THE HOST
A STORY
AND NOVL BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE HOST
BAB 14
DISPUTED
.
.
.
Rasanya
terlalu berlebihan bagi kami ketika melihat lelaki itu di sini, saat ini,
setelah pasrah menerima bahwa kami takkan pernah berjumpa dengannya lagi,
setelah percaya kami telah kehilangan dirinya selamanya. Peristiwa ini
melumpuhkanku, membuatku tak mampu bereaksi. Aku ingin memandang Uncle Jeb,
untuk memahami jawabannya yang menghancurkan hati saat di padang gurun, tapi
aku tak mampu menggerakkan mata. Kutatap wajah Jared, tidak mengerti.
Melanie
bereaksi secara berbeda. "Jared," serunya. Lewat tenggorokanku yang
rusak, suara itu hanya berupa bisikan parau. Melanie menyentakku ke depan,
persis yang dilakukannya di padang gurun, mengambil kendali atas tubuhku yang
membeku. Satu-satunya perbedaan adalah, kali ini ia memaksa.
Aku
tak cukup cepat untuk bisa menghentikannya. Melanie menerjang, mengangkat kedua
lengannya untuk meraih Jared. Kuteriakkan peringatan kepadanya di dalam
kepalaku, tapi ia tidak mendengarkan. Ia bahkan nyaris tidak menyadari
keberadaanku. Tak seorang pun mencoba menghentikan Melanie ketika ia
terhuyung-huyung menghampiri Jared. Tak seorang pun, kecuali diriku. Tinggal
beberapa senti lagi sebelum ia menyentuh Jared, tapi ia masih tidak melihat apa
yang kulihat. Ia tidak melihat perubahan wajah Jared setelah perpisahan
berbulan-bulan, betapa wajah itu mengeras, betapa gurat-gurat wajahnya tertarik
ke beberapa arah berlainan. Melanie tidak melihat senyuman tanpa sadar yang
diingatnya takkan cocok di wajah baru ini. Hanya sekali ia pernah melihat wajah
Jared berubah kelam dan mengancam, tapi ekspresi itu tak ada apa-apanya
dibandingkan ekspresi Jared saat ini. Melanie tidak melihat, atau mungkin tak
peduli.
Jangkauan
tangan Jared lebih panjang daripada tanganku. Sebelum Melanie bisa membuat
jemariku menyentuh Jared, lengan lelaki itu terulur dan punggung tangannya
menghantam sisi wajahku. Pukulan itu begitu keras hingga kedua kakiku
meninggalkan tanah, lalu kepalaku terbanting ke lantai batu. Aku mendengar
tubuhku membentur lantai dengan suara gedebuk pelan, tapi tidak merasakannya.
Bola mataku berputar, suara berdenging memenuhi telinga. Kuperangi rasa pening
yang mengancam akan menghilangkan kesadaranku.
Tolol,
tolol, gerutuku kepada Melanie. Sudah kubilang, jangan berbuat seperti itu!
Jared ada di sini, Jared masih hidup, Jared ada di sini. Melanie kacau,
berulang-ulang mengucapkan kata-kata itu, seakan itu lirik lagu. Kucoba
memfokuskan pandangan, tapi langit-langit aneh itu membutakanku. Aku berpaling
menghindari cahaya, lalu menahan isak tangis ketika gerakanku mengirimkan tusukan-tusukan
menyakitkan ke sisi wajah. Rasa sakit akibat pukulan spontan ini nyaris tak
tertanggungkan.
Harapan
apa yang kumiliki, seandainya aku harus menahan serangan bertubi-tubi yang
intensif dan terkalkulasi? Terdengar suara kaki diseret di sampingku. Mataku
spontan mencari ancaman itu, dan kulihat Uncle Jeb berdiri di dekatku.
Tangannya setengah terulur ke arahku, tapi ia ragu, mengalihkan pandangan. Aku
mengangkat kepala satu senti, kembali menahan erangan, untuk melihat apa yang
dilihatnya. Jared berjalan menghampiri kami, wajahnya seperti orang-orang
barbar di padang gurun--walaupun tampak sangat tampan dan sama sekali tidak menakutkan,
di dalam kemarahannya.
Jantungku
seakan rontok, lalu berdetak tidak teratur, dan aku ingin menertawakan diriku sendiri.
Adakah artinya jika wajahnya tampan, jika aku mencintainya, ketika ia hendak
membunuhku? Aku menatap ekspresi pembunuh di wajah Jared, dan mencoba berharap
kemarahan akan mengalahkan akal sehat. Tapi harapanku akan kematian sejati tak
terpenuhi.
Jeb
dan Jared bertatapan lama. Rahang Jared menegang dan mengendur, tapi wajah Jeb
tenang. Konfrontasi bisu itu berakhir ketika mendadak Jared menghembuskan napas
kemarahan dan mundur selangkah. Jeb mengulurkan satu tangan untuk meraih
tanganku, sementara tangan satunya memeluk pinggangku untuk menarikku berdiri.
Kepalaku berputar-putar dan terasa nyeri; perutku bergolak. Seandainya
berhari-hari perutku tidak kosong, mungkin aku sudah muntah. Rasanya seolah
kakiku tidak menyentuh tanah.
Aku
terhuyung-huyung dan limbung ke depan. Jeb menegakkan tubuh, lalu mencengkeram
sikuku untuk menjagaku tetap berdiri. Jared menyaksikan semua ini dengan
seringai yang memperlihatkan giginya. Seperti orang tolol, Melanie berjuang
untuk kembali menghampirinya. Tapi aku sudah mengatasi rasa terkejutku ketika
melihat lelaki itu berada di sini, dan saat ini aku lebih pintar daripada
Melanie. Melanie takkan menerobos lagi. Aku menguncinya di balik setiap jeruji
yang bisa kuciptakan di kepalaku.
Diam
sajalah. Tidakkah kaulihat betapa ia membenciku? Apa pun yang kaukatakan akan
memperburuk situasi. Kita bakal mati. Tapi Jared masih hidup, Jared ada di
sini, bisik Melanie parau.
Keheningan
di gua lenyap; bisik-bisik muncul dari setiap sisi, semua bersamaan, seakan aku
tak memahami semacam isyarat. Aku tak bisa menangkap arti dalam semua gumaman
berdesis itu.
Mataku
berpindah-pindah di antara kerumunan manusia itu. Semua dewasa, tidak terlihat
sosok lebih kecil, lebih muda, di antara mereka. Jantungku nyeri menyadari
ketidakhadiran itu, dan Melanie berjuang menyuarakan pertanyaannya. Dengan
tegas aku menyuruhnya diam. Tak ada yang patut dilihat disini. Tak ada apa-apa,
kecuali kemarahan dan kebencian di wajah orang-orang asing, atau kemarahan dan
kebencian di wajah Jared.
Lalu
lelaki lain menyeruak menembus kerumunan yang sedang berbisik-bisik. Tubuhnya
kurus tinggi, struktur tulangnya tampak lebih menonjol di balik kulit dibandingkan
sebagian besar orang.
Rambutnya
berwarna pucat, entah cokelat muda atau hanya pirang gelap. Seperti rambut
pucat dan tubuhnya yang jangkung, wajahnya lembut dan tirus. Tak tampak
kemarahan di wajahnya, dan itulah sebabnya mataku terpaku ke sana. Yang lain
memberi jalan kepada lelaki yang tampak sederhana ini, seakan ia punya status
tertentu di antara mereka. Hanya Jared yang tidak tunduk kepadanya; ia tetap
diam di tempat dan hanya menatapku.
Lelaki
jangkung itu menepi menghindari Jared. Tampaknya ia tidak memperhatikan
rintangan yang menghadang jalannya itu, seakan Jared hanya setumpuk batu.
"Oke, oke," katanya dengan suara ceria yang ganjil, seraya mengitari
Jared dan maju menatapku. "Aku di sini. Apa yang kita peroleh?"
Aunt
Maggie yang menjawab. Ia muncul di siku lelaki itu. "Jeb menemukannya di
padang gurun. Dulunya keponakan kami, melanie. Tampaknya dia mengikuti
petunjuk-petunjuk yang diberikan Jeb kepadanya." Aunt Maggie melayangkan
tatapan licik ke arah Jeb.
"Mm-hm,"
gumam lelaki kurus tinggi itu. Matanya menilaiku dengan penasaran. Penilaian
itu terasa aneh. kelihatannya ia menyukai apa yang dilihatnya. Aku tidak
mengerti mengapa. Pandanganku beralih dari lelaki itu ke perempuan lain.
Seorang
perempuan muda mengintip dari samping si lelaki; tangannya berada di lengan
lelaki itu.Mataku tertarik pada rambut cemerlangnya. Sharon, seru Melanie. Sepupu
Melanie itu melihat bahwa aku mengenalinya, dan wajahnya mengeras. Kudorong
Melanie dengan kasar ke bagian belakang kepalaku.
Shhh!
"Mm-hm," ujar lelaki tinggi itu lagi, seraya mengangguk. Ia
mengulurkan sebelah tangan ke wajahku, dan terkejut ketika aku menjauh, mundur
ke samping Jeb.
"Tidak
apa-apa," kata lelaki jangkung itu. Ia tersenyum sedikit, membesarkan
hatiku.
"Aku
takkan melukaimu." Kembali ia mengulurkan tangan ke wajahku. Aku mengerut
ke samping Jeb seperti sebelumnya, tapi Jeb mengangkat lengannya dan
mendorongku maju. Lelaki tinggi itu menyentuh rahang di bawah
telingaku--jemarinya lebih lembut daripada yang kubayangkan--lalu ia
memalingkan wajahku.
Kurasakan
jemarinya menyusuri garis di tengkukku, dan kusadari ia sedang meneliti bekas
luka akibat penyisipanku. Kuamati wajah Jared dari sudut mata. Tindakan lelaki
jangkung ini jelas membuatnya marah, dan kurasa aku tahu mengapa--betapa ia
sangat membenci garis merah muda tipis di leherku. Jared memberengut, tapi aku
terkejut karena sebagian kemarahannya telah lenyap dari wajahnya.
Sepasang
alisnya bertaut. Membuatnya tampak bingung. Lelaki tinggi itu menjatuhkan kedua
tangannya dan melangkah pergi. Bibirnya mengerut, matanya berseri-seri mendapat
semacam tantangan. "Tampaknya dia cukup sehat, walaupun baru saja
mengalami keletihan, dehidrasi, dan kurang gizi. Kurasa kau sudah memberinya
cukup air, sehingga dehidrasinya takkan mengganggu. kalau begitu, okelah."
Ia melakukan gerakan aneh di luar kesadaran, seakan mencuci kedua tangan. "Ayo,
kita mulai." Lalu kata-kata dan pemeriksaan singkatnya saling melengkapi,
dan aku mengerti. Lelaki yang tampak lembut ini, yang baru saja berjanji tidak akan
melukaiku, adalah dokter.
Uncle
Jeb mendesah keras dan memejamkan mata. Dokter mengulurkan tangan, mengundangku
meletakkan tanganku ke dalam tangannya. Kukepalkan kedua tanganku di balik
punggung. Ia kembali memandangku dengan cermat, menilai ketakutan di mataku.
Bibirnya
mengerut, tapi ia tidak sedang memberengut. Ia sedang memikirkan bagaimana cara
memulainya. "Kyle, Ian?" panggil dokter.
Ia
memanjangkan leher untuk mencari mereka yang dipanggilnya di antara kerumunan.
Lututku goyah ketika dua kakak-beradik berambut hitam dan bertubuh besar itu
menyeruak maju.
"Kurasa
aku perlu bantuan. Mungkin, kalau kalian mengangkat--" ujar dokter yang
tidak tampak begitu tinggi di sebelah Kyle itu.
"Tidak."
Semua menoleh untuk melihat dari mana ketidaksetujuan itu berasal. Aku tak
perlu melihat, karena telah mengenali suara itu. Bagaimanapun, aku menatapnya
juga. Sepasang alis Jared bertaut di atas mata; bibirnya terkatup rapat
membentuk seringai aneh. Begitu banyak emosi melintas di wajahnya, sulit untuk
menangkap salah satunya. Kemarahan, penolakan, kebingungan, kebencian,
ketakutan... kesakitan.
Dokter
mengerjapkan mata, wajahnya ternganga terkejut. "Jared? Apakah ada
masalah?"
"Ya."
Semua menunggu.
Di
sampingku Jeb menahan ujung-ujung bibirnya, seakan berusaha tidak nyengir. Jika
itu benar, selera humor lelaki tua ini sungguh aneh.
"Dan
apa masalahnya?" tanya dokter. Jared menjawab dengan gigi dikertakkan.
"Akan
kukatakan masalahnya, Doc. Apa bedanya antara membiarkanmu memilikinya atau
membiarkan Jeb menyarangkan peluru di kepalanya?" Aku gemetar. Jeb
menepuk-nepuk lenganku.
Dokter
kembali mengerjap-ngerjapkan mata. "Well." Hanya itu yang
diucapkannya.
Jared
menjawab pertanyaannya sendiri. "Perbedaannya adalah jika Jeb membunuhnya,
setidaknya mahluk ini mati dengan bersih."
"Jared."
Suara dokter menenangkan, nadanya sama seperti yang digunakan tadi kepadaku.
"Kita
belajar begitu banyak setiap kalinya. Mungkin ini saatnya--"
"Hah!"
dengus Jared. "Aku tidak melihat banyak kemajuan, Doc."
Jared
akan melindungi kita, pikir Melanie samar-samar. Sulit untuk berkonsentrasi
membentuk kata-kata. Bukan melindungi kita, hanya melindungi tubuhmu. Hampir
sama... Suara Melanie seakan berasal dari jarak tertentu, dari luar kepalaku
yang berdentam-dentam.
Sharon
maju selangkah, sehingga berdiri agak di depan dokter. Itu sikap melindungi
yang aneh. "Tak ada gunanya menyia-nyiakan kesempatan," ujar Sharon
garang.
"Kita
semua menyadari ini sulit bagimu, Jared. Tapi pada akhirnya bukan kau yang
memutuskan. Kita harus memikirkan yang terbaik untuk kepentingan
mayoritas." Jared melotot.
"Tidak."
Kata itu berupa geraman. Aku tahu jared tidak membisikkan kata itu, walaupun
terdengar sangat pelan di telingaku.
Sesungguhnya
semua mendadak diam. Bibir Sharon bergerak-gerak, jarinya menunjuk Jared dengan
garang, tapi yang kudengar hanya desis pelan. Tak seorang pun melangkah maju,
dan tampaknya mereka beringsut menjauhiku.
Kulihat
kakak-beradik berambut gelap itu mendekati Jared dengan wajah marah. Kurasakan
diriku mencoba mengangkat tangan untuk memprotes, tapi tangan itu hanya
tersentak lemah.
Wajah
Jared berubah merah, bibirnya membuka, dan urat-urat di lehernya menegang
seakan sedang berteriak, tapi tak ada suara yang kudengar. Jeb melepaskan
lenganku, dan aku melihat warna kelabu kusam moncong senapan itu terayun ke
atas di sampingku. Aku menciut, walaupun senjata itu tidak terarah kepadaku. Gerakanku
mengganggu keseimbangan tubuhku, dan kusaksikan ruangan itu miring
perlahan-lahan ke satu sisi.
"Jamie,"
desahku. Ketika cahaya berputar menjauhi mataku. Wajah Jared tiba-tiba sangat
dekat. Ia membungkuk di atas tubuhku dengan raut garang.
"Jamie?"
desahku kembali, kali ini berupa pertanyaan.
"Jamie?"
Anak itu baik-baik saja. Jared membawanya kemari."
Kupandang
wajah Jared yang tampak menderita, dan wajah itu dengan cepat lenyap ke dalam
kabut gelap yang menutupi mataku.
"Terima
kasih," bisikku. Lalu aku tersesat dalam kegelapan.
.
.
.
TO
BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar