Laman

Minggu, 10 Juli 2016

NOVEL: THE HOST BAB 6



THE HOST
A STORY AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 6
FOLLOWED
.
.
.
Cahaya akhirnya memudar di luar jendela. Hari panas di bulan Maret itu terasa panjang, seakan enggan berakhir dan membebaskanku.

Aku terisak dan memilin saputangan basah itu membentuk simpul lain. "Kathy, kau pasti punya kewajiban-kewajiban lain. Curt akan bingung mencarimu."

"Dia akan mengerti."

"Aku tak bisa tinggal di sini selamanya. Dan kita tidak lebih mendekati jawaban daripada sebelumnya."

"Solusi kilat bukanlah keahlianku. Kau memutuskan untuk tidak pindah ke inang baru--"

"Ya."

"Jadi penanganan masalah ini mungkin perlu waktu agak lama."

Kukertakkan gigi dengan frustasi.

"Dan akan lebih cepat serta lancar jika kau mendapat bantuan."

"Aku berjanji akan lebih mematuhi janji temu kita."

"Bukan itu maksudku, walaupun kuharap kau akan mematuhinya."

"Maksudmu pertolongan... selain darimu?" Aku ciut memikirkan harus menceritakan kembali kesengsaraan hari ini kepada sosok asing. "Aku yakin kau sama ahlinya dengan Penghibur lain--bahkan lebih baik.”

"Maksudku bukan Penghibur lain." Kathy bergeser di kursi, lalu menggeliat kaku. "Berapa banyak teman yang kaumiliki, Wanderer?"

"Maksudmu orang-orang di tempat kerja? Aku bertemu beberapa dosen lain hampir setiap hari. Ada beberapa mahasiswa yang kuajak bicara di lorong-lorong..."

"Di luar kampus?"

Aku menatapnya hampa.

"Inang manusia memerlukan interaksi. Kau tidak terbiasa dengan kesendirian, sayang. Kau dulu berbagi pikiran dengan seluruh planet--"

"Kami tidak banyak bepergian." Usahaku untuk bergurau gagal total.

Kathy tersenyum kecil, lalu melanjutkan. "Kau berjuang sangat keras dengan masalahmu, sehingga hanya itu yang menjadi pusat perhatianmu. Mungkin salah satu jawabannya adalah dengan tidak terlalu memikirkannya. Katamu Melanie menjadi bosan selama jam-jam kerjamu... dan dia lebih tidak aktif. Mungkin, jika kau mengembangkan beberapa hubungan pertemanan, hal itu juga akan membuatnya bosan.”

Kukerutkan bibir dengan serius. Melanie, yang lamban akibat usahanya untuk merasa nyaman selama seharian, tampaknya memang tidak begitu tertarik dengan gagasan itu.
Kathy mengangguk. "Terlibatlah dengan kehidupan, dan bukan dengan pemuda itu."

"Itu masuk akal."

"Lalu ada dorongan-dorongan fisik yang dimilliki tubuh ini. Aku tak pernah melihat atau mendengar tandingannya. Salah satu hal tersulit yang harus kami--sebagai pendatang pertama--taklukkan, adalah insting untuk bercinta. Percayalah, manusia merasakannya, meskipun kau tidak."

Kathy nyengir dan memutar bola matanya, mengingat sesuatu. Ketika aku tidak bereaksi seperti yang diharapkannya, ia menghela napas dan melipat kedua tangannya dengan tidak sabar. "Oh, ayolah, Wanderer. Kau mestinya tahu."

"Wah, tentu saja," gumamku. Melanie bergerak gelisah. "Jelas sekali. Aku sudah menceritakan mimpi - mimpi itu kepadamu..."

"Bukan. Maksudku bukan hanya ingatan. Pernahkah kau menjumpai seseorang di masa sekarang, dan tubuhmu memberikan respons--yang seluruhnya kimiawi?"

Kurenungkan pertanyaan Kathy dengan cermat. "Kurasa tidak. Sejauh pengetahuanku."

"Percayalah," ujarnya datar. "Kau akan tahu." Ia menggeleng. "Mungkin kau harus membuka mata dan secara khusus mencarinya.  Akan sangat bermanfaat bagimu."

Tubuhku menciut memikirkannya. Aku merasakan kejijikan Melanie, yang dicerminkan kejijikanku sendiri.

Kathy membaca ekspresi wajahku. "Jangan biarkan dia mengendalikan caramu berinteraksi dengan bangsamu, Wanderer. Jangan biarkan dia mengendalikanmu."

Kedua lubang hidungku mengembang. Aku menunggu sejenak untuk menjawab, mengendalikan amarah yang tak pernah menjadi kebiasaanku.
"Dia tidak mengendalikanku."

Kathy mengangkat sebelah alisnya.

Kemarahan mencekik leherku. "Kau sendiri tidak mencari terlalu jauh untuk mendapat pasangan.
Adakah yang mengendalikan pilihan itu?"

Kathy mengabaikan amarahku dan merenungkan pertanyaan itu dengan serius.

"Mungkin," jawabnya akhirnya.

"Sulit untuk tahu. Tapi kau benar." Ia memungut benang pada keliman bajunya. Lalu, seakan sadar dirinya menghindar tatapanku, ia melipat kedua tangannya dengan tegas dan menegakkan bahu.

"Siapa tahu seberapa banyak yang berasal dari inang tertentu di planet tertentu? Seperti sudah kubilang, kurasa waktu adalah jawabanmu. Apakah pemuda itu  perlahan-lahan akan berubah diam atau apatis, lalu membiarkanmu membuat pilihan lain selain Jared, atau... well, para Pencari  sangat hebat. Mereka sudah mencari lelaki ini, dan mungkin kau akan mengingat sesuatu yang bisa membantu."

Aku tidak bergerak ketika memahami maksud Kathy. Tampaknya ia tidak memperhatikan bahwa aku terpaku di tempat.

"Mungkin mereka akan menemukan kekasih Melanie, lalu kalian bisa kembali bersama-sama. Jika perasaan lelaki itu sama kuatnya  dengan perasaan pemuda itu, jiwa yang baru mungkin bisa terpengaruh."

"Tidak!" Aku tak yakin siapa yang berteriak. Mungkin diriku. Aku juga diliputi kengerian.
Aku berdiri, tubuhku gemetar. Air mata yang begitu mudahnya mengalir kali ini tak ada, dan kedua tanganku yang gemetar  terkepal erat.

"Wanderer?"

Tapi aku berbalik dan lari ke pintu, memerangi kata-kata yang tak mungkin berasal dari mulutku. Kata-kata yang tak mungkin milikku. Kata-kata yang tak masuk akal, kecuali jika kata-kata itu milik pemuda ini. Tapi kata-kata itu terasa seperti  milikku. Kata-kata itu tak mungkin milikku. Kata-kata itu tak boleh terucap.

Itu berarti membunuh Jared! Itu berarti menghilangkan keberadaannya! Aku tidak menginginkan orang lain. Aku menginginkan Jared, bukan mahluk asing di dalam tubuhnya! Tubuh itu tak berarti tanpa dirinya.

Ketika aku berlari ke jalanan, kudengar Kathy memanggil namaku.

Aku tinggal tak jauh dari kantor Penghibur, tapi kegelapan jalanan membuatku kehilangan orientasi. Sudah dua blok kulewati ketika sadar aku lari ke arah keliru.

Orang-orang memandangku. Aku tidak berpakaian olahraga dan tidak sedang berlari. Aku kabur. Tapi tak seorang pun memedulikanku; dengan sopan mereka mengalihkan pandangan. Mereka pasti menyangka aku baru bagi inang ini. Dan aku sedang
bertingkah seperti anak-anak.

Aku memperlambat lari dan hanya berjalan, lalu berbelok ke utara sehingga bisa memutar tanpa melewati kantor Kathy lagi.

Jalanku hanya sedikit lebih lambat daripada berlari. Aku mendengar kakiku menapaki trotoar terlalu cepat, seakan mencoba menyesuaikan diri dengan irama lagu dansa. Duk, duk, duk memukul-mukul beton. Tidak, bukan seperti irama tambur, melainkan terlalu marah. Seperti kekerasan. Duk, duk, duk. Seseorang memukul orang lain. Dengan gemetar kuenyahkan gambaran mengerikan itu.
 
Aku bisa melihat lampu yang menyala di atas pintu apartemenku. Tak makan waktu lama bagiku untuk pulang. Tapi aku tidak  menyebrang jalan.

Aku merasa mual. Aku ingat bagaimana rasanya muntah, walaupun belum pernah mengalaminya. Rasa basah dingin melembapkan  keningku, suara menggema terdengar di kedua telinga. Aku yakin sekali, aku akan mengalami pengalaman muntah itu secara  langsung.

Ada gundukan rumput di samping trotoar. Di sekeliling lampu jalanan ada pagar tanaman yang terpangkas rapi. Aku tak punya  waktu untuk mencari tempat yang lebih baik. Terhuyung-huyung kuhampiri lampu itu dan kutangkap tiangnya untuk menahan  tubuhku. Rasa mual memusingkanku.

Ya, aku benar-benar akan mengalami bagaimana rasanya muntah.

"Wanderer, kaukah itu? Wanderer, kau sakit?"

Mustahil untuk memusatkan perhatian pada suara yang samar-samar kukenal itu. Tapi suara itu membuat segalanya lebih buruk,  karena aku tahu ada orang yang sedang mengamati ketika aku membungkuk mendekatkan wajah ke semak-semak dan dengan dahsyat  memuntahkan santapan terakhirku.

"Siapa Penyembuh-mu di sini?" tanya suara itu. Di antara denging di telingaku, suara itu kedengarannya sangat jauh. Ada  tangan menyentuh punggungku yang membungkuk. "Kau perlu ambulans?"

Aku batuk dua kali, lalu menggeleng. Aku yakin sudah tidak apa-apa; perutku kosong.
"Aku tidak sakit," ujarku, seraya menegakkan diri dengan berpegangan pada tiang lampu. Aku memandang sekeliling, mencari-cari siapa yang menyaksikan saat melakukan itu.

Pencari dari Chicago itu memegang ponsel, mencoba memutuskan hendak menelpon siapa. Sekali lagi aku mengamatinya baik-baik, lalu kembali membungkuk. Tak perduli perut kosong atau tidak, ia orang terakhir yang ingin kulihat saat ini.

Tapi ketika perutku mendorong sia-sia, kusadari Pencari tak punya alasan untuk hadir di sini.

Oh, tidak! Oh, tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak!

 "Mengapa?" Aku terperanjat, kepanikan dan rasa mual mencuri volume suaraku. "Mengapa kau disini? Apa yang terjadi?" Kata-kata  Penghibur yang sangat tidak menghibur berdentam di kepalaku.
Selama dua detik kutatap sepasang tangan yang mencengkeram kerah setelah hitam Pencari, lalu kusadari kedua tangan itu  milikku.
"Hentikan!" teriak Pencari. Lalu kulihat kemarahan di wajahnya. Suaranya bergetar.
Aku sedang mengguncang-guncang tubuhnya.
Sepasang tanganku langsung membuka dan mendarat di wajahku. "Maaf!" sergahku. "Maaf. Aku tak menyadari perbuatanku."
Pencari memberengut memandangku, lalu merapikan bagian depan pakaiannya. "Kau sedang sakit, dan kurasa aku mengagetkanmu."
"Aku tidak berrharap akan berjumpa denganmu," bisikku.
"Mengapa kau disini?"
"Ayo pergi ke fasilitas Penyembuhan sebelum kita bicara. Kalau terserang flu, kau harus disembuhkan. Tak ada gunanya  membiarkan penyakit itu merusak tubuhmu.”
"Aku tidak terserang flu. Aku tidak sakit."
"Kau salah makan? Harus kaulaporkan dari mana asal makanan itu."
Keingintahuannya sangat menjengkelkan. "Aku juga tidak salah makan. Aku sehat."
"Mengapa tidak meminta Penyembuh memeriksamu? Pemindaian cepat. Kau tak boleh mengabaikan inangmu. Itu tidak bertanggung  jawab. Terutama karena perawatan kesehatan sangat mudah dan efektif."
Aku menghela napas panjang dan menahan dorongan untuk kembali mengguncang-guncang tubuh Pencari. Ia sekepala lebih pendek dariku. Itu perkelahian yang akan kumenangkan.
Perkelahian? Aku berbalik darinya dan berjalan cepat ke rumahku. Aku sangat emosional sehingga membahayakan. Aku perlu menenangkan diri, sebelum melakukan hal tak termaafkan.
"Wanderer? Tunggu! Penyembuh--"
"Aku tak perlu Penyembuh," kataku, tanpa berbalik. "Ini hanya... ketidakseimbangan emosi. Aku baik-baik saja sekarang."
Pencari tidak menjawab. Aku ingin tahu apa yang dipikirkannya mengenai responku. Aku bisa mendengar sepatunya--mengetuk-ngetuk mengejarku, sehingga kubiarkan pintu terbuka, karena aku tahu ia akan membuntutiku ke dalam. Aku  pergi ke tempat cuci piring dan mengisi gelas dengan air. Pencari mengunggu diam ketika aku berkumur dan meludah. Ketika
sudah selesai, aku bersandar di meja sambil menatap bak cuci piring.
Pencari segera merasa jemu. "Jadi, Wanderer... atau masihkah kau memakai nama itu? Aku tidak bermaksud kasar dengan memanggilmu seperti itu."
Aku tidak memandangnya. "Aku masih memakai nama Wanderer."
"Menarik. Kukira kau akan memilih namamu sendiri."
"Aku memang memilih. Aku memilih Wanderer."
Sudah lama kuketahui bahwa pertengkaran kecil yang kucuri dengan di hari pertama aku terbangun di fasilitas Penyembuhan adalah kesalahan Pencari. Si Pencari adalah jiwa paling tidak bersahabat yang pernah kujumpai di dalam sembilan kehidupanku.
Penyembuh pertamaku, Fords Deep Waters, bersifat tenang, baik, dan bijak--bahkan untuk ukuran sesosok jiwa. Tapi ia tak mampu menahan diri untuk tidak bereaksi terhadap si Pencari. Ini membuatku merasa lebih baik mengenai responku sendiri.
Aku berbalik menghadap Pencari. Ia berada di sofa kecilku, duduk nyaman seakan hendak tinggal lama. Raut wajahnya menunjukkan kepuasan, matanyanya yang menonjol tampak senang. Kukendalikan keinginan untuk memberengut.
"Mengapa kau disini?" tanyaku lagi. Suaraku datar. Terkendali. Aku tak mau kehilangan kendali lagi di hadapan lelaki ini.
"Sudah lama aku tidak mendengar apa-apa darimu, jadi kupikir aku akan mengecek secara pribadi. Kami masih belum memperoleh kemajuan dalam kasusmu."
Kedua tanganku mencengkeram tepi meja di belakangku, tapi kusembunyikan kelegaan luar biasa itu dari suaraku.
"Tampaknya kau... terlalu bersemangat. Lagi pula aku mengirimu pesan semalam."
Sepasang alis Pencari bertaut, seperti yang biasa ia lakukan, membuatnya tampak marah dan jengkel pada saat bersamaan seakan akulah, bukan dirinya, yang bertanggung jawab atas kemarahannya. Ia mengeluarkan komputer genggam dan menyentuh layarnya beberapa kali.
'Oh, ujarnya kaku. "Hari ini aku belum mengecek e-mail."
Ia terdiam ketika membaca apa yang kutulis.
"Kukirim pagi-pagi sekali," kataku. "Aku masih setengah tidur saat itu. Aku tak yakin seberapa banyak yang kutulis adalah ingatan atau mimpi, atau mungkin aku mengetik sambil tidur."
Kulanjutkan kata-kata itu--kata-kata Melanie--yang mengalir dengan mudahnya dari bibirku. Aku bahkan menambahkan tawa riangku sendiri di bagian akhir. Ketidakjujuranku. Perilaku memalukan. Tapi aku takkan membiarkan Pencari tahu aku lebih lemah daripada inangku.
Kali ini Melanie tidak merasa bangga telah mengalahkanku. Ia terlalu lega, kelewat berterima kasih karena aku--berdasarkan alasan-alasan remehku sendiri--belum mengungkapkan keberadaannya.

"Menarik," gumam Pencari. "Satu manusia lagi yang masih berkeliaran." Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Kedamaian terus mengelabui kita." Tampaknya ia tidak mencemaskan gagasan mengenai kedamaian yang rapuh--itu kelihatannya malah membuatnya gembira.
 Aku menggigit bibir kuat-kuat. Melanie ingin sekali mengungkapkan penyangkalan lain, menyatakan anak laki-laki itu hanyalah bagian dari mimpi. Jangan tolol, ujarku kepadanya. Itu terlalu mencolok. Berdasarkan sifat menjijikan Pencari, ia pasti bisa menganggapku dan Melanie bersekongkol menentangnya.
Aku membencinya. Bisikan Melanie terasa tajam, menyakitkan bagai luka.
Aku tahu, aku tahu. Kuharap bisa kusangkal bahwa aku merasakan... hal yang sama. Kebencian adalah emosi yang tak termaafkan. Tapi... sangatlah sulit untuk menyukai Pencari. Mustahil.
Pencari menyela percakapan internalku. "Jadi, selain lokasi baru untuk ditinjau, kau belum bisa membantuku lagi dalam hal peta perjalanan?"
Kurasakan tubuhku bereaksi terhadap nada mengkritik itu. "Aku tak pernah menyatakan garis-garis itu sebagai garis-garis di  peta perjalanan. Itu asumsimu. Dan tidak, aku tidak punya informasi apa-apa lagi."
Ia berdecak cepat tiga kali. "Tapi katamu itu petunjuk."
"Itu dugaanku. Aku tidak mendapat apa-apa lagi."
"Kenapa tidak? Sudahkan kau tundukkan manusia itu?" Ia tertawa keras-keras. Menertawakanku.

Aku berbalik memunggunginya dan berkonsentrasi menenangkan diri. Aku mencoba berpura-pura Pencari tak ada di sana, dan aku sedang sendirian di dapurku yang sederhana, menatap ke luar jendela, memandangi petak kecil langit malam, memandangi tiga bintang terang yang bisa kulihat melalui jendela.
Well, sama sendiriannya seperti yang pernah kualami.
Ketika kutatap titik-titik cahaya mungil di dalam kegelapan itu, garis-garis yang telah berulang kali kulihat--di dalam mimpi-mimpiku dan di dalam ingatan-ingatan terpisahku, yang muncul di saat-saat aneh dan tidak berhubungan--berkelebat di kepalaku.
Yang pertama: lengkungan kasar, lalu belokan tajam ke utara. belokan tajam lagi ke arah berlawanan, berputar balik lagi ke  utara dan agak memanjang, lalu mendadak turun ke selatan, dan mendatar membentuk lengkungan landai lain.
Yang kedua : zigzag kasar, empat garis turun-naik tajam, tapi anehnya ujung kelimanya tumpul, seakan patah...
Yang ketiga: gelombang lembut, disela tonjolan mendadak yang membentuk jari kurus panjang ke utara dan kembali.
Tak bisa dipahami, tampaknya tidak berarti. Tapi aku tahu itu sesuatu yang penting bagi Melanie. Sejak awal aku sudah tahu. Ia jauh lebih melindungi rahasia ini daripada rahasia-rahasia lainnya, kecuali rahasia tentang anak laki-laki itu--adiknya.
Aku sama sekali tidak mengetahui keberadaan Jamie sebelum mimpi semalam. Aku ingin tahu apa yang membuat Melanie membocorkan rahasia itu. Mungkin ketika ia terdengar semakin lantang di dalam kepalaku, ia akan membocorkan lebih banyak lagi rahasianya
kepadaku.

Mungkin ia bakal salah omong, dan aku akan mengetahui apa arti garis-garis aneh ini. Aku tahu garis-garis itu ada artinya.
Menuntun ke sebuah tempat.
Dan tepat saat itu, dengan gema tawa Pencari masih bergayut di udara, mendadak kusadari mengapa garis-garis itu begitu penting.
Tentu saja garis - garis itu akan menuntun Melanie kembali kepada Jared. Kembali kepada mereka berdua, Jared dan Jamie.
Kemana lagi? Lokasi apa lagi yang berarti baginya? Tapi baru sekarang kusadari garis-garis itu tidak menuntunnya kembali, karena tak satu pun dari mereka yang pernah menelusuri garis-garis itu. Garis - garis itu juga merupakan misteri bagi pemuda ini, sama seperti bagiku, sampai...
Dinding itu menghalangi perlahan-lahan. Perhatian Melanie terbagi. Perhatiannya terarah kepada Pencari daripada kepadaku. Ia gelisah di dalam kepalaku ketika mendengar suara di belakangku, dan untuk pertama kali kusadari Pencari sedang berjalan menghampiriku.
Pencari menghela napas. "Aku berharap lebih darimu. Catatan prestasimu tampak sangat menjanjikan."
"Sayang sekali kau sedang tidak bebas untuk mengerjakan sendiri tugas ini. Aku yakin seandainya kau harus menangani seorang inang pemberontak, itu sepele bagimu." Aku tidak berbalik memandangnya. Suaraku tetap datar.
Ia mendengus. "Gelombang pertama sudah cukup menantang, walaupun tanpa inang pemberontak."
"Ya. Aku sendiri pernah mengalami beberapa peristiwa pendudukan."
Pencari mendengus. "Apakah See Weed sulit sekali dijinakkan? Apakah mereka kabur?"
Kujaga ketenangan suaraku. "Kami tak mendapat masalah di Kutub Selatan. Tentu saja Kutub Utara masalah lain. Tempat itu ditangani dengan buruk. kami kehilangan seluruh hutan."
Kesedihan ketika mengingat peristiwa itu bergema di balik kata-
kataku.
Seribu mahluk yang sangat peka, memilih memejamkan mata selamanya daripada menerima kami. Mereka menggulung daun-daun mereka untuk menghindari semua matahari, lalu mati kelaparan.
Hebat sekali, bisik Melanie. Tak ada kebencian yang melekat pada pikiran itu, yang ada hanya persetujuannya, ketika ia menghormati tragedi di dalam ingatanku itu.
Betapa sia-sianya. Kubiarkan kesedihan atas peristiwa itu--perasaan pikiran-pikiran mati yang menyiksa akibat penderitaan yang dialami hutan saudara kami--menguasai kepalaku.
Jalan apa pun akan berujung pada kematian.
Si Pencari bicara, dan aku mencoba memusatkan perhatian pada satu percakapan saja.
"Ya". Suaranya kedengeran tidak nyaman. "Pelaksanaannya sangat buruk."
"Kau harus selalu berhati-hati ketika mengalihkan kekuasaan. Beberapa di antara kita tidak terlalu berhati-hati, seperti yang seharusnya dilakukan."
Pencari tidak menjawab, dan aku mendengarnya bergerak mundur beberapa langkah. Semua jiwa tahu kesalahan langkah di balik bunuh diri massal itu diakibatkan para Pencari. Karena See Weed tidak bisa kabur, mereka menganggap remeh kemampuan mahluk itu untuk meloloskan diri. Mereka maju dengan ceroboh, memulai pendudukan pertama sebelum jumlah kami memadai untuk penyesuaian diri skala besar.
Saat Para Pencari menyadari kemampuan See Weed dan apa yang bersedia mereka lakukan, semuanya sudah terlambat. Pengiriman jiwa-jiwa berhibernasi berikutnya masih terlalu jauh. Dan, sebelum mereka tiba, hutan utara sudah habis.
Kini aku menghadap Pencari, penasaran ingin menilai dampak kata-kataku. Ia tetap tenang, menatap putih kosongnya dinding telanjang di seberang ruangan.
"Maaf aku tidak bisa membantumu lebih jauh." Kuucapkan kata-kata itu dengan tegas. Aku mencoba mengusirnya secara terang-terangan. Aku ingin memiliki rumahku untukku sendiri lagi.
Untuk kita sendiri, sela Melanie garang. Aku mendesah. Kini pemuda ini merasa sangat bangga pada dirinya sendiri. "Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot datang sejauh ini."
"Sudah tugasku," jawab Pencari. Ia mengangkat bahu. 
"Kau satu-satunya tugasku. Sampai aku menemukan mereka semua, mungkin aku akan tetap berada di dekatmu dan berharap memperoleh keberuntungan."
.
.
.
TO  BE CONTINUED
.
.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar