Talkshow
Anak Kebutuhan Khusus “Keterbatasan bukan Batasan”
Acara
Talkshow dengan tema Keterbatasan Bukan Batasan ini diadakan oleh Fakultas
Psikologi jurusan Psikologi yang ada di Universitas Gunadarma.
Acara
ini di adakan hari Rabu, 25 Mei 2016. Acara dimulai pada pukul 1 siang yang
bertempat di Kampus D gedung 4 lantai 6 ruang 2 Universitas Gunadarma.
BEMF Psikologi
Universitas Gunadarma mempersembahkan event terbesar yaitu “Psychology
Innovation in Art, Social and Education (PIASE) 201
PIASE adalah
pelafalan kata dari seorang tokoh psikologi perkembangan kognitif yaitu Jean
Piaget. Piaget mengungkapakan bahwa individu membangun kemampuan kognitif
melalui tindakan yang termotivasi oleh lingkungan dengan sendirinya. Dengan
lingkungan yang positif dan membangun, individu akan mampu mengembangkan
kemampuan kognitifnya. Sehubungan dengan kenyataan bahawa program kerja ini
adalah program kerja terakhir BEMF Psikologi Universitas Gunadarma periode
2015/2016, maka dari itu program kerja ini diharapkan mampu membangun
lingkungan positif yang dapat membangun kemampuan kognitif mahasiswa maupun
masyarakat.
PIASE 2016 kali ini
bertemakan “Let Your Mind Be Colored”,
adalah suatu rangkaian acara seni yang berlandaskan adanya unsur sosial dan
edukasi yang dapat memberikan kelengkapan pemenuhan fungsi indera manusia yang
mencangkup proses visual, auditori dan sensoris.
PIASE
2016 memiliki berbagai rangkaian acara yaitu:
1. Singing Competition
2. Talkshow Musik
3. Talkshow Anak Berkebutuhan Khusus
1. Singing Competition
2. Talkshow Musik
3. Talkshow Anak Berkebutuhan Khusus
Saya
mengikuti salah satu dari serangkaian acara yang diadakan oleh BEM Fakultas
Psikologi Universitas Gunadarma ini, yaitu talkshow anak berkebutuhan khusus
yang menjunjung tema “KETERBATASAN
BUKAN BATASAN”. Acara ini diadakan pada hari Rabu, 25 Mei 2016 dan
berlokasi di Auditorium D462, Universitas Gunadarma Depok
Konsep acara ini
adalah sebuah talkshow yang membahas tentang anak berkebutuhan khusus. Yang
bertujuan membuka dan merubah paradigma masyarakat bahwa keterbatasan bukanlah
batasan dalam mencapai prestasi tertentu khususnya dalam bidang musik atau
akademik lainnya.
Acara talkshow ini
dibuka dengan penampilan yang luar viasa dari Zelda Maharani dengan konsep
fenomena ABK yang dipandang sebelah
matanya. BEM Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma juga mengundang pembicara
yang ternama yaitu Arist Merdeka Sirait yang kita tahu sebagai ketua KPAI
(Komnas Perlindungan Anak Indonesia), dan seorang psikolog yaitu Katarina Ira
Puspita.
Saya banyak
mendapatkan pengalaman baru dan pengetahuan baru setelah mengikuti acara ini.
Dan berikut adalah pengetahuan baru yang bisa saya serap serta saya bagikan ke
teman-teman semua.
Setiap anak dan
termasuk juga anak nerkebutuhan khusus merupakan amanah dan anugerah dari Tuhan
yang maha esa. Anak berkebutuhan khusus adalah anak–anak yang memiliki
kekurangan (atau sering kita sebut sebagai anak cacat) tetapi mereka juga
mempunyai segudang potensi yang bahkan bisa melebihi potensi yg dimiliki oleh
manusia normal. Oleh karena itu, kita yang memiliki fisik normal harus menjaga
perasaan dan memberi perhatian yang lebih kepada mereka. Kita tidak boleh
menjadikan kekurangan mereka menjadi bahan ejekan. Misalkan, sering sekali kita
ketahui terkadang kita mendengar orang yang mengejek temannya dengan kata
“autis”, itu adalah hal yang sangat tidak terpuji.
Dan kita sering
sekali memiliki presepsi bahwa anak berkebutuhan khusus itu diikuti dengan
Tantrum (emosi yang berlebihan/tidak memiliki kemampuan untuk mengemdalikan
emosi). Sebenarnya hal itu tergantung, biasanya anak tersebut yang ketika ia
tidak bisa meyampaikan apa yang ia inginkan dan orang lain tidak dapat
mengerti, biasanya dia akan kesal dan menangis. Adapun cara menghadapi
anak yang Tantrum yaitu, kita harus bersikap tenang, dan jangan coba ajak anak
untuk berkomunikasi saat anak mengamuk, diamkan saja. Tetapi kita juga perlu
memperhatikannya. Kita tidak perlu berusaha untuk berkomunikasi atau bahkan
berusaha mendiamkan anak. Namun, jika anak yang tantrum itu suka melukai dirinya
sendiri saat emosi, ibu harus berusaha mencegahnya dengan cara merangkul anak
itu dari depan. Dengan begitu, ibu lebih mudah menhontrol pergerakan anak.
Setelah anak itu lebih tenang, ibu bisa mulai berkomunikasi dengannya dan
berusaha mencari tahu mengapa anak menangis.
Penanganan yang perlu
kita lakukan saat menghadapi anak berkebutuhan khusus yaitu dengan cara,
merubah lingkungan, dimana lingkungan itu harus lebih jelas, terdapat
komunikasi lalu anak dibawa berobat. Bentuk pengobatan berupa terapi perilaku,
berbicara, kemampuan bersosialisasi, dan medikasi untuk mengontrol perilaku,
serta bisa juga memggunakan obat-obatan khusus yang dapat membantu dalam
pengontrolan emosi. Untuk orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus,
jangan pernah merasa malu karena dukungan atau motivasi dari keluarga bahkan
orang tua akan memiliki pengaruh yang besar. Bawalah anak bersosialisasi dengan
didampingi dan diberikan arahan–arahan.
Berikut adalah beberapa kasus atau
tindak kriminal pada anak-anak yang sedang marak terjadi di Indonesia:
1. Penjualan manusia. Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus penjualan manusia terlebih lagi anak-anak dan bayi. Hal ini melanggar hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal berarti berlaku bagi setiap manusia termasuk anak-anak tanpa terkecuali.
2. Kekerasan seksual. Kasus ini banyak sekali menimpa anak-anak sibawah umur.
3. Geng rape. Ini adalah gerombolan permekosa yang paling sering terjadi pada anak-anak.
4. Pemasungan. Hal ini sangat sering terjadi pada manusia yang tidak waras (gila) dan dianggap dapat membahayakan orang-orang disekitarnya. Namun, perbuatan ini termasuk ke dalam pelanggaran hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal.
1. Penjualan manusia. Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus penjualan manusia terlebih lagi anak-anak dan bayi. Hal ini melanggar hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal berarti berlaku bagi setiap manusia termasuk anak-anak tanpa terkecuali.
2. Kekerasan seksual. Kasus ini banyak sekali menimpa anak-anak sibawah umur.
3. Geng rape. Ini adalah gerombolan permekosa yang paling sering terjadi pada anak-anak.
4. Pemasungan. Hal ini sangat sering terjadi pada manusia yang tidak waras (gila) dan dianggap dapat membahayakan orang-orang disekitarnya. Namun, perbuatan ini termasuk ke dalam pelanggaran hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal.
Solusi
bagi pelecwhan pada anak berkebutuhan khusus (ABK):
1. Penanaman bilai agama dan spiritual pada setiap manusia.
2. Pemahaman hak-hak asasi manusia bagi setiap orang termasuk anak berkebutuhan khusus.
3. Penempatan anak berkebutuhan khusus (ABK) di kalangan masyarakat
1. Penanaman bilai agama dan spiritual pada setiap manusia.
2. Pemahaman hak-hak asasi manusia bagi setiap orang termasuk anak berkebutuhan khusus.
3. Penempatan anak berkebutuhan khusus (ABK) di kalangan masyarakat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar