“Ampun!! Maafkan aku, aku tidak bersalah!” Suara-suara
itu terasa sangat dekat dan ketakutan. Aku bisa mendengarnya sayup-sayup
gemertak gigi selain orang yang berteriak tadi.
Lalu yang paling penting dari semua ini, tercium aroma
darah kental yang masih baru dan khas. Membuat perutku bergejolak menahan mual.
Selain berdiri dalam diam, apa yang mesti kulakukan?
“Ssstttt. Diamlah. Aku hanya ingin mengerjakannya
dalam damai.” Didepanku, suara rendah Chanyeol yang khas menggema didalam
ruangan. Kutebak dia berbicara pada orang yang tadi berteriak.
Seakan patuh pada tuannya, mereka tak berkutik.
Suasana seketika hening.
“Perhatikan baik-baik, Baekhyun.”
Tidakkah dia berpikir bahwa ucapannya yang—walapun
singkat tetapi berhasil membuat luka di relung hatiku? Dia tahu baik bahwa aku
tidak dapat melihat dan ucapannya kali ini seakan mengejekku.
Kemudian suara gesekan besi yang tampak samar
bergelung, menciptakan kesan misterius yang mendalam dan membuatku
bertanya-tanya.
DDOOORRRR
Suara tembakan membuatku tersentak. Ada beberapa air
yang muncrat di wajahku dan setelah kupikir-pikir lagi itu adalah darah karena
lagi-lagi aromanya sangat menyengat—membuat diriku dilanda mual yang berlebihan.
Lagi-lagi hanya diamlah yang kulakukan. Aku tidak
mengerti mengapa Chanyeol melakukan ini. Tidakkah baru saja dia membunuh orang
yang tadi berteriak?
Usapan sapu tangan dari tangan besar Chanyeol—yang
sudah kuhapal baik-baik—mengenai wajahku. Dia membersihkan tetes darah yang
mengenai wajahku.
“Tidakkah kau merasa takut untuk terus mau bersamaku?”
.
.
.
.
BABY’S BREATH
MANYEOLBAEK
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun,
Park Chanyeol
Support Cast: Oh Sehun, Xi
Luhan,
Genre: Romance, Hurt/Comfort,
Drama, a little bit Mystery
Rated: M
Disclaimer: Para tokoh
hanya aku pinjam nama saja. Terinspirasi dari webtoon yang berjudul Winter Woods
tetapi aku mengambil sisi Adora dan Zoe, kupikir-pikir bakalan cocok kalau
pemerannya Chanbaek. Ada yang sependapat? Muehehe. Aku mengambil jalan cerita
di awal. Nanti bakalan ada perubahan cerita yang bakalan aku masukin dari
pemikiranku^^ semoga kalian tidak salah paham dan mengerti;)
NO BASH
DON’T READ IF
YOU DON’T LIKE THIS
HAPPY
READING~~~
.
.
.
.
BABY’S BREATH
Bab 1
.
.
.
.
Tarikan kasar dari tangan besar Chanyeol yang
tiba-tiba membuatku terkejut. Dia baru saja datang ketempatku dan sudah seperti
ini. Apa yang dia lakukan? Perasaan burukku terhadap Chanyeol yang ingin membawaku
keruangan itu lewat dipemikiranku, membuatku memberontak dari paksaan tarikan
tangannya yang begitu kuat.
Chanyeol lebih besar dariku tentu saja dia dengan
mudahnya membawaku dan aku tidak bisa melepaskan tanganku dari tangannya yang
menggenggamku erat. Mungkin dia memang benar-benar menyeretku kesebuah ruangan
yang paling kubenci. Waktu yang lalu aku benar-benar ketakutan dan tidak bisa
tidur selama seminggu karena dihantui bayang bayang isi ruangannya dan
aroma-aroma yang membuatku mual berkepanjangan. Tetapi ketika tahu mengapa dia
memasukkanku keruangan itu, aku tahu aku harus merelakan ketakutanku. Aku tidak
boleh membuatnya merasa puas lagi karena melihatku begitu takut. Dan itu
sepadan karena dia masih ada bersamaku.
CEKLEK
Pintu dibuka dan dengan paksa dia mendorongku masuk keruangan.
Lagi-lagi aroma ini…
Aroma busuk dan bebauan yang tidak mengenakkan
langsung menguar di udara.
“Masuk dan pikirkan mengapa aku melakukan ini!”
BLAMMMM
Pintu ruangan ditutup dengan bunyi bedebam keras. Aku
terdiam didekat pintu setelahnya bergerak meraba-raba dinding mencoba berjalan
diarea pinggir ruangan.
BUKKKK
Berhenti.
Baru beberapa langkah meraba-raba dinding, aku
menyentuh sesuatu dan membuat benda itu terjatuh ke lantai.
Aku berjongkok, meraba-raba benda tersebut dan
terkejut karena merasakan hawa dingin saat menyentuhnya. Itu bukan benda dan
jelas-jelas manusia yang sudah tidak bernyawa. Fakta tersebut membuatku mundur
dan ingin berteriak tetapi aku menutup mulutku dengan kedua tangan erat, mengurungkannya
karena itu akan terdengar dari luar. Dan Chanyeol akan merasa senang
mendengarku berteriak.
Hawa aneh di ruangan memang sudah dari tadi kurasakan.
Kalau seperti itu aku tidak akan kemana-mana dan akan berdiam diri saja.
Tak masalah. Tetapi aroma yang begitu membuatku mual
benar-benar menganggu.
Aku tak tahu berapa lama lagi aku dapat bertahan dalam
aroma ini. Dan aku tidak tahan menghirup bau busuk yang begitu menyengat.
.
.
.
.
Mual masih menguasai tubuh Baekhyun. Aroma-aroma itu
masih terngiang dibenaknya dan baunya tidak mau hilang dari kepala Baekhyun.
Dia sedang duduk meringkuk dengan memeluk lutut dan meletakkan dagunya diatas
lutut di depan perapian karena penghangat ruangan di rumahnya tidak dapat
berfungsi lagi. Dia benar-benar mungil seperti bayi saat sedang posisi seperti
itu. Tidak tahu seberapa rapuhnya dia.
Sudah memasuki pertengahan musim dingin yang dinginnya
sedang dititik terendah sepanjang musim dingin. Dia harus membuat tubuhnya
tetap hangat jika tidak mau ditemukan tewas karena membeku.
Kehadiran sosok disebelahnya yang baru muncul membuat
dia mendongak. “Chanyeol?”
Chanyeol mengamati Baekhyun yang meringkuk, entah apa
yang sedang ia pikirkan. Dia membawa secangkir coklat hangat. Dan memberikan
cangkir ke tangan Baekhyun yang dingin.
“Aku harus memperbaiki penghangat ruangannya.”
Dia hendak berbalik tetapi tangan mungil Baekhyun yang
seakan membeku menghentikannya. Baekhyun tak berani menyela, dia hanya
menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Baekhyun tak akan menanyakan apa alasan Chanyeol
memasukkannya ke ruangan. Dia akan membuat Chanyeol marah besar dan sampai
sekarang dia tidak begitu mengerti mengapa Chanyeol memasukkannya keruangan
busuk itu. Dan yang paling tidak bisa diterima adalah ruangan itu berada salah
satu ruangan di rumahnya.
Chanyeol menghela napas. Kemudian mengikuti Baekhyun
untuk duduk dan memeluk tubuh Baekhyun yang mungil.
Baekhyun menutup matanya, menghirup aroma dari
Chanyeol yang masih sama. Menghilangkan pikiran-pikiran ia terhadap bau busuk
yang menganggunya.
Chanyeol mengamati wajahnya Baekhyun. Tiba-tiba dia
menunduk untuk bisa mencapai bibir ranum merah muda Baekhyun. Tetapi berhenti
ketika dia benar-benar sudah didepan bibirnya.
Merasakan hembusan napas yang dekat, Baekhyun membuka
matanya. Tetapi tentu saja gelap. Chanyeol melihat iris Baekhyun yang menawan.
Segera sadar, dia menjauhkan wajahnya.
“Kenapa?”
“Kenapa kau berhenti, Chanyeol?”
Chanyeol melepaskan pelukannya dan berdiri dengan
kasar. “Kau tidak mengerti, Baekhyun. Aku harus pergi lebih awal. Ada
orang-orang yang membutuhkan bantuanku.”
Baekhyun menahan lengan Chanyeol. “Bolehkah aku ikut
kau?”
“Tidak!”
“Kenapa?”
Setelah beberapa detik berlalu dengan hening.
“Baiklah. Kau boleh ikut denganku.”
Baekhyun ingin melonjak kesenangan. Baru kali ini dia
diijinkan untuk ikut Chanyeol. Tidak ada yang menyenangkan selain dia tetap
berada di samping Chanyeol.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan itu Chanyeol membimbing Baekhyun
berjalan dengan menggenggam tangannya.
Mereka melewati jalan kecil yang menanjak dengan
cahaya lampu di pinggir dinding yang sudah remang.
Salah satu tangan Chanyeol yang bebas memegang secarik
kertas kuning, mungkin dia melihat alamat. Disebelahnya Baekhyun sudah mulai
lelah karena jalan yang ia tempuh memang menanjak. Tetapi dia harus tetap
berjalan agar tidak menyusahkan Chanyeol.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu. “Ini akan jauh
lebih menarik.” Ungkap Chanyeol sambil menyeringai tanpa diketahui oleh
Baekhyun.
Mereka memasuki rumah tersebut dan menuju ke kamar
yang hanya tersedia tempat tidur king size yang sudah usang. Seorang perempuan
dengan jubah putih sebatas lutut berada di atasnya sedang batuk berdarah.
Chanyeol melihat itu dalam diam.
“Halo.. Sandara.” Chanyeol mendekat kearah Sandara.
Sementara Baekhyun tetap didepan pintu ruangan kamar.
Sandara menoleh dengan sisa-sisa darah dimulutnya
kemudian tersenyum melihat Chanyeol.
“Aku sudah lama menunggumu.” Sandara meringkuk kearah
Chanyeol yang duduk dipinggir Kasur. Kemudian Chanyeol menyentuh pipi Sandara
dengan lembut.
“Maaf. Tapi sekarang aku sudah ada disini, bukan?”
Chanyeol membiarkan Sandara mengelus tangannya yang
ada di pipi gadis itu. Wajahnya pucat dan matanya begitu sayu.
Kemudian Sandara menyadari bahwa Chanyeol tak datang
sendiri. Melainkan dengan seorang gadis berambut pirang yang melewati bahu.
“Malaikat?”
Chanyeol mengikuti arah pandang Sandara dan tersenyum
geli. “Ah, iya. Mari kita panggil dia malaikat.”
Chanyeol membimbing Sandara ke kasurnya. “Kumohon
doakan aku.” Sandara menunjuk Baekhyun.
Baekhyun hanya diam dan tak mengerti.
Chanyeol menindih Sandara tetapi tidak menyakitinya.
Kemudian dia membuka alkitab yang berada disamping kepala Sandara. Kemudian
membacanya.
“Datanglah kepadaku…” Chanyeol mengusap wajah Sandara
dengan lembut. Dari atas dahi sampai mulutnya. “Semua yang lelah dan beban
berat yang ada,” kemudian ketika tibanya sampai leher Sandara, Chanyeol
mencekiknya dengan kuat.
“Dan….aku akan…” Sandara memberontak dan menendang-nendang.
“Memberi kebebasan, bawalah yang kuberikan,”
Baekhyun yang mulai merasa aneh terkejut. “Apa yang
kau lakukan?” Kemudian dia berlari kearah depan.
“Dan belajarlah kepadaku.” Chanyeol tidak terpengaruh.
“Hentikan!!!” Baekhyun meraba-raba keberadaan Chanyeol
dan memukul punggungnya ketika dia mendapatkannya.
“Kau menyakitinya, Chanyeol!!!” “Dia berjuang untuk
hidup!!!” Baekhyun berteriak tidak karuan. Tetapi Chanyeol tak menghiraukannya.
“Dan belajarlah kepadaku, karena aku lemah lembut, dan
berhati rendah, dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan, sebab apa yang telah
kuberikan itu menyenangkan. Dan beban ku pun ringan.”
Cekikan sudah terlepas, dan Sandara tidak bergerak
dengan mata yang masih terbuka.
“Diam!! Hentikan!!” Baekhyun beringsut kearah dinding
di sebelahnya. Baekhyun menutup telinganya dengan kalut.
Chanyeol mendekatkan mulutnya ke telinga Sandara.
“Sandara, sekarang kau sudah bebas.”
Kemudian Chanyeol berdiri dan melihat Baekhyun menutup
kedua telinganya dengan mata tertutup dan gemetar.
“Apa kau sudah gila?! Kau membunuh seseorang yang
ingin hidup! Dia menendang dan melawanmu untuk tetap hidup, dan kau
membunuhnya!” Baekhyun berteriak dengan napas memburu. “Memangnya kau pikir kau
siapa?”
Chanyeol mengelap keringat di pelipisnya kemudian
tersenyum ke arah Baekhyun. Dia melepas salah satu sarung tangan yang ia pakai
di kedua tangannya. Kemudian mengarahkan tangannya yang telanjang ke tangan
Baekhyun yang menutupi telinganya.
Sentuhan tangan Chanyeol seakan dapat membuat Baekhyun
melihat dalam gelap. Dia melihat tangannya sendiri yang digenggam oleh
Chanyeol.
“Sini, lihatlah. Inikah wajah seseorang yang ingin
tetap hidup?” Kemudian Chanyeol mengarahkan tangan Baekhyun ke depan wajah
Sandara. Baekhyun melihat wajah Sandara yang mengerikan.
“AKH!” Kemudian dia menyentak tangan Chanyeol yang
menggenggamnya. Dan menutup wajahnya dengan gemetar bersandar pada dinding.
“Dia sekarat karena tuberkolosis dan dia tak punya
banyak waktu yang tersisa untuk hidup. Dia mungkin gemetar ketakutan
terperangkap di tempat seperti ini tanpa teman atau keluarga. Dia mengirimku
sebuah surat,” Chanyeol menggenggam surat ditangannya kemudian mengambil
penjentik api dan membakarnya dan melemparnya pada mayat Sandara.
WHUSSH
Api itu langsung menjalar pada tubuhnya.
“Dia memintaku untuk membebaskannya. Beginilah caraku
menolong orang lain.”
Kemudian Baekhyun ingat bahwa sebelum-sebelumnya
Chanyeol akan pergi untuk menolong orang lain yang membutuhkannya. “Jadi…
caramu menolong orang lain sebelumnya adalah…” Kemudian Baekhyun menutup
wajahnya lagi setelah tahu cara Chanyeol. Dan dia masih saja gemetar.
“Dunia ini, tak ada seorang pun yang sungguh ingin
mati. Mereka hanya menyerah, itu bukanlah menolong.” Ucap Baekhyun sambil duduk
meringkuk bersandar pada dinding dan membungkus lututnya dengan kedua
lengannya.
“Baekhyun..” Chanyeol berjongkok didepan Baekhyun dan menyentuh
dagu Baekhyun. “Apakah sekarang kau takut padaku?”
Kemudian selanjutnya Baekhyun berkaca-kaca dan air
mata sialan itu mengalir kepipinya.
“Tidak! Aku hanya merasa kasihan melihat betapa
menyedihkannya dirimu. Menyedihkan sekali melihatmu seperti layaknya dewa dan
Tuhan! Kau bukanlah anak kecil lagi, Chanyeol.” Baekhyun teriak, emosinya
tersulut.
Tetapi kemudian dia berbicara dengan lirih. “Tapi..Aku
masih mencintaimu. Jadi aku tetap ada disisimu. Aku akan berada di dekatmu dan
akan melindungimu!”
Chanyeol tertawa mengejek. “Melindungiku? Cinta? Kau?
Jangan konyol, Baekhyun. Kita persis sama. Kita sudah biasa ditolak, dan bahkan
terbiasa mencampakkan orang lain. Kau tak ingat bagaimana kita bertemu?”
Baekhyun merasakan bahwa Chanyeol gementar dan
ketakutan. Dia menyentuh pipi Chanyeol dengan lembut. Kemudian berbicara dengan
lirih dan hampir berbisik. “Mengapa kau gemetar ketakutan? Aku tak pernah
berusaha mencampakkanmu. Mengapa kau berpikir aku akan menolakmu? Aku akan
tetap disisimu dan melindungimu. Aku akan—“
Melindungimu.
BRUGH.
Tangan yang tadi menyentuh pipi Chanyeol jatuh
kesamping tubuh Baekhyun. Baekhyun tak sadarkan diri.
Chanyeol mematung ditempatnya.
“Baekhyun?”
.
.
.
TO BE
CONTINUED
.
.
.
Karya
aku ini sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk
cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
atau
Silahkan
mampir^^
AmandaHanifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar