UNKNOWLEDGEABLE LOVE
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Support Cast: Oh Sehun, Wu Yifan (Kris), Xi Luhan, Yixing,
Kim Junmyeon (Suho) and other cast~~
Genre: Crime, Romance, Drama, Hurt/Comfort
Rated: T
Disclaimer: Para tokoh milik kita semuaaaa hehe. Untuk
cerita asli dari pikiran aku sendiri.
Summary: Baekhyun membantu penyelidikan kasus kepolisian.
Rasa penasarannya yang begitu besar terhdap kasus kakaknya dan mencoba
menyelidikinya. Baekhyun tak tahu kalau itu semua menuntunnya kepada Chanyeol.
HAPPY
READING^^
.
.
.
UNKNOWLEDGEABLE LOVE
CHAPTER 4
.
.
.
Ruangan
bernuansa serba putih itu kini semakin canggung saja. Tepatnya pada seorang
lelaki jangkung yang tengah duduk di samping gadis yang tertidur sejak peluru
yang bersarang dibahunya telah diungsikan. Chanyeol hanya diam disana dengan beberapa
bagian baju―pada bahunya yang berlumuran darah. Sejak 5
jam yang lalu ia dengan setia menunggu Baekhyun dipindahkan keruangannya pun
sama sekali tak melakukan apapun. Lebih tepatnya pada peristiwa sebelum
Chanyeol benar-benar menggendong Baekhyun.
Kenapa
Baekhyun meminta ia menciumnya?
Pikiran
dengan banyak pertanyaan semacam itu sedang berkembang biak di otaknya. Seakan
terus menerus berkeliaran tanpa tahu kemana ia akan berlabuh.
Bibir
Chanyeol yang belum tersentuh sama sekali itu sudah di jamah terlebih dahulu.
Terlebih orang yang pertama ia harapkan sebagai kekasihnya yang akan mencicipi
bibirnya. Melainkan diregut oleh gadis yang terikat perjanjian dengannya. Ini
konyol. Lebih konyol terhadap perlakuan yang dia dapatkan dari seseorang yang
berada dihatinya. Sampai sekarang pun orang itu masih tetap ada dihatinya.
Tanpa mengenal lelah waktu yang sudah terlewati.
Dan
Chanyeol tak mengerti akankah semua itu berakhir sekarang?
.
.
Baekhyun
berdiri pada persimpangan jalan yang tak ada ujungnya. Dia tak tahu dimana
tepatnya dia berdiri sekarang. Tempatnya berdiri sekarang benar-benar putih
bersih layaknya surga. Tak ada seorangpun disini. Ia sendirian. Merasa kecil.
Silau
yang ia rasakan jauh didepan sana semakin membuat dirinya penasaran akan sosok
itu. Apakah ia bertemu malaikat?
Sosok
itu semakin mendekat. Baekhyun menunggu dengan sabar. Barulah ketika ia sadar
bahwa itu adalah....
“Eonni!”
Itu
adalah kakaknya.
Tetapi
ia tak mengerti mengapa kakaknya menemuinya disaat Baekhyun sadar bahwa
kakaknya sudah lama meninggal.
Sosok
kakak yang ada didepannya ini sungguh berbeda. Kulitnya putih bersih. Ia begitu
bersinar sehingga telihat menawan.
“Baekhyun....”
Suaranya
merdu bagaikan nyanyian surga. Dia memeluk Baekhyun karena benar-benar
merindukan adik satu-satunya itu.
Baekhyun
tak lagi dapat membendung air matanya. Ia sungguh kesepian semenjak kakaknya
itu pergi dari dunianya. Apalagi dia berusaha untuk mencari jawaban yang selama
ini telah bersarang dibenaknya. Dia berusaha mencari dalang yang membuat kakaknya
meninggal. Baekhyun yakin hal itu bukan kecelakaan. Kakaknya itu telah dibunuh.
Dan menurut kepolisian, Chanyeol-lah orang yang telah membunuh kakaknya.
Sampai
sekarang pun, Baekhyun tak mengerti mengapa Chanyeol melakukannya? Baekhyun
telah menduga Chanyeol terlalu terobsesi terhadap sang kakak. Tetapi sang kakak
tidak menanggapinya sehingga Chanyeol melakukan hal-hal yang sangat gila
seperti itu. Dan, Baekhyun berjanji ia tidak akan memaafkan orang itu. Entah
sampai kapan. Yang pasti, ia akan mengikuti alurnya sampai ia menemukan
jawabannya. Baekhyun tak dendam, hanya saja ia merasakan ada sesuatu yang salah
pada kasus kakaknya. Kebenaran itu masih terasa menjanggal sampai-sampai ia
frustasi dibuatnya.
Terlebih
orang itu adalah orang yang selalu menghantui dirinya. Kebenaran itu terkesan
samar. Tak ada titik terang yang Baekhyun temukan.
Xiumin.
Kakak Baekhyun itu melepas rangkulan mereka. Xiumin tersenyum lembut, mengelus
surai halus Baekhyun. Dia sebagai kakak merasa bersalah telah meninggalkan Baekhyun
terlebih dahulu. Bagaimanapun ia telah gagal menjadi seorang kakak. Ia telah
membahayakan Baekhyun.
“Baek,
didunia ini apa yang kau lihat belum tentu apa yang sebenarnya terjadi. Kau
harus melihatnya pada sisi yang berbeda. Kau harus melihatnya pada sudut
pandang yang berbeda. Itu artinya, kau tidak bisa menyimpulkan sesuatu dari
sudut pandang mu saja. Tegarlah Baekhyun, aku menyayangimu.”
Baekhyun
ingin membalas perkataan Xiumin. Tetapi, suaranya tercekat dan tak mau keluar.
Ia menggapai-gapai Xiumin yang sosoknya semakin jauh dan semakin menghilang
dari pandangannya.
Tidakkkk!!!
Ia
harus tahu apa maksud perkataan Xiumin. Ia tak mengerti. Ia tak tahu. dan ia
sungguh buta untuk mengerti semua itu.
Selanjutnya
kegelapan yang menyeramkan berkumpul pada sekeliling pandangannya. Sampai
akhirnya benar-benar gelap.
.
.
Baekhyun
membuka matanya perlahan. Nuansa putih yang tertangkap pada retinanya
meyakinkan dirinya bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Bahu sebelah kanannya
mati rasa dan ia sangat lemas. Ia merasakan telapak tangan kirinya di genggam
oleh sebuah tangan besar yang menenggelamkannya. Barulah ketika ia menelusuri
dengan perlahan, ia tahu bahwa itu Chanyeol. Chanyeol yang menggenggam
tangannya. Sedangkan tangan Chanyeol yang satunya ia gunakan untuk bertumpu.
Chanyeol nya tertidur. Dengan baju yang masih terlihat darah-darah pekat
membercak terutama pada bahunya. Baekhyun menyunggingkan senyum. Ingin mengelus
rambut Chanyeol tetapi kedua tangannya tak bisa bergerak. Ia menyalurkan itu
semua dengan lebih menggenggam erat tangan Chanyeol.
Dengan
senyuman yang masih melekat di bibirnya, matanya kembali terpejam.
Tetapi
siapa yang tahu selain dirinya bahwa senyuman itu lebih baik disebut seringai?
.
.
Suara
gaduh samar-samar disekelilingnya membuat ia mengerjapkan matanya. Seperti suara Luhan eonni. Firasatnya
buruk, Luhan pasti akan marah besar padanya. Baekhyun melihat Luhan dengan
wajah lelahnya.
“Baek?
Kau baik-baik saja?” Chanyeol langsung mendekati brankas Baekhyun. Ada kelegaan
yang tersirat pada hembusan napasnya. Bajunya sudah berganti. Sepertinya ia
sudah mandi karena rambutnya tertata rapih. Tapi mengapa Baekhyun mengamati
dengan begitu detil?
Baekhyun
hanya memandang Chanyeol dengan pandangan sulit diartikan.
Chanyeol
mengambil sedotan dan memasukkannya kedalam botol air mineral. Ia menyuguhkan
sedotan ke arah mulut Baekhyun. Mata keduanya bertemu. Jantung keduanya berpacu
menghasilkan irama yang sama dan detak itu semakin lama semakin cepat. Baekhyun
lagi-lagi tak mengerti.
Baekhyun
minum dengan rakus. Chanyeol merasakan napas Baekhyun pada tangan yang
mengarahkan sedotan pada mulutnya.
Baekhyun
tersenyum dan memutuskan pandangan mereka.
“Mungkin
sebaiknya kau pulang, Chanyeol.” Luhan eonni mengusir dengan halus..
Chanyeol
tersenyum canggung. “Well, Baekhyun. Aku pergi. Untung peluru nya tidak
menembus terlalu dalam. Cepatlah sembuh.” Dengan gerakan refleks ia menepuk ringan
rambut Baekhyun. Setelahnya mengelus halus pipi chubby yang menarik
perhatiannya dari gadis di depannya. Baekhyun spontan menutup matanya,
menikmati sentuhan hangat Chanyeol. Suasana di dalam ruangan mendadak lebih
canggung. Rona merah menjalar pada kedua pipinya sampai-sampai telinganya pun
ikut membakar.
“Baek,
demi Tuhan. Itu adalah Park Chanyeol. Kau tahu dia adalah Park Chanyeol,
Baekhyun!” Luhan menyerbu ketika pintu ruangan ditutup rapat dari luar. Kerutan
di dahinya mendadak muncul. “Dimana kalian bertemu?”
“Orang
yang aku selidiki kemaren di apartemennya adalah Park Chanyeol.” Baekhyun sudah
menduga pertanyaan ini, dan dia hanya berusaha tenang dengan menjawabnya.
“Are
you seriously? Dan kau tidak memberitahuku?! Demi Tuhan, Baekhyun......” Luhan
dibuat greget atas sikap tenang Baekhyun.
“Eonni,
tenanglah. Aku tidak ingin memberitahumu karena kau pasti tidak
menginginkannya. See?” Baekhyun menegang. Padahal ia tahu bahwa suatu saat
nanti Luhan akan mengetahuinya dan pasti akan menyerangnya dengan berbagai
pertanyaan yang tidak dimengerti maupun tidak ia terima. Tetapi ia tak
menyangka akan secepat ini.
“Kauu...
Aisshh. Dia Park Chanyeol, Baekhyun. Dan dia berbahaya! Sampai kapanpun aku
tidak akan mengijinkanmu bertindak sejauh ini!” Mukanya merah padam dan ia
menghembuskan napasnya panjang. Setelahnya berbicara dengan suara lirih dengan nada
memohon, “Mengertilah, Baekhyun. Aku sudah menganggap kau adalah adikku. Dan
aku tidak mungkin menempatkanmu pada bahaya yang kita tidak tahu akan seperti
apa.”
Baekhyun
tersenyum. Tangan kirinya mengenggam tangan Luhan erat, membawa kedepan
dadanya. “Eonni, percayalah padaku. Tak ada yang perlu kau khawatirkan dan aku
tahu apa yang aku lakukan. Aku sudah dewasa eonni. Aku mendengar eonni, tetapi
aku memang harus melakukannya. Agar aku tahu.”
Luhan
tersenyum lega. Mungkin ini perantara yang Tuhan berikan pada Baekhyun. Mungkin
ini jawaban atas segala doa Baekhyun. Dan ia berharap semuanya akan baik-baik
saja.
“Bagaimana
dengan bahumu, Baekhyun? Apakah baik-baik saja?” Baekhyun mengangguk lemah.
“Aku akan menagih penjelasannya padamu jika kau sudah sembuh.” Luhan
menyeringai. “Dan apa-apaan dengan adegan romantis Chanyeol terhadapmu?”
“Eonni!”
Lagi-lagi rona merah menjalar di permukaan pipi Baekhyun. Luhan hanya terkekeh
geli.
.
.
Baekhyun
tiba-tiba terbangun dari ranjang rumah sakit yang ia tempati. Astagah!
Bagaimana bisa dia melupakan Kyungsoo? Dimana Kyungsoo sekarang? Apakah dia
baik-baik saja? Apakah Jongin benar-benar membawa Kyungsoo?
Suara
pintu kamar mandi di pojok ruangan terbuka, muncullah sosok Chanyeol.
“Eh,
kau sudah bangun?” Kedua mata lebar milik Chanyeol membola lucu. “Kau kenapa
Baek?” Chanyeol menyadari raut gelisah Baekhyun.
“Kyungsoo....”
Chanyeol
mengerutkan dahinya. “Siapa Kyungsoo?”
“Orang
yang dekat dengan Jongin. Dan, Jongin mengancam untuk membawa Kyungsoo
bersamanya. Aku...Aku tak bisa membayangkan sesuatu terjadi...”
“Sttttt..”
Tau-tau saja Chanyeol sudah berada didekat Baekhyun. Mereka benar-benar dekat.
Chanyeol membuat gestur dengan menaruh telunjuknya pada bibirnya. Ia mengelus
surai Baekhyun. “Tenanglah, Baek. Aku tak bisa menjamin juga. Tetapi bahumu
belum pulih. Apa yang harus aku lakukan untukmu? Biar aku saja yang
mengurusnya.”
Suara
berat Chanyeol bagaikan seorang paman yang sedang membujuk keponakannya.
Lagi-lagi
jantungnya berdetak kencang. Dan, Baekhyun tidak mengerti apa artinya itu.
Tidak! Tidak! Dia harus fokus jika ingin hal ini berjalan dengan semestinya.
“Maukah
kau melakukan sesuatu untukku?”
Baekhyun
tak yakin, dia tahu Jongin sangat mencintai Kyungsoo. Ia tahu dari pandangan
mata Jongin saat menatap Kyungsoo. Mereka sudah sering bersama-sama sehingga ia
tahu hal-hal seperti itu.
Tetapi
siapa yang tahu hati seseorang? Cinta dan benci adalah sesuatu yang sangat
tipis bagaikan permukaan kertas. Dan, dia tidak mau membayangkan jika terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan. Bagaimanapun, Kyungsoo tidak tahu apa-apa.
Seharusnya, ia tak terlibat sejauh ini.
“Maukah
kau ke kantor kepolisian dimana Luhan eonni berada? Aku ingin kau
memberitahunya tentang hal ini. Dia akan berusaha mencari Kyungsoo. Aku
memiliki fotonya.”
Walaupun
tak yakin, Chanyeol tetap mengangguk.
.
.
Chanyeol
berada di taxi, ia akan mengunjungi kantor kepolisian sekarang. Ia tak tahu
apakah ia menggali kuburannya sendiri sekarang? Bagaimananpun kantor kepolisian
adalah daftar tempat nomor satu yang sangat ia hindari. Saat keluar dari sana
beberapa waktu yang lalu, ia bahkan sempat berjanji untuk tidak menginjakkan
kakinya lagi di tempat itu. Lalu bagaimana sekarang ia dengan tidak pikir
panjang langsung menyanggupi perkataan Baekhyun untuk menemui Luhan?
Bagaimanapun,
ini tak ada hubungannya dengan dirinya. Ia hanya membantu Baekhyun. ya, benar.
Tidak ada yang perlu dia pikirkan.
Taxi
berhenti tepat didepan kantor kepolisian. Chanyeol turun dengan gelisah. Ia
berusaha mengatur napasnya. Relax
Chanyeol.
Ia
sudah menduga beberapa pasang mata menatap kearahnya saat ia memasuki kantor di
bagian divisi kasus pemeriksaan. Ia telah melihat meja Luhan. Dengan
mengabaikan tatapan diseluruh penjuru kantor, ia berjalan dengan tenang.
Ia
sudah menduga bahwa ada raut kebingungan di wajah Luhan. Belum sampai ia dimeja
Luhan. Seorang lelaki dengan wajah yang sangat familier baginya menahan
jalannya. Chanyeol tak tahu apakah kali ini wajahnya pucat pasi? Tetapi ia
dapat mengatur mimik wajahnya untuk terlihat santai dan tidak terlalu
memusingkan hal itu.
“Apa
yang kau lakukan disini?” Itu Kris. Dia adalah seseorang yang telah lama
Chanyeol kenal. Tetapi itu dulu. Sebelum sebuah malapetaka terjadi dan mereka
dengan sendirinya terpecah belah.
“Apapun
yang kulakukan disini tidak ada urusannya denganmu.” Mereka berdua seketika
mendapat perhatian penuh disana. Terlebih oleh paman Ahn yang memang ada disana
sedari tadi. Tetapi ia tidak dapat menebak ada perihal apa sampai-sampai
Chanyeol dengan susah-susah datang kesini.
Pasti
ada sesuatu yang penting.
Mereka
berdua berdiri berhadapan. Dengan tinggi yang hampir setara. Menatap kedua
lawan dengan pandangan menusuk. Atmosfer diruangan menegang.
Luhan
yang mengerti apa yang terjadi langsung menarik Kris. Dan dia sudah tahu bahwa
Chanyeol ingin bertemu dengannya. Dilihat dari gestur yang dimilikinya.
Barulah
ketika Kris sudah aman di kursinya ia mengajak Chanyeol ke mejanya.
Chanyeol
tahu Kris masih tetap mengawasinya, tetapi ia tak peduli.
“Maukah
kau memberitahuku sesuatu yang terjadi?”
Chanyeol
benar-benar melakukan seperti apa yang telah Baekhyun perintahkan padanya.
.
.
Ini
bencana.
Baekhyun
baru saja mendapat telepon dari Suho oppa bahwa ada masalah serius terjadi pada
Yixing. Masalahnya adalah Suho tidak memberitahu hal serius itu. Firasat
Baekhyun sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tanpa berpikir panjang, ia langsung
mencabut impusan yang menempal pada tangannya. Tadi pagi, ia meminta agar
tangan sebelah kanannya disanggah sehingga ia sadar bahwa lengannya tidak dapat
berfungsi untuk sementara. Sehingga ia aman untuk keluar ruangan.
Rehabilitasi
Yixing sama dengan rumah sakit yang Baekhyun tempati, sehingga ia tidak terlalu
jauh untuk pergi.
Firasat
Baekhyun semakin mengatakan benar ada sesuatu yang buru terjadi di kala ada
beberapa pusat kepolisian yang berada di depan ruangan Yixing. Suho oppa tetap
duduk di kursi tunggu tak jauh dari pintu. Dia murung sekali.
Ia
melihat paman Ahn diantara beberapa orang-orang itu. Kris juga berada disana.
Ada apa sebenarnya?
Baekhyun
memutuskan untuk menghampiri Suho oppa terlebih dahulu.
“Oppa?
Apa yang terjadi?”
Begitu
Suho tahu Baekhyun ada disana, ia langsung berdiri dan membawa Baekhyun ke
pelukannya. Baekhyun merasakan Suho menegang dan terlihat terpukul.
Baekhyun
membalas pelukan Suho dengan mengelus bahu menggunakan tangan kirinya yang
baik-baik saja.
“Aku
tidak sanggup, Baek. Aku... Aku benar-benar merasa tidak becus menjaganya.” Ia
melepas pelukannya dan tangisnya pecah didepan Baekhyun.
“Apa?
Apa yang sebenarnya terjadi, oppa?”
“Aku
tidak sanggup mengatakannya, Baek....” Ia masih menangis dan terbata-bata.
Baekhyun
menuntun Suho untuk duduk lagi. “Kusarankan Kau untuk tidak masuk kesana, Baek.
Pelase.”
Baekhyun
tak mengerti. Jika ia tak masuk ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku
harus, oppa. Aku harus melihatnya.”
Suho
oppa menggeleng. Membuat air matanya semakin banyak berjatuhan. Baekhyun
berusaha tersenyum. Ia memeluk Suho lagi sebelum menghampiri Paman Ahn yang
berada didepan ruangan. Di depan ruangan itu sudah diberi tanda garis kuning
kepolisian. Ia tidak boleh gegabah. Walaupun dia berwenang untuk masuk.
“Paman
Ahn?”
Paman
Ahn terlonjak kaget. “Bagaimana kau ada disini Baekhyun?” Tak biasanya Paman
Ahn memeluknya. Ada kesedihan yang tersembunyi pada raut wajahnya. Baekhyun tak
boleh berburuk sangka. Masalah ini lebih serius daripada dugaannya.
“Aku
diberitahu Suho oppa. Katanya ada masalah serius pada Yixing eonni. Bolehkah
aku memeriksanya?” Begitu cepat paman Ahn melepas rangkulannya.
“Ya
Tuhan... Baek.. Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” ia mengelus surai
Baekhyun. Lagi-lagi ini adalah hal yang tidak biasanya terjadi. Baekhyun
mengangguk.
“Aku
akan memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi tanpa harus kau memasuki
ruangan. Maukah kau menurutiku?”
Baekhyun
memandang ruangan yang tak dapat ia lihat dalamnya. Kemudian ia menggeleng.
“Tidak
paman. Aku harus melihatnya. Bagaimanapun Yixing eonni sudah kuanggap seperti
kakakku sendiri.”
Paman
Ahn menghela napas. “Kris!” Ia memanggil Kris yang sedang sibuk berbincang
dengan anggota kepolisian lainnya. Kris menoleh dan menghampirinya. Baekhyun
pikir, Kris telah paham.
Seperti
halnya Suho oppa dan paman Ahn. Kris juga memeluknya. “Oh, Baekhyun..... Aku
belum sempat ke ruanganmu dan kau kesini sendiri? Bahumu belum sembuh, Baek.”
Baekhyun
tersenyum di rangkulan Kris. “Tidak oppa. Aku baik-baik saja.”
“Apakah
kau tahu apa yang sebenarnya terjadi disini?” Kris melepas rangkulannya. Dia
memegang kedua bahu Baekhyun. Paman Ahn sudah tidak berada disana, entah kapan
ia pergi.
“Aku
tidak tahu, aku berharap kau membiarkanku masuk untuk melihatnya.”
Kris
menangkup wajah Baekhyun. Ia menyatukan dahi keduanya. “Tidakkah ada permintaan
lain selain kau masuk?” Raut wajahnya seperti memohon. Ia bahkan berkata dengan
lirih.
“Please,
oppa. Sudah dari tadi aku mendengar hal yang sama supaya tidak masuk ruangan.
Aku semakin penasaran. Aku berhak masuk. Aku ingin melihat apa yang terjadi.”
“Baik,
tetapi aku harus mendampingimu masuk. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu.”
Inilah yang Baekhyun sukai dari Kris, dia tidak dapat menolak permintaan
Baekhyun.
“Apakah
kau sudah menyelidikinya? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi.” Kris sembari
menuntun Baekhyun memasuki ruangan.
Barulah
ketika ia memasuki ruangan dan melihat sesuatu terjadi pada Yixing eonni, ia
pasti akan menuruti perkataan ketiga orang tadi yang melarangnya untuk masuk.
Selanjutnya, yang terjadi adalah wajah terkejut dari Baekhyun dan teriakan
nyaring darinya. Sembari menangis dan menjerit. Kris yang tahu reaksi ini yang
akan terjadi pada Baekhyun langsung merangkulnya sambil menarik mereka keluar
ruangan lagi.
Kris
pasrah saat tangan kiri Baekhyun mengelilingi lehernya dengan erat. Tangisnya
pecah. Kalau saja Kris tidak menumpu badan Baekhyun, mungkin ia akan meleleh.
Tubuhnya bahkan melemas. Maka dari itu, Kris membawanya ke kursi di dekat Suho.
Suho memandangnya dengan iba. Dia pun tak bisa mengontrol mimik wajahnya yang
semakin bersedih.
Krispun
merasa terkejut ketika beberapa menit yang lalu ia mendapat panggilan bahwa ada
sesuatu yang terjadi pada Yixing. Mereka kenal Yixing. Yixing adalah sahabat
mereka. Mereka sering berkumpul sejak hal yang mengerikan itu terjadi. Hal yang
mengerikan terjadi pada Xiumin. Dan, sudah sepantasnya Kris harus dapat menjaga
Baekhyun. Ia pikir hanya sisa dirinya dan Luhan yang berada di sekeliling
Baekhyun pada saat ini. Ia berjanji akan melindungi Baekhyun dari apapun.
Termasuk dari Chanyeol yang entah telah merencanakan hal apa untuk membahayakan
adik kesayangannya itu.
.
.
.
TO
BE CONTINUED
.
.
.
Karya aku ini sudah pernah dipublikasikan di
fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa
di lihat di:
atau
Silahkan mampir^^
AmandaHanifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar