Laman

Selasa, 17 Mei 2016

EFEK RUMAH KACA DAN UDARA PANAS PADA SAAT MENDUNG





EFEK RUMAH KACA 
Efek rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.

Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca, tapi artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi. Efek rumah kaca untuk masing-masing benda langit tadi akan dibahas di masing-masing artikel.

Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakang diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.

PENYEBAB

Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Energi yang masuk ke Bumi:

25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
25% diserap awan
45% diserap permukaan bumi
5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi

Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.

Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.

AKIBAT
 
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.


MENGAPA JIKA MENDUNG UDARA MENJADI PANAS/GERAH?

Pada tekanan udara yang sama, udara memiliki kapasitas menampung uap air dalam jumlah yang terbatas tergantung pada temperatur udaranya. Makin tinggi temperatur udara, makin besar kapasitas udara tersebut untuk menampung uap air. Begitu juga sebaliknya, makin rendah temperatur udara, makin kecil kapasitas udara dalam menampung uap air. Mengenai hubungan temperatur dan kapasitas udara dalam menampung air sudah dibuat karta sehingga dapat dengan mudah mengetahui berapa kapasitas maksimum udara untuk menampung uap air pada tiap temperatur udara.

Karta itu disebut Psychrometric Chart. Dalam karta ini, juga dapat diketahui energi dalam dari udara, kelembaban relatifnya, volume spesifik udara, temperatur udara kering, temperatur udara basah, dan tentu jumlah uap air yang ditampung oleh udara. 

Tentu anda pernah mendengar kalimar "kelembaban udara saat ini 60%". Artinya, jumlah uap air yang terkandung di udara sudah sebanyak 60% dari total kemampuan udara tersebut menampung uap air. kelembapan itulah yang disebut kelembapan relatif.

Kedua, semakin tinggi kelembapan relatif udara, maka semakin sulit bagi air untuk menguap. Dan inilah yang menyebabkan kita gerah. Jadi begini, saat matahari menyinari bumi, tentu akan banyak terjadi penguapan air, bisa air laut, bisa air sungai, dan lai-lain. Uap air tersebut akan bergerak ke atas hingga mencapai ketinggian tertentu. Semakin tinggi suatu tempat, maka semakin rendah temperatur udaranya. Dan semakin rendah temperatur udara, maka semakin kecil kemampuan udara tersebut untuk menampung uap air.

Jadi, pada ketinggian tertentu, udara tidak mampu menampung uap air (dapat dikatakan kelembapannya 100%). Lalu apa jadinya bila uap air dari bawah terus mendesak ke atas? Maka yang terjadi adalah pengembunan akibat udara yang sudah tidak mampu menampung uap air. Pengembunan menyebabkan terjadinya butiran-butiran air dalam jumlah banyak dan molekul air yang saling menyatu membentuk tetesan yang semakin besar dan jatuh kembali ke bumi sebagai hujan.

Jadi pada lokasi tertutup awan hitam yang cukup luas, maka daera di bawah awan itu kelembapannya juga akan tinggi akibat uap air tertahan oleh uap air yang lebih jenuh di atasnya. Bahkan kelembapan di permukaan tanah bisa mencapai 70% - 80%.

Nah, gerah itu terjadi ketika awalnya cuaca justru cerah. Sinar matahari memanasi lingkungan di sekitar kita. Dan manusia tentu mengeluarkan keringat unuk mendinginkan tubuhnya karena saat keringat menguap, maka air keringat akan mengambil panas dari tubuh. Namun saat tiba-tiba terbentuk awan hujan, maka kelembapan udara di permukaan bumi (di bawah awan tersebut) menjadi tinggi. Keringat kita menjadi sulit untuk menguap. Meskipun beberapa saat mungkin sinar matahari tertutup awan, namun tubuh kita tidak secara tiba-tiba menghantikan keringat. Sama seperti halnya saat sedang berlari sampai terengah-engah, saat berhanti berlari, apakah nafas anda langsung kembali normal tentu tidak.

Nah, ketika itu tubuh kita merespon untuk berkeringat, namun karena kelembapan udara mendadak menjadi tinggi, maka keringat kita menjadi sulit untuk menguap, akibatnya panas dari tubuh kita tidak lagi banyak terbuang oleh keringat sehingga kita menjadi merasa gerah.

Source : 
http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_rumah_kaca
http://riza-paramayudha.blogspot.com/2011/11/mendung-tapi-kok-gerah.html


TUGAS SOFTSKILL
 AMANDA HANIFAH NUR HILIZZA(10515610)
1PA06
UNIVERSITAS GUNADARMA 2015/2016 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar