Ilustrasi by: Savira Mujahidah
“Uhh, nyebelin banget! Kayaknya hari
ini hari sial gue deh,” umpat Devi ketika tiba dirumahnya. Ia menjatuhkan
sepatunya dengan asal setelah itu melempar ransel birunya.
Di
mulai semenjak ia berangkat ke sekolah dengan ban motor yang bocor membuat
dirinya telat masuk sekolah. Ia dihukum oleh kepala sekolah dengan mengangkat
kaki sambil hormat di lapangan dekat tiang bendera bersama murid lain yang juga
datang terlambat. Jam istirahat di kantin baju nya yang putih bersih menjadi
kotor karena ada salah satu adik kelas yang tidak sengaja menumpahkan air teh
ke bajunya, ia sangat marah saat itu walaupun adik kelasnya sudah minta maaf
berulang kali. Ditambah dengan PR yang lupa ia kerjakan saat pelajaran Kimia
membuat ia harus keluar kelas dan tidak boleh mengikuti pelajaran kimia saat
itu juga. Kemudian di akhiri oleh mobil angkot yang menabrak motor belakangnya
sehingga motornya sedikit lecet, Devi mencaci-maki sopir angkot tersebut. Haft!
Memang hari yang menyebalkan.
Devi
memainkan handphone nya, dari tadi ia menunggu kabar Rico yang tak kunjung
hadir dalam layar handphone nya. Di sekolah tadi, ia tidak menemukan sesosok
Rico. Karena hari sial nya, ia tak bisa memikirkan Rico.
Jarinya
menari di atas keypad handphone, mendengar tanda telpon tunggu di seberang.
Namun tak ada jawaban.
Devi
kesal, melempar handphonenya ke kasur. Mungkin Manda bisa mendengarkan keluh
kesahnya hari ini. Devi mengambil handphone nya kembali, meghubungi Manda. Tapi
ia lupa, ini masih jam empat sore. Manda pasti belum pulang dari sekolahnya. Ia
mematikan panggilannya. Melempar lagi handphonenya. Karena lelah dengan
pikirannya sendiri, Devi terlelap. Sampai besok pagi ia terbangun.
“Pagi!!!!
Selamat ulang tahun kakak! Mana kado buat aku nya?” Baru saja Devi membuka
matanya. Dan ia belum pulih untuk bangun. Adiknya menyodorkan kue ulang tahun
dengan lilin yang masih menyala. Devi kembali terlelap.
“Devi!
Bangunnnn!” Kali ini suara Kakaknya.
“Dev,
Bangun! Nanti kamu kesiangan loh,” mamanya ikut menjewer telinganya, agar ia
bangun.
Tapi
memang dasar Devi yang tak kunjung bangun. Satu menit Devi tertidur dengan
tenang. Tak ada suara di sekelilingnya. Dua menit....... tiga menit............
empat menit........
Byurrrrrr.
Suara air di tumpahkan ke wajah Devi mengagetkan Devi dari tidur panjangnya. Ia
langsung terduduk karena kaget. Kakak dan adiknya tertawa puas, tanda mereka
menang.
“Ih!
Kak Putra, Gemma! Kalian tuh emang paling nyebelin banget sih!!!!”
“Yee,
kok marah sih neng? Lagian elu sendiri yang susah dibangunin. Yaudah nih, make a wish dulu. Abis itu mandi.” Kak
Putra menyodorkan kue ulang tahun ke depan muka Devi. Dengan lilin bernomor
enam belas tahun.
Devi
make a wish terlebih dahulu setelah itu meniup lilinnya. Beginilah kak Putra dan
adik Devi bernama Gemma. Mereka kadang memang selalu meledek dan tidak pernah
akur terhadapnya. Namun hal itu yang membuat mereka semakin memahami satu sama
lain.
Yey! Desember. Pagi ini Devi berangkat
ke sekolah terlihat lebih senang dari kemarin. Padahal kemarin hari sialnya.
Mudah-mudahan saja hari ini tak seperti hari kemarin. Devi mencari Rico yang
tak kelihatan batang hidungnya dari kemarin. Padahal sosok Rico lah yang ia
harap pertama mengucapkan selamat ulang tahun padanya hari ini. Sesosok yang sangat
berarti baginya.
Tadi
pagi sebelum ia berangkat ke sekolah, ada kiriman kotak panjang buat dirinya.
Devi tak sempat membukanya, ia hanya meminta mamanya menaruh di kamarnya. Ia
akan membukanya nanti.
Seharian
sudah ia lelah mencari Rico, sore ini ia akan pulang ke rumah. Tak ada lagi
siapa-siapa di sekolah, selain dirinya dan beberapa petugas sekolah. Ia pulang
dengan perasaan sedih. Rico tak datang ke sekolah hari ini.
“Mungkin
aku harus ke rumahnya? Ya, aku akan mencoba kerumahnya,” pikirnya sambil
mengendarai motornya. Motornya melaju cepat ke arah rumah Rico.
“Permisi
tante, Rico nya ada?” Sapa Devi ketika berada di depan rumah Rico.
“Rico
nya ga ada tuh, belum pulang. Ini siapanya ya? Ada perlu apa?” tanya ibu-ibu
yang membukakan pintu rumah Rico. Sepertinya mamanya Rico.
“Saya
mau minjem catatan fisika tante, kebetulan saya dua hari ini tidak masuk karena
sakit,” bohong Devi sambil tersenyum. Ia terpaksa berbohong karena tak mungkin
ia mengatakan yang sebenarnya maksud kedatangan ia ke rumah Rico. Berbohong
demi kebaikan tak apa kan?
“Oh
gitu, maaf ya nak, Rico nya belum datang. Mungkin nanti malam Rico datangnya.”
“Hm...
gitu ya tante, yaudah deh saya pulang ya tante, makasih banyak.” Pamit Devi
dengan wajah yang kecewa.
Ia
sampai rumah dengan perasaan tak karuan. Ia berjalan ke kamarnya dengan lesu.
Apa Rico selingkuh? Atau Rico sudah tak ingat lagi ulang tahun nya? Apa Rico
sudah tak sayang lagi padanya? Apa Rico lupa? Apa Rico sudah bosan? Arrghhh! Ia
benci.
“Awas
aja kalau lo ketemu sama gue! Gue bakal mukulin elo sekenceng-kencengnya!!!
Rico sialan! Rico playboy!”
Handphone
Devi bunyi. Dari Manda, ia mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ia juga
bertanya apakah ia sudah putus dengan Rico?
Tiga hari yang lalu Manda tak sengaja melihat Rico bersama seorang
perempuan di Ramayana. Tapi ia tak kenal siapa, ia hanya tahu perempuan yang
bersama Rico memakai baju seragam sekolah yang sama dengan Rico. Itu artinya
perempuan itu satu sekolah dengannya.
“Gak!
Gue gak boleh ngebiarin Rico selingkuh! Dia udah pernah janji sama gue, dia
selalu ada buat gue, dia selalu ngertiin gue!” Teriak nya lagi di kamar. Ia
harap keluarganya tak mendengarnya.
Tapi
memang dasar cowok playboy. Dia hanya bisa berbicara gombal seenaknya, tanpa
harus memikirkan perasaannya. Tanpa harus merasa bersalah. Entah kenapa ia muak
dengan Rico setelah itu.
Devi
sangat kesal! Tak percaya Rico akan selingkuh dengan temannya sendiri!
Handphonenya jatuh di dekat kiriman bingkisan kardus besar tadi pagi. Tak ada
ucapan apapun di sepanjang kardusnya. Hanya ada tulisan untuk Devi. Devi
semakin penasaran. Ia membukanya perlahan-lahan.
Tangannya
bergerak membuka perlahan. Sebuah boneka berwarna ungu, boneka kesukaannya. Ia
senang bukan main. Tapi boneka itu tak sendirian. Ada sesuatu yang melingkari
bonekanya. Setelah ia membuka semuanya, betapa ia kaget bahwa Rico yang ada di
kardus ini, dengan memeluk bonekanya. Ia sedang tertidur, tertidur pulas.
Badannya mengerut mengikuti bentuk kardus yang tak luas itu.
Devi
terharu, ia tersenyum bahagia. Devi menyentuh tubuh Rico. Dingin. Rico pucat
sekali. Betapa kagetnya dia ketika ia tahu bahwa nafas Rico tak berhembus lagi.
Betapa ia kaget, betapa ia tak karuan. Ia tak akan berpikir bahwa Rico ada di
dalam kardus ini. Betapa Rico mementingkan bingkisan ini daripada sekolahnya? Berapa
lama ia bertahan di kardus ini? Bagaimana ia bertahan nafas pada kardus yang
tak ada udara sama sekali?
Devi
menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal dengan apa yang ia pikirkan. Ia menyesal
dengan perasaannya. Rico bukannya tak ingat dengan hari ulang tahunnya. Ia
ingat semuanya, bahkan ia memberi nya hadiah padanya yang menurutnya Devi akan
bahagia.
“Elo
bodoh Ric, elo bodoh! Kenapa elo make cara ini? Kenapa elo membahayakan diri lo
sendiri? Ric! Elo gak pernah mau mikir Ric! Gak gini caranya Ric! Ric, bangun
Ric bangun! Gue gamau di hari ulang tahun gue lo malah ga ada Ric! Lo bodoh Ric
lo bodoh! Memangnya dengan cara yang seperti ini gue bakalan suka?
Rico!!!!!!!!”
Devi
menangis sejadi-jadinya, ia sangat menyesal. Ia sungguh sangat menyesalinya.
Mengapa ia tak langsung membukanya ketika bingkisan itu sampai tadi pagi
sebelum ia berangkat sekolah? Bahkan ia sempat berpikiran yang tidak-tidak
terdapat Rico. Ia bahkan sempat menjelek-jelekkan Rico. Devi tahu, Rico tak
akan pernah membayangkan bahwa hari ini lah terakhir kali ia melihatnya.
Terakhir kali ia membahagiakan Devi. Terakhir kali ia melihat Devi.
“Maafin
gue Ric! Gue bener-bener gatau lo ada disitu! Ric, gue nyesel. Ini kado
terindah sekaligus kado terburuk yang pernah gue terima dalam hidup gue, Ric.
Gue rela, gue Ikhlas.....”
Ternyata
memang orang itu adalah teman Devi, kemarin ia disuruh Rico membantu mencari
hadiah yang tepat buat Devi. Devi terharu.
By:
Amanda Hanifah NH
Thanks
To: Devi Nury A & Savira Mujahidah
Twitter:
@AmandaHanifah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar