UNKNOWLEDGEABLE LOVE
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun,
Park Chanyeol
Support Cast: Oh Sehun, Wu
Yifan (Kris), Xi Luhan, Yixing, Kim Junmyeon (Suho) and other cast~~
Genre: Crime, Romance,
Drama, Hurt/Comfort
Rated: T
Disclaimer: Para tokoh
milik kita semuaaaa hehe. Untuk cerita asli dari pikiran aku sendiri.
Summary: Baekhyun membantu
penyelidikan kasus kepolisian. Rasa penasarannya yang begitu besar terhdap
kasus kakaknya dan mencoba menyelidikinya. Baekhyun tak tahu kalau itu semua
menuntunnya kepada Chanyeol.
HAPPY
READING^^
.
.
.
UNKNOWLEDGEABLE LOVE
CHAPTER 1
.
.
.
Dibalik
pintu besi keabuan dengan jendela jeruji besi kecil yang menyatu diatasnya,
seorang lelaki dengan mata abu-abu tajam sedang berdiri menatap langit-langit
ruangan. Kedua tangannya masuk kedalam kantung celana orangenya. Pemuda
tersebut berperawakan tinggi. Rahangnya keras. Jenggot dan kumisnya mulai
panjang karena tak terurus. Wajahnya dingin tapi entah mengapa tatapannya
kosong seakan tak memiliki semangat hidupnya. Bibir bawahnya lebih tebal
daripada bibir atasnya, keduanya terkatup rapat dan kering. Siapapun yang
melihat wajahnya tak akan berani melihat langsung ke dalam manik matanya.
Ruangan
itu tampak remang, secercah cahaya masuk dari jendela kecil yang menyatu dengan
pintu, satu-satunya ventilasi yang ada diruangan. Ruangan yang tak luas itu
seluruhnya hanya berupa dinding. Di pojok ruangan terdapat ranjang kecil yang akan
berdecit jika dinaiki karena sudah termakan usia. Di sebelah ranjang terdapat sebuah
nakas kecil, dimana makanan akan disimpan di atasnya, diantar tiga kali sehari
secara rutin. Disebelah kiri nakas itu terdapat pintu yang lebih kecil, toilet
dan seember air dan gayung yang mengapung serta keran diatasnya. Selain itu,
tak ada apapun.
Ia
mendengar samar samar suara gesekan besi berasal dari gembok pintu yang akan
dibuka. Tapi ia tampak acuh tak acuh.
CLEK.
Pintu
perlahan terbuka, cahaya dari luar sana dengan cepat berebut masuk ke dalam
ruangan. Sosok pria bertubuh tegap dengan seragam lengkap khas cokelat yang
biasa dikenakannya dengan rapih itu berjalan masuk.
“Kau
akan bebas hari ini.” Suara berat menginterupsi, menggema diruangan tersebut.
Pemuda
tadi hanya melirik kebawah kemudian membalikkan tubuhnya berjalan tenang
melewati pria berseragam tersebut menuju keluar dari pintu terkutuk sialan.
Mata abu-abunya lurus kedepan tanpa menghiraukan disekelilingnya yang tampak
bergeming ketika ia lewat. Tapi ia tak peduli.
.
.
.
.
6
Tahun yang lalu
Pemuda tinggi itu bertekuk
lutut, tangannya mengangkat kepala orang yang terlentang didepannya dengan pelan kemudian membawanya ke atas
pangkuannya. Tak ada lagi air mata yang bisa keluar. Seakan air mata itu telah
habis dan telah kering di dalam obsidian abu-abu miliknya mengingat seberapa
banyak sudah ia keluarkan dengan sia-sia. Matanya berangsur merah dan sedikit membengkak.
Wajahnya terlihat sangat tidak karuan.
Ia menangkup wajah gadis
didepannya dengan kedua tangannya. Seketika bisa merasakan hawa dingin menjalar
pada permukaan kulitnya. Jari-jarinya mengusap pelan dan lembut kedua sisi pipi
gembungnya. Ia mendekati wajah gadis di depannya. Bisa merasakan pantulan napasnya sendiri. Dekat
sekali, ia tak akan bosan mengamati wajah yang akan selalu menjadi favoritnya kini.
“Umin-ah” Bisiknya tepat
ditelinga kanannya. “Aku disini.... Ayo kita pergi!” gumamnya lirih. Susah
payah ia menahan air mata yang ingin mendesak keluar.
Jari-jarinya mengusap dahi
gadisnya menghilangkan sedikit kerutan yang tampak, perlahan turun ke kedua
kelopak mata yang tertutup. Ia tak akan pernah lupa manik hijau terang yang
selalu menatapnya lembut. Perlahan turun ke hidung mancungnya. Berjalan ke sisi
kedua pipi yang menggembung lucu.
Bagaimana bisa gadis itu
menutup matanya dengan begitu tenang dan damai? Sementara dia harus bisa
menahan dirinya untuk tidak menyakiti dirinya sendiri.
Dia mengusap wajahnya
sendiri dengan kesal. Perasaan sesak yang dari tadi ia rasakan semakin meluap. Seakan
pemuda tinggi itu tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia tidak bisa
diam saja dan semakin merutuki dirinya berkali-kali. Tak menghiraukan tatapan
tatapan menyesal, sedih, tak percaya pada orang-orang disekelilingnya.
Bagaimana ini bisa terjadi
seperti ini?!
Ia marah! Ia sangat marah.
Mengapa hal kecil ini bisa luput dari penglihatannya? Ia sangat kesal tak bisa
menjaga gadis kecil ini. Gadis kecilnya.
“Umin-ah....Mengapa kau
seperti ini!” bisiknya lagi. Tak terhitung sudah keberapa kalinya ia mencoba
merutuki dirinya sendiri sekarang. Membawa tubuh gadisnya kedepan dadanya,
memeluknya erat seakan tak rela melepaskannya lagi.
Ia menangis lagi, meraung
lebih keras daripada tangisan yang sebelumnya.
Bohong kalau tak ada lagi
air mata. Bohong kalau air matanya kini sudah terkuras habis. Nyatanya, air
mata itu kini semakin deras dan tak akan pernah berhenti.
Sementara itu tatapan terpukul
dan menyakitkan berasal dari sosok yang berdiri tak jauh dari pemuda tinggi
itu. Mata birunya yang bening dan tampak berkilau menatap dengan pandangan yang
tak bisa dibaca. Ia memegang dadanya yang sesak dan dengan gerakan refleks ia
meremas dan menggenggam kencang ujung kaos yang dikenakannya. Seketika itu ia
perlahan melangkah mundur, pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi pada
pemuda tinggi itu. Ia langsung keluar dengan perasaan yang menyesal yang tak
bisa ia hitung jumlahnya. Saat itulah ia berjalan menunduk, setetes air mata
sukses terjatuh dari pelupuk matanya yang ia coba tahan sejak tadi.
Ketika pintu terbuka, beberapa tempat dari belahan
dunia
Tepat berada didepanku
Kau muncul dan menghilang,
Kau merekah dan layu,
Kau begitu hangat
Setiap tempat dimana kakiku berpijak,
Mengingatkanku padamu
Tepat berada didepanku
Kau muncul dan menghilang,
Kau merekah dan layu,
Kau begitu hangat
Setiap tempat dimana kakiku berpijak,
Mengingatkanku padamu
Aku ingin selalu berada disampingmu setiap hari
Izinkan aku berada disana,
Setiap hari
Untuk terus berada disampingmu
.
.
.
.
Gadis
mungil itu mengeratkan pakaian yang dikenakannya dan mencengkram kedua sisi
jaket dengan gerakan silang. Ia bisa melihat kepulan asap napasnya sendiri pada
udara di depan wajahnya. Padahal, ia sudah mengenakan pakaian beberapa lapis
dengan dua jaket ditambah mantel hijau lumut tebal yang terbalut pada tubuh
indahnya. Orang-orang dapat melihat dengan jelas tubuhnya seakan tenggelam
saking tebalnya pakaian yang ia kenakan. Suhu cuaca kali ini benar-benar
rendah. Kalau saja ia tak mempedulikan rasa penasarannya dan rasa ingin
tahunya, ia akan tidur saja. Bergelung dalam selimut hangat di kasurnya mungkin
lebih terasa menggiurkan daripada harus bergerak kaku ke tempat kerjanya.
Ah,
mungkin bukan tempat kerjanya. Ia sama sekali tak berpikir bahwa ia akan di
kasih upah dalam membantu atau memecahkan masalah disana. Tapi, Paman Ahn
bilang itu sudah hak Baekhyun untuk menerima apa yang sudah ia capai. Mungkin,
karena ia sendiri sudah beberapa kali ini membantu. Walaupun tidak banyak. Tapi
ia senang. Ia senang sekali bisa membantu, walau tak dapat sepeserpun uang ia
pasti akan tetap membantu. Paman bilang, yang ia lakukan ini benar-benar
menguntungkan karena ia sudah memberikan kebenaran yang sesungguhnya. Maka dari
itu, Paman benar-benar akan memberi upah jika ia melakukannya. Hitung-hitung
untuk tambahan uang jajannya.
“Oh,
selamat pagi Paman Ahn!” Dia bisa melihat seseorang yang dipanggil Pamah Ahn
itu sedang memeriksa berkas di atas mejanya tepat saat dia membuka pintu kantor
polisi di daerah Dongjak-gu. Dia juga dapat
merasakan kehangatan menjalar di kulit tubuhnya, setidaknya didalam sini
terdapat penghangat ruangan sehingga tak begitu dingin seperti diluar sana.
Paman Ahn menoleh sebentar dan tersenyum kecil.
“Selamat
pagi, Baekhyun!” Paman Ahn kembali disibukkan dengan kertas itu.
Baekhyun,
nama gadis mungil itu melepas mantel tebalnya dan menggantungnya di tempat yang
sudah disediakan diantara meja tak jauh dari meja Paman Ahn dan meja lainnya.
Tempat itu dapat dikatakan kantor karena terdapat banyak meja yang di
sejajarkan rapih. Diantara meja yang ukurannya sama itu terdapat meja yang
lebih besar yang letaknya paling ujung di dekat pintu masuk kantor. Itu adalah
meja Paman Ahn selaku penanggung jawab kantor sekaligus ketua. Sedangkan meja
yang lainnya sesuai dengan divisi masing-masing pekerjaan.
Sebenarnya,
kantor yang ia masuki tak dapat dikatakan kantor polisi. Tak ada yang memakai
seragam lengkap layaknya polisi-polisi. Hanya saja kantor itu bagian dari
kantor kepolisian. Tepatnya divisi penanganan kasus. Yang bisa Baekhyun lihat
adalah pakaian-pakaian kantor yang bebas, namun tetap didasarkan kesopanan
terhadap pakaian yang dikenakan itu sendiri. Ia bisa melihat banyak orang
disekelilingnya banyak yang mengenakan cardigan hitam panjang sampai selutut
menambah kesan elegan di kantor tersebut. Ia sendiri mengenakan dua lapis baju
ditutup dengan jaket hoddie kebesaran miliknya ditambah dengan mantel tebal hijau
lumut selututnya. Mungkin ia tak akan sudi memakai pakaian yang berat mengingat
tubuhnya yang mungil. Hanya saja, suhu hari ini tidak bisa diajak kompromi.
Maka, ia menyayangi kesehatan tubuhnya. Karena kulitnya benar-benar tidak
bersahabat dengan suhu rendah. Sehingga, pakaiannya bisa dibilang sedikit
berlebihan. Tapi itu sudah cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang sensitif.
“Apakah
ada kasus baru, Paman Ahn?” Paman Ahn. Tepatnya Ahn Jaehyun. Untuk lelaki paruh
baya berkepala tiga ia cukup tampan. Kulitnya putih pucat khas Korea. Matanya
seperti rusa jantan, indah dipandang namun terkesan dingin. Bibirnya mencebik
seperti seseorang yang sedang merajuk menambah kesan tajam di wajah dinginnya.
Namun, senyumnya adalah yang terbaik.
Paman
Ahn melirik Baekhyun yang sibuk mengambil cup putih berukuran sedang dan
menuangkan air panas dari teko abu-abu yang sudah tersedia. Bersiap untuk
membuat sesuatu yang hangat.
Mata
sipitnya sangat serius terhadap sesuatu yang akan ia kerjakan. Akan tetapi,
obsidian biru terangnya sangat jelas terlihat. Membuat siapapun orang yang
menilik mata indahnya seakan terpenjara. Seolah-olah membuatnya membeku
ditempatnya. Baekhyun dengan mata indahnya.
“Tidak
ada Baek, mungkin belum.” Ucap Paman Ahn berusaha mengalihkan matanya dari Baekhyun
ke berkas yang masih diperiksa olehnya.
“Mau
teh, Paman Ahn?” Baekhyun mengambil teh hijau kemudian mengambil gula dan
sendok.
“Ya,
Seperti biasa, please!” Paman Ahn mengalihkan pandangannya dari berkas brengsek
itu. Ia memperhatikan anak gadis mungil yang kini sudah ia anggap anaknya sendiri.
Baekhyun tetap sibuk mengaduk tehnya, kemudian mengulangi aktivitas pertama
untuk membuatkan satu teh lagi untuknya. Seakan ia sudah sering membuatkannya.
Paman Ahn masih memperhatikan Baekhyun sampai gadis itu menaruh dua sendok gula
kedalam cup dan tangannya mengaduk sendok teh didepannya.
“Ini
adalah akhir pekan, Baek. Kau tak mau menghabiskan akhir pekan bersama
teman-temanmu? Jarang sekali melihatmu bermain bersama teman-teman seusiamu.”
“Tidak,
Paman. Kurasa kita sudah sering membahas hal ini,” ada kegusaran dalam intonasi
suaranya. Dia sangat bosan jika sudah membahas hal ini. “Aku lebih tertarik
mencari rasa keingintahuanku, Paman. Aku benar-benar bersemangat setiap kali
akan datang kesini.” Baekhyun menatap Paman Ahn jengkel.
Paman
Ahn sudah kebal. Ia sudah sangat hapal kebiasaan Baekhyun.
“Ya
tentu saja kau senang, karena kau datang kesini untuk menggangguku!” Paman Ahn
menggoda Baekhyun.
Ia
ingat saat Baekhyun mengacaukan sebuah penyelidikan. Memang pada akhirnya
Baekhyun berhasil membuat lawan membeku atas perbuatannya. Namun, tak bisa
dipungkiri bahwa Baekhyun adalah sebuah Singa Betina yang ganas. Walaupun
begitu, dia tetap seorang gadis. Tenaganya tetap kalah jika berhadapan dengan
seorang laki-laki yang tak bisa dianggap remeh. Bahkan hal itu membuatnya
hampir mencelakai dirinya sendiri.
Baekhyun
hanya terkekeh pelan berusaha agar tak menampilkan senyum idiotnya.
Paman
Ahn mengingat sesuatu yang penting. Ia menggeser kursinya agar lebih dekat
dengan Baekhyun dan kemudian sedikit berbisik. “Oh, Baek? Apakah kau masih
ingat kasus kakakmu?” Tegasnya tetapi masih ada keraguan didalamnya.
Baekhyun
menghentikkan gerakan tangannya yang sedari tadi masih mengaduk tehnya. Bahunya
tampak tegang. Kedua manik matanya mengarah pada Paman Ahn. Paman Ahn tahu
kalau Baekhyun sedikit tersentak. Tapi Baekhyun tetap bersikukuh agar ia tetap
tenang.
Baekhyun
mendengus. “Aku tak mungkin lupa, Paman. Kau tahu itu!” Ia sedikit bergumam dan
menggeram.
Baekhyun
menaruh sendok yang tadi dipegangnya kemudian memberikan teh ke depan meja
Paman Ahn. Setelah itu menyeruput teh miliknya sendiri yang mengepul.
Baekhyun
bisa Paman Ahn kembali berkutat dengan berkas didepannya. Baekhyun tahu bahwa
Paman Ahn berusaha tak peduli dan mengalihkan pandangannya pada berkas yang
terus bertambah jumlahnya.
Ia
melihat sesekali Paman Ahn mengerutkan dahinya, sesekali juga tersenyum sendiri.
Tak jarang ia memperlihatkan wajahnya yang tampan dan berwibawa itu menatap
kertas didepannya. Serius sekali. Kalau saja ia tak penasaran pada rasa ingin
tahunya yang besar, ia tak akan mau mengganggu Paman yang kini menjadi ayah
angkatnya itu. Ia sungguh menyanyangi Pamannya.
“Kudengar
hari ini adalah masa berakhir hukumannya. Dia pasti sudah dibebaskan, Baekhyun.
Aku tahu kau datang padaku untuk menanyakan hal ini, kan?” Oh! Ternyata dugaan
Baekhyun bahwa Paman Ahn berusaha menghindari percakapan ini adalah salah
besar. Ia sungguh tidak dapat menyaingi Pamannya. Ia belajar psikologi dan
sudah sangat hapal bagaimana membaca raut wajah seseorang. Tapi sungguh,
pamannya ini memang tidak bisa diremehkan. Baekhyun sama sekali tak dapat
membaca pikiran beliau. Padahal Paman Ahn sering memujinya bahwa Baekhyun
adalah sang ahli.
“Sebelum
kau bertanya-tanya lagi, mengapa kau tak menghampiri Kris? Pergilah, dan cari
tahu rasa penasaranmu itu. Mungkin, Luhan bisa membantumu. Jangan menggangguku
sekarang, karena aku banyak kerjaan hari ini. Oke?”
Paman
Ahn benar-benar serius dengan perkataannya. Lihat saja, ia sama sekali tak ada
niat untuk mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang menurut Baekhyun
sangat menjengkelkan. Sikap Paman Ahn yang selalu tenang dan dapat mengatasi
berbagai masalah adalah dimana bagian favorit Baekhyun. Dengan sikap tenangnya,
ia dapat menghadapi dan dapat membuat seseorang melaporkan kejahatannya
sendiri. Banyak yang bertekuk lutut dan hal itu tak jarang pula ia mempunyai
banyak pendendam di sekelilingnya. Tapi Baekhyun salut karena Paman Ahn adalah
seseorang yang selalu waspada dan tidak gampang mempercayai orang lain. Hal itu
pulalah yang membuat ia lebih suka bekerja sendiri.
Baekhyun
harus mencari akal untuk tetap di samping Paman Ahn. Ingat! Baekhyun adalah si
jenius yang serakah. Ia sudah tahu bahwa Paman Ahn pasti memiliki informasi
selain itu. Paman Ahn pasti sudah menyelidikinya seorang diri. Maka dari itu
tak ada yang dapat Baekhyun percayai selain Pamannya sendiri. “Paman, bolehkah
aku membantumu?” Baekhyun berusaha berkata lembut.
Paman
Ahn milirik Baekhyun curiga.
Tak
ada yang salah dengan pertanyaannya kali ini. Baekhyun sangat tahu kalau ia tak
akan mungkin sanggup mengerjakan sesuatu yang ia sendiri tak tahu bagaimana cara
mengerjakannya. Hanya saja, ia tak ingin berputus asa untuk mencobanya. Padahal,
ia sendiri tahu bahwa seorang seperti dirinya sama sekali tak punya hak apapun
untuk mencampuri urusan pekerjaan pamannya.
“Tidak,
Baek. Untuk hari ini saja kumohon kau tidak menggangguku.”
“Hhhh
baiklah, paman.”
Baiklah.
Kali ini Baekhyun harus mengalah.
.
.
.
.
Chanyeol
sedikit tergesa berjalan kearah apartemennya.
Oh! Shit, Chanyeol! Tak
bisakah kau sedikit tenang?!
Chanyeol
berhenti sesaat. Mengatur napasnya yang tak beraturan. Sampai ia tenang kembali
dan berhasil berjalan dengan tenang. Senyumnya sedikit menyeringai.
Sudah
lama sekali ia tak menghirup udara bebas seperti ini. Sudah lama sekali ia tak
menggerakan tubuhnya. Sickpack ditubuhnya mungkin sudah sedikit hilang karena
sedikit dimanjakan. Uh! Sungguh menyebalkan.
Tapi,
ia sama sekali tak merindukan hidupnya.
Sampai
di sebuah pintu yang sudah sangat dikenalnya ia membuka apartemen miliknya.
Pengap.
Yap. Karena memang sudah lama sekali. Terakhir kalinya ia menginjakkan kakinya
di apartemen miliknya adalah 6 tahun yang lalu...
Ia
berjalan tenang ke ruang tengah miliknya. Sedikit mengernyit karena menemukan
sesosok tubuh yang membelakanginya. Rambut perunggu khas seseorang yang
dibencinya.
“Sudah
sangat lama sekali ya, Chanyeol. Terakhir kali aku kesini adalah sehari
sebelum.....,” ia membalikkan badannya. Mencoba terkekeh pelan kemudian
terkejut dan menutup mulutnya, “Oh, maafkan aku.....”
Brengsek!
Chanyeol
tahu Sehun tak akan mempan dengan tatapan mengintimidasi miliknya. Jadi ia
harus berusaha untuk tetap terlihat tenang.
“Oh Sehun!” Chanyeol mencoba tersenyum manis.
“Oh, apakah kau mencoba membuat kejutan karena aku kembali?” Chanyeol tertawa
sinis dalam hati melihat wajah terkutuk Oh Sehun yang memang tersentak.
Ia
melipat kedua tangannya didepan dada. “Lagipula Oh Sehun, ini apartemenku. Apa
yang kau lakukan disini? Bukankah itu melanggar privasi? OH! Apakah aku tak
berpikiran negatif bahwa kau mencoba mengambil sesuatu di sini? Yaampun! Apa
saja yang sud...” Sepertinya umpan Chanyeol memang berhasil karena Sehun
langsung memotong pembicaraan Chanyeol.
“Beraninya
kau!!” Sehun menggeram tertahan. Kedua tangannya mengepal pada sisi tubuhnya.
Dia hendak menerjang Chanyeol kalau saja Chanyeol tak menginterupsi.
“Sehun!
Tidakkah kau takut? Ini adalah daerah kekuasaanku. Kau bisa saja tak akan
mungkin keluar hidup-hidup jika kau menyerangku.” Chanyeol berusaha tenang
namun tetap waspada.
“Sial!”
Ia mengeluarkan amarahnya pada kursi di sebelah Chanyeol mengakibatkan kursi
itu terjatuh keras kebelakang, salah satu kaki dudukannya patah. Ia langsung
menuju pintu dan menutupnya dengan bunyi bedebam yang rusuh.
Tak
bisa dipungkiri Chanyeol juga tadi sempat terkejut. Ia mendesah. Terpantul pada
kasur empuk saat ia menjatuhkan dirinya diatasnya.
Apa yang akan dilakukannya
sekarang?
Satu
yang ia pikirkan saat ini adalah mengganti password pintu apartemennya.
.
.
.
.
Ia
tak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Pintu apartemennya yang dipukul keras
dan bel yang daritadi berbunyi membangunkan Chanyeol dari tidurnya yang
nyenyak. Ia meringis karena merasakan kepalanya sedikit berdenyut.
Perlahan
ia beranjak turun ke arah pintu dan langsung membukanya tanpa melihat siapa
yang sudah merusak ketenangan dalam hidupnya.
Pintu
dibuka. Orang yang berada didepan langsung mendorong Chanyeol kedalam dan orang
itu langsung menutupnya kembali. Ia membekap mulut Chanyeol sekarang. Chanyeol
tak banyak bergerak karena ia merasa lemas seketika.
“Jangan
berisik dan hadapi orang yang sebentar lagi akan datang Chanyeol. Jangan
katakan bahwa aku ada di apartemenmu.” Dan kemudian mendorong Chanyeol kedepan
dan berbalik.
Belum
sempat Chanyeol bertanya, orang itu langsung memasuki kamarnya dan bersembunyi
didalamnya.
Oh
Sehun si rambut perunggu brengsek!
Ia
akan mengejarnya tetapi didahului oleh orang yang menekan belnya. Ia berusaha
tenang. Menarik dan menghembuskan secara berulang sampai ia tenang. Ia harus
waspada karena tak tahu dengan siapa ia berhadapan.
Ia
membuka pintu perlahan. Seorang gadis dengan mata biru terang miliknya.
“Selamat
Sore... Byun Baekhyun dari penyelidikan kasus kantor kepolisian.” Ia berusaha
bersikap manis dan sedikit tersenyum. “Maaf mengganggu kenyamanan anda.
Bolehkan aku memeriksa sedikit apartemen anda didalam? Ada sedikit penyelidikan
disekitar sini. Aku lihat sendiri orang tadi berlari di sepanjang lorong
apartemen. Jadi tak bisa menutup kemungkinan mungkin dia ada didalam. Mohon
kerjasamanya.” Gadis didepannya kini menjelaskan dengan panjang lebar dan
sedikit berbasa-basi.
Chanyeol
menjulurkan kepalanya melihat sedikit keramaian disepanjang lorong. Sepertinya
memang hanya apartemennya yang belum diperiksa. Karena semua pintu apartemen
terbuka, penghuninya sedikit berbisik-bisik dengan kekacauan yang Oh Sehun buat.
Sialan!
Chanyeol
sedikit meringis.
“Selamat
Sore...” Chanyeol sedikit tersenyum dan berbasa-basi juga. “Anda datang disaat
yang tidak tepat Baekhyun-ssi. Anda memang menganggu ketenanganku sore ini. Tak
bisakah kau melihat wajahku yang berantakan? Itu karena anda sangat menganggu
dan kekacauan disini sangat membuat kepalaku yang pening tambah tak karuan.”
Chanyeol mencoba terlihat kesakitan dan bersuara lirihnya.
Tapi
serius! Kepalanya benar-benar pening dan akan pecah kapan saja. Chanyeol harus
menyelesaikan ini terlebih dahulu!
Baekhyun
membulatkan matanya. Tapi ia memang sedikit khawatir karena orang yang
didepannya kini memang sedikit pucat. Ia ingin marah-marah tetapi berubah
ketika melihat wajah yang kesakitan itu.
“Umm....”
Baekhyun mencoba memutar otaknya apa yang harus dilakukannya kini. “Tak bisakah
kita menyelesaikannya dan duduk di sofa sana? Kau terlihat pucat dan... sangat
kesakitan. Kau bisa duduk sementara kami memeriksa apartemen anda. Bolehkah
aku....?”
Chanyeol
bingung. Ia ingin menolak namun gadis didepannya ini memang sedikit memaksa. Ia
kalah. Dan ia hanya mengangguk dan mempersilahkan Baekhyun dan beberapa petugas
memasuki apartemennya. Ia benar-benar tak peduli kalau mereka memamng menemukan
Sehun. Ia hanya berjalan sempoyongan kearah sofa.
Brengsek!
Ia baru ingat kalau ada Sehun! Uh, ini pasti karena kepala sialan ini. Ia jadi
teledor untuk menyelamatkan Sehun.
Tunggu...
Menyelamatkan
Sehun?
Bagus!
Apalagi sebenarnya yang sudah dilakukannya?! Bukankah sebaiknya ia memang tidak
menyelamatkan Sehun?
Chanyeol,
ada apa denganmu sebenarnya? Apakah karena ancaman Sehun? Itu bukan ancaman
namanya tapi hanya gertakan! Shit!
.
.
.
.
Chanyeol
tersentak. Ia langsung terbangun dari tidur panjangnya. Ia baru sadar bahwa ia
tidur di sofa. Badannya sedikit kaku saat ia terbangun.
Chanyeol
mencoba mengingat-ingat mengapa ia tidur di sofa. Semangkuk bubur diatas meja
beserta air putih dan obat mengalihkan pandangannya. Ada sekertas note yang di
tempel di tepi bibir mangkuk.
Terimakasih atas
kerjasamanya untuk memeriksa apartemen anda tuan. Anda mungkin kelelahan karena
saat kuperiksa anda tidak demam. Ada bubur untuk anda, aku sedikit meraciknya
tadi di dapur anda. Maafkan kelancanganku... Aku sungguh tak tega melihat wajah
anda yang pucat. Aku juga menutup pintu balkon yang di biarkan terbuka tadi.
Mungkin anda lupa menutupnya. Tidak ada hal yang mencurigakan di apartemen anda
karena memang tidak ada orang yang kami cari disini. Sekali lagi terimakasih.
Semoga lekas sembuh.
-Byun Baekhyun-
Tulisan
hangeul nya sangat khas. Ada aksen tersendiri yang ia tambahkan di setiap akhir
hangeul yang ditulisnya. Pasti gadis ini memiliki kelembutan pada jemari
lentiknya.
Aishh.
Ia
mendengus. Ia bahkan lupa wajah gadis tadi.
Chanyeol
dengan cepat menghabiskan bubur dan meminum obatnya. Ia baru ingat akan perihal
Oh Sehun. Benarkah Sehun sudah pergi? Ah, ia tak peduli!
.
.
TO BE
CONTINUED
.
.
Karya
aku ini sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk
cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
Silahkan
mampir^^
See
you next chap;))
AmandaHanifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar