Nah, kalau
yang ini cerita aslinyaa.. yuk yuk baca hahaha:D
S E S I A L F A D A N
D O N I
Sabtu pagi
adalah hari dimana biasanya anak sekolah bermalas-malas ria, tidur sampai puas
setelah melewati 5 hari yang penuh dengan kegiatan dari pagi sampai sore. Yap!
Hari libur!
Tapi, lain
halnya dengan Alfa dan Doni yang sibuk dengan pekerjaan yang harus
diselesaikannya—padahal liburan sebentar lagi tetapi masih ada satu event yang
belum mereka selesaikan dan tentu saja ini masih pertengahan bulan mereka
menjabat sebagai OSIS.
“Apa boleh
buat coba! Kepsek gak ngizinin kita buat mengundurkan diri seenaknya, justru
yang kayak begitu harus di pertimbangkan lagi. Hasilnya malah lebih
mengecewakan. Mau gak mau gue harus bantuin lo disini.” Alfa menggerutu untuk
yang kesekian kalinya sambil sesekali membantu Doni menyerahkan tumpukan kertas
dengan kasar.
Doni hanya
mendengarkan tanpa mengacuhkan perkataan teman yang berada didepannya saat ini.
Suasana hening dan gemericik kertas memeluk ruangan yang tak besar, tetapi
tetap terasa luas karena di dalamnya hanya ada Alfa, Doni dan beberapa teman
lainnya yang saat itu juga ikut membantu.
CKREK..!
“Paparazzi
sialan!” Alfa menyumpah serapah kepada Cleon—siswa turunan Jerman yang lebih
dikenal dengan julukan paparazi yang selalu
membawa kamera di lehernya. Ia selalu siap untuk membidik siapapun yang sedang
lengah.
Saat
Hanny, teman seperjuangan Alfa dan Doni bertanya kepada Cleon mengapa ia selalu
membawa kamera? Maka ia selalu menjawab bahwa membidik kamera sesuka hatinya
adalah hobinya dari kecil.
“Momen
kalian manis banget sih, jadi sayang kalo nggak diabadiin.” Cleon menyeriangi
dengan cengiran kuda sebelum akhirnya beranjak untuk mencari korban lain.
Alfa semakin
menggerutu. Tak tahu apa yang menyebabkannya sangat sensitif kali ini sementara
Doni masih tetap asik dengan program kerjanya. “Yah, seenggaknya hari ini lo
nemenin gue disini, karena gue benci sendirian.”
“Ya ya,
ketuplak! Untuk kali ini aja lo yang menang, selain ini gue yang harus menang!
Sebaliknya, gue gak akan nemenin lo lagi. Tapi lo yang bakalan nemenin gue.” Alfa
mulai menggerutu lagi dan hal ini membuat Alfa merasa bosan.
Wajah Doni
tersenyum tipis. “Lo udah denger? Meyza minta bantuan kita untuk ngerjain
Hanny, dia akan pulang beberapa hari lagi.”
“Iyee....
Lo udah bilang hal itu berulang kali.”
“Oh iya?
Gue baru bilang sekarang kok.” Matanya masih terpaku pada kertas-kertas yang ia
genggam. Kemudian mengerutkan keningnya.
“Entahlah............”
Doni
menghela napas, “lo apaan sih, Pa? Kayak anak kecil aja ngambekan mulu elaahh.
Lo merasa tersaingi sama gue? Lagian lo temen gue kaleee gausah merasa ada yang
paling menang dong, Pa. Gak ada istilah rival di dalam pertemanan kita berdua.
Kalo gue unggul lo juga unggul. Kebahagiaan gue, kebahagiaan lo juga,” kali ini
ia meletakkan kertas-kertasnya. Memalingkan mata untuk menatap Alfa.
“Don! Udah
berjuta-juta kali gue temenan sama lo, tapi lo selalu aja manggil gue ‘Pa’
bukan ‘Fa’ beda huruf beda makna dong..”
Keningnya
berkerut lagi, “tuhkan yang gak jelas kayak begitu malah lo bahas, yang tadi
gue omongin apa coba? Ga nyambung lo!” tatapannya berubah sinis.
“Yah elo,
Don.. Lagian kata-kata lo buat gue terharu sih. Jadinya gue bingung mau ngomong
apaan._.”
Cengiran
Alfa tak mampu menghilangkan sikap sinis pada Doni. “Gue hanya mencoba untuk
bersikap bijak ngadepin bocah kayak elu. HEUH.” Ia tak habis pikir apa yang
sebenarnya Alfa inginkan. Kadang sikap kekanak-kanakkannya berlebihan. Membuat
dirinya merasa lucu. Di relung hatinya ia tertawa geli.
“Gue
unggul disaat-saat yang biasa. Tapi lo unggul disaat yang luar biasa. Lo tau
apa artinya? Gue selalu unggul tanpa menguakkan aroma-aroma keunggulan gue pada
dunia. Sedangkan lo? Justru menebarkan aroma keunggulan elo di hadapan banyak
orang. Gue harus apa biar diri gue gak selalu di pandang sampah? Orang-orang
selalu nyapa elo, padahal ada gue di samping lo. Gue yang selalu ada buat elo.”
Tatapannya
kembali bersahabat.“Oh, God....”
“Jadi
sejauh kita melangkah berdua cuma hal hal bodoh kayak gini yang lo pikirin? Gak
ada hal lain yang kita perbuat, he? Gini deh, Pa. Semua orang punya kemampuan
menciptakan aroma-aroma itu masing-masing dalam bentuk apapun. Jalan gue dengan
terpilihnya gue menjadi ketuplak dan belum tentu itu jalan elo. Jangan mau
selalu dihargain sama orang dong, Pa. Tapi kita yang harus menghargai orang lain
terlebih dahulu. Dunia ini lebih kejam dari apa yang lo ketauin, Pa. Lo harus
bisa memahami situasi lo sebagai diri lo, bukan sebagai diri gue. Gue gak
bakalan ada di samping lo saat itu. Tapi gue bakalan ada dibelakang lo untuk
ngedukung lo yang berada di depan.”
“Tapi lo
selalu berhasil daripada gue, Don! Gue gak bisa apa-apaaa!”
“Pa, di
dunia ini manusia bukan cuma gue doang. Ada orang lain yang bahkan jauh lebih
buruk daripada lo. Kemana sikap percaya diri Alpa— yang membuat semua orang
lebih bersemangat? Kemana temen gue yang selalu teliti dan cerdas? Lo inget
sesosok Sherlock Holmes? Dia bahkan tak ingin dirinya dikenal banyak orang.
Tetapi dia ikhlas mengerjakan kesukaannya—bahkan ia jarang sekali bergaul
dengan dunia luar. Tapi orang orang kenal dengannya, kan? Itu karena dia selalu
membantu orang lain tetapi dia tak mengharapkan kebaikannya kembali dari orang
lain. Justru orang-orang seperti itulah yang gue anggap luar biasa.”
“Tapi lo
gak ngerti keinginan gue untuk dikenal banyak orang, Don. Biar dunia menjadi
milik gue. Gue cuma mau mereka itu melihat adanya gue.”
CREK!!
Alfa dan
Doni spontan ke asal suara. Cleon, Hanny, Slayton dan Manda— teman Alfa dan
Doni yang kabarnya hanya mempunyai keasikan diri sendiri, dia sangat suka
bernyanyi dan menceritakan pengalamannya pada diri sendiri. Aneh bukan? Mereka
sudah duduk rapih pada kursi di hadapan Alfa dan Doni. Cengiran Cleon tampak
lebih lebar dari sebelumnya.
“Hanny,
katanya lo mau difoto ya? Dimana? Ayuk yuk jangan disini.” Cleon menarik tangan
Hanny untuk segera pergi dari sana. Sebelum Alfa dan Doni memarahi mereka. Tak
lama, Slayton menyusul dengan memanggil nama mereka berdua. Alfa dan Doni masih
memperhatikan Manda.
"Tak semestinya. Kita berhenti
disini. Masih terbentang luas. Jalan menuju cita.
Meski tujuh lapisan langit. Akan
kutembus. Meski mereka bilang sulit bagiku. Mungkin...
Meski berjuta jarak waktu. Harus
kulalui. Meski mereka bilang. Sulit bagiku. Mungkin..."
Suara
nyanyian yang begitu indah keluar dari mulut Manda. “Kalian mau ikut nyanyi
bareng saya?”
Alfa dan
Doni spontan menggeleng dan bersikap tak peduli. Manda terkekeh pelan, sebelum
akhirnya meninggalkan mereka dengan nyanyian-nyanyian yang lain. “Tak apelah,
saya bisa nyanyi sendiri.”
Suara Manda memang enak didengar. Tapi
kekhawatiran mereka adalah jika Manda sudah asik dengan dunianya sendiri, ia
seperti ‘orang gila’ yang pada dasarnya cerdas tetapi aneh. Tak bisa di
pungkiri Manda selalu tampil pada lomba-lomba yang membuatnya tak menjadi
‘sampah’. Semua orang tetap mampu memahaminya. Walaupun begitu, tanpa disadari
lirik nyanyiannya sangat berpengaruh pada sebagian orang-orang di
sekelilingnya. Seperti membantu memecahnya sebuah kasus.
Keesokan
harinya kepala sekolah telah menagih pekerjaan Doni. “Jadi bagaimana Don? Sudah
kau selesaikan pekerjaan kau itu?”
“Sudah
pak. Ini proposalnya, bapak tinggal baca apakah acara ini disetujui atau tidak
itu terserah bapak. Kalaupun ada beberapa yang tidak bapak setujui saya bisa
menjelaskannya lebih rinci,” Doni bersikap sangat sopan. Pak kepsek hanya
mengangguk paham.
“Pa, kita
ada job nih.” Walaupun sempat menoleh pada si pembicara, Alfa tak tertarik pada
pembicaraan kali ini.
“Pa, kita
ada kasusss pa! Kasuss! Lo biasanya semangat kalau tentang kasus? Ayolaah!”
Alfa tetap tak menggubris perkataan Doni.
Doni
menghampiri Alfa yang sedang sibuk memegang banyak surat. “Wow, lo dapet juga,
Pa? Gue kira cuma gue yang dapet.”
“Entahlah,
Don. Gue gak ngerti apa arti dari surat surat yang banyak ini. Lo juga dapet?
Apa yang bisa lo simpulin dari isinya?”
Belum
sempat Doni menyampaikan maksudnya—Hanny mendarat dengan sukses di samping
Doni. Sepertinya ia berlari tadi sampai ke kelas, nafasnya tidak karuan.
“Ada apaan
sih, Han? Ngos-ngosan begitu?” Doni memandanginya dengan aneh.
“Hah hoh..
Kalian dapet surat juga?” Hanny beranjak untuk mengambil surat yang ada di
tangan Alfa.
“Gue kira
kalian baru tahu. Jadi, sekarang gue ga perlu khawatir kan? Byeeee!”
Alfa dan
Doni sama-sama mengerutkan dahi. “Aneh sekali kelakuan teman kau itu,” Alfa langsung
berkomentar dengan gaya batak. Doni hanyaa terkekeh.
“Jadi,
bagaimana kesimpulan isinya?”
Belum
sempat Doni menjawab. Ada yang memasuki kelas lagi. Tampaknya Slayton yang
sengak itu yang memasuki ruangan. Mau apa dia disini?
“Wah,
kalian sedang sibuk sepertinya?”
“Jangan
bilang lo dapet surat juga?” Doni menimpali.
“Ah, siapa
bilang? Tentu saja! Tapi kalian tidak perlu khawatir soal itu. Aku sudah
membereskan semuanya. Kalian sangat lamban untuk bergerak. Finally, aku lah
yang menjadi pahlawannya.” Slayton menyombongkan diri.
“Apa
maksud dari surat surat ini, Slayton?” Entah mengapa Doni berbicara dengan baku
seperti Slayton. Padahal gaya berbicaranya tak seperti itu.
“Wah,
sepertinya kalian tak sabar mendengar ceritanya, ya? Well, aku akan memberi tahu
kalian tentang kasus ini. Tapi, bisakah kalian membantuku? Aku sangat
memerlukan bantuan kalian. Aku akan memberitahu setelah kalian membantuku,”
Slayton dengan angkuhnya menaikkan sebelah alisnya, meminta persetujuan.
“What?
Apa maksud lo, Slay?”
“Slay? Itu
bukannya yang buat roti itu ya?”
“Itu
selai, Slayton-______-“ Alfa gregetan juga dibuatnya.
“Hei,
berhentilah main-main, jelaskan kami apa yang kamu maksudkan?”
“Bersabarlah
sedikit, kawan. Ini tentang Meyza. Aku pikir kalian pantas untuk membantuku.
Dan ini berhubungan dengan Hanny.”
Setelah
mengetahui apa yang Slayton rencanakan, Alfa dan Doni mengangguk setuju.
“Wah,
rupanya hatimu sudah rendah, ya? Bisa-bisanya meminta tolong kepada kami?
Berarti kau mengakui kalau kami itu lebih unggul kan daripada kau?” Dengan
wajah amit-amit Doni mengikuti cara berbicara Slayton, tapi malah terdengar
aneh.
“Berhentilah
berbicara seperti itu. Walaupun begitu aku berhasil memecahkan arti dari
surat-surat ini kan? Kalian dan aku tak ada bedanya.”
Tetapi
keesokan harinya, surat-surat itu bertambah banyak. Lebih banyak dari hari
sebelumnya. Mungkin analisis Slayton salah. Atau memang dia tidak menyelesaikan
kasus ini?
Wah ceritanya masih ngegantung ya?:p
Tungguin aja kisah selanjutnya yaaaaaaJ)) jangan pernah bosen sama blog ini.
See you next time;))
By: Amanda Hanifah Nur Hilizza
Thanks to: Savira Mujahidah yang dari
awal sudah mensupport wkwk. Alfi dan Dani yang sudah berkenan di masukkan
plesetan nama dan karakternya. Thankyouuu:D