Dua peneliti Caltech mengumumkan pada
tanggal 20 Januari 2016, mereka telah menemukan bukti sebuah planet raksasa
yang memiliki orbit aneh yang sangat elips di luar Tata Surya. Obyek itu oleh
peneliti diberi nama Planet 9, memiliki massa kira-kira 10 kali Bumi dan
mengorbit sekitar 20 kali lebih jauh dari Matahari rata-rata terhadap Neptunus.
Planet baru ini membutuhkan waktu antara 10.000 hingga 20.000 tahun hanya untuk
mengorbit satu kali mengitari Matahari. Menariknya, jika Pluto masih dihitung
sebagai planet, bukannya planet kerdil seperti diputuskan oleh International
Astronomical Union pada tahun 2006, planet baru ini tidak akan disebut Planet
9, tetapi Planet 10. Beberapa orang bahkan menyebutnya Planet X (10) yang
sebenarnya.
Read more at: http://www.kitabhenokh.com/index.php/planet-x-nibiru/berita-terbaru/item/155-planet-9-peneliti-caltech-mengumumkan-bukti-planet-raksasa-baru-di-tata-surya
Read more at: http://www.kitabhenokh.com/index.php/planet-x-nibiru/berita-terbaru/item/155-planet-9-peneliti-caltech-mengumumkan-bukti-planet-raksasa-baru-di-tata-surya
Para
peneliti mengharapkan dimulainya bantuan dari seluruh dunia untuk menemukan
planet baru ini segera sesudah mereka mengumumkan buktinya. Keberadaan planet
ini ditemukan oleh Konstantin Batygin dan Mike Brown melalui model matematika
dan simulasi komputer, namun mereka belum mengamati obyek itu secara langsung.
Batygin dan Brown menjelaskan penelitian mereka dalam Jurnal Astronomi dan
menunjukkan bagaimana Planet 9 menjelaskan berbagai hal misterius di daerah
benda-benda es dan puing-puing di luar orbit Neptunus yang dikenal dengan nama
Kuiper Belt (Sabuk Kuiper).
"Hanya
ada dua planet yang sebenarnya ditemukan sejak zaman kuno (Uranus dan
Neptunus), dan ini akan menjadi yang ketiga. Ini sebuah bongkahan yang sangat
besar dari Tata Surya kita yang masih ada di luar sana untuk ditemukan, dan ini
sangat menarik," kata Brown.
Brown
mencatat bahwa yang diduga Planet 9 – memiliki massa 5000 kali Pluto – cukup
besar sehingga tidak perlu diperdebatkan apakah ini planet yang sesungguhnya.
Tidak seperti jenis obyek-obyek yang lebih kecil yang dikenal sebagai planet
kerdil, gravitas Planet 9 mendominasi lingkungan sekitarnya di Tata Surya.
Bahkan, itu mendominasi wilayah yang lebih luas dari planet-planet lain yang
dikenal – ini fakta yang oleh Brown dikatakan "planet yang paling planet dari
planet-planet lain di seluruh tata-surya."
Read more at: http://www.kitabhenokh.com/index.php/planet-x-nibiru/berita-terbaru/item/155-planet-9-peneliti-caltech-mengumumkan-bukti-planet-raksasa-baru-di-tata-surya
"Meskipun
awalnya kami sangat skeptis bahwa planet ini bisa ada, sementara kami terus
menyelidiki orbitnya dan apa artinya itu untuk Tata Surya luar, kami menjadi
bertambah yakin jika itu ada di luar sana," kata Batygin, seorang asisten
profesor ilmu keplanetan. "Untuk pertama kali sejak lebih dari 150 tahun,
ada bukti kuat bahwa penghitungan jumlah planet Tata Surya belum lengkap."
Keberadaan
Planet 9 menjelaskan lebih banyak daripada sekedar kesejajaran obyek-obyek jauh
di Kuiper Belt. Itu juga memberikan penjelasan bagi orbit misterius dua obyek
yang mereka lacak. Obyek pertama, dinamai Sedna, ditemukan oleh Brown pada
tahun 2003.
Tidak
seperti berbagai macam obyek standar Kuiper Belt, yang secara gravitasi
"ditarik" oleh Neptunus dan kemudian kembali lagi, Sedna tidak pernah
benar-benar dekat kepada Neptunus. Benda kedua seperti Sedna, yang dinamai 2012
VP113, diumumkan oleh Trujillo dan Sheperd pada tahun 2014. Batygin dan Brown
menemukan bahwa keberadaan Planet 9 pada orbit yang diusulkan secara alami
menghasilkan obyek-obyek seperti Sedna dengan "mencengkeram" obyek
standar di Kuiper Belt dan perlahan-lahan menariknya ke dalam sebuah orbit yang
lebih sedikit berhubungan dengan Neptunus.
"Ketika
simulasi menyejajarkan obyek-obyek jauh Kuiper Belt dan menciptakan obyek-obyek
seperti Sedna, kami pikir ini sangat mengagumkan – Anda membunuh dua ekor
burung dengan satu batu," kata Batygin.
"Namun
dengan keberadaan planet yang juga menjelaskan orbit yang tegak lurus ini,
tidak hanya Anda membunuh dua ekor burung, namun Anda juga menjatuhkan burung
yang tidak Anda sadari sedang hinggap pada pohon yang ada di dekatnya.
"Namun
yang nyata bagi para peneliti ini adalah fakta bahwa simulasi mereka juga
memprediksi bahwa akan ada obyek-obyek di Kuiper Belt pada orbit yang condong
lebih tegak lurus pada bidang planet-planet. Batygin terus mencari bukti untuk
hal ini dalam simulasinya dan melaporkannya kepada Brown. "Tiba-tiba saya
menyadari ada obyek-obyek seperti itu," Brown mengingatnya. Dalam tiga
tahun terakhir, para pengamat telah mengidentifikasi empat obyek, melacak
orbitnya secara kasar di sepanjang satu garis tegak lurus dari Neptunus dan
satu obyek dengan yang lainnya. "Kami memetakan posisi-posisi obyek-obyek
itu dan orbit mereka, dan mereka tepat sesuai seperti simulasi," kata Brown.
"Ketika kami menemukan itu, mulutku ternganga."
Read more at: http://www.kitabhenokh.com/index.php/planet-x-nibiru/berita-terbaru/item/155-planet-9-peneliti-caltech-mengumumkan-bukti-planet-raksasa-baru-di-tata-surya
Read more at: http://www.kitabhenokh.com/index.php/planet-x-nibiru/berita-terbaru/item/155-planet-9-peneliti-caltech-mengumumkan-bukti-planet-raksasa-baru-di-tata-surya
Prediksi
konsekuensi keberadaan Planet 9 adalah bahwa rangkaian kedua dari obyek-obyek
yang terkurung seharusnya juga ada. Obyek-obyek ini dipaksa masuk ke posisi
pada sudut yang tepat ke Planet 9 dan ke dalam orbit yang tegak lurus pada
bidang Tata Surya. Lima obyek yang dikenal (biru) sesuai dengan prediksi ini
secara tepat.
Read more at: http://www.kitabhenokh.com/index.php/planet-x-nibiru/berita-terbaru/item/155-planet-9-peneliti-caltech-mengumumkan-bukti-planet-raksasa-baru-di-tata-surya
Darimana Planet 9 berasal dan bagaimana
akhirnya ia berada di luar Tata Surya?
Para
ilmuwan telah lama percaya bahwa Tata Surya awal dimulai dengan empat planet
inti yang terus menarik seluruh gas di sekelilingnya, membentuk empat planet
gas – Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Sepanjang waktu, tabrakan dan
pelontaran membentuk mereka dan memindahkan mereka ke posisinya sekarang.
"Tapi
tidak ada alasan bahwa tidak akan ada lima inti, bukannya empat," kata
Brown. Planet 9 mungkin mewakili inti kelima, dan jika ia terlalu dekat kepada
Yupiter atau Saturnus, itu mungkin akan terlontar ke orbitnya yang jauh, dan
eksentris. Batygin dan Brown terus menyempurnakan simulasi mereka dan
mempelajari lebih lanjut orbit planet ini dan pengaruhnya terhadap Tata Surya
jauh.
Sementara
itu, Brown dan rekan-rekan lainnya mulai mencari di langit keberadaan Planet 9.
Hanya orbit kasar planet ini yang diketahui, bukan posisi tepat planet ini pada
jalur elipsnya. Jika planet ini berada pada titik perihelionnya (jarak terdekat
dengan Matahari), Brown mengatakan, para astronom seharusnya bisa menangkap
gambarnya oleh survei-survey sebelumnya. Jika ia berada pada jarak terjauh dari
orbitnya, teleskop terbesar di dunia – seperti teleskop kembar 10 meter di
Observatorium Keck dan Teleskop Subaru, semuanya di Mauna Kea Hawaii – akan
diperlukan untuk melihatnya. Jika Planet 9 berada di antaranya, banyak teleskop
lain dapat membidik untuk mencarinya.
Teleskop
Subaru, Mauna Kea Hawaii "Aku sangat ingin menemukannya," kata Brown.
"Tapi aku juga sangat gembira jka orang lain yang menemukannya. Itu
sebabnya kami mempublikasikan laporan ini. Kami berharap orang lain akan
terinspirasi dan mulai mencari."
Dalam
memahami lebih lanjut tentang konteks Tata Surya di seluruh alam semesta,
Batygin mengatakan bahwa di dalam beberapa hal, planet ke-9 yang lain daripada
yang lain untuk kami ini sebenarnya akan membuat Tata Surya kita lebih mirip
sistem planet lainnya yang ditemukan para astronom di sekeliling
bintang-bintang lain.
Pertama,
kebanyakan planet di sekeliling bintang seperti Matahari tidak memiliki jarak
orbit tunggal – yaitu, beberapa orbit sangat dekat dengan bintang induknya
sedangkan orbit lainnya luar biasa jauh. Kedua, planet paling umum di sekitar
bintang-bintang lain memiliki rentang antara 1 hingga 10 kali massa Bumi.
"Salah satu penemuan yang paling mengejutkan mengenai sistem planet lain
adalah tipe paling umum planet di luar sana memiliki massa antara Bumi dan
Neptunus," kata Batygin. "Hingga sekarang, kami berpikir bahwa sistem
Tata Surya kekurangan tipe planet yang paling umum ini. Bagaimana pun mungkin
kita sekarang lebih normal." Brown, yang dikenal karena peranannya
menurunkan kedudukan Pluto dari sebuah planet menjadi planet kerdil,
menambahkan, "Semua orang yang marah karena Pluto bukan lagi sebuah planet
akan gembira mengetahui bahwa ada sebuah planet sesungguhnya di luar sana yang
masih perlu ditemukan," katanya. "Sekarang kita dapat pergi dan
mencari planet ini dan membuat Tata Surya memiliki sembilan planet
kembali."
Tulisan
Ilmiah ini berjudul "Bukti Keberadaan Planet Raksasa Jauh di Tata
Surya." Referensi: Bukti Keberadaan Planet Raksasa Jauh di Tata Surya –
Konstantin Batygin dan Michael E. Brown – Dipublikasikan 20 Januari 2016 –
Perhimpunan Astronomi Amerika. Jurnal Astronomi, Volume 151, Nomer 2.
Read more at: http://www.kitabhenokh.com/index.php/planet-x-nibiru/berita-terbaru/item/155-planet-9-peneliti-caltech-mengumumkan-bukti-planet-raksasa-baru-di-tata-surya
Sumber: http://www.kitabhenokh.com/index.php/planet-x-nibiru/berita-terbaru/item/155-planet-9-peneliti-caltech-mengumumkan-bukti-planet-raksasa-baru-di-tata-surya
TUGAS SOFTSKILL
AMANDA HANIFAH NUR HILIZZA(10515610)
1PA06
UNIVERSITAS GUNADARMA 2015/2016







Tidak ada komentar:
Posting Komentar