Laman

Minggu, 19 Januari 2014

R I V A L (CERPEN)


Nah, kalau yang ini cerita aslinyaa.. yuk yuk baca hahaha:D

S E S I  A L F A  D A N  D O N I

Sabtu pagi adalah hari dimana biasanya anak sekolah bermalas-malas ria, tidur sampai puas setelah melewati 5 hari yang penuh dengan kegiatan dari pagi sampai sore. Yap! Hari libur!

Tapi, lain halnya dengan Alfa dan Doni yang sibuk dengan pekerjaan yang harus diselesaikannya—padahal liburan sebentar lagi tetapi masih ada satu event yang belum mereka selesaikan dan tentu saja ini masih pertengahan bulan mereka menjabat sebagai OSIS. ­

“Apa boleh buat coba! Kepsek gak ngizinin kita buat mengundurkan diri seenaknya, justru yang kayak begitu harus di pertimbangkan lagi. Hasilnya malah lebih mengecewakan. Mau gak mau gue harus bantuin lo disini.” Alfa menggerutu untuk yang kesekian kalinya sambil sesekali membantu Doni menyerahkan tumpukan kertas dengan kasar.

Doni hanya mendengarkan tanpa mengacuhkan perkataan teman yang berada didepannya saat ini. Suasana hening dan gemericik kertas memeluk ruangan yang tak besar, tetapi tetap terasa luas karena di dalamnya hanya ada Alfa, Doni dan beberapa teman lainnya yang saat itu juga ikut membantu.

CKREK..!

“Paparazzi sialan!” Alfa menyumpah serapah kepada Cleon—siswa turunan Jerman yang lebih dikenal dengan julukan paparazi yang selalu membawa kamera di lehernya. Ia selalu siap untuk membidik siapapun yang sedang lengah.

Saat Hanny, teman seperjuangan Alfa dan Doni bertanya kepada Cleon mengapa ia selalu membawa kamera? Maka ia selalu menjawab bahwa membidik kamera sesuka hatinya adalah hobinya dari kecil.

“Momen kalian manis banget sih, jadi sayang kalo nggak diabadiin.” Cleon menyeriangi dengan cengiran kuda sebelum akhirnya beranjak untuk mencari korban lain.

Alfa semakin menggerutu. Tak tahu apa yang menyebabkannya sangat sensitif kali ini sementara Doni masih tetap asik dengan program kerjanya. “Yah, seenggaknya hari ini lo nemenin gue disini, karena gue benci sendirian.”

“Ya ya, ketuplak! Untuk kali ini aja lo yang menang, selain ini gue yang harus menang! Sebaliknya, gue gak akan nemenin lo lagi. Tapi lo yang bakalan nemenin gue.” Alfa mulai menggerutu lagi dan hal ini membuat Alfa merasa bosan.

Wajah Doni tersenyum tipis. “Lo udah denger? Meyza minta bantuan kita untuk ngerjain Hanny, dia akan pulang beberapa hari lagi.”

“Iyee.... Lo udah bilang hal itu berulang kali.”

“Oh iya? Gue baru bilang sekarang kok.” Matanya masih terpaku pada kertas-kertas yang ia genggam. Kemudian mengerutkan keningnya.

“Entahlah............”

Doni menghela napas, “lo apaan sih, Pa? Kayak anak kecil aja ngambekan mulu elaahh. Lo merasa tersaingi sama gue? Lagian lo temen gue kaleee gausah merasa ada yang paling menang dong, Pa. Gak ada istilah rival di dalam pertemanan kita berdua. Kalo gue unggul lo juga unggul. Kebahagiaan gue, kebahagiaan lo juga,” kali ini ia meletakkan kertas-kertasnya. Memalingkan mata untuk menatap Alfa.

“Don! Udah berjuta-juta kali gue temenan sama lo, tapi lo selalu aja manggil gue ‘Pa’ bukan ‘Fa’ beda huruf beda makna dong..”

Keningnya berkerut lagi, “tuhkan yang gak jelas kayak begitu malah lo bahas, yang tadi gue omongin apa coba? Ga nyambung lo!” tatapannya berubah sinis.

“Yah elo, Don.. Lagian kata-kata lo buat gue terharu sih. Jadinya gue bingung mau ngomong apaan._.”

Cengiran Alfa tak mampu menghilangkan sikap sinis pada Doni. “Gue hanya mencoba untuk bersikap bijak ngadepin bocah kayak elu. HEUH.” Ia tak habis pikir apa yang sebenarnya Alfa inginkan. Kadang sikap kekanak-kanakkannya berlebihan. Membuat dirinya merasa lucu. Di relung hatinya ia tertawa geli.

“Gue unggul disaat-saat yang biasa. Tapi lo unggul disaat yang luar biasa. Lo tau apa artinya? Gue selalu unggul tanpa menguakkan aroma-aroma keunggulan gue pada dunia. Sedangkan lo? Justru menebarkan aroma keunggulan elo di hadapan banyak orang. Gue harus apa biar diri gue gak selalu di pandang sampah? Orang-orang selalu nyapa elo, padahal ada gue di samping lo. Gue yang selalu ada buat elo.”

Tatapannya kembali bersahabat.“Oh, God....”

“Jadi sejauh kita melangkah berdua cuma hal hal bodoh kayak gini yang lo pikirin? Gak ada hal lain yang kita perbuat, he? Gini deh, Pa. Semua orang punya kemampuan menciptakan aroma-aroma itu masing-masing dalam bentuk apapun. Jalan gue dengan terpilihnya gue menjadi ketuplak dan belum tentu itu jalan elo. Jangan mau selalu dihargain sama orang dong, Pa. Tapi kita yang harus menghargai orang lain terlebih dahulu. Dunia ini lebih kejam dari apa yang lo ketauin, Pa. Lo harus bisa memahami situasi lo sebagai diri lo, bukan sebagai diri gue. Gue gak bakalan ada di samping lo saat itu. Tapi gue bakalan ada dibelakang lo untuk ngedukung lo yang berada di depan.”

“Tapi lo selalu berhasil daripada gue, Don! Gue gak bisa apa-apaaa!”

“Pa, di dunia ini manusia bukan cuma gue doang. Ada orang lain yang bahkan jauh lebih buruk daripada lo. Kemana sikap percaya diri Alpa— yang membuat semua orang lebih bersemangat? Kemana temen gue yang selalu teliti dan cerdas? Lo inget sesosok Sherlock Holmes? Dia bahkan tak ingin dirinya dikenal banyak orang. Tetapi dia ikhlas mengerjakan kesukaannya—bahkan ia jarang sekali bergaul dengan dunia luar. Tapi orang orang kenal dengannya, kan? Itu karena dia selalu membantu orang lain tetapi dia tak mengharapkan kebaikannya kembali dari orang lain. Justru orang-orang seperti itulah yang gue anggap luar biasa.”

“Tapi lo gak ngerti keinginan gue untuk dikenal banyak orang, Don. Biar dunia menjadi milik gue. Gue cuma mau mereka itu melihat adanya gue.”

CREK!!

Alfa dan Doni spontan ke asal suara. Cleon, Hanny, Slayton dan Manda— teman Alfa dan Doni yang kabarnya hanya mempunyai keasikan diri sendiri, dia sangat suka bernyanyi dan menceritakan pengalamannya pada diri sendiri. Aneh bukan? Mereka sudah duduk rapih pada kursi di hadapan Alfa dan Doni. Cengiran Cleon tampak lebih lebar dari sebelumnya.

“Hanny, katanya lo mau difoto ya? Dimana? Ayuk yuk jangan disini.” Cleon menarik tangan Hanny untuk segera pergi dari sana. Sebelum Alfa dan Doni memarahi mereka. Tak lama, Slayton menyusul dengan memanggil nama mereka berdua. Alfa dan Doni masih memperhatikan Manda.

"Tak semestinya. Kita berhenti disini. Masih terbentang luas. Jalan menuju cita.
Meski tujuh lapisan langit. Akan kutembus. Meski mereka bilang sulit bagiku. Mungkin...
Meski berjuta jarak waktu. Harus kulalui. Meski mereka bilang. Sulit bagiku. Mungkin..."

Suara nyanyian yang begitu indah keluar dari mulut Manda. “Kalian mau ikut nyanyi bareng saya?”

Alfa dan Doni spontan menggeleng dan bersikap tak peduli. Manda terkekeh pelan, sebelum akhirnya meninggalkan mereka dengan nyanyian-nyanyian yang lain. “Tak apelah, saya bisa nyanyi sendiri.”

 Suara Manda memang enak didengar. Tapi kekhawatiran mereka adalah jika Manda sudah asik dengan dunianya sendiri, ia seperti ‘orang gila’ yang pada dasarnya cerdas tetapi aneh. Tak bisa di pungkiri Manda selalu tampil pada lomba-lomba yang membuatnya tak menjadi ‘sampah’. Semua orang tetap mampu memahaminya. Walaupun begitu, tanpa disadari lirik nyanyiannya sangat berpengaruh pada sebagian orang-orang di sekelilingnya. Seperti membantu memecahnya sebuah kasus.

Keesokan harinya kepala sekolah telah menagih pekerjaan Doni. “Jadi bagaimana Don? Sudah kau selesaikan pekerjaan kau itu?”

“Sudah pak. Ini proposalnya, bapak tinggal baca apakah acara ini disetujui atau tidak itu terserah bapak. Kalaupun ada beberapa yang tidak bapak setujui saya bisa menjelaskannya lebih rinci,” Doni bersikap sangat sopan. Pak kepsek hanya mengangguk paham.

“Pa, kita ada job nih.” Walaupun sempat menoleh pada si pembicara, Alfa tak tertarik pada pembicaraan kali ini.

“Pa, kita ada kasusss pa! Kasuss! Lo biasanya semangat kalau tentang kasus? Ayolaah!” Alfa tetap tak menggubris perkataan Doni.

Doni menghampiri Alfa yang sedang sibuk memegang banyak surat. “Wow, lo dapet juga, Pa? Gue kira cuma gue yang dapet.”

“Entahlah, Don. Gue gak ngerti apa arti dari surat surat yang banyak ini. Lo juga dapet? Apa yang bisa lo simpulin dari isinya?”

Belum sempat Doni menyampaikan maksudnya—­­Hanny mendarat dengan sukses di samping Doni. Sepertinya ia berlari tadi sampai ke kelas, nafasnya tidak karuan.

“Ada apaan sih, Han? Ngos-ngosan begitu?” Doni memandanginya dengan aneh.

“Hah hoh.. Kalian dapet surat juga?” Hanny beranjak untuk mengambil surat yang ada di tangan Alfa.

“Gue kira kalian baru tahu. Jadi, sekarang gue ga perlu khawatir kan? Byeeee!”

Alfa dan Doni sama-sama mengerutkan dahi. “Aneh sekali kelakuan teman kau itu,” Alfa langsung berkomentar dengan gaya batak. Doni hanyaa terkekeh.

“Jadi, bagaimana kesimpulan isinya?”

Belum sempat Doni menjawab. Ada yang memasuki kelas lagi. Tampaknya Slayton yang sengak itu yang memasuki ruangan. Mau apa dia disini?

“Wah, kalian sedang sibuk sepertinya?”

“Jangan bilang lo dapet surat juga?” Doni menimpali.

“Ah, siapa bilang? Tentu saja! Tapi kalian tidak perlu khawatir soal itu. Aku sudah membereskan semuanya. Kalian sangat lamban untuk bergerak. Finally, aku lah yang menjadi pahlawannya.” Slayton menyombongkan diri.

“Apa maksud dari surat surat ini, Slayton?” Entah mengapa Doni berbicara dengan baku seperti Slayton. Padahal gaya berbicaranya tak seperti itu.

“Wah, sepertinya kalian tak sabar mendengar ceritanya, ya? Well, aku akan memberi tahu kalian tentang kasus ini. Tapi, bisakah kalian membantuku? Aku sangat memerlukan bantuan kalian. Aku akan memberitahu setelah kalian membantuku,” Slayton dengan angkuhnya menaikkan sebelah alisnya, meminta persetujuan.

“What? Apa maksud lo, Slay?”

“Slay? Itu bukannya yang buat roti itu ya?”

“Itu selai, Slayton-______-“ Alfa gregetan juga dibuatnya.

“Hei, berhentilah main-main, jelaskan kami apa yang kamu maksudkan?”

            “Bersabarlah sedikit, kawan. Ini tentang Meyza. Aku pikir kalian pantas untuk membantuku. Dan ini berhubungan dengan Hanny.”

            Setelah mengetahui apa yang Slayton rencanakan, Alfa dan Doni mengangguk setuju.

            “Wah, rupanya hatimu sudah rendah, ya? Bisa-bisanya meminta tolong kepada kami? Berarti kau mengakui kalau kami itu lebih unggul kan daripada kau?” Dengan wajah amit-amit Doni mengikuti cara berbicara Slayton, tapi malah terdengar aneh.

            “Berhentilah berbicara seperti itu. Walaupun begitu aku berhasil memecahkan arti dari surat-surat ini kan? Kalian dan aku tak ada bedanya.”

            Tetapi keesokan harinya, surat-surat itu bertambah banyak. Lebih banyak dari hari sebelumnya. Mungkin analisis Slayton salah. Atau memang dia tidak menyelesaikan kasus ini?



Wah ceritanya masih ngegantung ya?:p Tungguin aja kisah selanjutnya yaaaaaaJ)) jangan pernah bosen sama blog ini. See you next time;))


By: Amanda Hanifah Nur Hilizza
Thanks to: Savira Mujahidah yang dari awal sudah mensupport wkwk. Alfi dan Dani yang sudah berkenan di masukkan plesetan nama dan karakternya. Thankyouuu:D




Tidak ada komentar:

Posting Komentar