Seorang gadis cantik berambut coklat lembut
mengernyit dalam tidurnya. Tubuhnya tak mau diam. Menengok ke kanan dan kiri.
Seakan tidak nyaman dalam tidurnya.
Disekelilingku
gelap.
Bau
itu.....
Aku
bisa menciumnya... Bau anyir darah.
Aku
meraba-raba sekelilingku.
Dimana
aku?
Saat
itu tanganku menyentuh wajah orang. Dalam siluetnya aku melihat ada darah. Itu
sangat banyak. Ada dimana-mana. Disekelilingku.
Disekelilingku.
HAAH!! HAAH!!
Gadis itu membuka kedua kelopak matanya
dengan napas yang tersengal-sengal. Menampilkan iris mata ungunya yang
bening. Dia terduduk disana. Diruang
kamar yang sepi. Masih tersengal-sengal ia bergelung dengan memeluk kedua
lutunya hingga nyaris menyentuh dagunya. Masih dengan napas yang
tersengal-sengal.
.
.
.
BABY’S BREATH
amandaerate
MANYEOLBAEK
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun,
Park Chanyeol
Genre: Romance,
Hurt/Comfort, Drama, a little bit Mystery
Disclaimer: Para tokoh
hanya aku pinjam nama saja. Terinspirasi dari webtoon yang berjudul Winter Woods
tetapi aku mengambil sisi Adora dan Zoe, kupikir-pikir bakalan cocok kalau
pemerannya Chanbaek. Ada yang sependapat? Muehehe. Aku mengambil jalan cerita
di awal. Nanti bakalan ada perubahan cerita yang bakalan aku masukin dari
pemikiranku^^ semoga kalian tidak salah paham dan mengerti;)
Summary: Aroma kuat parfum yang harum, satu-satunya
aroma yang selalu Baekhyun dapat dari
Chanyeol. Baekhyun tak takut dan tak peduli apapun yang akan dilakukan Chanyeol
padanya. “Karena aku tahu aku begitu berharga baginya. Dan dia tidak akan
menyakitiku. Karena yang membuatku takut hanyalah saat dia tak ada disisiku.” –
Baekhyun.
.
.
.
BABY’S BREATH
PROLOG
.
.
.
Baekhyun melihat sekelilingnya yang gelap.
Berjalan dengan meraba-raba dinding. Perlahan-lahan. Hingga menuju ke arah
suara yang samar-samar didengarnya.
Aromanya
harum......
Mungkin ia berada didapur saat ini.
“Chanyeol?”
Chanyeol yang sedang sibuk didapur untuk memasak
sesuatu tanpa menoleh tersenyum. “Selamat pagi, Baekhyun...”
Baekhyun berjalan lagi. Meraba lagi.
Mencari punggung Chanyeol.
Setelahnya ia memeluk Chanyeol dari
belakang. Inilah sesuatu yang sangat disukainya. Memeluk tubuh tinggi lelaki itu. Ia menyamankan
pelukannya. Mencari perlindungan.
“Ada apa? Apakah ada sesuatu?” Tanpa
menoleh Chanyeol bertanya. Dia masih tersenyum. Senyuman yang Chanyeol berikan itu
hanya dirinya lah yang mengerti apa arti dari senyumnya.
Baekhyun dengan enggan menjawab. Dia
semakin mengeratkan pelukannya. Menempelkan pipinya ke punggung Chanyeol. Raut
wajahnya menandakan bahwa ia murung dan gelisah.
“Kau pasti memimpikan itu lagi....
Seharusnya kau sudah biasa sekarang....”
Baekhyun semakin mengeratkan lagi
pelukannya. Mungkin Chanyeol akan sesak.
“Mimpi itu mungkin akan selamanya
menghantuiku...” Suaranya nyaris menciut. “Aku takkan pernah terbiasa.”
Mereka hanya berdua diruangan itu. Suasana
sangat hening. Bahkan mereka mendengar gema suara mereka sendiri dalam ruangan
yang sunyi. Yang terdengar hanyalah desisan air sayur yang direbus. Atau acara
memotong rempah-rempah yang telah disiapkan Chanyeol. Juga, pemandangan
Baekhyun yang masih betah memeluk Chanyeol dari belakang.
“Kau tak pernah memiliki kenangan yang tak
bisa dilupakan? Sesuatu yang membuatmu merasa bersalah? Kau pernah cerita,
dulu.....”
Belum habis Baekhyun berbicara, tetapi
dengan cepat Chanyeol memotongnya. “Rasanya tidak.”
“Ah, ada satu. Tapi bukan rasa bersalah.”
Sebuah pisau yang telah digenggam Chanyeol diangkat olehnya. Sejajar dengan
wajah Chanyeol. Wajahnya masih tersenyum tampan. “Ada sejumlah wajah yang
kuharap tak pernah kulupakan.”
Seperti dapat merasakan sesuatu yang
terbilang cukup langka telah dirasakan oleh Chanyeol. Chanyeol merasa bahagia.
“Chanyeol, hari ini kau terasa berbeda. Apa
ada sesuatu yang menyenangkan?” Dia mendongak keatas.
“Tentu saja. Menyenangkan sekali sampai
sulit ditebak.”
Baekhyun merasa sedih. Dia menunduk dalam.
Menempelkan dahinya di punggung Chanyeol. “Aku tahu kau takkan memberitahuku.
Lalu kenapa kau mengatakannya?”
Tak ada jawaban dari Chanyeol. Suara
seketika sunyi senyap. Tak ada suara pisau yang memotong sesuatu atau suara
desisan air sayur yang sedang direbus.
Baekhyun mendongak lagi. “Peluk aku,
Chanyeol....” Baekhyun mundur dan menyisakan jarak yang dekat dari tempat
Chanyeol berpijak.
Chanyeol kali ini menoleh kearah Baekhyun
dan tersenyum. Dia melangkah mendekati Baekhyun. Melingkarkan tangannya di
pinggang Baekhyun dan memeluknya. Baekhyun otomatis melingkarkan tangannya pada
leher Chanyeol.
Gadis bernama Baekhyun itu dapat dibilang
mungil. Tingginya bahkan tak sampai pada dagu Chanyeol. Dia begitu cantik
dengan iris mata ungu yang telah dimilikinya serta bibir ranum semerah tomat
yang tipis. Berbeda dengan Chanyeol yang tinggi serta berwajah tampan. Bibir
bawahnya tebal, kebalikan dari bibir ranum tipis milik Baekhyun. Jika, Baekhyun
memiliki iris mata berwarna ungu, Chanyeol memiliki iris mata berwarna biru
laut. Sayangnya, Baekhyun tak dapat melihat iris mata biru Chanyeol yang begitu
menawan.
Mereka melepas pelukan mereka tanpa
menjauhi wajah masing-masing. Baekhyun meraba rahang keras milik Chanyeol.
Tetapi dengan halus Chanyeol menjauhi tangan Baekhyun.
“Jangan, Baekhyun.....”
Baekhyun lagi-lagi merasa sedih. “Tapi aku
ingin ‘melihat’ wajahmu.”
“Tak boleh.”
Baekhyun memeluk Chanyeol lagi. Namun,
Chanyeol tak membalasnya. Dia menunduk lagi. Mungil sekali. Dia hanya sampai
pada dada bidang milik Chanyeol.
“Tak bisakah aku pergi denganmu? Aku benci
sendirian disini. Aku terus memikirkan hal-hal buruk.”
“Baekhyun, semua orang memiliki luka yang
takkan pernah sembuh yang tak boleh diusik oleh siapapun.” Kali ini tidak ada
senyum dalam nada suaranya. Wajahnya hanya datar. “Tak peduli sebaik apa orang
itu.... Kita tak tahu pasti apa yang terjadi saat batas itu dilanggar.”
“Kau takkan pernah menyakitiku.”
“Tadi kau sangat baik, tapi sekarang kau
kumat lagi.” Chanyeol melepaskan pelukan Baekhyun. “Kau ingin dikunci lagi di
ruangan itu seperti sebelumnya? Apa kali ini aku harus mengikatmu lagi? Aku
mungkin akan melihat raut ketakutan di wajahmu.” Kali ini dia tersenyum lagi.
Tak ada yang bisa menebak orang macam apa dia.
Baekhyun ingin memeluk Chanyeol lagi.
Tetapi, Chanyeol menghalanginya. “Kira-kira seperti apa ya? Kau tak ingin itu
terjadi kan? Jadi, jangan pernah bilang kau ingin ikut ke tempatku.”
Chanyeol memegang pundak mungil Baekhyun. Menuntunnya
untuk duduk ke meja makan. “Sekarang saatnya makan.”
Baekhyun tak menanggapi. Wajahnya terbilang
datar. Tetapi dia masih terlihat murung.
Suara langkah Chanyeol telah didengar oleh
Baekhyun.
“Kau sudah mau pergi?” Pandangannya tetap
lurus kedepan.
“Ya, hari ini aku harus pergi lebih cepat.
Ada seseorang yang harus kutolong.” Chanyeol memakai mantel tebal berwarna
hijau gading serta topi miliknya. Bersiap akan pergi.
“Chanyeol, kalau kau tak mau membawaku
kesana..... Aku akan mencari tempatmu sendiri.”
Chanyeol tersenyum, menoleh pada Baekhyun
yang membelakanginya. “Kalau keparat buta sepertimu bisa melakukannya. Aku akan
sangat terkesan.”
Suara pintu yang dibuka dan ditutup
setelahnya mengakhiri percakapan pagi Baekhyun dengan Chanyeol.
Baekhyun menunduk sedih. Sendiri lagi dalam
kesunyian yang telah menjadi temannya setiap hari. “Aku bisa menemukanmu.”
.
.
.
Cahaya masuk dari jendela yang tidak ada
tirai. Tanaman dalam tabung yang dibiarkan kering dan tak terurus berada
disana. Musim dingin sudah berlalu satu minggu. Udara yang dingin tak
menyebabkan Baekhyun uring-uringan. Dia tahu dia benci dingin. Tetapi dia
harus.
Baekhyun telungkup di atas kasur. Matanya
seolah memandang kosong. Sebelum beranjak dari tempat tidur, Baekhyun memang
selalu berbaring sejenak. Sambil mengingat masa-masa saat Chanyeol mendekapnya
dengan erat. Atau hal lain yang berhubungan dengan Chanyeol.
Setelahnya Baekhyun bersiap-siap untuk
pergi keluar. Baekhyun memakai syal tebal yang telah ia raba sebelumnya. Mantel
merah maroon telah terpasang rapih. Rok selutut berwarna hijau gading. Tapi
yang tampak aneh adalah kaos kaki yang berbeda warna. Kaos kaki kanan berwarna
putih sedangkan kaos kaki kirinya berwarna ungu. Sepatu tidak ada masalah.
Hanya kaos kaki saja yang salah pilih.
Baekhyun tidak tahu apapun. Dan tidak
terlalu memikirkannya. Yang penting Baekhyun telah siap untuk pergi keluar.
Baekhyun tersenyum dengan penuh keyakinan.
Hari
ini aku harus pergi dan mencari keberadaannya.....
Itulah yang selalu muncul di benaknya.
Dengan mengambil tongkat hitamnya. Dia
berjalan perlahan menuju pintu. Dan melangkah keluar.
Baekhyun berjalan di sepanjang pinggir jalan
besar yang banyak dilalui kendaraan. Sebenarnya, sudah lama Baekhyun berpikir
dan mengira-ngira dimana Chanyeol tinggal, dan Baekhyun juga sudah berusaha
menemukan tempatnya. Tiap kali Chanyeol mendekapnya, Baekhyun berhasil
mendapatkan sedikit informasi baru.
Aroma
kuat parfum yang harum....
Seperti
harum bunga....
Saat itu Baekhyun melewati toko bunga-bunga
hutan.
Dan,
aroma roti manis yang dibuat di dalam toko roti....
Baekhyun melewati toko roti.
Sedikit
jejak aroma kopi....
Juga melewati cafe.
Dan
uap air dari got saat musim dingin.
Dan melewati genangan air disebelah
kakinya.
Dan
aroma yang paling tipis dan ringan dari semuanya adalah aroma darah.
Semua itu jelas adalah aroma yang didapat
Chanyeol dalam perjalanan rumahnya. Chanyeol juga mungkin telah melewati jalan
yang barusan ia lewati. Sama persis. Tanpa penglihatannya, Baekhyun menggunakan
indra lain yang ia miliki. Dan berkelana kemana-mana untuk waktu yang lama.
Dan kemudian setelah berjalan dengan
menggunakan instingnya. Baekhyun akhirnya menemukan tempat itu.
Baekhyun berhasil merasakan,
sayup-sayup.....
Aroma
segar hutan yang diselubungi kabut.
Dan, saat itu tanpa Baekhyun sadari
Baekhyun menghadap kearah perumahan dekat hutan. Baekhyun mendesah lega.
Baekhyun akhirnya tersenyum.
Aku
berhasil menemukannya.
.
.
.
Kegiatan orang-orang disana di musim dingin
seperti ini. Ada yang sedang bersih-bersih, melukis, ada juga sekumpulan anak-anak yang senang
bermain di sekeliling salju.
“Hati-hati!”
“Kamu
hampir buat aku jatuh!”
Anak-anak yang berteriak satu sama lain
terdengar. Baekhyun masih terus berjalan.
Disekelilingnya ada dua ibu paruh baya yang
melihat kearah Baekhyun merasa heran.
“Hei, dia kelihatan agak aneh ya? Lihatlah
pakaiannya. Semuanya tidak serasi.” Ibu yang satu berbicara pada ibu yang lain.
“Dia kemungkinan buta, lihatlah tongkat
yang dipakainya untuk berjalan.”
Ibu yang satu menimbang-nimbang. “Kau
benar. Tapi, apa yang dilakukannya disini?”
“Aku sama sekali tidak tahu.”
Seorang anak remaja yang tadi sedang
bergelung memainkan salju mendengar pembicaraan dua ibu paruh baya tersebut.
lelaki itu melihat Baekhyun yang sedang
dikelilingi anak-anak lainnya.
“Sepertinya dia betul-betul tak bisa
melihat. Hei, coba lemparkan yang lain.” Salah satu anak laki-laki berambut
pirang menganggu.
“Rasakan nih!!” Seorang anak perempuan tak
segan-segan melempar batu.
“Dia monster buta!!” Anak yang lainnya
bersemangat berteriak mengejek Baekhyun.
“Aduh.” Baekhyun mengaduh saat dirasa
anak-anak itu semakin gentar melemparkannya batu. “Hentikan!” Karena limbung,
Baekhyun terjatuh. Tongkatnya pun terlepas dari genggamannya. “Tongkatku”
Baekhyun meraba-raba tempat tak jauh dari ia duduk.
“Tongkatmu disini~ Ayo coba ambil! Teman-teman
kabur...” Anak lelaki tadi mengambil tongkat Baekhyun.
Duk. Karena berjalan mundur, anak itu tak
tahu kalau dibelakangnya ada orang yang menabraknya.
“Eh?” Saat ia menoleh, dia melihat pria
tinggi berkulit putih seperti mayat serta tatapan tajam yang diberikannya
kepada anak itu.
“AAAH! Mamaaa!” Anak-anak tadi berteriak
dan langsung kabur.
Aku
yakin, dengar suara tongkat itu jatuh disekitar sini.
Baekhyun masih terus meraba-raba. Baekhyun akhirnya merasa bahwa ada orang
didepannya, karena ia memegang sepatu orang tersebut.
“Ah, maaf. Apakah kau melihat ada tongkat
di sekitar sini? Aku tak bisa melihat.”
Anak lelaki itu malah bertanya. “Apakah
tongkat itu berharga untukmu?”
Baekhyun yang masih bersimpuh agak sedikit
mendongak, mengira-ngira wajah orang itu. Baekhyun merasa aneh dengan
pertanyaan lelaki itu. “Tentu saja, tanpa tongkat itu, aku tak bisa
kemana-mana.”
“Tongkatmu ada padaku. Kau butuh
pertolongan?” Lelaki itu ikut bersimpuh didepan Baekhyun.
“Ah begitu. Bisakah kau antar aku ketempat
duduk di sekitar sini?” Dengan sigap Baekhyun meraih lengan lelaki itu. Lelaki
ini mengantarkan Baekhyun ke tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya jatuh.
Setelahnya Baekhyun duduk di bangku taman.
“Ini tongkatmu.” Lelaki itu memberi tongkat Baekhyun dan Baekhyun menerimanya
dengan tersenyum.
“Terimakasih.”
Suasana yang tadi petang berubah menjadi
lebih gelap. Malam telah datang.
Tiba-tiba Baekhyun samar-samar mendengar
langkah kaki. Serta aroma kuat parfum yang harum yang sangat dikenalnya.
Baekhyun tiba-tiba berdiri. “Chanyeol?” Ada
secercah harapan yang muncul saat ini. Baekhyun begitu yakin bahwa Chanyeol
berada disini. “Itu kau?”
Lelaki yang tadi menolong Baekhyun hanya
menatap Baekhyun. Karena begitu bersemangat, Baekhyun terjatuh lagi. “Aku tahu
kau ada disana, Chanyeol!”
“Hei, tidak ada siapapun disini.” Lelaki
itu berdiri didepan Baekhyun yang bersimpuh. Baekhyun meraba-raba lagi. Sampai
akhirnya dia memegang kaki
lelaki didepannya.
“Kumohon, hentikan orang yang baru saja
pergi.” Lelaki itu menoleh ke sekitarnya. “Tak ada siapapun di arah yang kau
tunjuk itu.”
“Mustahil! Aku yakin dia melewatiku! Aku
bisa melihatnya. Aku yakin!” Baekhyun masih bersikukuh. Baekhyun menunjuk
kearah yang diyakininya semakin jauh dilewati oleh Chanyeol.
“Tidak. Sungguh. Tidak ada seorang pun.”
Haaahhh. Hilang semua pendirian Baekhyun.
Dia menunduk dalam. Menghela napas. Setelahnya lelaki tadi membantu Baekhyun
lagi untuk duduk.
“Maaf, soal semua ini.”
“Jika kau kehilangan tongkatmu, apakah kau
akan putus asa? Luhan yang mengatakannya padaku. Saat manusia kehilangan hal
yang berharga, mereka akan putus asa. Dia bilang manusia bahkan akan sulit
melewati kesehariannya.”
Baekhyun tersenyum. “Kalau begitu, aku
pasti salah bicara. Tongkatku yang hilang tidaklah berharga tapi penting. Sulit
bagiku berpergian tanpa tongkatku. Tapi aku takkan mati tanpa tongkat itu.”
“Aku tak tahu seperti apa kehilangan
sesuatu yang berharga. Meski Luhan telah menerangkannya padaku.”
Baekhyun terkekeh. “Ah, maaf. Kau
mengingatkanku pada seseorang. Sebenarnya orang yang kutunggu saat ini sangat
berharga bagiku. Rasanya, aku tak bisa
hidup tanpa dirinya. Sesuatu yang berharga itu, seperti sesuatu yang menjadi
bagian dirimu. Seperti jantungmu.”
Lelaki itu meletakkan tangannya didepan
dada. “Jantungku...”
“Coba kau pikirkan kau tak bisa hidup tanpa
jantungmu kan? Kalaupun bisa, kau tak bisa merasa hidup. Kurasa itulah
keputusasaan.”
Lelaki itu menunduk. Melihat tulisan diatas
lengannya. 1001. “Jadi, hidup tanpa merasa hidup.....adalah keputusasaan?”
“Ya, menemukan benda atau seseorang yang
berharga adalah hal yang membahagiakan. Tapi itu juga bisa menakutkan.”
Seperti
Chanyeol yang begitu berharga bagiku. Dia adalah alasan mengapa aku masih
bertahan. Dia bagaikan bagian dari dalam diriku. Dia bagaikan jatungku.
Tanpanya, aku tak bisa merasakan kehidupan lagi. Atau lebih parahnya, aku putus
asa saat Chanyeol tidak ada disampingku. Itulah hal benar-benar membuatku
takut.
“Aku tak tahu perasaan itu. Tapi aku yakin
baik aku dan Luhan punya sesuatu yang berharga bagimu.”
“Semua orang paling tidak punya satu hal
yang berharga. Dan mungkin ada perbedaan antara memiliki sesuatu yang berharga
dan menjadi berharga bagi seseorang, tapi itu bukanlah hal yang terpisah.”
Ya,
seperti Chanyeol yang berharga bagiku. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah aku
berharga baginya.
“Lalu, kalau aku punya sesuatu yang
berharga seperti kau atau Luhan, bisakah aku juga jadi seseorang?”
Baekhyun mengerutkan dahinya. “Hm? Kau
sudah jadi seseorang.”
“Maaf...” Baekhyun menggapai-gapai ruang
didepannya. Bermaksud untuk meraba wajah lelaki itu.
Lelaki tadi mengarahkan tangan Baekhyun ke
pipinya. “Kulitmu boleh jadi dingin, tapi...” Baekhyun meraba-raba wajah lelaki
itu. “Kau punya bulumata yang panjang.” Setelahnya tangan Baekhyun bergerak
kebawah, kearah hidung serta bibir lelaki itu. “Dan bibir yang indah.”
Setelahnya melepaskan tangannya dari sana. “Aku yakin kau orang yang luar
biasa.”
“Terimakasih.”
Baekhyun tersenyum.
“Kau sungguh mirip dengannya. Dia sering
melakukan berbagai hal padaku. Karena dia bilang ingin melihatku ketakutan.
Suatu kali, dia bahkan mengunciku dalam ruangan yang paling kubenci selama lima
hari. Tapi tak peduli apa yang dilakukannya, aku tak merasa takut.”
“Karena aku tahu, dia takkan melukaiku.
Tapi, sepertinya hari ini dia takkan mengunjungiku. Meski kemungkinan dia
sekarang sedang mengamatiku.” Baekhyun akhirnya berdiri. “Sebaiknya aku pergi.”
Mungkin Baekhyun tahu bahwa hari sudah semakin gelap. Dia sudah lama sekali
berada diluar sini.
Lelaki itu ikut berdiri. “Siapa namamu?”
“Ah, namaku Baekhyun. Mungkin aku akan
kesini lagi nanti. Jadi aku akan sering bertemu denganmu.”
Baekhyun mengulurkan tangan. Lelaki itu
menerimanya. “Aku Shixun, Luhan yang memberikan nama itu padaku.”
“Itu nama yang indah, Shixun. Kuharap kau
menemukan hal yang berharga. Saat itu, kau juga pasti akan menemukan seseorang
yang berharga bagimu. Kalau begitu, sampai bertemu lagi.”
Baekhyun melangkah menjauh. Dan Shixun
hanya mengamati dalam diam.
.
.
.
Baekhyun masih ingat jalan yang tadi dia
lewati. Selain Baekhyun menghirup aroma wewangian yang ada disekitarnya pun
Baekhyun mengira-ngira berapa langkah yang dia lewati.
Baekhyun melewati terowongan yang gelap.
Mengambil jalur dibawah jembatan. Diantara jalan itu terdapat sungai. Baekhyun
bisa mendengar suara air mengalir.
Baekhyun lagi-lagi terkejut karena menghirup aroma harum parfum yang
kuat, harum yang sudah sangat dikenalnya. Dia mengendus-ngendus. Seketika
bersemangat.
“Chanyeol?”
“Sedang apa kau? Kenapa kau ada disini?”
Suaranya terdengar marah ditelinga Baekhyun.
“Kau tak mengira aku akan mencarimu, bukan?
Aku sudah pergi kemana-mana. Pernah saat itu bahkan kakiku sampai bengkak.”
“Aku tak tahu bagaimana kau bisa
menemukanku, tapi jangan kesini lagi.” Chanyeol bersikap dingin.
“Pulanglah, Baekhyun..” Chanyeol melewati
Baekhyun. Berusaha mengacuhkannya.
Saat langkah yang Chanyeol ambil semakin
jauh. Baekhyun bersitegas. “Tidak!! Bukankah kau harus memujiku seperti janjimu
dulu? Itu yang kau katakan dulu. Kalau aku bisa menemukan tempatmu tinggal, kau
akan memujiku.”
Chanyeol menghentikan langkahnya dan enggan
menoleh. “Aku tak pernah berpikir kau benar-benar bisa menemukanku. Keteguhan
hatimu sungguh menganggumkan. Jangan pernah datang kesini lagi, Baekhyun.”
Suaranya biasa, lebih mendekati memohon.
“Maaf, tapi aku tak bisa melakukannya.
Kalau kau ingin menghentikanku, kau harus memotong kakiku. Tapi tanpa kakipun
aku tetap akan merangkak padamu. Jadi sebaiknya kau bunuh saja aku. Bila kau
bisa melakukannya.” Baekhyun tak tahu apa yang diucapkannya. Tangannya mengepal
erat.
Chanyeol terkejut. Seketika menoleh.
“Baiklah!!!” Chanyeol langsung berbalik kearah Baekhyun lagi. Baekhyun terkejut
ketika tangannya ditarik dan dia dihempaskan ke arah sungai. Baekhyun terjatuh
kesana. Didorong oleh Chanyeol.
“Mari kita lihat. Berapa lama kau bisa
sesombong itu.”
HAAH! Hossh...Hossh... Baekhyun yang tidak
siap menerima perlakuan itu tentu saja kaget. Untuk sungai yang ia pijak itu
tidak dalam dan hanya sedadanya saja. Mungkin ini karena dirinya belum sampai
ketengah sungai. Baekhyun muncul dipermukaan dengan napas tersengal.
“Bagaimana kalau kau memohon ampun seperti
yang lain?”
“Kau sungguh berpikir aku akan
memohon-mohon? Chanyeol, kau takkan pernah melihatku gemetar ketakutan.”
Chanyeol menyeringai. Dia kemudian turun ke
dalam sungai. Dan mendorong lagi Baekhyun sampai ketengah.
Baekhyun terkejut. Dia berada di sungai
yang dangkal. Itu artinya dia bisa saja tenggelam. Baekhyun berusaha
menggapai-gapai permukaan.
“Ayo, memohonlah padaku!! Aku tahu kau
ketakutan!! Aku tahu kau tak mau mati!” Chanyeol mengamati Baekhyun dari
pinggir sungai dengan tersenyum bangga dan yakin bahwa Baekhyun akan memohon
padanya.
Padahal dirinya sudah pernah melakukan hal ini
berulang kali. Dia juga tahu bahwa Baekhyun tak akan memohon padanya. Baekhyun
juga tak menunjukkan bahwa ia ketakutan. Dia hanya terlalu terkejut dengan
semua perlakuan Chanyeol. Dan saat Baekhyun tak lagi muncul di permukaan dalam
suasana keadaan yang hening. Senyum Chanyeol hilang.
.
.
.
Suara guyuran air shower terdengar karena
heningnya ruangan. Di dalam bathub Baekhyun dengan polos tanpa pakaian satu pun
duduk sambil memeluk kedua lutunya. Dia menyembunyikan wajahnya pada lengannya.
Pandangannya bisa dibilang kosong. Wajahnya datar. Dia tak peduli seberapa
dingin air yang telah membasahi tubuhnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Chanyeol
melangkah masuk dan melempar handuk dengan kasar kearah Baekhyun.
“Aku mulai muak padamu.”
Setelahnya menutup pintu dengan kencang.
Baekhyun membenarkan handuk yang telah dia
terima dan memakainya tanpa membilas tubuhnya. Dia keluar kamar mandi.
“Chanyeol?” Tangannya menggapai-gapai
sesuatu yang kosong didepannya.
“Chanyeol?” Dia meraba-raba. Mengikuti
harum yang tersisa dari Chanyeol. Dia sampai pada sofa hitam dan mendudukinya.
Meraba-raba sofa itu.
Kehangatannya....
Baekhyun menghirup aroma teh. Baekhyun
meraba-raba lagi. Dan mengambil teh yang masih hangat.
Dia menunduk dalam sambil tetap
mempertahankan kehangatan teh yang dipegangnnya.
Chanyeol...
Tahukah
kau?
Aku
tak takut, tak peduli apapun yang akan kau lakukan padaku.
Tapi,
Aku
hanya merasa sangat takut saat kau tak ada disini.....
Dan akhirnya air mata itu lolos juga.
.
.
.
TBC
.
.
.
Karya
aku ini sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk
cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
Silahkan
mampir^^
AmandaHanifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar