THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 11
DEHYDRATED
.
.
.
"Oke!
Kau benar, kau benar!" Kuucapkan kata-kata itu keras-keras. Tak seorang
pun akan mendengar.
Melanie
tidak mengatakan, "Kubilang juga apa."
Setidaknya
tidak dengan begitu banyak kata. Tapi aku bisa merasakan tuduhannya dalam sikap
diamnya.
Aku
masih tidak rela meninggalkan mobil, walaupun kini benda itu tak berguna
bagiku. Ketika bensinnya habis, kubiarkan mobil itu tetap melaju sampai menukik
ke jurang dangkal--anak sungai yang tercipta akibat hujan lebat terakhir. Kini
aku memandang lewat kaca depan, menatap dataran luas kosong dan merasakan
perutku terpilin kepanikan.
Kita
harus bergerak, Wanderer. Udara akan jadi semakin panas. Kalau aku tidak
memboroskan lebih dari seperempat tangki bensin dengan berkeras menuju bagian
dasar petunjuk kedua--dan menemukan ternyata petunjuk ketiga tidak terlihat
lagi dari sana sehingga kami harus berputar dan kembali menelusuri jalan semula—kami
pasti sudah jauh sekali menyusuri sungai berpasir ini, begitu dekat dengan
tujuan kami selanjutnya. Berkat diriku, sekarang kami harus berjalan kaki.
Dengan gerakan ekstra hati-hati aku memasukkan air sebotol demi sebotol ke dalam tas. Kutambahkan granola-granola batangan yang tersisa dengan gerakan sama pelannya. Sementara itu Melanie ingin sekali aku bergegas. Ketidaksabarannya membuatku sulit berpikir, membuatku sulit berkonsentrasi pada apa pun. Misalnya apa yang akan terjadi pada kami.
Dengan gerakan ekstra hati-hati aku memasukkan air sebotol demi sebotol ke dalam tas. Kutambahkan granola-granola batangan yang tersisa dengan gerakan sama pelannya. Sementara itu Melanie ingin sekali aku bergegas. Ketidaksabarannya membuatku sulit berpikir, membuatku sulit berkonsentrasi pada apa pun. Misalnya apa yang akan terjadi pada kami.
Ayo,
ayo, ayo, katanya
berulang-ulang, sampai aku keluar dari mobil dengan kaku dan canggung.
Punggungku
berdenyut-denyut ketika menegakkan tubuh. Nyeri akibat tidur meringkuk semalam,
bukan karena bobot tas. Tasnya tidak terlalu berat ketika aku menggunakan kedua
bahu untuk mengangkatnya.
Sekarang
tutupi mobilnya,
perintah Melanie.
Ia
membayangkan diriku mematahkan dahan-dahan berduri tanaman creosote dan palo
verde terdekat, lalu mengatur semua itu di atas kap perak mobil.
"Kenapa?"
Nada
suara Melanie mengimplikasikan aku cukup tolol karena tidak mengerti. Supaya
tak seorang pun menemukan kita. Tapi bagaimana jika aku ingin ditemukan?
Bagaimana jika tidak ada apa-apa di luar sini, kecuali panas dan debu? Mustahil
kita bisa pulang ke rumah?
Rumah? Ia bertanya sambil melemparkan gambaran-gambaran muram kepadaku: apartemen kosong di San Diego, ekspresi wajah Pencari yang paling menjijikkan, titik berlabel Tucson di peta... dan sekelebat ngarai merah yang lebih membahagiakan--gambaran yang lolos tanpa sengaja. Di manakah itu?
Rumah? Ia bertanya sambil melemparkan gambaran-gambaran muram kepadaku: apartemen kosong di San Diego, ekspresi wajah Pencari yang paling menjijikkan, titik berlabel Tucson di peta... dan sekelebat ngarai merah yang lebih membahagiakan--gambaran yang lolos tanpa sengaja. Di manakah itu?
Aku
berbalik memunggungi mobil, mengabaikan nasihat Melanie. Aku sudah terlibat
terlalu jauh. Aku takkan menyerahkan semua harapan untuk kembali. Mungkin seseorang
akan menemukan mobil itu, lalu menemukanku. Dengan mudah dan jujur aku bisa
menjelaskan kepada regu penyelamat apa yang kulakukan di sini: aku tersesat.
Aku kehilangan arah... kehilangan kontrol... kehilangan akal sehat.
Pertama-tama
kuikuti sungai itu, dan kubiarkan tubuhku mengikuti irama langkah panjang
alaminya. Itu bukan caraku melangkah di trotoar dalam perjalanan ke dan dari
universitas. Sama sekali bukan gaya berjalanku. Tapi gaya itu cocok dengan
tanah berbatu di sini, dan bisa dengan lancar menggerakanku maju dengan
kecepatan mengejutkan, sampai aku terbiasa.
"Bagaimana
kalau aku tidak pergi ke sini?" aku bertanya-tanya seraya berjalan semakin
jauh memasuki tanah tandus padang gurun. "Bagaimana kalau Penyembuh Fords
masih di Chicago? Bagaimana kalau jalanku tidak membawa kita lebih dekat kepada
mereka?"
Yang
membuatku tidak mungkin menolak rencana tolol ini adalah desakan itu, bujukan
itu, pikiran bahwa Jared dan Jamie mungkin berada tepat di sini, di suatu
tempat di tanah kosong ini.
Entahlah, aku Melanie. Kurasa aku masih akan tetap berusaha, tapi aku takut ketika jiwa-jiwa lain ada di dekatku. Aku masih takut. Memercayaimu bisa membunuh mereka berdua.
Kami sama-sama tersentak membayangkannya.
Entahlah, aku Melanie. Kurasa aku masih akan tetap berusaha, tapi aku takut ketika jiwa-jiwa lain ada di dekatku. Aku masih takut. Memercayaimu bisa membunuh mereka berdua.
Kami sama-sama tersentak membayangkannya.
Tapi
berada di sini, begitu dekat... Kelihatannya seolah aku harus berusaha.
Kumohon--sekonyong-konyong Melanie memintaku, memohon, tak ada sisa-sisa
kemarahan di dalam pikirannya--kumohon, jangan gunakan ini untuk melukai
mereka. Kumohon.
"Aku
tidak ingin... Aku tidak tahu apakah aku sanggup melukai mereka. Aku lebih
suka..."
Apa?
Mati sendiri? Daripada menyerahkan beberapa gelintir manusia kepada Pencari?
Sekali lagi kami tersentak membayangkannya. Tapi rasa jijikku terhadap gagasan itu menghibur Melanie. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada menghibur Melanie.
Sekali lagi kami tersentak membayangkannya. Tapi rasa jijikku terhadap gagasan itu menghibur Melanie. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada menghibur Melanie.
Ketika
sungai mulai berkelok terlalu jauh ke utara, Melanie menyarankan agar kami
melupakan jalan setapak datar pucat itu dan mengambil jalan langsung ke
petunjuk ketiga, yaitu tonjolan batu di timur yang seakan menunjuk, seperti
jari, ke langit tak berawan.
Aku
tak suka meninggalkan sungai, persis seperti penolakanku tadi untuk
meninggalkan mobil.
Aku
bisa berbalik menyusuri kembali sungai ini sampai ke jalan, lalu menyusuri
jalan untuk kembali ke jalan raya. Jaraknya berkilo-kilometer, dan akan makan
waktu berhari-hari bagiku untuk melintasinya. Tapi setelah melangkah pergi dari
sungai ini, secara resmi aku tersesat.
Yakinlah, Wanderer. Kita akan menemukan Uncle Jeb, atau ia akan menemukan kita.
Kalau ia masih hidup, imbuhku. Aku mendesah ketika menyimpang dari jalan setapak sederhana itu menuju semak-semak yang sama persis di segala arah. Keyakinan bukanlah konsep yang kukenal. Aku tak tahu apakah aku memercayainya.
Yakinlah, Wanderer. Kita akan menemukan Uncle Jeb, atau ia akan menemukan kita.
Kalau ia masih hidup, imbuhku. Aku mendesah ketika menyimpang dari jalan setapak sederhana itu menuju semak-semak yang sama persis di segala arah. Keyakinan bukanlah konsep yang kukenal. Aku tak tahu apakah aku memercayainya.
Bagaimana
dengan percaya?
Kepada
siapa? Kau? Aku tertawa. Udara panas memanggang tenggorokanku ketika aku
menghela napas.
Bayangkan
saja, ujar Melanie, mengubah pokok pembicaraan, mungkin malam ini kita akan
berjumpa dengan mereka.
Kerinduan
itu milik kami berdua. Gambaran wajah mereka--yang satu laki-laki, satunya
anak-anak--muncul dari ingatan kami. Ketika berjalan lebih cepat, aku tidak
yakin apakah diriku yang benar-benar memegang kendali atas gerakan itu.
Memang
semakin panas--lalu semakin panas, lalu lebih panas lagi. Keringat membuat
rambutku lepek dan T-Shirt kuning pucatku menempel tidak nyaman jika tersentuh.
Di siang hari angin yang membakar bertiup semakin kencang, menyemburkan pasir
ke wajah. Udara kering itu mengisap keringat, mengotori rambt dengan pasir, dan
meniup T-Shirt-ku menjauhi tubuh; T-Shirt itu bergerak sekaku karton karena
tempelan garam mengering. Aku terus berjalan.
Aku
minum lebih sering daripada yang diinginkan Melanie. Ia menggerutu dalam setiap
tegukan, mengancam bahwa kami akan jauh lebih memerlukan air itu besok. Tapi
aku sudah begitu banyak menyerah kepadanya hari ini, sehinga tidak berminat
mendengarkan. Aku minum ketika merasa haus, dan itu sangat sering.
Kakiku
menggerakan tubuhku maju tanpa berpikir. Irama gemersik langkah kakiku menjadi
musik latar belakang, rendah dan menjemukan.
Tak
ada yang dilihat; satu semak yang terjalin rapuh tampak sama persis seperti
semak berikutnya. Keseragaman itu membuatku bingung--yang benar-benar kusadari
hanya siluet pegunungan dilatari langit putih pucat. Aku memperhatikan siluet
itu setiap beberapa langkah, sampai mengenalnya begitu baik dan bisa
menggambarkannya dengan mata terpejam.
Pemandangan
tampak membeku di tempat. Aku terus-menerus menoleh ke sekeliling, mencari
petunjuk keempat, seakan sudut pandangnya bakal berubah setelah langkah
terakhir. Petunjuk keempat berupa puncak berbentuk kubah besar dengan secuil
bagian yang hilang, yaitu lengkungan yang lenyap dari bagian sisinya. Petunjuk
itu baru saja diperlihatkan Melanie kepadaku pagi ini. Aku berharap itulah
petunjuk terakhir, karena kami beruntung seandainya bisa pergi sejauh itu. Tapi
aku punya fisarat masih banyak lagi yang dirahasiakan Melanie dariku, dan akhir
perjalanan kami masih teramat sangat jauh.
Aku
mengudap granola-granola batangan sepanjang siang, dan dengan terlambat
kusadari batang terakhir telah kuhabiskan.
Ketika
matahari terbenam, malam turun dengan kecepatan yang sama seperti kemarin. Melanie
siap. Ia telah menemukan tempat untuk berhenti.
Di
sini,
katanya. Kita harus menghindari tanaman cholla itu sejauh mungkin, Kau
berguling-guling dalam tidurmu.
Ku
bergidik mengamati kaktus yang tampak berbulu itu di dalam cahaya temaram.
Tanaman
itu dipenuhi jarum sewarna tulang yang mirip bulu.
Kau
ingin aku tidur di tanah begitu saja? Tepat di sini?Kau melihat pilihan lain? Melanie merasakan kepanikanku, dan nada
suaranya melembut, seakan iba. Begini, ini lebih baik daripada di dalam
mobil. Setidaknya tanahnya datar. Udara terlalu panas, sehingga serangga -
serangga takkan tertarik pada panas tubuhmu dan---"Serangga?" sergahku
keras-keras. "Serangga?"
Sekelebat
muncul gambaran tak menyenangkan mengenai serangga yang tampak mematikan dan
ular-ular yang bergelung di dalam ingatan-ingatan Melanie.
Jangan
khawatir.
Melanie mencoba menenangkanku ketika aku membungkuk sambil berjingkat,
menjauhkan diri dari apa saja yang mungkin bersembunyi di dalam pasir di
bawahku; mataku mencari jalan untuk meloloskan diri di dalam kegelapan. Tak
ada yang bakal mengganggumu, kecuali kau mengganggunya lebih dulu. Bagaimanapun
kau lebih besar daripada segala hal lain di luar sini. Ingatan lain
berkelebat, kali ini anjing pemakan bangkai bertubuh sedang, coyote, melintas
dalam pikiran kami.
"Sempurna,"
gerutuku. Aku berjongkok, walaupun masih merasa takut terhadap tanah hitam di
bawahku. "Dibunuh anjing-anjing liar. Siapa sangka akan berakhir begitu...
begitu sepele?
Mengecewakan
sekali. Mahluk buas bercakar di mists Planet. Pasti. Setidaknya akan lebih
bermartabat jika dikalahkan mahluk itu."
Nada
jawaban Melanie membuatku membayangkan ia sedang memutar bola mata. Jangan
seperti bayi. Tak ada yang akan menyantapmu. Sekarang berbaring dan
istirahatlah. Besok akan lebih sulit dapipada hari ini.
"Terima
kasih untuk kabar baiknya," gerutuku. Melanie berubah jadi tiran. Ini
mengingatkanku pada ungkapan manusia: Diberi hati minta ampela. Tapi aku
merasa jauh lebih lelah daripada yang kusadari. Dan ketika dengan enggan aku
duduk di tanah, mustahil bagiku untuk tidak berbaring di tanah kasar berkerikil
itu dan membiarkan mataku terpejam.
Tampaknya baru beberapa menit berlalu ketika pagi menjelang. Terang menyilaukan, dan sudah cukup panas untuk membuatku berkeringat. Saat terbangun tubuhku berselimut kotoran dan kerikil; lengan kananku terjepit di bawah tubuh dan mati rasa. Kukibas-kibaskan rasa kebas itu, lalu aku merogoh tas untuk mencari air.
Tampaknya baru beberapa menit berlalu ketika pagi menjelang. Terang menyilaukan, dan sudah cukup panas untuk membuatku berkeringat. Saat terbangun tubuhku berselimut kotoran dan kerikil; lengan kananku terjepit di bawah tubuh dan mati rasa. Kukibas-kibaskan rasa kebas itu, lalu aku merogoh tas untuk mencari air.
Melanie
tidak setuju, tapi aku mengabaikannya. Aku mencari botol setengah kosong yang
terakhir kuminum. Kugeledah botol-botol penuh dan kosong itu, sampai mulai
melihat sebuah pola.
Dengan perasaan waswas yang semakin besar, aku mulai menghitung. Kuhitung dua kali. Botol kosongnya lebih banyak daripada jumlah botol penuh. Aku sudah menghabiskan lebih dari setengah persediaan airku.
Dengan perasaan waswas yang semakin besar, aku mulai menghitung. Kuhitung dua kali. Botol kosongnya lebih banyak daripada jumlah botol penuh. Aku sudah menghabiskan lebih dari setengah persediaan airku.
Sudah
kubilang, kau minum terlalu banyak.
Aku
tidak menjawab Melanie, tapi kusandang tas tanpa mengambil minuman. Mulutku rasanya
mengerikan: kering, berpasir dan seperti empedu. Aku mencoba mengabaikan semua
itu, mencoba menghentikan lidahku yang sekasar ampelas agar tidak menjelajahi
gigiku yang berpasir, lalu mulai berjalan.
Ketika
matahari semakin tinggi dan panas di atasku, perutku lebih sulit untuk
diabaikan daripada mulutku. Perutku memilin dan berkontraksi secara teratur,
mengantisipasi hidangan yang tidak muncul-muncul. Di siang hari rasa lapar itu
telah berubah dari tidak nyaman menjadi perih.
Ini belum apa-apa, dengan masam Melanie mengingatkan. Kita pernah lebih lapar lagi.
Ini belum apa-apa, dengan masam Melanie mengingatkan. Kita pernah lebih lapar lagi.
Kau
yang pernah,
ujarku pedas. Saat ini aku tidak merasa ingin menjadi penonton bagi
ingatan-ingatan mengenai daya tahan Melanie.
Aku
sudah mulai putus asa ketika berita baik itu muncul. Ketika aku memutar kepala
melintasi cakrawala dengan gerakan rutin setengah hati, bentuk membulat kubah
seakan melompat ke hadapanku dari bagian tengah deretan puncak kecil di utara.
Dari sini bagian yang hilang itu hanya berupa lekuk samar-samar.
Cukup
dekat,
Melanie memutuskan. Ia merasa sama gembiranya denganku, karena telah membuat
kemajuan. Aku berbelok ke utara dengan bersemangat, langkah-langkah kakiku
semakin panjang.
Teruslah
mencari petunjuk berikutnya. Melanie mengingat formasi lain dan aku
langsung mulai memanjangkan kepala melihat sekeliling, walaupun tahu tak ada
gunanya mencari petunjuk sedini ini.
Seharusnya
di timur. Utara, lalu timur, lalu utara lagi. Itu polanya.
Pikiran
akan menemukan petunjuk lain membuatku tetap bergerak, walaupun kakiku semakin
lelah. Melanie mendorongku maju. Ia terus mengucapkan kata-kata penyemangat
ketika aku melambat, dan memikirkan Jared dan Jamie ketika aku berubah apatis.
Kemajuanku stabil. Setiap kali hendak minum aku menunggu sampai Melanie
mengizinkan, walaupun bagian dalam tenggorokanku seakan melepuh.
Harus kuakui aku
bangga terhadap diriku sendiri, karena bisa bersikap begitu gigih. Ketika jalan
tanah muncul, rasanya seakan memperoleh imbalan. Jalanan itu memanjang ke utara,
ke arah yang sedang kutuju, tapi Melanie bimbang.
Aku tidak menyukai
penampilannya,
sergahnya.
Jalanan itu hanya
berupa garis pucat melewati semak, dan hanya terlihat karena teksturnya lebih
halus dan tidak ada tanaman. Jejak-jejak lama roda kendaraan menciptakan
lekukan ganda, membentuk lajur tunggal di tengahnya.
Seandainya jalan itu
menuntun ke arah yang keliru, akan kita tinggalkan. Aku sudah berjalan
menyusuri bagian tengah jejak roda. Lebih mudah daripada menembus semak
creosote dan menghindari cholla.
Melanie tidak
menyahut, tapi ketidaknyamanannya sedikit paranoid. Aku meneruskan pencarian
formasi berikut--bentuk M sempurna, dua puncak kembar gunung berapi. Tapi aku
juga mengamati padang gurun di sekitarku dengan lebih cermat.
Karena mengamati
dengan cermat, aku sudah lama memperhatikan ada noktah abu-abu di kejauhan,
sebelum mengetahui benda apa itu. Aku bertanya-tanya apakah mataku menipu, lalu
mengerjap-ngerjapkannya untuk menyingkirkan debu yang memburamkan. Tampaknya
itu warna yang keliru untuk batu, dan bentuknya kelewat padat untuk pohon.
Kusipitkan mata karena silau, mencoba menebak.
Lalu aku kembali
mengerjap-ngerjapkan mata, dan noktah itu mendadah berubah jadi bentuk
terstruktur, dan jaraknya lebih dekat daripada yang kuperkirakan. Itu semacam
rumah atau bangunan. Kecil dan tergerus cuaca menjadi abu-abu kusam.
Serangan panik Melanie
membuatku melompat dari lajur itu dan bersembunyi di dalam semak-semak gundul.
Tunggu, ujarku. Aku yakin
itu bangunan terlantar.
Dari mana kau tahu? Melanie menahan diri
sekuat tenaga, sampai aku harus berkonsentrasi pada kakiku untk bisa
menggerakkannya maju.
Siapa yang mau
tinggal di luar sini? Kami, para jiwa, hidup bermasyarakat. Kudengar nada pahit
dalam penjelasanku, dan tahu itu karena tempatku sekarang berdiri--yang secara
fisik dan metaforis berada di tengah antah-berantah. Mengapa aku tak lagi
menjadi bagian anggota masyarakat jiwa? Mengapa aku merasa seakan... seakan tak
ingin menjadi bagiannya? Pernahkah aku benar-benar menjadi bagian komunitas
yang seharusnya adalah komunitasku sendiri, atau apakah itu alasan di balik
serangkaian panjang kehidupan yang kujalani untuk sementara? Apakah aku memang
selalu menyimpang, ataukah Melanie yang membuatku seperti ini? Apakah planet
ini telah mengubahku, atau mengungkapkan siapa diriku sebenarnya?
Melanie tidak punya
kesabaran untuk membahas krisis pribadiku. Ia menginginkanku menyingkir
jauh-jauh dari bangunan itu secepat mungkin. Pikiran-pikirannya membetot dan
memuntir pikiran-pikiranku, menarikku keluar dari lamunan.
Tenang, perintahku. Aku
mencoba memusatkan pikiran-pikiranku sendiri, dan memisahkannya dari
pikiran-pikiran Melanie.
Seandainya ada yang
benar-benar tinggal di sini, itu pasti manusia. Percayalah kepadaku dalam hal
ini; tak ada pertapa di antara jiwa. Mungkin Uncle Jeb-mu—Dengan kasar Melanie
menolak pikiran itu.
Tak seorang pun bisa
bertahan hidup di tempat terbuka seperti ini. Bangsamu pasti sudah mencari
tempat pemukiman dengan teliti. Siapa pun yang tinggal di sini, dia pasti telah
kabur atau berubah menjadi salah satu bangsamu. Uncle Jeb pasti punya tempat persembunyian
yang lebih baik.
Dan kalaupun orang
yang tinggal di sini telah menjadi salah satu bangsaku, ujarku meyakinkan Melanie,
maka dia akan meninggalkan tempat ini. Hanya manusia yang mau hidup seperti
ini... Aku berhenti, dan mendadak diserang ketakutan.
Apa? Melanie bereaksi
kuat terhadap ketakutanku, membuat kami terpaku di tempat. Ia menelisik
pikiran-pikiranku, mencari sesuatu yang pernah kulihat dan mencemaskanku.
Tapi tak ada hal baru
yang kulihat. Melanie, bagaimana jika ada manusia di luar sini, tapi bukan
Uncle Jeb, Jared dan Jamie? Bagaimana jika orang lain yang menemukan kita?
Melanie menyerap
gagasan itu perlahan-lahan, merenungkannya dengan seksama. Kau benar. Mereka
akan langsung membunuh kita. Tentu saja.
Aku mencoba menelan
ludah, untuk membasuh rasa ngeri dari mulut keringku.
Takkan ada orang
lain. Bagaimana mungkin, Melanie menyimpulkan.
Bangsamu luar biasa
cermat. Hanya orang yang sudah lama bersembunyi yang punya peluang. Jadi, ayo
kita periksa. Kau yakin tak satu pun bangsamu di sini, dan aku yakin tak satu
pun bangsaku di sini. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang berguna, sesuatu
yang bisa kita gunakan sebagai senjata.
Aku bergidik melihat pikiran-pikiran Melanie mengenai pisau tajam dan logam panjang yang bisa diubah menjadi pentungan.
Aku bergidik melihat pikiran-pikiran Melanie mengenai pisau tajam dan logam panjang yang bisa diubah menjadi pentungan.
Jangan pakai senjata.
Ugh. Bagaimana
mungkin mahluk-mahluk penakut macam kau bisa mengalahkan kami?
Secara sembunyi-sembunyi dan dengan jumlah luar biasa. Siapa pun kalian, bahkan anak-anak kecil sekalipun, mereka seratus kali lebih membahayakan daripada salah satu dari kami. Tapi kalian mirip satu rayap di rumah semut. Ada jutaan jumlah kami, semua bekerja bersama-sama dengan keselarasan sempurna untuk mencapai tujuan.
Secara sembunyi-sembunyi dan dengan jumlah luar biasa. Siapa pun kalian, bahkan anak-anak kecil sekalipun, mereka seratus kali lebih membahayakan daripada salah satu dari kami. Tapi kalian mirip satu rayap di rumah semut. Ada jutaan jumlah kami, semua bekerja bersama-sama dengan keselarasan sempurna untuk mencapai tujuan.
Ketika menjelaskan
keharmonisan itu, sekali lagi kurasakan kepanikan dan kebingungan menyeretku.
Siapakah aku?
Kami tetap
bersembunyi di balik cresote ketika mendekati bangunan kecil itu. Kelihatannya
seperti rumah. Hanya gubuk kecil di pinggir jalan, tanpa petunjuk sama sekali
mengenai kegunaan lainnya. Alasan mengapa lokasinya di sini masih misterius.
Tempat ini tak menawarkan apa-apa, kecuali kekosongan dan panas.
Tidak ada tanda-tanda
gubuk itu baru ditempati. Ambang pintunya menganga, tak berpintu, dan hanya
beberapa pecahan kaca yang melekat di kusen jendela kosongnya. Debu berkumpul
di ambang pintu dan menghambur ke dalam. Dinding-dinding kelabu tergerus cuaca
itu tampak miring tertiup angin, seakan angin selalu bertiup dari arah yang
sama di sini.
Aku berhasil menekan
kecemasanku ketika berjalan ragu menuju ambang pintu kosong itu. Kami pasti
sendirian di sini, sama seperti sepanjang hari ini, maupun sepanjang hari
kemarin.
Keteduhan yang dijanjikan pintu masuk gelap itu menarikku maju, mengalahkan ketakutanku dengan daya tariknya. Aku masih mendengarkan dengan saksama, tapi kakiku bergerak maju dengan langkah-langkah cepat dan pasti. Aku melewati ambang pintu, lalu bergerak cepat ke salah satu sisinya, sehingga ada dinding di belakang punggungku. Tindakan ini kulakukan secara alami, hasil dari hari-hari menggelandang Melanie. Aku berdiri terpaku di sana, dicemaskan kebutaan, menunggu mataku menyesuaikan diri.
Keteduhan yang dijanjikan pintu masuk gelap itu menarikku maju, mengalahkan ketakutanku dengan daya tariknya. Aku masih mendengarkan dengan saksama, tapi kakiku bergerak maju dengan langkah-langkah cepat dan pasti. Aku melewati ambang pintu, lalu bergerak cepat ke salah satu sisinya, sehingga ada dinding di belakang punggungku. Tindakan ini kulakukan secara alami, hasil dari hari-hari menggelandang Melanie. Aku berdiri terpaku di sana, dicemaskan kebutaan, menunggu mataku menyesuaikan diri.
Gubuk kecil itu
kosong, seperti sudah kami perkirakan. Tak ada tanda-tanda pernah ditempati,
baik di dalam maupun di luar. Sebuah meja rusak berdiri miring dengan dua kaki
masih utuh di tengah ruangan, ditemani kursi logam berkarat di sampingnya.
Petak-petak beton terlihat dari lubang-lubang besar di karpet usang kotor.
Dapur kecil memenuhi salah satu dinding, disertai tempat cuci piring berkarat,
barisan lemari yang beberapa di antaranya tak berpintu, dan kulkas terbuka
sepinggang yang bagian dalamnya hitam berjamur. Kerangka sofa tergeletak di
dinding seberang, semua bantalnya hilang. Lukisan berbingkai anjing-anjing yang
sedang bermain poker masih tergantung di atas sofa, tapi sedikit miring.
Seperti rumah, ujar Melanie.
Ia merasa cukup lega sehingga bisa menyindirku. Hiasannya lebih banyak daripada
hiasan di apartemenmu.
Aku sudah bergerak ke
tempat cuci piring.
Terus saja bermimpi,
imbuh Melanie.
Tentu saja merupakan
pemborosan jika air tetap mengalir di tempat terpencil ini. Para jiwa menangani
detail-detail semacam itu dan takkan meninggalkan keganjilan seperti ini. Tapi
aku masih ingin memutar tombol-tombol keran kuno itu. Salah satunya patah di
tanganku. Sudah karatan seluruhnya.
Selanjutnya aku
beralih ke lemari, lalu berlutut di atas karpet menjijikan itu untuk mengintip
hati-hati ke dalamnya. Kujauhkan tubuhku ketika membuka pintunya, khawatir
telah mengganggu salah satu hewan padang gurun berbisa yang bersarang di
dalamnya.
Lemari pertama
kosong, tak berdinding belakang sehingga aku bisa melihat lembar-lembar kayu
dinding luar. Lemari berikut tak berpintu, tapi ada tumpukan koran tua tertutup
debu di dalamnya. Dengan penasaran kutarik selembar, kuguncang debunya ke
lantai yang lebih berdebu, lalu kubaca tanggalnya.
Dari zaman manusia,
pikirku. Bukannya aku membutuhkan tanggal untuk tahu.
"Seorang Lelaki
Membakar Putrinya yang Berusia Tiga Tahun Sampai Mati," begitulah judul
beritanya, disertai foto anak kecil pirang secantik malaikat. Dan ini bukan
halaman depan.
Kengerian yang
dijelaskan di sini tak cukup menyeramkan untuk dijadikan liputan utama. Di
bawah berita itu terpampang wajah lelaki yang menjadi buronan karena membunuh
istri dan kedua anaknya dua tahun sebelum tanggal cetak koran; beritanya
mengenai kemungkinan seseorang melihat lelaki itu di Meksiko. Dua orang
terbunuh dan tiga terluka dalam kecelakaan yang melibatkan pengemudi mabuk.
Penyidikan mengenai pemalsuan dan pembunuhan sehubungan dengan dugaan bunuh
diri bankir lokal terkemuka. Pengakuan di bawah tekanan telah membebaskan
seorang tersangka penganiaya anak. Hewan-hewan peliharaan ditemukan terbantai
di tempat sampah.
Aku bergidik,
kudorong koran itu menjauhiku, kembali ke dalam lemari gelap.
Itu semua
perkecualian, bukan norma, ujar Melanie diam-diam. Ia berusaha agar kengerian reaksiku
tadi tidak merembes ke dalam ingatan-ingatannya mengenai tahun-tahun itu, lalu
mengubah ingatan-ingatan itu.
Tapi bisakah kau
mengerti mengapa kami mengira diri kami mampu berbuat lebih baik?
Mengapa kami mengira
kalian mungkin tak patut memperoleh semua hal luar biasa di dunia ini?
Melanie menjawab masam, Kalau ingin membersihkan planet ini, kalian bisa meledakkannya.
Tak peduli apa yang diimpikan para penulis fiksi ilmiah kalian, kami benar-benar tidak memiliki teknologinya.
Melanie menjawab masam, Kalau ingin membersihkan planet ini, kalian bisa meledakkannya.
Tak peduli apa yang diimpikan para penulis fiksi ilmiah kalian, kami benar-benar tidak memiliki teknologinya.
Melanie tidak
menganggap gurauanku lucu.
Lagi pula, imbuhku,
itu perbuatan sia-sia. Planet ini indah. Tentu saja dengan mengecualikan padang
gurun mengerikan ini.
Kau tahu, itulah
sebabnya kami menyadari keberadaan kalian di sini, kata Melanie. Ia
kembali mengingat judul-judul berita memuakkan itu. Ketika berita malam
tidak berisi apa-apa, kecuali cerita-cerita kemanusiaan yang menggugah, ketika
para pedofil dan pemadat berbaris di rumah sakit untuk menyerahkan diri, ketika
semua berubah aman tenteram, saat itulah kalian mengungkapkan diri.
"Perubahan yang
mengerikan!"
ujarku masam, beralih ke lemari berikut.
Aku menarik pintu
kaku itu dan menemukan harta karun.
"Biscuit
Crackers!" teriakku, meraih sekotak Saltines setengah penyok yang sudah
kusam. Di belakangnya ada kotak lain, kotak yang tampaknya pernah terinjak.
"Bolu Twinkies!" seruku.
"Lihat! desak Melanie.
Di benakku ia menunjuk tiga botol pemutih berdebu di bagian belakang lemari.
Untuk apa pemutih?
tanyaku. Aku sudah merobbek kotak crakers. Untuk dicipratkan ke mata orang?
Atau botolnya untuk menghancurkan kepala mereka?
Yang membuatku
senang, crackers itu masih di dalam plastik, walaupun sudah hancur jadi remah.
Aku membuka sebungkus dan mulai memasukkan remah-remah itu ke dalam mulut
dengan mengguncang-guncang bungkusnya, lalu kutelan crackers itu walaupun baru
kukunyah sebentar.
Aku tidak sabar ingin
memasukkannya ke perut.
Buka sebotol dan cium
baunya, perintah Melanie, mengabaikan komentarku tadi. Begitulah cara ayahku
dulu menyimpan air di garasi. Residu pemutih menjaga airnya tidak ditumbuhi apa
pun.
Sebentar. Aku
menghabiskan sebungkus remah dan mulai membuka yang berikut. Sudah kedaluwarsa,
tapi terasa harum di bandingkan rasa di dalam mulutku. Setelah menghabiskan
bungkus ketiga, aku mulai menyadari garamnya membakar bibirku yang pecah-pecah
dan sudut-sudut mulut.
Kukeluarkan salah
satu botol pemutih. Kuharap Melanie benar. Kedua lenganku lemah dan gemetar,
nyaris tak mampu mengangkat botol. Ini membuat kami khawatir. Seberapa jauh
kondisi kami sudah memburuk? Seberapa jauh kami bisa pergi?
Tutup botolnya sangat
kencang, sehingga aku mengira tutup itu sudah meleleh di tempat. Tapi akhirnya
aku bisa memutarnya dengan gigi. Kucium mulut botol dengan hati-hati, karena
aku benar-benar tak ingin pingsan akibat mencium bau pemutih. Bau kimianya
sangat samar. Aku mencium lebih dalam Air. Pasti. Air lama, apak, tapi tetap
air. Kuteguk sedikit. Bukan air sungai pegunungan yang segar, tapi terasa
basah. Aku mulai menenggaknya dengan rakus.
Pelan-pelan, Melanie
mengingatkan, dan aku harus menyetujuinya. kami beruntung menemukan tempat
penyimpanan ini, tapi tak masuk akal jika kami memboroskannya. Lagi pula
sekarang aku menginginkan makanan padat, setelah garamnya tidak terasa begitu
menyakitkan. Aku beralih ke kotak Twinkies dan menjilati tiga bolu hancur dari
bagian dalam bungkusnya.
Lemari terakhir
kosong.
Setelah serangan
lapar sedikit mereda, ketidaksabaran Melanie langsung merembes ke dalam
pikiranku. Kali ini tanpa merasakan adanya perlawanan, cepat-cepat kumasukkan
barang-barang curian itu ke tas. Botol-botol air kosong kukeluarkan dan
kumasukkan ke bak cuci piring, sehingga ada ruang kosong. Botol-botol pembersih
itu berat, tapi bobotnya menenangkan. Itu berarti malam ini aku tak lagi
berbaring di lantai padang gurun. Kehausan dan kelaparan. Ketika energi gula
mulai menembus pembuluh darahku, aku bergegas kembali ke teriknya siang.
.
.
.
TO
BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar