Laman

Rabu, 16 Mei 2012

Trauma Ayah

           Seorang lelaki tampan berusia sekitar 16 tahun itu memasuki kamarnya dengan perasaan bercampur aduk. Dia sangat kesal, karena ayahnya tidak mengijinkannya untuk bermain seperti remaja-remaja yang lainnya. Remaja yang selalu bermain hanya untuk sekedar mengobrol, bercanda dan tertawa. Akan tetapi dia sungguh berbeda. Sifat ayahnya sangat amat dingin kepadanya. Entah kenapa ayahnya seperti itu, ketika ayahnya cerai dengan mamanya. Tapi ayah selalu bilang kepada Dicky bahwa ayahnya masih berhubungan baik dengan mamanya.
            Lelaki itu hanya sekedar kesal, hanya berani membantah sedikit perkataan ayahnya. Lelaki itu hanya menurut. Dicky, remaja yang memiliki paras muka yang amat manis dan tampan. Dicky dikenal sangat kaya. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan mobil yang sangat terkenal di berbagai negara. Tak jarang ayahnya sering meninggalkan dirinya sendiri keluar negeri. Dan disini Dicky sangat kehilangan kasih sayang orang tua.
            Di sekolahnya pun sama, teman-temannya mungkin agak canggung untuk berteman dengannya. Sampai pada saat ketika kelasnya kedatangan murid baru seorang perempuan.
            “Anak-anak, sekarang kalian kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan diri kamu”, ucap bu Lani yang mempersilahkan murid baru itu memperkenalkan diri.
            “Selamat pagi. Nama saya Alisa. Kalian cukup memanggil saya Lisa saja. Terimakasih”, ucap anak baru yang bernama Lisa itu singkat. Mukanya jutek, tetapi tidak jutek-jutek amat.
            “Terimakasih Lisa, silahkan kamu duduk di sebelah laki-laki itu ya”, ucap bu Lani lagi menunjuk kearah Dicky yang dengan kebetulan dia memang duduk sendiri.
            Tanpa berkata lagi, Lisa berjalan kearah bangku kosong tersebut. Tepatnya di sebelah Dicky.
            “Hai, aku Dicky”, ucap Dicky yang mendahului perkenalan dengan senyumannya yang mampu membuat semua perempuan di sekolah itu luluh.
            “Hai, Lisa”, ucap Lisa sambil tersenyum ramah. Sepertinya Lisa juga takjub dengan senyuman yang Dicky miliki. Lisa pikir penampilan Dicky boleh juga. Bagaimana tidak, lelaki yang ada di hadapannya itu baik, hitam manis, dan memakai kacamata.
            “Aku pikir kamu itu jutek, ternyata ramah juga yah”, ucap Dicky berbicara jujur. Lisa hanya terkekeh mendengar ucapan Dicky yang baru dikenalinya.
            Pelajaran pun berlanjut, sampai akhirnya bel istirahat bunyi. Menghentikan suara sesuatu yang terdengar dari perut-perut yang minta diisi.
            “Ke kantin yuk. Laper banget deh”, ucap Dicky.
            “Yuk, Aduh Dicky muka kamu tampan banget deh, haha”, ucap Lisa yang refleks mencubit pipi Dicky. Dicky memasang tampang kagetnya. Bengong. Baru kali ini ada yang berani mencubit pipinya. Apalagi dia anak baru yang tidak tahu asal-usul Dicky. Tapi Dicky memakluminya.
            Tanpa berpikir panjang Lisa langsung menarik lengan Dicky. Ketika jalan ke kantin Lisa dan Dicky tak jarang bertemu dengan orang-orang yang memasang tampang sangar. Entah kenapa. Mungkin mereka kaget dengan prince school-nya yang dikenal jarang memiliki teman kini ke kantin bersama seorang anak baru dengan posisi tangan bergandengan.
Kantin yang luasnya melebihi kelas yang ada di sekolah ini pun langsung mendadak riuh dan ramai seperti pasar dengan murid-murid yang sedang lapar.
            Sambil menunggu Dicky yang sibuk makan, Lisa menyempatkan dirinya untuk baca novel yang Dicky sempat baca judulnya “Love Mother”. Lisa sangat amat cuek dengan orang-orang di sekililingnya yang masih sibuk memperhatikan dia dan Dicky di kantin.
            “Nanti anterin aku ya buat keliling sekolah ini. Kamu mau kan?,” ucap Lisa yang duduk berhadapan dengan Dicky  yang sedang sibuk makan. Dicky hanya mengangguk mengiyakan. Lagi asyik-asyiknya makan Dicky kaget melihat mata Lisa yang ada didepannya itu berkaca-kaca.
            “Loh? Loh? Lisa? Kok nangis sih?”, ucap Dicky yang panik melihat Lisa tiba-tiba nangis.
            “Ha? Hehe. Aku terharu gara-gara baca novel ini”, jawab Lisa menghapus air matanya kemudian ketawa.
            “Haha, kamu ini bikin panik aja deh yah”, ucap Dicky yang langsung mencubit pipi Lisa.
            Spontan semua orang yang ada di kantin menoleh kearah Dicky dan Lisa dengan tatapan sinis, sangar, kaget, atau apalah yang bikin Dicky tersadar dan langsung cepat-cepat melepaskan cubitannya itu.
            “Cabut yuk Sa”, ujar Dicky.
            “Jadi keliling nya engga?”, tanya Lisa.
            Tiba-tiba bel masuk berbunyi.
            “Yah Lisa, udah bel masuk. Besok deh janji”, ucap Dicky dengan perasaan tidak enak menolak.
            “Gapapa, ayo masuk”, jawab Lisa.
            Dicky yang biasanya tidak bersemangat dalam menjalani apapun, kini dia lebih bersemangat. Karena ada seseorang yang mau berteman dengannya, apalagi orangnya kini belum lama dikenalnya. Tapi Dicky dan Lisa sudah cepat akrab, sudah bisa bercanda bareng juga. Dan Dicky lebih bersemangat dari biasanya.
            Jangan kira kalau orang yang banyak hartanya itu enak, bahagia. Tapi nyatanya tidak. Dia kurang dikasih sayang oleh kedua orang tuanya. Teman-temannya pun canggung untuk berteman dengannya, maka dia tidak memiliki teman sehari-harinya.
            Dicky baru saja merasakan seperti apa pentingnya bersosialisasi. Entah itu berteman, bersahabat atau yang lainnya.
            “Kamu pulang naik apa?”, ucap Dicky bertanya kepada Lisa saat bel pulang sekolah berbunyi.
            “Aku naik angkutan umum aja. Lagian engga jauh kok”.
            “Bareng aku aja. Aku dijemput naik mobil pribadi ayahku. Sekalian mampir ke rumahku. Mau ya?”, Ucap Dicky lagi sedikit memohon.
            Lisa tampak berpikir, dia agak canggung untuk diajak ke rumah orang yang baru dikenalnya sejak pagi. Tapi tidak ada salahnya, nanti kalau nolak takut Dicky kecewa.
            “Oke, aku mau”.
            “Beneran? Terimakasih ya Lisa”, ucap Dicky senang.
            Tak lama datang mobil jemputan yang Dicky bilang tadi. Lisa yang berdiri di samping Dicky itu pun menganga melihat mobil Dicky yang berwarna merah cerah. Yang Lisa tahu mobil itu adalah mobil termahal dan jarang ada orang yang memakai mobil itu. Entah apa nama mobil itu. Dan Lisa baru tahu kalau Dicky bukan dari keluarga yang sembarangan.
            “Siapa dia den Dicky?”, ucap supir yang menjemput Dicky.
“Dia teman aku pak, aku mau ajak dia ke rumah”.
“Yakin den? Kalau ayah marah bagaimana?” Ucap supir Dicky lagi dengan wajah ketakutan.
“Sudahlah..”
“Ini mobil kamu?”, ucap Lisa tetap kaget dan takjub.
            “Iya, ayo naik”, ucap Dicky yang tahu kalau Lisa masih menganga.
            “I….I..Iyaa.”
Lisa pun naik, dia tidak menyangka bisa masuk ke mobil semewah ini. Mobil yang di dalamnya serba merah, mewah. Dia masih menganga. Dicky yang melihatnya hanya bisa tertawa melihat muka Lisa yang tampak kaya orang bodoh.
            “Muka kamu berlagak seperti orang bodoh Lisa, hahahaha”, ucap Dicky yang masih saja tertawa.
            “Kamu meledekku?”, ucap Lisa sinis masih dengan tampang bodohnya.
            “Hahahaha, muka kamu engga nahan. Haha”, ucap Dicky lagi yang masih mentertawakan Lisa. Baru kali ini dia tertawa terbahak-bahak seperti itu, apalagi dengan seorang teman.
            “Sudahlah Dicky, aku hanya tidak percaya bisa masuk ke mobil semewah ini”, ucap Lisa lagi tidak menghiraukan ledekan Dicky.
            “Ah kamu ini bisa saja”
            Beberapa menit sampailah Lisa pada sebuah rumah yang baru kali ini juga dilihatnya, rumah mewah yang luas tingkat tiga. Lisa masih menganga. Dia masih tidak menyangka.
            “Ayo masuk”, ucap Dicky menarik tangan Lisa memasuki sebuah rumah.
            Belum sampai di ruang tamu. Tiba-tiba ayah Dicky datang dengan mimik wajah memerah. Mungkin menahan marah.
            “Siapa kamu?”, ucap Ayah Dicky mengintograsi Lisa.
            “A..Aku.. Temen nya Dicky.. Om”, ucap Lisa terbata-bata.
            “Iya ayah, kenalin, dia teman baru aku, dia baru pindah, namanya Lisa”, Ucap Dicky berbicara santai terhadap ayahnya. “Lisa ini ayahku”, Ucap Dicky kearah Lisa.
            “Dicky….. Cepat masuk ke kamarmu sekarang juga!”, ucap ayah Dicky bersikap dingin. “Kamu… Pulang secara baik-baik atau pulang secara kasar?”, ucap ayah Dicky lagi sedikit mengancam kearah Lisa. Lisa bingung, tak mengerti.
            “Ayah……”, ucap Dicky tak percaya dengan perkataan ayahnya. Dia melotot ke arah ayahnya, menandakan kalau dia tidak suka ayahnya membentak gadis lugu itu.
            “Aku pulang secara baik-baik. Dicky, terimakasih atas semuanya hari ini”, ucap Lisa mengerti keadaan, kemudian tersenyum. “Aku pulang ya Dicky. Permisi om”, ucap Lisa lagi sopan kemudian berbalik dan keluar.
            “Ayah apa-apaan sih? Kasian kan dia. Dia engga punya salah apa-apa kenapa ayah bentak juga? Aku bukan anak kecil lagi yah. Ayah memang engga pernah bisa ngertiin aku”, ucap Dicky kesal ketika Lisa sudah jauh dari rumahnya. Kemudian Dicky sedikit berlari kearah kamar. Menguncinya rapat-rapat. Dia duduk di balkon teras kamarnya.
            Sebenarnya nasib Dicky benar-benar miris banget. Dicky tidak habis fikir, kenapa ayahnya berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap ayahnya yang baik, sabar, dan penyayang. Tidak seperti ini yang selalu naik darah.
            “Apa ayah begini gara-gara cerai dari mama? Kurasa bukan itu, ada sesuatu yang ayah sembunyikan dariku. Apa ayah engga sayang lagi sama aku? Entahlah sikap ayah membuatku stres memikirkannya”, ucap Dicky dalam hati.
            Took…..Tokk…Tok… Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamar Dicky. Dicky bersikap acuh, tak peduli.
            “Ayah tahu kamu marah pada ayah. Tapi ayah harap kamu mau membukakan pintunya. Ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan kepadamu”.
            Dicky masih tetap diam ditempatnya. Masih bersikap acuh, tetapi lama-kelamaan dia tidak tega juga dengan perlakuan ayahnya yang masih setia di depan pintu. Akhirnya Dicky membuka kuncinya tetapi tidak membuka pintunya. Lalu ayah membuka pintu, entah kenapa ayah membawa gelas minum ke kamar Dicky. Kemudian mendekati Dicky yang duduk lagi di balkon teras rumahnya.
            “Ada yang ingin ayah sampaikan, mungkin salah ayah yang selalu bersikap ke kanak-kanakan”, ucap ayah Dicky memulai pembicaraan. Dicky tidak memandang ayahnya yang sedang bicara melainkan memandang kosong ke arah depan dan hanya mendengarkan perkataan ayahnya.
            “Kau mungkin harus tahu, ini yang ayah alami dulu saat ayah berusia kurang lebih seusiamu. Ayah trauma, tidak mau anak ayah yang tertimpa musibah seperti ayah. Dan cukup ayah saja yang merasakannya”, ucap ayah Dicky lagi serius.
            “Saat itu semasa SMP, ayah pernah berteman dengan seorang cewek yang ayah anggap itu sahabat ayah, saudara ayah, bahkan sudah ayah anggap segalanya. Kau tahu berapa berartinya mempunyai seorang teman. Tapi ketika itu, dia mengkhianati ayah, dia hanya memanfaatkan uang dari ayah. Kau tahu, ayah orang yang berada pada saat itu. Ternyata ayah salah, teman yang selama ini ayah sayang tapi dia sama sekali tidak menganggap ayah itu teman dia”, ucap ayah Dicky berhenti kemudian menghembuskan nafas panjang.
            “Beranjak ke bangku SMA, lagi-lagi ayah meleset. Teman ayah juga hanya memanfaatkan ayah, bahkan ayah pernah dikucilkan oleh teman-teman sekelas ayah, bahkan wali kelas ayah sendiri pun turut ikut dalam masalah itu”.
            “Setelah masuk dunia kampus, ayah mulai berubah. Hati-hati dalam mencari teman. Ayah tidak menemukan sifat-sifat yang ayah ceritakan tadi, kini ayah punya banyak teman. Malah ada beberapa yang ayah anggap segalanya. Tapi saat itu, ada salah satu dari mereka yang membuat ayah shock atas pernyataannya. Temen ayah mencurigai ayah, menuduh ayah. Kata-kata yang teman ayah keluarkan itu sangat pedas dan panas sampai telinga. Ayah sudah berusaha untuk menjelaskannya, tapi dia masih saja sama seperti itu yang menuduh ayah”, ucap ayah Dicky kemudian menyegukkan minum yang dibawanya. Mungkin haus karena menjelaskan panjang lebar.
Dicky yang tadinya memandang kedepan, kini menoleh kearah ayahnya, siap untuk mendengarkan cerita ayahnya dan menunggu ayahnya melanjutkan.
            “Setelah kejadian itu, ayah jadi enggan berinteraksi dengan seorang teman. Seperti ada rasa takut dan itu menjalar kemana-mana. Ayah selalu berhati-hati dalam menjalankan pertemanan. Karena walau bagaimana pun kita manusia, kita makhluk sosial. Jadi kita harus berinteraksi dengan yang lain. Mungkin secara tak sadar kejadian itu membuat ayah trauma”, ucap ayah Dicky mengakhiri ceritanya. Kemudian berpaling kearah Dicky.
            DEG! DEG! Dicky yang mendengar itu tak bisa menutupi rasa kagetnya. Ayah yang selama ini mempunyai cobaan berat dari seorang teman, lebih berat dari dia yang tidak mempunyai teman karena merasa canggung terhadap dirinya.
            “Tapi……. Tapi tidak semuanya mengalami seperti itu ayah. Aku mengerti sekarang, ayah yang selalu melarang aku untuk sekedar bermain bahkan ayah terpuruk sendiri dengan kejadian itu. Aku mengerti. Tapi tidak seharusnya ayah bersikap seperti itu. Itu terlalu berlebihan menurutku”.
            “Ya, ayah baru sadar tidak semua orang mengalami kejadian seperti itu. Ayah tahu ayah salah dengan sikap ayah terhadapmu. Apa kau tahu? Sikap mamamu pun tak kalah jauh dari kejadian yang ayah alami. Lagi-lagi kejadian itu yang menimpa ayah. Mamamu hanya ingin semua harta-harta ayah. Maka dari itu ayah minta cerai. Mamamu sangat dendam ayah ceraikan, tapi mamamu tidak berani”.
            “Apa ayah bilang? Mama seperti itu? A…Aku masih tidak percaya apa yang ayah bilang. Haha ternyata manusia itu kebanyakan modus, cari kesempatan. Aku engga nyangka mama seperti itu”, ucap Dicky Sinis. Memalingkan wajahnya ke arah depan lagi.
            “Ayah tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu. Ayah hanya ingin bilang berhati-hatilah dalam menjalankan pertemanan, jangan sampai kau mengalami kejadian seperti ayah. Solusinya jangan terlalu sayang pada temanmu, pada akhirnya toh mereka belum tentu menganggapmu teman. Sampaikan permintaan maaf ayah terhadap temanmu yang ayah bentak tadi, ayah khilaf”, ucap ayah Dicky lagi.
            “Ayah, aku juga minta maaf. Aku tidak tahu kejadian yang ayah alami itu sangat menyiksa batin ayah sampai-sampai ayah bersikap tak sadar seperti ini. Aku selalu kesal karena ayah melarangku hanya untuk sekedar bermain. Tapi aku sudah tahu sekarang”, ucap Dicky tersenyum kepada ayah yang ada di sampingnya. Senyum yang manis.
            “Ingat, kalau kejadian yang ayah alami itu kau alami juga terpaksa ayah tidak mengijinkanmu untuk menjalankan status pertemanan lagi. Kau harus hati-hati jangan seperti ayah. Mengerti?”, ucap ayah Dicky menasehati Dicky.
            “Aku lebih dari kata mengerti ayah, terimakasih ayah sudah berbagi cerita sama Dicky”.
            Ayah Dicky mengangguk kemudian tersenyum.
            “Istirahatlah, malam nanti antarkan ayah kebandara. Ayah akan segera berangkat ke Jepang selama beberapa minggu untuk mengadakan kerjasama perusahaan mobil ayah dengan yang ada di jepang. Sekarang ayah harus packing”.
            “Baiklah ayah, Dicky istirahat dulu”, ucap Dicky yang beranjak ke kasurnya. Ayahnya kemudian beranjak keluar.
            Sampai pada malam tiba, sekitar jam 9 malam.
            “Ayolah, ayah segera berangkat. Tidak ada waktu lagi”.
            Kemudian ayah, Dicky dan supir pribadi ayahnya pergi ke bandara. Beberapa menit, sampailah mereka di bandara.
            “Selama ayah di Jepang, ajaklah temanmu main ke rumah. Berbuatlah sesukamu, asal harus tahu ada batasnya. Oh iya jangan lupa sampaikan permintaan maaf ayah terhadap temanmu itu. Ayah harus berangkat.  Tidak ada waktu lagi. Pesawat akan segera lepas landas sekarang”, ucap Ayah Dicky kemudian mencium kening Dicky agak lama.
            “iya ayah, Dicky janji akan ajak teman baru Dicky ke rumah. Akan Dicky sampaikan permintaan maaf ayah kepada Lisa. Baik-baik disana ya yah. Dicky selalu merindukan ayah”, ucap Dicky terharu.
            “Pak, saya jaga Dicky ya”, ucap ayah Dicky ke supir pribadinya.
            “Baik pak, bapak baik-baik disana ya pak. Hati-hati”.
            “Dicky, tunggu ayah. Ayah akan segera pulang secepatnya”, ucap ayah Dicky lagi kemudian tersenyum.
            Kemudian ayah Dicky jalan memasuki pesawat, tak lama pesawat itu pun pergi. Membawa penumpang ke arah masing-masing. Hanya mengantarkan.
            Dicky pun pulang. Membereskan perlengkapan sekolahnya buat besok, kemudian terlelap tidur.
            Dan besoknya, Dicky menceritakan semua yang ayahnya ceritakan pada Lisa. Tak lupa juga Dicky menyampaikan permintaan maaf ayahnya karena bersikap tak wajar kemarin.
            Tak lama dering handphone Dicky berbunyi. Dicky kaget dengan perkataan orang yang sedang dia telepon, Dicky shock. Dia refleks melemparkan handphone-nya dengan kasar.
            “INI GAK MUNGKIN!! INI PASTI MIMPI, IYAKAN INI GAK MUNGKIN TERJADI!!”, ucap Dicky sambil tertawa sinis dengan posisi kedua tangan berada di kedua telinganya. Kemudian mengacak-acakkan rambutnya. Matanya mengarah ke atas, berharap air mata tidak akan keluar dari kedua matanya. “AYAH BOHONG, AYAH BILANG AYAH BAKALAN PULANG LAGI KESINI, TAPI NYATANYA APA? AYAH…..”, ucap Dicky. Air matanya sudah tak bisa terbendung lagi, turun dengan derasnya.
            Lisa yang berada di samping Dicky pun panik. Lisa tak kalah paniknya dengan sifat Dicky. “Dicky, ada apa?”, ucap Lisa masih dengan nada panik.
            “Ayahku, Sa! Ayahku ninggalin aku sendiri sekarang! A..Akuu..”, ucap Dicky histeris dan tidak melanjutkan perkataannya.
            Ayah Dicky mengalami kecelakaan pesawat saat sedang menuju jepang. Pesawatnya terjatuh di daerah perairan yang cukup luas. Untungnya jasad ayah Dicky dengan cepat ditemukan.
            Besoknya, jasad ayah Dicky dibawa ke kota asalnya untuk di makamkan. Kini, hanya Dicky dan Lisa yang masih berada di permakaman ayahnya itu.
            “Jadi yang ayah maksud janji untuk pulang itu bukan ke rumah ya yah? Ayah jahat membiarkan aku tinggal sendirian disini, apa ayah tidak sayang padaku?”, ucap Dicky dengan mata yang sembab karena sudah dari kemarin air matanya tidak berhenti mengalir.
            “Dicky, aku turut berduka cita. Ayah pasti sayang padamu Dicky, percayalah”, ucap Lisa tersenyum dan menggenggam erat tangan Dicky.
            “Terimakasih ayah”, hanya perkataan itu yang bisa Dicky ucapkan kepada ayahnya. Karena Dicky pasti tahu, mungkin ayahnya merasakan hidupnya yang tak akan lama lagi, karena itu ayahnya menceritakan sedikit peristiwa yang membuat ayahnya trauma. Dicky menunduk, tak bisa menahan rasa sedihnya.
            “Baik-baik disana yah, semoga ayah tenang disana. Dicky selalu merindukan ayah”, ucap Dicky.
            Kemudian Dicky dan Lisa meninggalkan pemakaman ayahnya dengan hati yang amat ikhlas. Sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam, Dicky sangat sedih. Tapi Dicky harus ikhlas dengan takdir Tuhan. Dicky dan Lisa kini menjadi dua orang sahabat sampai Dicky dan Lisa dewasa. Sampai pada akhirnya mereka menikah karena merasa cocok satu sama lain dan hidup bahagia.



By: Amanda Hanifah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar