Laman

Sabtu, 02 Juli 2016

FANFICTION: BABY'S BREATH PROLOG


Seorang gadis cantik berambut coklat lembut mengernyit dalam tidurnya. Tubuhnya tak mau diam. Menengok ke kanan dan kiri. Seakan tidak nyaman dalam tidurnya.
Disekelilingku gelap.
Bau itu.....
Aku bisa menciumnya... Bau anyir darah.
Aku meraba-raba sekelilingku.
Dimana aku?
Saat itu tanganku menyentuh wajah orang. Dalam siluetnya aku melihat ada darah. Itu sangat banyak. Ada dimana-mana. Disekelilingku.
Disekelilingku.
HAAH!! HAAH!!
Gadis itu membuka kedua kelopak matanya dengan napas yang tersengal-sengal. Menampilkan iris mata ungunya yang bening.  Dia terduduk disana. Diruang kamar yang sepi. Masih tersengal-sengal ia bergelung dengan memeluk kedua lutunya hingga nyaris menyentuh dagunya. Masih dengan napas yang tersengal-sengal.
.
.
.
BABY’S BREATH
amandaerate
MANYEOLBAEK
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Drama, a little bit Mystery
Disclaimer: Para tokoh hanya aku pinjam nama saja. Terinspirasi dari webtoon yang berjudul Winter Woods tetapi aku mengambil sisi Adora dan Zoe, kupikir-pikir bakalan cocok kalau pemerannya Chanbaek. Ada yang sependapat? Muehehe. Aku mengambil jalan cerita di awal. Nanti bakalan ada perubahan cerita yang bakalan aku masukin dari pemikiranku^^ semoga kalian tidak salah paham dan mengerti;)
Summary: Aroma kuat parfum yang harum, satu-satunya aroma yang selalu Baekhyun dapat dari Chanyeol. Baekhyun tak takut dan tak peduli apapun yang akan dilakukan Chanyeol padanya. “Karena aku tahu aku begitu berharga baginya. Dan dia tidak akan menyakitiku. Karena yang membuatku takut hanyalah saat dia tak ada disisiku.” – Baekhyun.
.
.
.
BABY’S BREATH
PROLOG
.
.
.
Baekhyun melihat sekelilingnya yang gelap. Berjalan dengan meraba-raba dinding. Perlahan-lahan. Hingga menuju ke arah suara yang samar-samar didengarnya.
Aromanya harum......
Mungkin ia berada didapur saat ini.
“Chanyeol?”
Chanyeol yang sedang sibuk didapur untuk memasak sesuatu tanpa menoleh tersenyum. “Selamat pagi, Baekhyun...”
Baekhyun berjalan lagi. Meraba lagi. Mencari punggung Chanyeol.
Setelahnya ia memeluk Chanyeol dari belakang. Inilah sesuatu yang sangat disukainya. Memeluk tubuh tinggi lelaki itu. Ia menyamankan pelukannya. Mencari perlindungan.
“Ada apa? Apakah ada sesuatu?” Tanpa menoleh Chanyeol bertanya. Dia masih tersenyum. Senyuman yang Chanyeol berikan itu hanya dirinya lah yang mengerti apa arti dari senyumnya.
Baekhyun dengan enggan menjawab. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Menempelkan pipinya ke punggung Chanyeol. Raut wajahnya menandakan bahwa ia murung dan gelisah.
“Kau pasti memimpikan itu lagi.... Seharusnya kau sudah biasa sekarang....”
Baekhyun semakin mengeratkan lagi pelukannya. Mungkin Chanyeol akan sesak.
“Mimpi itu mungkin akan selamanya menghantuiku...” Suaranya nyaris menciut. “Aku takkan pernah terbiasa.”
Mereka hanya berdua diruangan itu. Suasana sangat hening. Bahkan mereka mendengar gema suara mereka sendiri dalam ruangan yang sunyi. Yang terdengar hanyalah desisan air sayur yang direbus. Atau acara memotong rempah-rempah yang telah disiapkan Chanyeol. Juga, pemandangan Baekhyun yang masih betah memeluk Chanyeol dari belakang.
“Kau tak pernah memiliki kenangan yang tak bisa dilupakan? Sesuatu yang membuatmu merasa bersalah? Kau pernah cerita, dulu.....”
Belum habis Baekhyun berbicara, tetapi dengan cepat Chanyeol memotongnya. “Rasanya tidak.”
“Ah, ada satu. Tapi bukan rasa bersalah.” Sebuah pisau yang telah digenggam Chanyeol diangkat olehnya. Sejajar dengan wajah Chanyeol. Wajahnya masih tersenyum tampan. “Ada sejumlah wajah yang kuharap tak pernah kulupakan.”
Seperti dapat merasakan sesuatu yang terbilang cukup langka telah dirasakan oleh Chanyeol. Chanyeol merasa bahagia.
“Chanyeol, hari ini kau terasa berbeda. Apa ada sesuatu yang menyenangkan?” Dia mendongak keatas.
“Tentu saja. Menyenangkan sekali sampai sulit ditebak.”
Baekhyun merasa sedih. Dia menunduk dalam. Menempelkan dahinya di punggung Chanyeol. “Aku tahu kau takkan memberitahuku. Lalu kenapa kau mengatakannya?”
Tak ada jawaban dari Chanyeol. Suara seketika sunyi senyap. Tak ada suara pisau yang memotong sesuatu atau suara desisan air sayur yang sedang direbus.
Baekhyun mendongak lagi. “Peluk aku, Chanyeol....” Baekhyun mundur dan menyisakan jarak yang dekat dari tempat Chanyeol berpijak.
Chanyeol kali ini menoleh kearah Baekhyun dan tersenyum. Dia melangkah mendekati Baekhyun. Melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun dan memeluknya. Baekhyun otomatis melingkarkan tangannya pada leher Chanyeol.
Gadis bernama Baekhyun itu dapat dibilang mungil. Tingginya bahkan tak sampai pada dagu Chanyeol. Dia begitu cantik dengan iris mata ungu yang telah dimilikinya serta bibir ranum semerah tomat yang tipis. Berbeda dengan Chanyeol yang tinggi serta berwajah tampan. Bibir bawahnya tebal, kebalikan dari bibir ranum tipis milik Baekhyun. Jika, Baekhyun memiliki iris mata berwarna ungu, Chanyeol memiliki iris mata berwarna biru laut. Sayangnya, Baekhyun tak dapat melihat iris mata biru Chanyeol yang begitu menawan.
Mereka melepas pelukan mereka tanpa menjauhi wajah masing-masing. Baekhyun meraba rahang keras milik Chanyeol. Tetapi dengan halus Chanyeol menjauhi tangan Baekhyun.
“Jangan, Baekhyun.....”
Baekhyun lagi-lagi merasa sedih. “Tapi aku ingin ‘melihat’ wajahmu.”
“Tak boleh.”
Baekhyun memeluk Chanyeol lagi. Namun, Chanyeol tak membalasnya. Dia menunduk lagi. Mungil sekali. Dia hanya sampai pada dada bidang milik Chanyeol.
“Tak bisakah aku pergi denganmu? Aku benci sendirian disini. Aku terus memikirkan hal-hal buruk.”
“Baekhyun, semua orang memiliki luka yang takkan pernah sembuh yang tak boleh diusik oleh siapapun.” Kali ini tidak ada senyum dalam nada suaranya. Wajahnya hanya datar. “Tak peduli sebaik apa orang itu.... Kita tak tahu pasti apa yang terjadi saat batas itu dilanggar.”
“Kau takkan pernah menyakitiku.”
“Tadi kau sangat baik, tapi sekarang kau kumat lagi.” Chanyeol melepaskan pelukan Baekhyun. “Kau ingin dikunci lagi di ruangan itu seperti sebelumnya? Apa kali ini aku harus mengikatmu lagi? Aku mungkin akan melihat raut ketakutan di wajahmu.” Kali ini dia tersenyum lagi. Tak ada yang bisa menebak orang macam apa dia.
Baekhyun ingin memeluk Chanyeol lagi. Tetapi, Chanyeol menghalanginya. “Kira-kira seperti apa ya? Kau tak ingin itu terjadi kan? Jadi, jangan pernah bilang kau ingin ikut ke tempatku.”
Chanyeol memegang pundak mungil Baekhyun. Menuntunnya untuk duduk ke meja makan. “Sekarang saatnya makan.”
Baekhyun tak menanggapi. Wajahnya terbilang datar. Tetapi dia masih terlihat murung.
Suara langkah Chanyeol telah didengar oleh Baekhyun.
“Kau sudah mau pergi?” Pandangannya tetap lurus kedepan.
“Ya, hari ini aku harus pergi lebih cepat. Ada seseorang yang harus kutolong.” Chanyeol memakai mantel tebal berwarna hijau gading serta topi miliknya. Bersiap akan pergi.
“Chanyeol, kalau kau tak mau membawaku kesana..... Aku akan mencari tempatmu sendiri.”
Chanyeol tersenyum, menoleh pada Baekhyun yang membelakanginya. “Kalau keparat buta sepertimu bisa melakukannya. Aku akan sangat terkesan.”
Suara pintu yang dibuka dan ditutup setelahnya mengakhiri percakapan pagi Baekhyun dengan Chanyeol.
Baekhyun menunduk sedih. Sendiri lagi dalam kesunyian yang telah menjadi temannya setiap hari. “Aku bisa menemukanmu.”
.
.
.
Cahaya masuk dari jendela yang tidak ada tirai. Tanaman dalam tabung yang dibiarkan kering dan tak terurus berada disana. Musim dingin sudah berlalu satu minggu. Udara yang dingin tak menyebabkan Baekhyun uring-uringan. Dia tahu dia benci dingin. Tetapi dia harus.
Baekhyun telungkup di atas kasur. Matanya seolah memandang kosong. Sebelum beranjak dari tempat tidur, Baekhyun memang selalu berbaring sejenak. Sambil mengingat masa-masa saat Chanyeol mendekapnya dengan erat. Atau hal lain yang berhubungan dengan Chanyeol.
Setelahnya Baekhyun bersiap-siap untuk pergi keluar. Baekhyun memakai syal tebal yang telah ia raba sebelumnya. Mantel merah maroon telah terpasang rapih. Rok selutut berwarna hijau gading. Tapi yang tampak aneh adalah kaos kaki yang berbeda warna. Kaos kaki kanan berwarna putih sedangkan kaos kaki kirinya berwarna ungu. Sepatu tidak ada masalah. Hanya kaos kaki saja yang salah pilih.
Baekhyun tidak tahu apapun. Dan tidak terlalu memikirkannya. Yang penting Baekhyun telah siap untuk pergi keluar. Baekhyun tersenyum dengan penuh keyakinan.
Hari ini aku harus pergi dan mencari keberadaannya.....
Itulah yang selalu muncul di benaknya.
Dengan mengambil tongkat hitamnya. Dia berjalan perlahan menuju pintu. Dan melangkah keluar.
Baekhyun berjalan di sepanjang pinggir jalan besar yang banyak dilalui kendaraan. Sebenarnya, sudah lama Baekhyun berpikir dan mengira-ngira dimana Chanyeol tinggal, dan Baekhyun juga sudah berusaha menemukan tempatnya. Tiap kali Chanyeol mendekapnya, Baekhyun berhasil mendapatkan sedikit informasi baru.
Aroma kuat parfum yang harum....
Seperti harum bunga....
Saat itu Baekhyun melewati toko bunga-bunga hutan.
Dan, aroma roti manis yang dibuat di dalam toko roti....
Baekhyun melewati toko roti.
Sedikit jejak aroma kopi....
Juga melewati cafe.
Dan uap air dari got saat musim dingin.
Dan melewati genangan air disebelah kakinya.
Dan aroma yang paling tipis dan ringan dari semuanya adalah aroma darah.
Semua itu jelas adalah aroma yang didapat Chanyeol dalam perjalanan rumahnya. Chanyeol juga mungkin telah melewati jalan yang barusan ia lewati. Sama persis. Tanpa penglihatannya, Baekhyun menggunakan indra lain yang ia miliki. Dan berkelana kemana-mana untuk waktu yang lama.
Dan kemudian setelah berjalan dengan menggunakan instingnya. Baekhyun akhirnya menemukan tempat itu.
Baekhyun berhasil merasakan, sayup-sayup.....
Aroma segar hutan yang diselubungi kabut.
Dan, saat itu tanpa Baekhyun sadari Baekhyun menghadap kearah perumahan dekat hutan. Baekhyun mendesah lega. Baekhyun akhirnya tersenyum.
Aku berhasil menemukannya.
.
.
.
Kegiatan orang-orang disana di musim dingin seperti ini. Ada yang sedang bersih-bersih, melukis,  ada juga sekumpulan anak-anak yang senang bermain di sekeliling salju.
“Hati-hati!”
“Kamu hampir buat aku jatuh!”
Anak-anak yang berteriak satu sama lain terdengar. Baekhyun masih terus berjalan.
Disekelilingnya ada dua ibu paruh baya yang melihat kearah Baekhyun merasa heran.
“Hei, dia kelihatan agak aneh ya? Lihatlah pakaiannya. Semuanya tidak serasi.” Ibu yang satu berbicara pada ibu yang lain.
“Dia kemungkinan buta, lihatlah tongkat yang dipakainya untuk berjalan.”
Ibu yang satu menimbang-nimbang. “Kau benar. Tapi, apa yang dilakukannya disini?”
“Aku sama sekali tidak tahu.”
Seorang anak remaja yang tadi sedang bergelung memainkan salju mendengar pembicaraan dua ibu paruh baya tersebut.
lelaki itu melihat Baekhyun yang sedang dikelilingi anak-anak lainnya.
“Sepertinya dia betul-betul tak bisa melihat. Hei, coba lemparkan yang lain.” Salah satu anak laki-laki berambut pirang menganggu.
“Rasakan nih!!” Seorang anak perempuan tak segan-segan melempar batu.
“Dia monster buta!!” Anak yang lainnya bersemangat berteriak mengejek Baekhyun.
“Aduh.” Baekhyun mengaduh saat dirasa anak-anak itu semakin gentar melemparkannya batu. “Hentikan!” Karena limbung, Baekhyun terjatuh. Tongkatnya pun terlepas dari genggamannya. “Tongkatku” Baekhyun meraba-raba tempat tak jauh dari ia duduk.
 “Tongkatmu disini~ Ayo coba ambil! Teman-teman kabur...” Anak lelaki tadi mengambil tongkat Baekhyun.
Duk. Karena berjalan mundur, anak itu tak tahu kalau dibelakangnya ada orang yang menabraknya.
“Eh?” Saat ia menoleh, dia melihat pria tinggi berkulit putih seperti mayat serta tatapan tajam yang diberikannya kepada anak itu.
“AAAH! Mamaaa!” Anak-anak tadi berteriak dan langsung kabur.
Aku yakin, dengar suara tongkat itu jatuh disekitar sini. Baekhyun masih terus meraba-raba. Baekhyun akhirnya merasa bahwa ada orang didepannya, karena ia memegang sepatu orang tersebut.
“Ah, maaf. Apakah kau melihat ada tongkat di sekitar sini? Aku tak bisa melihat.”
Anak lelaki itu malah bertanya. “Apakah tongkat itu berharga untukmu?”
Baekhyun yang masih bersimpuh agak sedikit mendongak, mengira-ngira wajah orang itu. Baekhyun merasa aneh dengan pertanyaan lelaki itu. “Tentu saja, tanpa tongkat itu, aku tak bisa kemana-mana.”
“Tongkatmu ada padaku. Kau butuh pertolongan?” Lelaki itu ikut bersimpuh didepan Baekhyun.
“Ah begitu. Bisakah kau antar aku ketempat duduk di sekitar sini?” Dengan sigap Baekhyun meraih lengan lelaki itu. Lelaki ini mengantarkan Baekhyun ke tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya jatuh.
Setelahnya Baekhyun duduk di bangku taman. “Ini tongkatmu.” Lelaki itu memberi tongkat Baekhyun dan Baekhyun menerimanya dengan tersenyum.
 “Terimakasih.”
Suasana yang tadi petang berubah menjadi lebih gelap. Malam telah datang.
Tiba-tiba Baekhyun samar-samar mendengar langkah kaki. Serta aroma kuat parfum yang harum yang sangat dikenalnya.
Baekhyun tiba-tiba berdiri. “Chanyeol?” Ada secercah harapan yang muncul saat ini. Baekhyun begitu yakin bahwa Chanyeol berada disini. “Itu kau?”
Lelaki yang tadi menolong Baekhyun hanya menatap Baekhyun. Karena begitu bersemangat, Baekhyun terjatuh lagi. “Aku tahu kau ada disana, Chanyeol!”
“Hei, tidak ada siapapun disini.” Lelaki itu berdiri didepan Baekhyun yang bersimpuh. Baekhyun meraba-raba lagi. Sampai akhirnya dia memegang kaki lelaki didepannya.
“Kumohon, hentikan orang yang baru saja pergi.” Lelaki itu menoleh ke sekitarnya. “Tak ada siapapun di arah yang kau tunjuk itu.”
“Mustahil! Aku yakin dia melewatiku! Aku bisa melihatnya. Aku yakin!” Baekhyun masih bersikukuh. Baekhyun menunjuk kearah yang diyakininya semakin jauh dilewati oleh Chanyeol.
“Tidak. Sungguh. Tidak ada seorang pun.”
Haaahhh. Hilang semua pendirian Baekhyun. Dia menunduk dalam. Menghela napas. Setelahnya lelaki tadi membantu Baekhyun lagi untuk duduk.
“Maaf, soal semua ini.”
“Jika kau kehilangan tongkatmu, apakah kau akan putus asa? Luhan yang mengatakannya padaku. Saat manusia kehilangan hal yang berharga, mereka akan putus asa. Dia bilang manusia bahkan akan sulit melewati kesehariannya.”
Baekhyun tersenyum. “Kalau begitu, aku pasti salah bicara. Tongkatku yang hilang tidaklah berharga tapi penting. Sulit bagiku berpergian tanpa tongkatku. Tapi aku takkan mati tanpa tongkat itu.”
“Aku tak tahu seperti apa kehilangan sesuatu yang berharga. Meski Luhan telah menerangkannya padaku.”
Baekhyun terkekeh. “Ah, maaf. Kau mengingatkanku pada seseorang. Sebenarnya orang yang kutunggu saat ini sangat berharga bagiku.  Rasanya, aku tak bisa hidup tanpa dirinya. Sesuatu yang berharga itu, seperti sesuatu yang menjadi bagian dirimu. Seperti jantungmu.”
Lelaki itu meletakkan tangannya didepan dada. “Jantungku...”
“Coba kau pikirkan kau tak bisa hidup tanpa jantungmu kan? Kalaupun bisa, kau tak bisa merasa hidup. Kurasa itulah keputusasaan.”
Lelaki itu menunduk. Melihat tulisan diatas lengannya. 1001. “Jadi, hidup tanpa merasa hidup.....adalah keputusasaan?”
“Ya, menemukan benda atau seseorang yang berharga adalah hal yang membahagiakan. Tapi itu juga bisa menakutkan.”
Seperti Chanyeol yang begitu berharga bagiku. Dia adalah alasan mengapa aku masih bertahan. Dia bagaikan bagian dari dalam diriku. Dia bagaikan jatungku. Tanpanya, aku tak bisa merasakan kehidupan lagi. Atau lebih parahnya, aku putus asa saat Chanyeol tidak ada disampingku. Itulah hal benar-benar membuatku takut.
“Aku tak tahu perasaan itu. Tapi aku yakin baik aku dan Luhan punya sesuatu yang berharga bagimu.”
“Semua orang paling tidak punya satu hal yang berharga. Dan mungkin ada perbedaan antara memiliki sesuatu yang berharga dan menjadi berharga bagi seseorang, tapi itu bukanlah hal yang terpisah.”
Ya, seperti Chanyeol yang berharga bagiku. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah aku berharga baginya.
“Lalu, kalau aku punya sesuatu yang berharga seperti kau atau Luhan, bisakah aku juga jadi seseorang?”
Baekhyun mengerutkan dahinya. “Hm? Kau sudah jadi seseorang.”
“Maaf...” Baekhyun menggapai-gapai ruang didepannya. Bermaksud untuk meraba wajah lelaki itu.
Lelaki tadi mengarahkan tangan Baekhyun ke pipinya. “Kulitmu boleh jadi dingin, tapi...” Baekhyun meraba-raba wajah lelaki itu. “Kau punya bulumata yang panjang.” Setelahnya tangan Baekhyun bergerak kebawah, kearah hidung serta bibir lelaki itu. “Dan bibir yang indah.” Setelahnya melepaskan tangannya dari sana. “Aku yakin kau orang yang luar biasa.”
“Terimakasih.”
Baekhyun tersenyum.
“Kau sungguh mirip dengannya. Dia sering melakukan berbagai hal padaku. Karena dia bilang ingin melihatku ketakutan. Suatu kali, dia bahkan mengunciku dalam ruangan yang paling kubenci selama lima hari. Tapi tak peduli apa yang dilakukannya, aku tak merasa takut.”
“Karena aku tahu, dia takkan melukaiku. Tapi, sepertinya hari ini dia takkan mengunjungiku. Meski kemungkinan dia sekarang sedang mengamatiku.” Baekhyun akhirnya berdiri. “Sebaiknya aku pergi.” Mungkin Baekhyun tahu bahwa hari sudah semakin gelap. Dia sudah lama sekali berada diluar sini.
Lelaki itu ikut berdiri. “Siapa namamu?”
“Ah, namaku Baekhyun. Mungkin aku akan kesini lagi nanti. Jadi aku akan sering bertemu denganmu.”
Baekhyun mengulurkan tangan. Lelaki itu menerimanya. “Aku Shixun, Luhan yang memberikan nama itu padaku.”
“Itu nama yang indah, Shixun. Kuharap kau menemukan hal yang berharga. Saat itu, kau juga pasti akan menemukan seseorang yang berharga bagimu. Kalau begitu, sampai bertemu lagi.”
Baekhyun melangkah menjauh. Dan Shixun hanya mengamati dalam diam.
.
.
.
Baekhyun masih ingat jalan yang tadi dia lewati. Selain Baekhyun menghirup aroma wewangian yang ada disekitarnya pun Baekhyun mengira-ngira berapa langkah yang dia lewati.
Baekhyun melewati terowongan yang gelap. Mengambil jalur dibawah jembatan. Diantara jalan itu terdapat sungai. Baekhyun bisa mendengar suara air mengalir.  Baekhyun lagi-lagi terkejut karena menghirup aroma harum parfum yang kuat, harum yang sudah sangat dikenalnya. Dia mengendus-ngendus. Seketika bersemangat.
“Chanyeol?”
“Sedang apa kau? Kenapa kau ada disini?” Suaranya terdengar marah ditelinga Baekhyun.
“Kau tak mengira aku akan mencarimu, bukan? Aku sudah pergi kemana-mana. Pernah saat itu bahkan kakiku sampai bengkak.”
“Aku tak tahu bagaimana kau bisa menemukanku, tapi jangan kesini lagi.” Chanyeol bersikap dingin.
“Pulanglah, Baekhyun..” Chanyeol melewati Baekhyun. Berusaha mengacuhkannya.
Saat langkah yang Chanyeol ambil semakin jauh. Baekhyun bersitegas. “Tidak!! Bukankah kau harus memujiku seperti janjimu dulu? Itu yang kau katakan dulu. Kalau aku bisa menemukan tempatmu tinggal, kau akan memujiku.”
Chanyeol menghentikan langkahnya dan enggan menoleh. “Aku tak pernah berpikir kau benar-benar bisa menemukanku. Keteguhan hatimu sungguh menganggumkan. Jangan pernah datang kesini lagi, Baekhyun.” Suaranya biasa, lebih mendekati memohon.
“Maaf, tapi aku tak bisa melakukannya. Kalau kau ingin menghentikanku, kau harus memotong kakiku. Tapi tanpa kakipun aku tetap akan merangkak padamu. Jadi sebaiknya kau bunuh saja aku. Bila kau bisa melakukannya.” Baekhyun tak tahu apa yang diucapkannya. Tangannya mengepal erat.
Chanyeol terkejut. Seketika menoleh. “Baiklah!!!” Chanyeol langsung berbalik kearah Baekhyun lagi. Baekhyun terkejut ketika tangannya ditarik dan dia dihempaskan ke arah sungai. Baekhyun terjatuh kesana. Didorong oleh Chanyeol.
“Mari kita lihat. Berapa lama kau bisa sesombong itu.”
HAAH! Hossh...Hossh... Baekhyun yang tidak siap menerima perlakuan itu tentu saja kaget. Untuk sungai yang ia pijak itu tidak dalam dan hanya sedadanya saja. Mungkin ini karena dirinya belum sampai ketengah sungai. Baekhyun muncul dipermukaan dengan napas tersengal.
“Bagaimana kalau kau memohon ampun seperti yang lain?”
“Kau sungguh berpikir aku akan memohon-mohon? Chanyeol, kau takkan pernah melihatku gemetar ketakutan.”
Chanyeol menyeringai. Dia kemudian turun ke dalam sungai. Dan mendorong lagi Baekhyun sampai ketengah.
Baekhyun terkejut. Dia berada di sungai yang dangkal. Itu artinya dia bisa saja tenggelam. Baekhyun berusaha menggapai-gapai permukaan.
“Ayo, memohonlah padaku!! Aku tahu kau ketakutan!! Aku tahu kau tak mau mati!” Chanyeol mengamati Baekhyun dari pinggir sungai dengan tersenyum bangga dan yakin bahwa Baekhyun akan memohon padanya.
Padahal dirinya sudah pernah melakukan hal ini berulang kali. Dia juga tahu bahwa Baekhyun tak akan memohon padanya. Baekhyun juga tak menunjukkan bahwa ia ketakutan. Dia hanya terlalu terkejut dengan semua perlakuan Chanyeol. Dan saat Baekhyun tak lagi muncul di permukaan dalam suasana keadaan yang hening. Senyum Chanyeol hilang.
.
.
.
Suara guyuran air shower terdengar karena heningnya ruangan. Di dalam bathub Baekhyun dengan polos tanpa pakaian satu pun duduk sambil memeluk kedua lutunya. Dia menyembunyikan wajahnya pada lengannya. Pandangannya bisa dibilang kosong. Wajahnya datar. Dia tak peduli seberapa dingin air yang telah membasahi tubuhnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Chanyeol melangkah masuk dan melempar handuk dengan kasar kearah Baekhyun.
“Aku mulai muak padamu.”
Setelahnya menutup pintu dengan kencang.
Baekhyun membenarkan handuk yang telah dia terima dan memakainya tanpa membilas tubuhnya. Dia keluar kamar mandi.
“Chanyeol?” Tangannya menggapai-gapai sesuatu yang kosong didepannya.
“Chanyeol?” Dia meraba-raba. Mengikuti harum yang tersisa dari Chanyeol. Dia sampai pada sofa hitam dan mendudukinya. Meraba-raba sofa itu.
Kehangatannya....
Baekhyun menghirup aroma teh. Baekhyun meraba-raba lagi. Dan mengambil teh yang masih hangat.
Dia menunduk dalam sambil tetap mempertahankan kehangatan teh yang dipegangnnya.
Chanyeol...
Tahukah kau?
Aku tak takut, tak peduli apapun yang akan kau lakukan padaku.
Tapi,
Aku hanya merasa sangat takut saat kau tak ada disini.....
Dan akhirnya air mata itu lolos juga.
.
.
.
TBC
.
.
.
Karya aku ini sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
Silahkan mampir^^
AmandaHanifah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar