KEKUATAN SUPRANATURAL MENURUT AL-QUR'AN
Al-Tanwir
Nomor: 147-Edisi:
15 September 1999/5 Jumadil Akhir 1420 H
KH. Jalaluddin
Rakhmat
Dengan nama Allah
Mahakasih Mahasayang
Ya Allah, tundukkan
kepadaku musuh-musuhku
seperti Kau tundukkan
angin kepada Sulaiman bin Dawud as
Lunakkan mereka kepadaku
seperti Kau lunakkan besi
kepada Dawud as
Hinakan mereka di
hadapanku
seperti Kau rendahkan
Fir’aun di hadapan Musa as
Kalahkan mereka untukku
seperti Kau kalahkan Abu
Jahal kepada Muhammad saw.
Demi hak Kaf
Ha Ya ‘Ain Shad Ha Mim ‘Ain Sin Qaf
Tuli, bisu, buta dan mereka tidak kembali
Tuli, bisu, buta dan
mereka tidak melihat
Tuli, bisu, buta dan
mereka tidak berfikir
Maka Allah akan melindungi
kamu menghadapi mereka
Dan Dia Maha Mendengar
Maha Mengetahui
Semoga Allah melimpahkan
kesejahteraan kepada makhluk utama-Nya Muhammad dan semua keluarganya
Bismillahirrahmanirrahim.
Demi kehormatan Kaf
Ha Ya ‘Ain Shad Ha Mim ‘Ain Sin Qaf
Tiada daya, tiada kekuatan
kecuali karena Allah yang Maha Tinggi Maha Agung.[i]
Doa di atas, yang saya
kutip dari sebuah kitab lama, memohon agar Tuhan menganugrahkan kekuatan
supranatural. Dengan merujuk kepada mukjizat para rasul,
huruf-huruf muqaththa’ah,
dan ayat-ayat Al-Quran, pembaca doa ingin menaklukkan musuh-musuhnya.
Kata “musuh” bisa saja diganti dengan nama Fulan bin Fulan. Sebagaimana ia
mempercayai adanya kekuatan adikodrati pada para rasul, ia juga yakin Tuhan
akan memberinya “percikan” dari kekuatan itu. Siapa pun yang mengamalkannya
dan apa pun yang dibacanya, doa diyakini oleh kaum mukmin sebagai senjata
supranatural. Nabi Muhammad saw bersabda, “Takutilah olehmu doa orang yang
tertindas; karena antara mereka dengan Tuhan tidak ada penghalangnya.” Ketika
orang yang dizalimi dalam keadaan tidak berdaya (dan seringkali juga tidak ada
harapan), ia mencari kekuatan tambahan di atas kekuatan alamiah yang
dimilikinya dengan doa. Karena itu, keyakinan pada kekuatan doa memperkokoh
keyakinan akan adanya kausalitas yang bersifat supranatural.
Kepercayaan akan mukjizat
sebagai contoh kekuatan supranatural sudah menjadi ijmak kaum
muslimin. Tetapi, pada satu babakan dalam sejarah pemikiran Islam, para
ulama mufasir sering menolak hal-hal yang supranatural. Mereka
berusaha menyimpangkan arti ayat-ayat yang berkenaan dengan mukjizat atau
keramat. Mereka menjelaskan makna ayat-ayat itu begitu rupa
sehingga mukjizat sama sekali bukan “miracle”,
tetapi hal-hal yang alamiah saja. Muhammad Abduh, sebagaimana dilaporkan Sayyid
Rasyid Ridha, mengambil mazhab penafsiran seperti ini. Ia
dilanjutkan oleh mufasir modernis seperti Al-Maraghi, Al-Qasimi, dan
Al-Jawhari. Dengan semangat berlebihan untuk menunjukkan betapa
ilmiahnya Al-Quran, mufasir seperti Maulana Muhammad Ali mengubah
kata-kata yang menunjukkan kekuatan supranatural menjadi metafora saja.
Sayyid
Al-Thabathabai mengkritik tafsir modernis ini sebagai inhiraf: “Belakangan ini
sebagian peneliti telah melakukan inhiraf
dengan menjelaskan pengetahuan Ilahiyyah dan realitas keagamaan berdasarkan
ilmu-ilmu alamiah. Penjelasan itu didasarkan kepada teori materialistik. Mereka
berpendapat bahwa persepsi manusia bersifat material dan berasal dari otak.
Semua kesempurnaan baik bersifat individual maupun sosial hanyalah perkembangan
materi.
“Mereka menyebutkan bahwa
kenabian hanyalah sejenis kekuatan intelektual yang sangat tajam, jenius
intelektual. Seorang jenius yang bernama Nabi melihat pada kondisi sosial
kaumnya. Ia ingin membebaskan mereka dari tradisi yang primitif menuju
peradaban yang lebih tinggi. Ia mengubah kepercayaan dan pandangan kaumnya dan
menyesuaikannya dengan kebutuhan masa dan tempat dengan cara sebaik-baiknya.
Dalam hubungan inilah ia merumuskan prinsip-prinsip sosial dasar dan menetapkan
aturan-aturan praktis untuk meningkatkan standar kehidupan mereka, mengangkat
akhlak mereka, dan membuat mereka menjadi anggota masyarakat yang lebih baik.
Berdasarkan pada teori ini mereka menyatakan bahwa: (1) Nabi adalah manusia
pemikir yang jenius, yang menyeru kaumnya kepada reformasi kehidupan sosial;
(2) Wahyu hanyalah pikiran yang mulia di dalam otaknya; (3) Bahwa kitab Samawi
hanyalah kumpulan pikiran yang mulia ini, yang bersih dari kepentingan diri dan
tujuan-tujuan pribadi; (4) Malaikat yang menurut Nabi mendatanginya hanyalah kekuatan
alamiah yang mengatur peristiwa-peristiwa alam atau kekuatan psikologis yang
menggerakkan manusia menuju kesempurnaan. Ruh kudus hanyalah salah satu tingkat
dari ruh alamiah yang materialistis, yang memasukkan pikiran suci pada jiwa
nabi. Setan sebaliknya adalah kekuatan material yang meracuni jiwa dan
memasukkan pikiran-pikiran rendah yang membawa manusia kepada perilaku buruk
yang merusak masyarakat. Dengan cara inilah mereka menafsirkan realitas yang
diberitakan para nabi seperti Loh,
Kalam, ‘Arasy, Kursy, Kitab, Hisab, Surga, Neraka; (5) Agama
hanyalah produk zaman yang berubah dengan perubahan waktu; (6) Mukjizat yang
dinisbahkan kepada para nabi hanyalah khurafat
yang dibuat-buat untuk memperkuat keimanan rakyat biasa atau untuk memelihara
posisi para pemimpin agama di depan pengikut-pengikutnya.
“Inilah secara singkat
penjelasan mereka. Kenabian dalam pandangan mereka hanyalah alat politik dan
bukan realitas ilahiyyah.
Penting untuk dicatat bahwa kitab-kitab samawi dan hadis-hadis Nabi yang sampai
kepada kami tidak bisa menerima penafsiran seperti ini. Yang mendorong mereka
mengambil tafsir seperti ini adalah ketundukkan mereka kepada teori-teori
materialistik, sehingga mereka menolak hal-hal yang supranatural. Mereka
menafsirkan realitas metafisik dengan membawanya kepada penjelasan yang murni
materi”[ii]
Kita akan memberikan
beberapa contoh dari tafsir seperti ini dengan mengutip Al-Manar dan Quran
Suci: Terjemah dan Tafsir.
Tafsir Materialistik
Para mufasir
modernis menolak adanya fenomena supranatural. Jika kemudian dalam
Al-Quran terdapat kisah-kisah yang gaib, yang tidak dapat dijelaskan
secara ilmiah, mereka melihat kata-kata dalam Al-Quran sebagai
metafora. Dalam Al-Quran beberapa kali dikisahkan orang yang
dimatikan kemudian dihidupkan kembali, atau dengan izin Allah Ibrahim
menghidupkan burung yang sudah dipotong-potong, Isa menghidupkan burung yang
dibuat dari tanah. Menghidupkan yang sudah mati adalah hal yang sukar diterima
dan tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Karena itu, kata “menghidupkan” dan
“mematikan” diberi makna kiasan.
Ketika menjelaskan
Al-Baqarah 243, “Apakah
kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka,
sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman
kepada mereka: ”Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya
Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak
bersyukur”, Sayyid Rasyid Ridha menulis:
“Tuhan ingin menjelaskan
sunnahnya berkenaan dengan bangsa-bangsa yang dilanda sifat pengecut sehingga
tidak bisa melawan musuh yang menyerang mereka. Makna kehidupan umat dan
kematiannya cukup dipahami oleh kebanyakan orang. Kematian kaum tersebut
terjadi karena musuh mengalahkan mereka dan menghilangkan kekuatan mereka,
menghilangkan kebebasan mereka sebagai bangsa. Jadilah mereka bangsa yang tidak
diperhitungkan karena kesatuannya sudah bercerai-berai. Anggota-anggota bangsa
itu sudah tunduk kepada penjajah mereka sehingga mereka tidak lagi memiliki
wujud, karena wujud mereka tunduk pada wujud orang lain. Arti kehidupan bangsa
adalah kembalinya lagi kebebasan kepada bangsa itu. Salah satu dari kasih sayang
Allah swt kepada manusia adalah menurunkan musibah kepada mereka sebagai
pelajaran dan pensucian dari akhlak yang tercela. Allah menimbulkan kesadaran
kepada kaum itu akibat sifat pengecut mereka dan kepahitan perpecahan di antara
mereka. Setelah timbul kesadaran mereka menghimpun kekuatan mereka, memperkokoh
ikatan di antara mereka sehingga mereka memperoleh kembali kekuatan dan
kesatuan mereka yang perkasa. Dengan begitu mereka berhasil keluar dari
kehinaan penghambaan kepada kemuliaan kemerdekaan. Inilah makna kehidupan dan
kematian bangsa. Satu bangsa mati ketika mereka menerima kezaliman sehingga
keadaan mereka seperti bangkai. Tidak keluar dari mereka karya-karya dinamis…[iii]
Dengan cara yang hampir
sama, Sayyid Rasyid Ridha menafsirkan Al-Baqarah 260: “Dan ingatlah ketika Ibrahim
berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang
mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah
meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah
berfirman: “(Kalau demikian) Ambillah empat ekor burung dan cincanglah semuanya
olehmu. (Allah berfirman) Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu
bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggilllah mereka, niscaya mereka
datang kepadamu dengan segera dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana.”
Sayyid Rasyid Ridha
mengutip pendapat jumhur mufasir bahwa Ibrahim mencincang empat ekor
burung menjadi beberapa potong. Setiap potong diletakkan di bukit yang
berbeda. Ibrahim memanggil burung-burung itu. Mereka datang kepadanya.
Dengan cara itulah Tuhan menunjukkan bagaimana menghidupkan yang mati. Sayyid
Rasyid Ridha segera mengutip dan menyetujui pendapat Abu Muslim yang
menolak penafsiran Jumhur. Menurut Abu Muslim, kata “fa shurhunna” berarti
“cenderungkanlah mereka” atau “jinakkan mereka”, bukan “cincanglah mereka”.
Nabi Ibrahim as melatih burung-burung itu, menjinakkannya, lalu menempatkannya
pada bukit-bukit yang berjauhan. Kemudian ia memanggilnya, dan burung-burung
itu pun berdatangan, seperti merpati-merpati pos. Seperti itulah nanti Allah
membangkitkan orang-orang yang mati. Dia cukup memanggilnya, “Hiduplah kamu
semua.” [iv]
Al-Fakhr Al-Razi
mengemukakan kritik pada pendapat Abu Muslim. Salah satu argumentasinya –yang
menurut saya sangat kuat- ialah sekiranya yang dilakukan Ibrahim itu seperti
itu, maka apa kelebihan Ibrahim dibandingkan dengan yang lain. Dengan cara itu,
semua orang bisa melakukannya. Mukjizat tidak lagi “mukjizat”, tetapi
hal-hal biasa yang sehari-hari kita temukan. Saya tidak akan
mengutip pembelaan Sayyid Rasyid Ridha pada Abu Muslim dalam
hal ini.
Dalam peristiwa
penyembelihan sapi untuk membongkar siapa yang membunuh seseorang pada
zaman Bani Israil, Sayyid Rasyid Ridha juga menolak cerita hidupnya
kembali orang yang terbunuh itu. Ia merujuk pada syariat di kalangan Bani
Israil bila terjadi pembunuhan misterius. Mereka harus membasuh
tangannya. Jika ada yang tidak mau membasuhnya, jelaslah dia yang bersalah.
Dengan begitu terpeliharalah masyarakat dari perpecahan karena saling
menuding. Inilah yang dimaksud dengan “menghidupkan”; yakni memelihara
agar darah tidak tumpah akibat perpecahan.[v]
Sayang sekali, Sayyid Rasyid Ridha tidak menjelaskan apa yang dimaksudkan
dengan “pukullah dengan sebagian dari daging sapi itu.” Lagi pula, syariat
seperti yang disebutkannya tidak terdapat di kalangan Bani Israil. Ia pun tidak
menunjuk sumbernya.
Upaya untuk menundukkan
peristiwa supranatural –seperti mukjizat- pada penjelasan “ilmiah” seringkali
tidak berhasil. Saya lihat Sayyid Rasyid Ridha sangat kesulitan ketika
menjelaskan –sehingga ia tidak menjelaskan apa pun- tafsir Ali Imran ayat 49: Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil
(yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan
membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu
dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor
burung dengan kehendak Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari
lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati
dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang
kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda
(kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”
[vi]
Apa yang tidak dapat
dijelaskan Sayyid Rasyid Ridha kemudian diterangkan oleh Maulana Muhammad
Ali:[vii]
Dengan penafsiran seperti
itu, tentu saja fenomena supranatural dinafikan. Para mufasir ini
tampaknya “risih” untuk menerima fenomena yang tidak dapat dijelaskan
secara ilmiah. Generasi mufasir ini memang lahir di tengah arus
modernisasi yang ditandai dengan rasionalitas, materialisme, dan positivisme
sains. Perkembangan penelitian mutakhir[viii]
dan kelahiran pascamodernisme melihat penafsiran seperti ini
sebagai sangat naif.
Tafsir Spiritual dari Peristiwa Supranatural
Al-Quran berulangkali
menjelaskan kekuatan supranatural yang dianugrahkan Tuhan kepada para rasul.
Sulaiman as memahami bahasa burung, menundukkan makhluk gaib seperti jin dan
Ifrit, menaklukkan angin sehingga angin bergerak sesuai dengan perintahnya.
Dawud as melunakkan besi dengan jari-jarinya. Ibrahim as mengubah panas api
menjadi dingin dan menghidupkan burung yang sudah dicincangnya. Musa as
mengalahkan tukang-tukang sihir, membelah lautan, dan mengeluarkan air dari
bebatuan semuanya dengan tongkatnya. Isa as menyembuhkan yang sakit dan
menghidupkan yang mati. Yusuf as menyembuhkan kebutaan ayahnya dengan
mengusapkan pakaiannya ke matanya. Muhammad saw membelah bulan.
Di samping kekuatan
supranatural, Al-Quran menceritakan juga pengetahuan supranatural (ilmu gaib)
yang dimiliki para Nabi as:
1.
Nabi Adam as mengetahui nama-nama
yang tidak diketahui oleh para malaikat (QS. Al-Baqarah 31-33).
2.
Nabi Nuh as mengetahui bahwa tidak
akan bertambah orang yang beriman kepadanya dan bahwa orang-orang kafir di
tengah-tengah kaumnya hanya akan melahirkan generasi yang durhaka saja (QS. Hud
36; QS. Nuh 26-27).
3.
Nabi Ibrahim as melihat
(diperlihatkan kepadanya) alam malakut di langit dan bumi (QS. Al-An’am 75).
4.
Nabi Ya’qub as mengetahui apa yang bakal
terjadi pada putranya Yusuf as dan kelak tahu bahwa Yusuf masih hidup (QS.
Yusuf 4-6, 13, 18).
5.
Nabi Luth as mengetahui bahwa kaumnya akan
dibinasakan pada waktu Subuh (QS. Hud 81).
6.
Nabi Yusuf as mengetahui takwil mimpi dan
meramalkan apa yang bakal terjadi pada orang yang bermimpi itu (QS. Yusuf 101,
36-41, 43-49).
7.
Nabi Shalih as menubuwat-kan bahwa kaumnya akan
menerima azab setelah tiga hari (QS. Hud 64-65; QS. Al-Dzariyyat 43-44).
8.
Nabi Isa as mengetahui apa yang akan dimakan
oleh kaumnya dan apa yang mereka simpan (QS. Ali Imran 49).
9.
Nabi Muhammad saw mengetahui bahwa
istrinya menyebarkan rahasianya (QS. Al-Tahrim 13)
10.
10. Yang sangat terkenal, Nabi
Khidhir mengetahui apa yang bakal terjadi dan melakukan berbagai tindakan untuk
menghindarkan kecelakaan (QS. Al-Kahf 60-82).
Kekuatan dan pengetahuan
supranatural juga dapat terjadi pada orang-orang yang bukan Nabi. Sihir
termasuk di antaranya. Kita tidak membicarakan sihir pada kesempatan sekarang,
karena kita telah membicarakannya pada waktu yang lain.
Kisah Ashaf bin
Burkhaya. Al-Quran bercerita tentang kisah Nabi
Sulaiman as dan ratu Bilqis: “Berkata
Sulaiman: Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup
membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai
orang-orang yang berserah diri. Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin:
“Aku akan datangkan kepadamu singgasana itu sebelum kau berdiri dari tempat
dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: Aku akan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di
hadapannya, ia pun berkata: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba apakah
aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (QS. Al-Naml 38-40.)
Di sini dikisahkan
kekuatan supranatural yang dimiliki oleh “seorang yang mempunyai ilmu
dari Al-Kitab”. Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang orang ini.
Sebagian mengatakan orang ini malaikat Jibril atau malaikat lain yang
ditugaskan untuk membantu Nabi Sulaiman as. Menurut Ibn Abbas orang itu
ialah Ashaf bin Burkhaya, wazir Sulaiman. Ia mengetahui nama Allah yang
agung, yang bila berdoa dengan nama itu, Allah akan mengabulkannya. Yang lain
berkata: Orang itu Nabi Khidhir as. Dr. Al-Zuhaili menulis selanjutnya, “Yang
benar adalah pendapat Al-Razi. Orang itu Sulaiman as, karena ia lebih
mengetahui Al-Kitab daripada yang lain dan karena ia seorang Nabi.” Tetapi kata
Abu Hayyan, “Pendapat yang paling aneh ialah orang itu Nabi Sulaiman.
Seakan-akan ia berkata kepada dirinya: Aku akan datangkan kepadamu sebelum
matamu berkedip.”[ix]
Al-Fakhr Al-Razi memang
lebih suka menisbatkan orang itu kepada Nabi Sulaiman dengan alasan: (1) Kata alladzî menurut bahasa
menunjukkan orang tertentu; dan orang yang dikenal mengetahui ilmu Al-Kitab
adalah Sulaiman as. Ia lebih tahu tentang Al-Kitab karena ia nabi; (2)
Mendatangkan singgasana pada waktu yang begitu cepat menunjukkan derajat yang
tinggi. Sekiranya yang melakukannya Ashaf, bukan Sulaiman, tentulah Ashaf lebih
utama dari Sulaiman. Hal yang tidak mungkin; (3) Sekiranya Sulaiman memerlukan
bantuan Ashaf, berarti kedudukan Sulaiman kurang di mata manusia; (4) Sulaiman
berkata, “Ini adalah karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur
atau kufur.” Ini menunjukkan bahwa peristiwa yang menakjubkan itu dimunculkan
Tuhan karena doa Sulaiman as.[x]
Seperti Abu Hayyan, saya
kita menisbahkan orang itu kepada Nabi Sulaiman as bertentangan dengan konteks
kalimat. Bukankah Sulaiman meminta kepada para pembesarnya untuk mendatangkan
singgasana itu? Jika orang itu Sulaiman, mata siapa yang berkedip itu?
Sebagaimana pendapat jumhur mufasirin, dan berdasarkan banyak hadis[xi],
kita harus menisbahkan orang itu kepada Ashaf bin Burkhaya. Ia itu orang yang
sangat berilmu, wazir Nabi Sulaiman, dan dalam satu riwayat disebut-sebut
sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjalankan pemerintahan sepeninggalnya.
Terjadi juga ikhtilaf
tentang apa yang dimaksud “ilmu dari Al-Kitab”. Yang paling mashur di kalangan ‘urafa, Al-Kitab yang
dimaksud adalah Kitab Al-Ma’rifat
Al-Rabbaniyyah, yang terdiri dari pengetahuan tentang asma Allah.
pengetahuan ini disebut juga sebagai pengetahuan tentang 72 huruf dari 73 huruf
kitab makrifat. Dr. Al-Shadiqi menjelaskan tafsir ruhaniah dari ayat di atas
sebagai berikut:[xii]
Satu huruf dari Nama yang
Agung ini dikhususkan kepada Tuhan, yaitu dimensi zat, sifat zat, dan hakikat
sifat fi’liyah.
Semua huruf yang lain adalah dimensi-dimensi makrifat yang dibagikan kepada
hamba-hamba Allah yang mukhlis. Setiap kali bertambah huruf-huruf makrifat ini,
bertambahlah syariat yang dipikul oleh pemiliknya. Allah pun menambah
penampakkan (mazhar)
pada ayat-ayat pengetahuan dan kekuasaan-Nya, “Wahai hamba-Ku, taatilah Aku
sehingga Aku jadikan kamu seperti Aku. Aku berkata kepada sesuatu jadilah, maka ia pun menjadi.” Betapa
pun berbedanya “kun”
takwiniyah dari Tuhan sendiri.
Ashaf bin Burkhaya adalah
hamba Allah yang mukhlis. Dengan pensucian dirinya, ia dianugrahi Allah
pengenalan akan asma Allah yang Agung. Ia menyerap sifat-sifat Tuhan, termasuk
kalimat “kun”.
Dengan itu ia mengeluarkan kekuatan yang supranatural, karena ia sudah menjadi mazhhar dari kekuasaan
Tuhan. Ia menjadi tajalliyat
dari Allah sendiri. Dalam istilah Ibn ‘Arabi, ia menjadi insan kamil. Dengan
demikian, manusia selain Nabi, melalui proses pensucian diri dan penyerapan
asma Allah, akan sanggup melahirkan peristiwa-peristiwa supranatural. Bukan
mukjizat, tetapi keramat. Perbedaan istilah itu juga menunjukkan hirarki
kekuatan itu di alam semesta.
Contoh lain dalam Al-Quran
tentang manusia biasa yang dianugrahi Allah kekuatan supranatural adalh Maryam.
Al-Quran melukiskan Maryam sebagai perempuan yang saleh, yang menghabiskan
waktunya dalam mihrab. Tuhan menurunkan makanan dari langit ke mihrabnya (QS.
Ali Imran 37). Ia juga diberi kekuatan luar biasa untuk menjatuhkan buah kurma
dengan menggerakkan batang pohonnya ketika ia sedang dilanda sakit pada waktu
melahirkan. (QS. Maryam 23-26)
Kisah Samiri.
Al-Quran juga bercerita tentang seseorang yang berhasil membuat patung yang
bisa berbicara. Dengan patung itu, ia membawa Bani Israil yang ditinggalkan
Musa as kepada kesesatan (QS. Thaha 88). Ketika Musa as menyaksikan keajaiban
patung emas yang dibuat Samiri, berkata
Musa, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) Hai Samiri?” Samiri menjawab,
“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil
segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya dan demikianlah nafsuku
membujukku.” (QS. Thaha 95-96)
Dalam kisah ini, Al-Quran
menceritakan manusia biasa, bahkan orang yang fasik, berhasil melahirkan
kekuatan supranatural, karena ia memanfaatkan “segenggam dari jejak Rasul.”
Para ahli tafsir meriwayatkan berbagai keterangan tentang ini. Sebagian
mengatakan bahwa ketika Bani Israil menyeberangi Laut Merah, Samiri melihat
malaikat Jibril berjalan di hadapannya menunggang kuda. Rasul di situ adalah
Jibril. Ia mengambil tanah yang diinjak oleh malaikat. Tanah itu dimasukan ke
dalam adonan patung emas yang dibikinnya. Dengan “berkat” tanah itu, patung itu
mempunyai kekuatan gaib.
Sebagian ahli tafsir
mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Rasul di situ adalah Nabi Musa as. Siapa
saja yang dimaksud, Al-Quran mengajarkan bahwa orang dapat memperoleh kekuatan
gaib dengan mengambil berkat dari jejak Rasul.
______________________________________________
Makalah KH. Jalaluddin
Rakhmat pada Klub Kajian Agama Paramadina, Kekuatan
Supranatural Dalam Al-Quran, tanggal 21 Juni 1996, di Jakarta.
[i]
Bunyi doa ini dalam bahasa Arab sbb:
[ii]
Ath-Thabathabai. Al-Mizan
fi Tafsir al-Quran. Beirut: Al-`A’lami li al-Matbu’at, 1973.
I:87-88.
[iii]
Sayyid Rasyid Ridha. Tafsir
al-Manar. Beirut: Dar al-Makrifah, tanpa tahun. II:458.
[iv]
ibid. III:56
[v]
ibid. I:351
[vi]
ibid. III: 311
[vii]
Muhammad Ali. Qur’an Suci: Terjemah dan Tafsir. Jakarta: Darul Kutubil
Islamiah, 1986, hal. 183.
[viii]
Michael Murphy melakukan penelitian selama tiga puluh tahun tentang
apa yang disebutnya sebagai “extraordinary physcal, mental, and spiritual
capacities.” Ia menegaskan bahwa kemampuan supranatural sebanarnya
hanyalah perkembangan lebih lanjut dari evolusi manusia -inorganis,
biologis, psikososial, spiritual. Lihat Michael Murphy. The Future of Human Body.
Los Angeles: Jeremy P. Tarcher, 1992. Untuk memperoleh hasil penelitian
psikis (psychical research) yang mudah dibaca dan menarik, bacalah Collin
Wilson. Ed. The Giant
Book of the Supernatural: Unlock the Earth’s Hidden Mysteries. Sydney:
The Book Company International, 1994.
[ix]
Dr Wahbah al-Zuhaily. Al-Tafsir
al-Munir. Damaskus: Dar al-Fikr, 1991, XIX : 303.
[x]
Al-Fakhr Al-Razi. Al-Tafsir
Al-Kabir, Beirut: Dar Al-Fikr, 1990, XXIV:198
[xi]
Lihat hadis-hadis itu pada Jalaluddin Al-Suyuthi. Tafsir Al-Dûrr Al-Mantsûr.
[xii]
Dr. Muhammad Al-Shadiqi, Al-Furqân
fî tafsîr Al-Qur’ân wa Al-Sunnah, Beirut: Dâr Al-Turats Al-Islâmy,
1365 H XXIX:205. Al-Shadiqi juga menjelaskan bahwa memindahkan benda dari jarak
jauh dengan cepat tidak lagi aneh dalam sains modern. Ia menjelaskan perubahan
energi menjadi massa dan sebaliknya. Tidak ada tempat yang cukup dalam makalah
ini untuk mengutip penjelasan Al-Shadiqi.
Sumber: https://banjarpanepen.wordpress.com/2010/06/21/kekuatan-supranatural-menurut-al-quran/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar