Laman

Sabtu, 26 Oktober 2013

Bad Prize! (Cerpen)

Ilustrasi by: Savira Mujahidah

“Uhh, nyebelin banget! Kayaknya hari ini hari sial gue deh,” umpat Devi ketika tiba dirumahnya. Ia menjatuhkan sepatunya dengan asal setelah itu melempar ransel birunya.
          Di mulai semenjak ia berangkat ke sekolah dengan ban motor yang bocor membuat dirinya telat masuk sekolah. Ia dihukum oleh kepala sekolah dengan mengangkat kaki sambil hormat di lapangan dekat tiang bendera bersama murid lain yang juga datang terlambat. Jam istirahat di kantin baju nya yang putih bersih menjadi kotor karena ada salah satu adik kelas yang tidak sengaja menumpahkan air teh ke bajunya, ia sangat marah saat itu walaupun adik kelasnya sudah minta maaf berulang kali. Ditambah dengan PR yang lupa ia kerjakan saat pelajaran Kimia membuat ia harus keluar kelas dan tidak boleh mengikuti pelajaran kimia saat itu juga. Kemudian di akhiri oleh mobil angkot yang menabrak motor belakangnya sehingga motornya sedikit lecet, Devi mencaci-maki sopir angkot tersebut. Haft! Memang hari yang menyebalkan.
          Devi memainkan handphone nya, dari tadi ia menunggu kabar Rico yang tak kunjung hadir dalam layar handphone nya. Di sekolah tadi, ia tidak menemukan sesosok Rico. Karena hari sial nya, ia tak bisa memikirkan Rico.
          Jarinya menari di atas keypad handphone, mendengar tanda telpon tunggu di seberang. Namun tak ada jawaban.
          Devi kesal, melempar handphonenya ke kasur. Mungkin Manda bisa mendengarkan keluh kesahnya hari ini. Devi mengambil handphone nya kembali, meghubungi Manda. Tapi ia lupa, ini masih jam empat sore. Manda pasti belum pulang dari sekolahnya. Ia mematikan panggilannya. Melempar lagi handphonenya. Karena lelah dengan pikirannya sendiri, Devi terlelap. Sampai besok pagi ia terbangun.
          “Pagi!!!! Selamat ulang tahun kakak! Mana kado buat aku nya?” Baru saja Devi membuka matanya. Dan ia belum pulih untuk bangun. Adiknya menyodorkan kue ulang tahun dengan lilin yang masih menyala. Devi kembali terlelap.
          “Devi! Bangunnnn!” Kali ini suara Kakaknya.
          “Dev, Bangun! Nanti kamu kesiangan loh,” mamanya ikut menjewer telinganya, agar ia bangun.
          Tapi memang dasar Devi yang tak kunjung bangun. Satu menit Devi tertidur dengan tenang. Tak ada suara di sekelilingnya. Dua menit....... tiga menit............ empat menit........
          Byurrrrrr. Suara air di tumpahkan ke wajah Devi mengagetkan Devi dari tidur panjangnya. Ia langsung terduduk karena kaget. Kakak dan adiknya tertawa puas, tanda mereka menang.
          “Ih! Kak Putra, Gemma! Kalian tuh emang paling nyebelin banget sih!!!!”
          “Yee, kok marah sih neng? Lagian elu sendiri yang susah dibangunin. Yaudah nih, make a wish dulu. Abis itu mandi.” Kak Putra menyodorkan kue ulang tahun ke depan muka Devi. Dengan lilin bernomor enam belas tahun.
          Devi make a wish terlebih dahulu setelah itu meniup lilinnya. Beginilah kak Putra dan adik Devi bernama Gemma. Mereka kadang memang selalu meledek dan tidak pernah akur terhadapnya. Namun hal itu yang membuat mereka semakin memahami satu sama lain.
Yey! Desember. Pagi ini Devi berangkat ke sekolah terlihat lebih senang dari kemarin. Padahal kemarin hari sialnya. Mudah-mudahan saja hari ini tak seperti hari kemarin. Devi mencari Rico yang tak kelihatan batang hidungnya dari kemarin. Padahal sosok Rico lah yang ia harap pertama mengucapkan selamat ulang tahun padanya hari ini. Sesosok yang sangat berarti baginya.
          Tadi pagi sebelum ia berangkat ke sekolah, ada kiriman kotak panjang buat dirinya. Devi tak sempat membukanya, ia hanya meminta mamanya menaruh di kamarnya. Ia akan membukanya nanti.
          Seharian sudah ia lelah mencari Rico, sore ini ia akan pulang ke rumah. Tak ada lagi siapa-siapa di sekolah, selain dirinya dan beberapa petugas sekolah. Ia pulang dengan perasaan sedih. Rico tak datang ke sekolah hari ini.
          “Mungkin aku harus ke rumahnya? Ya, aku akan mencoba kerumahnya,” pikirnya sambil mengendarai motornya. Motornya melaju cepat ke arah rumah Rico.
          “Permisi tante, Rico nya ada?” Sapa Devi ketika berada di depan rumah Rico.
          “Rico nya ga ada tuh, belum pulang. Ini siapanya ya? Ada perlu apa?” tanya ibu-ibu yang membukakan pintu rumah Rico. Sepertinya mamanya Rico.
          “Saya mau minjem catatan fisika tante, kebetulan saya dua hari ini tidak masuk karena sakit,” bohong Devi sambil tersenyum. Ia terpaksa berbohong karena tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya maksud kedatangan ia ke rumah Rico. Berbohong demi kebaikan tak apa kan?
          “Oh gitu, maaf ya nak, Rico nya belum datang. Mungkin nanti malam Rico datangnya.”
          “Hm... gitu ya tante, yaudah deh saya pulang ya tante, makasih banyak.” Pamit Devi dengan wajah yang kecewa.
          Ia sampai rumah dengan perasaan tak karuan. Ia berjalan ke kamarnya dengan lesu. Apa Rico selingkuh? Atau Rico sudah tak ingat lagi ulang tahun nya? Apa Rico sudah tak sayang lagi padanya? Apa Rico lupa? Apa Rico sudah bosan? Arrghhh! Ia benci.
          “Awas aja kalau lo ketemu sama gue! Gue bakal mukulin elo sekenceng-kencengnya!!! Rico sialan! Rico playboy!”
          Handphone Devi bunyi. Dari Manda, ia mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ia juga bertanya apakah ia sudah putus dengan Rico?  Tiga hari yang lalu Manda tak sengaja melihat Rico bersama seorang perempuan di Ramayana. Tapi ia tak kenal siapa, ia hanya tahu perempuan yang bersama Rico memakai baju seragam sekolah yang sama dengan Rico. Itu artinya perempuan itu satu sekolah dengannya.
          “Gak! Gue gak boleh ngebiarin Rico selingkuh! Dia udah pernah janji sama gue, dia selalu ada buat gue, dia selalu ngertiin gue!” Teriak nya lagi di kamar. Ia harap keluarganya tak mendengarnya.
          Tapi memang dasar cowok playboy. Dia hanya bisa berbicara gombal seenaknya, tanpa harus memikirkan perasaannya. Tanpa harus merasa bersalah. Entah kenapa ia muak dengan Rico setelah itu.
          Devi sangat kesal! Tak percaya Rico akan selingkuh dengan temannya sendiri! Handphonenya jatuh di dekat kiriman bingkisan kardus besar tadi pagi. Tak ada ucapan apapun di sepanjang kardusnya. Hanya ada tulisan untuk Devi. Devi semakin penasaran. Ia membukanya perlahan-lahan.
          Tangannya bergerak membuka perlahan. Sebuah boneka berwarna ungu, boneka kesukaannya. Ia senang bukan main. Tapi boneka itu tak sendirian. Ada sesuatu yang melingkari bonekanya. Setelah ia membuka semuanya, betapa ia kaget bahwa Rico yang ada di kardus ini, dengan memeluk bonekanya. Ia sedang tertidur, tertidur pulas. Badannya mengerut mengikuti bentuk kardus yang tak luas itu.
          Devi terharu, ia tersenyum bahagia. Devi menyentuh tubuh Rico. Dingin. Rico pucat sekali. Betapa kagetnya dia ketika ia tahu bahwa nafas Rico tak berhembus lagi. Betapa ia kaget, betapa ia tak karuan. Ia tak akan berpikir bahwa Rico ada di dalam kardus ini. Betapa Rico mementingkan bingkisan ini daripada sekolahnya? Berapa lama ia bertahan di kardus ini? Bagaimana ia bertahan nafas pada kardus yang tak ada udara sama sekali?
          Devi menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal dengan apa yang ia pikirkan. Ia menyesal dengan perasaannya. Rico bukannya tak ingat dengan hari ulang tahunnya. Ia ingat semuanya, bahkan ia memberi nya hadiah padanya yang menurutnya Devi akan bahagia.
          “Elo bodoh Ric, elo bodoh! Kenapa elo make cara ini? Kenapa elo membahayakan diri lo sendiri? Ric! Elo gak pernah mau mikir Ric! Gak gini caranya Ric! Ric, bangun Ric bangun! Gue gamau di hari ulang tahun gue lo malah ga ada Ric! Lo bodoh Ric lo bodoh! Memangnya dengan cara yang seperti ini gue bakalan suka? Rico!!!!!!!!”
          Devi menangis sejadi-jadinya, ia sangat menyesal. Ia sungguh sangat menyesalinya. Mengapa ia tak langsung membukanya ketika bingkisan itu sampai tadi pagi sebelum ia berangkat sekolah? Bahkan ia sempat berpikiran yang tidak-tidak terdapat Rico. Ia bahkan sempat menjelek-jelekkan Rico. Devi tahu, Rico tak akan pernah membayangkan bahwa hari ini lah terakhir kali ia melihatnya. Terakhir kali ia membahagiakan Devi. Terakhir kali ia melihat Devi.
          “Maafin gue Ric! Gue bener-bener gatau lo ada disitu! Ric, gue nyesel. Ini kado terindah sekaligus kado terburuk yang pernah gue terima dalam hidup gue, Ric. Gue rela, gue Ikhlas.....”
          Ternyata memang orang itu adalah teman Devi, kemarin ia disuruh Rico membantu mencari hadiah yang tepat buat Devi. Devi terharu.


By: Amanda Hanifah NH
Thanks To: Devi Nury A & Savira Mujahidah

Twitter: @AmandaHanifah