Seorang lelaki tampan berusia sekitar 16 tahun itu memasuki kamarnya
dengan perasaan bercampur aduk. Dia sangat kesal, karena ayahnya tidak
mengijinkannya untuk bermain seperti remaja-remaja yang lainnya. Remaja
yang selalu bermain hanya untuk sekedar mengobrol, bercanda dan tertawa.
Akan tetapi dia sungguh berbeda. Sifat ayahnya sangat amat dingin
kepadanya. Entah kenapa ayahnya seperti itu, ketika ayahnya cerai dengan
mamanya. Tapi ayah selalu bilang kepada Dicky bahwa ayahnya masih
berhubungan baik dengan mamanya.
Lelaki itu hanya
sekedar kesal, hanya berani membantah sedikit perkataan ayahnya. Lelaki
itu hanya menurut. Dicky, remaja yang memiliki paras muka yang amat
manis dan tampan. Dicky dikenal sangat kaya. Ayahnya bekerja di sebuah
perusahaan mobil yang sangat terkenal di berbagai negara. Tak jarang
ayahnya sering meninggalkan dirinya sendiri keluar negeri. Dan disini
Dicky sangat kehilangan kasih sayang orang tua.
Di
sekolahnya pun sama, teman-temannya mungkin agak canggung untuk berteman
dengannya. Sampai pada saat ketika kelasnya kedatangan murid baru
seorang perempuan.
“Anak-anak, sekarang kalian
kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan diri kamu”, ucap bu Lani
yang mempersilahkan murid baru itu memperkenalkan diri.
“Selamat pagi. Nama saya Alisa. Kalian cukup memanggil saya Lisa saja.
Terimakasih”, ucap anak baru yang bernama Lisa itu singkat. Mukanya
jutek, tetapi tidak jutek-jutek amat.
“Terimakasih
Lisa, silahkan kamu duduk di sebelah laki-laki itu ya”, ucap bu Lani
lagi menunjuk kearah Dicky yang dengan kebetulan dia memang duduk
sendiri.
Tanpa berkata lagi, Lisa berjalan kearah bangku kosong tersebut. Tepatnya di sebelah Dicky.
“Hai, aku Dicky”, ucap Dicky yang mendahului perkenalan dengan
senyumannya yang mampu membuat semua perempuan di sekolah itu luluh.
“Hai, Lisa”, ucap Lisa sambil tersenyum ramah. Sepertinya Lisa juga
takjub dengan senyuman yang Dicky miliki. Lisa pikir penampilan Dicky
boleh juga. Bagaimana tidak, lelaki yang ada di hadapannya itu baik,
hitam manis, dan memakai kacamata.
“Aku pikir kamu itu
jutek, ternyata ramah juga yah”, ucap Dicky berbicara jujur. Lisa hanya
terkekeh mendengar ucapan Dicky yang baru dikenalinya.
Pelajaran pun berlanjut, sampai akhirnya bel istirahat bunyi.
Menghentikan suara sesuatu yang terdengar dari perut-perut yang minta
diisi.
“Ke kantin yuk. Laper banget deh”, ucap Dicky.
“Yuk, Aduh Dicky muka kamu tampan banget deh, haha”, ucap Lisa yang
refleks mencubit pipi Dicky. Dicky memasang tampang kagetnya. Bengong.
Baru kali ini ada yang berani mencubit pipinya. Apalagi dia anak baru
yang tidak tahu asal-usul Dicky. Tapi Dicky memakluminya.
Tanpa berpikir panjang Lisa langsung menarik lengan Dicky. Ketika jalan
ke kantin Lisa dan Dicky tak jarang bertemu dengan orang-orang yang
memasang tampang sangar. Entah kenapa. Mungkin mereka kaget dengan prince school-nya yang dikenal jarang memiliki teman kini ke kantin bersama seorang anak baru dengan posisi tangan bergandengan.
Kantin
yang luasnya melebihi kelas yang ada di sekolah ini pun langsung
mendadak riuh dan ramai seperti pasar dengan murid-murid yang sedang
lapar.
Sambil menunggu Dicky yang sibuk makan, Lisa
menyempatkan dirinya untuk baca novel yang Dicky sempat baca judulnya
“Love Mother”. Lisa sangat amat cuek dengan orang-orang di sekililingnya
yang masih sibuk memperhatikan dia dan Dicky di kantin.
“Nanti anterin aku ya buat keliling sekolah ini. Kamu mau kan?,” ucap
Lisa yang duduk berhadapan dengan Dicky yang sedang sibuk makan. Dicky
hanya mengangguk mengiyakan. Lagi asyik-asyiknya makan Dicky kaget
melihat mata Lisa yang ada didepannya itu berkaca-kaca.
“Loh? Loh? Lisa? Kok nangis sih?”, ucap Dicky yang panik melihat Lisa tiba-tiba nangis.
“Ha? Hehe. Aku terharu gara-gara baca novel ini”, jawab Lisa menghapus air matanya kemudian ketawa.
“Haha, kamu ini bikin panik aja deh yah”, ucap Dicky yang langsung mencubit pipi Lisa.
Spontan semua orang yang ada di kantin menoleh kearah Dicky dan Lisa
dengan tatapan sinis, sangar, kaget, atau apalah yang bikin Dicky
tersadar dan langsung cepat-cepat melepaskan cubitannya itu.
“Cabut yuk Sa”, ujar Dicky.
“Jadi keliling nya engga?”, tanya Lisa.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi.
“Yah Lisa, udah bel masuk. Besok deh janji”, ucap Dicky dengan perasaan tidak enak menolak.
“Gapapa, ayo masuk”, jawab Lisa.
Dicky yang biasanya tidak bersemangat dalam menjalani apapun, kini dia
lebih bersemangat. Karena ada seseorang yang mau berteman dengannya,
apalagi orangnya kini belum lama dikenalnya. Tapi Dicky dan Lisa sudah
cepat akrab, sudah bisa bercanda bareng juga. Dan Dicky lebih
bersemangat dari biasanya.
Jangan kira kalau orang
yang banyak hartanya itu enak, bahagia. Tapi nyatanya tidak. Dia kurang
dikasih sayang oleh kedua orang tuanya. Teman-temannya pun canggung
untuk berteman dengannya, maka dia tidak memiliki teman sehari-harinya.
Dicky baru saja merasakan seperti apa pentingnya bersosialisasi. Entah itu berteman, bersahabat atau yang lainnya.
“Kamu pulang naik apa?”, ucap Dicky bertanya kepada Lisa saat bel pulang sekolah berbunyi.
“Aku naik angkutan umum aja. Lagian engga jauh kok”.
“Bareng aku aja. Aku dijemput naik mobil pribadi ayahku. Sekalian
mampir ke rumahku. Mau ya?”, Ucap Dicky lagi sedikit memohon.
Lisa tampak berpikir, dia agak canggung untuk diajak ke rumah orang
yang baru dikenalnya sejak pagi. Tapi tidak ada salahnya, nanti kalau
nolak takut Dicky kecewa.
“Oke, aku mau”.
“Beneran? Terimakasih ya Lisa”, ucap Dicky senang.
Tak lama datang mobil jemputan yang Dicky bilang tadi. Lisa yang
berdiri di samping Dicky itu pun menganga melihat mobil Dicky yang
berwarna merah cerah. Yang Lisa tahu mobil itu adalah mobil termahal dan
jarang ada orang yang memakai mobil itu. Entah apa nama mobil itu. Dan
Lisa baru tahu kalau Dicky bukan dari keluarga yang sembarangan.
“Siapa dia den Dicky?”, ucap supir yang menjemput Dicky.
“Dia teman aku pak, aku mau ajak dia ke rumah”.
“Yakin den? Kalau ayah marah bagaimana?” Ucap supir Dicky lagi dengan wajah ketakutan.
“Sudahlah..”
