Laman

Jumat, 25 Januari 2013

There Will Be Times


Assalamualaikum teman-teman!!
            Apa kabar nih semuanya?:D Maaf ya, sudah lama ga nge post. Maklum, aku sibuk banget dan ga sempet buat nulis lagi. SHS ga aku lanjut ya, aku juga ga ngerti apa ceritanya, jadi mending ga aku lanjut. Aku ada cerpen baru nih. Ada yang mau? Cerpen ini cerpen yang yang aku kirim untuk lomba menulis. Apa salahnya aku share. Tapi sebelum itu, aku share puisi. Enjoy ya kawan!;)




There Will Be Times

Dahulu kita dekat. Dahulu kita sama. Mempunyai tujuan yang sama. Menikmati hidup bersama-sama. Kadang kita bercanda gurau. Tertawa bahagia. Selalu ceria. Itu suasana sebelum masalah datang. Sebelum ia marah padaku. Sebelum ia mengetahui siapa sebenarnya diri ini. Sebelum ia tahu semuanya.  Sebelum perasaan itu tumbuh. Datang lebih cepat dari yang kukira. Kini semua itu hanya angan-angan. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Melayang-layang tanpa tahu keberadaannya.

Hanya jujur. Jujur itu susah, benar-benar membutuhkan hati yang mantap. Siap memberitahunya. Apa ia fikir aku bercanda? Tidak. Apa ia fikir aku bodoh? Apa ia fikir aku perempuan yang murahan? Tidak. Ya, memang aku yang salah. Seharusnya aku tak bertingkah seperti itu. Berperilaku yang kini membuatnya marah. Ia tak menganggap lagi adanya diriku. Dia tak menggubris ku. Padahal aku hanya ingin mengutarakan perasaanku. Aku hanya memberitahunya, agar ia tahu. Bukan berarti aku meminta jawabnya. Tidak. Sama sekali tidak.

Lalu apa yang harus aku lakukan? Dia sama sekali tidak mau berbicara denganku. Dia tak membalas pesan ku. Dia tak mengangkat telefonku. Maafku sudah ku sampaikan padanya, namun tetap seperti itu. Padahal setiap hari kami bertemu. Sering kali tatapan kami juga bertemu. Tapi aku tak mengerti apa maksud dari tatapan itu. Sangat sulit untuk di artikan. Dia aneh.

Mengapa laki-laki itu selalu bersikap seperti ini? Selalu bersikap yang tidak nyaman bagiku. Selalu. Tak ada kah cara lain untuk menyikapi itu? Apa yang ada di fikiran mereka hanya itu? Apa ini cara orang berusia 15 tahun memecahkan masalahnya? Dia tak beda jauh dengan anak kecil yang menyebalkan. Bagaimana aku harus menyikapinya? Apa yang harus kulakukan?

Sekarang, kamu tidak punya hati. Hati kamu sudah menjadi batu. Aku seperti berbicara pada patung yang selamanya diam. Aku seperti mencintai benda yang tak mungkin dicintai. Apa aku salah memilih lagi? Tak adakah orang yang benar-benar aku cari. Entahlah. Adakah waktu? Sampai kapan? Sampai kapan kami terus seperti ini? Jujur, aku tidak tahan. Harus apa? Memutar waktu? Andaikan bisa. Andai. Aku percaya pasti ada waktu. Akan ada waktu.


 
                                                                  Sabtu, 26 Januari 2012

                                                              Amanda Hanifah Nur Hilizza


Tidak ada komentar:

Posting Komentar