Assalamualaikum teman-teman!!
Apa kabar nih
semuanya?:D Maaf ya, sudah lama ga nge post. Maklum, aku sibuk banget dan ga
sempet buat nulis lagi. SHS ga aku lanjut ya, aku juga ga ngerti apa ceritanya,
jadi mending ga aku lanjut. Aku ada cerpen baru nih. Ada yang mau? Cerpen ini
cerpen yang yang aku kirim untuk lomba menulis. Apa salahnya aku share. Tapi sebelum
itu, aku share puisi. Enjoy ya kawan!;)
There Will Be Times
Dahulu kita dekat. Dahulu kita sama. Mempunyai
tujuan yang sama. Menikmati hidup bersama-sama. Kadang kita bercanda gurau. Tertawa
bahagia. Selalu ceria. Itu suasana sebelum masalah datang. Sebelum ia marah
padaku. Sebelum ia mengetahui siapa sebenarnya diri ini. Sebelum ia tahu
semuanya. Sebelum perasaan itu tumbuh. Datang
lebih cepat dari yang kukira. Kini semua itu hanya angan-angan. Seperti ada sesuatu
yang hilang dari dalam diriku. Melayang-layang tanpa tahu keberadaannya.
Hanya jujur. Jujur itu susah,
benar-benar membutuhkan hati yang mantap. Siap memberitahunya. Apa ia fikir aku
bercanda? Tidak. Apa ia fikir aku bodoh? Apa ia fikir aku perempuan yang
murahan? Tidak. Ya, memang aku yang salah. Seharusnya aku tak bertingkah
seperti itu. Berperilaku yang kini membuatnya marah. Ia tak menganggap lagi
adanya diriku. Dia tak menggubris ku. Padahal aku hanya ingin mengutarakan
perasaanku. Aku hanya memberitahunya, agar ia tahu. Bukan berarti aku meminta
jawabnya. Tidak. Sama sekali tidak.
Lalu apa yang harus aku lakukan? Dia sama
sekali tidak mau berbicara denganku. Dia tak membalas pesan ku. Dia tak
mengangkat telefonku. Maafku sudah ku sampaikan padanya, namun tetap seperti
itu. Padahal setiap hari kami bertemu. Sering kali tatapan kami juga bertemu. Tapi
aku tak mengerti apa maksud dari tatapan itu. Sangat sulit untuk di artikan. Dia
aneh.
Mengapa laki-laki itu selalu bersikap
seperti ini? Selalu bersikap yang tidak nyaman bagiku. Selalu. Tak ada kah cara
lain untuk menyikapi itu? Apa yang ada di fikiran mereka hanya itu? Apa ini
cara orang berusia 15 tahun memecahkan masalahnya? Dia tak beda jauh dengan
anak kecil yang menyebalkan. Bagaimana aku harus menyikapinya? Apa yang harus
kulakukan?
Sekarang, kamu tidak punya hati. Hati
kamu sudah menjadi batu. Aku seperti berbicara pada patung yang selamanya diam.
Aku seperti mencintai benda yang tak mungkin dicintai. Apa aku salah memilih
lagi? Tak adakah orang yang benar-benar aku cari. Entahlah. Adakah waktu? Sampai
kapan? Sampai kapan kami terus seperti ini? Jujur, aku tidak tahan. Harus apa? Memutar
waktu? Andaikan bisa. Andai. Aku percaya pasti ada waktu. Akan ada waktu.
Sabtu, 26 Januari 2012
Amanda Hanifah Nur Hilizza
Tidak ada komentar:
Posting Komentar