THE
HOST
A STORY AND NOVEL BY STEPHENIE MEYER
.
.
THE HOST
BAB 3
RESISTED
.
.
.
"Dia
tidak mengenali nama baru itu," gumam Penyembuh. Sensasi baru mengalihkan
perhatianku. Sesuatu yang menyenangkan, perubahan di udara ketika Pencari
berdiri di sampingku. Aroma, pikirku menyadari. Sesuatu yang berbeda dari
ruangan steril tak berbau ini.
Parfum,
ujar benak baruku. Wangi bunga, memabukkan...
"Bisakah
kau mendengarku?" tanya Pencari, menyela analisisku.
"Kau
sudah sadar?"
"Jangan
tergesa-gesa," desak Penyembuh, suaranya lebih lembut daripada sebelumnya.
Aku
tidak membuka mata. Aku tak ingin perhatianku terganggu. Benakku memberiku kata
- kata yang kuperlukan dan nada suara yang bisa mengungkapkan maksud yang tak
bisa kuucapkan tanpa menggunakan banyak kata.
"Apakah
aku ditempatkan dalam tubuh inang rusak untuk memperoleh informasi yang kau perlukan,
Pencari?"
Terdengar
suara helaan napas--gabungan antara terkejut dan marah--lalu sesuatu yang
hangat menyentuh kulitku, menutup tanganku.
"Tentu
saja tidak, Wanderer," ujar lelaki itu menenangkan. "Bahkan Pencari
sekalipun memiliki batas - batas tertentu."
Pencari
kembali menghela napas. Mendesis, ingatanku membetulkan.
"Lalu
mengapa benak ini tidak berfungsi dengan benar!"
Sejenak
hening.
"Seluruh
pemindaiannya sempurna," jawab Pencari. Kata-katanya tidak menenangkan,
tapi bersifat menyanggah. Apakah ia ingin bertengkar denganku?" Tubuh itu
sudah sembuh sepenuhnya."
"Dari
usaha bunuh diri yang nyaris berhasil." Nada suaraku kaku, masih marah.
Aku tidak terbiasa dengan kemarahan. Sulit mengendalikannya.
"Semua
sempurna--"
Penyembuh
menyela perkataan Pencari. "Apanya yang kurang?" tanyanya."Jelas
kau telah mengakses kemampuan bicara."
"Ingatan.
Aku mencoba menemukan apa yang diinginkan Pencari"
Walaupun
tak ada suara yang terdengar, terjadi perubahan. Suasana yang menegang akibat
tuduhanku, berubah tenang. Aku bertanya-tanya bagaimana caraku mengetahuinya.
Aku
punya sensasi aneh bahwa, entah mengapa, yang kuterima melebihi yang diberikan
kelima indraku--nyaris menyerupai perasaan bahwa ada indra lain, di tepian,
yang belum banyak dimanfaatkan. Intuisi? Itu kata yang nyaris tepat.
Seolah-olah ada makhluk yang memerlukan lebih dari lima indra.
Pencari
berdehem, tapi Penyembuh-lah yang menjawab. “Ah,” katanya. “Jangan khawatir
karena sedikit kesulitan mengingat beberapa hal tertentu. Well, seharusnya itu
memang tidak diharapkan, tapi tidak mengejutkan, mengingat…”
“Aku
tidak memahami maksudmu!”
“Inang
yang satu itu adalah bagian dari perlawan manusia.” Ada sedikit nada gembira
dalam suara Pencari. “Lebih sulit menundukkan manusia-manusia yang telah
menyadari keberadaan kita sebelumnya penyisipan. Manusia yang ini masih
melawan.”
Hening
sejenak ketika mereka menunggu responku. Melawan? Inang ini menghalangi
aksesku? Sekali lagi panas kemarahan mengejutkanku.
“Apakah
aku diikatkan dengan benar?” Tanyaku. Suaraku berubah, karena keluar dari
sela-sela gigi.
“Ya,”
jawab Penyembuh. “Delapan ratus dua puluh tujuh titik telah terkunci aman,
semuanya dalam posisi terbaik.”
Benak
ini menggunakan lebih banyak kemampuan alamiku dibandingkan dengan inang apa
pun sebelumnya, dan hanya meninggalkan 181 perlekatan cadangan. Mungkin
banyaknya pengikatan adalah penyebab emosi - emosi benak ini begitu hidup.
Kuputuskan
untuk membuka mata. aku merasa perlu mengecek ulang janji - janji
Penyembuh dan memastikan bagian lain diriku bekerja.
Cahaya.
Terang, menyakitkan. Kupejamkan kembali mataku. Cahaya terakhir yang kulihat
telah disaring melalui 180 meter kedalaman laut. Tapi mata ini pernah melihat
cahaya yang lebih cemerlang dan mampu menanganinya. Aku membuka mata sedikit,
menjaga bulu mataku tetap menutupi bukaan itu.
"Kau
ingin aku mematikan semua lampu?"
"Tidak,
Penyembuh. Mataku akan menyesuaikan diri."
"Bagus
sekali," katanya. Dan aku mengerti pujian ini dimaksudkan untuk penggunaan
kata kepemilikan yang kulakukan dengan mudahnya.
Keduanya
menunggu dengan tenang sementara mataku melebar perlahan - lahan.
Benakku
mengenali tempat ini sebagai ruangan biasa di sebuah fasilitas medis. Rumah
sakit. Ubin langit-langitnya berwarna putih, berbintik-bintik agak gelap.
Lampu-lampunya persegi panjang dan berukuran sama dengan ubinnya, menggantikan
beberapa ubin dengan jarak teratur. Dinding-dindingnya hijau muda. Warna yang
menenangkan, tapi juga warna penyakit. Pilihan buruk. Dengan cepat benakku
membentuk opini.
Orang
- orang yang sedang memandangiku lebih menarik daripada ruangannya. Kata dokter
langsung terdengar dalam benakku ketika mataku tertambat pada Penyembuh. Ia
mengenakan pakaian hijau kebiruan longgar yang memperlihatkan kedua lengannya.
Jubah rumah sakit. Ada rambut di wajahnya, dengan warna aneh yang disebut ingatanku
sebagai merah.
Merah!
Sudah tiga dunia semenjak aku melihat warna itu atau warna-warna lain. Bahkan
warna kuning keemasan ini pun memenuhiku dengan nostalgia.
Penyembuh
berwajah seperti manusia umumnya bagiku, tapi pengetahuan di dalam ingatanku
menyebut kata baik hati.
Napas
tak sabar membetot perhatianku pada Pencari.
Tubuh
lelaki—Si Pencri itu sangat kecil tetapi tinggi. Seandainya ia tetap diam akan
perlu waktu lebih lama bagiku untuk menyadari keberadaannya di sana, di samping
Penyembuh. Ia tidak menarik, bagaikan kegelapan dalam ruangan terang. Ia
mengenakan pakaian hitam dari dagu sampai pergelangan tangan--setelah
konservatif dengan baju sutra turtleneck di baliknya. Rambutnya juga hitam,
memanjang sampai dagu dan disingkirkan ke balik telinga. Kulitnya lebih gelap
daripada warna kulit tubuh inangku. Setidaknya tidak pucat seperti tubuh ini.
Perubahan
kecil dalam ekspresi wajah manusia sangat minimal, sehingga sulit sekali
dibaca. Tapi ingatanku mampu menyebutkan arti pandangan di wajah lelaki ini.
Sepasang alis hitam, yang melengkung ke bawah di atas mata yang sedikit
menonjol, menciptakan bentuk yang kukenal. Bukan kemarahan. Keseriuan.
Kejengkelan.
"Seberapa
sering ini terjadi?" tanyaku, kembali memandang Penyembuh.
“Tidak
sering," Penyembuh mengakui. "Kami hanya punya sedikit sekali
persediaan inang dewasa. Inang - inang yang belum dewasa sangat mudah
dikendalikan. Tapi kau mengindikasikan bahwa kau lebih suka memulai sebagai
mahluk dewasa..."
"Ya."
"Sebagian
besar permintaan adalah kebalikannya. Masa hidup manusia jauh lebih pendek
daripada yang biasa kaualami."
"Aku
sangat memahami semua faktanya, Penyembuh. Pernahkah kau menangani...
perlawanan semacam ini?"
"Hanya
sekali."
"Ceritakan
fakta-fakta kasusnya." Aku diam sejenak. "Kumohon," imbuhku,
karena meras perintahku tidak sopan.
Penyembuh
mendesah.
Pencari
mulai mengetuk-ngetukkan jemari. Tanda ketidaksabaran. Ia tak sabar menunggu
hal yang ia inginkan.
"Ini
terjadi empat tahun yang lalu," Penyembuh memulai. "Jiwa itu meminta
inang dewasa jantan. Yang pertama tersedia adalah manusia yang telah tinggal
dalam kelompok perlawanan semenjak tahun-tahun awal pendudukan. Manusia itu...
tahu apa yang akan terjadi seandainya dia tertangkap."
"Persis
seperti inangku."
"Ehm,
ya." Ia berdehem. "Ini baru kehidupan kedua jiwa itu. Dia datang dari
Blind World--Dunia buta."
"Blind
World?" tanyaku, refleks memiringkan kepala.
"Oh,
maaf, kau tak mungkin tahu sebutan yang kami berikan. Tapi ini salah satu
duniamu, bukan?" Ia mengeluarkan alat dari saku. Komputer; lalu melakukan
pemindaian dengan cepat.
"Ya,
planet ketujuhmu. Di sektor ke-81."
"Blind
World?" ujarku lagi, kini suaraku tidak setuju.
"Ya.
Well, sebagian yang pernah tinggal di sana lebih suka menyebutnya Singing
World--Dunia Menyanti."
Aku
mengangguk pelan. Aku lebih suka sebutan itu.
"Dan
sebagian yang belum pernah ke sana menyebutnya Planet of the Bats--Planet
Kelelawar," gumam Pencari.
Aku
mengalihkan pandangan kepadanya, dan merasakan kedua mataku menyipit ketika
benakku menggali gambaran yang sesuai dengan hewan pengerat terbang jelek yang
disebutkannya.
"Kurasa kau salah satu yang belum pernah tinggal di sana, Pencari," ujar Penyembuh ringan.
"Kurasa kau salah satu yang belum pernah tinggal di sana, Pencari," ujar Penyembuh ringan.
"Pertama-tama
kami menyebut jiwa ini Racing song. Itu terjemahan bebas dari namanya di... Singing
World. Tapi dia segera memilih menggunakan nama inangnya, Kevin. Walaupun
berdasarkan latar belakangnnya jiwa ini mendapat Panggilan dalam Pertunjukan
Musik, dia menyatakan lebih nyaman melanjutkan bidang pekerjaan inangnya, yaitu
mekanik.
"Tanda-tanda
ini, entah mengapa, mengkhawatirkan Penghibur yang ditugaskan mendampinginya,
walaupun tanda-tanda ini masih dalam batas-batas normal.
"Lalu
Kevin mulai mengeluh dirinya pingsan secara berkala. Mereka membawanya kembali
kepadaku, dan kami melakukan banyak tes untuk memastikan tak ada cacat
tersembunyi di dalam otak inang itu. Selama pengetesan, beberapa Penyembuh
mengamati adanya perbedaan besar dalam perilaku dan kepribadian Kevin. Ketika
kami menanyakan hal itu kepadanya, dia mengatakan tidak ingat beberapa
pernyataan dan tindakan tertentu. Kami terus mengamatinya, bersama-sama dengan
Penghibur-nya, dan akhirnya tahu si inang secara berkala menguasai tubuh Kevin."
"Menguasai?"
Mataku membelalak. "Tanpa disadari jiwa itu? Si inang kembali mengambil
alih tubuhnya?"
"Sayangnya,
ya. Kevin tidak cukup kuat untuk menundukkan inang ini."
Tidak
cukup kuat.
Apakah
mereka juga akan menganggapku lemah? Apakah aku lemah, sehingga tak bisa
memaksa benak ini menjawab pertanyaan-pertanyaanku? Bahkan lebih lemah, karena
pikiran-pikiran hidup pemuda ini berada di dalam kepalaku, padahal seharusnya
tidak ada apa - apa di sana kecuali ingatan? Aku selalu menganggap diriku kuat.
Gagasan mengenai kelemahan ini membuatku tersentak. Membuatku malu.
Penyembuh
melanjutkan, "Terjadi peristiwa-peristiwa tertentu, lalu
diputuskan--"
"Peristiwa-peristiwa
apa?"
Penyembuh
menunduk tanpa menjawab.
"Peristiwa-peristiwa
apa?" desakku lagi. "Aku yakin aku berhak tahu."
Penyembuh
mendesah. "Memang. Kevin... menyerang salah satu Penyembuh secara fisik
ketika dia sedang tidak menjadi... dirinya sendiri." Ia mengernyit.
"Dia memukul Penyembuh sampai pingsan dengan kepalan tangannya, lalu
menemukan pisau bedah Penyembuh. Kami menemukan Kevin tak sadarkan diri. Si
inang mencoba mengeluarkan jiwa itu dari tubuhnya."
Perlu sejenak sebelum aku mampu bicara. Bahkan setelah itu pun, suaraku hanya berupa embusan napas. "Apa yang terjadi pada mereka?"
Perlu sejenak sebelum aku mampu bicara. Bahkan setelah itu pun, suaraku hanya berupa embusan napas. "Apa yang terjadi pada mereka?"
"Untungnya
si inang tak bisa mempertahankan kesadarannya cukup lama untuk menimbulkan
kerusakan parah. Kevin direlokasi, kali ini ke dalam tubuh inang yang belum
dewasa. Inang yang menyusahkan itu rusak parah, dan diputuskan bahwa tindakan
menyelamatkannya takkan banyak berguna.
"Kini
Kevin berusia tujuh tahun manusia, dan dia benar-benar normal... walaupun tetap
mempertahankan nama Kevin. Para penjaganya berusaha keras agar dia selalu
terpapar pada musik, dan itu berjalan dengan baik..." Perkataan terakhir
itu ditambahkan, seakan merupakan berita baik--berita yang, entah mengapa, bisa
membatalkan semua perkataan lainnya.
"Mengapa?"
Aku berdehem agar suaraku bisa lebih keras. "Mengapa risiko-risiko
ini tidak diberitahukan?"
"Sesungguhnya,"
Sela Pencari, "Hal itu dinyatakan dengan sangat jelas di dalam semua
propaganda perekrutan. Bahwa menyesuaikan diri di dalam tubuh inang manusayang
masih tersisa akan jauh lebih menantang daripada menyesuaikan diri di dalam
tubuh inang anak-anak. Inang yang belum dewasa sangat dianjurkan."
"Kata
menantang tidak mencakup seluruh cerita Kevin," bisikku.
"Ya,
well, kau memilih untuk mengabaikan anjuran itu." Pencari mengangkat kedua
tangan, mengisyaratkan perdamaian, ketika tubuhku menegang hingga kain kaku di
tempat tidur sempit itu berdesir pelan. "Bukannya aku menyalahkanmu. Masa
kanak-kanak sangat membosankan. Dan kau jelas bukan sembarang jiwa. Aku sangat
percaya kau mampu menangani hal ini. Ini hanya inang biasa. Aku yakin kau akan
segera mendapat akses dan kendali penuh."
Berdasarkan
pengamatanku terhadap Pencari sejauh ini, aku akan terkejut seandainya ia punya
kesabaran untuk menunggu penundaan apa pun, bahkan penyesuaian diriku secara
pribadi. Aku bisa merasakan kekecewaannya, karena tidak ada informasi yang bisa
kuberikan, dan ini mendatangkan kembali sebagian perasaan marah yang tak
kukenal.
"Terpikirkah
olehmu bahwa kau bisa memperoleh jawaban yang kaucari jika dirimu sendiri
disisipkan ke dalam tubuh ini?" tanyaku.
Tubuh
Pencari menegang. "Aku bukan peloncat."
Kedua
alisku otomatis naik.
"Itu
sebutan lain," jelas Penyembuh, "bagi mereka yang tidak menyelesaikan
satu masa kehidupan di dalam tubuh inang mereka."
Aku
mengangguk paham. Kami punya nama untuk itu di dunia-duniaku yang lain. Di
dunia mana pun, hal itu tidak disukai. Jadi aku berhenti menanyai Pencari dan
memberinya informasi sebisa mungkin.
"Namanya Melanie Stryder. Dia dilahirkan di Albuquerque, New Mexico. Dia berada di Los Angeles ketika mengetahui peristiwa pendudukan itu, dan dia bersembunyi di hutan belantara selama beberapa tahun, sebelum menemukan... Hmmm. Maaf. Akan kucoba lagi bagian itu nanti. Tubuhnya berusia dua puluh tahun. Dia menyetir ke Chicago dari..."
"Namanya Melanie Stryder. Dia dilahirkan di Albuquerque, New Mexico. Dia berada di Los Angeles ketika mengetahui peristiwa pendudukan itu, dan dia bersembunyi di hutan belantara selama beberapa tahun, sebelum menemukan... Hmmm. Maaf. Akan kucoba lagi bagian itu nanti. Tubuhnya berusia dua puluh tahun. Dia menyetir ke Chicago dari..."
Aku
menggeleng. "Ada beberapa tahap perjalanan, dan tidak semuanya sendirian.
Itu kendaraan curian. Dia sedang mencari sepupu bernama Sharon. Dia punya
alasan untuk berharap Sharon masih manusia. Dia tidak menemui ataupun
menghubungi siapa pun sebelum dirinya kepergok. Tapi..." Aku berjuang
melawan dinding kosong lain. "Kurasa... aku ragu... kurasa dia
meninggalkan catatan... di suatu tempat."
"Jadi
dia berharap seseorang akan mencarinya?" tanya Pencari bersemangat.
"Ya.
Dia akan... dicari. Jika dia tidak bertemu dengan..." Aku mengertakkan
gigi, kini aku benar-benar berjuang. Dinding itu hitam dan aku tak tahu
seberapa tebal. Kupukul-pukul dinding itu. Butir-butir keringat muncul di
kening. Pencari dan Penyembuh benar - benar diam, membiarkanku
berkonsentrasi.
Aku
mencoba memikirkan sesuatu yang lain--suara - suara bising tak kukenal yang
dikeluarkan mesin mobil, kegelisahan yang memacu adrenalin setiap kali
lampu-lampu kendaraan lain mendekat di jalanan. Aku sudah memperoleh ingatan
ini, dan tak ada yang melawanku. Aku membiarkan ingatan itu membawaku
bersamanya, membiarkannya melompati perjalanan kaki dingin melewati kota di
bawah naungan kegelapan malam, membiarkan ingatan itu bergulir ke bangunan
tempat mereka menemukanku.
Bukan
menemukanku, tapi menemukan pemuda ini. Tubuhku gemetar.
"Jangan
terlalu memaksa--" Penyembuh memulai.
Pencari
menyuruhnya diam.
Aku
membiarkan benakku tetap terpaku pada kengerian saat tepergok, kebencian
membara para Pencari yang nyaris mengalahkan segalanya. Itu kebencian yang jahat;
itu kebencian menyakitkan.
Aku
nyaris tak sanggup menanggungnya. Tapi aku membiarkan ingatan itu terus
mengalir, dan berharap tindakanku bisa mengusik perlawanan itu, memperlemah
pertahanan-pertahanannya.
Kuamati
dengan saksama ketika pemuda ini mencoba bersembunyi, lalu tahu ia tidak bisa.
Sebuah catatan, digoreskan di atas puing dengan pensil patah. Disorongkan
cepat-cepat ke bawah pintu. Bukan sembarang pintu.
"Patokannya
adalah pintu kelima di lorong kelima di lantai lima. Catatan itu ada di
sana."
Pencari memegang telepon kecil; ia bergumam cepat di telepon itu.
Pencari memegang telepon kecil; ia bergumam cepat di telepon itu.
"Bangunan
itu seharusnya aman," lanjutku. "Para Pencari tahu bangunan itu
terlarang. Pemuda ini tak tahu bagaimana dirinya bisa ketahuan. Apakah mereka
menemukan Sepupunya?"
Perasaan
ngeri membuat kedua tanganku merinding.
Pertanyaan
itu bukan berasal dariku.
Itu
bukan pertanyaanku, tapi mengalir alami lewat bibirku, seolah-olah
pertanyaanku. Pencari tidak memperhatikan ada yang aneh.
"Sepupunya?
Tidak, mereka tidak menemukan manusia lain," jawabnya, dan tubuhku
mengendur sebagai respons. "Inang ini dipergoki sedang memasuki bangunan.
Karena bangunan itu terlarang, warga yang mengamatinya merasa khawatir. Dia
menelepon kami, dan kami mengawasi bangunan itu untuk melihat apakah bisa
menangkap lebih dari seorang manusia, lalu kami bergerak masuk ketika hal itu
tampak mustahil. Bisakah kau menemukan tempat pertemuannya?"
Aku
mencoba.
Banyak
sekali ingatan, semua begitu tajam dan penuh warna, Aku melihat ratusan tempat
yang belum pernah kukunjungi, dan mendengar nama-nama mereka untuk pertama
kalinya. Sebuah rumah di Los Angeles, dibatasi pohon-pohon palem tinggi. Padang
rumput di hutan, lengkap dengan tenda dan perapian, di luar Winslow, Arizona.
Pantai berbatu karang yang sepi di Meksiko. Gua dengan pintu masuk dijaga tirai
hujan, di suatu tempat di Oregon. Tenda, gubuk, tempat-tempat perlindungan
sederhana. Dengan berjalannya waktu nama-nama itu semakin kabur. Pemuda ini tak
tahu dimana dirinya berada, dan juga tak peduli.
Kini
namaku Wanderer, tapi ingatan-ingatan pemuda ini sangat cocok dengan namaku,
walaupun aku berkelana berdasarkan pilihan sendiri. Kilas - kilas ingatan ini
selalu diwarnai ketakutan seorang buronan. Ia tidak berkelana, tapi melarikan
diri.
Aku
mencoba untuk tidak merasa iba, tapi berjuang memfokuskan ingatan-ingatan itu.
Aku tidak perlu mellihat kemana saja pemuda ini pernah pergi, tapi hanya ke
mana ia akan pergi. Aku menyortir gambar - gambar yang berkaitan dengan kata
Chicago, tapi tampaknya semua hanya gambaran acak. Kuperluas jaringku. Ada apa
di luar Chicago? Dingin, pikirku. Udaranya dingin, dan ada semacam kekhawatiran
soal itu.
Di
mana? Aku mendesak, dan dinding itu muncul kembali.
Kuembuskan
napas dengan muak. "Di luar kota--di hutan belantara... taman nasional,
jauh dari pemukiman mana pun. Bukan tempat yang pernah dia kunjungi, tapi dia
tahu cara kesana."
"Berapa
lama?", tanya Pencari.
"Segera."
Jawaban itu muncul otomatis. "Sudah berapa lama aku di sini?"
"Kami
membiarkan si inang menyembuhkan diri selama sembilan hari, hanya untuk
benar-benar memastikan kepulihannya," jelas Penyembuh. "Penyisipannya
hari ini, pada hari kesepuluh."
Sepuluh hari. Tubuhku merasakan gelombang kelegaan yang mengejutkan.
Sepuluh hari. Tubuhku merasakan gelombang kelegaan yang mengejutkan.
"Terlambat,"
kataku. "Untuk tempat pertemuan itu... atau bahkan catatan itu." Aku
bisa merasakan reaksi si inang terhadap perkataanku--bisa merasakannya jauh
lebih kuat. Inang ini nyaris merasa... puas. Aku membiarkan kata - kata yang
hendak diucapkan si inang, supaya aku bisa mempelajarinya. "Lelaki itu
takkan berada di sana."
"Lelaki?"
Pencari menyambar informasi jenis kelamin yang kuucapkan. "Siapa?"
Dinding
hitam menghujam dengan kekuatan lebih besar daripada yang digunakan pemuda ini
sebelumnya. Tapi ia sedikit terlambat.
Sekali
lagi wajah itu memenuhi benakku. Wajah tampan dengan kulit pucat dan mata
berbintik - bintik terang. Wajah yang menggugah perasaan nikmat mendalam yang
aneh di tubuhku ketika aku memandanginya dengan begitu jelas di benakku.
Walaupun
dinding itu menghujam pada tempatnya, diiringi sensasi kejengkelan luar biasa,
tindakan itu tidak cukup cepat.
"Jared,"
jawabku. Dengan sama cepat, seakan perkataan itu berasal dariku, pikiran yang
bukan milikku mengikuti nama itu lewat bibirku. "Jared aman."
.
.
.
TO BE
CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar