THE
HOST
A STORY AND NOVEL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
PROLOG
.
.
INSERTED
.
.
.
Nama
sang Penyembuh Fords Deep Waters --Mengarungi Perairan Dalam.
Karena
ia sesosok jiwa, tentu saja ia serba baik: penyayang, sabar, jujur, bijak dan
penuh cinta. Kecemasan adalah emosi yang tak biasa bagi Fords Deep Waters.
Kejengkelan
bahkan lebih langka. Namun karena Fords Deep Waters hidup di dalam tubuh
manusia, kejengkelan kadang tak terhindarkan.
Ketika
bisik - bisik para murid Penyembuh berdengung jauh di sudut ruang operasi,
bibir Fords mengatup erat membentuk garis tipis. Ekspresinya serasa tidak
pantas di bibir yang lebih sering membentuk senyuman itu.
Darren,
asisten tetapnya, melihat seringai itu dan menepuk bahu Fords.
"Mereka hanya penasaran, Fords," ujar Darren pelan.
"Mereka hanya penasaran, Fords," ujar Darren pelan.
Inserted
atau biasa disebut penyisipan nyaris tak bisa disebut prosedur yang menarik
atau menantang. Jiwa di jalanan pun bisa melakukannya dalam keadaan darurat.
"Tak
ada yang bisa mereka pelajari melalui pengamatan hari ini". Fords terkejut
mendengar nada tajam menodai suaranya yang biasanya menenangkan.
"Mereka
belum pernah melihat manusia dewasa," kata Darren.
Fords
mengangkat sebelah alisnya. "Butakah mereka terhadap wajah mereka sendiri?
Bukankah mereka punya cermin?"
"Kau
tahu maksudku. Manusia itu liar. Belum berjiwa. Pemberontak."
Fords
memandang tubuh tak sadar Pemuda itu, yang terbaring menelungkup di meja
operasi. Rasa iba memenuhi hatinya ketika mendengar kondisi tubuh rusak malang
itu saat para Pencari membawanya ke fasilitas Penyembuhan. Rasa sakit yang
diderita Pemuda itu...
Tentu
saja tubuh itu sekarang sempurna---sembuh seutuhnya. Fords telah memastikan hal
itu.
"Dia
kelihatan sama seperti kita semua," gumam Fords pada Darren. "Kita
semua berwajah manusia. Dan saat terbangun dia juga akan jadi salah satu dari
kita."
"Menakjubkan
bagi mereka. Itu saja."
"Jiwa
yang kita sisipkan hari ini patut dihormati, dan tubuh inangnya tidak boleh
dipandangi dengan ternganga seperti itu. Banyak sekali yang harus dia hadapi
nanti, ketika menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tidak adil membuatnya
mengalami ini." Saat mengatakan ini, maksud Fords bukanlah
pandangan ternganga. Kembali Fords mendengar nada tajam dalam suaranya
sendiri.
Darren
menepuknya lagi. "Semua akan baik - baik saja. Pencari memerlukan
informasi dan-"
Ketika
mendengar kata Pencari, Fords memberi Darren pandangan yang hanya bisa
dijelaskan sebagai melotot. Darren mengerjap terkejut.
"Maaf."
Fords langsung minta maaf. "Aku tidak bermaksud bereaksi senegatif itu.
Aku hanya mengkhawatirkan jiwa ini."
Matanya
berpindah ke tangki krio di atas dudukannya di samping meja. Lampunya merah
suram stabil, menandakan tangki itu berisi dan dalam mode hibernasi.
"Jiwa
ini dipilih secara khusus untuk tugas ini," hibur Darren.
"Dia
luar biasa di antara bangsa kita--lebih berani daripada sebagian besar kita.
Kehidupan-kehidupan yang pernah dijalaninya membuktikan hal itu. Kurasa dia
akan menawarkan diri, seandainya kita bisa menanyainya."
"Siapa
diantara kita yang tidak akan menawarkan diri jika diminta melakukan sesuatu
demi kebaikan bersama? Tapi apakah memang seperti itu? Tercapaikah kebaikan
bersama dengan ini? Yang jadi pertanyaan bukanlah kesediaan jiwa ini, melainkan
permintaan apa yang pantas dibebankan kepada jiwa mana pun."
Murid
- murid penyembuh juga sedang membahas jiwa yang berhibernasi itu. Fords bisa
mendengar bisik - bisik itu dengan jelas; suara mereka kini membumbung, semakin
lantang sejalan dengan kegairahan mereka.
“Dia pernah hidup di
enam planet.”
“Kudengar tujuh.”
“Kudengar dia pernah
hidup sebagai spesies inang yang sama selama dua masa.”
“Mungkinkah itu?”
“Dia nyaris pernah
menjadi apa saja. Bunga, laba-laba—“
“See Weed,
Kelelawar—“
“Bahkan Naga!”
“Aku tak
percaya—tidak mungkin tujuh planet.”
“Setidaknya tujuh.
Dia memulainya di The Origin—Planet Asal.”
“Benarkah? The
Origin?”
"Harap
tenang!" Sela Fords. "Kalau kalian tidak bisa mengamati dengan tenang
dan profesional, aku harus mengusir kalian."
Dengan
malu keenam murid diam dan beringsut menjauh.
"Ayo
kita lanjutkan, Darren."
Semua
sudah disiapkan. Obat - obatan yang diperlukan diletakkan di sisi Pemuda manusia
itu. Rambut hitam Pemuda itu diamankan di balik topi bedah, memaparkan leher
jenjangnya.
Karena
dibius total, ia menarik dan mengembuskan napas perlahan - lahan. Kulit cokelatnya
yang terpanggang matahari nyaris tak memiliki tanda yang memperlihatkan...
Kecelakaan itu.
"Silahkan
memulai proses pencairan, Darren."
Asisten
berambut kelabu itu sudah menanti di samping tangki krio; tangannya pada
tombol. Ia menjentikkan kait pengaman dan memutar tombol. Lampu merah di atas
silinder abu - abu kecil itu mulai berkedip - kedip, berkilat makin cepat
ketika detik demi detik berlalu, lalu berubah warna.
Fords
berkonsentrasi pada tubuh tak sadar itu. Ia menggoreskan pisau bedah ke kulit
di bagian bawah tengkorak subjek dengan gerakan - gerakan kecil dan tepat,
menyemprotkan obat untuk menghentikan aliran darah berlebih, lalu melebarkan
luka. Dengan lembut ia merogoh ke balik otot - otot leher subjek, berhati -
hati agar tidak mencederai otot - otot itu, lalu menyingkapkan tulang - tulang
pucat di bagian atas tulang belakang.
"Jiwanya
sudah siap, Fords," Darren memberitahu.
"Aku
juga. Bawa dia."
Fords
merasakan kehadiran Darren di sikunya, dan tanpa melihat pun ia tahu asistennya
akan siap, dengan tangan terulur dan menanti. Sudah bertahun - tahun mereka
bekerja sama. Fords menahan luka itu agar tetap terbuka.
"Kirim
dia pulang," bisiknya.
Gerakan
tangan Darren tertangkap mata Fords, kilau perak jiwa yang bangkit berada dalam
tangkupan tangannya.
Fords
selalu terpesona saat melihat jiwa yang terpapar.
Jiwa
itu berkilau di tengah lampu - lampu terang ruang operasi, lebih cemerlang
daripada instrumen perak mengilat di tangan Fords. Seperti pita hidup, jiwa itu
meliuk dan bergetar, menggelliat, merasa senang terbebas dari tangki krio. Kaki
- kaki lurus berbulunya, yang nyaris seribu jumlahnya, bergelombang lembut
bagai rambut perak pucat. Walaupun semua jiwa indah, jiwa yang satu ini tampak
sangat anggun bagi Fords.
Bukan
hanya Fords yang terpesona. Ia mendengar desah pelan Darren dan gumam kagum
para murid.
Dengan
lembut Darren meletakkan mahluk kecil berkilau itu ke celah yang dibuat Fords
pada leher si manusia. Jiwa itu meluncur tenang ke dalam ruang yang ditawarkan,
lalu menjalinkan diri ke dalam anatomi asing itu. Fords mengagumi keahlian jiwa
itu dalam menguasai rumah barunya; kaki - kaki itu membelit kencang,
menempatkan diri di sekeliling pusat - pusat saraf, beberapa di antaranya
memanjang dan menjangkau lebih dalam, ke tempat yang tak bisa dilihat Fords, ke
bawah dan ke atas, ke dalam otak, saraf - saraf penglihatan, kanal - kanal
telinga. Gerakan jiwa itu sangat cepat dan mantap. Segera saja hanya satu
segmen kecil tubuh berkilaunya yang masih terlihat.
"Bagus
sekali," bisik Fords pada jiwa itu, walaupun ia tahu bisikannya tak bisa
didengar. Pemuda manusia itulah yang bertelinga, dan ia masih tidur nyenyak.
Penyelesaian
pekerjaannya hanya masalah rutin. Fords membersihkan dan menyembuhkan luka itu,
mengoleskan salep untuk menutup goresan di belakang jiwa itu, lalu mengusapkan
serbuk penghalus luka di atas garis yang tertinggal di leher si Pemuda.
"Sempurna,
seperti biasa," ujar sang asisten. Untuk alasan tertentu di luar pemahaman
Fords, asistennya itu tetap memakai nama inang manusianya; Darren.
Fords
mendesah. "Aku menyesali pekerjaan hari ini."
"Kau
hanya melaksanakan kewajibanmu sebagai Penyembuh."
"Ini
kejadian langka, karena Penyembuhan malah menciptakan luka."
Darren
mulai membersihkan tempat kerja mereka. Tampaknya ia tidak tahu harus menjawab
apa. Fords memenuhi Panggilannya. Itu cukup bagi Darren.
Tapi
itu tidak cukup bagi Fords Deep Waters. Ia Penyembuh sejati, sampai pada inti
keberadaannya. Dengan gelisah dipandanginya tubuh manusia pemuda mungil yang
sedang tidur dengan damai itu, dan tahu kedamaian ini akan langsung hancur
setelah tubuh itu terbangun. Semua kengerian akhir hayat pemuda muda ini akan
ditanggungkan oleh jiwa tak berdosa yang baru saja ia tempatkan di dalamnya.
Ketika
membungkuk di atas tubuh manusia itu dan berbisik di telinganya, Fords berharap
setengah mati agar jiwa di dalamnya bisa mendengar perkataannya.
"Semoga
beruntung, pengelana kecil, semoga beruntung. Betapa aku berharap kau tidak
memerlukan ucapan itu."
.
.
.
TO BE
CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar