Laman

Minggu, 03 Juli 2016

FANFICTION: BABY'S BREATH BAB 1



“Ampun!! Maafkan aku, aku tidak bersalah!” Suara-suara itu terasa sangat dekat dan ketakutan. Aku bisa mendengarnya sayup-sayup gemertak gigi selain orang yang berteriak tadi.
Lalu yang paling penting dari semua ini, tercium aroma darah kental yang masih baru dan khas. Membuat perutku bergejolak menahan mual.
Selain berdiri dalam diam, apa yang mesti kulakukan?
“Ssstttt. Diamlah. Aku hanya ingin mengerjakannya dalam damai.” Didepanku, suara rendah Chanyeol yang khas menggema didalam ruangan. Kutebak dia berbicara pada orang yang tadi berteriak.
Seakan patuh pada tuannya, mereka tak berkutik. Suasana seketika hening.
“Perhatikan baik-baik, Baekhyun.”
Tidakkah dia berpikir bahwa ucapannya yang—walapun singkat tetapi berhasil membuat luka di relung hatiku? Dia tahu baik bahwa aku tidak dapat melihat dan ucapannya kali ini seakan mengejekku.
Kemudian suara gesekan besi yang tampak samar bergelung, menciptakan kesan misterius yang mendalam dan membuatku bertanya-tanya.
DDOOORRRR
Suara tembakan membuatku tersentak. Ada beberapa air yang muncrat di wajahku dan setelah kupikir-pikir lagi itu adalah darah karena lagi-lagi aromanya sangat menyengat—membuat diriku dilanda mual yang berlebihan.
Lagi-lagi hanya diamlah yang kulakukan. Aku tidak mengerti mengapa Chanyeol melakukan ini. Tidakkah baru saja dia membunuh orang yang tadi berteriak?
Usapan sapu tangan dari tangan besar Chanyeol—yang sudah kuhapal baik-baik—mengenai wajahku. Dia membersihkan tetes darah yang mengenai wajahku.
“Tidakkah kau merasa takut untuk terus mau bersamaku?”
.
.
.
.
BABY’S BREATH
MANYEOLBAEK
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Support Cast: Oh Sehun, Xi Luhan,
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Drama, a little bit Mystery
Rated: M
Disclaimer: Para tokoh hanya aku pinjam nama saja. Terinspirasi dari webtoon yang berjudul Winter Woods tetapi aku mengambil sisi Adora dan Zoe, kupikir-pikir bakalan cocok kalau pemerannya Chanbaek. Ada yang sependapat? Muehehe. Aku mengambil jalan cerita di awal. Nanti bakalan ada perubahan cerita yang bakalan aku masukin dari pemikiranku^^ semoga kalian tidak salah paham dan mengerti;)
NO BASH
DON’T READ IF YOU DON’T LIKE THIS
HAPPY READING~~~
.
.
.
.
BABY’S BREATH
Bab 1
.
.
.
.
Tarikan kasar dari tangan besar Chanyeol yang tiba-tiba membuatku terkejut. Dia baru saja datang ketempatku dan sudah seperti ini. Apa yang dia lakukan? Perasaan burukku terhadap Chanyeol yang ingin membawaku keruangan itu lewat dipemikiranku, membuatku memberontak dari paksaan tarikan tangannya yang begitu kuat.
Chanyeol lebih besar dariku tentu saja dia dengan mudahnya membawaku dan aku tidak bisa melepaskan tanganku dari tangannya yang menggenggamku erat. Mungkin dia memang benar-benar menyeretku kesebuah ruangan yang paling kubenci. Waktu yang lalu aku benar-benar ketakutan dan tidak bisa tidur selama seminggu karena dihantui bayang bayang isi ruangannya dan aroma-aroma yang membuatku mual berkepanjangan. Tetapi ketika tahu mengapa dia memasukkanku keruangan itu, aku tahu aku harus merelakan ketakutanku. Aku tidak boleh membuatnya merasa puas lagi karena melihatku begitu takut. Dan itu sepadan karena dia masih ada bersamaku.
CEKLEK
Pintu dibuka dan dengan paksa dia mendorongku masuk keruangan. Lagi-lagi aroma ini…
Aroma busuk dan bebauan yang tidak mengenakkan langsung menguar di udara.
“Masuk dan pikirkan mengapa aku melakukan ini!”
BLAMMMM
Pintu ruangan ditutup dengan bunyi bedebam keras. Aku terdiam didekat pintu setelahnya bergerak meraba-raba dinding mencoba berjalan diarea pinggir ruangan.
BUKKKK
Berhenti.
Baru beberapa langkah meraba-raba dinding, aku menyentuh sesuatu dan membuat benda itu terjatuh ke lantai.
Aku berjongkok, meraba-raba benda tersebut dan terkejut karena merasakan hawa dingin saat menyentuhnya. Itu bukan benda dan jelas-jelas manusia yang sudah tidak bernyawa. Fakta tersebut membuatku mundur dan ingin berteriak tetapi aku menutup mulutku dengan kedua tangan erat, mengurungkannya karena itu akan terdengar dari luar. Dan Chanyeol akan merasa senang mendengarku berteriak.
Hawa aneh di ruangan memang sudah dari tadi kurasakan. Kalau seperti itu aku tidak akan kemana-mana dan akan berdiam diri saja.
Tak masalah. Tetapi aroma yang begitu membuatku mual benar-benar menganggu.
Aku tak tahu berapa lama lagi aku dapat bertahan dalam aroma ini. Dan aku tidak tahan menghirup bau busuk yang begitu menyengat.
.
.
.
.
Mual masih menguasai tubuh Baekhyun. Aroma-aroma itu masih terngiang dibenaknya dan baunya tidak mau hilang dari kepala Baekhyun. Dia sedang duduk meringkuk dengan memeluk lutut dan meletakkan dagunya diatas lutut di depan perapian karena penghangat ruangan di rumahnya tidak dapat berfungsi lagi. Dia benar-benar mungil seperti bayi saat sedang posisi seperti itu. Tidak tahu seberapa rapuhnya dia.
Sudah memasuki pertengahan musim dingin yang dinginnya sedang dititik terendah sepanjang musim dingin. Dia harus membuat tubuhnya tetap hangat jika tidak mau ditemukan tewas karena membeku.
Kehadiran sosok disebelahnya yang baru muncul membuat dia mendongak. “Chanyeol?”
Chanyeol mengamati Baekhyun yang meringkuk, entah apa yang sedang ia pikirkan. Dia membawa secangkir coklat hangat. Dan memberikan cangkir ke tangan Baekhyun yang dingin.
“Aku harus memperbaiki penghangat ruangannya.”
Dia hendak berbalik tetapi tangan mungil Baekhyun yang seakan membeku menghentikannya. Baekhyun tak berani menyela, dia hanya menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Baekhyun tak akan menanyakan apa alasan Chanyeol memasukkannya ke ruangan. Dia akan membuat Chanyeol marah besar dan sampai sekarang dia tidak begitu mengerti mengapa Chanyeol memasukkannya keruangan busuk itu. Dan yang paling tidak bisa diterima adalah ruangan itu berada salah satu ruangan di rumahnya.
Chanyeol menghela napas. Kemudian mengikuti Baekhyun untuk duduk dan memeluk tubuh Baekhyun yang mungil.
Baekhyun menutup matanya, menghirup aroma dari Chanyeol yang masih sama. Menghilangkan pikiran-pikiran ia terhadap bau busuk yang menganggunya.
Chanyeol mengamati wajahnya Baekhyun. Tiba-tiba dia menunduk untuk bisa mencapai bibir ranum merah muda Baekhyun. Tetapi berhenti ketika dia benar-benar sudah didepan bibirnya.
Merasakan hembusan napas yang dekat, Baekhyun membuka matanya. Tetapi tentu saja gelap. Chanyeol melihat iris Baekhyun yang menawan. Segera sadar, dia menjauhkan wajahnya.
“Kenapa?”
“Kenapa kau berhenti, Chanyeol?”
Chanyeol melepaskan pelukannya dan berdiri dengan kasar. “Kau tidak mengerti, Baekhyun. Aku harus pergi lebih awal. Ada orang-orang yang membutuhkan bantuanku.”
Baekhyun menahan lengan Chanyeol. “Bolehkah aku ikut kau?”
“Tidak!”
“Kenapa?”
Setelah beberapa detik berlalu dengan hening. “Baiklah. Kau boleh ikut denganku.”
Baekhyun ingin melonjak kesenangan. Baru kali ini dia diijinkan untuk ikut Chanyeol. Tidak ada yang menyenangkan selain dia tetap berada di samping Chanyeol.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan itu Chanyeol membimbing Baekhyun berjalan dengan menggenggam tangannya.
Mereka melewati jalan kecil yang menanjak dengan cahaya lampu di pinggir dinding yang sudah remang.
Salah satu tangan Chanyeol yang bebas memegang secarik kertas kuning, mungkin dia melihat alamat. Disebelahnya Baekhyun sudah mulai lelah karena jalan yang ia tempuh memang menanjak. Tetapi dia harus tetap berjalan agar tidak menyusahkan Chanyeol.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu. “Ini akan jauh lebih menarik.” Ungkap Chanyeol sambil menyeringai tanpa diketahui oleh Baekhyun.
Mereka memasuki rumah tersebut dan menuju ke kamar yang hanya tersedia tempat tidur king size yang sudah usang. Seorang perempuan dengan jubah putih sebatas lutut berada di atasnya sedang batuk berdarah. Chanyeol melihat itu dalam diam.
“Halo.. Sandara.” Chanyeol mendekat kearah Sandara. Sementara Baekhyun tetap didepan pintu ruangan kamar.
Sandara menoleh dengan sisa-sisa darah dimulutnya kemudian tersenyum melihat Chanyeol.
“Aku sudah lama menunggumu.” Sandara meringkuk kearah Chanyeol yang duduk dipinggir Kasur. Kemudian Chanyeol menyentuh pipi Sandara dengan lembut.
“Maaf. Tapi sekarang aku sudah ada disini, bukan?”
Chanyeol membiarkan Sandara mengelus tangannya yang ada di pipi gadis itu. Wajahnya pucat dan matanya begitu sayu.
Kemudian Sandara menyadari bahwa Chanyeol tak datang sendiri. Melainkan dengan seorang gadis berambut pirang yang melewati bahu.
“Malaikat?”
Chanyeol mengikuti arah pandang Sandara dan tersenyum geli. “Ah, iya. Mari kita panggil dia malaikat.”
Chanyeol membimbing Sandara ke kasurnya. “Kumohon doakan aku.” Sandara menunjuk Baekhyun.
Baekhyun hanya diam dan tak mengerti.
Chanyeol menindih Sandara tetapi tidak menyakitinya. Kemudian dia membuka alkitab yang berada disamping kepala Sandara. Kemudian membacanya.
“Datanglah kepadaku…” Chanyeol mengusap wajah Sandara dengan lembut. Dari atas dahi sampai mulutnya. “Semua yang lelah dan beban berat yang ada,” kemudian ketika tibanya sampai leher Sandara, Chanyeol mencekiknya dengan kuat.
“Dan….aku akan…” Sandara memberontak dan menendang-nendang. “Memberi kebebasan, bawalah yang kuberikan,”
Baekhyun yang mulai merasa aneh terkejut. “Apa yang kau lakukan?” Kemudian dia berlari kearah depan.
“Dan belajarlah kepadaku.” Chanyeol tidak terpengaruh.
“Hentikan!!!” Baekhyun meraba-raba keberadaan Chanyeol dan memukul punggungnya ketika dia mendapatkannya.
“Kau menyakitinya, Chanyeol!!!” “Dia berjuang untuk hidup!!!” Baekhyun berteriak tidak karuan. Tetapi Chanyeol tak menghiraukannya.
“Dan belajarlah kepadaku, karena aku lemah lembut, dan berhati rendah, dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan, sebab apa yang telah kuberikan itu menyenangkan. Dan beban ku pun ringan.”
Cekikan sudah terlepas, dan Sandara tidak bergerak dengan mata yang masih terbuka.
“Diam!! Hentikan!!” Baekhyun beringsut kearah dinding di sebelahnya. Baekhyun menutup telinganya dengan kalut.
Chanyeol mendekatkan mulutnya ke telinga Sandara. “Sandara, sekarang kau sudah bebas.”
Kemudian Chanyeol berdiri dan melihat Baekhyun menutup kedua telinganya dengan mata tertutup dan gemetar.
“Apa kau sudah gila?! Kau membunuh seseorang yang ingin hidup! Dia menendang dan melawanmu untuk tetap hidup, dan kau membunuhnya!” Baekhyun berteriak dengan napas memburu. “Memangnya kau pikir kau siapa?”
Chanyeol mengelap keringat di pelipisnya kemudian tersenyum ke arah Baekhyun. Dia melepas salah satu sarung tangan yang ia pakai di kedua tangannya. Kemudian mengarahkan tangannya yang telanjang ke tangan Baekhyun yang menutupi telinganya.
Sentuhan tangan Chanyeol seakan dapat membuat Baekhyun melihat dalam gelap. Dia melihat tangannya sendiri yang digenggam oleh Chanyeol.
“Sini, lihatlah. Inikah wajah seseorang yang ingin tetap hidup?” Kemudian Chanyeol mengarahkan tangan Baekhyun ke depan wajah Sandara. Baekhyun melihat wajah Sandara yang mengerikan.
“AKH!” Kemudian dia menyentak tangan Chanyeol yang menggenggamnya. Dan menutup wajahnya dengan gemetar bersandar pada dinding.
“Dia sekarat karena tuberkolosis dan dia tak punya banyak waktu yang tersisa untuk hidup. Dia mungkin gemetar ketakutan terperangkap di tempat seperti ini tanpa teman atau keluarga. Dia mengirimku sebuah surat,” Chanyeol menggenggam surat ditangannya kemudian mengambil penjentik api dan membakarnya dan melemparnya pada mayat Sandara.
WHUSSH
Api itu langsung menjalar pada tubuhnya.
“Dia memintaku untuk membebaskannya. Beginilah caraku menolong orang lain.”
Kemudian Baekhyun ingat bahwa sebelum-sebelumnya Chanyeol akan pergi untuk menolong orang lain yang membutuhkannya. “Jadi… caramu menolong orang lain sebelumnya adalah…” Kemudian Baekhyun menutup wajahnya lagi setelah tahu cara Chanyeol. Dan dia masih saja gemetar.
“Dunia ini, tak ada seorang pun yang sungguh ingin mati. Mereka hanya menyerah, itu bukanlah menolong.” Ucap Baekhyun sambil duduk meringkuk bersandar pada dinding dan membungkus lututnya dengan kedua lengannya.
“Baekhyun..” Chanyeol berjongkok didepan Baekhyun dan menyentuh dagu Baekhyun. “Apakah sekarang kau takut padaku?”
Kemudian selanjutnya Baekhyun berkaca-kaca dan air mata sialan itu mengalir kepipinya.
“Tidak! Aku hanya merasa kasihan melihat betapa menyedihkannya dirimu. Menyedihkan sekali melihatmu seperti layaknya dewa dan Tuhan! Kau bukanlah anak kecil lagi, Chanyeol.” Baekhyun teriak, emosinya tersulut.
Tetapi kemudian dia berbicara dengan lirih. “Tapi..Aku masih mencintaimu. Jadi aku tetap ada disisimu. Aku akan berada di dekatmu dan akan melindungimu!”
Chanyeol tertawa mengejek. “Melindungiku? Cinta? Kau? Jangan konyol, Baekhyun. Kita persis sama. Kita sudah biasa ditolak, dan bahkan terbiasa mencampakkan orang lain. Kau tak ingat bagaimana kita bertemu?”
Baekhyun merasakan bahwa Chanyeol gementar dan ketakutan. Dia menyentuh pipi Chanyeol dengan lembut. Kemudian berbicara dengan lirih dan hampir berbisik. “Mengapa kau gemetar ketakutan? Aku tak pernah berusaha mencampakkanmu. Mengapa kau berpikir aku akan menolakmu? Aku akan tetap disisimu dan melindungimu. Aku akan—“
Melindungimu.
BRUGH.
Tangan yang tadi menyentuh pipi Chanyeol jatuh kesamping tubuh Baekhyun. Baekhyun tak sadarkan diri.
Chanyeol mematung ditempatnya.
“Baekhyun?”
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Karya aku ini sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
atau
Silahkan mampir^^
AmandaHanifah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar