‘Aku
melihat impian ku yang jauh, dan aku berdiri hampa. Aku tidak punya apa-apa
lagi yang tersisa. Aku berpikir untuk menyerah. Aku ragu, tapi jauh di dalam
hatiku ada daya yang tak terbendung, seolah menyeretku ke depan. Aku
melangkah maju dengan hati-hati. Hatiku penuh dengan ketakutan. Tapi,
kegembiraanku seolah merangkulku dari jauh. Aku terkejut dan gemetar. Tapi, aku
tetap melangkah maju.’
-------------
“Masing-masing dari kita pasti punya bakat
masing-masing bukan? Dan bakat itu yang menjadikan motivasiku untuk bergerak
maju. Aku suka sekali melukis, dan aku mempunyai mimpi yang kuat, seolah mimpi
itu selalu berjalan berdampingan denganku. Cuku jelas adanya.”
Cukup jelas kata-kata itu terngiang di telingaku. Seorang
perempuan yang baru kukenal beberapa hari yang lalu. Baru satu kali aku dan dia
bertemu, tapi kata-katanya cukup membuatku membuka hatiku lebar-lebar. Cukup
memotivasiku. Larra, begitu ia mengenalkannya padaku.
Dulu, aku tidak punya impian. Aku berfikir itu
hanyalah omong kosong. Aku tidak mau menghabiskan waktuku hanya untuk bermimpi
yang tak jelas bagaimana kedepannya. Aku juga tidak butuh berkhayal, yang aku
lakukan adalah apa yang harus aku lakukan.
Tapi, setelah aku bertemu dengan Larra. Perempuan yang
menurutku tak bisa di banggakan sama sekali begitu melihat penampilannya. Dia
hanya penjual gorengan keliling dari komplek ke komplek, termasuk juga rumahku.
Dia hanya lulus SMP dan tidak melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Tapi, hatiku begitu menyesali fikiranku ketika aku
tahu dia tak seperti penampilannya. Hatinya sangat tulus, dia sangat mengerti
arti sebuah kehidupan. Bahkan, pendidikan keluargaku yang dibilang jauh
daripada keluarga Larra tidak bisa membandinginya. Bahkan, kakakku – Reza yang
otaknya sangat jenius sekalipun kalah pada Larra. Padahal dia hanya seorang
perempuan, dan aku seorang lelaki. Seharusnya aku lebih unggul.
Larra, orang pertama yang membuatku menyadari begitu
pentingnya bermimpi. Sampai saat ini, aku pun baru menyadari bakat terpendamku.
Aku suka seni. Bernyanyi, menari, bahkan aku juga suka jika suatu saat nanti
aku menjadi seorang fotografer. Ini untuk pertama kalinya aku mulai bermimpi
dan berkhayal.
Aku yang bersekolah pada SMA elite di-ibukota Indonesia
ini, bahkan merasa malu pada diriku sendiri karena aku telat. Aku telat
menyadari ini. Hal yang amat sangat penting, tapi aku malah menganggapnya hal
yang sangat remeh dan tak berguna.
Saat aku berpikir jika ini akan berakhir tidak seperti
yang aku inginkan, sebuah rasa takut terus-menerus datang. Dan aku
membayangkan peristiwa itu, aku terbangun dan kuhancurkan akhir ketakukan pada
diriku. Takut untuk jatuh. Seperti bayi burung yang tidak bisa terbang. Bisakah
aku melakukan itu?
“Kalau kamu ragu, kesempatan terbesar akan hilang!”
Kakak kelasku pernah menegaskan begitu. Rafael yang kini sudah sangat sukses.
Dan dia sangat bangga dengan apa yang dia impikan kini ia genggam erat dan
tidak mau dilepas lagi. Aku iri padanya. Mungkin, kak Rafael juga bisa kujadikan
motivasiku.
“Ilham, coba dengar baik-baik perkataanku. Kamu punya
cita-cita kan? Apa cita-cita kamu?” Kak Rafael bertanya ketika ia tahu bahwa
mimik mukaku tak meyakinkan. Ragu.
“Ya, aku punya cita-cita kak. Aku mau jadi fotografer.
Ataupun aku juga bisa menjadi seorang penyanyi.”
“Apapun itu cita-cita kamu. Kamu harus niat, dan
membekukan niat itu didalam hati kamu. Di dalam fikiran kamu. Kunci baik-baik
apapun cita-cita yang kamu inginkan.” Rafael memberhentikan perkataannya. Dia
meminum jus yang ada didepannya. Setelah selesai, bola matanya bergerak santai
menatap kearah mataku. Dia seolah berkata ‘dengarkan baik-baik perkataanku’.
“Kamu harus punya mimpi yang tinggi, dan ketika kamu
lelah tutup mata kamu. Kamu jaga baik-baik imajinasi mimpi kamu itu. Dan ketika
kamu bangun, kamu bisa terbang tinggi. Kamu bisa pergi ke langit itu dan
membuka sayapnya. Terbang lebih tinggi dan melebihi yang lain.”
Aku mencerna baik-baik perkataan kak Rafael. Hatiku
seakan bergetar. Mencoba menghitung seberapa jauh aku telat menyadarinya. Kak
Rafael adalah motivasiku saat ini. Perkataannya membuka lebih lebar hatiku
daripada perkataan Larra kemarin.
Aku punya mimpi, bahkan jika aku dibuang
atau dicabik-cabik. Jauh di dalam hatiku. Aku punya mimpi yang
sama berharganya seperti permata.
“Bagimana Ham? Apakah kamu memiliki impianmu sekarang?
Apa cita-citamu?” Kulihat Larra memasuki perkarangan rumahku menawarkan
gorengan dan bertanya padaku. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Fotografer.” Jawabku singkat. Larra tersenyum lagi
sambil membungkus gorengan mana saja yang tadi aku tunjuk. Tangannya sudah
cukup lincah melayani seorang pembeli. Aku hanya mengamatinya seperti itu.
“Semuanya 7 ribu.” Ujarnya sambil memberi plastik
putih berisi gorengan itu. Aku merogoh saku kanan bajuku dan memberinya 10
ribu.
“Ambillah kembaliannya!” Tegasku, dan aku cepat
berdiri. Masuk kedalam rumahku.
Tapi Larra menahan tanganku. Dia menatapku
lekat-lekat. “Jangan seperti itu, ini!” Dia memberiku kembalian uang 3 ribu
rupiahnya. Tapi aku mendorong lagi tangannya.
“Tak apa. Ambillah!”
Bola matanya seakan tak minat. Dan perlahan dia
menarik tangannya. “Terimakasih.” Larra mengucapkan terimakasih sambil
menunduk. Dan kulihat dia juga tersenyum ragu.
Setiap kali aku melihatnya, setiap kali dia
tersenyum untukku. Sedikit demi sedikit perasaan ku untuknya
tumbuh. Ketika aku berpikir tentangnya sekarang,
ketika aku mengambarnya, jantung ku berdetak aneh. Aku tidak tahu bagaimana untuk menghentikan. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi.
ketika aku mengambarnya, jantung ku berdetak aneh. Aku tidak tahu bagaimana untuk menghentikan. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi.
Tak tahu kapan dia menjadi orang yang paling penting
dalam hidupku. Begitu cepat mengambil hatiku. Sehari-hari, karena cintaku
tumbuh untuknya. Untuk sepanjang hari. Aku benar-benar tidak bisa melakukan
apa-apa. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
Aku selalu berlatih menjadi seorang fotografer yang
professional. Atupun menjadi seorang penyanyi. Itu membutuhkan waktu yang tidak
sebentar. Tapi, aku belum menyerah. Aku akan percaya pada apapun sekarang. Tak
menganggap remeh lagi impian itu.
Sampai pada akhirnya aku tahu bahwa perjuanganku ini
tidak menganggap apa-apa. Karena setelah lulus SMA, aku mencoba ke beberapa
bidang yang cocok dengan bakatku. Tapi, aku tidak terpilih. Tak tahu dimana
salahnya. Aku sudah sangat yakin saat itu, karena semua orang bilang hasil foto
ku sangat bagus. Kufikir aku akan terpilih. Tapi semuanya jauh dari yang aku
fikirkan. Dengan bagaimana cara lagi aku mencoba bidang yang sesuai dengan
bakatku?
Kuharap aku bisa melihat kebahagiaanku suatu hari
nanti. Suatu hari setelah kegelapan ini selesai. Ketika
aku merasa bahwa aku mulai bosan melihat diriku lelah,
aku ingin memberikan semua impian ku, aku sudah
menyimpan dengan keras ataupun hati-hati. Sangat memakan waktu aku
merasa bahwa aku kurang dalam banyak hal, lebih daripada
yang aku miliki. Aku kehilangan kekuatan di kakiku dan jatuh.
Hampir setiap hari aku menghibur diri
sendiri "Kedepannya akan baik-baik saja". Tapi
itu membuatku takut sedikit demi sedikit. Kukatakan pada
diriku sendiri untuk percaya pada diri sendiri. Sekarang,
aku tidak tahu bagaimana lagi aku bisa bertahan. Tapi
tunggu! Aku yakin di - yang akan datang. Meskipun malam panjang.
Aku merasakan mimpiku terlalu jauh, seakan aku tidak
bisa menggapai mimpi itu dari dekatku. Dan kini aku terjatuh. Tapi aku bangkit
lagi ketika Larra dan kak Rafael menyemangatiku. Aku sudah cukup
bersungguh-sungguh dan bersabar. Mengetahui dan memperbaiki mimpi itu secara
perlahan.
“Perjalanan kamu masih panjang, dan kamu masih punya
banyak waktu. Untuk bersinar. Jangan takut untuk masa depan ditanganmu. Kamu
tidak boleh berhenti. Berjalan dan percayalah sekarang.” Suatu hari aku
mendengar kata-kata itu dari seorang laki-laki yang menurutku sangat bijak. Aku
mencoba untuk dekat dengannya. Dan kini aku mengetahui namanya, Bisma.
Kak Bisma menceritakan banyak hal tentang dirinya, dia
bilang dulu dia sama sepertiku, seorang yang tidak punya impian. Bahkan dulu
dia bersikeras tidak mau belajar. Kisahnya sama persis dengan kisah yang aku
alami. Bedanya hanya satu, ia bisa terbang tinggi sedangkan aku malah
terperosok jatuh.
Kak Bisma bilang, aku harus mempunyai keberanian yang
kuat yang akan berdiri saat aku terjatuh. Keberanian itu akan berdiri dan
melompat sekali lagi. Kak Bisma bilang, aku harus percaya sekali lagi. Percaya
pada kepercayaanku. Bertaruh segalanya. Dan aku akan segera pergi melompat
jikalau ada dinding yang lebih tinggi dariku.
Setiap kali jika ada orang-orang yang menjadi
panutanku berkata dengan bijak, aku selalu menyimpan kata-kata itu didalam hatiku.
Agar aku bisa menikmati indahnya perjalanan menuju mimpiku. Menikmati lelahnya
kegelapan menuju indahnya keterangan.
Ada sebuah lagu di dalam jiwaku.
Ini salah satu yang aku coba untuk lagi dan lagi.
Aku terjaga dalam dingin yang tak terbatas. Tapi seakan
bernyanyi untuk diriku berulang-ulang.
Sudah berbulan-bulan aku tidak bertatap muka dengan
Larra, orang yang pertama membuatku tersadar. Dimana dia sekarang? Sudahkah dia
bertemu dengan mimpinya yang nyata?
Sudah lama juga aku berlatih, terus menerus tanpa
henti. Jika ada sebuah keajaiban, datanglah kepadaku keajaiban itu. Agar aku
termasuk kedalam orang-orang yang beruntung mengenggam mimpinya.
Beberapa orang tetap hidup didalam mimpi, beberapa
orang memberikan hidup di dalam mimpi. Untuk memenuhi impian orang lain, yang
menanggungnya. Setiap malam menari ditempat impian, menjerit di kerumunan.
Suara hati dan mataku kembali ke kenyataan yang gelap. Dan kecemasan setiap
hari.
Latihan dan latihan lagi, tetapi hanya usap air mata
darah, keringat dan air mata telah mempelajari nilai kehidupan.
Cinta, harapan, dan mimpi. Untuk membangkitkanku.
Sekarang aku siap lagi, cahaya kamera bertindak sekarang. Kita semua adalah
petualang. Hari ini dan besok. Kegagalan tak apa-apa untuk berbohong. Buang
penuh keyakinan. Tetapi, bisa berbuat lebih baik. Sejujurnya aku takut, bisa
terbang ataupun bisa mencapainya. Kuncinya satu, percaya pada diri sendiri dan
sungguh-sungguh memohon.
Keinginan itu tercapai. Saat ada seseorang yang tidak
sengaja melihat hasil karyaku dan dia memintaku untuk datang ke tempat
kerjanya. Aku menurutinya. Dan seperti yang dijanjikannya aku datang ke tempat
kerjanya.
Kakiku berhenti melangkah ketika mengetahui sebuah
gedung yang berada di depanku. Kuperhatikan baik-baik alamatnya. Alamatnya
benar, tidak salah suatu apapun. Aku melangkah ragu. Kudapati seseorang yang
menungguku di kantornya.
Dan, lagi-lagi mulutku menganga mendengar
penuturannya. Dia bernama Morgan. Dia bilang dia memerlukan seorang fotografer
untuk kebutuhan pribadinya. Aku terkesiap, dia sudah sangat sukses
bagaikan atasan yang memerintah bawahannya. Padahal, umurnya hanya berbeda
lebih tua dari umurku.
Dia juga bilang bahwa dia akan memintaku menemaninya
keluar negeri karena dia ada job disana. Dan aku akan mengabadikannya dengan
hasil foto yang aku jepret. Selama disana tak berhenti-berhentinya dia memuji
hasil karyaku. Dia iri padaku katanya. Padahal, aku yang seharusnya iri
padanya.
Dan aku tahu lebih lanjut seorang Morgan saat banyak
orang yang mengenalinya dan banyak orang yang minta foto bersama dengannya. Dia
seorang Penyanyi di luar negeri ini. Bagaimana aku bisa tidak tahu? Pantas saja
jika dia berpose seperti seorang model yang sudah berpengalaman dan
profesional. Tapi mengapa jika di Indonesia jarang yang mengenalnya? Bahkan
menurutku wajahnya asli Indonesia.
“Sebenarnya, aku tidak suka pekerjaan ini. Terlalu
lelah melewatinya. Bahkan, tak jarang aku tidak tidur hanya untuk pekerjaan
ini. Tapi aku harus menerimanya. Aku tahu banyak orang yang mau menjadi artis
dan dikenali banyak orang. Tapi itu karena mereka tidak tahu rasanya jadi aku.”
Morgan menceritakan sedikit pekerjaannya saat aku dan dia sedang berjalan di
tepi danau untuk pemotretannya.
Morgan terkekeh dan memandang kosong ke langit. Dia
seakan sedang berpikir. “Ham, bukankah kamu ingin menjadi penyanyi juga? Coba
kamu bernyanyi didepanku.” Wajahnya berpaling kepadaku dengan cepat dan matanya
hanya fokus menatap kearahku.
Aku tersenyum, kemudian menyanyikan sedikit lagu yang
biasa aku nyanyikan saat latihan. Aku menyanyikan lagu Afgan-Bawalah Cintaku.
Dan matanya sedikit tak percaya ketika aku selesai menyanyikannya.
“Kau adalah seorang bintang Ham! Kau seakan bersinar
diwaktu kau bernyanyi!” Morgan berkata dengan semangat. Aku terlonjak senang
mendengar komentarnya padaku.
“Bagaimana jika kau debut denganku? Kita berdua.
Sekaligus kau menjadi penyanyi, kau masih tetap menjadi fotografer - ku.”
“Jangan bergurau! Aku tidak suka bergurau di suasana
serius seperti ini.” Aku terkekeh pelan.
“Aku serius, Ilham…”
Aku menatap kosong ke matanya. “Serius kak?” Dan
Morgan hanya mengangguk sambil tersenyum. Untuk yang kesekian kalinya hatiku
terlonjak senang.
Sampai saat ini, Morgan aku jadikan sebagai kakak
senior ku. Walaupun kami sudah menjadi seperti kakak beradik yang selalu
bersama kemana pun. Ya, aku dan Morgan menjadi penyanyi. Bahkan kakak ku Reza
yang sekarang menjadi seorang rapper jarang sekali kutemui.
Tahukah kamu? Inilah yang aku tunggu-tunggu! Menjadi
seorang bintang. Mimpiku terkabul sekaligus. Menjadi seorang penyanyi bersama
kakak senior ku Morgan sekaligus menjadi fotografer Morgan setiap dia ada
pemotretan. Impianku menjadi kenyataan!
Selesai perform malam ini di daerah luar Jakarta, aku
dan Morgan berencana untuk makan malam. Kami mengendarai mobil untuk mencari
restoran terdekat. Karena aku sudah sangat lapar, kami setuju akan makan di
café-café kalau ada.
Beberapa menit, terlihat café yang tak jauh dari mobil
dan tanpa berfikir panjang Morgan langsung menepikan mobilnya ke pinggir. Aku
menyamar dengan memakai jaket dan kacamata. Begitu juga dengan Morgan. Karena
kami tahu jika ada satu orang pun yang mengenali kami, itu akan sangat
berbahaya.
Kami memilih kursi paling pojok agar tak banyak
tatapan-tatapan nakal dari seorang paparazzi. Tiba-tiba dari arah belakang ada
yang memukul bahu ku pelan. Aku takut kalau dia tahu siapa aku. Aku menoleh
perlahan.
“Ilham kan?” Tanyanya mengamati mukaku lekat-lekat.
Aku melirik ke Morgan sekilas. Seolah Morgan bertanya ‘siapa dia?’ dan aku juga
seolah berkata ‘nanti akan aku jelaskan’. Aku langsung menyuruhnya duduk agar
tidak banyak perhatian orang.
Aku tersenyum. “Larra? Bagaimana kabarmu?”
“Ahh, sudah kau duga kalau kau adalah Ilham. Yeah,
seperti yang kau lihat sendiri aku baik-baik saja.”
Aku mengamati penampilannya yang sekarang sudah jauh
berbeda dengan penampilannya dulu.
“Bagaimana dengan impianmu waktu itu Ra? Sudahkah kau
genggam erat di tanganmu?”
Larra tersenyum. Ini yang aku selalu rindukan.
Senyumannya. “Bahkan sangat erat dan tak ingin ku lepaskan, Ham!”
“Benarkah? Kau hebat! Oh iya, terimakasih untuk
kata-katamu yang selalu membuatku tidak menyerah. Larra, kenalin dia Morgan.
Morgan, dia Larra teman ku dulu.”
Mereka berjabat tangan dan melontarkan nama
masing-masing. “Tidak perlu kau perkenalkan pun aku sudah kenal kok.” Larra
tersenyum lagi. Aku dan Morgan terkekeh pelan.
Sejak saat itu, aku melewati hidup dari pengalamanku
sendiri. Tidak mau terlambat lagi menyadari sesuatu apapun yang aku anggap
remeh. Semakin hari, aku semakin menyukai pekerjaanku. Berkat Morgan, aku
mempunyai pekerjaan dua sekaligus. Terimakasih, karena tuhan telah memberiku
kesempatan, mengatur waktu ku untuk bertemu dengan Morgan.
Aku bermimpi tinggi. Ketika itu susah ku raih. Aku
menutup mata dan aku membayangkan peristiwa itu. Aku terbangun, kuhancurkan
akhir ketakutan untuk jatuh. Seperti bayi burung yang tidak bisa terbang.
Satu persatu perjalananku berjalan. Bertaruh segalanya.
Dan aku akan pergi melompat jikalau ada sebuah dinding yang lebih tinggi. Dan
ketika aku takut lagi, ketika aku lelah. Aku menutup mata. Aku menjaga
imajinasi itu. Dan ketika aku terbangun. Imajinasi itu menjadi nyata. Aku bisa
terbang tinggi. Aku bisa pergi ke langit itu. Membuka sayapku. Terbang tinggi
melebihi yang lain. Dan aku percaya itu.
Minggu, 8 Juli
2012
Cilegon, Indonesia
By:
Amanda Hanifah