UNKNOWLEDGEABLE LOVE
This Is Chanbaek Story
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Support Cast: Oh Sehun, Wu Yifan (Kris), Xi Luhan,
Yixing, Kim Junmyeon (Suho) and other cast~~
Genre: Crime, Romance, Drama, Hurt/Comfort
Rated: T
Disclaimer: Para tokoh milik kita semuaaaa hehe. Untuk
cerita asli dari pikiran aku sendiri.
Summary: Baekhyun membantu penyelidikan kasus kepolisian.
Rasa penasarannya yang begitu besar terhdap kasus kakaknya dan mencoba
menyelidikinya. Baekhyun tak tahu kalau itu semua menuntunnya kepada Chanyeol.
HAPPY
READING^^
.
.
.
UNKNOWLEDGEABLE LOVE
CHAPTER 3
.
.
.
Baekhyun sungguh
tahu, dirinya tak boleh gegabah dan harus menunggu sampai waktunya tiba. Entah
sampai kapan. Yang pasti, ia akan mengikuti alurnya sampai ia menemukan
jawabannya. Baekhyun tak dendam, hanya saja ia merasakan ada sesuatu yang salah
pada kasus kakaknya. Kebenaran itu masih terasa menjanggal sampai-sampai ia
frustasi dibuatnya.
Terlebih orang itu
adalah orang yang selalu menghantui dirinya. Kebenaran itu terkesan samar. Tak
ada titik terang yang Baekhyun temukan. Ia menghela napas gusar.
Baekhyun sadar,
saat hal itu terjadi dirinya tak lebih dari seorang siswa berusia 15 tahunan.
Walau begitu, tak memungkiri dirinya paham akan hal-hal yang belum dipikirkan
oleh anak-anak remaja seusia dirinya. Sampai sekarang pun ia sampai tak habis
pikir mengapa semua yang sudah terjadi masih saja bersarang di otaknya.
Seolah-olah membentuk pola bagaikan kaset usang yang selalu berputar pada
memori otaknya.
Mereka kini tengah
mampir pada salah satu cafe langganan Baekhyun, disinilah ia banyak berpikir,
banyak melamun. Melamun bukan dalam artian galau dengan tatapan kosong. Yang
Baekhyun maksud adalah melamun untuk mencari jalan tengah dalam kasus-kasus
yang tak akan membuat dirinya lelah untuk terus meneliti hingga sampai objek
formal atau sedalam-dalamnya.
Chanyeol yang berada
tepat didepan Baekhyun mengerutkan keningnya saat melihat gadis didepannya kini
tengah melamun.
.
.
.
.
7 tahun yang lalu.
Xiumin mengedarkan
matanya―yang dihiasi
eyeliner tebal mengitari seluruh penjuru ruangan. Tepatnya pada ruangan yang ia
tempati beberapa menit sebelum ia tampil. wajahnya tampak gusar, ia sudah hapal
dengan perilaku asistennya yang suka menghilang seenaknya. Bertindak sesuka
hatinya.
Tampilannya
sekarang jauh dari kata rapih, mungkin karena ia sering menjambak rambutnya
seiring dengan kesalnya ia.
“Chanyeol brengsek!
Kemana sih, dia! Seenaknya saja, pergi tanpa bilang apapun padaku.”
Xiumin
menghempaskan dirinya pada kursi empuk yang tersedia.
Sebenarnya, Xiumin
adalah pribadi yang lemah lembut. Tetapi, jika ini sudah menyangkut tentang
Chanyeol ia bertingkah seakan binatang buas yang siap meledak.
Luhan―teman sesama
agensinya hanya berdecak, memutar bola matanya malas.
“Pantas kau cepat
tua kerjanya hanya marah-marah saja.” Duduk didepan cermin sambil melepas
aksesoris saat ia tampil tadi serta menghapus make up, Luhan bergumam malas
tanpa mengalihkan perhatiannya pada sosok yang berada di cermin didepannya.
Xiumin bertambah
jengkel, jika saja ia hanya sendirian di dalam ruangan ini sudah dapat
dipastikan barang-barang di dalamnya tidak akan selamat.
Saking lelahnya, ia
tak sadar bahwa ia sudah tertidur pulas dengan leher yang miring bersandar pada
orang disamping― seakan tersadar
dari tidurnya Ia langsung mendorong bahu yang tadi sempat dibuatnya bersandar.
“Mau apa kau!”
Xiumin menjauhkan dirinya, menjaga jarak. Mengacungkan jari telunjuknya tepat
pada hidung orang yang lebih tinggi darinya. Orang di depannya hanya tersenyum
maklum.
“Kau tadi tertidur,
pulas sekali. Aku tak tega membangunkanmu hanya untuk berpindah tempat. Lalu, kulihat
kau seperti tidak nyaman dengan posisi tidurmu. Makanya aku meminjamkan bahuku
agar lehermu tidak sakit nantinya.” Chanyeol menjelaskan dengan nada lemah
lembutnya. Tak pantas jika dibarengi dengan suara bass miliknya. Xiumin yakin,
perutnya mual seketika jika Chanyeol terus berbicara dengan nada lembut seperti
tadi.
Xiumin bersedekap.
“Aku tak butuh!” Xiumin mengalihkan pandangannya dengan keras.
“Aku tadi sempat
melihat rekaman comebackmu. Dan kurasa kau semakin lincah menggerakkan badanmu
di atas panggung.”
Mata yang tadi
dialihkan kini berpindah cepat pada awal semula, perempuan dengan pipi tembam
itu menilik dengan mata elangnya yang tajam. Seakan ingin mencabik-cabik mangsa
yang akan di jadikan umpan. Chanyeol tak berhak mengomentari apapun tentang
dirinya! Memangnya dia siapa?! Belum sempat pikirannya mengeluarkan sepatah
katapun. Dering ponselnya menyelamatkannya dari aungan serigala yang kelaparan.
Xiumin tetap
memasang wajah sangar dan menatap Chanyeol tajam. Chanyeol didepannya hanya
tersenyum geli, berusaha untuk tidak tertawa.
“Jongdae?” Wajah
yang tadi suram berganti dengan adanya binar-binar kecil di matanya. Ia
berbalik membelakangi Chanyeol. Hal tadi tak luput pula dari perhatian
Chanyeol. Lagi-lagi Chanyeol hanya terdiam membisu, senyuman tipis tak akan
hilang darinya. Tetapi jika kita lihat lebih jelas, senyuman itu berubah sendu
seiring dengan pelannya detik yang berjalan. Tetap mengamati dalam diam
punggung xiumin yang dengan gerakan pelan berjalan jauh, meninggalkannya
sendiri.
Sampai kapanpun sebuah pelangi tak akan pernah bisa
dicapai walaupun ia akan mengejarnya kemanapun.
Rasa cinta yang begitu besar.
Rasa sayang yang tak bisa ia hindari.
Lama kelamaan akan membekas, lama kelamaan akan hilang.
Menimbulkan perasaan baru.
Dimana hal tersebut berada pada titik jenuh, ujung dari
segalanya.
Ujung dari rasa lelah yang selama ini telah berusaha ia
capai.
Sehingga timbul perasaan sebaliknya.
Perasaan benci yang hanya berbeda tipis antara
persilangan kasih sayang dan perasaan cinta.
Hal itu tak bisa pula ia hindari.
Dan juga jauh dari kehendak yang ingin ia rasakan.
Ada dengan sendirinya.
.
.
.
.
Kembali ke masa sekarang.
Suho oppa kembali
menghubunginya. Ia bilang kali ini bukan tentang Yixing Eonni. Mau tak mau, Baekhyun
dilanda rasa penasarannya. Saat ini ia sudah berada pada restoran Jepang,
tempat yang tadi disebutkan oleh Suho oppa.
Ia memasuki
restoran, mengedarkan pandangannya. di kedua ujung dekat jendela Suho oppa
melambai. Baekhyun mendekati Suho.
“Kau sudah
kupesankan Okonomiyaki tadi, kau tak keberatan kan?”
Baekhyun baru saja
duduk, ia hanya tersenyum mengangguk.
“Jadi, apa yang
oppa ingin bicarakan?”
Suho berdecak
malas. “Setidaknya, kita makan terlebih dahulu. Baekhyun.”
Baekhyun hanya
mengiyakan. Walaupun ia bersikap tenang diluar, tetapi dalam pikirannya
berkecamuk. Apakah terjadi sesuatu pada Yixing Eonni? Tapi, bukankah Suho oppa
bilang ini tidak ada kaitannya dengan Yixing Eonni?
Mereka makan dengan
tenang, namun entah kenapa keduanya tak menyadari jika mereka menahan napas
sejak tadi. Keduanya berusaha mencari-cari sesuatu yang sekiranya benar atau
salah. Menyiapkan hatinya masing-masing.
Baekhyun lebih dulu
menyudahi acara makannya. Seketika ia tak berselera. Suho mengikuti tak lama setelah
Baekhyun.
Baekhyun tetap
menunggu Suho mengeluarkan suaranya.
“Well...” Pandangan
mereka berdua bertemu. Suho tersenyum. Senyumnya bagaikan malaikat di siang
hari sejuk seperti ini. “Kau tahu kan kalau aku bersama Yixing, tak lama
setelahnya ia kehilangan kesadarannya?”
Baekhyun hanya
mengangguk, menerka-nerka akan kemana arah pembicaraan mereka. Suho oppa dan
Yixing Eonni memang hanya dua minggu bersama, setelahnya tak dihitung karena
Yixing Eonni sedikit terganggu mentalnya. Apa yang sebenarnya ingin Suho oppa
bicarakan?
“Kau tahu aku tak
begitu mengenali siapa saja orang yang bergaul dengannya sebelum aku menjadi
kekasihnya. Dan aku juga belum mencari tahu penyebab ia kehilangan mentalnya.
Aku tak sempat melakukan itu semua, pekerjaanku membuatku kerepotan. Dan aku
hanya ingin melakukannya sendiri.”
Suho kembali
tersenyum. Baekhyun semakin yakin jika hal selanjutnya adalah sesuatu yang
tidak ingin didengarnya dan dibahasnya.
“Apakah Yixing
mengenal orang yang bernama Chanyeol, Baekhyun? Aku hanya mendengar samar
namanya di ucap berulang-ulang oleh Yixing saat kemarin kau menenangkannya.”
Baekhyun menegang. Ia menghembuskan napas panjang, tanpa sadar bahwa sebelumnya
menahan napasnya.
Baekhyun segera
mengalihkan pandangannya seketika saat Suho menunggu jawaban yang tadi ia
lontarkan.
Hening beberapa
detik. Dan dengan berusaha tetap tenang Baekhyun akhirnya bersuara. “Aku tidak
tahu......oppa.”
Suho tak
menghiraukan dan tak melihat semua keanehan tingkah laku Baekhyun. “Entah
mengapa, Baekhyun. Aku yakin bahwa ada sesuatu yang Yixing lihat, sesuatu yang
membuat ia terguncang atas apa yang menjadi kebenaran sebenarnya. Hanya saja,
ia terlalu shock sehingga tidak bisa mengontrol mentalnya yang terguncang
hebat. Aku sebagai kekasihnya merasa gagal tidak bisa ikut berbagi merasakan
sesuatu yang membuatnya kesakitan.”
Gotcha.
Semua yang
dijabarkan oleh Suho oppa tak pernah terlintas dipikiran Baekhyun. Benar.
Baekhyun pun tak tahu penyebab Yixing Eonni yang menjadi seperti sekarang ini.
Selama ini, ia hanya tak ingin membahas apapun tentang sesuatu yang membuat
Yixing meraung-raung dalam tangisannya. Setiap kali hal itu ia bahas maupun ia
sebut tanpa kesengajaanpun, Yixing langsung pucat pasi bahkan sampai menangis
tak karuan.
Suho oppa yang
berada didepannya kini tampak murung. Seketika Baekhyun dilanda perasaan
bersalah karena tak sampai menemukan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Hatinya
galau, disatu sisi ia merasa iba pada cerita percintaan antara Suho oppa dan
Yixing Eonni. Mereka saling mencintai tetapi terpisah oleh keadaan hati yang
sama-sama retak tetapi tak sampai pecah. Mereka hanya tak sadar bahwa salah
satunya terganggu mentalnya. Dan mereka semua adalah sahabat Baekhyun.
Seharusnya Baekhyun membantunya dan langsung menyelidikinya bahkan menyelesaikan
kasusnya secara cepat. Penyebab Yixing Eonni terganggu mentalnya, bahkan
kasus-kasus lainnya yang bersangkutan.
Disatu sisi, di
relung hatinya yang paling dalam sekalipun bahkan meminta otaknya untuk tidak
mengambil kesimpulan seenaknya. Masih banyak hal yang belum ia sadari, ataupun
bukti-bukti bahwa semua hal ini mengarah padanya. Menyambungkan benang merah
yang akan menyatukan analisisnya. Selain itu, ia juga harus bertindak extra
hati-hati. Sebagaimana ia bertindak, ia selalu berurusan dengan sesuatu yang
membahayakan dirinya. Sedikit saja ia lengah, itu dapat berpengaruh pada
mentalnya. Jika ia tak dapat mengontrolnya, dapat dipastikan Baekhyun akan
berakhir seperti Yixing Eonni. Atau lebih parahnya lagi, berhadapan dengan
nyawanya.
.
.
.
.
Baekhyun tak dapat
memungkiri bahwa ia terus menerus memikirkan hal-hal yang Suho oppa duga.
Sampai ia memutar gagang pintu, memasuki apartemen dengan langkah lesu. Tetapi,
langkahnya terhenti saat ia memergoki dua sejoli yang sedang asyik bercumbu
mesra. Sehingga, tidak menyadari kehadirannya.
Barulah setelah
sekian detik berlalu, perempuan berambut merah itu terkejut dan langsung
mendorong lelaki yang memunggungi Baekhyun. Seketika muncul semburat merah di
pipinya hingga menjalar ke telinganya. Mukanya seakan merah padam, menahan
malu.
“Yah sialan,
padahal tadi sedang seru-serunya. Eh, datang tikus pengganggu.” Jongin malah
berujar tidak penting, seperti biasanya. Ia duduk di kursi ruang tamu depan
televisi yang masih dibiarkan menyala, tetap bersiul bahkan setelah dirinya
ketangkap basah telah menjamah bibir Kyungsoo yang seksi itu.
Baekhyun tersenyum
senang. Setidaknya, ia mempunyai kartu as Kyungsoo jika Kyungsoo tak menuruti
kemauannya.
Seketika Baekhyun
lupa dengan pikiran yang tadi berkecamuk didalamnya. Dirinya malah asik
menggoda kyungsoo yang masih merah padam. Kyungsoo memang pemalu, makanya
Baekhyun senang menggodanya. Jongin? Jangan ditanya! Bukannya dia membantu atau
menolong Kyungsoo dari godaan syaiton Baekhyun. Dirinya malah mengambil cemilan
dari dapur untuk dimakannya sembari tetap fokus pada televisi didepannya. Kalau
saja, Jongin adalah kekasih Baekhyun. Baekhyun tak akan sanggup sabar pada
sifatnya yang tak peka, terlebih terhadap kekasihnya―Kyungsoo sekalipun.
.
.
.
.
“Baekhyun?” Chanyeol tak habis pikir, kenapa
perempuan mungil di depannya kini suka sekali melamun. Bahkan jika dirinya
telah bersamanya. Chanyeol selalu memperhatikan Baekhyun setiap detik saat
Baekhyun sedang bersamanya, dan tak hanya sekali dua kali Baekhyun kedapatan
sedang melamun.
Baekhyun
mengerjapkan matanya cepat. “Ah...ya?” Baekhyun tersenyum kikuk.
“Aku tadi sudah
bertanya tiga kali padamu. Berapa umurmu sekarang?” Chanyeol hanya mampu
tersenyum melihat perubahan raut wajah Baekhyun yang terkesan aneh.
“Aku? Dua puluh
satu.” Baekhyun mengambil sendok yang tadi sempat dianggurkannya, kembali
menguyah makanan didepannya.
Chanyeol menganga.
“Apa?” Nada suaranya terkejut. “Kau mungil seperti ini. Dua puluh satu?”
Baekhyun hanya
tersenyum malu. Ia menganggukkan kepalanya bersemangat. Menyebabkan rambutnya
yang tergerai ikut bergoyang. Saking bersemangatnya ia tak sadar menyendokkan
makanan terlalu banyak menyebabkan pipinya menggembung, kelihatannya seperti
sulit mengunyah.
Chanyeol hanya
tertawa menanggapinya. Perempuan didepannya ini baru kali ini tersenyum tulus
padanya. Sebelumnya Chanyeol tak yakin bahwa Baekhyun pernah tersenyum padanya.
Dan ia juga tak bisa memungkiri, sempat terpengarah terhadap senyuman Baekhyun.
Ditambah raut wajahnya yang seperti puppy.
“Kau kuliah?”
Baekhyun kembali mengangguk.
“Well, mengapa kau
terlibat dengan sesuatu yang berbahaya, Baek? Bukankah kau telah mengetahui
resikonya?”
Raut wajah baekhyun
seketika berubah menjadi lebih datar dari yang tadi diperlihatkannya beberapa
detik yang lalu. Chanyeol tak tahu mengapa, apakah itu karena ia membahas hal
ini, ataukah ada sesuatu yang Baekhyun pikirkan? Entahlah.
“Aku hanya ingin.”
Baekhyun kembali menaruh sendoknya, seketika tak bersemangat lagi.
Chanyeol yakin
bukan itu jawaban yang ingin ia dengar. Lagi pula jika pun ia mendesak,
memangnya dia siapa? Walaupun tak puas dengan jawaban Baekhyun, Chanyeol tak
menanyakan hal itu lebih lanjut. Menyisakan hening yang menyelimuti keduanya.
Tiba-tiba terdengar
teriakan nyaring seorang perempuan dari arah toilet. Baekhyun yang seakan
memiliki radar langsung bangkit. Ia tak menghiraukan kerumununan orang yang
ingin mendekati toilet untuk melihat kejadian yang sebenarnya. Tetapi ia
mengedarkan pandangannya mencari orang yang menjauhi toilet, lebih tepatnya
mencari orang yang panik dan terburu-buru ingin keluar. Dan Baekhyun
menemukannya.
Tanpa menghiraukan
sekelilingnya, Baekhyun langsung berlari mengejar laki-laki bertubuh ceking
tidak pendek dan tidak tinggi. Jika diperhatikan, tubuhnya hampir mirip seperti
Yixing Eonni, tetapi ini dalam versi laki-laki. Tapi, ia tak mau mengambil
kesimpulan terlebih dahulu karena pakaiannya yang tertutup. Wajahnya pun tak
terlihat saat ia memalingkan muka dari Baekhyun menuju pintu keluar ruangan
dengan tergesa.
Chanyeol berteriak
memanggil Baekhyun, dan akhirnya ikut mengejar mereka. Terjadilah aksi
kejar-kejaran. Baekhyun yang mengejar orang mencurigakan tadi dan Chanyeol yang
mengejar Baekhyun.
Chanyeol tak
mengerti mengapa tiba-tiba Baekhyun berlari dengan sekuat tenaga seperti itu.
Chanyeol pun baru menyadari bahwa lari Baekhyun sebagai perempuan seakan tak
wajar. Chanyeol yang memiliki kaki jenjang saja sudah merasa akan pingsan.
Tetapi didepan sana Baekhyun tetap berlari. Entah mengapa, Chanyeol hanya
mengikuti nalurinya untuk mengikuti Baekhyun.
.
.
.
.
Sial! Baekhyun
kehilangan orang tadi! Mengikuti instingnya dia memasuki gang yang lebih kecil
dan minim penerangan. Langit semakin kelabu dan Baekhyun bersumpah harus
menangkap orang tadi!
Baekhyun mendengar
langkah-langkah yang lain diantara kakinya. Ia yakin, itu adalah Chanyeol.
Maka, ia tak begitu menggubrisnya. Dengan napas yang memburu, serta suara
langkah kaki yang berdengung di kegelapan ia tetap berlari.
Sampai akhirnya ia
menyerigai karena ini adalah jalan buntu. Orang tadi berhenti, tetap
memunggungi Baekhyun.
Baekhyun ikut
berhenti, meraup napas dengan rakus. Ia terus berlari tadi, tanpa berhenti.
Wajar jika ia tidak dapat mengatur napasnya. Keringat sudah mengucur deras dari
pelipisnya.
“Hei! Menyerahlah,
kau sudah tidak dapat pergi kemanapun.”
Orang di depan tadi
tiba-tiba tertawa keras. Masih tetap memunggungi Baekhyun. Membuat Baekhyun
dibuat tak mengerti dengannya.
Selama beberapa
menit ia masih tertawa, suaranya menggema di gang kecil ini. Setelah tawanya
berhenti, dia berbalik. Menghadap Baekhyun.
Seketika Baekhyun
merasa pusat dunianya teralihkan pada sosok didepannya.
“Joo....Jongin?”
Baekhyun merasakan suaranya tercekat, serak dengan suara lirihnya. Kakinya
lemas seketika. Ia tak mengerti. Dari sekian banyak orang yang kenal dengannya.
mengapa harus Jongin? Mengapa harus kekasih Kyungsoo? Mengapa harus Kyungsoo
yang ikut terlibat?!
Persetan dengan
semuanya, inilah mengapa ia tak begitu percaya pada orang lain. Ia hanya akan
percaya pada dirinya sendiri. jika Jongin seperti ini. Bagaimana dengan
Kyungsoo?! Teman sekaligus sahabat, yang mengerti dirinya. Demi Tuhan, dia tak
mau Kyungsoo terlibat dengan dunianya. Demi Tuhan dia tak ingin Kyungsoo yang
polos satu-satunya teman yang dimilikinya itu masuk kedalam bahaya yang
melingkupinya. Selama beberapa tahun ia sanggup merahasiakan ini dari Kyungsoo,
tanpa ingin melibatkan Kyungsoo lebih jauh. Tetapi apa? Kekasihnya sendiri yang
telah melibatkannya. Baekhyun tak sanggup, orang-orang yang disayanginya adalah
titik kelemahannya.
Melihat Baekhyun
yang pucat pasi. Jongin kembali tergelak. Ia sampai memilitkan tangannya ke
perutnya saking puas tertawanya. Baekhyun shock.
Dengan terbata-bata
ia bertanya. “Jongin.... Katakan ini tidak benar.... Katakan aku salah mengejar
orang....”
Jongin tertawa
mengejek. “Dari awal aku sudah mengamatimu Baekhyun. Kau hanyalah sosok lemah
yang pura-pura kuat hanya untuk mencari penyebab kasus masa lalumu.”
Apaan-apaan
Jongin?! Darimana ia tahu? Darimana ia tahu masa laluku?! Tak ada yang
mengetahu masa laluku. Tidak! Selain diriku sendiri!
“Kau pikir aku
tidak tahu?” Jongin kembali tertawa. Ia mengusap air mata di ujung matanya.
Muka Baekhyun merah
padam. Merasa dikhianati oleh temannya sendiri.
“Dimana Kyungsoo?!”
Kemarahan menyelimuti diri Baekhyun.
“Kyungsoo aman
bersamaku Baekhyun. Kau tak perlu mengkhawatirkannya.” Apa-apaan itu?! Nada
suaranya terdengar tulus. Tapi Baekhyun tak mau dibohongi lagi. Sudah cukup.
Baekhyun muak!
Baekhyun melangkah
maju, ingin menerjang Jongin dengan jurus hapkidonya. Jongin dengan sigap
mengeluarkan pistol yang tadi diselipkan di kantongnya. Jongin langsung
menembak Baekhyun. Baekhyun yang terkaget tanpa bisa menghindarinya terkena
tembakan itu. Seketika tubuhnya limbung ke tanah.
Kenapa? Kenapa
Jongin melakukan hal kotor ini?! Baekhyun merasa sedih.
“Enyahlah
Baekhyun.”
Setelahnya Jongin
dengan mudah melompat ke dinding hingga memantul ke pagar pembatas, dengan
susah payah tetapi lincah ia menaiki pagar tersebut. Baekhyun dapat melihat
tangannya tergores dan cairan pekat menetes dari sana.
.
.
.
.
Chanyeol yakin tadi
ia melihat Baekhyun memasuki gang kecil ini. Gelap. Dengan percaya diri diri dia
berlari, tenaganya sudah terkuras sehingga menyebabkan larinya agak terseok.
Tetapi ia memaksakan dirinya untung tetap berlari.
Dari gema yang
hening tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Chanyeol tersentak
kaget, ia tak mau memikirkan hal-hal yang tak seharusnya terjadi. Dengan
kekuatan yang tiba-tiba menopang kakinya ia mempercepat larinya.
Sesuatu yang tak
mau di pikirkannya benar-benar terjadi. Seorang gadis yang familiar bersimpuh
dengan kedua lututnya tak berdaya. Di tanah. Didepan sana. Di kegelapan malam.
Chanyeol dapat
melihat ia memegang bahu kanannya yang terkena tembakan.
Sesampainya ia di
sebelahnya, Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata sayunya. Demi Tuhan darahnya
terus mengalir dan ia harus segera dibawa kerumah sakit jika ia tak mau kehabisan
darah. Ketika Chanyeol ingin membopongnya, Baekhyun menahannya. Tangan kirinya
yang bebas menangkup pipi Chanyeol.
Chanyeol menatap
Baekhyun heran. Ia mengeryit tak mengerti ketika Baekhyun tersenyum tulus
kepadanya. Hatinya berdesir.
“Chanyeol..... Bolehkaah,
aku.... menciummu?” Dengan suaranya yang parau Baekhyun mengakhiri dengan
lirihannya membuat dada Chanyeol berdegup dengan keras. Ia tak mengerti.
Memandang Baekhyun dengan wajah sendu dan memohon kepadanya untuk menciumnya.
Seakan tidak mau
membuang waktu yang sia-sia, Chanyeol yang mengerti langsung menangkup kedua
pipi Baekhyun dan menjatuhkan bibirnya tepat di atas bibir ranum Baekhyun.
Chanyeol merapatkan tubuhnya, mengerti jika Baekhyun tak bisa bergerak.
Baekhyun langsung melingkarkan tangan kirinya pada leher Chanyeol. Sedangkan
tangan kanannya tetap terjatuh lemas di samping tubuhnya.
Keduanya menutup
mata dengan khidmat menikmati sentuhan bibir kenyal masing-masing, saling
tumpah tindih, bergantian mengecup daerah yang sensitif itu. Baekhyun
meneteskan air matanya. Ia juga tak tahu mengapa ia meminta hal yang
benar-benar membuatnya merasa bodoh. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa ia butuh
seseorang yang menopangnya saat ia sedang terpuruk. Walaupun begitu, ia tetap
tahu diri untuk tidak mengartikan ciuman ini lebih dari apapun untuk menghibur
dirinya.
Mereka berdua tetap
bertukar saliva tanpa sadar bahwa salah satu dari mereka tambah melemah dan
akhirnya kepalanya terjatuh pada bahu sang lelaki.
Tanpa menghiraukan
jantungnya yang berdegup tak karuan, ia langsung membopong Baekhyun. Berlari
dengan cepat tak menghiraukan kakinya yang mungkin akan keram nantinya karena
dipakai berlari terus menerus, ia berlari ke ujung gang setelahnya menyetop
taxi untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Ia sama sekali tak
menghiraukan kemeja birunya yang sudah berubah menjadi merah pekat pada bahu
kirinya. Wajahnya mengisyaratkan bahwa ia gelisah.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Karya aku ini sudah pernah dipublikasikan di
fanfiction.net dengan penname manyeolbaek.
Untuk cerita-cerita Chanbaek-ku yang lainnya bisa
di lihat di:
atau
Silahkan mampir^^
AmandaHanifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar