Laman

Selasa, 22 Mei 2012

Yang Ia Cari *CERPEN*




         Kemana lagi gadis itu akan mencari? Dengan hanya berbekal sebuah alamat yang tidak jelas dimana tempatnya dan nama, ia mencari seorang laki-laki itu. Hatinya masih dilanda penasaran, kertas usang yang bertuliskan nama pemuda itu. Tak lupa kebaikan-kebaikan yang laki-laki itu perbuat terhadapnya.

          Sungguh, kedua kaki ini sudah lelah untuk berjalan. Tak tentu arah. Jauh ia melangkahkan kaki. Sampai pada sebuah tempat yang ia pandang sekarang.

          Kedua bola matanya yang berwarna coklat cerah kian menatap bangunan rumah tua yang ada dihadapannya sekarang. Banyak terlihat cat yang sudah keropos di sepanjang dinding. Pintu rumahnya seperti sudah lama tak diganti.

          Kata hati nya berbicara ragu untuk memasuki rumah yang kini ada di depannya. Tapi, apapun yang terjadi setelah ini, ia harus tetap masuk. Perasaan penasarannya yang membuat ia melangkah masuk.

          Sampai pada sebuah pintu didepannya. Dengan ragu ia mengetok pintu itu. Mengatur nafas yang kini tak beraturan, jantungnya berdegup tak karuan. Mungkin dengan siap ia menerima jawaban apa saja yang akan dilontarkan oleh siapapun yang ditemuinya.

          Pintu itu siap dibuka oleh pemiliknya, terdengar kunci yang diputar sekali. Handle pintu itu pun diputarnya lalu terbuka. Dilihatnya seorang pemuda yang tak jauh tingginya itu.

          “Cari siapa?” Terdengar suara yang menurutnya amat berbeda seperti pemuda lain. Setiap ia berdiri tegap di depan pintu, pemuda yang membukakan pintu itu berbicara dengan tegas dan membentak terhadapnya, seperti tak tahu sopan santun terhadap tamu. Tak jarang ia dicaci maki. Tak mengerti maksudnya. Suaranya kini tak membentak.

          Gadis itu menghela nafas lega, ia menyeka keringat di dahinya. Terpancar raut wajahnya yang kini lelah. Ia hanya melemparkan senyum untuk pemuda didepannya dan memberikan kertas usang yang bertuliskan nama laki-laki itu.

          “Laki-laki ini? Sudah lama ia tidak menginjakkan kakinya di kampung halamannya sendiri. Dasar, anak tak tahu diri!” Umpat pemuda tadi malah mencaci maki laki-laki itu. Wajahnya kini memerah. Entahlah, mungkin menahan emosinya yang memuncak. Ia yang melihatnya bergidik ngeri.

          “Dimana dia sekarang?” Tanya gadis itu ragu memandang pemuda dihadapannya.

          “Siapa namamu? Ada perlu apa kau ingin bertemu dengannya?”

          “Namaku Alisha Ratana. Aku perlu bertemu dengannya.” Gadis yang bernama Alisha itu tersenyum lagi.

          “Aku tidak tahu keberadaannya sekarang. Sudah beberapa bulan belakangan ini ia tak memberi kabar.” Pemuda itu berbicara dengan nada santai, tidak seperti tadi yang meluapkan emosinya.

          “Baiklah, tolong hubungi nomor ini kalau kau mengetahuinya. Terimakasih.” Alisha beranjak pergi dari rumah itu setelah ia memberikan secarik kertas bertuliskan nomornya.

          Untuk sementara, Alisha memberhentikan pencariannya pada hari ini dan akan dilanjutkan besok. Ia tidur dengan tidak nyenyak, mencari posisi yang enak. Matanya tetap tidak mau dibawa kealam mimpi. Tak sabar menanti hari esok, untuk mencari pemuda itu. Ia memang sudah lelah mencari, tapi rasa penasarannya yang membuatnya untuk tidak menyerah.

          Besoknya, pagi-pagi sekali. Sekitar pukul 8 pagi. “Kau yakin akan mencarinya lagi?”
         
          Alisha hanya mengangguk. Tangannya bergerak lincah mengemasi barang-barangnya yang dibutuhkannya nanti selama diperjalanan. “Sudahlah Sha, itu tidak penting. Kau hanya bertindak bodoh kalau masih mau mencarinya.”

          Alisha memberhentikan aktifitasnya sekilas, matanya menatap tajam mata yang ada di depannya.

          “Aku tidak akan menyerah untuk mencarinya, Cira. Bagaimana pun aku berhutang budi dengannya. Kau mengatakan ini tidak penting? Tapi bagiku ini sangat penting.”

          Perempuan yang bernama Cira itu tersenyum, ia sangat salut dengan temannya yang tidak pantang menyerah. Kalau ia menjadi Alisha, tentu ia juga akan keras kepala untuk mencari pemuda itu yang sudah mendonorkan matanya untuk temannya ini.

          “Aku ikut! Aku akan menemanimu mencarinya.”

          “Tidak perlu! Doa’akan saja aku akan menemukannya dalam waktu dekat.”

          “Tidak, aku akan ikut denganmu!”

          “Baiklah.”

          Tangan Alisha menari lincah di setir mobilnya, membiarkan Cira yang mengabadikan perjalanan ini dengan kamera nya. Mobil berhenti pun Cira masih asik bergelayut dengan kameranya.

          “Kau turun juga?”

          “Iya, aku ikut turun”

          Mereka melangkahkan kakinya masuk. Menatap pintu kayu yang diketuknya. Pintu pun dibuka.

          “Ada apa ya?” Lagi-lagi seorang pemuda yang membukakan pintunya. Alisha menjelaskan dengan tenang tujuannya datang. Masih sama seperti kemarin, menyerahkan kertas bertuliskan nama pemuda yang ia cari. Seketika, laki-laki didepannya berubah raut muka menjadi sedih.



* * *

          Gadis itu berlutut. Yang didepannya memang hanya sebuah gundukan tanah. Batu nisan yang bertuliskan nama pemuda yang selama ini ia cari. Hatinya menyesal karena terlambat menemuinya. Tak hanya itu, ia masih penasaran dengan pemuda yang amat berjasa dalam hidupnya.

          Cira yang masih berkutat dengan kameranya mengabadikan Alisha yang kini sendu, hanya bisa mengamati. Sesekali ia memperhatikan Alisha dengan dengan tampang tanda tanya. Dilihatnya cahaya kilatan dari sudut matanya, seperti menahan tangis.

          Alisha yang didepannya kini mengeluarkan titik-titik air matanya. Membasahi pipinya yang lucu. Cira yang melihat itu tak tega untuk melangkahkan kakinya mendekat, mengikutinya berlutut dan mengelus pelan punggung Alisha.

          “Sudahlah, ini mungkin yang direncanakan Tuhan. Mengapa kau menangis?”

          “Aku hanya ingin bertemu dengannya walaupun hanya sekejap. Mengucapkan banyak terimakasih padanya. Bahkan kalau aku tidak tega sekalipun aku akan mengembalikan miliknya yang kini menjadi milikku.”

          “Jangan bertindak bodoh Alisha. Aku mengerti dirimu, jangan lakukan itu. Aku yakin, dia ingin kau menjaga baik-baik apa yang ia berikan padamu.”

          Alisha masih menangis, Cira membiarkan Alisha menangis sepuasnya. Menangis membuat hati lega bukan? Setidaknya Alisha sedikit tenang, walaupun ia masih di landa oleh rasa penasarannya. Tapi toh, mereka tidak bisa berbuat banyak. Karena memang yang harus ditemuinya kini sudah pergi.

          Cira mengabadikan apapun yang menurutnya menarik untuk diabadikan. Kameranya menyorot orang-orang yang berjalan kesini. Kurang lebih 5 orang. Ia tidak lagi berkutat dengan kameranya. Matanya kini hanya menatap orang-orang itu. Dan sepertinya berjalan mendekat kearahnya.

          Satu orang berbehel dan bermuka lucu, juga yang berbehel tapi tak selucu orang yang ditatap pertama kali, ada juga orang yang berdada bidang sepertinya ia orang yang ditemuinya beberapa hari yang lalu bersama Alisha, juga orang yang berwajah belagu menatap Cira dan juga laki-laki yang lebih tua umurnya dibandingkan laki-laki lain.

          Dengan ragu laki-laki yang umurnya tua dari yang lain itu bertanya kearah Cira. “Apa benar Gadis itu yang bernama Alisha? Gadis buta itu?”

          Terjadi suasanya bisu diantara mereka beberapa detik. Cira menatap bingung orang-orang yang ada didepannya ini. Menatap Alisha yang masih menangis dengan mata seakan-akan terharu. Kecuali satu orang yang bertanya padanya.

          “Iya benar. Sebenarnya ada apa?”

          Lelaki itu tidak menjawab. Mereka kini mendekati Alisha yang masih saja mengeluarkan air mata bodoh itu. Alisha tersentak kaget karena disekelilingnya kini laki-laki. Matanya bergidik ngeri menatap ornag-orang yang kini ada disekitarnya.

          Cira mendekati Alisha, berhenti tepat disampingnya.

          “Kau Alisha? Gadis buta itu? Sudah kuduga.” Laki-laki yang berbehel itu menatap Alisha dengan tersenyum. Memamerkan gigi berbehelnya yang berwarna biru.

          “Syukurlah kalau kau mencarinya. Tapi sungguh disayangkan saat kau ingin bertemu dengannya, dia malah sudah pergi.” Kali ini laki-laki yang berbehel dan bermuka lucu itu yang angkat bicara.

          “Kalian? Bukankah aku pernah bertemu dengan kalian?” Alisha kini hanya terheran-heran. Cira pun begitu, menatap 5 orang yang ada didepannya.

          “Iya, bahkan matamu itu sudah tidak asing lagi dengan kami semua. Kau tahu suatu hal?” Laki-laki yang bermuka belagu itu kini bertanya dengan sorot mata lembut, tak bisa dikata, yang memang sifat tidak bisa ditebah oleh raut wajah.

          “Apa? Tapi aku tidak mengenal salah satu pun dari kalian.”

          “Oke, Aku Ilham.” Jawab laki-laki yang berwajah belagu tadi. “Aku Morgan.” Kini laki-laki yang berdada bidang berbicara. “Rafael.” Ucap laki-laki yang lebih tua dari yang lain. “Dicky.” Ucap laki-laki berbehel dan berwajah lucu itu.

          “Dan, Aku Bisma.” Terakhir laki-laki yang berbehel sambil tersenyum.

          “Apa kau tidak ingat? Matamu yang membuat kau begitu dekat dengan kami semua bukan?” ucap Bisma menatap lekat-lekat mata Alisha berharap Alisha menyadarinya.

          “Maksudmu karena mataku ini?” Suasana hening sesaat. “Maksudmu karena orang yang mendonorkan matanya kepadaku? Orang yang belum sempat ku temui? Orang yang ada dibawah gundukan tanah ini? Dia teman dekat kalian semua?”

          Semua laki-laki itu tersenyum. Saling menatap satu sama lain. Seolah-olah bertanya siapa yang ingin menjelaskan lebih lanjut. Kini, Bisma, laki-laki berbehel itu yang maju sedikit ke depan.

          “Iya, orang yang mendonorkan matanya untukmu. Orang yang belum sempat kau temui. Orang yang ada dibawah gundukan tanah ini. Tidak hanya teman dekat, kami semua bertingkah seperti saudara.” Bisma tersenyum.

          Kalau saja kami semua tidak menemuimu mungkin kami hanya dihantui dengan perkataan-perkataan Reza, permintaan Reza yang terakhir kalinya.”

          “Apa maksudmu?”

          “Perkataan terakhir sebelum Reza menghembuskan nafasnya. Dia memintaku dan yang lain untuk membicarakan hal ini terhadapmu.”

          “Apa itu?”

          “Ia memintaku agar kau menjaga matanya dengan sebaik-baiknya. Jangan kotori mata itu dengan air mata bodoh yang baru saja kau keluarkan. Itu permintaan Reza. Muhammad Reza Anugrah.”

          Alisha menghapus matanya yang mengeluarkan air mata bodoh itu dengan kedua punggung tangannya. Wajahnya kini tersenyum tipis.

          “Kalau aku boleh tau, mengapa Reza mau mendonorkan matanya untukku?”

          Bisma dan yang lain tersentak kaget saat Alisha bertanya. Cira yang tadi diam saja kini mundur kebelakang untuk mengabadikannya dengan kameranya.

          “Reza……….Mencintaimu.” Bisma menjawab pertanyaannya dengan hati-hati. Senyumnya selalu tersungging di bibirnya.

          Kini gadis itu yang kini kaget, membulatkan matanya. Cairan bening dari sudutnya kini keluar lagi, seperti tak bisa ditahan. Mengalir lembut begitu saja. Kepalanya yang tadi menatap Bisma lekat-lekat seakan tak sabar menanti kata yang dikeluarkan olehnya kini memalingkannya, ke gundukan tanah yang ada didepannya. Menyentuh pelan tanah itu.

          “Ambillah kembali kedua mata Reza dari mataku!”

          “Alisha, jangan bertindak bodoh seperti anak kecil! Dan sudah kubilang tadi kan? Jangan kotori matanya dengan air mata bodoh itu!” Pekik laki-laki didepannya itu.

          “Tidak, maafkan aku! Maafkan aku yang mengeluarkan air mata bodoh ini.”

          “Lalu siapa yang mengisi hari-hariku dan menemaniku setiap saat? Saat aku masih buta waktu itu? Dia tidak menyebutkan namanya padaku. Apakah kalian tahu?”

          Suasana hening kembali terjadi. Alisha menatap ke-empat laki-laki dibelakang Bisma. Mengisyaratkan dengan mata bahwa Bisma yang akan menjawab.

          Alisha menunggu laki-laki didepannya untuk menjawab. Wajahnya yang kini menunduk perlahan ia angkat. Menatap mata Alisha lekat-lekat.

          “Itu… Aku sendiri, Sha.”

          “Kamu? Kenapa kamu pergi ninggalin aku setelah aku tidak sabar untuk melihatmu? Kau tahu? Saat aku buta waktu itu, hanya orang-orang disekelilingku yang ingin aku lihat wajahnya saat pertama kali.”

          “Maafkan aku Sha, Aku tidak bisa!”

          Tangis Alisha berhenti ditengah rasa penasarannya sekarang. Menatap mata kebingungan dari laki-laki didepannya. Ia tak sabar. Saat ia buat, Bisma yang selalu ada di disampingnya. Bisma yang selalu sabar untuk menghadapi orang buta seperti Alisha.

          “Kenapa? Karena aku buta?”

           “Tidak, bukan seperti itu! Bukan karena kau buta! Tapi…. Karena kau begitu sempurna…….” Laki-laki itu kini tersenyum lagi. Alisha menatap heran laki-laki didepannya.

          “Apa kau bilang tadi? Hanya karena itu? Sempurna itu hanya milik Tuhan. Kau bodoh!”

          “Tidak! Bahkan saat kau buta waktu itu, kau masih terlihat sempurna dimataku. Aku tidak mungkin bisa memiliki orang sesempurna yang ada didepanku sekarang.”

          Pipi Alisha bersemu merah. Cira dan Ke-empat teman Bisma kini hanya tersenyum meledek. Cira masih saja berkutat dengan kameranya, mengabadikan wajah-wajah lucu disekitarnya, tepatnya disekitar makam pada siang menjelang sore.

          Kini, yang dicarinya tidak hanya orang yang mendonorkan matanya untuknya. Tapi juga orang selalu mengisi hari-harinya, orang yang selalu dibutuhkannya, orang yang selalu ada disampingnya. Orang yang saat ia buta waktu itu, yang ingin ia lihat wajahnya pertama kali. Juga, yang selalu setia dengan gadis buta yang matanya telah di donorkan oleh sahabatnya sendiri, Reza.


By: Amanda Hanifah

Rabu, 16 Mei 2012

Trauma Ayah

           Seorang lelaki tampan berusia sekitar 16 tahun itu memasuki kamarnya dengan perasaan bercampur aduk. Dia sangat kesal, karena ayahnya tidak mengijinkannya untuk bermain seperti remaja-remaja yang lainnya. Remaja yang selalu bermain hanya untuk sekedar mengobrol, bercanda dan tertawa. Akan tetapi dia sungguh berbeda. Sifat ayahnya sangat amat dingin kepadanya. Entah kenapa ayahnya seperti itu, ketika ayahnya cerai dengan mamanya. Tapi ayah selalu bilang kepada Dicky bahwa ayahnya masih berhubungan baik dengan mamanya.
            Lelaki itu hanya sekedar kesal, hanya berani membantah sedikit perkataan ayahnya. Lelaki itu hanya menurut. Dicky, remaja yang memiliki paras muka yang amat manis dan tampan. Dicky dikenal sangat kaya. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan mobil yang sangat terkenal di berbagai negara. Tak jarang ayahnya sering meninggalkan dirinya sendiri keluar negeri. Dan disini Dicky sangat kehilangan kasih sayang orang tua.
            Di sekolahnya pun sama, teman-temannya mungkin agak canggung untuk berteman dengannya. Sampai pada saat ketika kelasnya kedatangan murid baru seorang perempuan.
            “Anak-anak, sekarang kalian kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan diri kamu”, ucap bu Lani yang mempersilahkan murid baru itu memperkenalkan diri.
            “Selamat pagi. Nama saya Alisa. Kalian cukup memanggil saya Lisa saja. Terimakasih”, ucap anak baru yang bernama Lisa itu singkat. Mukanya jutek, tetapi tidak jutek-jutek amat.
            “Terimakasih Lisa, silahkan kamu duduk di sebelah laki-laki itu ya”, ucap bu Lani lagi menunjuk kearah Dicky yang dengan kebetulan dia memang duduk sendiri.
            Tanpa berkata lagi, Lisa berjalan kearah bangku kosong tersebut. Tepatnya di sebelah Dicky.
            “Hai, aku Dicky”, ucap Dicky yang mendahului perkenalan dengan senyumannya yang mampu membuat semua perempuan di sekolah itu luluh.
            “Hai, Lisa”, ucap Lisa sambil tersenyum ramah. Sepertinya Lisa juga takjub dengan senyuman yang Dicky miliki. Lisa pikir penampilan Dicky boleh juga. Bagaimana tidak, lelaki yang ada di hadapannya itu baik, hitam manis, dan memakai kacamata.
            “Aku pikir kamu itu jutek, ternyata ramah juga yah”, ucap Dicky berbicara jujur. Lisa hanya terkekeh mendengar ucapan Dicky yang baru dikenalinya.
            Pelajaran pun berlanjut, sampai akhirnya bel istirahat bunyi. Menghentikan suara sesuatu yang terdengar dari perut-perut yang minta diisi.
            “Ke kantin yuk. Laper banget deh”, ucap Dicky.
            “Yuk, Aduh Dicky muka kamu tampan banget deh, haha”, ucap Lisa yang refleks mencubit pipi Dicky. Dicky memasang tampang kagetnya. Bengong. Baru kali ini ada yang berani mencubit pipinya. Apalagi dia anak baru yang tidak tahu asal-usul Dicky. Tapi Dicky memakluminya.
            Tanpa berpikir panjang Lisa langsung menarik lengan Dicky. Ketika jalan ke kantin Lisa dan Dicky tak jarang bertemu dengan orang-orang yang memasang tampang sangar. Entah kenapa. Mungkin mereka kaget dengan prince school-nya yang dikenal jarang memiliki teman kini ke kantin bersama seorang anak baru dengan posisi tangan bergandengan.
Kantin yang luasnya melebihi kelas yang ada di sekolah ini pun langsung mendadak riuh dan ramai seperti pasar dengan murid-murid yang sedang lapar.
            Sambil menunggu Dicky yang sibuk makan, Lisa menyempatkan dirinya untuk baca novel yang Dicky sempat baca judulnya “Love Mother”. Lisa sangat amat cuek dengan orang-orang di sekililingnya yang masih sibuk memperhatikan dia dan Dicky di kantin.
            “Nanti anterin aku ya buat keliling sekolah ini. Kamu mau kan?,” ucap Lisa yang duduk berhadapan dengan Dicky  yang sedang sibuk makan. Dicky hanya mengangguk mengiyakan. Lagi asyik-asyiknya makan Dicky kaget melihat mata Lisa yang ada didepannya itu berkaca-kaca.
            “Loh? Loh? Lisa? Kok nangis sih?”, ucap Dicky yang panik melihat Lisa tiba-tiba nangis.
            “Ha? Hehe. Aku terharu gara-gara baca novel ini”, jawab Lisa menghapus air matanya kemudian ketawa.
            “Haha, kamu ini bikin panik aja deh yah”, ucap Dicky yang langsung mencubit pipi Lisa.
            Spontan semua orang yang ada di kantin menoleh kearah Dicky dan Lisa dengan tatapan sinis, sangar, kaget, atau apalah yang bikin Dicky tersadar dan langsung cepat-cepat melepaskan cubitannya itu.
            “Cabut yuk Sa”, ujar Dicky.
            “Jadi keliling nya engga?”, tanya Lisa.
            Tiba-tiba bel masuk berbunyi.
            “Yah Lisa, udah bel masuk. Besok deh janji”, ucap Dicky dengan perasaan tidak enak menolak.
            “Gapapa, ayo masuk”, jawab Lisa.
            Dicky yang biasanya tidak bersemangat dalam menjalani apapun, kini dia lebih bersemangat. Karena ada seseorang yang mau berteman dengannya, apalagi orangnya kini belum lama dikenalnya. Tapi Dicky dan Lisa sudah cepat akrab, sudah bisa bercanda bareng juga. Dan Dicky lebih bersemangat dari biasanya.
            Jangan kira kalau orang yang banyak hartanya itu enak, bahagia. Tapi nyatanya tidak. Dia kurang dikasih sayang oleh kedua orang tuanya. Teman-temannya pun canggung untuk berteman dengannya, maka dia tidak memiliki teman sehari-harinya.
            Dicky baru saja merasakan seperti apa pentingnya bersosialisasi. Entah itu berteman, bersahabat atau yang lainnya.
            “Kamu pulang naik apa?”, ucap Dicky bertanya kepada Lisa saat bel pulang sekolah berbunyi.
            “Aku naik angkutan umum aja. Lagian engga jauh kok”.
            “Bareng aku aja. Aku dijemput naik mobil pribadi ayahku. Sekalian mampir ke rumahku. Mau ya?”, Ucap Dicky lagi sedikit memohon.
            Lisa tampak berpikir, dia agak canggung untuk diajak ke rumah orang yang baru dikenalnya sejak pagi. Tapi tidak ada salahnya, nanti kalau nolak takut Dicky kecewa.
            “Oke, aku mau”.
            “Beneran? Terimakasih ya Lisa”, ucap Dicky senang.
            Tak lama datang mobil jemputan yang Dicky bilang tadi. Lisa yang berdiri di samping Dicky itu pun menganga melihat mobil Dicky yang berwarna merah cerah. Yang Lisa tahu mobil itu adalah mobil termahal dan jarang ada orang yang memakai mobil itu. Entah apa nama mobil itu. Dan Lisa baru tahu kalau Dicky bukan dari keluarga yang sembarangan.
            “Siapa dia den Dicky?”, ucap supir yang menjemput Dicky.
“Dia teman aku pak, aku mau ajak dia ke rumah”.
“Yakin den? Kalau ayah marah bagaimana?” Ucap supir Dicky lagi dengan wajah ketakutan.
“Sudahlah..”
“Ini mobil kamu?”, ucap Lisa tetap kaget dan takjub.
            “Iya, ayo naik”, ucap Dicky yang tahu kalau Lisa masih menganga.
            “I….I..Iyaa.”
Lisa pun naik, dia tidak menyangka bisa masuk ke mobil semewah ini. Mobil yang di dalamnya serba merah, mewah. Dia masih menganga. Dicky yang melihatnya hanya bisa tertawa melihat muka Lisa yang tampak kaya orang bodoh.
            “Muka kamu berlagak seperti orang bodoh Lisa, hahahaha”, ucap Dicky yang masih saja tertawa.
            “Kamu meledekku?”, ucap Lisa sinis masih dengan tampang bodohnya.
            “Hahahaha, muka kamu engga nahan. Haha”, ucap Dicky lagi yang masih mentertawakan Lisa. Baru kali ini dia tertawa terbahak-bahak seperti itu, apalagi dengan seorang teman.
            “Sudahlah Dicky, aku hanya tidak percaya bisa masuk ke mobil semewah ini”, ucap Lisa lagi tidak menghiraukan ledekan Dicky.
            “Ah kamu ini bisa saja”
            Beberapa menit sampailah Lisa pada sebuah rumah yang baru kali ini juga dilihatnya, rumah mewah yang luas tingkat tiga. Lisa masih menganga. Dia masih tidak menyangka.
            “Ayo masuk”, ucap Dicky menarik tangan Lisa memasuki sebuah rumah.
            Belum sampai di ruang tamu. Tiba-tiba ayah Dicky datang dengan mimik wajah memerah. Mungkin menahan marah.
            “Siapa kamu?”, ucap Ayah Dicky mengintograsi Lisa.
            “A..Aku.. Temen nya Dicky.. Om”, ucap Lisa terbata-bata.
            “Iya ayah, kenalin, dia teman baru aku, dia baru pindah, namanya Lisa”, Ucap Dicky berbicara santai terhadap ayahnya. “Lisa ini ayahku”, Ucap Dicky kearah Lisa.
            “Dicky….. Cepat masuk ke kamarmu sekarang juga!”, ucap ayah Dicky bersikap dingin. “Kamu… Pulang secara baik-baik atau pulang secara kasar?”, ucap ayah Dicky lagi sedikit mengancam kearah Lisa. Lisa bingung, tak mengerti.
            “Ayah……”, ucap Dicky tak percaya dengan perkataan ayahnya. Dia melotot ke arah ayahnya, menandakan kalau dia tidak suka ayahnya membentak gadis lugu itu.
            “Aku pulang secara baik-baik. Dicky, terimakasih atas semuanya hari ini”, ucap Lisa mengerti keadaan, kemudian tersenyum. “Aku pulang ya Dicky. Permisi om”, ucap Lisa lagi sopan kemudian berbalik dan keluar.
            “Ayah apa-apaan sih? Kasian kan dia. Dia engga punya salah apa-apa kenapa ayah bentak juga? Aku bukan anak kecil lagi yah. Ayah memang engga pernah bisa ngertiin aku”, ucap Dicky kesal ketika Lisa sudah jauh dari rumahnya. Kemudian Dicky sedikit berlari kearah kamar. Menguncinya rapat-rapat. Dia duduk di balkon teras kamarnya.
            Sebenarnya nasib Dicky benar-benar miris banget. Dicky tidak habis fikir, kenapa ayahnya berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap ayahnya yang baik, sabar, dan penyayang. Tidak seperti ini yang selalu naik darah.
            “Apa ayah begini gara-gara cerai dari mama? Kurasa bukan itu, ada sesuatu yang ayah sembunyikan dariku. Apa ayah engga sayang lagi sama aku? Entahlah sikap ayah membuatku stres memikirkannya”, ucap Dicky dalam hati.
            Took…..Tokk…Tok… Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamar Dicky. Dicky bersikap acuh, tak peduli.
            “Ayah tahu kamu marah pada ayah. Tapi ayah harap kamu mau membukakan pintunya. Ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan kepadamu”.
            Dicky masih tetap diam ditempatnya. Masih bersikap acuh, tetapi lama-kelamaan dia tidak tega juga dengan perlakuan ayahnya yang masih setia di depan pintu. Akhirnya Dicky membuka kuncinya tetapi tidak membuka pintunya. Lalu ayah membuka pintu, entah kenapa ayah membawa gelas minum ke kamar Dicky. Kemudian mendekati Dicky yang duduk lagi di balkon teras rumahnya.
            “Ada yang ingin ayah sampaikan, mungkin salah ayah yang selalu bersikap ke kanak-kanakan”, ucap ayah Dicky memulai pembicaraan. Dicky tidak memandang ayahnya yang sedang bicara melainkan memandang kosong ke arah depan dan hanya mendengarkan perkataan ayahnya.
            “Kau mungkin harus tahu, ini yang ayah alami dulu saat ayah berusia kurang lebih seusiamu. Ayah trauma, tidak mau anak ayah yang tertimpa musibah seperti ayah. Dan cukup ayah saja yang merasakannya”, ucap ayah Dicky lagi serius.
            “Saat itu semasa SMP, ayah pernah berteman dengan seorang cewek yang ayah anggap itu sahabat ayah, saudara ayah, bahkan sudah ayah anggap segalanya. Kau tahu berapa berartinya mempunyai seorang teman. Tapi ketika itu, dia mengkhianati ayah, dia hanya memanfaatkan uang dari ayah. Kau tahu, ayah orang yang berada pada saat itu. Ternyata ayah salah, teman yang selama ini ayah sayang tapi dia sama sekali tidak menganggap ayah itu teman dia”, ucap ayah Dicky berhenti kemudian menghembuskan nafas panjang.
            “Beranjak ke bangku SMA, lagi-lagi ayah meleset. Teman ayah juga hanya memanfaatkan ayah, bahkan ayah pernah dikucilkan oleh teman-teman sekelas ayah, bahkan wali kelas ayah sendiri pun turut ikut dalam masalah itu”.
            “Setelah masuk dunia kampus, ayah mulai berubah. Hati-hati dalam mencari teman. Ayah tidak menemukan sifat-sifat yang ayah ceritakan tadi, kini ayah punya banyak teman. Malah ada beberapa yang ayah anggap segalanya. Tapi saat itu, ada salah satu dari mereka yang membuat ayah shock atas pernyataannya. Temen ayah mencurigai ayah, menuduh ayah. Kata-kata yang teman ayah keluarkan itu sangat pedas dan panas sampai telinga. Ayah sudah berusaha untuk menjelaskannya, tapi dia masih saja sama seperti itu yang menuduh ayah”, ucap ayah Dicky kemudian menyegukkan minum yang dibawanya. Mungkin haus karena menjelaskan panjang lebar.
Dicky yang tadinya memandang kedepan, kini menoleh kearah ayahnya, siap untuk mendengarkan cerita ayahnya dan menunggu ayahnya melanjutkan.
            “Setelah kejadian itu, ayah jadi enggan berinteraksi dengan seorang teman. Seperti ada rasa takut dan itu menjalar kemana-mana. Ayah selalu berhati-hati dalam menjalankan pertemanan. Karena walau bagaimana pun kita manusia, kita makhluk sosial. Jadi kita harus berinteraksi dengan yang lain. Mungkin secara tak sadar kejadian itu membuat ayah trauma”, ucap ayah Dicky mengakhiri ceritanya. Kemudian berpaling kearah Dicky.
            DEG! DEG! Dicky yang mendengar itu tak bisa menutupi rasa kagetnya. Ayah yang selama ini mempunyai cobaan berat dari seorang teman, lebih berat dari dia yang tidak mempunyai teman karena merasa canggung terhadap dirinya.
            “Tapi……. Tapi tidak semuanya mengalami seperti itu ayah. Aku mengerti sekarang, ayah yang selalu melarang aku untuk sekedar bermain bahkan ayah terpuruk sendiri dengan kejadian itu. Aku mengerti. Tapi tidak seharusnya ayah bersikap seperti itu. Itu terlalu berlebihan menurutku”.
            “Ya, ayah baru sadar tidak semua orang mengalami kejadian seperti itu. Ayah tahu ayah salah dengan sikap ayah terhadapmu. Apa kau tahu? Sikap mamamu pun tak kalah jauh dari kejadian yang ayah alami. Lagi-lagi kejadian itu yang menimpa ayah. Mamamu hanya ingin semua harta-harta ayah. Maka dari itu ayah minta cerai. Mamamu sangat dendam ayah ceraikan, tapi mamamu tidak berani”.
            “Apa ayah bilang? Mama seperti itu? A…Aku masih tidak percaya apa yang ayah bilang. Haha ternyata manusia itu kebanyakan modus, cari kesempatan. Aku engga nyangka mama seperti itu”, ucap Dicky Sinis. Memalingkan wajahnya ke arah depan lagi.
            “Ayah tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu. Ayah hanya ingin bilang berhati-hatilah dalam menjalankan pertemanan, jangan sampai kau mengalami kejadian seperti ayah. Solusinya jangan terlalu sayang pada temanmu, pada akhirnya toh mereka belum tentu menganggapmu teman. Sampaikan permintaan maaf ayah terhadap temanmu yang ayah bentak tadi, ayah khilaf”, ucap ayah Dicky lagi.
            “Ayah, aku juga minta maaf. Aku tidak tahu kejadian yang ayah alami itu sangat menyiksa batin ayah sampai-sampai ayah bersikap tak sadar seperti ini. Aku selalu kesal karena ayah melarangku hanya untuk sekedar bermain. Tapi aku sudah tahu sekarang”, ucap Dicky tersenyum kepada ayah yang ada di sampingnya. Senyum yang manis.
            “Ingat, kalau kejadian yang ayah alami itu kau alami juga terpaksa ayah tidak mengijinkanmu untuk menjalankan status pertemanan lagi. Kau harus hati-hati jangan seperti ayah. Mengerti?”, ucap ayah Dicky menasehati Dicky.
            “Aku lebih dari kata mengerti ayah, terimakasih ayah sudah berbagi cerita sama Dicky”.
            Ayah Dicky mengangguk kemudian tersenyum.
            “Istirahatlah, malam nanti antarkan ayah kebandara. Ayah akan segera berangkat ke Jepang selama beberapa minggu untuk mengadakan kerjasama perusahaan mobil ayah dengan yang ada di jepang. Sekarang ayah harus packing”.
            “Baiklah ayah, Dicky istirahat dulu”, ucap Dicky yang beranjak ke kasurnya. Ayahnya kemudian beranjak keluar.
            Sampai pada malam tiba, sekitar jam 9 malam.
            “Ayolah, ayah segera berangkat. Tidak ada waktu lagi”.
            Kemudian ayah, Dicky dan supir pribadi ayahnya pergi ke bandara. Beberapa menit, sampailah mereka di bandara.
            “Selama ayah di Jepang, ajaklah temanmu main ke rumah. Berbuatlah sesukamu, asal harus tahu ada batasnya. Oh iya jangan lupa sampaikan permintaan maaf ayah terhadap temanmu itu. Ayah harus berangkat.  Tidak ada waktu lagi. Pesawat akan segera lepas landas sekarang”, ucap Ayah Dicky kemudian mencium kening Dicky agak lama.
            “iya ayah, Dicky janji akan ajak teman baru Dicky ke rumah. Akan Dicky sampaikan permintaan maaf ayah kepada Lisa. Baik-baik disana ya yah. Dicky selalu merindukan ayah”, ucap Dicky terharu.
            “Pak, saya jaga Dicky ya”, ucap ayah Dicky ke supir pribadinya.
            “Baik pak, bapak baik-baik disana ya pak. Hati-hati”.
            “Dicky, tunggu ayah. Ayah akan segera pulang secepatnya”, ucap ayah Dicky lagi kemudian tersenyum.
            Kemudian ayah Dicky jalan memasuki pesawat, tak lama pesawat itu pun pergi. Membawa penumpang ke arah masing-masing. Hanya mengantarkan.
            Dicky pun pulang. Membereskan perlengkapan sekolahnya buat besok, kemudian terlelap tidur.
            Dan besoknya, Dicky menceritakan semua yang ayahnya ceritakan pada Lisa. Tak lupa juga Dicky menyampaikan permintaan maaf ayahnya karena bersikap tak wajar kemarin.
            Tak lama dering handphone Dicky berbunyi. Dicky kaget dengan perkataan orang yang sedang dia telepon, Dicky shock. Dia refleks melemparkan handphone-nya dengan kasar.
            “INI GAK MUNGKIN!! INI PASTI MIMPI, IYAKAN INI GAK MUNGKIN TERJADI!!”, ucap Dicky sambil tertawa sinis dengan posisi kedua tangan berada di kedua telinganya. Kemudian mengacak-acakkan rambutnya. Matanya mengarah ke atas, berharap air mata tidak akan keluar dari kedua matanya. “AYAH BOHONG, AYAH BILANG AYAH BAKALAN PULANG LAGI KESINI, TAPI NYATANYA APA? AYAH…..”, ucap Dicky. Air matanya sudah tak bisa terbendung lagi, turun dengan derasnya.
            Lisa yang berada di samping Dicky pun panik. Lisa tak kalah paniknya dengan sifat Dicky. “Dicky, ada apa?”, ucap Lisa masih dengan nada panik.
            “Ayahku, Sa! Ayahku ninggalin aku sendiri sekarang! A..Akuu..”, ucap Dicky histeris dan tidak melanjutkan perkataannya.
            Ayah Dicky mengalami kecelakaan pesawat saat sedang menuju jepang. Pesawatnya terjatuh di daerah perairan yang cukup luas. Untungnya jasad ayah Dicky dengan cepat ditemukan.
            Besoknya, jasad ayah Dicky dibawa ke kota asalnya untuk di makamkan. Kini, hanya Dicky dan Lisa yang masih berada di permakaman ayahnya itu.
            “Jadi yang ayah maksud janji untuk pulang itu bukan ke rumah ya yah? Ayah jahat membiarkan aku tinggal sendirian disini, apa ayah tidak sayang padaku?”, ucap Dicky dengan mata yang sembab karena sudah dari kemarin air matanya tidak berhenti mengalir.
            “Dicky, aku turut berduka cita. Ayah pasti sayang padamu Dicky, percayalah”, ucap Lisa tersenyum dan menggenggam erat tangan Dicky.
            “Terimakasih ayah”, hanya perkataan itu yang bisa Dicky ucapkan kepada ayahnya. Karena Dicky pasti tahu, mungkin ayahnya merasakan hidupnya yang tak akan lama lagi, karena itu ayahnya menceritakan sedikit peristiwa yang membuat ayahnya trauma. Dicky menunduk, tak bisa menahan rasa sedihnya.
            “Baik-baik disana yah, semoga ayah tenang disana. Dicky selalu merindukan ayah”, ucap Dicky.
            Kemudian Dicky dan Lisa meninggalkan pemakaman ayahnya dengan hati yang amat ikhlas. Sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam, Dicky sangat sedih. Tapi Dicky harus ikhlas dengan takdir Tuhan. Dicky dan Lisa kini menjadi dua orang sahabat sampai Dicky dan Lisa dewasa. Sampai pada akhirnya mereka menikah karena merasa cocok satu sama lain dan hidup bahagia.



By: Amanda Hanifah