Hellloooo guys! Rasanya udah bertahun-tahunaku ga nulis disini. Blog aku udah ga keurus aja soalnya ga ada yang ngurus hehe. Maaf yaa baru ngepost cerita lagi, tapi yang ini cerpen=) yukk langsung baca aja:
Gerimis masih turun. Pagi ini tak secerah suasana hati Ventza. Ventza melangkah memasuki gerbang sekolahnya. Hari ini adalah hari pertama ia menjadi murid SMA. Ia berjalan sambil sesekali menghindari genangan air yang masih tersisa.
"Ventza Brilianty! Rajin sekali kau pagi ini. Masih banyak teman-teman kita yang belum datang tepat pada waktunya," Ventza tersenyum. Rara selalu begitu, menyapa ramah orang-orang yang ada disekitarnya. Rara selalu tersenyum pada orang yang bertatap muka dengannya. Dia salah satu orang yang sekelompok dengan Ventza saat masa orientasi sekolah. Tapi sayang, mereka tidak sekelas.
"Lalu kau sendiri? Ayolah, Rara Arviany. Jangan selalu merendahkan diri seperti itu. Kau tahu dirimu lebih baik dariku. Okey?" Ventza melirik sekilas pada Rara setelah berjalan ke kelas untuk menyimpan tas di meja. Keadaan kelas itu masih sepi. Sudah jam berapa ini?
Jam istirahat heboh karena kedatangan murid baru. Murid baru itu adalah laki-laki yang katanya bernama Evan. Evan memiliki wajah yang bersih, berkulit putih dan yang paling menarik darinya adalah matanya yang berwarna hitam pekat. Kemungkinan dia akan masuk ke dalam kelas Ventza.
Ventza tak terlalu ambil pusing dengan keadaan teman-temannya yang membicarakan Evan. Dasar mata keranjang! Umpat Ventza dalam hati ketika melihat teman-temannya berdecak kagum melihat Evan berjalan di depan mereka. Keadaan ini yang membuatnya semakin bosan.
Malam itu Ventza diajak ayahnya untuk membeli perlengkapan sekolah yang belum lengkap di Ramayana. Masih ada beberapa yang belum sempat dibeli. Diantaranya kaos kaki, pulpen, pensil, penghapus dan stabilo.
Ventza dan ayahnya berjalan keluar sesudah selesai membeli peralatan sekolahnya. Tiba-tiba ayahnya melihat di depan sana banyak orang-orang berkerumunan.
"Maaf bu, disana ada apa ya ramai-ramai begitu?" Ayahnya bertanya pada ibu-ibu yang keluar dari kebisingan.
"Oh itu, ada anak yang sedang memainkan gitarnya dengan sangat unik. Selain memainkan gitar dengan cara dipetik ia memainkan gitar dengan cara dipukul. Tak heran karena orang-orang tertarik melihatnya. Aku juga senang melihatnya," Ibu itu menjelaskan dengan antusias, sama hal nya dengan orang yang baru saja bertemu artis. Ibu itu langsung pergi ketika ayah mengucapkan terimakasih.
"Ayo kita lihat kesana, Ven!"
Ventza mengikuti langkah ayahnya. "Permisi bu, permisi pak," ia mencoba untuk melihat di posisi paling depan. Langkahnya terhenti ketika Ventza berhasil menempati posisi paling depan dan melihat siapa orang yang memainkannya. Evan. Ya, Edmund Dy Evan.
Ventza masih terdiam kaku melihat Evan. Matanya secara bergantian melihat Evan dan kotak bekas berisi uang. Orang-orang berebut memasukkan uangnya di kotak itu. Apa yang dilakukan Evan?
"Ventza, ayo kita pulang. Sudah jam 10 lewat. Besok kau kan sekolah," suara ayahnya membuyarkan lamunan Ventza.
"I..Iyaa, yah."
Pagi ini Ventza bangun kesiangan. Ia terburu-buru sampai rok nya tak sempat di setrika. Buku-buku ia masukkan asal tanpa melihat jadwal pelajaran untuk hari ini. Ini gara-gara ia pulang terlalu larut.
Sampai disekolah ia sedikit berlari. Untung saja, guru yang piket hari itu belum menunggu di depan gerbang, jadi ia di perbolehkan masuk. Di perjalan menuju kesini Ventza memberanikan diri untuk membawa motor dengan kecepatan kencang. Ternyata, memang tidak sia-sia.
Tak ada Rara yang menyapa, karena ia sudah pasti berada di kelasnya. Bel sudah berbunyi dari tadi. Ia tahu itu.
Ventza membuka pintu kelasnya perlahan. Sudah ada guru disana. "Maaf pak, saya terlambat," ucap Ventza pelan sambil tersenyum.
"Kenapa terlambat?" tanpa disangka-sangka pak Rendra siap untuk marah. Ventza malah tidak diperbolehkan memasuki kelas. Ventza dihukum. Ia berdiri di lapangan di depan tiang bendera. Tangannya di tempelkan di atas alis mata. Nasib.
Tak lama, ia melihat Evan lebih terlambat dari pada Ventza. Evan senasib dengannya. Jadilah mereka berdua berdiri di depan tiang bendera.
Beberapa lama mereka hanya terdiam. Karena mereka memang belum terlalu kenal. Tapi mereka tahu nama masing-masing. Evan terlambat pasti karena peristiwa tadi malam.
"Aku melihatmu semalam," Ventza memberanikan diri mengawali pembicaraan itu. Rasa penasarannya melebihi gengsinya.
Evan membulatkan matanya kaget. Ia sudah tahu arah pembicaraan gadis yang baru pertama kali berbicara dengannya. "A....Apa yang kau lihat?"
"Jangan keras-keras! Pak Rendra bisa menambahkan hukuman kita. Aku melihatmu memainkan gitarmu tadi malam."
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," Evan menjawab setenang mungkin. Membiarkan sikap khawatirnya hadir. Membuat tubuhnya tiba-tiba menegang.
"Tidak perlu berpura-pura terhadapku. Apa yang kau lakukan disana?"
Evan membuka mulutnya. Tapi tak jadi karena ada guru yang mengawasi mereka. "Tidak ada yang ku lakukan," Jawab Evan ketika guru itu sudah tak terlihat.
"Jujur saja padaku, Edmund Dy Evan. Aku tak akan memberitahukan ini pada siapa-siapa."
Gadis itu akan meluncurkan pertanyaan yang sama berulang kali. Gadis yang cerewet. Evan menghembuskan nafas berat. "Sebenarnya, apa yang kau pikirkan tentang itu, Ventza? Namamu Ventza kan?"
Ventza menoleh pada Evan, menatap bingung sekaligus mengangguk. "Apa yang kupikirkan? Tentu saja ada alasan dibalik semua yang kau lakukan. Aku benar kan?"
Evan tertawa tanpa suara. Karena takut suaranya terdengar pada pak Rendra. Tapi wajahnya berubah menjadi biasa. "Ya, kau benar."
"Cepat katakan, Evan! Kau membuatku semakin penasaran." Ventza sedikit berteriak. Membuat pak Rendra keluar kelas.
"Apa yang kalian bicarakan? Apakah kalian mau menambah hukumannya?" Mata Pak Rendra melotot, seakan siap-siap untuk keluar.
Mereka berdua hampir terlonjak kaget. "Tidak!" Ventza dan Evan menjawab bersamaan. Mereka bertatap-tatapan. Seakan sama-sama berkata ‘Mengapa kau mengikutiku?"
"Baiklah, aku akan menambah waktu kalian berdiri disini sampai jam istirahat selesai berbunyi."
"Apaaa?!"
"Tidak ada protes!" Pak Rendra memasuki kelasnya lagi. Meninggalkan dua anak yang mengomel tak jelas.
"Gorilla itu ingin membuatku mati! Aku belum sarapan pagi ini," Ventza mendecak kesal.
"Gorilla apa maksudmu? Pak Rendra? Bagaimanapun sikapnya dia tetap gurumu, mengerti?"
"Aku keceplosan. Ya, aku tahu. Sampai dimana tadi kita?" Ventza tersenyum sambil tetap mengambil posisi tegak dengan tangan diatas alisnya. Hormat pada bendera merah putih. Ventza baru pertama kali berbicara pada laki-laki ini. Tapi ia sudah merasa sangat dekat. Ia terlalu penasaran. Ia tidak suka dibuat penasaran.
Evan menghembuskan lagi nafasnya dengan berat. Ia memejamkan matanya sebentar. Berpikir apakah ia akan menceritakan pada gadis yang bahkan baru dikenalnya? Tapi dari mata gadis itu, Evan percaya....Amat sangat percaya pada Ventza. "Baiklah. Aku akan menceritakannya padamu," ia memutuskan sejenak. "Mungkin dengan cara bermain musik, aku bisa menemukan ibuku."
"Menemukan ibumu?" Ventza mulai tertarik dan siap mendengarkan.
"Ya, menemukan ibuku. Dari kecil aku tidak tahu siapa ibuku. Aku tidak tahu dimana aku dilahirkan. Aku tidak tahu tempat tanggal lahirku. Seperti kebanyakan orang, aku sudah pasti anak haram. Maka dari itu mereka membuangku."
"Evan.... Maaf, aku tidak tahu." Gadis itu menatapnya simpati. Evan terkekeh sekaligus sedih menceritakannya pada gadis itu. Entah apa yang membuatnya menceritakan semuanya.
"Tidak apa-apa, Ven. Kau mau aku melanjutkan? Aku sudah terlanjur mengatakannya padamu."
"Baiklah, lanjutkan saja."
"Tapi dari kecil tubuhku tak pernah menolak bunyi yang keluar dari alam. Suara basket yang memantul, suara gesekan daun, suara dentingan mainan anak bayi, perpaduan bunyi itu bahkan pernah kujadikan melodi. Bahkan tanpa aku yang membuat melodinya, ia akan datang padaku dengan tersendiri. Aku yakin mereka juga menyukai musik, sama hal nya seperti aku menyukai musik. Karena ini semua ada dengan sendirinya."
"Bermain gitar dengan cara dipukul. Bagaimana kau memulainya? Lalu selama ini kau tinggal dimana?
"Waktu itu aku mengikuti seorang pengamen karena nomor telepon yang polisi berikan untuk menemui orang tuaku hilang. Awalnya dia kesal karena aku mengikutinya. Tapi akhirnya, dia mengijinkanku. Dia bernama Leo. Aku memasuki rumah yang lebih mirip gudang karena isinya memang berantakan. Waktu aku datang, keadaannya sangat kacau. Dia mengenalkanku pada pemimpin mereka. Pemimpin itu seorang bapak yang sudah berumur sekitar empat puluh dua tahun. Bapak itu meremehkanku karena aku tak memiliki kemampuan," Evan berhenti sejenak. Ventza melihatnya, ia tahu Evan mengingat kembali kejadian yang ia lewati. Tapi Evan mencoba untuk tegar.
"Pagi itu, ketika semua orang belum bangun. Aku memainkan gitar milik Leo. Tentu saja dengan cara seperti yang kau lihat malam itu. Aku tak tahu darimana itu semua berasal. Aku memainkan gitar Leo dengan tanganku sendiri. Kemampuanku muncul saat itu. Semua orang berkerumunan mengelilingiku. Leo hampir marah karena ada orang yang menyentuh barangnya. Tapi bapak itu membiarkannya. Saat itu mereka mengangkatku bagian dari mereka."
Ventza seakan menahan nafasnya kemudian menghembuskannya panjang. "Evan....Sesulit inikah?"
"Aku bersekolah disini juga karena kemauan bapak itu," jawab Evan seakan tahu apa yang ingin Ventza tanyakan lagi.
Selama beberapa lama mereka terdiam. Bingung apa yang ingin mereka bicarakan. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin Evan cukup menceritakannya sampai situ.
"Ventza....."
Evan menatap Ventza. Ventza menoleh. "Hem?" Ventza hanya bergumam tak jelas. Perlahan Evan meraih tangan Ventza. "Bantu aku menemukan orang tuaku." Evan mencari mata Ventza. Matanya berbicara pada mata Ventza.
Siang ini Jakarta panas. Evan sibuk berlatih di studio sewaannya. Tentu saja ia bersama Ventza. Ya, Ventza bersedia membantu Evan. Rara sempat heran melihat Ventza yang belakangan ini dekat sekali dengan Evan. Bahkan teman-temannya beranggapan bahwa mereka memiliki hubungan lebih dari sekadar teman.
Ventza mempunyai ide bagus terhadap apa yang harus mereka lakukan. Mereka akan membuat konser untuk Evan. Agar orang tuanya bisa melihat dan menemukan mereka. Itu artinya, Ventza harus mencari sponsor yang banyak untuk konser Evan. Ada salah satu sponsor yang melihat cara permainan Evan. Selain Evan sendiri yang bermain, Evan akan menjadi komposernya. Ia akan menjadi pemandu musiknya. Ini juga khusus lagu yang diciptakan Evan sendiri. Hebat bukan?
"Kau tahu? Bapak itu yang selalu mendampingiku untuk bermain musik. Ia selalu kagum dengan permainanku. Tapi dia hanya memanfaatkanku, dengan begitu dia bisa mendapatkan banyak uang. Dia tak mau aku kembali lagi pada orang tuaku, Ventza. Lalu aku kabur bersamamu. Aku menghindarinya." Gadis itu terdiam. Tak tahu harus berkata apa.
"Ventza, Bernyayilah bersamaku dipanggung. Aku tahu kau sangat senang menyanyi."
"Benarkah? Apakah waktunya akan cukup? Konsermu akan berlangsung esok lusa," Ventza merendahkan diri.
"Ventza Brilianty, jangan sungkan seperti itu. Aku akan membuatmu merasa nyaman di panggung. Kita akan satu panggung."
"Ba..Baiklah. Evan, Terimakasih...." mata Ventza berkaca-kaca. Ia sangat senang. Bernyanyi dipanggung adalah impiannya. Ini adalah kesempatannya.
"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu. Ventza, Terimakasih untuk semuanya. Kau sudah membantuku sejauh ini," Evan tersenyum.
Hari yang semua orang tunggu-tunggu. Konser yang sederhana ini akan berlangsung selama 1 setengah jam.
Konser dimulai sekitar pukul 4 sore di Jakarta Square. Diawali dengan Evan yang memainkannya sendiri. Kemudian Ventza dan Evan yang bernyanyi bersama. Dari sedikit orang yang tertarik menjadi banyak orang yang tertarik. Sampai pada akhirnya penampilan yang terakhir. Evan yang menjadi komposernya kali ini. Melodi itu mengalun dengan indah. Menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Ventza menatap Evan tanpa berkedip. Harus ia akui Evan membuatnya semakin suka pada musik. "Kau sedang terbang, Evan!" Ventza menangis terharu.
Di dunia ini ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan yang pertama adalah kebahagiaan yang dulu pernah ia raih, kebahagiaan yang dulu pernah ia rasakan. Kebahagiaan yang kedua adalah kebahagiaan saat ini.
Diantara ratusan orang yang menonton langsung konser Evan. Ada dua orang yang menatap bangga pada Evan. Dua orang yang selama ini mencari lewat melodi-melodi yang mereka ciptakan. Ternyata ayah Evan adalah seorang musisi yang sudah pensiun. Sedangkan ibunya adalah seorang penyanyi yang terkenal sebelum ia melahirkan Evan dan sebelum sebuah melodi memisahkan mereka.
Mereka menangis terharu. Mereka tersenyum bangga.
Selesaai=D
Makasih yaa udah mampir cuma untuk bacaa cerpen aku, sering-sering mampirrr. Daaah=)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar