memiliki nama. Jamie, Jamie, Jamie. Apa yang
akan terjadi denganmu sekarang?
"Pintar," gumam lelaki itu.
Dan kedengarannya ia tidak sedang bicara padaku. "Pasti ini Pencari. Dan
itu berarti jebakan. Bagaimana mereka bisa tahu?" Baja itu lenyap dari
leherku, digantikan tangan sekeras besi.
Aku nyaris tak bisa bernapas di bawah
cengkeramannya. “Mana yang lain?" desaknya, meremas leherku.
"Hanya ada aku!" teriakku
parau. Aku tak bisa menuntun lelaki ini menuju Jamie. Apa yang akan dilakukan Jamie
kalau aku tidak kembali? Jamie kelaparan!
Kusikut perut lelaki itu--dan tindakan
ini benar-benar menyakitkan. Otot-otot perutnya sekeras besi, sama seperti
tangannya. Dan ini sangat aneh. Otot-otot semacam itu merupakan produk
kehidupan keras atau obsesi, dan parasit-parasit tidak memiliki keduanya.
Lelaki itu bahkan tidak menghela napas
kesakitan akibat pukulanku. Putus asa kuhujamkan tumitku ke punggung kakinya.
Tindakan ini mengejutkannya, dan ia terhuyung-huyung. Aku melepaskan diri, tapi
ia mencengkeram tasku, menarikku kembali ke tubuhnya. Tangannya kembali
menjepit leherku.
"Sebagai perampas tubuh yang cinta
damai, kau cukup agresif."
Kata-katanya tak masuk akal. Kupikir
semua mahluk asing sama saja. Ternyata di antara mereka ada yang gila juga.
Aku meronta dan mencakar, mencoba
melepaskan cengkeraman lelaki itu. Kuku-kuku tanganku mencakar lengannya, tapi
ini hanya membuatnya semakin mempererat cekikannya.
"Akan kubunuh kau, pencuri tubuh
tak berguna. Aku tidak membual."
"Kalau begitu, lakukan saja!"
Tiba - tiba ia terkesiap, dan aku
bertanya-tanya apakah salah satu tungkaiku mengenai tubuhnya.
Aku tidak merasakan memar baru apa pun.
Ia melepaskan lenganku dan menjambak
rambutku. Ini dia. Ia akan memotong leherku. Kukuatkan diri menunggu irisan pisau
itu.
Tapi tangan di leherku mengendur, lalu
jemarinya menggerayangi tengkukku, terasa kasar dan hangat di kulitku.
"Mustahil," desahnya.
Sesuatu menghantam lantai dengan suara
gedebuk. Ia menjatuhkan pisaunya? Aku mencoba memikirkan cara untuk mengambilnya.
Mungkin aku harus menjatuhkan diri. Cengkeraman di leherku tak cukup kuat
menahanku, jadi aku melepaskan diri. Kurasa aku mendengar di mana pisau itu
mendarat.
Tiba-tiba lelaki itu memutar tubuhku.
Terdengar suara klik, lalu sorot cahaya membutakan mata kiriku. Aku terkesiap,
dan otomatis mencoba berputar menjauhkan diri. Tangannya semakin erat
mencengkeram rambutku. Cahaya itu berpendar di mata kananku.
"Aku tak percaya," bisiknya.
"Kau masih manusia."
Sepasang tangan lelaki itu mencengkeram
wajahku. Dan sebelum aku bisa membebaskan diri, bibirnya mendarat keras di
bibirku.
Aku terpaku selama setengah detik.
Belum pernah seorang pun menciumku. Menciumku dengan sungguh-sungguh.
Yang ada hanyalah kecupan-kecupan dari
kedua orangtuaku di pipi atau kening, bertahun-tahun yang lalu. Ciuman ini
sesuatu yang kupikir takkan pernah kurasakan. Tapi aku tidak begitu yakin
bagaimana rasanya.
Terlalu banyak kepanikan, terlalu
banyak ketakutan, terlalu banyak adrenalin.
Kusentakkan lututku ke atas sehingga
menghujam keras.
Lelaki itu mengeluarkan suara
tersengal, dan aku bebas. Aku tidak kembali berlari ke depan rumah seperti yang
diharapkannya, tapi merunduk melewati lengannya dan melompat melewati pintu
beranda belakang yang terbuka.
Kurasa aku bisa mengalahkannya,
walaupun dibebani barang-barang bawaanku. Aku sudah memulai lebih dulu, dan ia
masih mengeluarkan suara-suara kesakitan. Aku tahu ke mana aku akan pergi, Aku
takkan meninggalkan jejak yang bisa dilihatnya di dalam gelap. Aku tak pernah
menjatuhkan makanan, dan itu bagus. Tapi kurasa semua granola batangan itu
hilang.
"Tunggu!" teriak lelaki itu.
Diam,
pikirku, tapi aku tidak membalas teriakannya.
Ia berlari mengejarku. Aku bisa
mendengar suaranya semakin dekat.
"Aku bukan salah satu dari mereka."
Pasti.
Kujaga pandanganku agar tetap tertuju ke pasir, dan aku berlari. Dulu
ayahku suka mengatakan lariku seperti cheetah. aku yang tercepat di tim lariku.
Juara negara bagian. Dulu, sebelum dunia kiamat.
"Dengarkan aku!" Lelaki itu
masih berteriak dengan volume penuh.
"Lihat! Akan kubuktikan. Berhenti
sajalah dan lihat aku!"
Mustahil.
Aku berbelok dari sungai dan lari
menuju semak-semak mesquite.
"Aku tidak menyangka ada yang
tersisa! Ayolah, aku perlu bicara denganmu!"
Suaranya mengejutkanku--terlalu dekat.
"Maaf aku menciummu! Itu tolol
karena kita sama sama lelaki! Tapi aku sudah begitu lama kesepian!"
"Diam!" Aku tidak
mengatakannya dengan lantang, tapi aku tahu ia mendengarku. Ia bahkan semakin
dekat. Aku belum pernah kalah. Kudorong kedua kakiku lebih keras.
Terdengar lenguhan pelan napas lelaki
itu ketika ia juga mempercepat larinya.
Sesuatu yang besar melayang ke
punggungku, dan aku terjatuh. Kurasakan tanah di mulutku, dan sesuatu yang
sangat berat menindihku sampai aku nyaris tak bisa bernapas.
"Tunggu. Sebentar," lelaki
itu tersengal-sengal.
Ia menggeser bobot tubuhnya dan
membalikkan tubuhku. Ia duduk mengangkangi dadaku, memerangkap kedua lenganku
di bawah masing-masing kakinya. Ia menggencet makananku. Aku menggeram dan
mencoba menggeliat keluar dari bawah tubuhnya.
"Lihat, lihat, lihat!"
katanya. Ia mengeluarkan silinder kecil dari saku celana dan memutar bagian
atasnya. Cahaya memancar dari ujungnya.
Ia mengarahkan senter itu ke wajahnya.
Cahaya membuat kulitnya berwarna
kuning. Memperlihatkan tulang pipi yang menonjol di kedua sisi hidung kurus
panjang dan rahang persegi tegas. Bibirnya terentang membentuk seringai, tapi
bisa kulihat bibir itu penuh, untuk ukuran lelaki. Alis dan bulu matanya
memutih, terbakar matahari.
Tapi bukan itu yang sedang
diperlihatkannya kepadaku.
Matanya--yang berwarna cokelat
kemerahan dan berkilau bening dalam cahaya--bersinar, hanya menunjukkan
refleksi mata manusia.
Dipantulkannya cahaya senter itu
bergantian ke mata kiri dan kanan.
"Lihat? Lihat? Aku persis
sepertimu."
"Aku mau melihat lehermu."
Kecurigaan terdengar kental dalam suaraku. Aku tidak membiarkan diriku percaya
ini bukan tipuan. Aku tidak memahami maksud kepura-puraan ini, tapi aku yakin
ada maksudnya.
Tak ada harapan lagi.
Bibir lelaki itu mengerut.
"Well... itu tidak terlalu membantu. Bukankah mata sudah cukup? Kau tahu
aku bukan salah satu dari mereka."
"Kenapa tidak kautunjukkan
lehermu?"
"Karena aku punya bekas luka di
sana," akunya.
Kembali aku mencoba menggeliat dari
bawah tubuhnya, tapi tangannya menindih bahuku.
"Luka itu kubuat sendiri,"
jelasnya. "Kurasa aku melakukannya dengan cukup baik, walaupun sakitnya
bukan main. Aku tidak punya rambut indah untuk menutupi leherku. Bekas
luka itu membantuku berbaur."
"Lepaskan aku."
Lelaki itu bimbang, lalu bangkit
berdiri dengan satu gerakan ringan tanpa perlu menggunakan kedua tangan.
Diulurkannya sebelah lengannya, telapak tangannya menghadapku.
"Ayolah, jangan lari. Dan, ehm,
aku lebih suka kau tidak menendangku lagi."
Aku tidak bergerak. Aku tahu ia bisa
menangkapku seandainya aku mencoba lari.
"Siapa kau?" bisikku.
Ia tersenyum lebar. "Namaku Jared
Howe. Aku belum pernah bicara dengan manusia lain selama lebih dari dua tahun,
jadi aku yakin aku pasti tampak... sedikit gila bagimu. Kumohon, maafkan aku,
dan sebutkan juga namamu."
“Melanie," bisikku.
"Melanie Stryder," ulangnya.
"Tak bisa kukatakan betapa
gembiranya aku berjumpa denganmu."
Kucengkeram tasku erat-erat, seraya
tetap memandangnya. Perlahan-lahan ia mengulurkan tangan ke arahku.
Dan aku menyambutnya.
Ketika kulihat tanganku menggenggam
tangannya dengan sukarela, barulah kusadari bahwa aku memercayainya.
Ia membantuku berdiri dan tidak
melepaskan tanganku ketika aku sudah tegak.
"Sekarang bagaimana?" tanyaku
hati-hati.
"Well, kita tidak bisa terlalu
lama di sini. Kau mau kembali ke rumah itu bersamaku? Tasku ketinggalan. Kau
sampai di kulkas duluan."
Aku menggeleng.
Tampaknya ia menyadari betapa rapuh
diriku, betapa aku nyaris patah.
"Kalau begitu, maukah kau
menungguku di sini?" tanyanya lembut.
"Aku akan sangat cepat. Aku akan
mengambil lebih banyak makanan untuk kita."
"Kita?"
"Kau benar-benar mengira aku akan
membiarkanmu menghilang? Aku akan mengikutimu, walaupun kau melarangku."
Aku tidak ingin menghilang darinya.
"Aku..." Bagaimana mungkin
aku tidak bisa memercayai manusia lain sepenuhnya? Kami keluarga--bagian dari
serikat kepunahan. "Aku tidak punya waktu. Aku harus cukup jauh dan... Jamie
sedang menungguku."
"Kau tidak sendirian,"
ujarnya tersadar. Untuk pertama kali raut wajahnya menunjukkan kebimbangan.
"Adikku. Dia baru sembilan tahun,
dan sangat ketakutan ketika aku pergi. Perlu setengah malam bagiku untuk
kembali kepadanya. Dia takkan tahu apakah aku tertangkap. Dia sangat kelaparan."
Seakan menegaskan perkataanku, perutku bergemuruh kencang.
Senyum Jared kembali, lebih cerah
daripada sebelumnya. "Apakah akan membantu jika aku memberimu
tumpangan?"
"Tumpangan?" ulangku.
"Begini saja. Kau menunggu di
sini, sementara aku mengumpulkan lebih banyak makanan. lalu aku akan
mengantarmu, ke mana pun kau ingin pergi, dengan jipku. Lebih cepat daripada
berlari--bahkan lebih cepat daripada larimu."
"Kau punya mobil?"
"Tentu saja. kaupikir aku berjalan
kaki kemari?"
Kubayangkan waktu enam jam yang
kuperlukan untuk berjalan kemari, dan keningku berkerut.
"Kita akan kembali kepada adikmu
secepat kilat," janjinya. "Jangan pindah dari tempat ini, oke?"
Aku mengangguk.
"Dan kumohon, makanlah sesuatu.
Aku tidak ingin perutmu membuat kita ketahuan." Ia nyengir, dan matanya
berkerut ke atas, menciptakan garis-garis seperti kipas di sudut-sudutnya.
Jantungku berdebar kencang, dan aku
tahu aku akan menunggu di sini, kalaupun ia perlu waktu sepanjang malam.
Ia masih memegang tanganku. Ia
melepaskannya perlahan-lahan, matanya tidak meninggalkan mataku. Ia mundur
selangkah, lalu berhenti.
"Kumohon, jangan tendang
aku," pintanya, seraya mencondongkan tubuh dan meraih daguku. Ia menciumku
lagi, dan kali ini aku merasakannya. Bibirnya lebih lembut daripada tangannya.
dan terasa panas, bahkan di malam tandus yang hangat. Sekelompok kupu-kupu
beterbangan di dalam perutku dan mencuri napasku.
Sepasang tanganku meraih tubuhnya
secara naluriah. Kusentuh kulit hangat pipinya, rambut kasar di lehernya.
Jari-jari tanganku menelusuri segaris kulit berkerut, tonjolan tepat di bawah
garis rambut.
Aku menjerit.
Aku terbangun bermandi keringat. Bahkan
sebelum aku terbangun sepenuhnya, jemariku sudah berada di tengkuk, menelusuri
garis pendek yang tertinggal akibat penyisipan. Aku nyaris tak bisa mendeteksi
noda merah muda samar-samar itu dengan ujung - ujung jariku. Obat-obatan yang
digunakan Penyembuh telah bekerja dengan baik.
Bekas luka Jared yang buruk memang
bukan penyamaran yang baik.
Kunyalakan lampu di samping tempat
tidur, dan aku menunggu napasku melambat. Pembuluh darahku dipenuhi adrenalin
akibat mimpi yang terasa nyata itu.
Sebuah mimpi baru, tapi pada dasarnya
sangat serupa dengan banyak mimpi lain yang mengusikku beberapa bulan
belakangan ini.
Bukan, bukan mimpi. Pasti itu ingatan.
Aku masih bisa merasakan panasnya bibir
Jared di bibirku. Sepasang tanganku terulur tanpa seizinku, meraba-raba
permukaan seprai kusut, mencari sesuatu yang tidak mereka temukan. Jantungku
terasa nyeri ketika kedua tanganku menyerah, jatuh ke tempat tidur dengan
lunglai dan kosong.
Kukerjapkan mata untuk mengusir
kelembaban tak diundang di mataku. Aku tak tahu seberapa banyak lagi yang bisa
kutanggungkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa bertahan hidup di dunia ini,
dengan tubuh ini--yang ingatan-ingatannya tak mau tetap tinggal di masa lalu
seperti seharusnya? Dengan emosi-emosi sekuat ini, aku tak tahu lagi apa yang
kurasakan.
Besok aku bakal kelelahan, tapi aku merasa
sangat tidak mengantuk sehingga tahu perlu berjam-jam bagiku untuk menenangkan
diri.
Mungkin sebaiknya aku melakukan tugasku
dan segera menuntaskannya. Mungkin tindakan itu akan membantu menyingkirkan
benakku dari hal-hal yang sebaiknya tak kupikirkan.
Aku berguling turun dari tempat tidur
dan terhuyung-huyung menuju komputer yang merupakan satu-satunya benda di meja.
Perlu beberapa detik bagi layarnya untuk menyala, dan beberapa detik lagi untuk
membuka program suratku.
Tak sulit menemukan alamat Pencari. Aku
hanya punya empat kontak: Pencari, Penyembuh, atasan baruku dan istrinya,
Penghibur-ku.
Ada
manusia lain bersama inangku, Melanie Stryder.
Aku mengetik tanpa repot-repot
menuliskan salam pembukaan.
Namanya
Jamie Stryder; ia adiknya.
Dalam kepanikan sesaat kukagumi
pengendalian diri pemuda ini. Sudah selama ini, tapi aku bahkan tak pernah
menebak keberadaan anak laki-laki itu. Bukan karena anak itu tidak berarti bagi
si pemuda, tapi karena ia melindunginya lebih ketat daripada rahasia-rahasia
lain yang telah kubongkar.
Apakah ia masih punya banyak rahasia
sebesar dan sepenting ini? Rahasia yang begitu sakral sehingga ia
menyembunyikannya, bahkan dari mimpi-mimpiku? Apakah ia sekuat itu? Jemariku
gemetar ketika mengetikkan informasi lainnya.
Kurasa anak lelaki
itu sekarang sudah remaja. Mungkin usianya tiga belas. Mereka tinggal di
perkemahan sementara, dan aku yakin lokasinya di utara kota Cave Creek,
Arizona. Tapi itu beberapa tahun yang lalu. Meski begitu kau bisa membandingkan
peta dengan garis - garis yang kuingat sebelumnya. Seperti biasa akan kukabari
kalau aku mendapat informasi lain.
Kukirimkan surat itu. Begitu suratnya terkirim, aku langsung dilanda kengerian.
Jangan Jamie!
Suara pemuda ini di dalam kepalaku
terdengar sejelas suaraku sendiri ketika sedang bicara lantang.
Aku bergidik ngeri.
Walaupun sedang berjuang mengatasi
ketakutan mengenai apa yang sedang terjadi, aku dicekam keinginan sinting untuk
kembali mengirimkan email kepada Pencari dan meminta maaf karena telah
mengiriminya mimpi-mimpi sintingku, lalu mengatakan aku masih setengah tidur
sehingga tidak memperhatikan pesan tolol yang telah kukirimkan.
Itu bukan keinginanku.
Kumatikan komputer.
Aku benci kau,
geram suara di dalam kepalaku.
"Kalau begitu sebaiknya kau
pergi," gertakku. Suaraku, yang menjawabnya dengan lantang, membuatku
kembali bergidik.
Pemuda ini belum pernah bicara kepadaku
sejak saat-saat pertama aku berada di sini. Tak diragukan lagi ia semakin kuat.
Persis seperti mimpi-mimpi itu.
Dan tak perlu dipertanyakan lagi, aku
harus mengunjungi Penghibur-ku besok. Air mata malu dan kecewa merebak di
mataku saat memikirkan hal itu.
Aku kembali ke tempat tidur, meletakkan
bantal menutupi wajah, dan mencoba untuk tidak memikirkan apa-apa.
.
.
.
TO BE
CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar