Laman

Selasa, 22 Mei 2012

Yang Ia Cari *CERPEN*




         Kemana lagi gadis itu akan mencari? Dengan hanya berbekal sebuah alamat yang tidak jelas dimana tempatnya dan nama, ia mencari seorang laki-laki itu. Hatinya masih dilanda penasaran, kertas usang yang bertuliskan nama pemuda itu. Tak lupa kebaikan-kebaikan yang laki-laki itu perbuat terhadapnya.

          Sungguh, kedua kaki ini sudah lelah untuk berjalan. Tak tentu arah. Jauh ia melangkahkan kaki. Sampai pada sebuah tempat yang ia pandang sekarang.

          Kedua bola matanya yang berwarna coklat cerah kian menatap bangunan rumah tua yang ada dihadapannya sekarang. Banyak terlihat cat yang sudah keropos di sepanjang dinding. Pintu rumahnya seperti sudah lama tak diganti.

          Kata hati nya berbicara ragu untuk memasuki rumah yang kini ada di depannya. Tapi, apapun yang terjadi setelah ini, ia harus tetap masuk. Perasaan penasarannya yang membuat ia melangkah masuk.

          Sampai pada sebuah pintu didepannya. Dengan ragu ia mengetok pintu itu. Mengatur nafas yang kini tak beraturan, jantungnya berdegup tak karuan. Mungkin dengan siap ia menerima jawaban apa saja yang akan dilontarkan oleh siapapun yang ditemuinya.

          Pintu itu siap dibuka oleh pemiliknya, terdengar kunci yang diputar sekali. Handle pintu itu pun diputarnya lalu terbuka. Dilihatnya seorang pemuda yang tak jauh tingginya itu.

          “Cari siapa?” Terdengar suara yang menurutnya amat berbeda seperti pemuda lain. Setiap ia berdiri tegap di depan pintu, pemuda yang membukakan pintu itu berbicara dengan tegas dan membentak terhadapnya, seperti tak tahu sopan santun terhadap tamu. Tak jarang ia dicaci maki. Tak mengerti maksudnya. Suaranya kini tak membentak.

          Gadis itu menghela nafas lega, ia menyeka keringat di dahinya. Terpancar raut wajahnya yang kini lelah. Ia hanya melemparkan senyum untuk pemuda didepannya dan memberikan kertas usang yang bertuliskan nama laki-laki itu.

          “Laki-laki ini? Sudah lama ia tidak menginjakkan kakinya di kampung halamannya sendiri. Dasar, anak tak tahu diri!” Umpat pemuda tadi malah mencaci maki laki-laki itu. Wajahnya kini memerah. Entahlah, mungkin menahan emosinya yang memuncak. Ia yang melihatnya bergidik ngeri.

          “Dimana dia sekarang?” Tanya gadis itu ragu memandang pemuda dihadapannya.

          “Siapa namamu? Ada perlu apa kau ingin bertemu dengannya?”

          “Namaku Alisha Ratana. Aku perlu bertemu dengannya.” Gadis yang bernama Alisha itu tersenyum lagi.

          “Aku tidak tahu keberadaannya sekarang. Sudah beberapa bulan belakangan ini ia tak memberi kabar.” Pemuda itu berbicara dengan nada santai, tidak seperti tadi yang meluapkan emosinya.

          “Baiklah, tolong hubungi nomor ini kalau kau mengetahuinya. Terimakasih.” Alisha beranjak pergi dari rumah itu setelah ia memberikan secarik kertas bertuliskan nomornya.

          Untuk sementara, Alisha memberhentikan pencariannya pada hari ini dan akan dilanjutkan besok. Ia tidur dengan tidak nyenyak, mencari posisi yang enak. Matanya tetap tidak mau dibawa kealam mimpi. Tak sabar menanti hari esok, untuk mencari pemuda itu. Ia memang sudah lelah mencari, tapi rasa penasarannya yang membuatnya untuk tidak menyerah.

          Besoknya, pagi-pagi sekali. Sekitar pukul 8 pagi. “Kau yakin akan mencarinya lagi?”
         
          Alisha hanya mengangguk. Tangannya bergerak lincah mengemasi barang-barangnya yang dibutuhkannya nanti selama diperjalanan. “Sudahlah Sha, itu tidak penting. Kau hanya bertindak bodoh kalau masih mau mencarinya.”

          Alisha memberhentikan aktifitasnya sekilas, matanya menatap tajam mata yang ada di depannya.

          “Aku tidak akan menyerah untuk mencarinya, Cira. Bagaimana pun aku berhutang budi dengannya. Kau mengatakan ini tidak penting? Tapi bagiku ini sangat penting.”

          Perempuan yang bernama Cira itu tersenyum, ia sangat salut dengan temannya yang tidak pantang menyerah. Kalau ia menjadi Alisha, tentu ia juga akan keras kepala untuk mencari pemuda itu yang sudah mendonorkan matanya untuk temannya ini.

          “Aku ikut! Aku akan menemanimu mencarinya.”

          “Tidak perlu! Doa’akan saja aku akan menemukannya dalam waktu dekat.”

          “Tidak, aku akan ikut denganmu!”

          “Baiklah.”

          Tangan Alisha menari lincah di setir mobilnya, membiarkan Cira yang mengabadikan perjalanan ini dengan kamera nya. Mobil berhenti pun Cira masih asik bergelayut dengan kameranya.

          “Kau turun juga?”

          “Iya, aku ikut turun”

          Mereka melangkahkan kakinya masuk. Menatap pintu kayu yang diketuknya. Pintu pun dibuka.

          “Ada apa ya?” Lagi-lagi seorang pemuda yang membukakan pintunya. Alisha menjelaskan dengan tenang tujuannya datang. Masih sama seperti kemarin, menyerahkan kertas bertuliskan nama pemuda yang ia cari. Seketika, laki-laki didepannya berubah raut muka menjadi sedih.



* * *

          Gadis itu berlutut. Yang didepannya memang hanya sebuah gundukan tanah. Batu nisan yang bertuliskan nama pemuda yang selama ini ia cari. Hatinya menyesal karena terlambat menemuinya. Tak hanya itu, ia masih penasaran dengan pemuda yang amat berjasa dalam hidupnya.

          Cira yang masih berkutat dengan kameranya mengabadikan Alisha yang kini sendu, hanya bisa mengamati. Sesekali ia memperhatikan Alisha dengan dengan tampang tanda tanya. Dilihatnya cahaya kilatan dari sudut matanya, seperti menahan tangis.

          Alisha yang didepannya kini mengeluarkan titik-titik air matanya. Membasahi pipinya yang lucu. Cira yang melihat itu tak tega untuk melangkahkan kakinya mendekat, mengikutinya berlutut dan mengelus pelan punggung Alisha.

          “Sudahlah, ini mungkin yang direncanakan Tuhan. Mengapa kau menangis?”

          “Aku hanya ingin bertemu dengannya walaupun hanya sekejap. Mengucapkan banyak terimakasih padanya. Bahkan kalau aku tidak tega sekalipun aku akan mengembalikan miliknya yang kini menjadi milikku.”

          “Jangan bertindak bodoh Alisha. Aku mengerti dirimu, jangan lakukan itu. Aku yakin, dia ingin kau menjaga baik-baik apa yang ia berikan padamu.”

          Alisha masih menangis, Cira membiarkan Alisha menangis sepuasnya. Menangis membuat hati lega bukan? Setidaknya Alisha sedikit tenang, walaupun ia masih di landa oleh rasa penasarannya. Tapi toh, mereka tidak bisa berbuat banyak. Karena memang yang harus ditemuinya kini sudah pergi.

          Cira mengabadikan apapun yang menurutnya menarik untuk diabadikan. Kameranya menyorot orang-orang yang berjalan kesini. Kurang lebih 5 orang. Ia tidak lagi berkutat dengan kameranya. Matanya kini hanya menatap orang-orang itu. Dan sepertinya berjalan mendekat kearahnya.

          Satu orang berbehel dan bermuka lucu, juga yang berbehel tapi tak selucu orang yang ditatap pertama kali, ada juga orang yang berdada bidang sepertinya ia orang yang ditemuinya beberapa hari yang lalu bersama Alisha, juga orang yang berwajah belagu menatap Cira dan juga laki-laki yang lebih tua umurnya dibandingkan laki-laki lain.

          Dengan ragu laki-laki yang umurnya tua dari yang lain itu bertanya kearah Cira. “Apa benar Gadis itu yang bernama Alisha? Gadis buta itu?”

          Terjadi suasanya bisu diantara mereka beberapa detik. Cira menatap bingung orang-orang yang ada didepannya ini. Menatap Alisha yang masih menangis dengan mata seakan-akan terharu. Kecuali satu orang yang bertanya padanya.

          “Iya benar. Sebenarnya ada apa?”

          Lelaki itu tidak menjawab. Mereka kini mendekati Alisha yang masih saja mengeluarkan air mata bodoh itu. Alisha tersentak kaget karena disekelilingnya kini laki-laki. Matanya bergidik ngeri menatap ornag-orang yang kini ada disekitarnya.

          Cira mendekati Alisha, berhenti tepat disampingnya.

          “Kau Alisha? Gadis buta itu? Sudah kuduga.” Laki-laki yang berbehel itu menatap Alisha dengan tersenyum. Memamerkan gigi berbehelnya yang berwarna biru.

          “Syukurlah kalau kau mencarinya. Tapi sungguh disayangkan saat kau ingin bertemu dengannya, dia malah sudah pergi.” Kali ini laki-laki yang berbehel dan bermuka lucu itu yang angkat bicara.

          “Kalian? Bukankah aku pernah bertemu dengan kalian?” Alisha kini hanya terheran-heran. Cira pun begitu, menatap 5 orang yang ada didepannya.

          “Iya, bahkan matamu itu sudah tidak asing lagi dengan kami semua. Kau tahu suatu hal?” Laki-laki yang bermuka belagu itu kini bertanya dengan sorot mata lembut, tak bisa dikata, yang memang sifat tidak bisa ditebah oleh raut wajah.

          “Apa? Tapi aku tidak mengenal salah satu pun dari kalian.”

          “Oke, Aku Ilham.” Jawab laki-laki yang berwajah belagu tadi. “Aku Morgan.” Kini laki-laki yang berdada bidang berbicara. “Rafael.” Ucap laki-laki yang lebih tua dari yang lain. “Dicky.” Ucap laki-laki berbehel dan berwajah lucu itu.

          “Dan, Aku Bisma.” Terakhir laki-laki yang berbehel sambil tersenyum.

          “Apa kau tidak ingat? Matamu yang membuat kau begitu dekat dengan kami semua bukan?” ucap Bisma menatap lekat-lekat mata Alisha berharap Alisha menyadarinya.

          “Maksudmu karena mataku ini?” Suasana hening sesaat. “Maksudmu karena orang yang mendonorkan matanya kepadaku? Orang yang belum sempat ku temui? Orang yang ada dibawah gundukan tanah ini? Dia teman dekat kalian semua?”

          Semua laki-laki itu tersenyum. Saling menatap satu sama lain. Seolah-olah bertanya siapa yang ingin menjelaskan lebih lanjut. Kini, Bisma, laki-laki berbehel itu yang maju sedikit ke depan.

          “Iya, orang yang mendonorkan matanya untukmu. Orang yang belum sempat kau temui. Orang yang ada dibawah gundukan tanah ini. Tidak hanya teman dekat, kami semua bertingkah seperti saudara.” Bisma tersenyum.

          Kalau saja kami semua tidak menemuimu mungkin kami hanya dihantui dengan perkataan-perkataan Reza, permintaan Reza yang terakhir kalinya.”

          “Apa maksudmu?”

          “Perkataan terakhir sebelum Reza menghembuskan nafasnya. Dia memintaku dan yang lain untuk membicarakan hal ini terhadapmu.”

          “Apa itu?”

          “Ia memintaku agar kau menjaga matanya dengan sebaik-baiknya. Jangan kotori mata itu dengan air mata bodoh yang baru saja kau keluarkan. Itu permintaan Reza. Muhammad Reza Anugrah.”

          Alisha menghapus matanya yang mengeluarkan air mata bodoh itu dengan kedua punggung tangannya. Wajahnya kini tersenyum tipis.

          “Kalau aku boleh tau, mengapa Reza mau mendonorkan matanya untukku?”

          Bisma dan yang lain tersentak kaget saat Alisha bertanya. Cira yang tadi diam saja kini mundur kebelakang untuk mengabadikannya dengan kameranya.

          “Reza……….Mencintaimu.” Bisma menjawab pertanyaannya dengan hati-hati. Senyumnya selalu tersungging di bibirnya.

          Kini gadis itu yang kini kaget, membulatkan matanya. Cairan bening dari sudutnya kini keluar lagi, seperti tak bisa ditahan. Mengalir lembut begitu saja. Kepalanya yang tadi menatap Bisma lekat-lekat seakan tak sabar menanti kata yang dikeluarkan olehnya kini memalingkannya, ke gundukan tanah yang ada didepannya. Menyentuh pelan tanah itu.

          “Ambillah kembali kedua mata Reza dari mataku!”

          “Alisha, jangan bertindak bodoh seperti anak kecil! Dan sudah kubilang tadi kan? Jangan kotori matanya dengan air mata bodoh itu!” Pekik laki-laki didepannya itu.

          “Tidak, maafkan aku! Maafkan aku yang mengeluarkan air mata bodoh ini.”

          “Lalu siapa yang mengisi hari-hariku dan menemaniku setiap saat? Saat aku masih buta waktu itu? Dia tidak menyebutkan namanya padaku. Apakah kalian tahu?”

          Suasana hening kembali terjadi. Alisha menatap ke-empat laki-laki dibelakang Bisma. Mengisyaratkan dengan mata bahwa Bisma yang akan menjawab.

          Alisha menunggu laki-laki didepannya untuk menjawab. Wajahnya yang kini menunduk perlahan ia angkat. Menatap mata Alisha lekat-lekat.

          “Itu… Aku sendiri, Sha.”

          “Kamu? Kenapa kamu pergi ninggalin aku setelah aku tidak sabar untuk melihatmu? Kau tahu? Saat aku buta waktu itu, hanya orang-orang disekelilingku yang ingin aku lihat wajahnya saat pertama kali.”

          “Maafkan aku Sha, Aku tidak bisa!”

          Tangis Alisha berhenti ditengah rasa penasarannya sekarang. Menatap mata kebingungan dari laki-laki didepannya. Ia tak sabar. Saat ia buat, Bisma yang selalu ada di disampingnya. Bisma yang selalu sabar untuk menghadapi orang buta seperti Alisha.

          “Kenapa? Karena aku buta?”

           “Tidak, bukan seperti itu! Bukan karena kau buta! Tapi…. Karena kau begitu sempurna…….” Laki-laki itu kini tersenyum lagi. Alisha menatap heran laki-laki didepannya.

          “Apa kau bilang tadi? Hanya karena itu? Sempurna itu hanya milik Tuhan. Kau bodoh!”

          “Tidak! Bahkan saat kau buta waktu itu, kau masih terlihat sempurna dimataku. Aku tidak mungkin bisa memiliki orang sesempurna yang ada didepanku sekarang.”

          Pipi Alisha bersemu merah. Cira dan Ke-empat teman Bisma kini hanya tersenyum meledek. Cira masih saja berkutat dengan kameranya, mengabadikan wajah-wajah lucu disekitarnya, tepatnya disekitar makam pada siang menjelang sore.

          Kini, yang dicarinya tidak hanya orang yang mendonorkan matanya untuknya. Tapi juga orang selalu mengisi hari-harinya, orang yang selalu dibutuhkannya, orang yang selalu ada disampingnya. Orang yang saat ia buta waktu itu, yang ingin ia lihat wajahnya pertama kali. Juga, yang selalu setia dengan gadis buta yang matanya telah di donorkan oleh sahabatnya sendiri, Reza.


By: Amanda Hanifah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar