THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 5
UNCOMFORTED
.
.
.
"Halo,
Wanderer! Silakan duduk dan anggaplah seperti rumahmu sendiri!"
Aku
bimbang di ambang pintu kantor Penghibur, satu kaki di dalam, satu lagi di
luar.
Ia tersenyum, hanya gerakan kecil di sudut bibir. Kini jauh lebih mudah bagiku membaca ekspresi wajah; sentakan dan geseran kecil otot sudah kukenal akibat pengalaman berbulan-bulan. Aku bisa melihat Penghibur menganggap keenggananku sedikit menggelikan. Aku juga bisa merasakan perasaan frustasinya karena aku masih enggan datang kepadanya.
Dengan desah pelan kepasrahan, aku berjalan memasuki ruangan kecil berwarna cerah itu dan duduk di tempatku yang biasa--kursi merah empuk terjauh dari tempat duduknya.
Bibir Penghibur mengerut.
Untuk
menghindari pandangannya kutatap jendela yang terbuka, kupandangi awan-awan
yang bergegas melintasi matahari. Bau asin samar-samar air laut tertiup pelan
ke dalam ruangan.
"Wah, Wanderer, sudah agak lama kau tidak datang berkunjung."
Kutatap
matanya dengan perasaan bersalah. "Sebenarnya aku meninggalkan satu pesan
soal janji temu terakhir itu. Aku sedang menangani seorang mahasiswa yang
menyita sebagian waktuku..."
"Ya, aku tahu." Ia kembali tersenyum kecil. "Pesanmu kuterima.”
"Ya, aku tahu." Ia kembali tersenyum kecil. "Pesanmu kuterima.”
Sebagai perempuan berumur, Penghibur tampak menarik untuk ukuran manusia. Ia membiarkan rambutnya tetap kelabu alami. Rambutnya lembut, warnanya cenderung putih daripada keperakan, dan ia memanjangkannya, mengikatnya membentuk ekor kuda longgar. Matanya berwarna hijau menarik yang belum pernah kujumpai pada siapa pun.
"Maaf," kataku, karena kelihatannya ia menunggu jawaban.
"Tidak
apa-apa. Aku mengerti. Sulit bagimu untuk datang kemari. Kau sangat berharap
tak perlu datang. Kau belum pernah perlu melakukannya. Ini menakutkanmu."
Aku menunduk menatap lantai kayu. "Ya, Penghibur."
"Rasanya
aku sudah memintamu untuk memanggilku Kathy."
"Ya...
Kathy."
Ia tertawa kecil. "Kau belum nyaman dengan nama-nama manusia, bukan?"
"Ya.
Sejujurnya, tampaknya itu... seperti menyerah."
Aku mendongak dan melihatnya mengangguk pelan. "Well, aku bisa mengerti mengapa kau, terutama, akan merasa seperti itu."
Aku
menelan ludah keras-keras ketika ia mengatakan hal itu, dan kembali menatap
lantai.
"Ayo,
bicara sebentar mengenai hal yang lebih mudah," saran Kathy. "Kau
tetap menikmati Panggilan-mu?"
"Ya."
Ini memang lebih mudah. "Aku sudah memulai semester baru. Aku
bertanya-tanya apakah bakal membosankan mengulangi materi yang sama. Tapi
sejauh ini hal itu tidak terjadi. Punya telinga baru membuat cerita - cerita
itu jadi baru kembali."
"Aku mendengar hal-hal baik tentangmu dari Curt. Katanya kelasmu salah satu yang paling diminati di universitas."
Pipiku
sedikit menghangat mendengar pujian ini. "Senang mendengarnya. Bagaimana
kabar pasanganmu?"
"Curt
baik-baik saja. Terima kasih. Inang kami berada dalam kondisi prima untuk usia
mereka.
Kurasa
kami masih akan hidup lama."
Aku penasaran, apakah Penghibur akan tetap tinggal di dunia ini, apakah ia akan pindah ke inang manusia lain ketika saatnya tiba, atau apakah ia akan pergi. Tapi aku tidak ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membawa kami ke area-area pembahasan yang lebih sulit.
"Aku suka mengajar," kataku. "Itu sedikit berhubungan dengan Panggilan-ku ketika menjadi See Weed, sehingga lebih memudahkan daripada pekerjaan yang tak kukenal. Aku berutang budi pada Curt karena telah menawariku pekerjaan."
"Mereka
beruntung mendapatkanmu." Kathy tersenyum hangat.
"Tahukah
kau, betapa langkanya kehadiran seorang Profesor Sejarah yang pernah hidup di
dua planet di dalam kurikulum itu? Tapi kau pernah tinggal selama satu masa di
dalam hampir semua planet. Juga The Origin! Tak ada sekolah di planet ini yang
tidak ingin menculikmu dari kita. Curt merencanakan banyak hal agar kau tetap
sibuk sehingga tidak punya waktu untuk memikirkan pindah.”
"Profesor Kehormatan," ujarku membetulkan.
"Profesor Kehormatan," ujarku membetulkan.
Kathy
tersenyum, lalu menghela napas panjang.
Senyumnya
lenyap. "Kau sudah lama tidak menjumpaiku. Aku bertanya-tanya, apakah
semua masalahmu sudah terpecahkan sendiri. Tapi kamudian terpikir olehku,
mungkin alasan ketidakhadiranmu adalah karena masalah-masalah itu semakin
buruk."
Aku menunduk menatap kedua tanganku dan diam saja.
Tanganku
berwarna putih kekuning-kuningan--dan warna itu tak pernah memudar, tak peduli
aku menghabiskan waktu di bawah matahari atau tidak. Satu bintik gelap menodai
kulitku persis di atas pergelangan tangan kiri. Kuku-kukuku dipotong pendek.
Aku tak suka berkuku panjang.
"Tidak
menyenangkan jika tak sengaja menggores kulit. Lagi pula jemariku sangat panjang
dan kurus--tambahan kuku panjang membuatnya kelihatan aneh. Bahkan untuk ukuran
manusia.
Setelah satu menit Kathy berdehem, "Kurasa intuisiku benar."
Setelah satu menit Kathy berdehem, "Kurasa intuisiku benar."
"Kathy."
Kusebut namanya perlahan-lahan. Mengulur waktu.
"Mengapa
kau mempertahankan nama manusiamu? Apakah itu membuatmu merasa... lebih
menyatu? Maksudku, dengan inangmu."
Aku
juga ingin tahu tentang pilihan Curt, tapi itu pertanyaan yang sangat pribadi.
Keliru bila menanyakannya kepada orang lain selain Curt, bahkan kepada
pasangannya sekalipun. Aku khawatir sudah bersikap sangat tidak sopan, tapi Kathy
tertawa.
"Wah,
tidak, Wanderer. Apakah belum kuceritakan kepadamu?
Hmm.
Mungkin belum, karena tugasku bukanlah berbicara, melainkan mendengarkan.
Sebagian besar jiwa yang kuajak bicara tidak memerlukan begitu banyak dorongan
sepertimu.
Tahukah
kau, aku datang ke Bumi dalam salah satu penempatan pertama, ketika manusia
sama sekali tak menyadari keberadaan kita disini? Aku punya tetangga manusia di
kiri dan kananku. Aku dan Curt harus berpura-pura menjadi inang kami selama
beberapa tahun. Setelah menduduki area di sekitarnya sekalipun, kami tak pernah
tahu kapan seorang manusia ada di dekat kami. Jadi aku langsung menjadi Kathy.
Lagi
pula terjemahan namaku yang terdahulu panjangnya empat belas kata dan tak bisa
disingkat dengan manis." Ia nyengir. Cahaya matahari yang menyusup melalui
jendela mengenai matanya dan mengirimkan pantulan hijau keperakan yang
menari-nari di dinding. Sejenak selaput pelangi berwarna zamrud itu berkilau
aneka warna.
Aku tak pernah menyangka wanita lembut menyenangkan ini pernah jadi bagian garda depan. Perlu sejenak untuk mencerna informasi itu. Aku menatapnya, terkejut, dan tiba-tiba lebih segan padanya. Aku tak pernah menganggap serius para Penghibur--tak pernah membutuhkan mereka sebelumnya.
Keberadaan
para Penghibur adalah untuk mereka yang berjuang, untuk mereka yang lemah, dan
aku merasa malu berada di sini. Mengetahui sejarah Kathy membuatku merasa
sedikit lebih tidak canggung bersamanya. Ia memahami kekuatan.
"Apakah itu mengganggumu?" tanyaku. "Berpura-pura menjadi salah satu dari mereka?"
"Tidak,
tidak terlalu. Kau tahu, kita harus banyak membiasakan diri dengan inang
manusia. Ada banyak sekali hal baru. Indra yang berkelimpahan. Mulanya aku
hanya sanggup mengikuti pola yang sudah ada."
"Dan
Curt... Kau memilih untuk tetap tinggal bersama pasangan inangmu? Setelah semua
itu berakhir?"
Pertanyaan
ini lebih terarah, dan Kathy langsung paham. Ia beringsut di kursi, menarik
sepasang kakinya ke atas, lalu melipatnya ke bawah tubuh. Ia memandang serius
ke arah titik persis di atas kepalaku ketika menjawab.
"Ya,
aku memilih Curt--dan ia memilihku. Tentu saja mulanya itu peluang acak, sebuah
tugas. Dan tentu saja kami menjadi akrab, karena menghabiskan begitu banyak
waktu bersama-sama, dan saling mendiskusikan bahaya misi kami. Kau tahu, sebagai
pemimpin universitas Curt punya banyak kontak.
Dulu
rumah kami merupakan fasilitas penyisipan. Kami sering mengadakan perjamuan.
Para manusia memasuki pintu kami dan keluar sebagai bangsa kita. Semua harus
dilakukan dengan cepat dan diam-diam--kau tahu kekerasan macam apa yang bisa
dilakukan inang-inang itu dengan mudahnya. Setiap hari kami hidup dengan
kesadaran kami bisa menemui ajal setiap saat. Selalu muncul kegairahan, dan
sering kali ketakutan.
"Semua itu merupakan alasan yang sangat bagus mengapa aku dan Curt bisa saling terikat dan memutuskan untuk tetap bersama-sama ketika kerahasiaan tak lagi diperlukan. Dan aku bisa berbohong kepadamu, meredakan ketakutan-ketakutanmu, dengan mengatakan inilah alasannya. Tapi..."
Ia
menggeleng, tubuhnya tampak semakin melesak ke kursi. Matanya menatapku.
"Selama
beribu-ribu tahun manusia tak pernah memahami cinta. Seberapa banyak yang
fisik, seberapa banyak yang berada di dalam benak? Seberapa banyak yang
kebetulan, dan seberapa banyak berupa takdir? Mengapa pasangan-pasangan
sempurna bubar dan pasangan-pasangan yang mustahil sanggup bertahan? Aku tidak
lebih mengetahui jawabannya daripada mereka. Cinta adalah cinta. Inangku
mencintai inang Curt, dan cinta itu tidak mati ketika kepemilikan benak berganti."
Kathy mengamatiku dengan cermat, dan berekasi dengan sedikit memberengut ketika aku merosot di kursiku.
“Melanie
masih merindukan Jared,” ujarnya.
Kurasakan
kepalaku mengangguk tanpa dikehendaki.
“Kau
merindukan Jared.”
Kupejamkan
mataku.
“Mimpi-mimpi
itu berlanjut?”
“Setiap
malam,” gumamku.
“Ceritakanlah.”
Suara Kathy lembut, membujuk.
“Aku
tidak suka mengingat mimpi-mimpi itu.”
"Aku
tahu. Cobalah. Mungkin membantu."
"Mungkinkah?
Akankah membantu jika kuceritakan aku melihat wajah Jared setiap kali
memejamkan mata? Dan aku terbangun dan menangis ketika dia tak ada di sana? Dan
ingatan-ingatan itu begitu kuat, sehingga tak bisa kupisahkan lagi
ingatan-ingatan pemuda ini dengan ingatan-ingatanku sendiri?"
Mendadak
aku terdiam, menggertakkan gigi.
Kathy
mengeluarkan saputangan dari saku dan menawarkannya kepadaku. Ketika aku tidak
bergerak, ia bangkit, menghampiriku, lalu menjatuhkan saputangan itu di
pangkuanku. Ia duduk di lengan kursiku dan menunggu.
Dengan
gigih aku bertahan selama setengah menit. Lalu kurenggut kain persegi kecil itu
dengan marah dan kuusap mataku.
"Aku
benci ini."
"Semua
jiwa menangis pada tahun pertama mereka. Emosi - emosi ini begitu tak masuk
akal. Ada sedikit kanak-kanak di dalam diri kita semua, tak peduli kita menghendakinya
atau tidak. Dulu aku suka berurai air mata setiap kali melihat keindahan
matahari terbenam. Rasa selai kacang terkadang juga membuatku menangis."
Ia menepuk-nepuk puncak kepalaku, lalu menggerakan jemarinya dengan lembut
menyusuri sejumput rambut yang selalu kuselipkan di balik telinga.
"Rambut yang sangat indah, sangat berkilau," ujar Kathy.
"Rambut yang sangat indah, sangat berkilau," ujar Kathy.
"Setiap
kali aku melihatmu, rambut itu semakin pendek saja. Mengapa kaubuat seperti
itu?”
Karena
sudah berurai air mata, aku tak lagi merasa harus mempertahankan martabat.
Mengapa harus mengatakan bahwa rambut pendek lebih praktis, seperti yang biasa
kupilih?
Bagaimanapun
aku datang kemari untuk membuat pengakuan dan memperoleh pertolongan. Sebaiknya
kuteruskan saja.
"Itu
mengganggunya. Dia lebih suka berambut panjang."
Kathy
tidak terkesiap, walaupun aku setengah mengharapkan reaksi itu. Ia hebat dalam
pekerjaannya. Responnya hanya sedikit lebih lambat, dan hanya sedikit kacau.
"Kau...
Dia... gadis itu masih... ada?"
Kenyataan
mengejutkan itu meluncur dari bibirku. "Hanya ketika dia menghendakinya.
Sejarah kita membuatnya bosan.Dia kurang aktif ketika aku bekerja. Tapi dia ada
di sana. Terkadang aku merasa dia sama-sama eksis sepertiku." Suaraku
hanya berupa bisikan ketika aku selesai bicara.
"Wanderer!"
teriak Kathy terkejut. "Mengapa tidak kauceritakan kalau separah itu? Sudah
berapa lama seperti ini?"
"Semakin
parah. Bukannya menghilang, dia tampaknya semakin kuat. Tapi belum seburuk
kasus Penyembuh--kita pernah bicara soal Kevin, kau ingat? Pemuda itu belum
mengambil kendali. Mustahil. Takkan kubiarkan itu terjadi!" Nada suaraku
meninggi.
"Tentu
saja itu takkan terjadi," Kathy meyakinkanku. "Tentu saja tidak. Tapi
jika kau begitu... tidak bahagia, seharusnya kau ceritakan lebih awal padaku.
Kami perlu membawamu pada Penyembuh."
Karena emosiku begitu terganggu, perlu sejenak bagiku untuk memahami perkataannya.
Karena emosiku begitu terganggu, perlu sejenak bagiku untuk memahami perkataannya.
"Penyembuh?
Kau ingin aku menyerah?"
"Tak
seorang pun menganggap pilihan itu buruk, Wanderer. Sudah dimaklumi, jika
seorang inang cacat--"
"Cacat?
Dia tidak cacat. Akulah yang cacat. Aku terlalu lemah untuk dunia ini!"
Kututupi kepalaku dengan kedua tanganku ketika rasa malu menguasaiku. Air mata
kembali menggenangi mataku.
Kathy
memeluk bahuku. Aku berjuang sangat keras untuk mengontrol emosi-emosi liarku,
sehingga menarik diri walaupun tindakan Kathy terasa terlalu akrab.
Tindakan
itu juga mengganggu Melanie. Ia tidak suka dipeluk mahluk asing.
Tentu
saja pemuda ini sama eksisnya sepertiku saat ini, dan ia merasa sangat bangga
ketika akhirnya aku mengagumi kekuatannya. Ia kegirangan. Selalu lebih sulit
mengendalikannya ketika emosiku terganggu seperti ini.
Kucoba
untuk menenangkan diri, sehingga aku mampu meletakkan pemuda ini pada tempatnya.
Kau
berada di tempatku.
Pikiran Melanie samar tapi bisa kupahami. Sudah begitu burukkah, sehingga kini
ia cukup kuat untuk bicara kepadaku kapan pun ia menghendakinya? Ini seburuk menit
pertama kesadaranku dulu.
Pergi.
Ini tempatku sekarang.
Takkan
pernah.
Wanderer,
sayang. Tidak, Kau tidak lemah, dan kita berdua tahu itu."
"Hmph."
"Dengarlah.
Kau kuat. Amat sangat kuat. Bangsa kita selalu sama, tapi kau melampaui norma.
Kau begitu berani, sehingga membuatku takjub. Kehidupan-kehidupanmu di masa
lalu adalah buktinya."
Mungkin semua kehidupanku di masa lalu memang begitu, tapi bukan kehidupan ini. Mana kekuatanku sekarang?
Mungkin semua kehidupanku di masa lalu memang begitu, tapi bukan kehidupan ini. Mana kekuatanku sekarang?
"Tapi
manusia lebih beragam daripada kita," lanjut Kathy. "Ada banyak
macamnya, dan beberapa di antara mereka jauh lebih kuat daripada yang lain. Aku
benar-benar yakin bahwa, seandainya bukan kau yang ditempatkan di dalam inang
ini, Melanie akan menghancurkan jiwa itu dalam hitungan hari. Mungkin ini
kebetulan, mungkin ini takdir, tapi tampaknya jiwa-jiwa terkuat bangsa kita juga
disisipkan ke dalam manusia-manusia terkuat."
"Tidak
terlalu mengesankan buat bangsa kita, bukan?"
Kathy
mendengar implikasi di balik kata-kataku. "Pemuda itu tidak menang, Wanderer.
Kaulah pemuda cantik di sampingku ini. Dia hanya bayangan di sudut benakmu."
"Dia
bicara kepadaku, Kathy. Dia masih berpikir dengan pikiran-pikirannya sendiri.
Dia masih menyimpan rahasia-rahasianya."
"Tapi
dia tidak bicara mewakilimu, bukan? Aku ragu, apakah aku mampu berkata sebanyak
itu seandainya berada di tempatmu."
Aku
tidak menjawab. Aku merasa sangat sedih.
"Kurasa
kau harus mempertimbangkan penyisipan ulang."
"Kathy,
kau baru saja mengatakan pemuda ini akan menghancurkan jiwa lain. Aku tidak
tahu apakah aku mempercayai hal itu--mungkin kau hanya mencoba melakukan
pekerjaanmu dan menghiburku. Tapi kalau dia memang begitu kuat, tidaklah adil
untuk menyerahkannya kepada yang lain, hanya karena aku tidak bisa
menundukkannya. SIapa yang akan kaupilih untuk menggunakan tubuhnya"
"Aku
tidak mengucapkan perkataan itu untuk menghiburmu, sayang."
"Lalu
apa--"
"Kurasa
inang ini tidak akan dipertimbangkan untuk dipakai kembali."
"Oh!"
Perasaan
ngeri menjalari tulang punggungku. Dan bukan hanya aku yang terkejut mendengar
gagasan itu.
Aku
langsung merasa mual. Aku bukan pengecut. Selama peredaran-peredaran panjang
mengelilingi matahari-matahari planet terakhirku dulu--dunia See Weed,
begitulah mereka dikenal di sini--aku sabar menunggu.
Walaupun
kepermanenan karena tertanam mulai menjemukanku jauh di luar perkiraan,
walaupun kehidupan See Weed akan diukur dalam hitungan abad di planet ini, aku
belum pernah meloncati masa kehidupan inangku. Itu perbuatan sia-sia, keliru,
tidak tahu berterima kasih. Itu menghina esensi terdalam keberadaan kami
sebagai jiwa. Kami menjadikan dunia kami lebih baik; itu keharusan, atau kami
tak patut tinggal di sana.
Tapi
kami tidak menyia-nyiakan dunia kami. Kami benar-benar menjadikan segalanya
lebih baik, lebih damai, dan indah. Dan manusia memang kejam dan tak bisa
diatur. mereka terlalu sering saling membunuh, sehingga pembunuhan diterima
sebagai bagian kehidupan. Berbagai siksaan yang mereka rancang selama beberapa
milenium keberadaan mereka tak tertahankan bagiku; aku bahkan tak sanggup
membaca ulasan-ulasan resmi menjemukan tentang dunia ini. Perang pernah
berkecamuk di hampir semua benua. Pembunuhan direstui, diperintahkan, dan
mengerikan efektifnya.
Mereka
yang tinggal di negara-negara damai memalingkan wajah ketika para anggota
spesies mereka sendiri kelaparan di ambang pintu mereka. Tidak ada kesetaraan
dalam pendistribusian sumber-sumber alam yang berkelimpahan.
Tapi
yang paling menjijikan adalah, anak-anak mereka--generasi berikutnya, yang oleh
bangsaku nyaris dipuja karena sangat menjanjikan--sering kali jadi korban
kejahatan keji. Dan bukan hanya di tangan orang-orang asing, tapi di tangan
orang-orang yang diberi kepercayaan untuk merawat mereka. Bahkan bulatan besar
planet telah diletakkan dalam keadaan bahaya, karena kesalahan-kesalahan
serakah dan ceroboh mereka. Tak ada yang bisa membandingkan keadaan dulu dengan
sekarang, tanpa mengakui Bumi menjadi tempat yang lebih baik berkat
kehadiran kami.
Kau
membunuh seluruh spesies, lalu memuji diri sendiri.
Tanganku
mengepal.
Aku
bisa membuat dirimu dibuang, pikirku mengingatkan.
Silakan.
Resmikan pembunuhanku.
Aku
hanya menggertak, begitu juga Melanie.
Oh,
pemuda ini mengira dirinya ingin mati. Bagaimanapun, ia telah melemparkan diri
ke terowongan lift. Tapi itu terjadi di tengah kepanikan dan kekalahan. Lain
sekali masalahnya jika mempertimbangkan hal itu dengan tenang di kursi yang
nyaman. Aku bisa merasakan adrenalin Melanie--adrenalin yang muncul karena
ketakutannya--menjalari tungkai-tungkaiku ketika aku mempertimbangkan untuk pindah
ke tubuh yang lebih patuh.
Akan
menyenangkan untuk kembali sendirian, dan memiliki benakku untukku sendiri.
Dunia ini sangat nyaman dengan begitu banyak hal baru, dan akan menyenangkan
jika aku bisa menghargainya tanpa gangguan-gangguan dari nonentitas pemarah dan
salah tempat yang seharusnya lebih berpikiran waras dan tidak tetap tinggal
tanpa diinginkan seperti ini.
Di
dalam ceruk - ceruk benakku, Melanie bergidik ketika aku mencoba
mempertimbangkan pilihan itu secara rasional. Mungkin aku harus menyerah.....
Kata-kata
itu sendiri membuatku tersentak. Aku, Wanderer, menyerah? Kalah? Mengakui
kegagalan dan mencoba lagi dengan inang lemah penakut yang tak bisa memberiku
masalah apa pun?
Aku
menggeleng. Aku nyaris tak sanggup memikirkannya.
Dan...
ini adalah tubuhku. Aku sudah terbiasa merasakannya. Aku menyukai cara
otot-ototnya bergerak di atas tulang-tulang, tekukan sendi-sendi, dan tarikan
urat-uratnya. Aku mengenal pantulanku di cermin. Kulit kecokelatan terbakar
matahari, tulang-tulang wajah tinggi dan tajam, rambut pendek sehalus sutra
berwarna cokelat kemerahan, mata cokelat muda kehijauan pekat. Ini adalah
diriku.
Aku
menginginkan diriku. Takkan kubiarkan milikku dihancurkan.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar