Laman

Minggu, 19 Januari 2014

R I V A L (CERPEN)


Nah, kalau yang ini cerita aslinyaa.. yuk yuk baca hahaha:D

S E S I  A L F A  D A N  D O N I

Sabtu pagi adalah hari dimana biasanya anak sekolah bermalas-malas ria, tidur sampai puas setelah melewati 5 hari yang penuh dengan kegiatan dari pagi sampai sore. Yap! Hari libur!

Tapi, lain halnya dengan Alfa dan Doni yang sibuk dengan pekerjaan yang harus diselesaikannya—padahal liburan sebentar lagi tetapi masih ada satu event yang belum mereka selesaikan dan tentu saja ini masih pertengahan bulan mereka menjabat sebagai OSIS. ­

“Apa boleh buat coba! Kepsek gak ngizinin kita buat mengundurkan diri seenaknya, justru yang kayak begitu harus di pertimbangkan lagi. Hasilnya malah lebih mengecewakan. Mau gak mau gue harus bantuin lo disini.” Alfa menggerutu untuk yang kesekian kalinya sambil sesekali membantu Doni menyerahkan tumpukan kertas dengan kasar.

Doni hanya mendengarkan tanpa mengacuhkan perkataan teman yang berada didepannya saat ini. Suasana hening dan gemericik kertas memeluk ruangan yang tak besar, tetapi tetap terasa luas karena di dalamnya hanya ada Alfa, Doni dan beberapa teman lainnya yang saat itu juga ikut membantu.

CKREK..!

“Paparazzi sialan!” Alfa menyumpah serapah kepada Cleon—siswa turunan Jerman yang lebih dikenal dengan julukan paparazi yang selalu membawa kamera di lehernya. Ia selalu siap untuk membidik siapapun yang sedang lengah.

Saat Hanny, teman seperjuangan Alfa dan Doni bertanya kepada Cleon mengapa ia selalu membawa kamera? Maka ia selalu menjawab bahwa membidik kamera sesuka hatinya adalah hobinya dari kecil.

“Momen kalian manis banget sih, jadi sayang kalo nggak diabadiin.” Cleon menyeriangi dengan cengiran kuda sebelum akhirnya beranjak untuk mencari korban lain.

Alfa semakin menggerutu. Tak tahu apa yang menyebabkannya sangat sensitif kali ini sementara Doni masih tetap asik dengan program kerjanya. “Yah, seenggaknya hari ini lo nemenin gue disini, karena gue benci sendirian.”

“Ya ya, ketuplak! Untuk kali ini aja lo yang menang, selain ini gue yang harus menang! Sebaliknya, gue gak akan nemenin lo lagi. Tapi lo yang bakalan nemenin gue.” Alfa mulai menggerutu lagi dan hal ini membuat Alfa merasa bosan.

Wajah Doni tersenyum tipis. “Lo udah denger? Meyza minta bantuan kita untuk ngerjain Hanny, dia akan pulang beberapa hari lagi.”

“Iyee.... Lo udah bilang hal itu berulang kali.”

“Oh iya? Gue baru bilang sekarang kok.” Matanya masih terpaku pada kertas-kertas yang ia genggam. Kemudian mengerutkan keningnya.

“Entahlah............”

Doni menghela napas, “lo apaan sih, Pa? Kayak anak kecil aja ngambekan mulu elaahh. Lo merasa tersaingi sama gue? Lagian lo temen gue kaleee gausah merasa ada yang paling menang dong, Pa. Gak ada istilah rival di dalam pertemanan kita berdua. Kalo gue unggul lo juga unggul. Kebahagiaan gue, kebahagiaan lo juga,” kali ini ia meletakkan kertas-kertasnya. Memalingkan mata untuk menatap Alfa.

“Don! Udah berjuta-juta kali gue temenan sama lo, tapi lo selalu aja manggil gue ‘Pa’ bukan ‘Fa’ beda huruf beda makna dong..”

Keningnya berkerut lagi, “tuhkan yang gak jelas kayak begitu malah lo bahas, yang tadi gue omongin apa coba? Ga nyambung lo!” tatapannya berubah sinis.

“Yah elo, Don.. Lagian kata-kata lo buat gue terharu sih. Jadinya gue bingung mau ngomong apaan._.”

Cengiran Alfa tak mampu menghilangkan sikap sinis pada Doni. “Gue hanya mencoba untuk bersikap bijak ngadepin bocah kayak elu. HEUH.” Ia tak habis pikir apa yang sebenarnya Alfa inginkan. Kadang sikap kekanak-kanakkannya berlebihan. Membuat dirinya merasa lucu. Di relung hatinya ia tertawa geli.

“Gue unggul disaat-saat yang biasa. Tapi lo unggul disaat yang luar biasa. Lo tau apa artinya? Gue selalu unggul tanpa menguakkan aroma-aroma keunggulan gue pada dunia. Sedangkan lo? Justru menebarkan aroma keunggulan elo di hadapan banyak orang. Gue harus apa biar diri gue gak selalu di pandang sampah? Orang-orang selalu nyapa elo, padahal ada gue di samping lo. Gue yang selalu ada buat elo.”

Tatapannya kembali bersahabat.“Oh, God....”

“Jadi sejauh kita melangkah berdua cuma hal hal bodoh kayak gini yang lo pikirin? Gak ada hal lain yang kita perbuat, he? Gini deh, Pa. Semua orang punya kemampuan menciptakan aroma-aroma itu masing-masing dalam bentuk apapun. Jalan gue dengan terpilihnya gue menjadi ketuplak dan belum tentu itu jalan elo. Jangan mau selalu dihargain sama orang dong, Pa. Tapi kita yang harus menghargai orang lain terlebih dahulu. Dunia ini lebih kejam dari apa yang lo ketauin, Pa. Lo harus bisa memahami situasi lo sebagai diri lo, bukan sebagai diri gue. Gue gak bakalan ada di samping lo saat itu. Tapi gue bakalan ada dibelakang lo untuk ngedukung lo yang berada di depan.”

“Tapi lo selalu berhasil daripada gue, Don! Gue gak bisa apa-apaaa!”

“Pa, di dunia ini manusia bukan cuma gue doang. Ada orang lain yang bahkan jauh lebih buruk daripada lo. Kemana sikap percaya diri Alpa— yang membuat semua orang lebih bersemangat? Kemana temen gue yang selalu teliti dan cerdas? Lo inget sesosok Sherlock Holmes? Dia bahkan tak ingin dirinya dikenal banyak orang. Tetapi dia ikhlas mengerjakan kesukaannya—bahkan ia jarang sekali bergaul dengan dunia luar. Tapi orang orang kenal dengannya, kan? Itu karena dia selalu membantu orang lain tetapi dia tak mengharapkan kebaikannya kembali dari orang lain. Justru orang-orang seperti itulah yang gue anggap luar biasa.”

“Tapi lo gak ngerti keinginan gue untuk dikenal banyak orang, Don. Biar dunia menjadi milik gue. Gue cuma mau mereka itu melihat adanya gue.”

CREK!!

Alfa dan Doni spontan ke asal suara. Cleon, Hanny, Slayton dan Manda— teman Alfa dan Doni yang kabarnya hanya mempunyai keasikan diri sendiri, dia sangat suka bernyanyi dan menceritakan pengalamannya pada diri sendiri. Aneh bukan? Mereka sudah duduk rapih pada kursi di hadapan Alfa dan Doni. Cengiran Cleon tampak lebih lebar dari sebelumnya.

“Hanny, katanya lo mau difoto ya? Dimana? Ayuk yuk jangan disini.” Cleon menarik tangan Hanny untuk segera pergi dari sana. Sebelum Alfa dan Doni memarahi mereka. Tak lama, Slayton menyusul dengan memanggil nama mereka berdua. Alfa dan Doni masih memperhatikan Manda.

"Tak semestinya. Kita berhenti disini. Masih terbentang luas. Jalan menuju cita.
Meski tujuh lapisan langit. Akan kutembus. Meski mereka bilang sulit bagiku. Mungkin...
Meski berjuta jarak waktu. Harus kulalui. Meski mereka bilang. Sulit bagiku. Mungkin..."

Suara nyanyian yang begitu indah keluar dari mulut Manda. “Kalian mau ikut nyanyi bareng saya?”

Alfa dan Doni spontan menggeleng dan bersikap tak peduli. Manda terkekeh pelan, sebelum akhirnya meninggalkan mereka dengan nyanyian-nyanyian yang lain. “Tak apelah, saya bisa nyanyi sendiri.”

 Suara Manda memang enak didengar. Tapi kekhawatiran mereka adalah jika Manda sudah asik dengan dunianya sendiri, ia seperti ‘orang gila’ yang pada dasarnya cerdas tetapi aneh. Tak bisa di pungkiri Manda selalu tampil pada lomba-lomba yang membuatnya tak menjadi ‘sampah’. Semua orang tetap mampu memahaminya. Walaupun begitu, tanpa disadari lirik nyanyiannya sangat berpengaruh pada sebagian orang-orang di sekelilingnya. Seperti membantu memecahnya sebuah kasus.

Keesokan harinya kepala sekolah telah menagih pekerjaan Doni. “Jadi bagaimana Don? Sudah kau selesaikan pekerjaan kau itu?”

“Sudah pak. Ini proposalnya, bapak tinggal baca apakah acara ini disetujui atau tidak itu terserah bapak. Kalaupun ada beberapa yang tidak bapak setujui saya bisa menjelaskannya lebih rinci,” Doni bersikap sangat sopan. Pak kepsek hanya mengangguk paham.

“Pa, kita ada job nih.” Walaupun sempat menoleh pada si pembicara, Alfa tak tertarik pada pembicaraan kali ini.

“Pa, kita ada kasusss pa! Kasuss! Lo biasanya semangat kalau tentang kasus? Ayolaah!” Alfa tetap tak menggubris perkataan Doni.

Doni menghampiri Alfa yang sedang sibuk memegang banyak surat. “Wow, lo dapet juga, Pa? Gue kira cuma gue yang dapet.”

“Entahlah, Don. Gue gak ngerti apa arti dari surat surat yang banyak ini. Lo juga dapet? Apa yang bisa lo simpulin dari isinya?”

Belum sempat Doni menyampaikan maksudnya—­­Hanny mendarat dengan sukses di samping Doni. Sepertinya ia berlari tadi sampai ke kelas, nafasnya tidak karuan.

“Ada apaan sih, Han? Ngos-ngosan begitu?” Doni memandanginya dengan aneh.

“Hah hoh.. Kalian dapet surat juga?” Hanny beranjak untuk mengambil surat yang ada di tangan Alfa.

“Gue kira kalian baru tahu. Jadi, sekarang gue ga perlu khawatir kan? Byeeee!”

Alfa dan Doni sama-sama mengerutkan dahi. “Aneh sekali kelakuan teman kau itu,” Alfa langsung berkomentar dengan gaya batak. Doni hanyaa terkekeh.

“Jadi, bagaimana kesimpulan isinya?”

Belum sempat Doni menjawab. Ada yang memasuki kelas lagi. Tampaknya Slayton yang sengak itu yang memasuki ruangan. Mau apa dia disini?

“Wah, kalian sedang sibuk sepertinya?”

“Jangan bilang lo dapet surat juga?” Doni menimpali.

“Ah, siapa bilang? Tentu saja! Tapi kalian tidak perlu khawatir soal itu. Aku sudah membereskan semuanya. Kalian sangat lamban untuk bergerak. Finally, aku lah yang menjadi pahlawannya.” Slayton menyombongkan diri.

“Apa maksud dari surat surat ini, Slayton?” Entah mengapa Doni berbicara dengan baku seperti Slayton. Padahal gaya berbicaranya tak seperti itu.

“Wah, sepertinya kalian tak sabar mendengar ceritanya, ya? Well, aku akan memberi tahu kalian tentang kasus ini. Tapi, bisakah kalian membantuku? Aku sangat memerlukan bantuan kalian. Aku akan memberitahu setelah kalian membantuku,” Slayton dengan angkuhnya menaikkan sebelah alisnya, meminta persetujuan.

“What? Apa maksud lo, Slay?”

“Slay? Itu bukannya yang buat roti itu ya?”

“Itu selai, Slayton-______-“ Alfa gregetan juga dibuatnya.

“Hei, berhentilah main-main, jelaskan kami apa yang kamu maksudkan?”

            “Bersabarlah sedikit, kawan. Ini tentang Meyza. Aku pikir kalian pantas untuk membantuku. Dan ini berhubungan dengan Hanny.”

            Setelah mengetahui apa yang Slayton rencanakan, Alfa dan Doni mengangguk setuju.

            “Wah, rupanya hatimu sudah rendah, ya? Bisa-bisanya meminta tolong kepada kami? Berarti kau mengakui kalau kami itu lebih unggul kan daripada kau?” Dengan wajah amit-amit Doni mengikuti cara berbicara Slayton, tapi malah terdengar aneh.

            “Berhentilah berbicara seperti itu. Walaupun begitu aku berhasil memecahkan arti dari surat-surat ini kan? Kalian dan aku tak ada bedanya.”

            Tetapi keesokan harinya, surat-surat itu bertambah banyak. Lebih banyak dari hari sebelumnya. Mungkin analisis Slayton salah. Atau memang dia tidak menyelesaikan kasus ini?



Wah ceritanya masih ngegantung ya?:p Tungguin aja kisah selanjutnya yaaaaaaJ)) jangan pernah bosen sama blog ini. See you next time;))


By: Amanda Hanifah Nur Hilizza
Thanks to: Savira Mujahidah yang dari awal sudah mensupport wkwk. Alfi dan Dani yang sudah berkenan di masukkan plesetan nama dan karakternya. Thankyouuu:D




Alfa, Doni, Tessie dan kawan-kawan (Fairy Tale Version)(CERPEN)


         Haii teman temaaannn:D Pasti kalian udah nungguin Sesi Alfa dan Doni selanjutnya kan? Kali ini ceritanya bakalan beda dan sudah pasti lanjutan dari cerita kemaren. Cerita yang ini ada dua versi. Yang pertama adalah yang mau aku post sekarang. Sebenernya cerita yang ini tambahan aja, soalnya larinya lebih ke fairy tale gitu hahah. Cerita yang sebenernya bakalan aku post juga hari ini. Jadi hari ini aku post langsung dua cerita. Enak kan?:D Yuk langsung liat ajaaaa:D


 S E S I  A L F A  D A N  D O N I

Sabtu pagi adalah hari dimana biasanya anak sekolah bermalas-malas ria, tidur sampai puas setelah melewati 5 hari yang penuh dengan kegiatan dari pagi sampai sore. Yap! Hari libur!

Tapi, lain halnya dengan Alfa dan Doni yang sibuk dengan pekerjaan yang harus diselesaikannya.

“Apa boleh buat! Kepsek gak ngizinin kita buat mengundurkan diri seenaknya, justru yang kayak begitu harus di pertimbangkan lagi. Hasilnya malah lebih mengecewakan. Mau gak mau gue harus bantuin lo disini.” Alfa berkomentar sambil sesekali membantu Doni menyerahkan tumpukan kertas.

Doni hanya mendengarkan tanpa mengacuhkan pekerjaannya saat ini. Suasana hening dan gemericik kertas memeluk ruangan yang tak besar, tetapi tetap terasa luas karena di dalamnya hanya ada Alfa, Doni dan beberapa teman lainnya yang saat itu juga ikut membantu.

CKREK..!

“Paparazzi sialan!” Alfa menyumpah separapah kepada Cleon—siswa turunan Jerman yang lebih dikenal dengan julukan paparazi. Cleon selalu membawa kamera di lehernya. Ia selalu siap untuk membidik siapapun yang sedang lengah.

Saat Hanny, teman seperjuangan Alfa dan Doni bertanya kepada Cleon mengapa ia selalu membawa kamera. Kamera adalah hobinya dari kecil. Maka ia selalu menjawab bahwa membidik kamera sesuka hatinya adalah hobinya dari kecil.

“Momen kalian manis banget sih, jadi sayang kalo nggak diabadiin.” Cleon nyengir kuda sebelum akhirnya kabur untuk mencari korban lain.

Alfa menggerutu sementara Doni masih tetap asik dengan program kerjanya. “Yah, seenggaknya hari ini lo nemenin gue disini, karena gue benci sendirian.”

“Ya ya! Untuk kali ini aja lo yang menang, selain ini gue yang harus menang! Sebaliknya, gue gak akan nemenin lo lagi. Tapi lo yang bakalan nemenin gue.” Alfa mulai ricuh dan hal ini membuatnya merasa bosan.

Wajah Doni tersenyum tipis. “Lo udah denger? Meyza minta bantuan kita untuk ngerjain Hanny, dia akan pulang beberapa hari lagi.”

“Iyee.... Lo udah bilang hal itu berulang kali.”

            “Doniii!!” Antusias salah satu perempuan yang belakangan ini dekat dengan Doni. Bahkan kabarnya, mereka sudah berhubungan lebih dari teman.

            “Ah, si nenek lampir! Mau apa sih dia kesini?” Alfa berkata sinis, dia memang selalu begitu kalau ada si nenek lampir yang selalu mendekati Doni, Tessie.

            “Lo lupa ya, Pa? Gue sama dia kan mau berkunjung ke suatu tempat, sekalian memecahkan kasus yang ada di sekitar sana. Lo udah baca beritanya?”

            “Huh, udah berulang kali gue bilang ke lo kalau nama gue itu Alfa, bukan Alpa! Lo mauan aja di ajak ke neraka sama nenek lampir kayak begitu. Iyuww, gue mah ogah! Maksud lo berita aneh di tempat wisata itu?”

            Tessie yang dari tadi diam memilih untuk pergi setelah menunggu mereka bercakap-cakap. Ia sedikit kesal pada Alfa. Doni sudah menyingkirkan dan memasukkan kertasnya kedalam tumpukan dokumen yang ia kumpulkan jadi satu. Alfa pun melakukan hal yang sama.

            “Lo sama Tessie kenapa selalu ga akur sih? Jinak sedikit dong, Pa. Dia kan pacar gue. Ya, di tempat itu selalu aja ada yang berubah setiap malamnya. Entah bunga yang dengan sendirinya mengganti macam bunga, kerusakan tanaman. Apalah itu. Menurut lo gimana?”

            “Entahlah, Don. Gue selalu punya aura beda kalau lagi deket nenek lampir itu~ Entahlah, Don. Gue gak bisa mikir kali ini. Mungkin perbuatan iseng,” dengan muka meremehkan Alfa menjawab pertanyaan dari Doni.

            “Oh iya? Wah, jangan-jangan lo masih suka sama dia ya? Lo jadi kesel gara-gara lo belum terima kalau gue pacaran sama Tessie?! Temen makan temen lu! Gak mungkin! Kalaupun emang ada yang iseng, pasti petugas disana tahu perbuatan siapa. Lagian lo tau darimana kalu ini perbuatan iseng? Jangan-jangan pelakunya elo lagi” Doni meledek Alfa, wajahnya pura-pura kaget.

            “Ya enggaklah! Gue udah lupain dia kali. Tapi asli, dia muncul di hadapan gue terus sih. Mana gue tau, gue kan cuma nebak.”

            Ya, Alfa dan Doni memang menyukai satu perempuan yang sama. Mereka sempat berselisih karena tak ada yang mau mengalah. Apalagi mereka berdua memiliki sifat yang sama yaitu keras kepala.

            Tessie adalah salah satu teman satu angkatan mereka. Tetapi beda kelas dengan Alfa dan Doni. Salah satu ketertarikan mereka berdua menyukai Tessie adalah wajahnya tidak cantik, tetapi manis. Tessie diam saja kalau ada sesuatu yang membuatnya benci. Dia selalu menerima apa adanya seseorang yang di sekelilingnya dan selalu berfikir terlebih dahulu ketika ingin berbicara. Itulah salah satu keunikan Tessie. Dan Doni sangat menyukai Tessie lebih daripada Alfa menyukai Tessie.

            Sore itu, Doni dan Tessie pergi ke tempat yang mereka tuju. Dengan berat hati Alfa tidak ikut. Karena Doni tidak mau kencan colongannya ini menjadi kacau kalau dia selalu menyebut Tessie dengan kata ‘nenek lampir’. Mendengarnya saja Doni sudah geli. Ia tak mau mengambil pusing.

            Setelah merasa cukup, mereka menuju tempat kejadian yang mengalami penurunan drastis hilangnya sumber daya alam.

            Zzzzz. Tessie merasa dirinya diperhatikan oleh seseorang. Tapi tak ada siapapun. Dia menggelengkan kepala, merasa takut.

            “Lo kenapa, Sie?” Doni menyadari keanehan Tessie.

            “Ah, enggak. Oh iya, lo udah periksa sebelah sana? Kayaknya itu bisa dijadikan petunjuk.” Ucap Tessie sambil menunjuk ke tempat yang berserakan dan tak teratur.

            Doni hanya mengangguk tanpa berkomentar dan berjalan ke arah yang di tunjuk Tessie seorang diri. Seseorang yang memperhatikan Tessie tadi masih berada di sekitar sana. “Bodoh...” Ia tersenyum sinis.

            Doni mendekati kerumunan. Ada beberapa polisi yang sedang memeriksa, dan sisanya orang-orang yang penasaran dengan tempat ini.

“Hei, adakah yang aneh di sekitar sini sebelum kita menyadari hal ini?” Seorang pemuda memakai jubah hitam yang berperawakan tinggi dan kurus. Wajahnya tirus pucat. Kesan yang membuat semua orang berpikiran seleranya sedikit memaksa. Ya, tubuhnya yang kurus malah kebanting dengan jubah hitamnya.

            “Ya, aku mendengar suara berisik. Seperti ada banyak nyamuk di tempat ini. Tempat ini tempat wisata, banyak orang yang datang kesini untuk berekreasi. Jika memang ada banyak nyamuk, itu mustahil. Sudah pasti orang-orang akan memberitahuku sebagai penjaga tempat ini,” seorang pria yang sudah tua menjelaskan dengan panjang lebar. Raut wajahnya sama sekali tak paham.

            “Ya, aku mengerti. Kalau peristiwa ini di rangkai jadi satu...” Ia berpikir keras. “Ah iya, sekarang aku tau trik apa yang ia gunakan. Tapi aku masih belum bisa menemukan pelakunya. Bagaimana ini?” Lelaki itu kebingungan sendiri.

            “Pak polisi, bapak tahu orang yang berjubah hitam itu?” Doni memberhentikan salah satu petugas polisi sambil menunjuk orang yang dimaksud.

            “Aku tak tahu, mungkin ia hanya penasaran. Oh, ya! Dia sesekali membantu menganalisis kejadian.” Pak polisi itu langsung berjalan kembali setelah Doni berterimakasih.
            “Hei, lo udah periksa tempatnya?” Kehadiran Tessie mengagetkan Doni, ia sempat terlonjak.

            “Belum, tapi mungkin gue tau trik yang dipakai si pelaku. Gue belum nemuin pelakunya dan buktinya. Gue gak tau apa analisis gue ini tepat atau tidak, dan ini sungguh mustahil bagi kebanyakan orang.”

            “Lo bisa ngira-ngira itu dalam waktu yang singkat ini?” Mata Tessie berbinar-binar. Doni hanya tertawa, berlagak sok.

Orang yang dari tadi memerhatikan Tessie masih berada disana. “Cih!...”

            “Don, coba liat ini. Kupu-kupunya bagus banget! Tapi kasian, ujung sayapnya patah. Mungkin karena tempat ini berantakan dan tak teratur. Sekarang, ia tak bisa terbang.” Tessie menaruh kupu-kupu itu di telapak tangannya yang terpengadah.

            “Lo suka binatang ya, Sie?”

            “Ya, darimana lo tau itu?”

            “Haha, gue tau dari raut wajah lo itu menunjukkan bahwa lo sangat peduli pada mereka.”

            “Ya, gue suka banget binatang. Gue pelihara banyak binatang dirumah.”

            Doni terkekeh pelan melihat Tessie dengan mata antusias. Disekitar mereka memang ada beberapa binatang terbang.

            Tak lama setelah itu petang tiba. Langit berubah menjadi kelam tak berwarna. Di sekitar tempat kejadian, para polisi sudah bubar. Termasuk Doni dan Tessie yang sudah meninggalkan lokasi semenjak sudah tak dibutuhkan lagi pemeriksaan. Suasana berubah menjadi sepi.

            Tiba-tiba terdengar suara berisik diriingi oleh langkah kaki sebuah hak sepatu yang dipakai oleh orang itu.

            “Dugaan gue bener, Tessie. Bahwa lo orangnya!”

            Tessie yang dimaksud orang itu sedikit terlonjak dan menoleh kebelakang. “Mau apa lo kesini?” Wajahnya terpaku kaget.

           “Lo harus ceritain ke polisi dari awal beberapa menit lagi, karena polisi akan kembali kesini.”

            “Oh, jadi lo udah tau ya?!” Tessie bersikap tenang lagi.

            “Ya! Termaksud gue....” Orang yang tadi berjubah hitam muncul dihadapan mereka berdua.

            Akhirnya polisi pun datang. Tak beberapa lam Doni pun datang.

            “Ceritakan semuanya dari awal Tessie, jangan ada yang terlewat satu kenyataan pun.” Alfa tak sabar.

            “Mungkin udah saatnya gue nyeritain ini ke dunia, walaupun mereka tahu. Dan mereka menyaksikan semuanya disini. Walaupun menurut kalian ini seharusnya tak ada. Tapi ini benar-benar nyata. Ayahku yang pertama kali menemukannya. Dia menyelidiki setiap hari bahwa ada mahluk bernama Degon. Mereka sangat kecil, kira-kira seukuran anak tikus. Degon berwarna coklat samar, ia sangat menyukai madu, kalau lapar warna kulitnya berubah menjadi hijau pudar. Dia hanya bisa dilihat jika dia menyemburkan sejenis air liurnya ke mata kita agar kita bisa melihatnya.”

            “Tak hanya Degon, ada banyak jenis makhluk disini. Ada yang seperti kupu-kupu dan jumlah mereka sangat banyak. Ayahku merawat mereka agar tidak punah. Mereka hanya ingin di lindungi. Mereka hanya ingin hidup.”

            “Tessie, bisakah aku melihat Degon?” Laki-laki berjubah hitam itu ternyata mengetahui nama Tessie. Mungkin dia salah satu anak satu sekolahnya. Termaksud satu sekolah dengan Alfa dan Doni.

            “Tentu saja, Slayton.”  Lalu dia berbicara samar dengan makhluk bernama Degon itu.

            Tiba-tiba ada air liur yang menyembur ke mata laki-laki berjubah hitam yang bernama Slayton itu. Ia terkejut dan mengucek cepat air liurnya. Ia menatap jijik.

            “Kau melihatnya?” Alfa bertanya pada Slayton.

            Ia mengangguk cepat. Matanya masih terpaku pada makhluk yang berada didepannya. Tak berapa lama, air liur menyembur lagi pada orang yang berada di sekita sana. Mereka semua terpaku. Termaksud Alfa dan Doni yang hanya bisa terdiam dari tadi. Mereka terlihat seperti makhluk yang menyeramkan di malam hari.

            “Seperti itulah mereka, sekarang kalian percaya kan?” Tessie menunggu dengan pasti.

         “kenapa lo gak ceritain ini pada semua orang? Agar mereka sama-sama melindunginya.”

            “Itu gak mungkin, Alfa. Sebelum Ayah gue meninggal. Dia berpesan bahwa hal ini gak boleh ada satu orang pun yang tau, mereka bisa menguasai dunia kalau mereka tak terima. Tapi mereka hanya sejenis binatang. Manusialah orang yang paling berkuasa di dunia. Dan gue pernah ngejelasin semuanya pada mereka tentang hal ini. Dan mereka mengerti,” Tessie menjelaskan dengan panjang lebar.

            “Tentang gue jadian sama Doni, itu hanya akal-akalan gue doang agar mereka tertarik dengan cerita tentang hal ini. Agar gak gue doang yang merahasiakan tentang hal ini. Tapi semuanya sudah tahu, tak ada yang harus disesali, kan? Kenyataan yang gak bisa di pungkiri adalah gue benar-benar jatuh cinta sama Doni.” Sambung Tessie mengaku tentang perasaannya yang telah ia pendam sekian lama. Bahwa hanya dia seorang diri yang mengurus semuanya. Tanpa ada satu orang pun yang tahu. Ia tahu bahwa Alfa dan Doni sering menganalisi kasus. Mungkin hal ini dapat membantunya.

Di lokasi angin menampar halus wajah Alfa dan Doni. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan mereka masih saja betah berada disana.

“Pada akhirnya, kita gak bisa mengubah takdir, Pa. Gue udah terlanjur sayang dan dia juga begitu. Tapi apa boleh buat, dia gak bisa ngelanjutin hubungan lagi.”

“Udahlah, Don. Itu berarti ada yang lebih baik daripada Tessie,” Alfa berlagak menasehati Doni. Ia memegang pundah kiri Doni. Bermaksud untuk menenangkan dia yang sedang putus cinta.

Doni mengibaskan pundaknya. “Apaan sih, gue kan ga galau gak kayak elo!”

“Loh? Biasa aja dong don? Lagian lo masang muka yang mesti di kasihanin sih. Jelek banget!” Alfa terkekeh pelan.

“Heh! Muka lo tuh yang jelek. Ngaca dong! Gue sama lo kan lebih ganteng gue-__-“ Doni memasang tampang datar. Dan ini membuat Alfa tertawa puas.

            “Hem, itu makanya mau gak mau mereka memakai taman ini untuk hidup mereka, yah. Tessie dia gak salah. Dia hanya mencoba peduli. Dan satu lagi, Pa. Gue selalu berhati-hati kalau dekat dia dan lo tau apa artinya.” Doni menoleh pada Alfa dan menatap tajam ke matanya. Alfa menghentikan tawanya.

            “Maksud lo, lo udah tau hal ini sebelum dia ngejelasin tadi?”

            “Enggak, maksudnya gue udah tau kalau dia itu sama seperti apa yang ada di pikiran lo. Makanya gue selalu was-was kalau lagi sama dia. Gerak-geriknya sama sekali gak wajar. Dan gue udah tau pelakunya sebelum lo main hakim sendiri bersama sahabat baru lo.”

            “Jadi lo udah tau dari awal siapa pelakunya? Darimana lo tau itu? Sahabat baru? Maksud lo dia?” Alfa menunjuk ke arah laki-laki berjubah hitam yang dari tadi masih ada di lokasi, terlihat dia sedang mencatat sesuatu.

            “Ya, gue tau begitu dia bilang dia suka binatang. Apalagi kupu-kupu. Gue rasa ada hubungannya sama makhluk yang bersayap. Apalagi gue denger dari petugas sini selalu ada suara berisik dan langkah kaki. Tapi itu bukan suara berisik, melainkan berbisik. Mungkin gue salah dengar. Ya, dia sahabat baru lo, kan?”

            “Ya, pemikiran kita sama, Don. Gue udah lama gak mecahin kasus apapun setelah kita lulus SMP 2 tahun yang lalu. Makanya gue ngikutin elo diem-diem. Gue gak akan mau mecahin kasus sendirian lagi, Don. Karena gue merasa ada sesuatu yang hilang.” Belum sempat Alfa meneruskan, terdengar suara memotong.

            “Bukan, dia bukan sahabat gue. Denger ya ketua osis! Bukan cuma lo dan sahabat lo ini yang bisa menguasai semuanya. Kalian bisa jadi pengurus osis kenapa gue engga? Kalian bisa mecahin kasus kenapa gue engga? Satu hal yang harus lo inget kalo lo jadi pemimpin adalah peduli sama sesuatu yang ada di sekeliling lo.”

            “Jadi lo satu sekolah sama kita, heh?”

“Ya, mungkin kita bisa bekerja sama untuk membantu Meyza mengerjai Hanny.” Slayton tersenyum tipis. Padahal tadi nada bicaranya tak hangat.


Alfa dan Doni saling berpandangan heran.


  By: Amanda Hanifah Nur Hilizza
 Thanks to: Savira Mujahidah yang sudah membantu sedikit mengganti kata-kata haha. Alfi dan Dani yang sudah di perkenankan dimasuki pemeran dan karakternya:D