Kemana lagi gadis itu
akan mencari? Dengan hanya berbekal sebuah alamat yang tidak jelas dimana
tempatnya dan nama, ia mencari seorang laki-laki itu. Hatinya masih dilanda
penasaran, kertas usang yang bertuliskan nama pemuda itu. Tak lupa
kebaikan-kebaikan yang laki-laki itu perbuat terhadapnya.
Sungguh, kedua kaki ini sudah lelah
untuk berjalan. Tak tentu arah. Jauh ia melangkahkan kaki. Sampai pada sebuah
tempat yang ia pandang sekarang.
Kedua bola matanya yang berwarna
coklat cerah kian menatap bangunan rumah tua yang ada dihadapannya sekarang.
Banyak terlihat cat yang sudah keropos di sepanjang dinding. Pintu rumahnya
seperti sudah lama tak diganti.
Kata hati nya berbicara ragu untuk
memasuki rumah yang kini ada di depannya. Tapi, apapun yang terjadi setelah
ini, ia harus tetap masuk. Perasaan penasarannya yang membuat ia melangkah
masuk.
Sampai pada sebuah pintu didepannya.
Dengan ragu ia mengetok pintu itu. Mengatur nafas yang kini tak beraturan,
jantungnya berdegup tak karuan. Mungkin dengan siap ia menerima jawaban apa
saja yang akan dilontarkan oleh siapapun yang ditemuinya.
Pintu itu siap dibuka oleh pemiliknya,
terdengar kunci yang diputar sekali. Handle pintu itu pun diputarnya lalu
terbuka. Dilihatnya seorang pemuda yang tak jauh tingginya itu.
“Cari siapa?” Terdengar suara yang
menurutnya amat berbeda seperti pemuda lain. Setiap ia berdiri tegap di depan
pintu, pemuda yang membukakan pintu itu berbicara dengan tegas dan membentak
terhadapnya, seperti tak tahu sopan santun terhadap tamu. Tak jarang ia dicaci
maki. Tak mengerti maksudnya. Suaranya kini tak membentak.
Gadis itu menghela nafas lega, ia
menyeka keringat di dahinya. Terpancar raut wajahnya yang kini lelah. Ia hanya
melemparkan senyum untuk pemuda didepannya dan memberikan kertas usang yang
bertuliskan nama laki-laki itu.
“Laki-laki ini? Sudah lama ia tidak
menginjakkan kakinya di kampung halamannya sendiri. Dasar, anak tak tahu diri!”
Umpat pemuda tadi malah mencaci maki laki-laki itu. Wajahnya kini memerah.
Entahlah, mungkin menahan emosinya yang memuncak. Ia yang melihatnya bergidik
ngeri.
“Dimana dia sekarang?” Tanya gadis itu
ragu memandang pemuda dihadapannya.
“Siapa namamu? Ada perlu apa kau ingin
bertemu dengannya?”
“Namaku Alisha Ratana. Aku perlu
bertemu dengannya.” Gadis yang bernama Alisha itu tersenyum lagi.
“Aku tidak tahu keberadaannya
sekarang. Sudah beberapa bulan belakangan ini ia tak memberi kabar.” Pemuda itu
berbicara dengan nada santai, tidak seperti tadi yang meluapkan emosinya.
“Baiklah, tolong hubungi nomor ini
kalau kau mengetahuinya. Terimakasih.” Alisha beranjak pergi dari rumah itu
setelah ia memberikan secarik kertas bertuliskan nomornya.
Untuk sementara, Alisha memberhentikan
pencariannya pada hari ini dan akan dilanjutkan besok. Ia tidur dengan tidak
nyenyak, mencari posisi yang enak. Matanya tetap tidak mau dibawa kealam mimpi.
Tak sabar menanti hari esok, untuk mencari pemuda itu. Ia memang sudah lelah
mencari, tapi rasa penasarannya yang membuatnya untuk tidak menyerah.
Besoknya, pagi-pagi sekali. Sekitar
pukul 8 pagi. “Kau yakin akan mencarinya lagi?”
Alisha hanya mengangguk. Tangannya
bergerak lincah mengemasi barang-barangnya yang dibutuhkannya nanti selama
diperjalanan. “Sudahlah Sha, itu tidak penting. Kau hanya bertindak bodoh kalau
masih mau mencarinya.”
Alisha memberhentikan aktifitasnya
sekilas, matanya menatap tajam mata yang ada di depannya.
“Aku tidak akan menyerah untuk
mencarinya, Cira. Bagaimana pun aku berhutang budi dengannya. Kau mengatakan
ini tidak penting? Tapi bagiku ini sangat penting.”
Perempuan yang bernama Cira itu
tersenyum, ia sangat salut dengan temannya yang tidak pantang menyerah. Kalau
ia menjadi Alisha, tentu ia juga akan keras kepala untuk mencari pemuda itu
yang sudah mendonorkan matanya untuk temannya ini.
“Aku ikut! Aku akan menemanimu
mencarinya.”
“Tidak perlu! Doa’akan saja aku akan
menemukannya dalam waktu dekat.”
“Tidak, aku akan ikut denganmu!”
“Baiklah.”
Tangan Alisha menari lincah di setir
mobilnya, membiarkan Cira yang mengabadikan perjalanan ini dengan kamera nya.
Mobil berhenti pun Cira masih asik bergelayut dengan kameranya.
“Kau turun juga?”
“Iya, aku ikut turun”
Mereka melangkahkan kakinya masuk.
Menatap pintu kayu yang diketuknya. Pintu pun dibuka.
“Ada apa ya?” Lagi-lagi seorang pemuda
yang membukakan pintunya. Alisha menjelaskan dengan tenang tujuannya datang.
Masih sama seperti kemarin, menyerahkan kertas bertuliskan nama pemuda yang ia
cari. Seketika, laki-laki didepannya berubah raut muka menjadi sedih.
* * *
Gadis itu berlutut. Yang didepannya
memang hanya sebuah gundukan tanah. Batu nisan yang bertuliskan nama pemuda
yang selama ini ia cari. Hatinya menyesal karena terlambat menemuinya. Tak
hanya itu, ia masih penasaran dengan pemuda yang amat berjasa dalam hidupnya.
Cira yang masih berkutat dengan
kameranya mengabadikan Alisha yang kini sendu, hanya bisa mengamati. Sesekali
ia memperhatikan Alisha dengan dengan tampang tanda tanya. Dilihatnya cahaya
kilatan dari sudut matanya, seperti menahan tangis.
Alisha yang didepannya kini
mengeluarkan titik-titik air matanya. Membasahi pipinya yang lucu. Cira yang
melihat itu tak tega untuk melangkahkan kakinya mendekat, mengikutinya berlutut
dan mengelus pelan punggung Alisha.
“Sudahlah, ini mungkin yang
direncanakan Tuhan. Mengapa kau menangis?”
“Aku hanya ingin bertemu dengannya
walaupun hanya sekejap. Mengucapkan banyak terimakasih padanya. Bahkan kalau
aku tidak tega sekalipun aku akan mengembalikan miliknya yang kini menjadi
milikku.”
“Jangan bertindak bodoh Alisha. Aku
mengerti dirimu, jangan lakukan itu. Aku yakin, dia ingin kau menjaga baik-baik
apa yang ia berikan padamu.”
Alisha masih menangis, Cira membiarkan
Alisha menangis sepuasnya. Menangis membuat hati lega bukan? Setidaknya Alisha
sedikit tenang, walaupun ia masih di landa oleh rasa penasarannya. Tapi toh,
mereka tidak bisa berbuat banyak. Karena memang yang harus ditemuinya kini
sudah pergi.
Cira mengabadikan apapun yang
menurutnya menarik untuk diabadikan. Kameranya menyorot orang-orang yang
berjalan kesini. Kurang lebih 5 orang. Ia tidak lagi berkutat dengan kameranya.
Matanya kini hanya menatap orang-orang itu. Dan sepertinya berjalan mendekat
kearahnya.
Satu orang berbehel dan bermuka lucu,
juga yang berbehel tapi tak selucu orang yang ditatap pertama kali, ada juga
orang yang berdada bidang sepertinya ia orang yang ditemuinya beberapa hari
yang lalu bersama Alisha, juga orang yang berwajah belagu menatap Cira dan juga
laki-laki yang lebih tua umurnya dibandingkan laki-laki lain.
Dengan ragu laki-laki yang umurnya tua
dari yang lain itu bertanya kearah Cira. “Apa benar Gadis itu yang bernama
Alisha? Gadis buta itu?”
Terjadi suasanya bisu diantara mereka
beberapa detik. Cira menatap bingung orang-orang yang ada didepannya ini.
Menatap Alisha yang masih menangis dengan mata seakan-akan terharu. Kecuali
satu orang yang bertanya padanya.
“Iya benar. Sebenarnya ada apa?”
Lelaki itu tidak menjawab. Mereka kini
mendekati Alisha yang masih saja mengeluarkan air mata bodoh itu. Alisha
tersentak kaget karena disekelilingnya kini laki-laki. Matanya bergidik ngeri
menatap ornag-orang yang kini ada disekitarnya.
Cira mendekati Alisha, berhenti tepat
disampingnya.
“Kau Alisha? Gadis buta itu? Sudah
kuduga.” Laki-laki yang berbehel itu menatap Alisha dengan tersenyum.
Memamerkan gigi berbehelnya yang berwarna biru.
“Syukurlah kalau kau mencarinya. Tapi
sungguh disayangkan saat kau ingin bertemu dengannya, dia malah sudah pergi.”
Kali ini laki-laki yang berbehel dan bermuka lucu itu yang angkat bicara.
“Kalian? Bukankah aku pernah bertemu
dengan kalian?” Alisha kini hanya terheran-heran. Cira pun begitu, menatap 5
orang yang ada didepannya.
“Iya, bahkan matamu itu sudah tidak
asing lagi dengan kami semua. Kau tahu suatu hal?” Laki-laki yang bermuka
belagu itu kini bertanya dengan sorot mata lembut, tak bisa dikata, yang memang
sifat tidak bisa ditebah oleh raut wajah.
“Apa? Tapi aku tidak mengenal salah
satu pun dari kalian.”
“Oke, Aku Ilham.” Jawab laki-laki yang
berwajah belagu tadi. “Aku Morgan.” Kini laki-laki yang berdada bidang
berbicara. “Rafael.” Ucap laki-laki yang lebih tua dari yang lain. “Dicky.”
Ucap laki-laki berbehel dan berwajah lucu itu.
“Dan, Aku Bisma.” Terakhir laki-laki
yang berbehel sambil tersenyum.
“Apa kau tidak ingat? Matamu yang
membuat kau begitu dekat dengan kami semua bukan?” ucap Bisma menatap
lekat-lekat mata Alisha berharap Alisha menyadarinya.
“Maksudmu karena mataku ini?” Suasana
hening sesaat. “Maksudmu karena orang yang mendonorkan matanya kepadaku? Orang
yang belum sempat ku temui? Orang yang ada dibawah gundukan tanah ini? Dia
teman dekat kalian semua?”
Semua laki-laki itu tersenyum. Saling
menatap satu sama lain. Seolah-olah bertanya siapa yang ingin menjelaskan lebih
lanjut. Kini, Bisma, laki-laki berbehel itu yang maju sedikit ke depan.
“Iya, orang yang mendonorkan matanya
untukmu. Orang yang belum sempat kau temui. Orang yang ada dibawah gundukan
tanah ini. Tidak hanya teman dekat, kami semua bertingkah seperti saudara.”
Bisma tersenyum.
Kalau saja kami semua tidak menemuimu
mungkin kami hanya dihantui dengan perkataan-perkataan Reza, permintaan Reza
yang terakhir kalinya.”
“Apa maksudmu?”
“Perkataan terakhir sebelum Reza
menghembuskan nafasnya. Dia memintaku dan yang lain untuk membicarakan hal ini
terhadapmu.”
“Apa itu?”
“Ia memintaku agar kau menjaga matanya
dengan sebaik-baiknya. Jangan kotori mata itu dengan air mata bodoh yang baru
saja kau keluarkan. Itu permintaan Reza. Muhammad Reza Anugrah.”
Alisha menghapus matanya yang
mengeluarkan air mata bodoh itu dengan kedua punggung tangannya. Wajahnya kini
tersenyum tipis.
“Kalau aku boleh tau, mengapa Reza mau
mendonorkan matanya untukku?”
Bisma dan yang lain tersentak kaget
saat Alisha bertanya. Cira yang tadi diam saja kini mundur kebelakang untuk
mengabadikannya dengan kameranya.
“Reza……….Mencintaimu.” Bisma menjawab
pertanyaannya dengan hati-hati. Senyumnya selalu tersungging di bibirnya.
Kini gadis itu yang kini kaget,
membulatkan matanya. Cairan bening dari sudutnya kini keluar lagi, seperti tak
bisa ditahan. Mengalir lembut begitu saja. Kepalanya yang tadi menatap Bisma
lekat-lekat seakan tak sabar menanti kata yang dikeluarkan olehnya kini
memalingkannya, ke gundukan tanah yang ada didepannya. Menyentuh pelan tanah
itu.
“Ambillah kembali kedua mata Reza dari
mataku!”
“Alisha, jangan bertindak bodoh
seperti anak kecil! Dan sudah kubilang tadi kan? Jangan kotori matanya dengan
air mata bodoh itu!” Pekik laki-laki didepannya itu.
“Tidak, maafkan aku! Maafkan aku yang
mengeluarkan air mata bodoh ini.”
“Lalu siapa yang mengisi hari-hariku
dan menemaniku setiap saat? Saat aku masih buta waktu itu? Dia tidak
menyebutkan namanya padaku. Apakah kalian tahu?”
Suasana hening kembali terjadi. Alisha
menatap ke-empat laki-laki dibelakang Bisma. Mengisyaratkan dengan mata bahwa Bisma
yang akan menjawab.
Alisha menunggu laki-laki didepannya
untuk menjawab. Wajahnya yang kini menunduk perlahan ia angkat. Menatap mata
Alisha lekat-lekat.
“Itu… Aku sendiri, Sha.”
“Kamu? Kenapa kamu pergi ninggalin aku
setelah aku tidak sabar untuk melihatmu? Kau tahu? Saat aku buta waktu itu,
hanya orang-orang disekelilingku yang ingin aku lihat wajahnya saat pertama
kali.”
“Maafkan aku Sha, Aku tidak bisa!”
Tangis Alisha berhenti ditengah rasa
penasarannya sekarang. Menatap mata kebingungan dari laki-laki didepannya. Ia
tak sabar. Saat ia buat, Bisma yang selalu ada di disampingnya. Bisma yang
selalu sabar untuk menghadapi orang buta seperti Alisha.
“Kenapa? Karena aku buta?”
“Tidak, bukan seperti itu! Bukan karena kau
buta! Tapi…. Karena kau begitu sempurna…….” Laki-laki itu kini tersenyum lagi.
Alisha menatap heran laki-laki didepannya.
“Apa kau bilang tadi? Hanya karena
itu? Sempurna itu hanya milik Tuhan. Kau bodoh!”
“Tidak! Bahkan saat kau buta waktu
itu, kau masih terlihat sempurna dimataku. Aku tidak mungkin bisa memiliki
orang sesempurna yang ada didepanku sekarang.”
Pipi Alisha bersemu merah. Cira dan
Ke-empat teman Bisma kini hanya tersenyum meledek. Cira masih saja berkutat
dengan kameranya, mengabadikan wajah-wajah lucu disekitarnya, tepatnya
disekitar makam pada siang menjelang sore.
Kini, yang dicarinya tidak hanya orang
yang mendonorkan matanya untuknya. Tapi juga orang selalu mengisi hari-harinya,
orang yang selalu dibutuhkannya, orang yang selalu ada disampingnya. Orang yang
saat ia buta waktu itu, yang ingin ia lihat wajahnya pertama kali. Juga, yang
selalu setia dengan gadis buta yang matanya telah di donorkan oleh sahabatnya
sendiri, Reza.
By: Amanda Hanifah