Laman

Selasa, 19 Juli 2016

FANFICTION: EMOTIONS PROLOG



 EMOTIONS
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre: Fantasy, Sci-Fi, Romance and Drama
Rated: T
Length: 1 of?
Disclaimer: Para tokoh hanya aku pinjam nama saja, keseluruhan karya ini milik aku. Jika ada kesamaan ide, nama, dan latar adalah jelas ketidaksengajaan. Teori disini sepenuhnya fantasy dan hanya kebutuhan dalam cerita. Abaikan teori yg menurut kalian tidak pantas. Termasuk perihal mengabaikan adanya Tuhan. Aku benerbener udh mikirin plotnya. So, itu ada ceritanya tersendiri. Aku harap kalian mengerti ya^^^
Ini hanyalah fiktif belaka, sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin, fantasy, diluar nalar manusia dan murni dari pemikiranku sendiri. Aku minta maaf kalaupun ada kata-kata yang tidak berkenan atau tidak dipahami dan salah menafsirkan. So, jangan ambil kesimpulan sendiri sebelum tau kebenarnya, ya;)
Summary: Semua acuan di dunia kita mengarah pada teknologi dimana sebuah perjodohan harus dilakukan tanpa memandang kelamin. Pernikahan bukan untuk meraih kebahagiaan, tetapi untuk berkembang biak. "Chanyeol, mengapa kau begitu berbeda? Mengapa kau memiliki emosi?" –Baekhyun. Saat itulah Baekhyun dijodohkan oleh Chanyeol. Chanyeol yang diutus untuk mengembalikan keadaan semula, dimana manusia tak lagi memiliki emosi.
Warning: Genderswitch
DON’T COPY PASTE PLEASE!!!
Enjoy^^
.
.


EMOTIONS
PROLOG


.
.
Dunia kita tak lagi sama. Semua acuan yang kita miliki mengarah pada teknologi. Dimana keberadaan Tuhan tak lagi dipertanyakan. Mereka hanya percaya bahwa kekuasaan terbesar di muka bumi ini adalah teknologi. Dan manusia berada dibawahnya.
Para ilmuwan di berbagai negara telah membuktikan bahwa teknologi adalah diatas segalanya. Semua yang ada dimuka bumi ini telah dirancang menggunakan komputer. Berabad-abad dunia kita telah maju dan berkembang. Manusia kini tak harus lagi menggunakan tenaga untuk bekerja, mereka hanya menggunakan fasilitas otak mereka yang cerdas.
Manusia yang tinggi hakikatnya tidak lagi diukur melalui kemampuan dalam diri mereka, tetapi manusia telah diukur melalui kemampuan IQ yang mereka miliki. Para ilmuwan telah memanfaatkan proses the Souls. Proses ini adalah melenyapkan manusia yang memiliki IQ dibawah rata-rata. Mereka beranggapan bahwa manusia yang IQnya dibawah rata-rata tidak berhak hidup di muka bumi yang suci seperti terlahir kembali dengan keadaan yang tentram. Para ilmuwan memiliki target membuat muka bumi sesempurna mungkin dengan hanya menggunakan otak cerdas mereka.
Manusia sudah seperti Tuhan yang bisa mengatur segalanya. Mereka telah menemukan beberapa lapisan pelindung di lapisan terluar bumi dimana malam dan siang, hujan atau berawan dan terik dapat diatur sesuai dengan suhu di muka bumi. Bulan dijadikan tempat wisata dimana mereka dapat dengan mudah mendarat disana. Ketahuilah, dunia sudah benar-benar berubah.
Manusia yang lahir pada masa itu memiliki satu orang raja yang memiliki kekuasaan seperti Tuhan. Beberapa menteri dibawah raja, dan setiap negara dibagi menjadi beberapa distrik. Semua berjalan dengan semestinya. Menjalankan aktivitas dengan mengikuti aturan-aturan yang ada.
Para ilmuwan menjadikan semua manusia di muka bumi ini adalah penelitian. Saat itu mereka beranggapan pernikahan wajib yang diatur dapat meningkatkan jumlah penduduk di muka bumi. Mereka yang menikah tidak memandang ras, usia bahkan jenis kelamin. Mereka akan memasukkan rahim ke tubuh laki-laki agar mereka juga dapat hamil.
Didalam sebuah distrik ada penerimaan penghargaan setiap 3 bulan sekali, disaat seseorang menerima penghargaan itulah mereka wajib menikah. Para ilmuwan telah berkata mereka siap untuk mengikuti jenjang penelitian yang lebih tinggi.
Semua orang diperintahkan layaknya robot, kebebasan hanya berlaku pada mereka yang telah dinyatakan lulus tahap penelitian di tingkat akhir. Diawal masa itu semua orang berbahagia dengan para ilmuwan yang telah memajukan dunia mereka. Tetapi hal itu tidak berangsur lama dengan adanya judul keserakahan. Para ilmuwan yang gila kekuasaan memanfaatkan manusia untuk benar-benar di jadikan tikus percobaan yang tidak manusiawi.
Manusia tak lagi sama, mereka telah melewati evolusi. Lama-kelamaan mereka tidak memiliki kebebasan merasa dikekang dan semua emosi yang mereka alami tertekan karena tidak adanya pengeluaran emosi tersebut. Sesuatu yang bernama emosi perlahan-lahan telah hilang di dalam jiwa diri seseorang. Mereka tidak lagi memiliki emosi. Mereka tidak lagi menjadi manusia seutuhnya.
Para psikologi yang ada di dunia perlahan-lahan mulai berkurang dan punah. Mereka tak bisa lagi menyembuhkan manusia-manusia yang kehilangan hati nurani mereka. Saat itulah sampai seorang ahli psikologi benar-benar hilang. Tetapi, tak ada yang tahu bahwa masih ada satu orang anak keturunan psikologi.
.


EMOTIONS


.
"Prof, apa itu emosi?" Seorang gadis mungil yang duduk didalam kelas dengan nuansa kaca itu bertanya setelah diberi kesempatan bertanya.
Profesor separuh baya dengan wajah datar itu terheran. "Darimana kau tahu soal emosi?"
"Aku pernah membacanya disuatu buku, kalau manusia seharusnya memiliki emosi." Anak itu masih bersikukuh.
"Itu adalah kata haram untuk dipertanyakan. Jika kau menyebutkan kata haram itu lagi, kau akan diberi peringatan khusus oleh jaksa police dari distrik satu. Kau paham, Mrs Byun?"
Anak yang dipanggil tuan Byun itu pucat pasi. "A..Aku mengerti, Prof."
"Good girls!"
Profesor separuh baya yang badannya sudah agak bungkuk itu keluar dari ruangan yang terlihat serba putih. Dindingnya berupa kaca sehingga mereka dapat melihat refleksi diri mereka. Arsitektur gedung ini telah memperjelas jika itu bisa membuat mereka berintropeksi sesudah selesai kelas.
"Besok adalah hari penerima penghargaan." Luhan dan Baekhyun berjalan beriringan di gedung mewah.
"Ya, aku tahu."
"Aku yakin kau pasti mendapatkannya." Mendapatkan penghargaan? Semua orang ingin cepat-cepat menyelesaikan penelitian mereka. Sehingga kebebasan akan berpaling pada mereka.
Mereka mengambil skuter listrik mereka di loker serbaguna milik mereka. Bentuknya seperti layaknya skateboard, tetapi mereka bisa mengaturnya dengan menggunakan kaki mereka. Hal itu juga melatih keseimbangan yang mereka miliki. Mereka terlihat tidak membawa apapun. Barang-barang yang mereka miliki memang ditinggalkan di loker. Sehingga, mereka tidak harus lelah untuk membawa semua keperluan kelas.
Baekhyun dan Luhan mengendarai skuter, berjalan keluar gedung. Jika dilihat-lihat skuter itu tidaklah nampak pada gravitasi bumi. Ilmuwan yang membuatnya berkata gravitasi bumi tak lagi dibutuhkan, sehingga dia mencoba untuk membuat skuter listrik yang bisa melayang. Dia berhasil pada cobaan ke 7 kali.
"Aku tidak mengharapkan mendapatkannya minggu ini."
"Kenapa?"
Baekhyun menerawang. "Ada pertanyaan yang belum aku dapatkan jawabannya."
"Kau memang cerdas, Baek. Maka dari itu kau berhak mendapatkannya." Setelahnya skuter yang mereka kendarai melaju lebih cepat.
Keesokan harinya, hari penerimaan penghargaan benar-benar sudah dipengujung acara. Itu diadakan didalam ruangan yang sangat luas serta bertingkat. Semua orang duduk disana dengan melingkar. Ditengah-tengah itulah tempat penerimaan penghargaan. Ketika nama-nama orang yang menerima penghargaan disebutkan, ketika itulah nama Baekhyun berada diantaranya.
"Sudah kuduga…" Luhan memeluk Baekhyun.
"Aku tidak mengharapkan ini, Lu…." Luhan seolah tuli. Tetap mendorong Baekhyun menuju pertengahan tempat pembawa acara mengumumkannya.
"Selamat kepada Tuan Byun Baekhyun yang memiliki peringkat tertinggi minggu ini dengan IQ 267. Dengan ini saya mengatakan bahwa kau sudah wajib menikah secepatnya. Namun, penelitian masih berlanjut dan kau harus melewati beberapa tahap lagi."
Usia Baekhyun kurang lebih 18 tahun untuk anak seusianya. Orang tua? Tidak ada. Mereka sudah dipisahkan oleh orang tua mereka ketika mereka bahkan baru dilahirkan. Semua manusia yang lahir menjadi miliki negara. Orangtua mereka tidak berhak mengurus bayi mereka. Negaralah yang bertanggung jawab untuk mengurus bayi tersebut.
.


EMOTIONS


.
Setiap hari penerimaan penghargaan, disanalah terjadinya pernikahan massal. Mereka dijodohkan secara acak untuk mengetahui seperti apa pasangan mereka.
Tak ada yang bisa membantah. Semua mutlak kekuasaan yang mengatur. Pun adalah suatu keberuntungan jika mereka memiliki pasangan berbeda jenis kelamin.
"Byun Baekhyun, 18 tahun." Mereka yang penerima penghargaan kemarin berada di gedung pemerintahan pencatat takdir jodoh di negaranya. Kemarin, Baekhyun berangkat dari distrik tiga ke distrik satu untuk mengetahui seperti apa pasangannya. Konon, mereka sudah mengatur pasangan semua orang yang berada di dunia. Jika orang yang bersangkutan sudah mati mereka akan merubahnya dengan takdir yang lain. Seperti itulah mereka bekerja. Mereka dibuat sejajar untuk dapat mengetahui pasangan masing-masing. Kini giliran Baekhyun.
"Pasanganmu sudah menunggu ditirai berwarna biru. Kenalilah dan menteri jodoh akan mencatat tanggal serta nama kalian. Dan kalian resmi menikah."
Baekhyun melangkah mendekati tirai berwarna biru. Dia masuk tanpa ragu-ragu. Dilihatnya seorang lelaki bergaris rahang tegas memakai pakaian khas dokter. Lelaki tadi menyadari keadaan Baekhyun, setelahnya tersenyum dan mendekati Baekhyun.
"Park Chanyeol. 24 tahun. Kau Baekhyun kan?"
Baekhyun menyalami Chanyeol. "Yes, I'am."
Disanalah Baekhyun pertama kali bertemu dengan calon suaminya. Dan langsung mendapat gelar sepasang yang sudah menikah. Tidakkah hal ini rumit? Tanpa ada cinta sekalipun?
.


EMOTIONS


.
"Chanyeol?"
Saat ini mereka sedang dikamar tidur domum milik mereka berdua. Baekhyun sedang membaca buku dan terlihat memakai kacamata baca.
Chanyeol gantian bergumam. "Hmm?"
"Mengapa aku merasa kau begitu berbeda?"
Chanyeol mengernyit heran.

"Senyum. Tersenyumlah untukku."
Chanyeol tersenyum. Menimbulkan kesan tampan yang melekat diwajahnya. Terdapat lesung pipi di bagian kanan. Baekhyun tertegun.
"Chanyeol, mengapa kau berbeda? Mengapa kau memiliki emosi?"
Senyum Chanyeol menghilang. "Berapa IQmu, Baek?"
"Orang yang memberiku penghargaan berkata bahwa IQku 267."
Chanyeol terkekeh dengan sebelah tangan yang mengelus rambut magenta Baekhyun. "Good, boy. Tapi, IQku masih diatasmu."
"Berapa?"
Chanyeol melesakkan hidung mancungnya agar menyentuh hidung Baekhyun. "Aku tidak mau memberitahumu."
"Kenapa?"
"Aku akan sangat menyesal jika kau kecewa karena IQku melebihi milikmu." Chanyeol menjentil hidung Baekhyun, bermaksud menggodanya. Namun, tak ada reaksi.
"Untuk apa aku kecewa? Kau cerdas. Makanya kau menjadi seorang dokter."
"Ya. Itulah aku." Chanyeol berucap dengan bangga. Dia mencuri ciuman di pipi Baekhyun.
"Chanyeol, kau belum menjawab pertanyaanku." Chanyeol terlihat berpikir, tidak mau menanyakan tingkah Baekhyun yang kelewat datar saat ia mencium pipi gembilnya.
"Apakah kau tahu sesuatu? Tentang emosi?" Entah mengapa Chanyeol berbisik.
Baekhyun mengangguk. "Aku pernah membacanya. Pun saat aku bertanya pada professor Soman, dia bilang aku tidak boleh membicarakan hal itu lagi. Itu kata-kata haram. Tapi aku masih belum mengerti."
Chanyeol menyuruh Baekhyun untuk duduk di sampingnya karena tadi Baekhyun duduk disofa yang menghadap tempat tidur mereka, bermaksud menyamping di kasur sebelahnya. Selimut menutupi tubuh mereka. keduanya berhadapan, bertumpu pada salah satu tangan yang disikut. "Kau tahu bahwa IQmu itu tertinggi dari semua anak seusiamu, kan? Apa yang kau lakukan saat Professor berkata seperti itu?"
"Aku pikir aku tidak boleh menanyakannya pada sembarang orang."
Chanyeol menjentil hidung Baekhyun lagi. "Lalu, mengapa kau menanyakannya padaku?"
"Kupikir kau berbeda….."
Chanyeol tersenyum. Dia pikir dirinya salah. Dia berpikir bahwa Baekhyun sama halnya dengan anak seusianya saat dia berusia seperti Baekhyun. Baekhyun adalah orang yang peka. Pengetahuannya luas. Itu wajar karena IQ Baekhyun memang tertinggi. Chanyeol pikir Baekhyun memiliki rasa penasaran yang kuat. Apakah Chanyeol bisa mempercayai Baekhyun?
"Kau yang berbeda, Baekhyun."
"Apa maksudmu?"
"Kau akan tahu…" Chanyeol mencium pipi gembil Baekhyun lagi. Dia yakin pipi gembil Baekhyun akan menjadi favoritnya untuk dicubit atau dimainkan. Seperti bakpau, roti empuk berwarna putih yang didalamnya terdapat berbagai macam rasa.
"Berjanjilah padaku, Baekhyun…"
Baekhyun menanti ucapan Chanyeol. "Berjanjilah untuk tidak membicarakan tentang emosi selain padaku. Kau boleh menanyakan sesuatu yang membuatmu penasaran kepadaku. Hanya kepadaku, Baek. Berjanjilah."
"Ya, aku berjanji…"
"Good...Kau milikku sekarang Baekhyun…."
Baekhyun tak menyahut. Dia memejamkan matanya, bertanya-tanya perasaan hangat apa yang telah bersarang diotaknya sekarang?
Diluar sana banyak orang-orang yang mengincar IQ Baekhyun, jika dirinya bertindak diluar batas kemampuannya Baekhyun akan mengalami proses the Souls. Dimana jiwa Baekhyun akan dibunuh sementara kecerdasannya bisa diambil dan dimanfaatkan untuk penelitian oleh para ilmuwan yang telah berkuasa. Chanyeol rasa dirinya tak mau hal itu terjadi. Chanyeol sudah sejauh ini. Dia pikir dirinya bisa mempercayai Baekhyun. Masalahnya, akankah Baekhyun percaya padanya?
.
EMOTIONS
To Be Continued/END?
.
END?
.
.
Karya aku ini sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek. Tetapi karena suatu sebab aku mengganti warning YAOI menjadi GS. Jangan tanyakan mengapa. Hehe. So, ada beberapa bagian juga yang berbeda dengan yang di fanfiction. Lalu, rate juga diubah dari M ke T. karena suatu sebab. Okey?
Untuk cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
atau
Silahkan mampir^^
AmandaHanifah


FANFICTION: UNKNOWLEDGEABLE LOVE CHAPTER 4



UNKNOWLEDGEABLE LOVE
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Support Cast: Oh Sehun, Wu Yifan (Kris), Xi Luhan, Yixing, Kim Junmyeon (Suho) and other cast~~
Genre: Crime, Romance, Drama, Hurt/Comfort
Rated: T
Disclaimer: Para tokoh milik kita semuaaaa hehe. Untuk cerita asli dari pikiran aku sendiri.
Summary: Baekhyun membantu penyelidikan kasus kepolisian. Rasa penasarannya yang begitu besar terhdap kasus kakaknya dan mencoba menyelidikinya. Baekhyun tak tahu kalau itu semua menuntunnya kepada Chanyeol.
HAPPY READING^^
.
.
.
UNKNOWLEDGEABLE LOVE
CHAPTER 4
.
.
.
Ruangan bernuansa serba putih itu kini semakin canggung saja. Tepatnya pada seorang lelaki jangkung yang tengah duduk di samping gadis yang tertidur sejak peluru yang bersarang dibahunya telah diungsikan. Chanyeol hanya diam disana dengan beberapa bagian bajupada bahunya yang berlumuran darah. Sejak 5 jam yang lalu ia dengan setia menunggu Baekhyun dipindahkan keruangannya pun sama sekali tak melakukan apapun. Lebih tepatnya pada peristiwa sebelum Chanyeol benar-benar menggendong Baekhyun.
Kenapa Baekhyun meminta ia menciumnya?
Pikiran dengan banyak pertanyaan semacam itu sedang berkembang biak di otaknya. Seakan terus menerus berkeliaran tanpa tahu kemana ia akan berlabuh.
Bibir Chanyeol yang belum tersentuh sama sekali itu sudah di jamah terlebih dahulu. Terlebih orang yang pertama ia harapkan sebagai kekasihnya yang akan mencicipi bibirnya. Melainkan diregut oleh gadis yang terikat perjanjian dengannya. Ini konyol. Lebih konyol terhadap perlakuan yang dia dapatkan dari seseorang yang berada dihatinya. Sampai sekarang pun orang itu masih tetap ada dihatinya. Tanpa mengenal lelah waktu yang sudah terlewati.
Dan Chanyeol tak mengerti akankah semua itu berakhir sekarang?
.
.
Baekhyun berdiri pada persimpangan jalan yang tak ada ujungnya. Dia tak tahu dimana tepatnya dia berdiri sekarang. Tempatnya berdiri sekarang benar-benar putih bersih layaknya surga. Tak ada seorangpun disini. Ia sendirian. Merasa kecil.
Silau yang ia rasakan jauh didepan sana semakin membuat dirinya penasaran akan sosok itu. Apakah ia bertemu malaikat?
Sosok itu semakin mendekat. Baekhyun menunggu dengan sabar. Barulah ketika ia sadar bahwa itu adalah....
“Eonni!”
Itu adalah kakaknya.
Tetapi ia tak mengerti mengapa kakaknya menemuinya disaat Baekhyun sadar bahwa kakaknya sudah lama meninggal.
Sosok kakak yang ada didepannya ini sungguh berbeda. Kulitnya putih bersih. Ia begitu bersinar sehingga telihat menawan.
“Baekhyun....”
Suaranya merdu bagaikan nyanyian surga. Dia memeluk Baekhyun karena benar-benar merindukan adik satu-satunya itu.
Baekhyun tak lagi dapat membendung air matanya. Ia sungguh kesepian semenjak kakaknya itu pergi dari dunianya. Apalagi dia berusaha untuk mencari jawaban yang selama ini telah bersarang dibenaknya. Dia berusaha mencari dalang yang membuat kakaknya meninggal. Baekhyun yakin hal itu bukan kecelakaan. Kakaknya itu telah dibunuh. Dan menurut kepolisian, Chanyeol-lah orang yang telah membunuh kakaknya.
Sampai sekarang pun, Baekhyun tak mengerti mengapa Chanyeol melakukannya? Baekhyun telah menduga Chanyeol terlalu terobsesi terhadap sang kakak. Tetapi sang kakak tidak menanggapinya sehingga Chanyeol melakukan hal-hal yang sangat gila seperti itu. Dan, Baekhyun berjanji ia tidak akan memaafkan orang itu. Entah sampai kapan. Yang pasti, ia akan mengikuti alurnya sampai ia menemukan jawabannya. Baekhyun tak dendam, hanya saja ia merasakan ada sesuatu yang salah pada kasus kakaknya. Kebenaran itu masih terasa menjanggal sampai-sampai ia frustasi dibuatnya.
Terlebih orang itu adalah orang yang selalu menghantui dirinya. Kebenaran itu terkesan samar. Tak ada titik terang yang Baekhyun temukan.
Xiumin. Kakak Baekhyun itu melepas rangkulan mereka. Xiumin tersenyum lembut, mengelus surai halus Baekhyun. Dia sebagai kakak merasa bersalah telah meninggalkan Baekhyun terlebih dahulu. Bagaimanapun ia telah gagal menjadi seorang kakak. Ia telah membahayakan Baekhyun.
“Baek, didunia ini apa yang kau lihat belum tentu apa yang sebenarnya terjadi. Kau harus melihatnya pada sisi yang berbeda. Kau harus melihatnya pada sudut pandang yang berbeda. Itu artinya, kau tidak bisa menyimpulkan sesuatu dari sudut pandang mu saja. Tegarlah Baekhyun, aku menyayangimu.”
Baekhyun ingin membalas perkataan Xiumin. Tetapi, suaranya tercekat dan tak mau keluar. Ia menggapai-gapai Xiumin yang sosoknya semakin jauh dan semakin menghilang dari pandangannya.
Tidakkkk!!!
Ia harus tahu apa maksud perkataan Xiumin. Ia tak mengerti. Ia tak tahu. dan ia sungguh buta untuk mengerti semua itu.
Selanjutnya kegelapan yang menyeramkan berkumpul pada sekeliling pandangannya. Sampai akhirnya benar-benar gelap.
.
.
Baekhyun membuka matanya perlahan. Nuansa putih yang tertangkap pada retinanya meyakinkan dirinya bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Bahu sebelah kanannya mati rasa dan ia sangat lemas. Ia merasakan telapak tangan kirinya di genggam oleh sebuah tangan besar yang menenggelamkannya. Barulah ketika ia menelusuri dengan perlahan, ia tahu bahwa itu Chanyeol. Chanyeol yang menggenggam tangannya. Sedangkan tangan Chanyeol yang satunya ia gunakan untuk bertumpu. Chanyeol nya tertidur. Dengan baju yang masih terlihat darah-darah pekat membercak terutama pada bahunya. Baekhyun menyunggingkan senyum. Ingin mengelus rambut Chanyeol tetapi kedua tangannya tak bisa bergerak. Ia menyalurkan itu semua dengan lebih menggenggam erat tangan Chanyeol.
Dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya, matanya kembali terpejam.
Tetapi siapa yang tahu selain dirinya bahwa senyuman itu lebih baik disebut seringai?
.
.
Suara gaduh samar-samar disekelilingnya membuat ia mengerjapkan matanya. Seperti suara Luhan eonni. Firasatnya buruk, Luhan pasti akan marah besar padanya. Baekhyun melihat Luhan dengan wajah lelahnya.
“Baek? Kau baik-baik saja?” Chanyeol langsung mendekati brankas Baekhyun. Ada kelegaan yang tersirat pada hembusan napasnya. Bajunya sudah berganti. Sepertinya ia sudah mandi karena rambutnya tertata rapih. Tapi mengapa Baekhyun mengamati dengan begitu detil?
Baekhyun hanya memandang Chanyeol dengan pandangan sulit diartikan.
Chanyeol mengambil sedotan dan memasukkannya kedalam botol air mineral. Ia menyuguhkan sedotan ke arah mulut Baekhyun. Mata keduanya bertemu. Jantung keduanya berpacu menghasilkan irama yang sama dan detak itu semakin lama semakin cepat. Baekhyun lagi-lagi tak mengerti.
Baekhyun minum dengan rakus. Chanyeol merasakan napas Baekhyun pada tangan yang mengarahkan sedotan pada mulutnya.
Baekhyun tersenyum dan memutuskan pandangan mereka.
“Mungkin sebaiknya kau pulang, Chanyeol.” Luhan eonni mengusir dengan halus..
Chanyeol tersenyum canggung. “Well, Baekhyun. Aku pergi. Untung peluru nya tidak menembus terlalu dalam. Cepatlah sembuh.” Dengan gerakan refleks ia menepuk ringan rambut Baekhyun. Setelahnya mengelus halus pipi chubby yang menarik perhatiannya dari gadis di depannya. Baekhyun spontan menutup matanya, menikmati sentuhan hangat Chanyeol. Suasana di dalam ruangan mendadak lebih canggung. Rona merah menjalar pada kedua pipinya sampai-sampai telinganya pun ikut membakar.
“Baek, demi Tuhan. Itu adalah Park Chanyeol. Kau tahu dia adalah Park Chanyeol, Baekhyun!” Luhan menyerbu ketika pintu ruangan ditutup rapat dari luar. Kerutan di dahinya mendadak muncul. “Dimana kalian bertemu?”
“Orang yang aku selidiki kemaren di apartemennya adalah Park Chanyeol.” Baekhyun sudah menduga pertanyaan ini, dan dia hanya berusaha tenang dengan menjawabnya.
“Are you seriously? Dan kau tidak memberitahuku?! Demi Tuhan, Baekhyun......” Luhan dibuat greget atas sikap tenang Baekhyun.
“Eonni, tenanglah. Aku tidak ingin memberitahumu karena kau pasti tidak menginginkannya. See?” Baekhyun menegang. Padahal ia tahu bahwa suatu saat nanti Luhan akan mengetahuinya dan pasti akan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang tidak dimengerti maupun tidak ia terima. Tetapi ia tak menyangka akan secepat ini.
“Kauu... Aisshh. Dia Park Chanyeol, Baekhyun. Dan dia berbahaya! Sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkanmu bertindak sejauh ini!” Mukanya merah padam dan ia menghembuskan napasnya panjang. Setelahnya berbicara dengan suara lirih dengan nada memohon, “Mengertilah, Baekhyun. Aku sudah menganggap kau adalah adikku. Dan aku tidak mungkin menempatkanmu pada bahaya yang kita tidak tahu akan seperti apa.”
Baekhyun tersenyum. Tangan kirinya mengenggam tangan Luhan erat, membawa kedepan dadanya. “Eonni, percayalah padaku. Tak ada yang perlu kau khawatirkan dan aku tahu apa yang aku lakukan. Aku sudah dewasa eonni. Aku mendengar eonni, tetapi aku memang harus melakukannya. Agar aku tahu.”
Luhan tersenyum lega. Mungkin ini perantara yang Tuhan berikan pada Baekhyun. Mungkin ini jawaban atas segala doa Baekhyun. Dan ia berharap semuanya akan baik-baik saja.
“Bagaimana dengan bahumu, Baekhyun? Apakah baik-baik saja?” Baekhyun mengangguk lemah. “Aku akan menagih penjelasannya padamu jika kau sudah sembuh.” Luhan menyeringai. “Dan apa-apaan dengan adegan romantis Chanyeol terhadapmu?”
“Eonni!” Lagi-lagi rona merah menjalar di permukaan pipi Baekhyun. Luhan hanya terkekeh geli.
.
.
Baekhyun tiba-tiba terbangun dari ranjang rumah sakit yang ia tempati. Astagah! Bagaimana bisa dia melupakan Kyungsoo? Dimana Kyungsoo sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah Jongin benar-benar membawa Kyungsoo?
Suara pintu kamar mandi di pojok ruangan terbuka, muncullah sosok Chanyeol.
“Eh, kau sudah bangun?” Kedua mata lebar milik Chanyeol membola lucu. “Kau kenapa Baek?” Chanyeol menyadari raut gelisah Baekhyun.
“Kyungsoo....”
Chanyeol mengerutkan dahinya. “Siapa Kyungsoo?”
“Orang yang dekat dengan Jongin. Dan, Jongin mengancam untuk membawa Kyungsoo bersamanya. Aku...Aku tak bisa membayangkan sesuatu terjadi...”
“Sttttt..” Tau-tau saja Chanyeol sudah berada didekat Baekhyun. Mereka benar-benar dekat. Chanyeol membuat gestur dengan menaruh telunjuknya pada bibirnya. Ia mengelus surai Baekhyun. “Tenanglah, Baek. Aku tak bisa menjamin juga. Tetapi bahumu belum pulih. Apa yang harus aku lakukan untukmu? Biar aku saja yang mengurusnya.”
Suara berat Chanyeol bagaikan seorang paman yang sedang membujuk keponakannya.
Lagi-lagi jantungnya berdetak kencang. Dan, Baekhyun tidak mengerti apa artinya itu. Tidak! Tidak! Dia harus fokus jika ingin hal ini berjalan dengan semestinya.
“Maukah kau melakukan sesuatu untukku?”
Baekhyun tak yakin, dia tahu Jongin sangat mencintai Kyungsoo. Ia tahu dari pandangan mata Jongin saat menatap Kyungsoo. Mereka sudah sering bersama-sama sehingga ia tahu hal-hal seperti itu.
Tetapi siapa yang tahu hati seseorang? Cinta dan benci adalah sesuatu yang sangat tipis bagaikan permukaan kertas. Dan, dia tidak mau membayangkan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bagaimanapun, Kyungsoo tidak tahu apa-apa. Seharusnya, ia tak terlibat sejauh ini.
“Maukah kau ke kantor kepolisian dimana Luhan eonni berada? Aku ingin kau memberitahunya tentang hal ini. Dia akan berusaha mencari Kyungsoo. Aku memiliki fotonya.”
Walaupun tak yakin, Chanyeol tetap mengangguk.
.
.
Chanyeol berada di taxi, ia akan mengunjungi kantor kepolisian sekarang. Ia tak tahu apakah ia menggali kuburannya sendiri sekarang? Bagaimananpun kantor kepolisian adalah daftar tempat nomor satu yang sangat ia hindari. Saat keluar dari sana beberapa waktu yang lalu, ia bahkan sempat berjanji untuk tidak menginjakkan kakinya lagi di tempat itu. Lalu bagaimana sekarang ia dengan tidak pikir panjang langsung menyanggupi perkataan Baekhyun untuk menemui Luhan?
Bagaimanapun, ini tak ada hubungannya dengan dirinya. Ia hanya membantu Baekhyun. ya, benar. Tidak ada yang perlu dia pikirkan.
Taxi berhenti tepat didepan kantor kepolisian. Chanyeol turun dengan gelisah. Ia berusaha mengatur napasnya. Relax Chanyeol.
Ia sudah menduga beberapa pasang mata menatap kearahnya saat ia memasuki kantor di bagian divisi kasus pemeriksaan. Ia telah melihat meja Luhan. Dengan mengabaikan tatapan diseluruh penjuru kantor, ia berjalan dengan tenang.
Ia sudah menduga bahwa ada raut kebingungan di wajah Luhan. Belum sampai ia dimeja Luhan. Seorang lelaki dengan wajah yang sangat familier baginya menahan jalannya. Chanyeol tak tahu apakah kali ini wajahnya pucat pasi? Tetapi ia dapat mengatur mimik wajahnya untuk terlihat santai dan tidak terlalu memusingkan hal itu.
“Apa yang kau lakukan disini?” Itu Kris. Dia adalah seseorang yang telah lama Chanyeol kenal. Tetapi itu dulu. Sebelum sebuah malapetaka terjadi dan mereka dengan sendirinya terpecah belah.
“Apapun yang kulakukan disini tidak ada urusannya denganmu.” Mereka berdua seketika mendapat perhatian penuh disana. Terlebih oleh paman Ahn yang memang ada disana sedari tadi. Tetapi ia tidak dapat menebak ada perihal apa sampai-sampai Chanyeol dengan susah-susah datang kesini.
Pasti ada sesuatu yang penting.
Mereka berdua berdiri berhadapan. Dengan tinggi yang hampir setara. Menatap kedua lawan dengan pandangan menusuk. Atmosfer diruangan menegang.
Luhan yang mengerti apa yang terjadi langsung menarik Kris. Dan dia sudah tahu bahwa Chanyeol ingin bertemu dengannya. Dilihat dari gestur yang dimilikinya.
Barulah ketika Kris sudah aman di kursinya ia mengajak Chanyeol ke mejanya.
Chanyeol tahu Kris masih tetap mengawasinya, tetapi ia tak peduli.
“Maukah kau memberitahuku sesuatu yang terjadi?”
Chanyeol benar-benar melakukan seperti apa yang telah Baekhyun perintahkan padanya.
.
.
Ini bencana.
Baekhyun baru saja mendapat telepon dari Suho oppa bahwa ada masalah serius terjadi pada Yixing. Masalahnya adalah Suho tidak memberitahu hal serius itu. Firasat Baekhyun sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencabut impusan yang menempal pada tangannya. Tadi pagi, ia meminta agar tangan sebelah kanannya disanggah sehingga ia sadar bahwa lengannya tidak dapat berfungsi untuk sementara. Sehingga ia aman untuk keluar ruangan.
Rehabilitasi Yixing sama dengan rumah sakit yang Baekhyun tempati, sehingga ia tidak terlalu jauh untuk pergi.
Firasat Baekhyun semakin mengatakan benar ada sesuatu yang buru terjadi di kala ada beberapa pusat kepolisian yang berada di depan ruangan Yixing. Suho oppa tetap duduk di kursi tunggu tak jauh dari pintu. Dia murung sekali.
Ia melihat paman Ahn diantara beberapa orang-orang itu. Kris juga berada disana. Ada apa sebenarnya?
Baekhyun memutuskan untuk menghampiri Suho oppa terlebih dahulu.
“Oppa? Apa yang terjadi?”
Begitu Suho tahu Baekhyun ada disana, ia langsung berdiri dan membawa Baekhyun ke pelukannya. Baekhyun merasakan Suho menegang dan terlihat terpukul.
Baekhyun membalas pelukan Suho dengan mengelus bahu menggunakan tangan kirinya yang baik-baik saja.
“Aku tidak sanggup, Baek. Aku... Aku benar-benar merasa tidak becus menjaganya.” Ia melepas pelukannya dan tangisnya pecah didepan Baekhyun.
“Apa? Apa yang sebenarnya terjadi, oppa?”
“Aku tidak sanggup mengatakannya, Baek....” Ia masih menangis dan terbata-bata.
Baekhyun menuntun Suho untuk duduk lagi. “Kusarankan Kau untuk tidak masuk kesana, Baek. Pelase.”
Baekhyun tak mengerti. Jika ia tak masuk ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku harus, oppa. Aku harus melihatnya.”
Suho oppa menggeleng. Membuat air matanya semakin banyak berjatuhan. Baekhyun berusaha tersenyum. Ia memeluk Suho lagi sebelum menghampiri Paman Ahn yang berada didepan ruangan. Di depan ruangan itu sudah diberi tanda garis kuning kepolisian. Ia tidak boleh gegabah. Walaupun dia berwenang untuk masuk.
“Paman Ahn?”
Paman Ahn terlonjak kaget. “Bagaimana kau ada disini Baekhyun?” Tak biasanya Paman Ahn memeluknya. Ada kesedihan yang tersembunyi pada raut wajahnya. Baekhyun tak boleh berburuk sangka. Masalah ini lebih serius daripada dugaannya.
“Aku diberitahu Suho oppa. Katanya ada masalah serius pada Yixing eonni. Bolehkah aku memeriksanya?” Begitu cepat paman Ahn melepas rangkulannya.
“Ya Tuhan... Baek.. Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” ia mengelus surai Baekhyun. Lagi-lagi ini adalah hal yang tidak biasanya terjadi. Baekhyun mengangguk.
“Aku akan memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi tanpa harus kau memasuki ruangan. Maukah kau menurutiku?”
Baekhyun memandang ruangan yang tak dapat ia lihat dalamnya. Kemudian ia menggeleng.
“Tidak paman. Aku harus melihatnya. Bagaimanapun Yixing eonni sudah kuanggap seperti kakakku sendiri.”
Paman Ahn menghela napas. “Kris!” Ia memanggil Kris yang sedang sibuk berbincang dengan anggota kepolisian lainnya. Kris menoleh dan menghampirinya. Baekhyun pikir, Kris telah paham.
Seperti halnya Suho oppa dan paman Ahn. Kris juga memeluknya. “Oh, Baekhyun..... Aku belum sempat ke ruanganmu dan kau kesini sendiri? Bahumu belum sembuh, Baek.”
Baekhyun tersenyum di rangkulan Kris. “Tidak oppa. Aku baik-baik saja.”
“Apakah kau tahu apa yang sebenarnya terjadi disini?” Kris melepas rangkulannya. Dia memegang kedua bahu Baekhyun. Paman Ahn sudah tidak berada disana, entah kapan ia pergi.
“Aku tidak tahu, aku berharap kau membiarkanku masuk untuk melihatnya.”
Kris menangkup wajah Baekhyun. Ia menyatukan dahi keduanya. “Tidakkah ada permintaan lain selain kau masuk?” Raut wajahnya seperti memohon. Ia bahkan berkata dengan lirih.
“Please, oppa. Sudah dari tadi aku mendengar hal yang sama supaya tidak masuk ruangan. Aku semakin penasaran. Aku berhak masuk. Aku ingin melihat apa yang terjadi.”
“Baik, tetapi aku harus mendampingimu masuk. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu.” Inilah yang Baekhyun sukai dari Kris, dia tidak dapat menolak permintaan Baekhyun.
“Apakah kau sudah menyelidikinya? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi.” Kris sembari menuntun Baekhyun memasuki ruangan.
Barulah ketika ia memasuki ruangan dan melihat sesuatu terjadi pada Yixing eonni, ia pasti akan menuruti perkataan ketiga orang tadi yang melarangnya untuk masuk. Selanjutnya, yang terjadi adalah wajah terkejut dari Baekhyun dan teriakan nyaring darinya. Sembari menangis dan menjerit. Kris yang tahu reaksi ini yang akan terjadi pada Baekhyun langsung merangkulnya sambil menarik mereka keluar ruangan lagi.
Kris pasrah saat tangan kiri Baekhyun mengelilingi lehernya dengan erat. Tangisnya pecah. Kalau saja Kris tidak menumpu badan Baekhyun, mungkin ia akan meleleh. Tubuhnya bahkan melemas. Maka dari itu, Kris membawanya ke kursi di dekat Suho. Suho memandangnya dengan iba. Dia pun tak bisa mengontrol mimik wajahnya yang semakin bersedih.
Krispun merasa terkejut ketika beberapa menit yang lalu ia mendapat panggilan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Yixing. Mereka kenal Yixing. Yixing adalah sahabat mereka. Mereka sering berkumpul sejak hal yang mengerikan itu terjadi. Hal yang mengerikan terjadi pada Xiumin. Dan, sudah sepantasnya Kris harus dapat menjaga Baekhyun. Ia pikir hanya sisa dirinya dan Luhan yang berada di sekeliling Baekhyun pada saat ini. Ia berjanji akan melindungi Baekhyun dari apapun. Termasuk dari Chanyeol yang entah telah merencanakan hal apa untuk membahayakan adik kesayangannya itu.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Karya aku ini sudah pernah dipublikasikan di fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa di lihat di:
atau
Silahkan mampir^^
AmandaHanifah