“Ini mobil kamu?”, ucap Lisa tetap kaget dan takjub.
“Iya, ayo naik”, ucap Dicky yang tahu kalau Lisa masih menganga.
“I….I..Iyaa.”
Lisa
pun naik, dia tidak menyangka bisa masuk ke mobil semewah ini. Mobil
yang di dalamnya serba merah, mewah. Dia masih menganga. Dicky yang
melihatnya hanya bisa tertawa melihat muka Lisa yang tampak kaya orang
bodoh.
“Muka kamu berlagak seperti orang bodoh Lisa, hahahaha”, ucap Dicky yang masih saja tertawa.
“Kamu meledekku?”, ucap Lisa sinis masih dengan tampang bodohnya.
“Hahahaha, muka kamu engga nahan. Haha”, ucap Dicky lagi yang masih
mentertawakan Lisa. Baru kali ini dia tertawa terbahak-bahak seperti
itu, apalagi dengan seorang teman.
“Sudahlah Dicky,
aku hanya tidak percaya bisa masuk ke mobil semewah ini”, ucap Lisa lagi
tidak menghiraukan ledekan Dicky.
“Ah kamu ini bisa saja”
Beberapa menit sampailah Lisa pada sebuah rumah yang baru kali ini juga
dilihatnya, rumah mewah yang luas tingkat tiga. Lisa masih menganga.
Dia masih tidak menyangka.
“Ayo masuk”, ucap Dicky menarik tangan Lisa memasuki sebuah rumah.
Belum sampai di ruang tamu. Tiba-tiba ayah Dicky datang dengan mimik wajah memerah. Mungkin menahan marah.
“Siapa kamu?”, ucap Ayah Dicky mengintograsi Lisa.
“A..Aku.. Temen nya Dicky.. Om”, ucap Lisa terbata-bata.
“Iya ayah, kenalin, dia teman baru aku, dia baru pindah, namanya Lisa”,
Ucap Dicky berbicara santai terhadap ayahnya. “Lisa ini ayahku”, Ucap
Dicky kearah Lisa.
“Dicky….. Cepat masuk ke kamarmu
sekarang juga!”, ucap ayah Dicky bersikap dingin. “Kamu… Pulang secara
baik-baik atau pulang secara kasar?”, ucap ayah Dicky lagi sedikit
mengancam kearah Lisa. Lisa bingung, tak mengerti.
“Ayah……”, ucap Dicky tak percaya dengan perkataan ayahnya. Dia melotot
ke arah ayahnya, menandakan kalau dia tidak suka ayahnya membentak gadis
lugu itu.
“Aku pulang secara baik-baik. Dicky,
terimakasih atas semuanya hari ini”, ucap Lisa mengerti keadaan,
kemudian tersenyum. “Aku pulang ya Dicky. Permisi om”, ucap Lisa lagi
sopan kemudian berbalik dan keluar.
“Ayah apa-apaan
sih? Kasian kan dia. Dia engga punya salah apa-apa kenapa ayah bentak
juga? Aku bukan anak kecil lagi yah. Ayah memang engga pernah bisa
ngertiin aku”, ucap Dicky kesal ketika Lisa sudah jauh dari rumahnya.
Kemudian Dicky sedikit berlari kearah kamar. Menguncinya rapat-rapat.
Dia duduk di balkon teras kamarnya.
Sebenarnya nasib
Dicky benar-benar miris banget. Dicky tidak habis fikir, kenapa ayahnya
berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap ayahnya yang baik,
sabar, dan penyayang. Tidak seperti ini yang selalu naik darah.
“Apa ayah begini gara-gara cerai dari mama? Kurasa bukan itu, ada
sesuatu yang ayah sembunyikan dariku. Apa ayah engga sayang lagi sama
aku? Entahlah sikap ayah membuatku stres memikirkannya”, ucap Dicky
dalam hati.
Took…..Tokk…Tok… Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamar Dicky. Dicky bersikap acuh, tak peduli.
“Ayah tahu kamu marah pada ayah. Tapi ayah harap kamu mau membukakan
pintunya. Ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan kepadamu”.
Dicky masih tetap diam ditempatnya. Masih bersikap acuh, tetapi
lama-kelamaan dia tidak tega juga dengan perlakuan ayahnya yang masih
setia di depan pintu. Akhirnya Dicky membuka kuncinya tetapi tidak
membuka pintunya. Lalu ayah membuka pintu, entah kenapa ayah membawa
gelas minum ke kamar Dicky. Kemudian mendekati Dicky yang duduk lagi di
balkon teras rumahnya.
“Ada yang ingin ayah sampaikan,
mungkin salah ayah yang selalu bersikap ke kanak-kanakan”, ucap ayah
Dicky memulai pembicaraan. Dicky tidak memandang ayahnya yang sedang
bicara melainkan memandang kosong ke arah depan dan hanya mendengarkan
perkataan ayahnya.
“Kau mungkin harus tahu, ini yang
ayah alami dulu saat ayah berusia kurang lebih seusiamu. Ayah trauma,
tidak mau anak ayah yang tertimpa musibah seperti ayah. Dan cukup ayah
saja yang merasakannya”, ucap ayah Dicky lagi serius.
“Saat itu semasa SMP, ayah pernah berteman dengan seorang cewek yang
ayah anggap itu sahabat ayah, saudara ayah, bahkan sudah ayah anggap
segalanya. Kau tahu berapa berartinya mempunyai seorang teman. Tapi
ketika itu, dia mengkhianati ayah, dia hanya memanfaatkan uang dari
ayah. Kau tahu, ayah orang yang berada pada saat itu. Ternyata ayah
salah, teman yang selama ini ayah sayang tapi dia sama sekali tidak
menganggap ayah itu teman dia”, ucap ayah Dicky berhenti kemudian
menghembuskan nafas panjang.
“Beranjak ke bangku SMA,
lagi-lagi ayah meleset. Teman ayah juga hanya memanfaatkan ayah, bahkan
ayah pernah dikucilkan oleh teman-teman sekelas ayah, bahkan wali kelas
ayah sendiri pun turut ikut dalam masalah itu”.
“Setelah masuk dunia kampus, ayah mulai berubah. Hati-hati dalam mencari
teman. Ayah tidak menemukan sifat-sifat yang ayah ceritakan tadi, kini
ayah punya banyak teman. Malah ada beberapa yang ayah anggap segalanya.
Tapi saat itu, ada salah satu dari mereka yang membuat ayah shock atas
pernyataannya. Temen ayah mencurigai ayah, menuduh ayah. Kata-kata yang
teman ayah keluarkan itu sangat pedas dan panas sampai telinga. Ayah
sudah berusaha untuk menjelaskannya, tapi dia masih saja sama seperti
itu yang menuduh ayah”, ucap ayah Dicky kemudian menyegukkan minum yang
dibawanya. Mungkin haus karena menjelaskan panjang lebar.
Dicky
yang tadinya memandang kedepan, kini menoleh kearah ayahnya, siap untuk
mendengarkan cerita ayahnya dan menunggu ayahnya melanjutkan.
“Setelah kejadian itu, ayah jadi enggan berinteraksi dengan seorang
teman. Seperti ada rasa takut dan itu menjalar kemana-mana. Ayah selalu
berhati-hati dalam menjalankan pertemanan. Karena walau bagaimana pun
kita manusia, kita makhluk sosial. Jadi kita harus berinteraksi dengan
yang lain. Mungkin secara tak sadar kejadian itu membuat ayah trauma”,
ucap ayah Dicky mengakhiri ceritanya. Kemudian berpaling kearah Dicky.
DEG! DEG! Dicky yang mendengar itu tak bisa menutupi rasa kagetnya.
Ayah yang selama ini mempunyai cobaan berat dari seorang teman, lebih
berat dari dia yang tidak mempunyai teman karena merasa canggung
terhadap dirinya.
“Tapi……. Tapi tidak semuanya
mengalami seperti itu ayah. Aku mengerti sekarang, ayah yang selalu
melarang aku untuk sekedar bermain bahkan ayah terpuruk sendiri dengan
kejadian itu. Aku mengerti. Tapi tidak seharusnya ayah bersikap seperti
itu. Itu terlalu berlebihan menurutku”.
“Ya, ayah baru
sadar tidak semua orang mengalami kejadian seperti itu. Ayah tahu ayah
salah dengan sikap ayah terhadapmu. Apa kau tahu? Sikap mamamu pun tak
kalah jauh dari kejadian yang ayah alami. Lagi-lagi kejadian itu yang
menimpa ayah. Mamamu hanya ingin semua harta-harta ayah. Maka dari itu
ayah minta cerai. Mamamu sangat dendam ayah ceraikan, tapi mamamu tidak
berani”.
“Apa ayah bilang? Mama seperti itu? A…Aku
masih tidak percaya apa yang ayah bilang. Haha ternyata manusia itu
kebanyakan modus, cari kesempatan. Aku engga nyangka mama seperti itu”,
ucap Dicky Sinis. Memalingkan wajahnya ke arah depan lagi.
“Ayah tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu. Ayah hanya ingin bilang
berhati-hatilah dalam menjalankan pertemanan, jangan sampai kau
mengalami kejadian seperti ayah. Solusinya jangan terlalu sayang pada temanmu, pada akhirnya toh mereka belum tentu menganggapmu teman. Sampaikan permintaan maaf ayah terhadap temanmu yang ayah bentak tadi, ayah khilaf”, ucap ayah Dicky lagi.
“Ayah, aku juga minta maaf. Aku tidak tahu kejadian yang ayah alami itu
sangat menyiksa batin ayah sampai-sampai ayah bersikap tak sadar
seperti ini. Aku selalu kesal karena ayah melarangku hanya untuk sekedar
bermain. Tapi aku sudah tahu sekarang”, ucap Dicky tersenyum kepada
ayah yang ada di sampingnya. Senyum yang manis.
“Ingat, kalau kejadian yang ayah alami itu kau alami juga terpaksa ayah
tidak mengijinkanmu untuk menjalankan status pertemanan lagi. Kau harus
hati-hati jangan seperti ayah. Mengerti?”, ucap ayah Dicky menasehati
Dicky.
“Aku lebih dari kata mengerti ayah, terimakasih ayah sudah berbagi cerita sama Dicky”.
Ayah Dicky mengangguk kemudian tersenyum.
“Istirahatlah, malam nanti antarkan ayah kebandara. Ayah akan segera
berangkat ke Jepang selama beberapa minggu untuk mengadakan kerjasama
perusahaan mobil ayah dengan yang ada di jepang. Sekarang ayah harus
packing”.
“Baiklah ayah, Dicky istirahat dulu”, ucap Dicky yang beranjak ke kasurnya. Ayahnya kemudian beranjak keluar.
Sampai pada malam tiba, sekitar jam 9 malam.
“Ayolah, ayah segera berangkat. Tidak ada waktu lagi”.
Kemudian ayah, Dicky dan supir pribadi ayahnya pergi ke bandara. Beberapa menit, sampailah mereka di bandara.
“Selama ayah di Jepang, ajaklah temanmu main ke rumah. Berbuatlah
sesukamu, asal harus tahu ada batasnya. Oh iya jangan lupa sampaikan
permintaan maaf ayah terhadap temanmu itu. Ayah harus berangkat. Tidak
ada waktu lagi. Pesawat akan segera lepas landas sekarang”, ucap Ayah
Dicky kemudian mencium kening Dicky agak lama.
“iya
ayah, Dicky janji akan ajak teman baru Dicky ke rumah. Akan Dicky
sampaikan permintaan maaf ayah kepada Lisa. Baik-baik disana ya yah.
Dicky selalu merindukan ayah”, ucap Dicky terharu.
“Pak, saya jaga Dicky ya”, ucap ayah Dicky ke supir pribadinya.
“Baik pak, bapak baik-baik disana ya pak. Hati-hati”.
“Dicky, tunggu ayah. Ayah akan segera pulang secepatnya”, ucap ayah Dicky lagi kemudian tersenyum.
Kemudian ayah Dicky jalan memasuki pesawat, tak lama pesawat itu pun
pergi. Membawa penumpang ke arah masing-masing. Hanya mengantarkan.
Dicky pun pulang. Membereskan perlengkapan sekolahnya buat besok, kemudian terlelap tidur.
Dan besoknya, Dicky menceritakan semua yang ayahnya ceritakan pada
Lisa. Tak lupa juga Dicky menyampaikan permintaan maaf ayahnya karena
bersikap tak wajar kemarin.
Tak lama dering handphone
Dicky berbunyi. Dicky kaget dengan perkataan orang yang sedang dia
telepon, Dicky shock. Dia refleks melemparkan handphone-nya dengan
kasar.
“INI GAK MUNGKIN!! INI PASTI MIMPI, IYAKAN INI
GAK MUNGKIN TERJADI!!”, ucap Dicky sambil tertawa sinis dengan posisi
kedua tangan berada di kedua telinganya. Kemudian mengacak-acakkan
rambutnya. Matanya mengarah ke atas, berharap air mata tidak akan keluar
dari kedua matanya. “AYAH BOHONG, AYAH BILANG AYAH BAKALAN PULANG LAGI
KESINI, TAPI NYATANYA APA? AYAH…..”, ucap Dicky. Air matanya sudah tak
bisa terbendung lagi, turun dengan derasnya.
Lisa yang
berada di samping Dicky pun panik. Lisa tak kalah paniknya dengan sifat
Dicky. “Dicky, ada apa?”, ucap Lisa masih dengan nada panik.
“Ayahku, Sa! Ayahku ninggalin aku sendiri sekarang! A..Akuu..”, ucap
Dicky histeris dan tidak melanjutkan perkataannya.
Ayah Dicky mengalami kecelakaan pesawat saat sedang menuju jepang.
Pesawatnya terjatuh di daerah perairan yang cukup luas. Untungnya jasad
ayah Dicky dengan cepat ditemukan.
Besoknya, jasad
ayah Dicky dibawa ke kota asalnya untuk di makamkan. Kini, hanya Dicky
dan Lisa yang masih berada di permakaman ayahnya itu.
“Jadi yang ayah maksud janji untuk pulang itu bukan ke rumah ya yah?
Ayah jahat membiarkan aku tinggal sendirian disini, apa ayah tidak
sayang padaku?”, ucap Dicky dengan mata yang sembab karena sudah dari
kemarin air matanya tidak berhenti mengalir.
“Dicky,
aku turut berduka cita. Ayah pasti sayang padamu Dicky, percayalah”,
ucap Lisa tersenyum dan menggenggam erat tangan Dicky.
“Terimakasih ayah”, hanya perkataan itu yang bisa Dicky ucapkan kepada
ayahnya. Karena Dicky pasti tahu, mungkin ayahnya merasakan hidupnya
yang tak akan lama lagi, karena itu ayahnya menceritakan sedikit
peristiwa yang membuat ayahnya trauma. Dicky menunduk, tak bisa menahan
rasa sedihnya.
“Baik-baik disana yah, semoga ayah tenang disana. Dicky selalu merindukan ayah”, ucap Dicky.
Kemudian Dicky dan Lisa meninggalkan pemakaman ayahnya dengan hati yang
amat ikhlas. Sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam, Dicky
sangat sedih. Tapi Dicky harus ikhlas dengan takdir Tuhan. Dicky dan
Lisa kini menjadi dua orang sahabat sampai Dicky dan Lisa dewasa. Sampai
pada akhirnya mereka menikah karena merasa cocok satu sama lain dan
hidup bahagia.
By: Amanda Hanifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar