THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 9
DISCOVERED
.
.
.
Aku
menyetir cepat melewati persimpangan. I-10 ketika matahari jatuh di belakangku.
Tak banyak yang kulihat, selain garis-garis putih kuning di aspal dan terkadang
rambu hijau besar yang mengarahkanku semakin ke timur. Kini aku terburu-buru.
Tapi
aku tidak yakin mengapa aku terburu-buru. Kurasa untuk keluar dari semua ini.
Keluar dari rasa sakit, keluar dari kesedihan, keluar dari rasa nyeri akibat
cinta yang hilang dan tak berpengharapan. Apakah itu berarti keluar dari tubuh
ini? Aku tidak bisa memikirkan jawaban lain. Aku masih akan bertanya kepada
Penyembuh, tapi rasanya seakan keputusan telah dibuat.
Peloncat.
Pengecut.
Aku
menguji kata-kata itu di dalam kepalaku, mencoba berdamai dengan mereka.
Seandainya
bisa menemukan caranya, akan kujauhkan Melanie dari tangan Pencari. Akan sangat
sulit. Tidak, itu bakal mustahil.
Akan
kucoba.
Aku
menjanjikan ini kepada Melanie, tapi ia tidak mendengarkan. Ia masih bermimpi.
Menyerah, tampaknya, walaupun kini sudah terlambat untuk menyerahkan diri demi
menolongku.
Kucoba
menyingkir dari ngarai merah di dalam kepala Melanie, tapi aku tetap berada di
sana. Tak peduli betapa keras usahaku untuk melihat mobil-mobil yang menderu di
sampingku, pesawat-pesawat ulang alik yang meluncur menuju pangkalan, sejumput
awan lembut yang melayang di atas kepalaku, aku tidak bisa benar-benar
membebaskan diri dari mimpi-mimpi Melanie. Kuingat wajah Jared dari seribu
sudut berbeda. Kusaksikan Jamie tumbuh mendadak, selalu berupa tulang berbalut
kulit. Sepasang lenganku terasa nyeri, ingin memeluk mereka. Tidak, perasaan
itu lebih tajam daripada rasa nyeri, pinggirannya tajam dan menyayat. Tak tertahankan.
Aku harus keluar.
Aku
menyetir setengah buta di sepanjang jalan bebas hambatan sempit dua lajur.
Padang gurun itu tampak lebih monoton dan mati daripada sebelumnya. Lebih
membosankan, lebih tidak berwarna. Hari ini aku belum makan, dan perutku bergemuruh
ketika menyadari hal ini.
Pencari
akan menungguku di sana. Lalu perutku bergolak, sejenak rasa lapar digantikan
rasa mual. Otomatis kakiku terangkat dari pedal gas.
Kuperiksa
peta di kursi di sampingku. Aku akan segera tiba di tempat perhentian kecil, di
tempat bernama Picacho Peak. Mungkin aku akan berhenti untuk menyantap sesuatu
di sana. Menunda pertemuan dengan Pencari selama beberapa saat yang berharga.
Ketika aku merenungkan nama yang tak
kukenal ini, Picacho Peak, muncul reaksi tertahan aneh dari Melanie. Aku tak
bisa memahaminya. Pernahkah ia ke sini? Aku mencari sebuah ingatan,
penglihatan, atau semacam bau yang berhubungan, tapi tak bisa menemukan apa-apa.
Picacho Peak. Sekali lagi muncul sedikit rasa tertarik yang ditekan Melanie. Apa
arti kata-kata itu baginya?
Ia mundur ke dalam ingatan-ingatan yang
jauh, menghindariku.
Ini membuatku penasaran. Aku menyetir
sedikit lebih cepat, bertanya-tanya apakah melihat tempat itu akan memicu
timbulnya ingatan lain.
Puncak gunung tunggal--tidak besar
berdasarkan standar normal, tapi menjulang di atas perbukitan rendah
berbatu-batu yang lebih dekat denganku--mulai tampak bentuknya di cakrawala.
Bentuk puncak itu aneh, tidak biasa. Melanie mengamatinya, yang semakin besar
ketika kami mendekat, dan berpura-pura mengabaikannya.
Mengapa Melanie berpura-pura tidak
peduli, padahal ia jelas tampak peduli? Aku terganggu oleh kekuatannya ketika
mencoba mencari tahu. Tidak bisa kutemukan jalan apa pun untuk mengitari
dinding kosong tua itu. Terasa lebih tebal daripada biasa, walaupun kukira
dinding itu nyaris tiada.
Aku berusaha mengabaikan Melanie, tidak ingin memikirkan bahwa--bahwa ia semakin kuat. Sebagai gantinya kuamati puncak itu, kutelusuri bentuknya yang dilatari langit panas pucat. Ada sesuatu yang kukenal di sana. Sesuatu yang pasti kukenal, walaupun aku yakin tak satu pun dari kami pernah kemari sebelumnya.
Aku berusaha mengabaikan Melanie, tidak ingin memikirkan bahwa--bahwa ia semakin kuat. Sebagai gantinya kuamati puncak itu, kutelusuri bentuknya yang dilatari langit panas pucat. Ada sesuatu yang kukenal di sana. Sesuatu yang pasti kukenal, walaupun aku yakin tak satu pun dari kami pernah kemari sebelumnya.
Seakan mencoba mengalihkan perhatianku,
Melanie menceburkan diri ke dalam ingatan yang sangat jelas mengenai Jared,
membuatku terkejut.
Aku menggigil dalam jaketku,
menegangkan mata untuk melihat kilau teredam matahari yang tenggelam di balik
pepohonan besar berduri. Kukatakan pada diri sendiri bahwa udara tidak sedingin
yang kupikirkan. Tubuhku hanya belum terbiasa.
Sepasang tangan yang sekonyong-konyong
berada di bahuku tidak mengejutkanku, walaupun aku takut terhadap tempat yang
tidak kukenal ini dan tidak mendengar Jared diam-diam mendekatiku. Bobot sepasang
tangan itu teramat kukenal.
"Kau mudah dikejutkan."
Bahkan saat ini pun, ada senyuman di
wajahnya.
"Sudah kulihat kedatanganmu
sebelum kau mengambil langkah pertama," ujarku, tanpa membalikkan tubuh.
"Aku punya mata di belakang kepala."
Jemari hangat membelai wajahku dari
pelipis sampai dagu, menyeret api sepanjang permukaan kulitku.
"Kau mirip peri hutan yang
bersembunyi di pepohonan," bisik Jared di telingaku. "Salah satu dari
mereka. Sangat cantik, sehingga mestinya kau hanya khayalan."
"Kalau begitu kita harus menanam
lebih banyak pohon di sekeliling kabin."
Jared terbahak, dan suara itu membuat
mataku terpejam dan bibirku menyeringai lebar.
"Tak perlu," katanya.
"Kau memang selalu kelihatan seperti itu."
"Itu kata lelaki terakhir di Bumi
kepada perempuan terakhir di Bumi, di pengujung perpisahan mereka."
Senyumku memudar ketika bicara. Senyum
tak bisa bertahan hari ini. Jared mendesah.
Napasnya di pipiku cukup hangat jika
dibandingkan dinginnya udara hutan.
"Jamie mungkin membenci implikasi
perkataanmu itu."
"Jamie masih kanak-kanak. Kumohon,
kumohon, jagalah keamanannya."
"Begini saja," tawar Jared.
"Kau menjaga agar dirimu tetap aman, dan aku akan berbuat sebaik mungkin.
Jika tidak, tak ada kesepakatan."
Itu hanya gurauan, tapi tak bisa
kuanggap enteng. Begitu kami berpisah, tak ada jaminan. "Tak peduli apa yang
terjadi," ujarku berkeras.
"Tak akan terjadi apa-apa. Jangan
khawatir." Kata-kata itu nyaris tak berarti. Usaha yang sia-sia. Tapi
suara Jared patut didengarkan, tak peduli apa pesannya.
"Oke."
Ia
membalikkan tubuhku agar menghadapnya, dan kusandarkan kepala di dadanya. Aku
tak tahu harus membandingkan aroma tubuh Jared dengan apa. Itu aroma miliknya
sendiri, sama uniknya dengan bau semak juniper atau hujan padang gurun.
"Kau
dan aku tidak akan kehilangan satu sama lain," janjinya. "aku akan
selalu menemukanmu kembali." Khas Jared, ia tak bisa benar-benar serius
selama lebih dari satu atau dua detak jantung.
"Tak
peduli betapa pintarnya kau bersembunyi. Aku ahli dalam permainan petak
umpet."
"Apakah
kau akan selalu mencariku setelah hitungan kesepuluh?"
"Tanpa
mengintip."
"Baiklah,"
gumamku. Kucoba untuk menyembunyikan kenyataan bahwa tenggorokanku tercekat.
"Jangan
takut. Kau akan baik-baik saja. Kau kuat, kau cepat, dan kau pintar." Ia
sedang mencoba meyakinkan dirinya juga.
Mengapa
aku meninggalkan Jared? Kecil sekali kemungkinan Sharon masih manusia.
Tapi
ketika kulihat wajah gadis itu di berita televisi, aku sangat yakin.
Itu
hanya penjarahan biasa, salah satu dari ribuan penjarahan. Seperti biasa, jika
kami merasa cukup terisolasi, merasa cukup aman, kami menyalakan TV sambil
menjarah isi lemari dapur dan kulkas. Hanya untuk mendengarkan ramalan cuaca;
tak banyak hiburan dalam laporan serbasempurna dan sangat membosankan yang
disebut sebagai berita oleh parasit-parasit itu. Rambut Sharon-lah yang menarik
perhatianku--kilau warna merah tua, nyaris merah jambu, yang hanya pernah
kujumpai pada diri satu orang.
Masih
bisa kulihat tatapan di wajah Sharon ketika mengintip kamera dari sudut mata.
Tatapan yang mengatakan, Aku mencoba untuk tidak terlihat; jangan melihatku.
Jalannya tak cukup lambat, ia berjuang terlalu keras untuk mempertahankan
kesantaian langkahnya. Mencoba mati-matian untuk berbaur.
Tak
ada perampas tubuh yang merasa perlu berbuat seperti itu. Sedang apakah Sharon?
Berjalan-jalan seperti manusia di kota besar seperti Chicago? Adakah manusia
lainnya? Mencoba mencari Sharon bahkan tidak tampak sebagai pilihan. Sungguh.
jika kemungkinan ada lebih banyak manusia di luar sana, kami harus mencari
mereka.
Dan
aku harus pergi sendirian. Sharon akan lari dari semua orang lain, kecuali
dariku. Well, ia akan lari dariku juga, tapi mungkin akan berhenti cukup lama
agar aku bisa menjelaskan. Aku yakin aku tahu tempat rahasianya.
"Dan
kau?" tanyaku kepada Jared dengan suara parau. Aku tak yakin apakah secara
fisik aku bisa menanggungkan perpisahan yang sangat membayangi kami ini.
"Akankah kau aman?"
"Surga
maupun neraka takkan bisa memisahkanku darimu, Melanie."
Tanpa
memberiku kesempatan untuk menghela napas atau mengusap air mata yang baru saja
keluar, Melanie melemparkan ingatan lain kepadaku.
Jamie
meringkuk di bawah lenganku, walaupun tidak pas seperti dulu. Ia harus melipat
tubuhnya. Tungkai-tungkai panjang kurusnya menyembul keluar, membentuk
sudut-sudut tajam. Lengannya mulai berubah liat dan berotot, tapi saat ini ia
masih kanak-kanak, gemetar, nyaris ketakutan. Jared sedang memasukkan
barang-barang ke dalam mobil. Jamie takkan menunjukkan rasa takut jika Jared di
sini, Jamie ingin menjadi pemberani, ingin menjadi seperti Jared.
"Aku
takut," bisiknya.
Kucium
rambut Jamie yang segelap malam. Bahkan di sini, di antara pepohonan berbau
damar tajam, bau rambutnya seperti debu dan matahari. Rasanya seakan Jamie
adalah bagian dari diriku. Dan untuk memisahkan kami, seseorang harus merobek
kulit yang menyatukan kami.
"Kau
akan baik-baik saja bersama Jared." Aku harus terdengar berani, tak peduli
aku merasa seperti itu atau tidak.
"Aku
tahu itu. Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kau tidak akan kembali. Seperti
Dad."
Aku
tersentak. Ketika Dad tidak kembali, walaupun tubuhnya akhirnya mencoba
menuntun para Pencari kepada kami, aku dilanda perasaan paling mengerikan,
menakutkan, dan menyakitkan yang pernah kurasakan. Bagaimana jika aku melakukan
hal yang sama lagi terhadap Jamie?
"Aku
akan kembali. Aku selalu kembali."
"Aku
tahu," ujarnya lagi.
Aku
harus berani, "Aku janji, semua akan baik-baik saja. Aku janji, aku akan
kembali. Kau tahu aku takkan mengingkari janji, Jamie. Apalagi janjiku
kepadamu."
Guncangan
tubuhnya mereda. Ia percaya. Ia memercayaiku.
Dan
satu ingatan lagi: Aku bisa mendengar mereka di lantai di bawahku. Mereka akan
menemukanku dalam hitungan menit, atau detik. Kugoreskan kata-kata di atas
robekan kertas koran kotor. Nyaris tak terbaca. Tapi jika Jared menemukannya,
ia akan mengerti:
Tidak
cukup cepat. Aku mencintaimu dan mencintai Jamie. Jangan pulang.
Bukan
hanya menghancurkan hati mereka, tapi aku juga mencuri tempat pengungsian
mereka. Kubayangkan rumah ngarai mungil kami ditinggalkan, kini untuk
selamanya. Atau, jika tidak ditinggalkan, telah menjadi kuburan. Kulihat
tubuhku menuntun para Pencari ke sana. Wajahku tersenyum ketika kami menangkap
mereka di sana.
"Cukup,"
ujarku keras-keras, seraya menjauhkan diri dari lecutan rasa nyeri itu.
"Cukup! Kau sudah menjelaskan maksudmu! Kini aku juga tak bisa hidup tanpa
mereka. Apakah itu membuatmu senang? Itu tidak memberiku banyak pilihan, bukan?
Hanya satu--menyingkirkanmu. Kau ingin Pencari berada di dalam tubuhmu?
Ugh!" Aku ciut membayangkannya, seakan akulah yang akan menampung Pencari.
Ada
pilihan lain, kata Melanie lembut.
"Benarkah?"
desakku, dengan nada mengejek. "Tunjukkan."
Lihat
dan amati.
Aku
masih menatap puncak gunung. Puncak itu mendominasi pemandangan. Tonjolan
mendadak batu karang, dikelilingi tanah datar bersemak-semak. Perhatian Melanie
menarik mataku pada siluetnya, lalu menelusuri puncak bercabang dua yang tidak
rata itu.
Lengkungan
melandai kasar, lalu belokan tajam ke utara, belokan tajam lagi ke arah
berlawanan, berputar lagi ke utara dan agak memanjang, lalu mendadak turun ke
selatan, dan mendatar membentuk lengkungan melandai lain.
Bukan
ke utara dan selatan seperti garis-garis yang selalu kulihat dalam potongan -
potongan ingatan Melanie, melainkan ke atas dan ke bawah.
Profil
puncak gunung.
Garis-garis
yang menuntun kepada Jared dan Jamie. Ini garis pertama, titik awalnya.
Aku
bisa menemukan mereka.
Kita
bisa menemukan mereka, ralat Melanie. Kau tak tahu semua petunjuknya. Persis
kabin itu. Aku tak pernah membeberkan semuanya kepadamu.
“Aku
tidak mengerti. Garis itu menuntun kemana? Bagaimana mungkin gunung bisa
menuntun kita?”
Jantungku
berdegup semakin kencang ketika memikirkannya: Jared ada di dekatku. Jamie
berada dalam jangkauanku.
Melanie memberiku jawabannya.
"Itu
hanya garis - garis. Dan Uncle Jeb hanya lelaki tua gila. Tidak waras, sama
seperti semua keluarga ayahku." aku mencoba merebut buku itu dari tangan Jared,
tapi tampaknya ia nyaris tidak memperhatikan usahaku.
"Tidak
waras, seperti ibu Sharon?" tanyanya, masih mengamati goresan-goresan
gelap pencil yang mengotori sampul belakang album foto tua itu--satu-satunya
benda yang belum hilang dalam semua pelarianku. Bahkan coret-coret yang
ditinggalkan Uncle Jeb di sana saat kunjungan terakhirnya pun kini memiliki
nilai sentimental.
"Tepat
sekali." Seandainya Sharon masih hidup, itu pasti karena ibunya, Aunt Boa
yang sinting berhasil menyaingi Uncle Jeb dalam meraih julukan Yang Tergila
dari si Gila Stryder Bersaudara. Ayahku hanya mendapat sedikit sentuhan
kegilaan Stryder --ia tidak punya bunker rahasia di pekarangan belakang atau
semacamnya. Semua saudara ayahku, baik perempuan maupun laki-laki, Aunt Boa,
Uncle Jeb, dan Uncle Guy, adalah penganut paling setia teori konspirasi. Uncle
Guy sudah meninggal, sebelum yang lain menghilang selama penyerbuan
mahluk-mahluk asing itu. Ia meninggal dalam kecelakaan mobil yang sangat biasa,
sehingga Boa dan Jeb berjuang menciptakan intrik untuk peristiwa itu.
Ayahku
selalu menyebut mereka dengan penuh kasih sebagai Orang-Orang Sinting.
"Kurasa sudah saatnya kita mengunjungki Orang-Orang Sinting." Dad
mengumumkan. Lalu Mom akan menggerutu--dan itulah sebabnya pengumuman semacam
itu jarang sekali terjadi.
Dalam
salah satu kunjungan langka kami ke Chicago, Sharon menyelundupkanku ke dalam
lubang persembunyian ibunya. Kami ketahuan--Aunt Boa memasang ranjau di
mana-mana. Sharon di marahi habis-habisan dan, walaupun aku sudah disumpah
untuk merahasiakannya, kurasa Aunt Boa akan membangun tempat perlindungan baru.
Tapi
aku ingat dimana tempat persembunyian pertama itu. Kubayangkan Sharon kini berada
di sana, menjalani kehidupan seperti Anne Frank di tengah kota musuh. Kami
harus menemukan dan membawanya pulang.
Jared
menyela lamunanku. "Tidak waras adalah jenis orang yang bakal bertahan
hidup. Orang yang melihat Big Brother ketika ia tak di sana. Orang yang
mencurigai seluruh umat manusia, sebelum mereka berubah membahayakan. Orang
yang siap dengan tempat persembunyian."
Jared
nyengir, masih sambil mempelajari garis-garis itu. Lalu suaranya agak parau.
"Orang seperti ayahku. Seandainya dia dan semua saudara laki-lakiku
memilih bersembunyi dan tidak melawan... Well, mereka akan masih berada di
sini."
Nada
suaraku melembut mendengar rasa pedih dalam suara Jared.
"Oke,
aku setuju dengan teori itu. Tapi garis - garis ini tak ada artinya."
"Ulangi
lagi apa kata Uncle Jeb ketika menggambar garis-garis ini."
Aku
mendesah. "Mereka sedang berselisih--Uncle Jeb dan ayahku. Uncle Jeb
mencoba meyakinkan ayahku ada yang tidak beres. Dia mengatakan kepada ayahku
untuk tidak memercayai siapa pun. Dad menertawakannya. Jeb meraih album foto
ini dari meja dan mulai... bisa dibilang dia mengukirkan garis - garis itu di
sampul belakangnya dengan pensil. Dad marah, mengatakan Mom bakal marah.
Kata
Jeb, 'paman Linda meminta kalian semua datang berkunjung, bukan? Agak aneh,
tanpa disangka-sangka? Dan dia sedikit marah ketika hanya Sooman yang bisa
datang? Sejujurnya Trev, kurasa Sooman tidak akan terlalu keberatan ketika dia
kembali. Oh, mungkin dia akan berpura-pura keberatan, tapi kau akan bisa
mengetahui perbedaannya.' Saat itu perkataan Uncle Jeb tak masuk akal, tapi
benar-benar membuat ayahku marah dan mengusirnya. Awalnya Jeb tak mau pergi.
Dia terus-menerus mengingatkan kami untuk tidak menunggu sampai semuanya
terlambat. Dia meraih bahuku dan menarikku ke sisinya. 'Jangan biarkan mereka
menangkapmu, Sayang,' bisiknya. 'Ikuti garis-garis itu. Mulailah dari awal dan
ikuti garis-garis itu. Uncle Jeb akan menyediakan tempat aman untukmu.' Saat
itulah Dad mendorongnya keluar dari pintu."
Jared
mengangguk-angguk tanpa sadar. Ia masih mempelajari garis-garis itu.
"Awal...awal... seharusnya itu ada artinya."
"Benarkah?
Itu hanya coret - coret, Jared. Tidak seperti peta--garis - garis itu bahkan
tidak berhubungan."
"Tapi
ada sesuatu mengenai garis pertama. Sesuatu yang kukenal. Aku bersumpah pernah
melihatnya di suatu tempat."
Aku
mendesah. "Mungkin Uncle Jeb menceritakannya kepada Aunt Boa. Mungkin Aunt
Boa punya petunjuk-petunjuk lebih baik."
"Mungkin,"
ujar Jared. Dan ia terus memandangi corat-coret Uncle Jeb.
Melanie
menarikku kembali ke masa lalu, ke dalam ingatan yang jauh, jauh lebih
lama--ingatan yang telah lama dilupakannya. Aku terkejut menyadari
ingatan-ingatan ini, yang baru maupun lama, yang baru digabungkan olehnya
setelah aku berada di sini. Itulah sebabnya garis-garis itu lolos dari
pengontrolan ketatnya, walaupun sesungguhnya merupakan salah satu rahasia
paling berharga--karena begitu pentingnya penemuan ini.
Dalam
ingatan awal yang kabur ini, Melanie duduk di pangkuan ayahnya. Album yang
sama--saat itu belum begitu compang-camping--terbuka di tangannya. Tangan Melanie
mungil, jari-jarinya pendek gemuk. Aneh sekali mengingat tubuh ini ketika masih
kecil.
Mereka
sedang melihat halaman pertama.
"Kau
ingat di mana ini?" tanya Dad, menunjuk foto abu-abu tua di bagian atas.
Kertasnya lebih tipis daripada foto-foto lain, seakan telah aus--semakin pipih
dan pipih dan pipih--semenjak kakek buyut mengambil foto itu.
"Di
sinilah asal kita, keluarga Stryder." jawabku, mengulangi apa yang sudah
diajarkan kepadaku.
"Benar.
Itu peternakan tua Stryder. Kau pernah ke sana, tapi kujamin kau tidak ingat.
Kurasa usiamu baru delapan belas bulan saat itu." Dad tertawa. "Sudah
menjadi tanah Stryder sejak awal sekali..."
Lalu muncul ingatan mengenai foto itu sendiri. Gambar yang sudah dilihat Melanie ribuan kali, tanpa benar-benar melihatnya. Fotonya hitam-putih, dan telah memudar jadi abu-abu. Sebuah rumah ayu pedesaan kecil, jauh di sisi lain ladang padang gurun. Di latar depan tampak pagar kandang, dengan beberapa siluet kuda di antara pagar dan rumah. Lalu, di belakang semua itu, profil tajam yang tak asing lagi...
Lalu muncul ingatan mengenai foto itu sendiri. Gambar yang sudah dilihat Melanie ribuan kali, tanpa benar-benar melihatnya. Fotonya hitam-putih, dan telah memudar jadi abu-abu. Sebuah rumah ayu pedesaan kecil, jauh di sisi lain ladang padang gurun. Di latar depan tampak pagar kandang, dengan beberapa siluet kuda di antara pagar dan rumah. Lalu, di belakang semua itu, profil tajam yang tak asing lagi...
Serangkaian
kata, sebuah catatan, digoreskan dengan pensil pada pinggiran putih di bagian
atas foto:
Peternakan Stryder , 1904, dalam bayangan pagi...
Peternakan Stryder , 1904, dalam bayangan pagi...
"Picacho
Peak," kataku pelan.
Jared
juga akan menemukan jawaban itu, kalaupun mereka tak pernah menemukan Sharon.
Aku tahu Jared akan menyatukan semua kepingan teka-teki itu. Ia lebih pintar
dariku, dan ia punya fotonya; mungkin ia sudah melihat jawabannya, sebelum aku
melihatnya. Mungkin ia berada sangat dekat...
Pikiran
itu begitu memenuhi benak Melanie dengan kerinduan dan kegembiraan, sehingga
dinding kosong di kepalaku lenyap seluruhnya.
Kini
aku melihat seluruh perjalanan itu, melihat perjalanan hati-hati Melanie, Jared,
dan Jamie melintasi negara-negara bagian, selalu di malam hari, dengan
kendaraan curian yang tidak mencolok. Makan waktu berminggu-minggu. Kulihat di
mana Melanie meninggalkan mereka, di hutan cagar alam di luar kota, yang sangat
berbeda dengan padang gurun kosong yang biasa mereka huni. Dalam beberapa hal
hutan dingin tempat Jared dan Jamie bersembunyi dan menunggu itu terasa lebih
aman. Dahan-dahan pepohonannya besar dan menutupi, tidak seperti tanaman kurus
panjang di padang gurun yang hanya bisa sedikit menutupi. Tapi hutan itu juga
lebih berbahaya, dengan bau-bau dan suara-suara asingnya.
Lalu
perpisahan itu, ingatan yang begitu menyakitkan sehingga kami tersentak dan
melewatkannya. Berikutnya muncul banguna terlantar tempat Melanie bersembunyi
sambil mengamati rumah di seberang jalan, mencari peluang. Di sana, tersembunyi
di balik dinding-dinding atau di dalam ruang bawah tanah rahasia, ia berharap
bisa menemukan Sharon.
Seharusnya
tak kubiarkan kau melihatnya, ujar Melanie. Suara
pelan samar-samar itu mengungkapkan kelelahan. Serangan ingatan-ingatan ini,
dan bujukan serta pemaksaan yang ia lakukan, telah melelahkannya.
Kau
akan menceritakan tempat persembunyian Sharon kepada mereka. Kau juga akan
membunuhnya.
"Ya,"
jawabku keras-keras. "Aku harus melaksanakan tugasku."
Mengapa?
Melanie bergumam, nyaris mengantuk. Kebahagiaan macam apa yang akan
kaudapatkan?
Aku tak ingin berbantahan dengannya, jadi aku diam saja.
Aku tak ingin berbantahan dengannya, jadi aku diam saja.
Gunung
itu menjulang semakin tinggi di depan kami. Sebentar lagi kami akan berada di
bawahnya. Aku bisa melihat tempat perhentian kecil dengan toko sederhana dan
restoran cepat saji yang salah satu sisinya dibatasi lapangan beton--tempat
parkir rumah-rumah mobil. Sekarang hanya beberapa yang dihuni, panas menjelang
musim panas membuat segalanya terasa tidak nyaman.
Sekarang
bagaimana? pikirku bertanya-tanya. Berhenti untuk makan siang larut atau makan
malam kepagian? Memenuhi tangki bensin, lalu meneruskan perjalanan ke Tucson
untuk mengungkapkan penemuan-penemuan baruku kepada Pencari?
Pikiran
itu begitu memuakkan, sehingga rahanku terkatup menahan perut kosongku yang
tiba-tiba bergolak. Refleks kuinjak rem.
Mobil
berdecit, lalu berhenti di tengah jalur. Aku beruntung; tak ada mobil yang
menabrakku dari belakang. Juga tak ada pengemudi yang berhenti dan menawarkan
pertolongan.
Saat
ini jalan raya kosong. Matahari menyinari trotoar, membuatnya berkilau, lalu
menghilang di beberapa bagian.
Seharusnya
gagasan untuk terus ke kanan dan melanjutkan perjalanan awalku takkan terasa
seperti pengkhianatan. Bahasa pertamaku, bahasa asli jiwa yang hanya diucapkan
di planet asal kami, tidak memiliki kata untuk pengkhianatan ata pengkhianat.
Atau bahkan kesetiaan--karena, tanpa keberadaan lawan katanya, konsep itu tidak
memiliki makna.
Namun
aku merasa sangat bersalah ketika memikirkan Pencari. Rasanya keliru
menceritakan apa yang kuketahui kepadanya.
Bagaimana
mungkin keliru?
Kutentang
pikiranku sendiri mati-matian. Jika aku berhenti di sini dan mendengarkan
saran-saran menggairahkan inangku, aku benar-benar akan menjadi pengkhianat.
Itu mustahil Aku adalah sesosok jiwa.
Namun
aku tahu apa yang kuinginkan lebih kuat dan nyata daripada segala yang pernah
kuinginkan dalam delapan kehidupan yang pernah kujalani. Gambaran wajah Jared
menari-nari di balik kelopak mataku ketika aku mengedipkan mata karena silaunya
matahari. Kali ini gambaran itu bukanlah ingatan Melanie, melainkan ingatanku
akan ingatan Melanie. Kini gadis ini tidak memaksakan apa-apa kepadaku, Nyaris
bisa kurasakan kehadirannya di dalam kepalaku ketika ia menunggu--kubayangkan
ia menahan napas, seakan itu memungkinkan--agar aku mengambil keputusan.
Aku
tak bisa memisahkan diriku dari hasrat tubuh ini. Itu aku, melebihi segala yang
pernah kuinginkan. Apakah aku yang menginginkannya, atau tubuh ini? Apakah
perbedaan itu ada artinya sekarang?
Di
kaca spion kilau matahari yang memantul dari mobil di kejauhan tetangkap mataku.
Kupindahkan kakiku ke pedal gas, lalu perlahan-lahan menuju toko kecil di dalam bayangan puncak. Sesungguhnya hanya satu hal yang harus dilakukan.
Kupindahkan kakiku ke pedal gas, lalu perlahan-lahan menuju toko kecil di dalam bayangan puncak. Sesungguhnya hanya satu hal yang harus dilakukan.
.
.
.
TO
BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar