THE HOST
A STORY AND NOVEL
BY STEPHENIE MEYER
.
.
.
THE
HOST
BAB
15
BETRAYER
.
.
.
Mungkin seharusnya aku lari ke arah
berlawanan. Tapi kini tak seorang pun menahanku. Dan walaupun suaranya dingin
serta marah, Jared memanggilku. Melanie bahkan lebih bersemangat daripadaku,
ketika aku berbelok hati-hati dan memasuki cahaya biru,. Aku bimbang.
Ian berdiri hanya beberapa puluh
sentimeter di depanku, waspada, siap menghadapi apa pun yang mungkin dilakukan
Jared kepadaku.
Jared duduk di tanah, di atas salah
satu kasur yang ditinggalkan olehku dan Jamie di sana. Ia tampak sama lelahnya
dengan Ian, walaupun matanya lebih waspada dibandingkan bagian tubuhnya yang
lain.
“Tenang,” ujar Jared kepada Ian. “Aku
hanya ingin bicara dengan mahluk itu. Aku sudah berjanji kepada Jamie, dan aku
akan memenuhi janjiku.”
“Mana Kyle?” desak Ian.
“Mendengkur. Guamu bisa roboh akibat
getarannya.”
Ian tidak bergerak.
“Aku tidak berbohong, Ian. Dan aku
tidak akan membunuh mahluk ini. Jeb benar. Tak peduli betapa kacaunya situasi
konyol ini, Jamie punya hak yang sama denganku. Dan dia telah ditipu
habis-habisan, jadi aku ragu apakah dia akan memberiku izin untuk membunuh
mahluk itu dalam waktu dekat.”
“Tak seorang pun tertipu,” gerutu Ian.
Jared melambaikan tangan, mengakhiri
perselisihan mengenai terminologi itu. “Takkan ada bahaya dariku. Itu
maksudku.” Untuk pertama kali Jared memandangku, menilai caraku merapat ke
dinding, mengamati tanganku yang gemetar. “Aku tidak akan melukaimu lagi,”
ujarnya.
Aku maju sedikit.
“Kau tak perlu bicara dengannya kalau
tidak mau, Wanda,” ujar Ian cepat. “Ini bukan kewajiban atau tugas yang harus
dipenuhi. Bukan keharusan. Kau punya pilihan.”
Sepasang alis Jared bertaut di atas
matanya. Kata-kata Ian membuatnya bingung.
“Tidak.” Bisikku. “Aku akan bicara
dengannya.” Aku maju selangkah lagi. Dengan tangannya Jared memberiku isyarat
untuk maju.
Aku berjalan perlahan-lahan, selangkah
setiap kali, bukan gerakan maju yang mantap. Aku berhenti satu meter dari
Jared. Ian membayangi setiap langkahku dan tetap di sisiku.
“Aku ingin bicara dengan mahluk itu
sendirian, kalau kau tidak keberatan,” ujar Jared.
Ian tetap berdiri di tempatnya. “Aku
keberatan.”
“Tidak, Ian, tidak apa-apa. Pergilah
tidur. Aku akan baik-baik saja.” Kusikut pelan tangannya.
Ian meneliti wajahku, ekspresinya
bimbang. “Ini bukan semacam keinginan terakhir? Supaya tidak menyakiti Jamie?”
desaknya.
“Tidak. Jared takkan berbohong kepada
Jamie soal ini.”
Jared memandang marah kepadaku ketika
aku mengucapkan namanya dengan penuh percaya diri.
“Ayolah, Ian,” ujarku memohon. “Aku
ingin bicara dengannya.”
Ian memandangku sejenak, lalu berbalik
dan memandang marah kepada Jared. Ia mengucapkan setiap katanya seperti
perintah.
“Namanya Wanda, bukan mahluk itu. Kau tidak
boleh menyentuhnya. Bekas apa pun yang kau tinggalkan padanya, aku akan
menggandakannya pada kulit tak berhargamu.”
Aku terhenyak mendengar ancaman itu.
Ian berbalik cepat, lalu melangkah
memasuki kegelapan.
Sejenak hening ketika kami memandang ruang
kosong tempat Ian menghilang. Aku menatap wajah Jared lebih dulu, ia masih
menatap kepergian Ian. Saat ia menoleh untuk membalas tatapanku, aku menunduk.
“Wow. Dia tidak bergurau, bukan?” ujar
Jared.
Aku menganggap ini pertanyaan yang tak
perlu dijawab.
“Mengapa kau tidak duduk?” Tanya Jared,
menepuk kasur di sampingnya.
Sejenak aku mempertimbangkan
tawarannya, lalu duduk bersandar di dinding yang sama, tapi di dekat lubang.
Kubiarkan kasur menjadi jarak di antara kami. Melanie tidak menyukainya. Ia
ingin berada di dekat Jared, ingin aku membaui aroma lelaki itu dan merasakan
kehangatan tubuhnya di sampingku.
Aku tidak menginginkan semua itu—dan
ini bukan karena aku takut Jared akan melukaiku. Ia tidak tampak marah, hanya
lelah dan khawatir. Tapi aku tak ingin berada lebih dekat dengannya. Sesuatu di
dalam dadaku terasa nyeri ketika ia berada begitu dekat—ketika ia membenciku
dari jarak sedekat itu.
Jared mengamatiku dengan kepala
dimiringkan. Aku hanya bisa membalas pandangannya sejenak, lalu berpaling.
“Maaf soal semalam—soal wajahmu.
Seharusnya itu tidak kulakukan.”
Kutatap kedua tanganku yang terkepal di
pangkuan.
“Kau tidak perlu takut kepadaku.”
Aku mengangguk, tanpa memandang.
Ia menggerutu. “Kurasa kau tadi bilang
ingin bicara denganku?”
Aku mengangkat bahu. Kebenciannya
padaku membuatku gagal menemukan suaraku.
Aku mendengar Jared bergerak. Ia beringsut pelan hingga duduk tepat di
sampingku—seperti yang diharapkan Melanie. Terlalu dekat—sulit untuk berpikir
dengan benar, sulit untuk bernapas dengan benar—tapi aku tak bisa menyuruh
diriku beringsut menjauh. Anehnya, walaupun ini yang diinginkan Melanie sejak
awal, tiba-tiba ia merasa jengkel.
Apa? Tanyaku, terkejut oleh intensitas
emosi Melanie.
Aku tidak suka Jared berada di sampingmu.
Rasanya keliru. Aku tidak suka caramu menginginkannya di sana. Untuk pertama
kali sejak kami meninggalkan peradaban bersama-sama, kurasakan
gelombang-gelombang permusuhan memancar dari Melanie. Aku terkejut. Itu hampir
tak bisa disebut adil.
“Aku hanya punya satu pertanyaan,” ujar
Jared, menyela pembicaraanku dengan Melanie.
Kubalas tatapannya, lalu aku
berpaling—tersentak oleh tatapan dingin Jared dan kebencian Melanie.
“Mungkin kau bisa menebak pertanyaan
itu. Jeb dan Jamie menghabiskan sepanjang malam untuk menguliahiku…”
Kutunggu pertanyaan Jared. Mataku
menatap lurus menembus koridor yang gelap, menatap karung beras—bantalku
semalam. Dari sudut mata aku melihat sebelah tangan Jared terangkat, dan aku
merapat ke dinding.
“Aku tidak akan melukaimu,” kata Jared
lagi, tidak sabar. Ia memegang daguku dengan tangannya yang kasar, menolehkan
wajahku sehingga aku terpaksa memandangnya.
Jantungku tergeragap ketika Jared
menyentuhku, dan mendadak air mataku merebak. Aku mengerjap-ngerjap, mencoba
menjernihkan mata.
“Wanda,” Jared mengucapkan namaku
perlahan-lahan—dengan enggan, aku tahu itu, walaupun suaranya datar dan tak
bernada.
“Apakah Melanie masih hidup—masih
menjadi bagian dari dirimu? Katakan yang sebenarnya.”
Melanie menyerangku dengan kekuatan
luar biasa seperti banteng mengamuk. Rasanya menyakitkan secara fisik, seperti
tusukan mendadak migren, di tempat ia mencoba menerobos keluar.
Hentikan! Tak bisakah kau melihatnya?
Hal itu sangat jelas terlihat dari
bibir Jared yang terkatup erat, dan dari garis-garis tegang di bawah matanya.
Tak peduli apa yang aku atau Melanie katakan.
Jared sudah menganggapku pembohong,
ujarku kepada Melanie. Ia tidak menginginkan kebenaran—ia hanya mencari bukti,
mencari semacam cara untuk membuktikan aku pembohong, bahwa aku Pencari, kepada
Jeb dan Jamie, sehingga ia mendapat izin untuk membunuhku.
Melanie menolak untuk menjawab atau
mempercayaiku. Aku harus berjuang agar ia tetap diam.
Jared mengamati bulir keringat di
keningku dan getaran aneh yang mengguncang tulang punggungku, lalu matanya
menyipit. Jared tetap memegang daguku, tak mau membiarkanku menyembunyikan
wajah.
Jared, aku mencintaimu, Melanie mencoba
berteriak. Aku ada di sini.
Bibirku tidak bergetar, tapi aku
terkejut karena Jared tak bisa membaca kata-kata yang terlontar jelas di
mataku.
Waktu berlalu dengan lambat ketika
Jared menunggu jawabanku. Menyakitkan rasanya menatap ke dalam matanya, melihat
tatapan jijik di sana. Seolah-olah itu
belum cukup, kemarahan Melanie terus mengiris-irisku dari dalam.
Kecemburuannya membengkak menjadi banjir kesedihan yang melanda tubuhku dan
mencemarinya.
Waktu berlalu, air mataku tak dapat
ditahan lagi. Air mataku mengalir ke pipi dan bergulir pelan ke telapak tangan
Jared. Ekspresinya tidak berubah.
Akhirnya aku tak sanggup lagi. Aku
memejamkan mata dan menunduk. Jared tidak melukaiku. Ia menjatuhkan tangannya.
Ia mendesah, frustasi.
Kusangka dia bakal pergi. Kutatap lagi
kedua tanganku, menunggu. Detak jantungku menandai berlalunya waktu. Jared
tidak bergerak. Aku tidak bergerak. Ia seakan terpahat dari batu di sampingku.
Ketenangan seperti batu ini sangat cocok untuknya. Cocok dengan ekspresi
barunya yang keras, dengan batu api di matanya.
Melanie merenungkan Jared yang ini,
lalu membandingkannya dengan lelaki yang dulu dikenalnya. Melanie ingat suatu
hari dalam pelarian mereka, suatu hari yang biasa…
“Argh!” Jared dan Jamie mengerang
bersama-sama.
Jared bersantai di sofa kulit dan Jamie
tergeletak di karpet di depannya. Mereka sedang menonton pertandingan basket di
TV layar lebar. Parasit-parasit yang tinggal di rumah ini sedang pergi bekerja,
dan kami sudah mengisi jip dengan semua yang bisa ditampung di dalamnya. Kami
punya waktu berjam-jam untuk istirahat, sebelum harus kembali menghilang.
Di TV, dua pemain sedang berselisih
dengan sopan di luar garis. Juru kamera ada di dekat mereka, sehingga kami bisa
mendengar apa yang mereka katakan.
“Kurasa aku orang terakhir yang
menyentuhnya. Ini bolamu.”
“Aku tidak yakin soal itu. Aku tidak
ingin mengambil kesempatan tidak adil. Sebaiknya kita meminta wasit melihat
rekamannya.”
Kedua pemain berjabat tangan dan saling
menepuk bahu lawan.
“Itu konyol,” gerutu Jared.
“Aku tidak tahan,” ujar Jamie setuju.
Ia menirukan nada suara Jared dengan sempurna. Semakin hari ia semakin
kedengaran seperti Jared. Itu salah satu dari banyak bentuk pemujaan Jamie
terhadap Jared. “Ada acara yang lain?”
Jared mengganti beberapa saluran,
sampai menemukan pertandingan atletik. Saat itu parasit-parasit sedang
menggelar Olimpiade di Haiti. Dari yang bisa kami lihat, para mahluk luar
angkasa itu sangat bersemangat mengikutinya. Banyak di antara mereka memasang
bendera Olimpiade di luar rumah. Tapi Olimpiade ini tidak sama. Kini semua yang
berpartisipasi dalam Olimpiade mendapat medali. Menyedihkan.
Tapi parasit – parasit itu tidak
terlalu bisa mengacaukan pertandingan lari seratus meter. Olahraga yang
dilakukan parasit secara individual jauh lebih menarik daripada jika mereka
berkompetisi langsung. Performa mereka lebih baik jika berada di jalur
terpisah.
“Mel, ayo bersantai,” panggil Jared.
Aku berdiri di samping pintu belakang.
Ini diluar kebiasaanku, dan bukan karena aku siap lari. Bukan karena aku
ketakutan. Ini hanya kebiasaan. Itu saja.
Kuhampiri Jared. Ia menarikku ke
pangkuannya dan meletakkan kepalaku di bawah dagunya.
“Nyaman?” tanyanya.
“Ya,” jawabku, karena aku benar-benar,
sungguh-sungguh, merasa sangat nyaman. Di sini, di rumah mahluk luar angkasa.
Dad dulu suka mengatakan banyak hal
lucu—misalnya ia terkadang menciptakan bahasanya sendiri. Dua puluh tiga
keminggatan, hari selada, pemarkir berisik, bersih segar, kursi panas, poci
cokelat, dan sesuatu mengenai Grandma mengisap telur. Salah satu kesukaannya
adalah seaman rumah.
Ketika mengajariku naik sepeda, dengan
ibuku yang khawatir di ambang pintu, Dad mengatakan, “Tenang, Linda, jalanan
ini seaman rumah.” Ketika meyakinkan Jamie untuk tidur dengan lampu dimatikan,
Dad mengatakan, “Di sini seaman rumah, Nak, tak ada monster sejauh
berkilo-kilometer.”
Lalu suatu malam dunia berubah jadi
mimpi buruk mengerikan, dan frasa itu menjadi lelucon pahit bagiku dan Jamie.
Rumah-rumah adalah tempat paling berbahaya yang kami kenal.
Ketika bersembunyi di petak pepohonan
pinus pendek seraya menyaksikan mobil keluar dari garasi sebuah rumah
terpencil, lalu memutuskan apakah hendak mencuri makanan, atau apakah terlalu
berisiko, kami mengatakan, “Menurutmu parasit-parasit itu akan pergi lama?”
“Tak mungkin—tempat itu seaman rumah. Ayo, pergi dari sini.”
Dan kini aku duduk di sini sambil
menonton TV, seperti lima tahun yang lalu, ketika Mom dan Dad berada di ruang
lain, dan kami tak pernah menghabiskan malam dengan bersembunyi di pipa saluran
air bersama Jamie dan sekelompok tikus, sementara para perampas tubuh bersenjatakan senter mencari pencuri yang
kabur dengan sekantong kacang kering dan semangkuk spageti dingin.
Aku tahu bahwa, seandainya aku dan
Jamie bisa bertahan selama dua puluh tahun, kami takkan pernah menemukan
perasaan ini. Perasaan aman. Bahkan lebih dari aman—bahagia. Aman dan bahagia.
Dua hal yang kupikir takkan pernah kurasakan lagi.
Jared membuat kami merasa seperti itu
tanpa berbuat apa-apa—hanya dengan menjadi Jared.
Kucium aroma kulitnya dan kurasakan
hangat tubuhnya di bawahku.
Jared membuat semuanya aman, semuanya
membahagiakan. Bahkan rumah sekalipun.
Ia masih membuatku merasa aman, ujar
Melanie tersadar. Ia merasakan kehangatan di tempat tangan Jared berada, hanya
satu senti dari tanganku. Walaupun seandainya ia tidak tahu aku ada di sini.
Aku tidak merasa aman. Mencintai Jared
membuatku merasa lebih tidak aman dibandingkan segala hal lain yang bisa
kupikirkan.
Aku bertanya-tanya, apakah aku dan
Melanie akan mencintai Jared seandainya sejak dulu lelaki ini memang seperti
saat ini, dan bukan Jared yang tersenym dalam ingatan-ingatan kami, orang yang
datang kepada Melanie dengan tangan penuh harapan dan mukjizat. Akankah Melanie
mengikuti
Jared, seandainya sejak dulu ia
bersikap sangat keras dan sinis? Seandainya perasaan kehilangan yang dirasakan
Jared terhadap ayahnya yang suka tertawa dan kakak-kakaknya yang urakan telah
membekukannya, seperti yang dialaminya ketika kehilangan Melanie?
Tentu saja, ujar Mel yakin. Aku akan
mencintai Jared dalam bentuk apa pun. Bahkan dalam keadaan seperti ini. Ia
milikku.
Aku ingin tahu apakah hal yang sama
berlaku untukku. Akankah aku mencintai Jared, seandainya ia seperti ini dalam
ingatan Melanie?
Lamunanku terusik. Mendadak Jared
bicara, walaupun aku tak menerima isyarat apa pun. Ia bicara seakan kami sedang
di tengah percakapan.
“Lalu, berkat kau, Jeb dan Jamie
percaya adanya kemungkinan untuk melanjutkan semacam kesadaran setelah…
tertangkap. Mereka yakin Mel masih hidup di dalam sana.”
Jared mengetuk pelan kepalaku dengan
kepalan tangannya, dan aku menjauhkan diri. Ia bersedekap.
“Jamie mengira Mel bicara dengannya.”
Jared memutar bola mata. “Tak adil mempermainkannya seperti itu—tapi kurasa
etika semacam it jelas tidak berlaku.”
Kubelitkan kedua tanganku pada tubuhku
sendiri.
“Tapi Jeb ada benarnya—dan itulah yang
membuatk penasaran! Kau mau apa? Pencarian para Pencari tidak terarah dengan
baik, ata bahkan… mencurigakan. Tampaknya mereka hanya mencarimu—bukan mencari
kami. Jadi, mungkin mereka tak tahu kau mau apa. Mungkin kau pekerja lepas?
Semacam penyamaran Atau…”
Lebih mudah mengabaikan Jared ketika ia
sedang berspekulasi dengan begitu tololnya. Aku memusatkan perhatian pada kedua
lututku yang kotor, yang seperti biasa, berwarna ungu dan hitam.
“Mungkin mereka benar. Setidaknya soal
membunuhmu.”
Tanpa terduga jemari Jared mengusap
ringan lenganku yang merinding mendengar kata-katanya. Suaranya lebih lembut ketika
ia kembali bicara. “Kini tak seorang pun akan melukaimu. Selama kau tidak menimbulkan masalah apa
pun…” Ia mengangkat bahu. “AKu sedikit memahami maksud mereka. Dengan cara yang
sinting mungkin itu perbuatan keliru, seperti kata mereka. Mungkin tak ada alas
an yang bisa dibenarkan ntuk… kecuali Jamie…”
Kepalaku langsung mendongak—mata Jared
tajam, meneliti reaksiku. Aku menyesal telah memperlihatkan ketertarikan,
sehingga kembali mengamati lututku.
“Aku ngeri melihat betapa semakin
lengketnya Jamie kepadamu,” gumam Jared. “Seharusnya aku tidak meninggalkannya.
Aku tak pernah membayangkan… dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan
sekarang. Dia mengira Mel masih hidup di dalam sana. Apa akibatnya bagi Jamie
ketika…?”
Kuperhatikan bahwa Jared mengatakan
ketika, dan bukan jika. Tak peduli janji-janji apa yang telah dibuatnya, ia
tidak menganggapkan bisa bertahan hidup cukup lama.
“Aku terkejut kau bisa memengaruhi
Jeb,” renung Jared, mengubah pokok pembicaraan. “Dia lelaki tua yang cerdik.
Dia bisa dengan mudah mengenali tipuan. Sampai saat ini.”
Sejenak Jared merenungkan perkataannya.
“Kau tidak terlalu suka bicara, ya?”
Muncul keheningan panjang lagi.
Kata-kata Jared mendadak berhamburan.
“Bagian yang terus menggangguku adalah, bagaimana seandainya mereka benar?
Bagaimana mungkin aku tahu? Aku benci betapa logika mereka masuk akal bagiku.
Pasti ada penjelasan lain.”
Melanie kembali berjuang untuk bicara,
walaupun tak seganas sebelumnya. Kali ini tanpa harapan untuk bisa menembus
keluar. Aku tetap mengunci kedua lengan dan bibirku.
Jared bergerak, bergeser menjauhi
dinding sehingga tubuhnya menghadapku. Kuamati gerakan itu dari sudut mata.
“Mengapa kau di sini?” bisiknya.
Kuintip wajah Jared. Lembut, baik hati,
nyaris seperti dalam ingatan Melanie. Aku merasakan luruhnya pengendalian
diriku; bibirku gemetar. Perlu segenap kekuatan untuk menjaga agar lenganku
tetap terkunci. Aku ingin menyentuh wajah Jared. Akulah yang menginginkannya.
Melanie tidak suka ini.
Jika kau tidak membolehkanku bicara,
setidaknya jaga tanganmu, desis Mel.
Aku usahakan. Maaf. Aku menyesal.
Keinginanku telah melukai Melanie. Kami sama-sama terluka, tapi luka kami
berbeda. Sulit untuk mengetahui siapa yang lebih terluka saat ini.
Jared mengamatiku penuh curiga ketika
mataku kembali berkaca-kaca.
“Mengapa?” tanyanya pelan. “Kau tahu,
Jeb punya gagasan sinting bahwa ka berada di sini demi aku dan Jamie. Bukankah
itu gila?”
Mulutku setengah terbuka; cepat-cepat
aku menggigit bibir.
Jared mencondongkan tubuh
perlahan-lahan dan memegang wajahku dengan kedua tangannya.
Mataku terpejam.
“Maukah kau mengatakannya kepadaku?”
Kepalaku menggeleng, dengan cepat. Aku
tak yakin siapa yang melakukannya. Apakah aku yang mengatakan tidak mau, atau
Melanie yang mengatakan tidak bisa?
Kedua tangan Jared semakin erat di
bawah rahangku. Aku membuka mata, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku.
Jantungku berdebar-debar, perutku mulas. Aku mencoba untuk bernapas, tapi
paru-paruku menolak.
Kukenali hasrat itu di mata Jared; aku
tahu bagaimana ia akan bergerak, tahu dengan tepat rasa bibirnya. Namun ini
sangat baru bagiku—pengalaman pertama lebih mengejutkan daripada pengalaman
lainnya—ketika bibir Jared menekan bibirku.
Kupikir ia hanya bermaksud mengusapkan
bibirnya ke bibirku, hanya ingin bersikap lembut, tapi semua berubah ketika
kulit kami bersentuhan. Dengan cepat bibir Jared berubah keras dan kasar,
tangannya memerangkap wajahku pada wajahnya, sementara bibirnya menggerakkan
bibirku dengan gerakan mendesak yang tak kukenal. Berbeda sekali dengan yang
ada dalam ingatanku. Jauh lebih kuat. Kepalaku melayang kacau.
Tubuhku memberontak. Aku tak lagi
mengendalikannya—tubuhku yang mengendalikanku. Itu bukan Melanie—kini tubuh ini
lebih kuat daripada kami berdua. Napas kami menggema keras; napasku liar dan
terengah-engah, napas Jared garang, nyaris menggeram.
Lenganku melepaskan diri dari
kendaliku. Tangan kiriku meraih wajah Jared, meraih rambutnya, membenamkan
jemariku di sana.
Tangan kananku lebih cepat. Itu bukan
tanganku.
Kepalan Melanie menghantam rahang
Jared, menyingkirkan wajahnya dari wajahku dengan suara gedebuk pelan. Daging
menimpa daging, keras dan marah.
Kekuatan pukulan itu tak cukup untuk
menyingkirkan Jared jauh-jauh, tapi ia menjauh dariku begitu bibir kami
terpisah. Ia terperangah, matanya terbelalak ngeri, menatap ekspresiku yang
ketakutan.
Aku menunduk memandang tanganku yang
masih terkepal, dan merasa sama jijiknya seperti menemukan kalajengking tumbuh
di ujung lenganku. Helaan napas muak keluar dari tenggorokanku. Kuraih
pergelangan tangan kananku dengan tangan kiri, berjuang mati-matian agar
Melanie tidak menggunakan tubuhku lagi untuk kekerasan.
Aku melirik Jared. Ia juga sedang
menatap kepalan tangan yang kutahan. Ketakutannya memudar, digantikan
keterkejutan. Saat itu ekspresinya benar-benar tak berdaya. Aku bisa dengan
mudah membaca pikiran-pikiran yang melintas di wajahnya yang tak terkunci.
Bukan ini yang diharapkan Jared.
Tadinya ia memiliki harapan-harapan; itu jelas terlihat. Ini ujian. Dan ia
mengira dirinya siap untuk menilai ujian itu. Ujian yang hasilnya telah ia
antisipasi dengan penuh keyakinan. Tapi ia terkejut.
Apakah itu berarti aku lulus atau
gagal?
Rasa nyeri di dadaku tidak mengejutkan.
Aku sudah tahu ungkapan patah hati tidaklah dilebih-lebihkan.
Dalam situasi antara melawan atau lari,
aku tak pernah punya pilihan. Aku selalu memilih untuk lari. Karena Jared
berada di antara diriku dan kegelapan lubang keluar terowongan, aku berguling
dan melemparkan diri ke lubang penuh kotak.
Kotak-kotaknya tergencet, bergemeretak,
dan hancur ketika bobotku mendorong semuanya ke dinding, ke lantai. Kudesakkan
jalanku ke ruang kosong yang mustahil, meliuk menghindari kotak-kotak yang
lebih berat dan menghancurkan kotak-kotak lainnya. Kurasakan jemari Jared
menggores kakiku ketika ia meraih pergelangan kakiku, dan kutendak kotak yang
isinya lebih padat ke ruang di antara kami. Jared menggeram, dan perasaan putus
asa mencekik leherku. Aku tak bermaksud melukainya; aku tak bermaksud
memukulnya. Aku hanya mencoba melarikan diri.
Aku tidak mendengar isak tangisku
sendiri, yang begitu keras sampai, sampai aku tak bisa masuk lebih jauh lagi ke
lubang sesak itu, dan kegaduhan yang kuciptakan berhenti. Ketika aku mendengarnya
sendiri, mendengar isak tangis kesedihan yang menyayat dan mencabik-cabik itu,
aku merasa malu.
Begitu malu, begitu terhina. Aku takut
terhadap diriku sendiri, takut terhadap tindak kekerasan yang kubiarkan
mengalir lewat tubuhku, tak peduli kusadari atau tidak. Tapi bukan itu penyebab
tangisku. Aku menangis karena itu hanya ujian. Dan karena aku mahluk emosional
yang sangat, sangat, sangat tolol, aku menginginkan itu ciuman sesungguhnya.
Melanie menggeliat penuh kesedihan di
dalam tubuhku, dan sulit bagiku untuk memahami rasa nyeri ganda ini. Aku merasa
sekarat, karena itu bukan ciuman sesungguhnya; Melanie merasa sekarat, karena
baginya ciuman itu terasa cukup nyata. Di dalam segalanya yang hilang dari
Melanie sejak akhir dunianya, dulu sekali, ia belum pernah merasa dikhianati.
Ketika ayahnya membawa para Pencari untuk memburu anak-anaknya sendiri, Melanie
tahu itu bukan ayahnya. Tak ada pengkhianatan, yang ada hanya kesedihan.
Ayahnya sudah mati. Tapi Jared masih hidup dan menjadi dirinya sendiri.
Tolol. Tak seorang pun mengkhianatimu,
ujarku menegur Melanie. Aku ingin rasa sakit itu lenyap darinya. Beban tambahan
berupa penderitaannya tak tertahankan bagiku. Penderitaanku sendiri sudah
cukup.
Teganya Jared? Teganya Jared? Melanie
mengucapkan kata-kata itu berulang kali, mengabaikanku.
Kami menangis, tak terkendali.
Satu kata memulihkan kami dari keadaan
nyaris histeris.
Dari mulut lubang, suara Jared yang
rendah dan kasar—terdengar parau, dan anehnya, seperti kanak-kanak—bertanya,
“Mel?”
.
.
.
TO
BE CONTINUED
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar