Tema: Manusia dan Cinta Kasih
CIRCLE of LOVE
Siang ini, Rachel
pergi berbelanja di sebuah swalayan kecil di Giant. Tepatnya di depan perumahan
Pondok Indah Cilegon. Tak lupa di temani oleh sahabatnya, Antania yang biasa di
panggil Nia. Teriknya matahari cukup membuat Rachel memaklumi cuaca yang memang
sudah sering terjadi di kota Cilegon.
Ya, Cilegon memang panas.
Akhir-akhir ini walaupun sedang mengalami musim hujan, cuaca tetap pula panas
tak karuan. Hari ini hari ke tiga dimulainya liburan. Wow! Lumayanlah, dari pada
setiap hari Rachel sekolah tiada berhentinya dari mulai pukul 7 pagi dan baru
keluar sekolah tepat pada matahari terbenam. Bagaimana Rachel tidak bertengkar
terus dengan bundanya karena bundanya tersebut beranggapan Rachel tidak peduli
lagi dengan keluarganya karena sibuknya pekerjaan-pekerjaan sekolah. Dan itu
cukup membuat Rachel Stres.
“Rachel, banyak sekali kue yang kau
beli. Memangnya kau fikir kita mau kemana besok?”
“Sudahlah Ni, kali ini saja kau
menuruti permintaanku. Percaya padaku, ini tidak akan cukup untuk persediaan
kita.”
“Tidak cukup? Itu terlalu banyak
buatku Rachel.”
“Tenang Nia, percaya padaku. Kalau
pun kalian tidak sanggup menghabiskannya, aku yang akan menghabiskan semuanya.”
Nia bergumam tak jelas. “Dasar kau!
Aku simpan apa yang kau bicarakan itu.” Rachel hanya mengangguk dengan percaya
diri.
Setelah berdebat sebentar, mereka
menuju kasir untuk membayar. Mereka keluar dengan barang bawaan banyak.
Plastik-plastik yang tidak terhitung jumlahnya, membuat mereka kewalahan
membawanya. Dan, isi semua plastik itu adalah makanan.
Dengan susah payah mereka membawa
dan memasukkan semua plastik itu ke dalam mobil. Hei, jangan salah. Mereka
memang baru kelas 1 SMA. Tapi Nia sudah cukup terampil untuk mengemudi mobilnya
dengan baik.
“Ah, Rachel. Kau cukup membuatku
susah.” Nia mengendarai mobil dengan santai. Menuju perumahan Palm Hills
Estate. Sebenarnya, rumah Nia di Pondok Cilegon Indah. Tapi karena rumah Rachel
yang jauh letaknya membuat Nila rela mengantar sahabatnya itu.
“Maaf, aku tidak akan mengulanginya
lagi.” Jawab Rachel memamerkan deretan giginya yang rata. Sampai-sampai teman
sekolahnya mempermasalahkan gigi Rachel yang rata. Mungkin memang sudah aslinya
begitu. Karena Rachel merespon dengan menunjukkan wajah tak minat.
Keesokan harinya mereka bersiap-siap
untuk menuju sebuah hotel di Anyer. Mereka belum tahu seperti apa wujud hotel
yang akan mereka tempati untuk menyambut tahun baru 2015 nanti.
Suasana pagi kota Cilegon sudah di
penuhi oleh ribuan kendaraan yang berlalu-lalang. Membuat udara lebih banyak
berpolusi walaupun hari masih pagi. Matahari belum muncul untuk menyambut ramai
nya kota Cilegon.
“Ah, sial! Pagi-pagi begini sudah
terkena macet.” Ryan bergumam tak jelas di mobilnya. Ia bersama Fandy dan Nia.
Sekarang giliran menjemput Raina yang rumahnya di Kavling. Karena mereka naik
mobil, maka dari itu melewati jalan raya. Dan saat ini, mereka terjebak macet.
Handphone Nia berbunyi, “Halo? Iya
Hel? Kita terjebak macet nih, kita lagi di jalan. Arah mau ke rumah Raina.
Iyadeh, kamu tunggu aja ya. Tidak lama kok.” Nia menutup handphone nya.
“Kenapa? Rachel ya?” Tanya Fandy
yang sedari tadi sibuk dengan permainan ps nya. Mobil Ryan memang serbaguna.
Banyak sekali mainan di dalam mobil, jadi walau bagaimana pun mereka tetap
tidak akan bosan di dalam mobil.
“Sudah tahu Rachel, kenapa bertanya
lagi, Fan?”
“Siapa tahu orang lain. Yang bernama
Rachel kan bukan hanya dia saja.”
“Aah, Fandy. Jujurlah padaku jika
kau menyukainya...”
Fandy diam. “Tidak, aku tidak
menyukainya. Sudahlah.”
Ryan dan Nia terkekeh pelan
mengetahui perubahan mimik muka pada wajah Fandy. Bagaimana mereka tidak curiga
kalau Fandy dan Rachel tidak mempunyai hubungan khusus. Karena yang ada di
wallapaper Fandy adalah foto Rachel. Begitu juga sebaliknya. ‘Ah, kami hanya
menjalankan perjanjian yang sudah kami sepakati’ begitu alasan mereka saat kami
semua bertanya. Perjanjian yang telah disepakati? Fandy dan Rachel tidak mau
memberitahu lebih lanjut.
Tepat di perempatan sesudah
Ramayana, Ryan membelokkan mobilnya ke kiri. Menuju rumah Raina, untung saja
tidak macet lagi. Matahari sudah menyapa indahnya pagi di Kota cilegon.
“Ah, kalian datang juga.”
“Maaf, tadi macet.” Ryan terkekeh.
Raina membalasnya dengan senyuman. Kemudian naik ke mobil Ryan. Selanjutnya
mereka menjemput Denita di daerah Panggung Rawi. Karena takut mengulur waktu,
Denita menunggu nya di depan Masjid Agung Cilegon.
“Hai...” Sapa Denita saat masuk ke dalam
mobil. Semua pada menyahut dengan heboh. “Jemput siapa lagi?” Tanya Denita.
“Kita jemput Advin, setelah itu..
You know lah. Jemput Rachel dan Dicky, Ta. Nia sayang, tolong sms Advin, Rachel
dan Dicky ya. Suruh Advin ke depan Krakatau Junction aja, dan suruh Rachel dan
Dicky ke Bunderan, supaya tak mengulur waktu.”
“Baiklah...” Perlu kalian ketahui,
bahwa Nia dan Ryan sudah berhubungan khusus belum lama ini. Jadi,
romantis-romantisnya masih keluar.
Tepat jam 9 kurang 6 menit, setelah
mereka sudah lengkap. Kecuali Aziz yang rumahnya memang di Anyer, jadi mereka
mengambil kepercayaan pada Aziz untuk menentukan hotel yang akan mereka
tempati.
“Duh, macet lagi. Liburan sih yah,
pantes saja.”
Apa yang kalian fikirkan jika
mendengar Kota Anyer? Ya, Pantai! Pantai nan indah yang sejuk. Kalau sedang
galau ataupun sedih, ke pantai lah satu-satu nya cara lebih elite. Walaupun
perjalanan yang di tempuh lumayan jauh ataupun macet. Tapi kalaupun kita ingin,
bagaimanapun caranya pasti akan dilakukan.
“Kau dimana, Ziz? Oh ya, tunggu
disitu ya sayang.” Denita menutup handphone.
“Baru kali ini aku mendengar Denita
mengucapkan kata ‘sayang’ ke Aziz. Rasanya sangat aneh. Haha.” Sahut Raina yang
duduk di jok paling belakang bersama Rachel dan Dicky.
“Iya, aku pun sama. Oh iya Ta, Aziz
menunggu dimana nanti?” Sambung Rachel bertanya pada Denita.
“Di depan nanti ada pertigaan. Kita
minggir sebentar ya pak supir!” Yang lain terkekeh mendengar Denita memanggil
Ryan dengan sebutan ‘pak supir’. Ryan hanya mengangguk ikutan terkekeh.
Tepat di pertigaan, Aziz berdiri
menunggu dengan wajah murung. Memang seperti itu kali ya wajahnya. Aziz kaget
karena tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depannya.
“Ngelamun terus ih, sampai-sampai
kamu gatau bahwa kita datang.” Yang lain ketawa terbahak.
“Yaelah, kalian kan tahu kalau
mukaku memang seperti ini wujudnya. Hahaha.” Jawab Aziz saat sudah duduk manis
di mobil.
“Haha, bisa saja kau ini. Jadi, kita
mau ke hotel mana?” Tanya Ryan tetap fokus pada kendalinya.
“Kemaren aku sudah bertanya pada
ibu, hotel yang bagus disini yaitu Hotel Mambruk Anyer. Bagaimana? Kita mau
coba disitu? Letaknya tidak terlalu jauh kok. Kalau macetnya tidak parah, 15
menitan pun kita sudah sampai.”
“Kita coba dulu aja disitu. Kalaupun
memang tidak sesuai hati, kita bisa meneruskan perjalanannya.” Ucap Ryan
membuat kami mengangguk.
Ternyata memang tidak lama hanya di
tempuh 10 menit kita sampai di Hotel Mambruk Anyer. Kami segera turun untuk
melihat-lihat apakah cocok untuk kita tempati 5 hari ini. Luar hotel tampak
menggambarkan kesan mewah. Dan memang benar, ketika kami masuk nuansa Hotel ini
berwarna coklat, hal lain yang tergambar di sini yaitu ‘tua’. Tembok yang
warnanya mulai memudar. Tapi tertutup oleh ruangan yang di atur se rapi
mungkin.
Ryan tampak sedang menawar
menurunkan harga. Untuk hal itu, memang sudah Ryan yang mengurus. Karena untuk
soal begitu memang Ryan ahlinya. Petugas Hotel terlihat mengangguk dan
menyalamkan Ryan.
“Bagaimana, Ryan?” Tanya Advin
begitu sang petugas Hotel pergi.
“Aku berhasil, harganya sangat
miring sekali. Haha.”
“Wah, kau memang jago sekali, Ryan.
Hebat-hebat aku suka.” Sahut Nia heboh.
“Memang nya selama ini kau pacaran
denganku kau tidak suka aku ya? Waaah.” Jawab Ryan curiga.
Nia menggeleng cepat. Kami hanya
tertawa menyaksikan mereka berdua. Memang selalu seperti itu.
Akhirnya, kami memesan Villa yang
terdiri dari dua kamar. Cukuplah, untuk mereka ber-sembilan orang. Karena 1
kamar terdiri dari 2 tempat tidur.
Besoknya, sekitar jam 5 an mereka menuju
pantai. Udara yang ada sangat sejuk sehingga membuat Rachel tak minat bermain
air karena perut yang dia alami sedang bermasalah. Anyer petang ini terik. Dia
hanya mengamati teman-teman nya yang tersenyum bahagia bermain air, menjatuhkan
satu sama lain. Dia tak minat sama sekali. Rachel hanya duduk di Gazebo.
“Rachel, sedang apa kau disini? Ayo,
ikutlah kami bermain.” Dengan basah kuyup Dicky menghampiri Rachel. Dia
mengulurkan tangannya. Rachel hanya menggeleng.
“Ayolah, kau kenapa?”
“Aku baik baik saja, Dicky.” Jawab
Rachel tersenyum sebentar setelah itu menunjukkan wajah kesalnya. Dicky kembali
ke dasar pantai.
“DOR! Sendirian saja. Kenapa kau
tidak ikut yang lain kesana?”
Rachel menahan geram. “Heuh, Fandy.
Jantungku hampir mau loncat tahu tidak! Bisakah kau muncul kehadapanku dengan
lembut?” Rachel tak menjawab pertanyaan Fandy.
“Maaf, Rachel. Aku hanya bercanda.”
Ucap Fandy kesal. Rachel hanya mengangguk.
“Sedang
apa kau disini? Mengapa tak ikut teman-teman yang lain ke dasar pantai? Ayo
ikut kesana!” Tanpa menunggu Rachel menjawab pertanyaannya, Fandy menarik
tangan Rachel. Tapi Rachel menahannya.
“Aku tidak mau.”
“Mengapa?”
Rachel tetap menahan dan melepas
genggaman tangan Fandy. “Kalau begitu, ijinkan aku menemanimu.” Fandy kembali
duduk di sebelah Rachel.
“Sebentar lagi kita akan lihat
sunset.” Fandy masih berbicara tak mau diam.
“Aku tahu, Fandy.”
Hati Fandy tak karuan saat mendekati
Rachel. Tak seperti biasanya seperti ini. Maka, Fandy menutupi kegugupannya
dengan terus banyak berbicara.
Rachel senang Fandy bisa
menemaninya. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengatakan perasaanya yang ia
alami sekarang. Jantungnya berdegup keras. Tapi ia yakin Fandy tidak akan
mendengarnya.
Tak lama mereka duduk. Nia datang.
“Kalian tidak ikutan kesana?”
“Dia tidak mau.” Tunjuk Fandy ke
Rachel.
“Kalau begitu, kau saja yang kesana.
Ikut aku!”
“Ah, tidak. Aku ingin menemani
Rachel disini. Biarkan kami berdua disini, Nia.”
“Ayolah, Fan! Ikutlah bersamaku.”
Nia menarik tangan Fandy yang membuat Fandy mau tidak mau berdiri dan ikut
bersama Nia.
Sial! Padahal sedikit lagi Rachel
bisa melihat sunset bersama orang yang baru dikenalnya 6 bulan tapi sudah
tersimpan dalam di hatinya. Tapi hanya harapan kosong yang ada. Ah Nia, mengapa
kamu yang mengajaknya? Apakah kamu tidak mengerti perasaanku saat ini? Begitu
ucap Rachel dalam hati. Mengapa harus Nia yang menghancurkan harapannya.
Sahabatnya. Ia masih memandangi Fandy dari jauh.
Sampai sekarang, ia tidak bisa
mengerti. Mengapa harus orang itu yang mengisi hatinya. Yang ia tahu dari
laki-laki itu adalah rese, cuek, caper, dan dia selalu asik dengan dirinya
sendiri.
Matahari sudah kembali ke asalnya.
Menciptakan biru nya langit yang semakin gelap. Menunggu hadirnya bulan yang
selalu hadir di setiap malam.
“Saatnya makan!!!!” Ucap mereka
heboh. Karena cacing-cacing di perut mereka sudah minta jatah. Satu bundar meja
makan sudah siap sebelum mereka duduki.
“Advin santai dong makannya. Aku
tahu kau lapar, tapi tidak harus seperti itu kan?” Pinta Rachel ketika baru ada
Advin dan dirinya di meja makan.
“Sstttt. Rachel, temanilah aku untuk
malam ini saja. Agar aku tak kesepian.”
“Maksudmu? Mengikuti engkau dengan
makan seperti itu? Tidak! Jangan berharap.”
“Tenang, Vin. Aku datang
menemanimuuuu!” Ucap Dicky ikutan berteriak dan menempati duduk di sebelahku.
Teman-teman yang lain menempati
tempat duduk masing-masing. Dan Fandy tepat di sebelah kiri Rachel yang memang masih
kosong. Dengan senang nya Nia duduk di sebelah Fandy di lain sisi.
Tepat pada saat Ryan meminta ijin ke
kamar mandi. Nia basa-basi ke Fandy dengan kata-kata gombal yang membuat
telinganya panas. Oh, God.. Cobaan apa lagi ini. Ketika Ryan sudah kembali, Nia
tetap tebar pesona. Yang ia heran adalah
Ryan cuek dengan apa yang terjadi pada Fandy dan Nia. Dan untuk yang kesekian
kalinya ia di kacangin oleh teman-temannya. Fandy dengan Nia. Denita dengan
Aziz. Ryan dengan Raina, Advin dan Dicky.
Rachel
berdiri. Ia tidak tahan dengan permainan semua orang yang ada disini. Semua
diam. Ia tidak mengerti sebenarnya ada apa dengan semua ini.
“Yan,
ikut aku!” Rachel menarik tangan Ryan menahan emosi nya. Semua emosi yang ada
ia coba untuk tidak di keluarkan.
Tepat
di sebuah tepi kolam renang. Nafas Rachel tidak beraturan.
“Ada
apa, Rachel?”
“Kau
masih bertanya kenapa, hah? Memang nya suasana di meja makan tadi tidak
menjawab pertanyaanmu itu? Ryan, plis.. Sebenarnya ada apa disini? Kau tidak
tahu apa yang terjadi pada Nia dan Fandy? Dan mengapa kalian sibuk dengan
urusan kalian masing-masing? Kalian lupa bahwa ada aku disini? AKU DISINI! Dan
kalian tidak menganggap adanya aku!”
“Nia
dan Fandy? Memangnya kenapa dengan mereka berdua? Mereka hanya bercanda saja
kok. Dan asal kau tahu Rachel, Aku tidak seperti yang kamu bicarakan tadi. Kami
semua menganggap adanya kau.”
“Bercanda?
Apakah kau fikir di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin? Bagaimana jika
semua itu benar? Kau tidak takut Nia berpaling darimu? Apa kau tidak takut
bahwa Nia....”
Ryan
menyimpan telunjuknya di bibir Rachel. “Aku tidak takut sama sekali jika Nia
berpaling dariku. Karena yang aku takutkan adalah kamu yang seperti ini...”
Tepat
saat itu, teman-teman yang lain keluar karena penasaran ada apa pada diri
Rachel.
“Ryan?
Kau!” Ryan dan Rachel menoleh pada teman-teman semua.
“Ada
apa ini, Ryan?” Tanya Fandy bingung.
“Kenapa,
Fan? Kau cemburu? Nia, apa kau benar-benar menyukaiku? Sampai-sampai aku di
lupakan saat kau sedang bersama seseorang yang kau cintai lebih dari pada kau
menyukaiku.” Ucap Ryan berbicara sinis.
“Ya,
kalau kau mau waktu yang tepat. Inilah waktu yang tetap untuk kau tahu bahwa
aku tidak suka denganmu. Aku lebih suka Fandy daripada kau. Jadi, sampai disini
perjalanan kita. Bye Ryan.” Nia bergelayut di lengan Fandy.
Ryan
mendecak sinis ke arah Nia. Fandy menepis tangan Nia. Nia bingung.
“Maaf,
Ni. Mungkin kalau aku memilihmu, yang ada bukan bahagia. Tapi penyesalan. Aku
lebih memilih Rachel.”
Ryan
menatap Fandy. “Tidak! Rachel yang akan bersamaku.” Ryan merangkul Rachel.
Rachel tatap diam, ia menunduk dari tadi.
“KENAPA
HARUS RACHEL? Kenapa harus Rachel yang merebut semua orang dariku? Hel, kita
bersahabat. Apa kamu rela melihatku sendirian? Aku benci kamu, Rachel!”
Rachel
melepas rangkulan Ryan. Ia maju perlahan, “Seharusnya yang bilang seperti itu
aku! Kamu selalu mematikan harapanku, Ni. Aku yang lebih dulu menyukai Reza.
Tapi apa? Kamu yang sama Reza saat itu. Ryan mulai mengubah perasaanku terhadap
Reza dan dia berhasil mematikan perasaan itu, aku mulai menyukai nya juga. Tapi
selalu kamu yang jadian sama orang yang aku suka. Kamu dan Ryan sama-sama merusak
perasaan yang ada. Sekarang? Aku terhadap Fandy. Apa kamu mau mematikan
perasaan ini lagi ke aku? Seberapa kalinya kamu mematikan harapan itu, Ni? Kamu
sahabatku. Aku yakin kamu tahu siapa aja orang yang aku suka, dan setiap kamu
tahu kamu mencoba mengambilnya dariku. Aku lelah dengan permainanmu, Ni. Aku
capek. Aku mau ini semua selesai. Cukup aku saja yang terkena perangkap kamu,
Ni. Aku mohon jangan lakukan ini pada orang lain selain aku. Karena rasanyanya
sakit, Ni.... Sakit... Kamu tidak akan tahu rasanya jadi aku. Dan aku lebih
sakit hati lagi sekarang kalau Fandy tetap memilih kamu, Ni.” Air mata Rachel
deras mengalir.
“Ni,
sahabat macam apa seperti itu? Hel, maaf ya karena aku menjadi sahabat kau yang
tidak bisa memberimu apa-apa.”
Antania
hanya bisa menunduk. “Rachel..... I know how you feel, dear. And it was very
painful” Denita memeluk Rachel. Raina pun ikut memeluk Rachel.
“Hel,
apapun yang kamu rasakan. Aku minta maaf. Aku minta maaf, Hel. Maaf.” Rachel
mengangguk. Nia berlari ikut memeluk Rachel.
Rachel
melepaskan pelukan teman-temannya. Ia berlari menuju pantai. Teman-teman yang
lain mengejarnya. Takut kalau Rachel bertindak nekat.
“Sudah
terlalu lama aku memendam perasaan ini, Ni. Rasanya lebih sesek dari yang kamu
bayangkan.” Rachel berlari lagi ke tepi pantai. Sampai air menyentuh kakinya.
“Dulu,
aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melepas ini. Aku lebih memilih menutup
perasaanku tanpa ada satu orang yang tahu.....selain Dicky. Dicky baik, dia
selalu ada disaat aku butuh kalian semua di samping aku. Tapi cuma dia yang
selalu ada! Cuma dia.....” Rachel semakin ke tengah. Ia berhenti saat air mulai
membatasi dadanya. Hanya Nia, Dicky, Fandy, dan Ryan yang mengikuti Rachel.
Sisanya hanya menunggu di tepi dengan kegelisahan.
Dicky
mendekati Rachel. “Hel, dengarkan aku. Kau mau apa? Ngapain kamu ketengah? Ini
sudah malam, Hel. Terlalu bahaya.”
Rachel
dengan refleks memeluk Dicky dengan erat. “Ayo kita ke pinggir.” Dengan tetap
posisi berpelukan mereka ke pinggir. Perlahan-lahan membawa Rachel.
“Aku
tahu bagaimana caranya agar semua yang masih tersisa dan masih tertinggal dalam
perasaanmu hilang. Kamu cukup berteriak Rachel. Keluarkan emosi mu sekarang!
Tunggu apa lagi! Teriaklah! Itu akan mengurangi beban yang ada pada diri kamu.”
Dicky berbisik di telinga Rachel dengan yakin.
Fandy
yang melihat itu cemburu, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Rachel melepas
pelukan Dicky. Ia berteriak. Sekencang-kencangnya. Sampai air mata keluar lagi.
Menetes deras.
“Maafin
aku, Hel. Aku yang sudah membuatmu kacau seperti ini. Aku minta maaf Rachel.”
Nia kembali memeluk Rachel. Rachel tersenyum.
BUKK.
Dengan tergesa-gesa Fandy memukul pipi Dicky. “Fandy! Apa yang kamu lakukan?”
Rachel membangunkan Dicky yang tadi terjatuh.
“Omong
kosong, kamu bilang kamu yang pertama kali mendukungku bersama dia. Tapi kenapa
kamu juga yang mengambil dia dariku, Dicky?”
“Fan!”
Rachel dengan sigap memeluk Fandy. Ia menggeleng. “Dia hanya sahabatku, Fan.
Tak lebih. Jangan berfikiran seperti itu.”
“Tapi
kalau kamu membuat Rachel kacau seperti ini lagi. Aku tak akan diam, Fan.”
“Jadi,
Rachel sama Fandy? Kita pesta!” Seru Aziz.
“Kok
semakin malam semakin ramai sih?” Tanya Nia.
“Kalian
lupa ya? Beberapa menit lagi kan tahun baru.” Jawab Advin.
Ryan
sudah mulai merelakan Rachel, ia tahu ia telat sekarang. Ia yakin menunggu
Rachel. Hingga pada waktunya. Ia tersenyum.
“Aku
senang sekarang...” Bisik Rachel pada Fandy. “Kalau bukan situasi yang seperti
tadi, mungkin sampai sekarang aku hanya pengagum rahasiamu.”
“Ssstt.
Aku tak akan berani memukul Dicky kalau kau tak memeluknya.”
“Ayo
kita itung mundur!” Ajak Raina.
“5..............4............3...........2..........1.
SELAMAT TAHUN BARU!” Teriak kami semua. Tepat jam 00:00. Mereka berpelukan satu
sama lain, melupakan kejadian pahit. Dan mengingat kejadian yang indah.
Fandy
mengeratkan genggaman tangannya pada Rachel. Mereka punya harapan sendiri.
Mereka punya harapan dan do’a masing-masing dan itu akan tersimpan terus pada
relung hati mereka dalam-dalam. Kenangan ini, kenangan di pantai Hotel Mabruk
Anyer, Indonesia. Yang tidak akan mereka lupakan. Terkadang, kita tidak sadar
bahwa di sekitar kita ada seseorang yang diam-diam membuat hidup kita berarti.
Dan, terkadang kita diam-diam menganggumi seseorang yang berarti. Berbicaralah!
Agar kita tahu perasaan masing-masing dan tidak ada lagi yang disembunyikan.
Tugas IBD
Amanda Hanifah Nur
Hilizza
1PA06
10515610
Tidak ada komentar:
Posting Komentar