Hello!! Ketemu
lagi ya sama aku muehehe. Sebenernya yang pengen aku post hari ini bukan cerpen
cuma bahan cerita untuk mading di sekolah kemarin, tapi karena biar lebih tau
ceritanya, aku post sekarang yah haha.
Sebelum
itu aku mau ngejelasin siapa itu Alfa dan Doni, sebenarnya nama Alfa dan Doni
plesetan dari kedua teman kami yang bernama Alfi dan Dani. Karena mereka sangat
dekat, maka dari itu mereka menginspirasi aku untuk buat cerita mereka. Awalnya
mereka gak terima karena aku bikin cerita mereka yang lebih mendekati homo. Ya memang
sih, karena hubungan pertemanan mereka yang sangat dekat, jatuhnya mereka malah
sweet banget. Kita yang liat kan jadi geli sendiri wkwk.
Sebenernya ini juga bukan ide aku tapi ide
temanku yang bernama Savira atau biasa di panggil Veru, dia juga salah satu
teman hobiku sih karena dia juga suka sastra sepertiku. Dan dia yang paling
senang melihat kemanisan Alfi dan Dani. Aneh ya dia haha. Dan dia juga yang ngusulin
nama plesetan menjadi Alfa dan Doni. Mulai dari sini, mungkin kami bakalan
terus membuat Sesi Alfa dan Doni ini hahaha.
S E S I A L F A D A N D
O N I
Bel
istirahat mulai berbunyi di seluruh penjuru sekolah. Di kantin tampak
siswa-siswi mulai berdatangan untuk mengisi perut mereka masing-masing. Salah
satu dari beberapa siswa itu adalah Alfa dan Doni. Dengan langkah kecil mereka
bersama-sama menuju kantin. Wajah mereka penuh canda dan tertawa
terpingkal-pingkal saking semangatnya. Tampak seperti dua sahabat yang sangat
gembira. Tak ada yang mampu menyaingi persahabatan mereka.
“Pa,
bentar lagi kan masa osis kita selesai, terus diganti dengan pengurus osis yang
baru. Lo mau ketua osis kita dijabat sama cowok yang tampangnya culun banget?” Doni langsung
ngerocos saat mereka duduk di tempat yang kosong.
“Don, lo udah berapa tahun sih temenan sama gue? Nama gue pake
Fa bukan pa. emangnya lo kira gue bapa-bapa apa? Dasar, ganti-ganti nama orang
aja. Ya gue gamau lah, mending gue yang jadi ketuanya daripada gue nyerahin
jabatan yang penting banget itu ke cowok yang culunnya minta digebukin,” Alfa hampir
berteriak, semua seisi kantin hampir menoleh kearah mereka.
“Ya
suka-suka gue lah, kan gue yang manggil ini. Emangnya kalau lo yang jadi
ketuanya lo bisa apaan? Mau di apakan rakyat-rakyat lo kalau lo yang jadi
ketua? Mau di jadiin babu?”
“Ya enggaklah, kalau gue yang jadi ketuanya gue jamin deh sekolah ini bakalan
tentram. Emangnya lo ga minat sama yang begituan?”
“Ogah! Ngapain capek-capek ikut begituan, mending gue tidur dirumah. Lah
emangnya lo gak malu tahun kemaren lo kan kalah sama si Fahri, emangnya
sekarang mau nyalonin lagi?”
“Alah diem aja deh lo! Bilang aja lo ga berani ngelawan gue, yakan?” Bukannya
memakan pesanan yang sudah datang, mereka malah berdebat lantaran keduanya
saling meledek satu sama lain. Beberapa menit mereka makan, terdengar sirine
dari penjuru sekolah.
“Pengumuman-pengumuman! Bagi peserta didik yang ingin mencalonkan diri
sebagai ketua osis, harap menghubungi pembina osis. Pendaftaran paling lambat
lusa nanti. Terimakasih,” Terdengar Pak Dasri memecahkan semua penjuru sekolah.
“Wah, gue pasti daftar dong, man!
Lo daftar gak?” Tanya Alfa dengan mulut masih sibuk mengunyah. Doni hanya
menggeleng dan memasang tampang ga minat sama sekali sama hal-hal yang rumit
seperti itu.
“Itu
berarti gue menang dari lo, dong."
Doni yang mendengar hal itu diam seketika, tidak jadi menyuap makanan yang
tinggal setengah. Sudah 2 tahun mereka hampir berteman dan sudah 2 tahun juga
mereka saling berlomba-lomba untuk meraih yang lebih unggul. Setelah lama
berpikir, Doni bertekad bahwa dia akan mencalonkan dirinya sebagai ketua osis.
Tentu saja ingin mengalahkan temannya sendiri, Alfa. Ia tak akan rela jabatan
yang sangat penting itu jatuh di tangan sahabatnya sendiri. Ia akan ikut
berpartisipasi.
“Oh jadi lo boong sama gue ya, Don? Katanya lo ga minat sama hal-hal yang
berbau beginian. Lo mau nikung gue? Atau lo mau ngalahin gue?”
“Iya! Emangnya kenapa kalau gue mau ngalahin lo? Gaboleh? Lagian percuma
kalau lo jadi ketos cuma modal tampang doang, toh aslinya kemampuan lo jauh
lebih parah dibawah gue.”
Mata Alfa membulat, kaget akan kata-kata Doni yang tidak seperti biasanya.
“Oh ya?! Liat siapa yang nanti bakalan jadi yang utama. Dan gue bakalan buktiin
sama lo kalau gue gak cuma modal tampang doang. Gue bakalan buktiin kalau gue
punya kemampuan untuk jadi ketos. Ngerti?!”
Sampai hari ini sudah ada 4 orang peserta didik yang mencalonkan dirinya
sebagai ketua osis. Pertama adalah Caca, anak kelas 10 yang masih ingusan dan
mungkin masih gak paham sama hal-hal yang berbau organisasi, apalagi jadi ketua
osis. Kedua adalah si Wendi, anak kelas 11 yang kemaren diomongin sama
Alfa dan Doni. Dan selanjutnya tentu saja Alfa dan Doni.
Persahabatan antara Doni dan Alfa sempat renggang gara-gara perkataan Doni
yang pedas itu terhadap Alfa. Alfa gak terima dia dibilang cuma modal tampang
dan gak punya kemampuan sama sekali. Apalagi yang bilang semua itu adalah
temannya sendiri!
Debat kandidat sudah dilakukan kemarin, dan hari inilah penentuannya. “Don,
mending lo nyerah aja deh sama gue. Sok-sok an pengen jadi ketos, toh yang
bakalan jadi ketos udah pasti gue kok!”
Doni tersenyum sinis, “Oh ya?! Jangan terlalu berharap, Alfa. Gue harap lo
ga bakalan nyesel sama kata-kata lo itu ya. Siap-siap kalah dari gue, man!”
Penghitungan suara di habisi sampai ludes. Alfa sekaligus Doni sama-sama
berpandangan, kaget bahwa yang terpilih menjadi ketua osis adalah Doni. Ya,
walaupun sudah tahu bahwa Doni menang dari Alfa, dia gak akan bisa menjadi
ketua osis. Entah apa sebabnya. Doni menutupi rasa gelisahnya, ia tetap
tersenyum sinis pada Alfa. Alfa seakan tak percaya bahwa kali ini ia kalah pada
Doni. Karena biasanya Alfa lah yang lebih unggul.
“Oke, kita tahu bahwa yang menjadi ketua osis periode 2014-2015
adalah........ Doni!!” Mpk mulai mengambil alih lagi. Seluruh orang yang berada
disitu bertepuk tangan. Kecuali Alfa dan Doni.
“Tunggu!!” Teriak salah satu peserta didik. Dan orang itu adalah Doni. Doni
seakan bingung, mengapa mulutnya berteriak seperti itu tanpa sadar.
Doni merebut mik dari Mpk yang tadi berbicara, “Maaf, tapi saya gak bisa
jadi ketua osis. Saya mundur.” Doni masih bingung, Alfa bingung, semua yang ada
disitu bingung.
Alfa
merebut mik dari Doni, “Maaf, saya juga mundur,” semua orang semakin bingung. “Ayok
Don! Kita pergi dari sini!” Alfa menarik lengan Doni secepat kilat. Dia menuju
kelas.
Mereka tahu bahwa persahabatan merekalah yang terpenting, bukan jabatan
yang memang pada dasarnya cukup populer. Tapi jika tak ada sahabat di samping
kita, semua bakalan percuma. Karena mereka berdua mundur, dari ke-dua calon
ketua osis, suara yang paling banyak adalah Wendi, tentu saja Wendi yang
menjadi ketua osis.
By : Amanda Hanifah NH dibantu oleh Savira Mujahidah;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar