THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 6
FOLLOWED
.
.
.
Cahaya
akhirnya memudar di luar jendela. Hari panas di bulan Maret itu terasa panjang,
seakan enggan berakhir dan membebaskanku.
Aku
terisak dan memilin saputangan basah itu membentuk simpul lain. "Kathy,
kau pasti punya kewajiban-kewajiban lain. Curt akan bingung mencarimu."
"Dia
akan mengerti."
"Aku
tak bisa tinggal di sini selamanya. Dan kita tidak lebih mendekati jawaban
daripada sebelumnya."
"Solusi
kilat bukanlah keahlianku. Kau memutuskan untuk tidak pindah ke inang
baru--"
"Ya."
"Jadi
penanganan masalah ini mungkin perlu waktu agak lama."
Kukertakkan
gigi dengan frustasi.
"Dan
akan lebih cepat serta lancar jika kau mendapat bantuan."
"Aku
berjanji akan lebih mematuhi janji temu kita."
"Bukan
itu maksudku, walaupun kuharap kau akan mematuhinya."
"Maksudmu
pertolongan... selain darimu?" Aku ciut memikirkan harus menceritakan
kembali kesengsaraan hari ini kepada sosok asing. "Aku yakin kau sama
ahlinya dengan Penghibur lain--bahkan lebih baik.”
"Maksudku
bukan Penghibur lain." Kathy bergeser di kursi, lalu menggeliat kaku.
"Berapa banyak teman yang kaumiliki, Wanderer?"
"Maksudmu
orang-orang di tempat kerja? Aku bertemu beberapa dosen lain hampir setiap
hari. Ada beberapa mahasiswa yang kuajak bicara di lorong-lorong..."
"Di
luar kampus?"
Aku
menatapnya hampa.
"Inang manusia memerlukan interaksi. Kau tidak terbiasa dengan kesendirian, sayang. Kau dulu berbagi pikiran dengan seluruh planet--"
"Kami
tidak banyak bepergian." Usahaku untuk bergurau gagal total.
Kathy
tersenyum kecil, lalu melanjutkan. "Kau berjuang sangat keras dengan
masalahmu, sehingga hanya itu yang menjadi pusat perhatianmu. Mungkin salah
satu jawabannya adalah dengan tidak terlalu memikirkannya. Katamu Melanie
menjadi bosan selama jam-jam kerjamu... dan dia lebih tidak aktif. Mungkin,
jika kau mengembangkan beberapa hubungan pertemanan, hal itu juga akan
membuatnya bosan.”
Kukerutkan bibir dengan serius. Melanie, yang lamban akibat usahanya untuk merasa nyaman selama seharian, tampaknya memang tidak begitu tertarik dengan gagasan itu.
Kathy mengangguk. "Terlibatlah dengan kehidupan, dan bukan dengan pemuda itu."
"Itu
masuk akal."
"Lalu
ada dorongan-dorongan fisik yang dimilliki tubuh ini. Aku tak pernah melihat
atau mendengar tandingannya. Salah satu hal tersulit yang harus kami--sebagai
pendatang pertama--taklukkan, adalah insting untuk bercinta. Percayalah,
manusia merasakannya, meskipun kau tidak."
Kathy
nyengir dan memutar bola matanya, mengingat sesuatu. Ketika aku tidak bereaksi
seperti yang diharapkannya, ia menghela napas dan melipat kedua tangannya
dengan tidak sabar. "Oh, ayolah, Wanderer. Kau mestinya tahu."
"Wah, tentu saja," gumamku. Melanie bergerak gelisah. "Jelas sekali. Aku sudah menceritakan mimpi - mimpi itu kepadamu..."
"Bukan.
Maksudku bukan hanya ingatan. Pernahkah kau menjumpai seseorang di masa
sekarang, dan tubuhmu memberikan respons--yang seluruhnya kimiawi?"
Kurenungkan
pertanyaan Kathy dengan cermat. "Kurasa tidak. Sejauh pengetahuanku."
"Percayalah,"
ujarnya datar. "Kau akan tahu." Ia menggeleng. "Mungkin kau
harus membuka mata dan secara khusus mencarinya. Akan sangat bermanfaat bagimu."
Tubuhku
menciut memikirkannya. Aku merasakan kejijikan Melanie, yang dicerminkan
kejijikanku sendiri.
Kathy
membaca ekspresi wajahku. "Jangan biarkan dia mengendalikan caramu
berinteraksi dengan bangsamu, Wanderer. Jangan biarkan dia
mengendalikanmu."
Kedua
lubang hidungku mengembang. Aku menunggu sejenak untuk menjawab, mengendalikan
amarah yang tak pernah menjadi kebiasaanku.
"Dia
tidak mengendalikanku."
Kathy
mengangkat sebelah alisnya.
Kemarahan
mencekik leherku. "Kau sendiri tidak mencari terlalu jauh untuk mendapat
pasangan.
Adakah
yang mengendalikan pilihan itu?"
Kathy mengabaikan amarahku dan merenungkan pertanyaan itu dengan serius.
"Mungkin,"
jawabnya akhirnya.
"Sulit
untuk tahu. Tapi kau benar." Ia memungut benang pada keliman bajunya. Lalu,
seakan sadar dirinya menghindar tatapanku, ia melipat kedua tangannya dengan
tegas dan menegakkan bahu.
"Siapa
tahu seberapa banyak yang berasal dari inang tertentu di planet tertentu?
Seperti sudah kubilang, kurasa waktu adalah jawabanmu. Apakah pemuda itu perlahan-lahan akan berubah diam atau apatis,
lalu membiarkanmu membuat pilihan lain selain Jared, atau... well, para
Pencari sangat hebat. Mereka sudah
mencari lelaki ini, dan mungkin kau akan mengingat sesuatu yang bisa
membantu."
Aku tidak bergerak ketika memahami maksud Kathy. Tampaknya ia tidak memperhatikan bahwa aku terpaku di tempat.
"Mungkin mereka akan menemukan kekasih Melanie, lalu kalian bisa kembali bersama-sama. Jika perasaan lelaki itu sama kuatnya dengan perasaan pemuda itu, jiwa yang baru mungkin bisa terpengaruh."
"Tidak!" Aku tak yakin siapa yang berteriak. Mungkin diriku. Aku juga diliputi kengerian.
Aku berdiri, tubuhku gemetar. Air mata yang begitu mudahnya mengalir kali ini tak ada, dan kedua tanganku yang gemetar terkepal erat.
"Wanderer?"
Tapi
aku berbalik dan lari ke pintu, memerangi kata-kata yang tak mungkin berasal
dari mulutku. Kata-kata yang tak mungkin milikku. Kata-kata yang tak masuk
akal, kecuali jika kata-kata itu milik pemuda ini. Tapi kata-kata itu terasa seperti milikku. Kata-kata itu tak mungkin milikku.
Kata-kata itu tak boleh terucap.
Itu berarti membunuh Jared! Itu berarti menghilangkan keberadaannya! Aku tidak menginginkan orang lain. Aku menginginkan Jared, bukan mahluk asing di dalam tubuhnya! Tubuh itu tak berarti tanpa dirinya.
Ketika aku berlari ke jalanan, kudengar Kathy memanggil namaku.
Aku
tinggal tak jauh dari kantor Penghibur, tapi kegelapan jalanan membuatku
kehilangan orientasi. Sudah dua blok kulewati ketika sadar aku lari ke arah
keliru.
Orang-orang memandangku. Aku tidak berpakaian olahraga dan tidak sedang berlari. Aku kabur. Tapi tak seorang pun memedulikanku; dengan sopan mereka mengalihkan pandangan. Mereka pasti menyangka aku baru bagi inang ini. Dan aku sedang
bertingkah seperti anak-anak.
Aku memperlambat lari dan hanya berjalan, lalu berbelok ke utara sehingga bisa memutar tanpa melewati kantor Kathy lagi.
Jalanku
hanya sedikit lebih lambat daripada berlari. Aku mendengar kakiku menapaki
trotoar terlalu cepat, seakan mencoba menyesuaikan diri dengan irama lagu
dansa. Duk, duk, duk memukul-mukul beton. Tidak, bukan seperti irama tambur,
melainkan terlalu marah. Seperti kekerasan. Duk, duk, duk. Seseorang memukul
orang lain. Dengan gemetar kuenyahkan gambaran mengerikan itu.
Aku bisa melihat lampu yang menyala di atas pintu apartemenku. Tak makan waktu lama bagiku untuk pulang. Tapi aku tidak menyebrang jalan.
Aku
merasa mual. Aku ingat bagaimana rasanya muntah, walaupun belum pernah mengalaminya.
Rasa basah dingin melembapkan keningku,
suara menggema terdengar di kedua telinga. Aku yakin sekali, aku akan mengalami
pengalaman muntah itu secara langsung.
Ada gundukan rumput di samping trotoar. Di sekeliling lampu jalanan ada pagar tanaman yang terpangkas rapi. Aku tak punya waktu untuk mencari tempat yang lebih baik. Terhuyung-huyung kuhampiri lampu itu dan kutangkap tiangnya untuk menahan tubuhku. Rasa mual memusingkanku.
Ya,
aku benar-benar akan mengalami bagaimana rasanya muntah.
"Wanderer, kaukah itu? Wanderer, kau sakit?"
Mustahil
untuk memusatkan perhatian pada suara yang samar-samar kukenal itu. Tapi suara
itu membuat segalanya lebih buruk, karena
aku tahu ada orang yang sedang mengamati ketika aku membungkuk mendekatkan
wajah ke semak-semak dan dengan dahsyat memuntahkan
santapan terakhirku.
"Siapa Penyembuh-mu di sini?" tanya suara itu. Di antara denging di telingaku, suara itu kedengarannya sangat jauh. Ada tangan menyentuh punggungku yang membungkuk. "Kau perlu ambulans?"
Aku batuk dua kali, lalu menggeleng. Aku yakin sudah tidak apa-apa; perutku kosong.
"Aku tidak sakit," ujarku, seraya menegakkan diri dengan berpegangan pada tiang lampu. Aku memandang sekeliling, mencari-cari siapa yang menyaksikan saat melakukan itu.
Pencari dari Chicago itu memegang ponsel, mencoba memutuskan hendak menelpon siapa. Sekali lagi aku mengamatinya baik-baik, lalu kembali membungkuk. Tak perduli perut kosong atau tidak, ia orang terakhir yang ingin kulihat saat ini.
Tapi
ketika perutku mendorong sia-sia, kusadari Pencari tak punya alasan untuk hadir
di sini.
Oh, tidak! Oh, tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak!
"Mengapa?"
Aku terperanjat, kepanikan dan rasa mual mencuri volume suaraku. "Mengapa
kau disini? Apa yang terjadi?" Kata-kata
Penghibur yang sangat tidak menghibur berdentam di kepalaku.
Selama dua detik
kutatap sepasang tangan yang mencengkeram kerah setelah hitam Pencari, lalu
kusadari kedua tangan itu milikku.
"Hentikan!"
teriak Pencari. Lalu kulihat kemarahan di wajahnya. Suaranya bergetar.
Aku sedang
mengguncang-guncang tubuhnya.
Sepasang tanganku
langsung membuka dan mendarat di wajahku. "Maaf!" sergahku.
"Maaf. Aku tak menyadari perbuatanku."
Pencari memberengut
memandangku, lalu merapikan bagian depan pakaiannya. "Kau sedang sakit,
dan kurasa aku mengagetkanmu."
"Aku tidak
berrharap akan berjumpa denganmu," bisikku.
"Mengapa kau
disini?"
"Ayo pergi ke
fasilitas Penyembuhan sebelum kita bicara. Kalau terserang flu, kau harus
disembuhkan. Tak ada gunanya membiarkan
penyakit itu merusak tubuhmu.”
"Aku tidak
terserang flu. Aku tidak sakit."
"Kau salah
makan? Harus kaulaporkan dari mana asal makanan itu."
Keingintahuannya
sangat menjengkelkan. "Aku juga tidak salah makan. Aku sehat."
"Mengapa tidak
meminta Penyembuh memeriksamu? Pemindaian cepat. Kau tak boleh mengabaikan inangmu.
Itu tidak bertanggung jawab. Terutama
karena perawatan kesehatan sangat mudah dan efektif."
Aku menghela napas
panjang dan menahan dorongan untuk kembali mengguncang-guncang tubuh Pencari. Ia
sekepala lebih pendek dariku. Itu perkelahian yang akan kumenangkan.
Perkelahian? Aku
berbalik darinya dan berjalan cepat ke rumahku. Aku sangat emosional sehingga
membahayakan. Aku perlu menenangkan diri, sebelum melakukan hal tak termaafkan.
"Wanderer?
Tunggu! Penyembuh--"
"Aku tak perlu
Penyembuh," kataku, tanpa berbalik. "Ini hanya... ketidakseimbangan
emosi. Aku baik-baik saja sekarang."
Pencari tidak
menjawab. Aku ingin tahu apa yang dipikirkannya mengenai responku. Aku bisa
mendengar sepatunya--mengetuk-ngetuk mengejarku, sehingga kubiarkan pintu
terbuka, karena aku tahu ia akan membuntutiku ke dalam. Aku pergi ke tempat cuci piring dan mengisi gelas
dengan air. Pencari mengunggu diam ketika aku berkumur dan meludah. Ketika
sudah selesai, aku bersandar di meja sambil menatap bak cuci piring.
sudah selesai, aku bersandar di meja sambil menatap bak cuci piring.
Pencari segera merasa
jemu. "Jadi, Wanderer... atau masihkah kau memakai nama itu? Aku tidak
bermaksud kasar dengan memanggilmu seperti itu."
Aku tidak
memandangnya. "Aku masih memakai nama Wanderer."
"Menarik. Kukira
kau akan memilih namamu sendiri."
"Aku memang
memilih. Aku memilih Wanderer."
Sudah lama kuketahui
bahwa pertengkaran kecil yang kucuri dengan di hari pertama aku terbangun di
fasilitas Penyembuhan adalah kesalahan Pencari. Si Pencari adalah jiwa paling
tidak bersahabat yang pernah kujumpai di dalam sembilan kehidupanku.
Penyembuh pertamaku, Fords Deep Waters, bersifat tenang,
baik, dan bijak--bahkan untuk ukuran sesosok jiwa. Tapi ia tak mampu menahan
diri untuk tidak bereaksi terhadap si Pencari. Ini membuatku merasa lebih baik
mengenai responku sendiri.
Aku berbalik
menghadap Pencari. Ia berada di sofa kecilku, duduk nyaman seakan hendak
tinggal lama. Raut wajahnya menunjukkan kepuasan, matanyanya yang menonjol
tampak senang. Kukendalikan keinginan untuk memberengut.
"Mengapa kau
disini?" tanyaku lagi. Suaraku datar. Terkendali. Aku tak mau kehilangan
kendali lagi di hadapan lelaki ini.
"Sudah lama aku
tidak mendengar apa-apa darimu, jadi kupikir aku akan mengecek secara pribadi.
Kami masih belum memperoleh kemajuan dalam kasusmu."
Kedua tanganku
mencengkeram tepi meja di belakangku, tapi kusembunyikan kelegaan luar biasa
itu dari suaraku.
"Tampaknya
kau... terlalu bersemangat. Lagi pula aku mengirimu pesan semalam."
Sepasang alis Pencari
bertaut, seperti yang biasa ia lakukan, membuatnya tampak marah dan jengkel
pada saat bersamaan seakan akulah, bukan dirinya, yang bertanggung jawab atas
kemarahannya. Ia mengeluarkan komputer genggam dan menyentuh layarnya beberapa
kali.
'Oh, ujarnya kaku.
"Hari ini aku belum mengecek e-mail."
Ia terdiam ketika
membaca apa yang kutulis.
"Kukirim
pagi-pagi sekali," kataku. "Aku masih setengah tidur saat itu. Aku
tak yakin seberapa banyak yang kutulis adalah ingatan atau mimpi, atau mungkin
aku mengetik sambil tidur."
Kulanjutkan kata-kata
itu--kata-kata Melanie--yang mengalir dengan mudahnya dari bibirku. Aku bahkan
menambahkan tawa riangku sendiri di bagian akhir. Ketidakjujuranku. Perilaku
memalukan. Tapi aku takkan membiarkan Pencari tahu aku lebih lemah daripada
inangku.
Kali ini Melanie
tidak merasa bangga telah mengalahkanku. Ia terlalu lega, kelewat berterima kasih
karena aku--berdasarkan alasan-alasan remehku sendiri--belum mengungkapkan
keberadaannya.
"Menarik," gumam Pencari. "Satu manusia lagi yang masih berkeliaran." Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Kedamaian terus mengelabui kita." Tampaknya ia tidak mencemaskan gagasan mengenai kedamaian yang rapuh--itu kelihatannya malah membuatnya gembira.
"Menarik," gumam Pencari. "Satu manusia lagi yang masih berkeliaran." Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Kedamaian terus mengelabui kita." Tampaknya ia tidak mencemaskan gagasan mengenai kedamaian yang rapuh--itu kelihatannya malah membuatnya gembira.
Aku menggigit bibir kuat-kuat. Melanie ingin
sekali mengungkapkan penyangkalan lain, menyatakan anak laki-laki itu hanyalah bagian
dari mimpi. Jangan tolol, ujarku kepadanya. Itu terlalu mencolok.
Berdasarkan sifat menjijikan Pencari, ia pasti bisa menganggapku dan Melanie
bersekongkol menentangnya.
Aku membencinya.
Bisikan Melanie terasa tajam, menyakitkan bagai luka.
Aku tahu, aku tahu.
Kuharap bisa kusangkal bahwa aku merasakan... hal yang sama. Kebencian adalah
emosi yang tak termaafkan. Tapi... sangatlah sulit untuk menyukai Pencari.
Mustahil.
Pencari menyela
percakapan internalku. "Jadi, selain lokasi baru untuk ditinjau, kau belum
bisa membantuku lagi dalam hal peta perjalanan?"
Kurasakan tubuhku
bereaksi terhadap nada mengkritik itu. "Aku tak pernah menyatakan
garis-garis itu sebagai garis-garis di peta
perjalanan. Itu asumsimu. Dan tidak, aku tidak punya informasi apa-apa
lagi."
Ia berdecak cepat
tiga kali. "Tapi katamu itu petunjuk."
"Itu dugaanku.
Aku tidak mendapat apa-apa lagi."
"Kenapa tidak?
Sudahkan kau tundukkan manusia itu?" Ia tertawa keras-keras. Menertawakanku.
Aku berbalik memunggunginya dan berkonsentrasi menenangkan diri. Aku mencoba berpura-pura Pencari tak ada di sana, dan aku sedang sendirian di dapurku yang sederhana, menatap ke luar jendela, memandangi petak kecil langit malam, memandangi tiga bintang terang yang bisa kulihat melalui jendela.
Aku berbalik memunggunginya dan berkonsentrasi menenangkan diri. Aku mencoba berpura-pura Pencari tak ada di sana, dan aku sedang sendirian di dapurku yang sederhana, menatap ke luar jendela, memandangi petak kecil langit malam, memandangi tiga bintang terang yang bisa kulihat melalui jendela.
Well, sama
sendiriannya seperti yang pernah kualami.
Ketika kutatap
titik-titik cahaya mungil di dalam kegelapan itu, garis-garis yang telah berulang
kali kulihat--di dalam mimpi-mimpiku dan di dalam ingatan-ingatan terpisahku,
yang muncul di saat-saat aneh dan tidak berhubungan--berkelebat di kepalaku.
Yang pertama:
lengkungan kasar, lalu belokan tajam ke utara. belokan tajam lagi ke arah berlawanan,
berputar balik lagi ke utara dan agak
memanjang, lalu mendadak turun ke selatan, dan mendatar membentuk lengkungan
landai lain.
Yang kedua : zigzag
kasar, empat garis turun-naik tajam, tapi anehnya ujung kelimanya tumpul,
seakan patah...
Yang ketiga:
gelombang lembut, disela tonjolan mendadak yang membentuk jari kurus panjang ke
utara dan kembali.
Tak bisa dipahami,
tampaknya tidak berarti. Tapi aku tahu itu sesuatu yang penting bagi Melanie.
Sejak awal aku sudah tahu. Ia jauh lebih melindungi rahasia ini daripada
rahasia-rahasia lainnya, kecuali rahasia tentang anak laki-laki itu--adiknya.
Aku sama sekali tidak
mengetahui keberadaan Jamie sebelum mimpi semalam. Aku ingin tahu apa yang
membuat Melanie membocorkan rahasia itu. Mungkin ketika ia terdengar semakin
lantang di dalam kepalaku, ia akan membocorkan lebih banyak lagi rahasianya
kepadaku.
Mungkin ia bakal salah omong, dan aku akan mengetahui apa arti garis-garis aneh ini. Aku tahu garis-garis itu ada artinya.
kepadaku.
Mungkin ia bakal salah omong, dan aku akan mengetahui apa arti garis-garis aneh ini. Aku tahu garis-garis itu ada artinya.
Menuntun ke sebuah
tempat.
Dan tepat saat itu,
dengan gema tawa Pencari masih bergayut di udara, mendadak kusadari mengapa
garis-garis itu begitu penting.
Tentu saja garis -
garis itu akan menuntun Melanie kembali kepada Jared. Kembali kepada mereka
berdua, Jared dan Jamie.
Kemana lagi? Lokasi
apa lagi yang berarti baginya? Tapi baru sekarang kusadari garis-garis itu
tidak menuntunnya kembali, karena tak satu pun dari mereka yang pernah
menelusuri garis-garis itu. Garis - garis itu juga merupakan misteri bagi pemuda
ini, sama seperti bagiku, sampai...
Dinding itu menghalangi
perlahan-lahan. Perhatian Melanie terbagi. Perhatiannya terarah kepada Pencari
daripada kepadaku. Ia gelisah di dalam kepalaku ketika mendengar suara di
belakangku, dan untuk pertama kali kusadari Pencari sedang berjalan
menghampiriku.
Pencari menghela
napas. "Aku berharap lebih darimu. Catatan prestasimu tampak sangat
menjanjikan."
"Sayang sekali
kau sedang tidak bebas untuk mengerjakan sendiri tugas ini. Aku yakin
seandainya kau harus menangani seorang inang pemberontak, itu sepele
bagimu." Aku tidak berbalik memandangnya. Suaraku tetap datar.
Ia mendengus.
"Gelombang pertama sudah cukup menantang, walaupun tanpa inang
pemberontak."
"Ya. Aku sendiri
pernah mengalami beberapa peristiwa pendudukan."
Pencari mendengus.
"Apakah See Weed sulit sekali dijinakkan? Apakah mereka kabur?"
Kujaga ketenangan
suaraku. "Kami tak mendapat masalah di Kutub Selatan. Tentu saja Kutub Utara
masalah lain. Tempat itu ditangani dengan buruk. kami kehilangan seluruh
hutan."
Kesedihan ketika
mengingat peristiwa itu bergema di balik kata-
kataku.
kataku.
Seribu mahluk yang
sangat peka, memilih memejamkan mata selamanya daripada menerima kami. Mereka
menggulung daun-daun mereka untuk menghindari semua matahari, lalu mati
kelaparan.
Hebat sekali,
bisik Melanie. Tak ada kebencian yang melekat pada pikiran itu, yang ada hanya
persetujuannya, ketika ia menghormati tragedi di dalam ingatanku itu.
Betapa sia-sianya.
Kubiarkan kesedihan atas peristiwa itu--perasaan pikiran-pikiran mati yang
menyiksa akibat penderitaan yang dialami hutan saudara kami--menguasai
kepalaku.
Jalan apa pun akan
berujung pada kematian.
Si Pencari bicara,
dan aku mencoba memusatkan perhatian pada satu percakapan saja.
"Ya".
Suaranya kedengeran tidak nyaman. "Pelaksanaannya sangat buruk."
"Kau harus
selalu berhati-hati ketika mengalihkan kekuasaan. Beberapa di antara kita tidak
terlalu berhati-hati, seperti yang seharusnya dilakukan."
Pencari tidak
menjawab, dan aku mendengarnya bergerak mundur beberapa langkah. Semua jiwa tahu
kesalahan langkah di balik bunuh diri massal itu diakibatkan para Pencari.
Karena See Weed tidak bisa kabur, mereka menganggap remeh kemampuan mahluk itu
untuk meloloskan diri. Mereka maju dengan ceroboh, memulai pendudukan pertama
sebelum jumlah kami memadai untuk penyesuaian diri skala besar.
Saat Para Pencari
menyadari kemampuan See Weed dan apa yang bersedia mereka lakukan, semuanya sudah
terlambat. Pengiriman jiwa-jiwa berhibernasi berikutnya masih terlalu jauh.
Dan, sebelum mereka tiba, hutan utara sudah habis.
Kini aku menghadap
Pencari, penasaran ingin menilai dampak kata-kataku. Ia tetap tenang, menatap
putih kosongnya dinding telanjang di seberang ruangan.
"Maaf aku tidak
bisa membantumu lebih jauh." Kuucapkan kata-kata itu dengan tegas. Aku
mencoba mengusirnya secara terang-terangan. Aku ingin memiliki rumahku untukku
sendiri lagi.
Untuk kita sendiri,
sela Melanie garang. Aku mendesah. Kini pemuda ini merasa sangat bangga pada
dirinya sendiri. "Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot datang sejauh
ini."
"Sudah
tugasku," jawab Pencari. Ia mengangkat bahu.
"Kau satu-satunya
tugasku. Sampai aku menemukan mereka semua, mungkin aku akan tetap berada di
dekatmu dan berharap memperoleh keberuntungan."
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar